Anda di halaman 1dari 6

Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Keterampilan Kader Dalam Menginterpretasikan Hasil Penimbangan (N dan T) Dalam KMS di Puskesmas

Baumata Kabupaten Kupang Agusthina Rosphita1, Waryana, SKM, M.Kes2, Siti Helmiyati DCN, M.Kes3. INTISARI Latar Belakang : Sebaran gizi buruk dan kurang yang ada diwilayah Indonesia terlebih khusus yang ada di Propinsi Nusa Tenggara Timur membawa dampak terhadap kualitas sumber daya manusia. Salah satu strategi yang ditempuh adalah mengembalikan fungsi Posyandu dan meningkatkan kembali partisipasi masyarakat dan keluarga dalam memantau tumbuh kembang balita, mengenali dan menanggulangi secara dini balita yang mengalami gangguan pertumbuhan melalui Revitalisasi Posyandu.Kader merupakan pelaksana kegiatan Posyandu yang harus terampil dalam mencatat hasil penimbangan dan mampu menilai hasil penimbangan tersebut. Pada kenyataannya salah satu kesalahan kader dalam memantau hasil penimbangan adalah kesalahan dalam interpretasi hasil penimbangan (kader menilai berdasarkan angka absolut), bukan berdasarkan pada KMS. Tujuan : Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan keterampilan kader dalam menginterpretasikan hasil penimbangan (N dan T) dalam KMS di Puskesmas Baumata Kabupaten Kupang. Metodologi : Jenis penelitian yang dilakukan adalah deskriptif analitik, dengan rancangan cross sectional. Subjek penelitian adalah Kader Posyandu yang ada di Puskesmas Baumata, diambil dengan cara sistimatik random sampling diperoleh 49 orang Kader, dan dianalisa dengan uji Korelasi Pearson. Hasil : Berdasarkan analisis korelasi pearson menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan kader, pendidikan kader dengan interprestasi hasil penimbangan (N dan T) dan menggambar grafik pertumbuhan anak (nilai p< 0,05). Tidak ada hubungan yang bermakna antara pelatihan kader, keaktifan kader dengan interpretasi hasil penimbangan (N dan T) ditunjukkan dengan nilai p>0,05, dan ada hubungan yang bermakna antara keaktifan kader dengan menggambar grafik pertumbuhan anak (nilai p<0,05). Kesimpulan : Ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan kader, pendidikan kader dengan keterampilan menginterpretasikan hasil penimbangan (N dan T) dan menggambar grafik pertumbuhan anak , dan tidak ada hubungan yang bermakna antara pelatihan kader, keaktifan kader dengan menginterpretasikan hasil penimbangan (N dan T),serta ada hubungan yang bermakna antara keaktifan kader dengan menggambar grafik pertumbuhan anak. Kata Kunci : Pengetahuan, Pertumbuhan, Keterampilan, KMS, Kader
1. 2. 3.

Dinas Kesehatan Propinsi Nusa Tenggara Timur Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Yogyakarta Program Studi Jurusan Gizi dan Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM

In practice one of mistakes that cadres often make in monitoring the result of weighing is misinterpreting the result of weighing (evaluation is based on absolute point). not on Health Indicator Card. There was significant relationship between activity of cadres and the description of child growth graph (p<0.05). There was no significant relationship between training and activity of cadres and the interpretation of weighing result (gain weight and not gain weight) with p>0. growth. Cadres are operational staff of activities of integrated service post who have to be skillfull in recording the result of weighing. skills. Faculty of medicine. Province of Nusa Tenggara Timur Department of Nutrition. Health Office. and there was significant relationship between cadres’ activity and skills in describing child growth graph. Health Indicator Card. Method: The study was descriptive analytical with cross sectional design.05). Subject of the study were cadres of integrated service post at Baumata Health Center. There were 49 cadres taken with systematic random sampling technique and analyzed with Pearson Correlation test. Health Polytechnic of Yoyakarta 3. Health Nutrition Program. District of Kupang. there was no significant relationship between training and activity of cadres and skills in interpreting weighing result (gain weight and not gain weight). One strategy to overcome the problem is revitalizing the function of Integrated Service Post and re-increasing the participation of community and family in monitoring growth and development of children under five having growth disorder through the revitalization of integrated service post. Keywords: knowledge. 2. Siti Helmiyati3 ABSTRACT Background: Distribution of malnutrition and undernourishment in Indonesia. Waryana2.FACTORS RELATED TO SKILLS OF CADRES IN INTERPRETING RESULT IN WEIGHING (GAIN WEIGHT AND NOT GAIN WEIGHT) IN HEALTH INDICATOR CARD AT BAUMATA HEALTH CENTER.05. Objective: To identify factors related to skills of cadres in interpreting the result of weighing (gain weight and not gain weight) in Health Indicator Card at Baumata Health Center. Result: There was significant relationship between knowledge and education of cadres and the interpretation of weighing result (gain weight and not gain weight) and description of child growth graph (p<0. cadres 1. Gadjah Mada University . particularly in the Province of Nusa Tenggara Timur affect quality of human resources. KUPANG DISTRICT Agusthina Rosphita1. Conclusion: There was significant relationship between knowledge and education of cadres and skill in interpreting weighing result (gain weight and not gain weight) and describing child growth graph.

