Anda di halaman 1dari 63

KEMBALINYA SANG MUMI Ebook by Raynold 1 "GABE, sebentar lagi kita akan mendarat," si pramugari berkata sambil membungkuk

sedikit. "Kau dijemput di bandara?" "Ya. Dan yang menjemputku kemungkinan besar firaun Mesir kuno," jawabku. "Tapi mungkin- juga mumi tua yang mengerikan." . Si pramugari memicingkan matanya. "Aku serius, lho," katanya. "Siapa yang akan menjemputmu setelah kita tiba di Kairo?" . "Pamanku, Paman Ben," aku menyahut. "Tapi. dia suka membuat lelucon konyol. Kadang-kadang dia sengaja pakai kostum yang aneh-aneh untuk menakut-nakutiku." "Kau bilang pamanmu ilmuwan terkenal." "Memang," aku mengakui. "Tapi dia juga agak aneh." Si pramugari tertawa. Aku menyukainya. Aku suka rambutnya yang pirang. Dan aku suka cara dia memiringkan kepalanya ke samping sewaktu berbicara. Namanya Nancy, dan sepanjang penerbangan dari Amerika ke Mesir dia sangat baik padaku. Dia tahu ini pertama kali aku terbang tanpa ditemani. Berulang kali Nancy mendatangiku untuk menanyakan apakah aku memerlukan sesuatu. Tapi dia memperlakukanku seperti orang dewasa. Dia tidak membawakan buku gambar konyol atau pin plastik berbentuk sayap yang biasa diberikan kepada anak-anak di dalam pesawat terbang. Dan dia terus memberiku camilan kacang goreng, walaupun itu sebenarnya tidak boleh. "Dalam rangka apa kau mengunjungi pamanmu?" tanyanya. "Sekadar untuk berlibur?" Aku mengangguk. "Musim panas tahun lalu aku juga ke Mesir," aku bercerita. "Asyik sekali, deh! Tapi tahun ini Paman Ben sedang meneliti piramida yang belum pernah diselidiki. Dia menemukan makam keramat kuno, dan dia mengundangku untuk hadir waktu makam itu dibuka." Nancy tertawa dan memiringkan kepala. "Wah, daya khayalmu hebat juga, Gabe," komentarnya. Kemudian dia berpaling untuk menjawab pertanyaan penumpang lain. Aku memang suka berkhayal. Tapi kali ini aku tidak mengada-ada. Pamanku bernama Ben Hassad. Dia arkeolog terkemuka. Sudah bertahun-tahun ia mengabdikan

hidupnya untuk meneliti berbagai piramida. Aku sudah sering membaca artikel koran tentang dirinya. Ia bahkan pernah masuk majalah National Geographic. Musim panas tahun lalu, aku dan orangtuaku juga berlibur ke Kairo. Aku dan Sari anak perempuan Paman Ben - sempat mengalami petualangan seru di lorong-lorong Piramida Agung. Nanti aku bakal ketemu lagi dengan Sari, kataku dalam hati. Aku memandang ke luar jendela dan mengamati langit yang biru sekali. Moga-moga kali ini kami bisa lebih akur dari tahun lalu. Sebenarnya Sari dan aku cukup kompak, hanya saja dia selalu tak mau kalah! Selalu mau jadi pemenang, yang terkuat, yang terpintar, dan yang terbaik. Setahuku dia satusatunya gadis tiga belas tahun yang bisa mengubah acara sarapan jadi perlombaan! "Awak pesawat dipersilakan bersiap-siap menghadapi pendaratan," terdengar suara pilot melalui pengeras suara. Aku langsung duduk tegak,supaya bisa melihat lebih jelas lewat jendela. Ketika pesawat mulai turun aku bisa melihat kota Kairo di bawah kami. Sebuah pita biru tampak meliuk-liuk membelah kota. Aku langsung tahu, itu Sungai Nil. Kota Kairo membentang dari tepi sungai. Aku mengintip ke luar, dan melihat gedung-gedung pencakar langit yang terbuat dari kaca serta mesjid-mesjid berkubah. Jauh di pinggir kota kulihat hamparan gurun. Pasir kuning tampak membentang sampai ke cakrawala. Mendadak aku agak gelisah. Piramida-piramida itu ada di gurun sana. Satu atau dua hari lagi aku bakal masuk ke salah satunya, mengikuti pamanku ke sebuah makam yang tak pernah dibuka selama ribuan tahun. Apa yang akan kami temukan di sana? Aku mengeluarkan tangan mumi mungil dari saku T-shirtku. Tangan itu kecil sekali kira-kira seukuran tangan anak-anak. Aku membelinya waktu ada obral barang bekas. Harganya cuma dua dolar. Anak yang menjualnya bilang tangan itu dinamakan "Pemanggil". Katanya, tangan itu bisa memanggil roh-roh jahat yang sudah tua sekali. Kelihatannya memang seperti tangan mumi. Jari-jemarinya dibalut kain kasa yang sudah kotor, dan di sela-sela kain terlihat tar berwarna hitam. Tadinya aku yakin tangan. itu palsu, dan terbuat dari karet atau plastik. Aku sama sekali tidak percaya tangan itu berasal dari mumi sungguhan. Tapi musim panas tahun lalu, tangan itu ternyata menyelamatkan nyawa kami semua. Anak yang menjualnya tidak bohong. Tangan itu benar-benar bisa menghidupkan mumi-mumi! Hebat, bukan? Orangtuaku dan teman-temanku di rumah tentu saja tidak percaya waktu mendengar ceritaku. Dan mereka juga tidak percaya bahwa Pemanggil-ku memang ampuh. Mereka bilang, tangan itu cuma mainan yang dibuat sebagai cenderamata. Kemungkinan besar dibuat di Taiwan.

Tapi sejak itu, aku selalu membawanya ke mana pun aku pergi. Tangan itu kuanggap sebagai jimatku. Tapi itu tidak berarti aku percaya takhayul. Aku tidak percaya bahwa kucing hitam membawa sial dan sebagainya. Angka keberuntunganku saja tiga belas. Tapi aku yakin benar bahwa tangan mumi yang mungil itu bisa melindungiku dari marabahaya. Anehnya, tangan mumi itu selalu terasa hangat. Kalau dipegang-pegang, rasanya bukan seperti terbuat dari plastik. Tangan itu hangat, persis seperti tangan manusia. . Sebelum berangkat, aku sempat kalang kabut waktu orangtuaku memasukkan barangbarangku ke dalam koper. Aku tidak tahu tangan mumi-ku ada di mana. Dan tanpa tangan mumi itu, aku tidak mungkin berangkat ke Mesir! Aku lega sekali ketika akhirnya menemukannya. Ternyata tangan itu terselip di kantong belakang celana jeans-ku yang baru mau dicuci. Kini, ketika pesawat kami hendak mendarat aku merogoh saku T-shirt-ku untuk meraih tangan itu. Aku mengeluarkannya-dan memekik tertahan. Tangan itu dingin sekali. Sedingin es! 2 KENAPA tangan mumi itu mendadak dingin membeku? Mungkinkah. itu suatu pertanda buruk? Semacam peringatan bagiku? Mungkinkah ada bahaya yang sedang menantiku? Aku tidak sempat memikirkannya lebih lanjut. Pesawat kami sudah menuju ke terminal bandara. Para penumpang segera berdiri untuk mengambil barang bawaan masing-masing, lalu mulai mengantre di gang. Tangan mumi-ku kuselipkan ke kantong celana Jeans-ku. Kemudian aku meraih ranselku dan berjalan ke pintu depan. Aku berpamitan pada Nancy dan mengucapkan terima kasih untuk semua camilan yang dihadiahkannya selama penerbangan. Setelah itu aku mengikuti para penumpang lain melewati belalai terminal yang landai, masuk ke gedung terminal. Uih, ternyata ramai sekali! Dan sepertinya semua orang sedang terburu-buru. Mereka saling menabrak dan mendesak-desak. Aku melihat pria-pria dengan setelan jas berwarna gelap. Wanitawanita dengan jubah longgar, wajah tersembunyi di balik cadar. Gadis-gadis remaja dengan T-shirt dan celana jeans. Sekelompok pria bertampang serius, dengan .baju sutra putih yang mirip piyama. Sebuah keluarga dengan tiga anak kecil, dan ketigatiganya sedang merengek dan menangis.

Tiba-tiba aku mulai waswas. Bagaimana aku bisa menemukan Paman Ben di tengah keramaian seperti ini? Ranselku seakan-akan bertambah berat. Dengan kalut aku memandang ke sana kemari. Aku dikelilingi suara-suara asing, dan semuanya bicara begitu keras. Dari sekian banyak orang, tak seorang pun yang berbahasa Inggris. "Aduh!" aku memekik ketika ditabrak dari samping. Aku menoleh, dan melihat seorang wanita yang sedang mendorong kereta barang. Tenang saja, Gabe, kataku dalam hati. Tenang saja. Paman Ben pasti ada di sini. Dia pasti sedang mencarimu. Pokoknya, tenang saja, deh. Tapi bagaimana kalau pamanku lupa bahwa aku mau datang? aku bertanya-tanya. Bagaimana kalau dia keliru mengingat tanggal kedatanganku? Atau bagaimana kalau dia begitu sibuk di dalam piramida sehingga lupa waktu? Asal tahu saja, aku memang cepat kuatir. Dan saat ini kekuatiranku berlipat ganda! Kalau Paman Ben tidak ada di sini, aku akan cari te1epon umum dan menelepon dia! pikirku. Ya, coba saja. Dalam hati aku membayangkan diriku berkata, "Pak Operator, tolong sambungkan dengan paman saya di piramida, ya?" Rasanya takkan berhasil. Aku tidak tahu nomor telepon Paman Ben. Aku bahkan tidak tahu apakah dia punya telepon di tempat tinggalnya. Aku cuma ingat bahwa dia tinggal di dalam tenda di dekat piramida yang sedang ditelitinya. Aku semakin bingung. Sambil berharap-harap cemas, aku mengamati kerumunan orang yang memadati Terminal Kedatangan. Aku sudah mulai panik ketika seorang laki-laki berbadan besar menghampiriku. Wajahnya tidak kelihatan. Dia mengenakan jubah bertudung yang panjang dan berwarna putih, pakaian khas Mesir. Wajahnya tersembunyi di balik kerudung itu. "Taksi?" ia bertanya dengan suara melengking tinggi. "Taksi? Taksi Amerika?" Aku langsung tergelak. "Paman Ben!" aku memekik dengan gembira. "Taksi? Taksi Amerika? Mau pakai taksi?" orang itu terus bertanya.

"Paman Ben! Oh, untung saja kita bisa ketemu!" aku berseru. Tanpa pikir panjang aku merangkulnya dan mendekapnya erat-erat. Lalu, sambil menertawakan samarannya yang konyol, aku meraih ke atas dan menarik tudungnya ke belakang. Laki-laki di balik tudung itu ternyata berkepala botak dan berkumis tebal. Dia menatapku sambil mendelik. Dia bukan Paman Ben! Aku belum pernah melihatnya! 3 "GABE! Gabe! Sebelah. sini!" Seseorang memanggil-manggil namaku. Aku mengintip dari. samping laki-laki yang sedang melototiku itu, dan melihat Paman Ben dan Sari berdiri di depan meja informasi. Mereka melambaikan tangan padaku. Wajah laki-laki di hadapanku merah padam, lalu dia marah-marah dalam bahasa Arab. Aku tidak mengerti yang dikatakannya. Untung saja. Kemudian dia mengenakan tudungnya kembali, sambil terus menggerutu. "Maaf!" seruku, lalu cepat-cepat melewatinya dan bergegas ke arah Paman Ben dan sepupuku. Paman Ben menyalamiku dan berkata, "Selamat datang di Kairo, Gabe." Dia memakai kaus polo putih berlengan pendek dan celana baggy. . Sari memakai jeans belel yang kakinya dipotong serta kaus oblong berwarna hijau menyala. Belum apa-apa dia sudah menertawakanku. Gawat. "Temanmu, ya?" dia mengolok-olokku sambil memandang ke arah laki-laki tadi. "Aku-aku keliru," aku mengakui. Aku menoleh ke belakang.. Laki-laki itu masih melotot. "Masa sih kaupikir dia Daddy?" tanya Sari. Aku bergumam tak jelas. Sari dan aku sebaya. Tapi kini dia satu inci lebih tinggi dariku. Dan rambutnya yang hitam dibiarkan tumbuh panjang, dan dikepang. Matanya yang besar dan gelap tampak berbinar-binar. Dia memang paling senang mengolok-olokku. Kami menuju ke tempat pengambilan koper, dan aku bercerita mengenai pengalamanku selama penerbangan. Aku bercerita bagaimana Nancy,si pramugari, terus memberikan camilan padaku. "Aku baru minggu lalu ke sini," sahut Sari. Tapi aku diizinkan duduk di kelas satu. Kau tahu, di kelas satu kita diberi es krim sundae."