05). Latar Belakang : Program posyandu merupakan strategi jangka panjang pemerintah untuk menurunkan angka kematian bayi. Presisi dan Akurasi. Hasil : Sebagian besar responden mempunyai pengetahuan yang baik tentang penimbangan balita tetapi sikapnya sebagian besar tergolong negatif dan praktek mereka dalam menimbang balita pun sebagian besar tergolong kurang. Sedangkan hubungan antara sikap dan praktek dengan akurasi dalam penimbangan balita menunjukkan adanya hubungan yang bermakna (p < 0. Sedangkan rancangan penelitian ini menggunakan pendekatan crossectional. Kesimpulan : Kompetensi kader posyandu yang berupa sikap dan praktek mempengaruhi akurasi kader dalam menimbang balita Kata Kunci : Kompetensi kader dalam menimbang balita. Berdasarkan penelitian Satoto dkk bahwa tingkat presisi dan akurasi para kader posyandu dalam penimbangan masih rendah.05). Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui hubungan antara kompetensi kader posyandu (pengetahuan. yaitu menggambarkan hubungan antara kompetensi kader posyandu dengan presisi dan akurasi kader dalam menimbang balita pada kegiatan posyandu di Kecamatan Talang.INTISARI Hubungan antara Kompetensi Kader Posyandu dengan Presisi dan Akurasi Kader dalam Menimbang Balita di Kecamatan Talang Kabupaten Tegal. Mir’atul Azizah 1. salah satu kegiatannya adalah penimbangan. INTISARI 1 2 Program Studi S1 Gizi Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang 3 Politeknik Kesehatan Yogyakarta Jurusan Gizi . Primiaji R3. Berdasarkan analisis chi-square menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan. Dwi Susetyo2. sikap dan praktek kader posyandu dengan presisi dalam penimbangan balita dan antara pengetahuan kader posyandu dengan akurasi dalam menimbang balita (p > 0. M. sikap dan praktek) dengan presisi dan akurasi kader dalam menimbang balita pada kegiatan posyandu di Kecamatan Talang Kabupaten Tegal Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian observasional.