Tidak, aku tidak tahu. Tapi aku langsung sadar bahwa Sari belum berubah sedikit pun. Dia bersekolah di sekolah berasrama di Chicago karena Paman Ben selalu berada di Mesir. Tentu saja Sari selalu memperoleh nilai A. Dan dia juga juara ski dan tenis. Kadang-kadang aku agak kasihan padanya. Ibunya meninggal ketika dia baru berusia lima tahun. Dan dia ketemu ayahnya hanya saat liburan sekolah dan selama musim panas. Tapi ketika kami menunggu sampai koperku muncul di ban berjalan, aku sama sekali tidak kasihan padanya. Dia sibuk menggembar-gemborkan bahwa piramida ini dua kali lebih besar dari piramida yang kukunjungi tahun lalu. Dia sudah dua kali masuk ke dalamnya, dan dia menawarkan untuk mengantarku berkeliling-kalau aku berani. Akhirnya koper biruku yang penuh sesak muncul juga. Aku menyeretnya dari ban berjalan dan menurunkannya ke lantai. Beratnya minta ampun! Aku mencoba mengangkatnya, tapi koper itu nyaris tak bergerak. Sari langsung mendorongku ke samping. "Biar aku saja," katanya. Dia meraih pegangan koper, mengangkat koperku dari lantai, lalu mulai menghampiri pintu keluar. "Hei-!" seruku. Dasar tukang pamer! Paman - Ben menatapku sambil nyengir. "Rupanya Sari sering latihan angkat besi," katanya. Dia memegang pundakku dan menggiringku ke pintu. "Ayo, kita ke mobil saja." Ternyata Paman Ben masih memakai jip yang sama seperti tahun lalu. Koperku segera dinaikkan ke bangku belakang, dan kemudian kami berangkat ke kota. "Belakangan ini panasnya minta ampun kalau siang," ujar Paman Ben sambil menyeka keningnya dengan saputangan. "Baru setelah malam udara mulai sejuk." Lalu lintas merayap perlahan. Suara klakson terdengar dari segala arah. Para pengemudi terus menekan klakson, tak peduli apakah mereka sedang maju atau berhenti. Kebisingannya terasa mekakkan telinga. "Nanti saja," jawab Paman Ben ketika aku bertanya apakah kita akan mampir' dulu di Kairo. "Kita langsung saja ke AL-Jizah. Kami berkemah di depan piramida di sana, supaya jangan jauh-jauh dari tempat kerja." "Mudah-mudahan kau tidak lupa bawa semprotan nyamuk," Sari berkomentar. "Nyamuk di sana sebesar kodok lho." Jangan mengada-ada," Paman Ben menegurnya. "Gabe tidak takut,nyamuk-ya, kan?" "Ah, kalau cuma nyamuk, sih...," aku bergumam pelan-pelan.

"Kalau kalajengking?" Sari langsung bertanya lagi. Lalu lintas mulai lebih lancar setelah kami meninggalkan kota dan menuju ke gurun pasir, yang kuning tampak berkilau-kilau. di bawah sinar matahari sore yang terik. Panasnya minta ampun ketika jip kami. melaju menyusuri jalan dua arah yang sempit. Tidak lama kemudian sebuah piramida mulai kelihatan. Aku menahan napas. Musim panas lalu aku memang sudah mengunjungi beberapa piramida, namun pemandangan tersebut tetap saja menakjubkan. "Aku belum juga bisa percaya bahwa umur piramida-piramida itu sudah lebih dari empat ribu tahun!" seruku. "Yeah. Bayangkan saja, aku pun kalah tua!" Paman berkelakar. Tapi kemudian roman mukanya jadi serius. "Setiap kali aku berdiri di hadapan piramida, aku selalu diliputi perasaan bangga, Gabe," mengakuinya. "Leluhur kita ternyata cukup cerdas dan terampil untuk membangun keajaiban seperti ini." Paman Ben benar. Piramida mempunyai tempat khusus di hatiku, sebab keluargaku memang berasal dari sini. Kakek dan nenekku semuanya orang Mesir. Mereka pindah ke Amerika Serikat sekitar tahun 1930-an. Ayah dan ibuku lahir di Michigan. Aku sendiri merasa sebagai anak Amerika sejati. Tapi kunjungan ke tanah leluhurku tetap saja merupakan sesuatu yang istimewa. Ketika kami mendekat, piramida itu seakan-akan bertambah tinggi di hadapan kami. Bayangannya menimbulkan segitiga gelap yang panjang pada pasir yang kuning. Aku melihat pelataran parkir yang dipenuhi mobil dan bis wisata. Di satu sisinya ada sekelompok unta-unta berpelana. Serombongan turis tampak menyebar. Ada yang menatap piramida, ada yang sibuk mengambil foto, ada pula yang tengah berbincangbincang dengan ramai sambil menunjuk-nunjuk. Paman Ben membelok ke sebuah jalan kecil. Kami menjauhi rombongan turis tadi, menuju ke bagian belakang piramida. Ketika kami masuk ke bayangannya, udara mendadak terasa lebih sejuk. "Uh, aku mau berbuat apa saja demi semangkuk es krim," Sari mengeluh, "Seumur hidup aku belum pernah kepanasan seperti sekarang." Jangan bicara soal panas," Paman Ben menyahut. Aku melihat keringatnya mengalir dari kening ke alisnya yang tebal. "Lebih baik kaubilang betapa seriangnya kau melihat ayahmu setelah sekian bulan tak pernah bertemu." Sari mengerang tertahan. "Aku bakal lebih senang lagi melihatmu, Dad, kalau kulihat kau menenteng es krim." Paman Ben tertawa.

Seorang penjaga berseragam cokelat mencegat jip kami. Paman Ben memperlihatkan kartu pengenal berwarna biru, dan si penjaga segera membiarkan kami lewat. Kami menyusuri jalan di belakang piramida sampai ke deretan tenda kanvas putih. "Selamat datang di Pyramid Hilton!" Paman Ben bergurau. "Nah, itu kamar eksklusif kami." Ditunjuknya tenda terdekat. "Tempatnya lumayan nyaman," katanya lagi sambil memarkir jipnya di samping tenda. "Tapi layanan kamarnya payah." "Dan kita harus berhati-hati terhadap kalajengking," Sari memberi peringatan. Dia tak bosan-bosannya berusaha menakut-nakuti aku. Kami menurunkan koperku. Kemudian aku diajak Paman Ben ke kaki piramida. Para kru kamera sedang membereskan perlengkapan. Seorang laki-laki muda yang berselubung debu muncul dari pintu masuk rendah di antara dua bongkahan batu. Dia melambaikan tangan kepada pamanku, lalu bergegas ke arah tenda-tenda. "Salah satu anak buahku," Paman Ben bergumam. Dia menunjuk ke piramida. "Nah, ini dia, Gabe. Lain sekali dengan Michigan, bukan?" Aku mengangguk. "Luar biasa," ujarku. Dengan sebelah tangan kulindungi mataku dari cahaya yang menyilaukan agar bisa melihat puncaknya. "Aku lupa bahwa piramida bisa sebesar ini kalau dilihat langsung." "Besok, kalian akan kuajak ke makam di dalamnya," Paman Ben berjanji. "Kau datang pada waktu yang tepat. Sudah berbulan-bulan kami melakukan penggalian di sini. Dan sekarang, akhirnya kami siap membuka segel dan masuk ke makam itu." "Wow!" aku berseru. Sebenarnya aku tidak mau kelihatan terlalu bersemangat di depan Sari. Tapi aku tidak bisa menahan diri. Aku sudah tak sabar menunggu sampai besok. "Daddy bakal jadi sangat terkenal setelah masuk ke makam, bukan?" tanya Sari. Dia menepuk seekor lalat yang hinggap di lengannya. "Aduh." "Aku akan begitu terkenal, sampai lalat-lalat pun takkan berani mengganggumu," balas Paman Ben. "Ngomong-ngomong, kalian tahu sebutan untuk lalat di Mesir kuno dulu?" Sari dan aku menggelengkan kepala. "Aku juga tidak," Paman Ben menyahut sambil nyengir lebar. Dasar tukang bercanda. Dia tak pernah kehabisan lelucon. Tiba-tiba roman mukanya berubah. "Oh ya, sebelum aku lupa, aku punya hadiah untukmu, Gabe."

"Hadiah?" "Tunggu-wah, di mana aku menyimpannya tadi?" Dia merogoh-rogoh kantong celananya. Sementara dia mencari-cari, aku melihat sesuatu bergerak di belakangnya. Sebuah bayangan, di pintu masuk ke piramida. Aku memicingkan mata. Bayangan itu bergerak. Sebuah sosok muncul sambil terseok-seok. Pertama-tama aku menyangka aku salah lihat. Tapi kemudian aku sadar bahwa aku tidak keliru. Sosok itu melangkah keluar dari piramida wajahnya terbungkus kain usang berwarna kuning. Begitu pula lengannya. Dan kakinya. Aku hendak berteriak - tapi suaraku tersangkut di tenggorokkan. Dan sementara aku berusaha menarik perhatian pamanku, mumi itu berjalan dengan lengan terjulur ke depan, menghampirinya dari belakang.

4 Aku melihat Sari membelalakkan mata karena ngeri. Dia memekik tertahan. Paman, Ben-!" aku akhirnya menjerit. "Awas! Di belakang! Ada-ada-!" Ia menatapku dengan bingung. Mumi itu semakin dekat. Tangannya seakan-akan hendak meraih tengkuk Paman Ben. "Ada mumi!" aku berteriak. Paman Ben membalikkan dan berseru kaget. "Dia bisa jalan! Dengan jari gemetaran ia menunjuk mumi itu, lalu mundur selangkah. "Dia bisa jalan!" "Ohhh!" Sari mengerang. Aku membalik dan langsung kabur. Tapi sekonyong-konyong mumi itu mulai tertawa. Dia menurunkan tangannya yang kuning. "Buu!" seru mumi itu, lalu terbahak-bahak. Aku menoleh dan melihat bahwa Paman Ben juga tertawa. Matanya yang gelap tampak berbinar-binar. "Dia bisa jalan! Dia bisa jalan!" katanya sambil geleng-geleng kepala. Dengan santai Paman merangkul pundak murni itu.

Aku menatap keduanya sambil terheran-heran. Jantungku masih berdegup kencang. "Ini John," ujar Paman Ben. Sepertinya ia benar-benar menikmati leluconnya. "Dia membuat iklan TV di sini. Iklan untuk plester baru dengan perekat 1ebih kuat." , "Sticky Bird Bandages," kata John. "Cocok untuk mumi Anda." Ia dan Paman Ben kembali tertawa. Kemudian pamanku menunjuk kru kamera yang sedang menaikkan peralatan mereka ke truk kecil, "Pekerjaan mereka sebenarnya sudah selesai. Tapi John bersedia menunggu di sini untuk ikut menakut-nakuti kalian." Sari tersenyum kecut. "Ha-ha," katanya singkat. "Dad pikir begitu saja aku sudah takut? Lalu dia menambahkan, "Tapi kasihan Gabe, lho. Dad lihat tampangnya tadi? Dia hampir kaku karena ngeri! Aku sudah kuatir dia bakal ambruk seperti pohon tumbang!" Paman Ben dan John tertawa. "Hei-enak saja!" aku membantah. Telingaku mulai terasa panas. Seenaknya saja Sari menudingku. Padahal dia sendiri kaget setengah mati waktu mumi itu muncul sambil terseok-seok. Dia sama takutnya seperti aku! "Kau juga menjerit tadi!" ujarku sengit. "Aku dengar kok." . "Aku sengaja menjerit supaya kau tambah ngeri," dalihnya. Dengan angkuh dia memindahkan kepangannya yang panjang ke belakang. "Aku sudah ditunggu, nih," John berkata sambil menatap arlojinya. "Begitu sampai di hotel, aku langsung mencebur ke kolam renang. Aku bakal berendam selama seminggu!" Dia melambaikan tangannya yang terbalut kain kusam, lalu bergegas ke truk kecil tadi. Brengsek, kenapa baru sekarang aku melihat arloji di pergelangan tangannya? Aku merasa tolol sekali. "Oke," aku. berseru dengan gusar, "mulai sekarang aku takkan mau ditipu lagi!" Pamanku tersenyum dan mengedipkan mata. "Berani taruhan?" "Eh, bagaimana dengan hadiah Gabe?" tanya Sari. "Apa sih hadiahnya?" Paman Ben mengeluarkan sesuatu dari kantong dan memperlihatkannya padaku. Sebuah mata kalung yang diikat tali. Terbuat dari kaca tembus pandang berwarna jingga. Mata kalungnya tampak berkilau-kilau. Paman Ben menyerahkannya padaku. Aku memegang-megangnya dengan sebelah tangan. Permukaan mata kalung itu ternyata licin sekali. "Apa ini?" tanyaku. "Jenis kaca apa ini?'" .