Program Studi S1 Gizi Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM Puskesmas Pajangan Kabupaten Bantul 3.kes².57%). Posyandu berdasarkan kinerja output ( cakupan D/S ) yang baik ditemukan sebanyak 13 Posyandu (46. Lokasi penelitian ini di wilayah Kecamatan Pontianak Barat Kota Pontianak. Berdasarkan data dari Profil Dinas Kesehatan Kota Pontianak tahun 2005 ditemukan bahwa tingkat partisipasi masyarakat ke Posyandu (cakupan D/S) menunjukkan penurunan yang cukup signifikan dari 31. Keberhasilan suatu Posyandu yang merupakan salah satu bentuk dari organisasi pelayanan publik akan terwujud apabila organisasi tersebut dapat menyelenggarakan pelayanan dengan baik dan dengan demikian kinerja organisasinya dapat dianggap baik. 2.10%) yang pengunjungnya puas sedangkan 5 posyandu (17.90%) pengunjungnya kurang puas Kesimpulan : Ada hubungan yang bermakna antara komponen input dengan kinerja proses Posyandu dalam melaksanakan program gizi (p < 0. Kehadiran ibu Balita di Posyandu adalah merupakan suatu parameter atau indikator cakupan program gizi yang dapat menentukan keberhasilan kerja (kinerja suatu Posyandu). proses dan output. Kinerja Posyandu. Evaluasi.7% di tahun 2005. Cakupan D/S. Untuk Posyandu dengan kinerja proses yang baik ditemukan sebanyak 18 Posyandu (64. Jumlah responden sebanyak 224 responden pengunjung yang ditentukan secara purposive random sampling dan Posyandu yang diteliti sebanyak 28 Posyandu.Kes. Sri Hartati SKM. Teguh Rubedo.³ Latar Belakang : Posyandu merupakan ujung tombak bagi kegiatan pelayanan kesehatan yang ada di masyarakat. Dinas Kesehatan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta INTISARI . Untuk kinerja output berdasarkan kepuasan pengunjung diperoleh sebanyak 23 posyandu (82.5% pada tahun 2004 menjadi 28. Herkulana Farida¹.05) sedangkan hubungan antara kinerja proses Posyandu dengan kinerja output berdasarkan cakupan D/S maupun berdasarkan kepuasan pengunjung tidak terdapat hubungan yang bermakna ( p > 0.05 ).40 %) yang memiliki komponen input medukung.Evaluasi Kinerja Posyandu Dalam Melaksanakan Program Gizi di Wilayah Kecamatan Pontianak Barat Kota Pontianak.60 %) dengan komponen input yang tidak mendukung. M. Populasi penelitian ini adalah Posyandu yang aktif dan ibu – ibu pengunjung Posyandu. dan sebanyak 8 Posyandu (28.71%). Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan penelitian cross sectional. Hasil Penelitian : Dari hasil penelitian diperoleh sebanyak 20 Posyandu (71. Tujuan Penelitian : Untuk mengevaluasi kinerja Posyandu dalam melaksanakan program gizi di wilayah Kecamatan Pontianak Barat Kota Pontianak dengan melihat elemen – elemen input. Kata Kunci : 1.28%) sedangkan yang kurang baik 10 Posyandu (35. M.43%) sedangkan yang kurang baik 15 Posyandu (53. kepuasan Pengunjung. SKM.

Herlien Dorkas Puara1. Posyandu menjadi salah satu ujung tombak dari suksesnya pelayanan kesehatan karena keberadaannya di seluruh pelosok desa di Indonesia.Weni Kurdanti3 . Tempat penelitian di Posyandu wilayah kerja Puskesmas Kupa-Kupa Kecamatan Tobelo Selatan. Anastasia Nuniek S2 . menurut tingkat pendidikan ditemukan bahwa tingkat pendidikan responden yang tinggi adalah 88%. Dari hasil pengolahan data juga diketahui bahwa sebagian besar ibu bekerja (58%). Menurut tingkat pengetahuan ditemukan bahwa persentase tertinggi tingkat pengetahuan responden adalah baik (77%) dan persentase terendah pada tingkat pengetahuan kurang (23%). jarak Posyandu dan keaktifan kader dengan kehadiran ibu Balita ke Posyandu ( p > 0. Salah satu kegiatan yang dilakukan di Posyandu adalah penimbangan balita yang dilakukan setiap bulan sekali.05 ). Kesimpulan : Ada hubungan yang bermakna antara pendidikan. Jumlah sampel 147 orang. Latar Belakang : Posyandu menjadi salah satu ujung tombak dari suksesnya pelayanan kesehatan karena keberadaannya di seluruh pelosok desa di Indonesia. pengetahuan ibu Balita dengan kehadirannya ke Posyandu ( p < 0. dan cara pengambilan sampel dilakukan secara Systematik Random Sampling. Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan kehadiran Ibu Balita ke Posyandu di wilayah kerja Puskesmas Kupa – Kupa Kecamatan Tobelo Selatan. Program Studi S1 Gizi Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM 2. sedangkan pendidikan rendah hanya 12 %. Kata Kunci : Kehadiran ibu Balita. Posyandu. tidak ada hubungan yang bermakna antara pekerjaan ibu. Politeknik Kesehatan Yogyakarta Jurusan Gizi INTISARI .05 ). Hasil Penelitian : Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa lebih dari separuh ibu– ibu Balita kehadirannya ke Posyandu tergolong tidak aktif ( 56%). serta ada hubungan yang bermakna antara Jadwal Posyandu dengan kehadiran Ibu Balita ke Posyandu ( p < 0. Waktu pelaksanaan Agustus –September 2006. sedangkan yang mengatakan teratur sebanyak 127 responden (86%). Balai Pelatihan Kesehatan Yogyakarta 3. Ibu-ibu yang memiliki balita diharapkan mau menimbangkan balitanya secara rutin supaya tahu status gizinya dan dapat memantau pertumbuhannya.Faktor – Faktor Yang Berhubungan Dengan Kehadiran Ibu Balita Ke Posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Kupa – Kupa Kecamatan Tobelo Selatan Kabupaten Halmahera Utara. Berdasarkan jarak antara rumah responden dengan Posyandu sebagian besar responden menjawab dekat ( 97 %) dan Berdasarkan jawaban responden untuk keaktifan kader diperoleh sebagian besar responden mengatakan kader aktif (73%) dan yang mengatakan kader tidak aktif hanya 27%. Hasil cakupan penimbangan Balita di wilayah kerja Puskesmas kupa-kupa pada tahun 2004 sekitar 40% dan turun menjadi 34% pada tahun 2005. Penentuan jumlah sampel perposyandu dilakukan dengan menggunakan Proporsionate Cluster Random Sampling.05 ) . Populasi pada penelitian ini adalah seluruh ibu yang memiliki anak balita yang berumur 12-59 bulan. Metode Penelitian : Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan rancangan cross-sectional . 1. Analisa data menggunakan uji Chi – Square. sebanyak 20 responden (14%) mengatakan Jadwal Posyandu tidak teratur.

Persepsi suami tentang manfaat Posyandu paling banyak menyatakan untuk kesehatan anak. bahkan ada yang tidak mengetahui Posyandu itu milik siapa. semua membuktikan bahwa peran serta masyarakat amat menentukan terhadap keberhasilan. Program studi S-1 Gizi Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta. kemandirian dan kesinambungan pembangunan kesehatan. Agar pelayanan Posyandu dapat dimanfaatkan oleh sasaran utama. . Latar Belakang : Pentingnya peran serta masyarakat dalam pembangunan kesehatan.Persepsi Suami Tentang Posyandu di Kelurahan Roban Kecamatan Singkawang Tengah Kota Singkawang Kalimantan Barat. 3. Suami mengetahui Posyandu hanya sebagian saja. Hasil pengamatan. Persepsi suami tentang kepemilikan Posyandu paling banyak milik pemerintah. berdasarkan agama yang terbanyak beragama islam. Kesimpulan : Persepsi suami tentang pengertian Posyandu belum tepat. Informasi yang diperoleh kebanyakan berasal dari tetangga. Posyandu tidak akan dapat hidup tanpa adanya dukungan dari masyarakat termasuk di dalamnya adalah keluarga. suami. Untuk itu perlu diketahui persepsi suami tentang Posyandu. Dawam Jamil2. sasaran dan kepemilikan Posyandu belum tepat. lapangan sampai peningkatan cakupan program yang dikaji secara statistik. Karakteristik subyek penelitian terbanyak berumur 31-40 tahun. maka harus dilakukanpendekatan terhadap sasaran antara (suami). berdasarkan jumlah anak terbanyak mempunyai anak 2-3 orang. Persepsi suami tentang kegiatan Posyandu paling banyak menyatakan Posyandu untuk timbang dan imunisasi. oleh dan untuk mesyarakat . Poltekes Jurusan Gizi Yogyakarta.4%. Posyandu. berdasarkan suku terbanyak suku jawa. telah diakui semua pihak. Syamsi Dariah1. Tujuan Penelitian : Mengetahui persepsi suami tentang Posyandu di Kelurahan Roban Kecamatan Singkawang Tengah Kota Singkawang Kalimantan Barat. Lokasi penelitian di kelurahan Roban Kecamatan Singkawang Utara Kota Singkawang Kalimantan Barat. Posyandu madya 78. 2. Metode Penelitian : Penelitian ini penelitian non eksperimental dengan pendekatan kualitatif. kegiatan. 1. Hasil : Subyek penelitian berjumlah 30 orang. berdasarkan pekerjaan terbayak bekerja swasta. Persepsi tentang pengertian manfaat. Waryono3. M. Kata Kunci : Persepsi. Posyandu merupakan unit pelayanan kesehatan dilapangan yang diselenggarakan dari.6% dan Posyandu Purnama 21. Poltekes Jurusan Gizi Yogyakarta. Persepsi suami tentang sasaran Posyandu paling banyak untuk balita. Suami mempunyai peranan penting dalam meningkatkan kepatuhan istri. berdasarkan pendidikan terbanyak pendidikan SMA.