"Itu bukan kaca," jawab Paman Ben. "Itu sejenis batu yang dinamakan amber." Paman menghampiriku, ikut mengamati mata kalung itu. "Coba kauangkat, lalu perhatikan baik-baik." . Aku mengangkat mata kalungku, dan melihat seekor serangga besar terperangkap di dalamnya. "Kelihatannya seperti kumbang," aku berkomentar. "Betul," ujar Paman Ben. Ia memicingkan sebelah mata agar darat melihat lebih jelas. "Itu kumbang tanduk purba: Namanya scarab. Kumbang itu terperangkap empat ribu tahun yang lalu. Tapi kaulihat sendiri, badannya masih utuh sampai sekarang." "Idih," kata Sari sambil meringis. Dia menepuk punggung ayahnya. "Hadiah.bagus, Dad. Kumbang mati. Pokoknya, kalau Natal nanti, jangan Daddy yang cari hadiah!" Paman Ben tertawa, kemudian kembali berpaling padaku. "Scarab sangat penting bagi orang Mesir di zaman Firaun," katanya menjelaskan. "Mereka menganggap scarab sebagai lambang kehidupan abadi." Aku mengamati punggung kumbang, itu, keenam kakinya yang masih utuh. "Menurut kepercayaan mereka, orang yang memelihara scarab akan hidup selamalamanya," pamanku melanjutkan. "Tapi orang yang digigit scarab akan mati seketika." "Aneh," Sari bergumam. "Bentuknya bagus juga," aku berkomentar. "Betulkah umurnya sudah empat ribu tahun?" Paman Ben mengangguk. "Pakai saja sebagai kalung, Gabe. Siapa tahu sisa-sisa kekuatannya masih ada." Aku mengenakan kalung itu dan menyelipkannya ke balik T-shirt-ku. "Terima kasih, Paman," ujarku. Paman menyeka keringat di keningnya dengan saputangan yang telah diremas-remas. "Oke, sekarang kita balik dulu ke tenda. Kalian pasti mau minuman dingin, bukan?" Kami berjalan beberapa langkah---lalu berhenti karena melihat Sari. Seluruh tubuhnya gemetaran. Mulutnya terbuka lebar ketika dia menunjuk-nunjuk dadaku. "Sari ada apa?" seru Paman Ben. "S-scarab itu," dia tergagap-gagap. "Dia... terlepas! Aku melihatnya!" Dia menunjuk ke bawah. "Itu dia!"

"Hah?" Aku langsung membalik dan membungkuk untuk mencari serangga itu. Aduh!" aku memekik. Betisku seperti disengat. Dan kemudian aku sadar bahwa scarab itu telah menggigitku. . 5 AKU menahan napas. Ucapan Paman Ben,tadi masih terngiang-ngiang di telingaku. "Orang yang memelihara scarab akan hidup selama-lamanya, Tapi orang yang digigit scarab akan mati seketika. " Mati seketika? "Ahhh!" aku melolong, lalu berbalik. Dan kemudian aku melihat Sari berlutut. Dia nyengir lebar. Tangannya masih terjulur ke depan. Seketika aku sadar bahwa dia telah mencubit betisku. Jantungku masih berdebar-debar ketika aku melihat kalungku dan menatap batu berwarna jingga itu. Scarab-nya ternyata masih terperangkap di dalam. "Uuu-huuhh!" aku berseru dengan jengkel. Aku kesal pada diriku sendiri. Apakah aku akan tertipu setiap kali Paman Ben dan Sari menjailiku? Wah, kalau begitu, liburan kali ini bakal terasa lama sekali. Seperti yang sudah kukatakan tadi, aku menyukai sepupuku yang satu ini. Kecuali kalau dia lagi sok jago dan mau menang sendiri, kami sebenarnya akur-akur saja. Tapi sekarang aku ingin menonjoknya. Aku ingin menyemprotnya dengan kata-kata pedas. Sayangnya, aku tidak berhasil menemukan kata-kata yang cukup pedas. "Kau keterlaluan, Sari," aku bergumam. Sambil mendongkol kalungku kuselipkan lagi ke balik T-shirt. . Memang - dan kau ketipu lagi," sahutnya sambil nyengir lebar. Malam itu, aku berbaring di ranjang dan menatap langit-langit tenda yang rendah sambil mendengarkan suara-suara di sekelilingku. Aku mendengarkan suara angin yang berembus pelan, suara tiang-tiang tenda yang berderak-derak, suara dinding tenda yang mengepak-ngepak.

Aku menoleh, dan melihat cahaya bulan yang pucat melalui celah di pintu tenda. Aku melihat rumput kering yang tumbuh di gundukan-gundukan pasir di luar. Aku melihat bercak air pada dinding tenda di atas ranjangku. Aku takkan bisa tidur, pikirku dengan galau. Untuk kedua puluh kali aku menepuk-nepuk bantalku yang kempis supaya mengembang. Selimut wol yang kasar terasa gatal di daguku. Aku sudah sering menginap di tempat orang lain. Tapi aku selalu tidur di dalam ruangan tertutup. Bukan di tengah gurun pasir yang luas, di dalam tenda kecil yang mengepak-ngepak dan berderak-derak. Aku bukannya takut. Pamanku tidur mendengkur di ranjangnya, yang berjarak beberapa meter aja dari ranjangku. Aku cuma tidak bisa tidur. Aku mendengar daun-daun palem di luar berdesir-desir. Aku mendengar bunyi ban mobil-mobil yang berjarak puluhan kilometer dari tendaku. Dan aku juga mendengar detak jantung ketika ada sesuatu yang bergerak di dadaku. Aku langsung merasakan gerakan itu. Rasanya seperti digelitik. Hanya ada satu jawaban. Scarab di dalam mata kalungku sedang menggeliat-geliat. Kali ini bukan lelucon. Bukan lelucon. Binatang itu benar-benar bergerak. Aku meraba-raba dalam kegelapan dan menyingkirkan selimut. Kemudian kuangkat kalungku menentang cahaya bulan, Aku melihat kumbang gendut yang terperangkap di dalamnya. "Kamu bergerak, ya?" bisikku. "Kamu habis menggerak-gerakkan kakimu?" Tiba-tiba aku malu sendiri. Kenapa aku sampai berbisik-bisik kepada serangga berumur empat ribu tahun? Kenapa aku bisa menyangka bahwa dia masih hidup? Sambil menggerutu dalam hati kukembalikan kalungku ke balik baju tidurku. Sama sekali tak terbayang olehku bahwa tak lama lagi kalung itu akan menjadi sangat penting untukku. Sama sekali tak terbayang olehku bahwa kalung itu menyimpan rahasia yang akan menyelamatkan nyawaku-atau mencabutnya.

6 UDARA di tendaku sudah panas ketika aku, terbangun keesokan paginya. Sinar matahari yang terang benderang masuk lewat pintu tenda yang terbuka lebar. Sambil memicing karena si1au aku menggosok-gosok mata dan meregangkan badan. Punggungku pegal. Ranjangku ternyata keras sekali! Tapi aku terlalu bersemangat untuk mengkhawatirkan punggungku. Pagi ini aku akan masuk ke dalam piramida, ke pintu makam tua di tengah-tengahnya. Cepat-cepat aku mengenakan T-shirt bersih serta jelana jeans yang kemarin kupakai. Kemudian kuatur letak kalung di balik T-shirt-ku, dan menyelipkan tangan mumiku ke kantong belakang celana. Kalung dan tangan mumi ini sudah cukup melindungiku, kataku dalam hati. Tak mungkin terjadi apa-apa. Setelah menyisir rambut, aku memakai topi kebanggaanku yang berlambang Michigan Wolverines, lalu bergegas ke tenda mes untuk ikut sarapan. Matahari seakan-akan melayang di atas pohon-pohon palem di kejauhan. Hamparan pasir yang membentang sampai ke cakrawala tampak berkilau-kilau. Aku menarik napas dalam-dalam untuk menghirup udara segar. Uh. Rupanya ada kawanan unta di sekitar perkemahan, aku menyadari. Udaranya tidak bisa disebut segar. Sari dan Paman Ben ternyata sudah mulai sarapan. Mereka duduk di meja panjang di tenda mes. Seperti kemarin, Paman Ben mengenakan celana baggy dan kaus putih. Tapi pagi ini sudah ada noda kopi di bagian dadanya. Rambut Sari yang hitam dan panjang disisir ke belakang dan dikuncir. Dia memakai celana tenis serta kaus oblong berwarna merah cerah. Mereka menyapaku ketika aku memasuki tenda. Aku menuang segelas air jeruk dan mengisi mangkukku dengan raisin bran, berhubung tidak ada Frosted Flakes. Tiga anak buah Paman Ben sedang makan di ujung meja. Mereka asyik membicarakan pekerjaan mereka. "Hari ini kita bakal masuk," aku mendengar salah satu dari mereka berkata. "Mungkin perlu waktu berhari-hari untuk membongkar segel di pintu makam," seorang wanita muda berkomentar. . Aku mengambil tempat di samping Sari. "Tolong ceritakan semuanya tentang makam itu," aku berkata kepada Paman Ben. "Makam siapa sih itu? Siapa yang dimakamkan di situ?"

Pamanku tertawa. "Kalau boleh, aku ingin mengucapkan selamat pagi dulu sebelum mulai berceramah." Sari mengintip ke mangkukku. "Eh, coba lihat, nih," dia berkata sambil menunjuk. "Aku dapat lebih banyak kismis daripada kau!" Aku kan sudah bilang, dia bisa mengubah acara sarapan jadi perlombaan! "Ya, tapi aku dapat lebih banyak daging buah dalam air jerukku," aku membalas. Aku cuma bercanda, tapi dia langsung memperhatikan gelasnya untuk memastikan. Paman Ben menyeka mulut dengan tisu, lalu menghirup kopi. "Kalau aku tidak salah," Paman mulai bercerita, "makam yang kami temukan adalah makam seorang pangeran. Dia masih sepupu Raja Tutankhamen." "Raja Tut, maksudnya," Sari menyela. "Aku tahu!" balasku ketus. "Makam Raja Tut ditemukan tahun 1922," Paman Ben melanjutkan. "Makamnya yang luas sebagian besar berisi harta firaun itu. Temuan tersebut adalah temuan arkeologi paling menakjubkan abad ini." Senyumnya terkembang. "Sampai sekarang." "Jadi temuan Paman akan lebih menakjubkan lagi?" tanyaku. Aku sama sekali belum menyentuh makananku. Seluruh perhatianku terfokus pada cerita Paman Ben. Paman mengangkat bahu. "Tak seorang pun bisa memastikan apa yang terdapat di balik pintu makam itu, Gabe. Kita terpaksa menunggu sampai pintunya berhasil dibuka. Tapi aku punya firasat bagus. Kurasa makam ini -makam Pangeran Khor-Ru. Dia sepupu sang firaun. Dan konon hartanya tak kalah banyak." "Dan menurut Daddy, semua mahkota dan permata dan harta Pangeran Khor-Ru ini ikut dikubur bersama dia?" tanya Sari. Paman Ben menghabiskan kopinya, lalu menggeser cangkir yang telah kosong itu. "Siapa tahu?" ujarnya. "Bisa jadi kita akan menemukan harta karun di sana: Tapi mungkin juga ruangan itu tak berisi apa-apa." "Bagaimana mungkin?" aku menyanggah. "Mana ada makam kosong di sebuah piramida?" "Penjahat," jelas Paman Ben sambil mengerutkan kening. "Jangan lupa, Pangeran Khor-Ru dimakamkan sekitar 1300 SM. Dalam abad-abad sesudah itu, tidak sedikit makam kuno dibongkar penjahat, yang lalu menjarah semua harta yang mereka temukan di sana." Paman bangkit dan menghela napas. "Bukan tidak mungkin jerih payah kita selama berbulan-bulan tidak membuahkan hasil apa pun selain ruangan kosong. "

"Tidak mungkin!" seruku dengan berapi-api. "Aku yakin kita bakal menemukan mumi sang pangeran di sana. Dan permata-permata bernilai jutaan dolar!" Paman Ben menatapku sambil tersenyum. "Sudahlah, jangan bicara terus," katanya. "Habiskan dulu sarapanmu, supaya kita bisa segera mulai bekerja." Tidak lama setelah itu Sari dan aku meninggalkan tenda mes bersama Paman Ben. Ia melambaikan tangan kepada dua anak muda yang baru keluar dari tenda perlengkapan sambil membawa alat-alat gali. Kemudian ia menghampiri mereka untuk membicarakan sesuatu. Sari dan aku menunggu. Dia berpaling kepadaku, dan roman mukanya tampak serius. "Eh, Gabe," katanya pelan-pelan, "sori kalau aku menyebalkan selama ini." "Kau? Menyebalkan?" aku menyahut dengan nada menyindir. Dia tidak tertawa. "Aku agak kuatir;" dia memberitahuku. "Tentang Daddy." "Ada apa, sih?" tanyaku. "Ayahmu sehat-sehat saja, kan? Dia kelihatan riang gembira," "Justru itu yang membuatku kuatir," bisik Sari. "Daddy terlalu. riang gembira dan bersemangat. Dia yakin temuan ini bakal membuatnya terkenal." "Terus?" aku kembali bertanya. "Bagaimana kalau ternyata cuma ada ruangan kosong?" balas Sari. Dia menoleh dan memperhatikan ayahnya. "Bagaimana kalau makam itu sudah dijarah penjahat? Atau malah bukan makam si pangeran? Bagaimana kalau Dad membongkar segel, membuka pintu dan cuma menemukan ruangan berdebu yang penuh ular?" Dia menarik napas panjang. "Dad pasti akan patah semangat. Seluruh tenaga dan pikirannya dicurahkan pada proyek ini. Aku tidak tahu apakah ia sanggup menahan kekecewaan yang mungkin bakal dialaminya." "Kenapa kau jadi pesimis begini, sih?" sahutku. "Bagaimana kalau-" Aku mendadak terdiam, karena Paman Ben sudah kembali berjalan ke arah kami. "Ayo, kita masuk saja," katanya penuh semangat. "Menurut para pekerja, kita sudah dekat sekali ke pintu ruang makam." Paman merangkul Sari dan aku, lalu menggiring kami memasuki piramida. Udara langsung terasa lebih sejuk ketika kami melangkah ke bayangan bangunan raksasa itu. Aku melihat pintu masuk yang rendah di kaki dinding belakang. Pintunya kecil sekali, sehingga kami terpaksa mengantre. Aku mengintip ke dalam lubang yang sempit itu, dan melihat bahwa terowongan di baliknya menurun curam.

Moga-moga aku tidak terpeleset nanti, pikirku waswas. Dalam hati aku membayangkan diriku jatuh ke lubang gelap tanpa dasar. Yang paling penting, aku jangan sampai jatuh di depan Sari. Soalnya aku yakin, sampai kapan pun dia akan terus mengungkit-ungkit kejadian itu. Paman Ben menyerahkan helm proyek berwarna kuning kepada Sari dan aku. Masing-masing helm dilengkapi lampu senter, seperti helm yang dipakai di tambang batubara. "Kalian harus terus mengikuti aku," ia berpesan. "Aku masih ingat musim panas tahun lalu, kalian memisahkan diri dari rombongan dan membuat repot semua orang." "Ka-kami takkan merepotkan Paman," aku tergagap-gagap. Sebenarnya aku malu juga karena ketahuan gugup, tapi bagaimana lagi? Suaraku tidak mau diajak bekerja sama. Aku melirik ke arah Sari. Dia sedang mengatur letak helmnya, Dia tampak tenang dan penuh percaya diri, "Aku akan berjalan di depan," ujar Paman Ben. Ia menarik tali pengikat helmnya ke bawah dagu. Kemudian berbalik hendak memasuki terowongan. Tapi sebuah teriakan melengking membuat kami Semua berhenti mendadak dan menoleh ke belakang. ''Jangan! Tunggu! Jangan masuk!" 7 SEORANG wanita muda bergegas melintasi lapangan di muka piramida. Rambutnya yang hitam dan panjang melambai-lambai tertiup angin. Ia membawa tas kerja berwarna cokelat. Kameranya, yang dikalungkannya di leher, tampak berayun-ayun. Ia berhenti di depan kami dan tersenyum kepada Paman Ben. "Doktor Hassad?" ia bertanya sambil tersengal-sengal. Pamanku mengangguk. "Ya?" Ia menunggu sampai napas wanita itu kembali normal. Wow, ia cantik sekali, aku berkata dalam hati. Rambutnya hitam, panjang, lurus dan berkilau-kilau. Beberapa helai terurai di keningnya. Matanya berwarna hijau, dan aku belum pernah melihat mata seindah itu. Pakaiannya serba putih-jas putih dan blus putih dan celana panjang putih. Orangnya termasuk pendek, hanya satu atau dua inci lebih tinggi dari Sari. Ia pasti bintang film atau sebangsanya, pikirku. Ia meletakkan tas kerjanya di pasir, lalu menyibakkan rambutnya ke belakang. "Maaf, saya berteriak-teriak tadi, Doktor Hassad," ia berkata kepada pamanku, "tapi saya memang perlu bicara dengan Anda. Saya takut Anda keburu masuk ke dalam piramida sebelum saya sempat menemui Anda."

Paman Ben menatapnya sambil mengerutkan kening. "Bagaimana Anda bisa melewati pos jaga?" Paman bertanya sambil melepaskan helm proyeknya." "Saya menunjukkan kartu pers saya, Jawab wanita itu. "Saya wartawati Cairo Sun. Nama saya Nila Rahmad. Saya berharap-" "Nila?" Paman Ben memotong. "Nama yang indah." Wanita itu tersenyum. ''Ya. Ibu saya mengambil nama saya dari Sungai Kehidupan.Sungai Nil." "Hmm, indah sekali," ujar Paman Ben. Matanya berbinar-binar. "Tapi untuk sementara saya belum bisa mengizinkan wartawan mana pun meliput pekerjaan kami di sini." Nila mengerutkan kening dan menggigit bibir. "Beberapa hari lalu saya sempat berbicara dengan Doktor Fielding," katanya. Pamanku langsung membelalakkan mata. "Oh, ya?" "Doktor Fielding memberi izin kepada saya untuk menulis tentang temuan Anda," Nila berkeras sambil menatap pamanku. "Hmm, sejauh ini kami belum menemukan apa-apa!" Paman Ben menyahut dengan ketus. "Mungkin bahkan tidak ada apa-apa untuk ditemukan." "Informasi yang saya terima dari Doktor Fielding berbeda," balas Nila. "Ia tampak yakin bahwa temuan Anda akan menggemparkan dunia." Paman Ben tertawa. "Rekan saya itu kadang-kadang terbawa semangatnya sendiri dan terlalu banyak bicara," katanya kepada Nila. Wanita itu menatap pamanku dengan pandangan memohon. "Bolehkah saya ikut masuk ke dalam piramida bersama Anda?" Ia melirik Sari dan aku. "Sepertinya Anda sudah punya tamu lain." "Putri saya, Sari, dan keponakan saya, Gabe," Paman Ben memperkenalkan kami. "Izinkan saya ikut bersama mereka," Nila mendesak. "Saya berjanji takkan menulis sepatah kata pun tanpa persetujuan Anda." Paman Ben menggaruk-garuk dagu. Ia kembali memasang helm. "Dan jangan ambil foto," gumamnya.

"Apakah ini berarti bahwa saya boleh ikut?" Nila bertanya penuh harap. Paman Ben mengangguk. "Sebagai pengamat." Paman berusaha menampilkan diri sebagai orang yang keras. Tapi aku langsung tahu bahwa ia menyukai wanita itu. Nila tersenyum hangat, "Terima kasih, Doktor Hassad." Paman Ben meraih ke dalam kotak penyimpan dan menyerahkan helm proyek kepada Nila. "Jangan berharap terlalu banyak. Takkan ada temuan menakjubkan hari ini. Tapi kami sudah mulai dekat." Nila mengenakan helmnya, lalu berpaling kepada Sari dan aku. "Kalian juga baru pertama kali masuk ke dalam piramida ini?" ia bertanya. "Oh, tidak. Saya sudah tiga kali masuk," ujar Sari sambil membusungkan dada. "Pokoknya seru sekali." "Saya baru tiba kemarin," kataku. "Jadi ini memang pertama kali saya-" Aku terdiam ketika melihat roman muka Nila mendadak berubah. Kenapa ia menatapku seperti itu? Aku menunduk dan menyadari bahwa ia menatap kalungku. Ia sampai terbengongbengong. "Oh! Tidak mungkin! Tidak mungkin! Ini betul-betul aneh!" serunya. 8 A-ADA apa?" aku tergagap-gagap. "Kita kembar!" Nila berseru. Ia meraih ke balik jasnya, dan mengeluarkan kalung yang melingkar di lehernya. Mata kalungnya terbuat dari batu transparan berwarna jingga, dan bentuknya persis seperti mata kalungku. "Wah, kok bisa sama, ya?" ujar Paman Ben. Nila meraih mata kalungku dan membungkuk untuk memeriksanya. "Mata kalungmu berisi scarab," katanya sambil mengamatinya dari segala arah. Kemudian ia mendekatkan mata kalungnya ke wajahku. "Coba lihat, Gabe. Punyaku tidak ada isinya." Aku memperhatikan mata kalungnya. Kelihatannya seperti kaca berwarna jingga. Tidak ada apa-apa di dalamnya.

"Menurut saya, sih, mata kalung Anda lebih bagus," Sari berkata kepada Nila. "Saya tidak suka kalau ada kumbang mati menggelantung di leher saya." "Tapi kalau saya tidak salah, kumbang itu semacam lambang keberuntungan," balas Nila. Ia mengembalikan kalungnya ke balik jas, "Moga-moga mata kalung yang kosong bukan lambang nasib buruk!" "Mudah-mudahan saja," Paman Ben menimpali. Kemudian ia berbalik dan mengajak kami memasuki piramida. Aku tidak mengerti bagaimana itu bisa terjadi, Tapi nyatanya aku tersesat. Semula Sari dan aku berjalan di belakang Paman Ben dan Nila. Persis di belakang mereka. Aku mendengar penjelasan pamanku tentang dinding terowongan yang terbuat dari batu granit dan batu kapur. Lampu senter di helm masing-masing telah menyala. Berkas sinar yang kekuningkuningan menerangi lantai dan dinding terowongan yang berselubung debu, ketika kami semakin jauh menerobos ke perut piramida itu. Langit-langitnya rendah, dan kami semua terpaksa berjalan sambil membungkuk. Terowongannya berkelok-kelok, dan beberapa kali kami menemui titik-titik percabangan. "Jalan buntu untuk menyesatkan," Paman Ben berkomentar. Sorot lampu yang berkedap-kedip sebenarnya tidak banyak membantu. Aku sempat tersandung, dan lenganku lecet karena tergores dinding terowongan yang kasar. Udara di dalam piramida ternyata lebih dingin dari yang kusangka, dan aku menyesal tidak membawa sweter atau jaket. Di depan, Paman Ben sedang bercerita mengenai Raja Tut dan Pangeran Khor-Ru kepada Nila. Sepertinya pamanku sedang berusaha membuat wanita itu terkesan, Jangan-jangan Paman menaruh hati padanya? "Wah, ini benar-benar mengasyikkan!" aku mendengar seruan Nila. '''Doktor Fielding dan Anda begitu baik sudah mengizinkan saya melihat semua ini." "Siapa sih Doktor Fielding itu?" aku berbisik kepada Sari. "Rekan kerja Dad," balas Sari. "Tapi mereka tidak cocok. Dad tidak menyukainya. Kau pasti akan ketemu dia nanti, Ia selalu ada di sekitar piramida. Aku juga tidak menyukainya." Aku berhenti untuk mengamati gambar aneh di dinding terowongan. Kelihatannya seperti kepala binatang. "Hei-Sari!" bisikku. "Ada gambar kuno, nih." Sari geleng-geleng kepala. "Itu kan Bart Simpson," dia bergumam, "Pasti ada anak buah Dad yang iseng. "

"Aku juga tahu!" aku berbohong. "Aku cuma mau mengujimu, kok." Aduh, kenapa sih aku selalu mempermalukan diriku sendiri di depan sepupuku itu? Aku mengalihkan pandanganku dari gambar di dinding terowongan dan membelalakkan mataku. Sari telah lenyap. Samar-samar aku melihat berkas cahaya senternya di depan. Tapi kemudian cahaya itu pun menghilang. Aku mempercepat langkah untuk mengejar Sari. Tahu-tahu kakiku tersandung lagi. Topiku membentur dinding terowongan. Dan senternya langsung padam. "Hei-Sari? Paman Ben?" aku memanggil sambil bersandar ke dinding, Keadaan di sekelilingku gelup gulita, sehingga aku tidak berani beranjak. "Hei-! Ke mana kalian?" Suaraku bergema di terowongan yang sempit. Namun tak ada yang menyahut, Aku melepaskan helm proyekku, lalu mengotak-atik lampu senternya. Mula-mula kuputar untuk mengencangkannya. Kemudian helm itu kuguncang-guncang dengan keras. Tapi senternya tak mau menyala lagi. Sambil menarik napas panjang, helmnya kupasang kembali ke kepalaku. Sekarang bagaimana? aku bertanya dalam hati. Aku mulai ngeri. Perutku seperti terisi batu besar, dan tenggorokanku mendadak kering kerontang. "Hei-tolong!" aku berseru. "Aku di sini. Senterku mati. Aku tidak bisa jalan!" Tak ada jawaban. Ke mana mereka? Masa sih, mereka tidak sadar bahwa aku menghilang? "Hmm, kalau begitu aku tunggu di sini saja," aku bergumam sendiri. Aku bersandar ke dinding terowongan. Tahu-tahu dinding itu ambruk, dan aku langsung terjatuh. Tanganku menggapai-gapai, tapi tidak menemukan tempat berpegang. Tubuhku meluncur ke bawah, menembus kegelapan yang pekat.

9 TANGANKU mendayung-dayung selama aku meluncur, mencari-cari tempat untuk berpegang. Semuanya, terjadi begitu cepat. Berteriak pun aku tak sempat. Kemudian aku terempas dengan keras. Seketika rasa nyeri menjalar pada punggung ke kaki dan lenganku. Mataku sampai berkunang-kunang. Aku tak bisa bernapas. Sepintas lalu cahaya berwarna merah cerah menari-nari di depan mataku, kemudian semuanya kembali gelap. Aku megap-megap, tapi paruparuku tak kunjung terisi udara. Dadaku sesak. Rasanya persis seperti kalau perut kita dihantam bola basket, Akhirnya aku berhasil duduk tegak dan menoleh ke kiri-kanan. Perlahan-lahan terdengar bunyi gesekan di sekelilingku. Sepertinya ada sesuatu yang bergerak-gerak di lantai tanah yang keras. "Hei-ada yang mendengar, tidak?" Sebenarnya aku hendak berteriak lantang, namun yang keluar dari mulutku hanya bisikan parau. Kepalaku mulai berdenyut-denyut, tapi, napasku sudah hampir normal kembali. "Hei-aku ada di bawah sini!" aku memanggil, sedikit lebih keras, Tak ada jawaban. Masa mereka belum sadar juga bahwa aku menghilang? Masa mereka belum mulai mencariku? Aku duduk sambil menyandarkan tanganku ke belakang. Tiba-tiba tangan kananku terasa gatal. Langsung saja kugaruk. Tanpa sengaja tangan kiriku menepis sesuatu. Kemudian aku sadar bahwa kakiku juga gatal. Dan aku merasakan sesuatu merayap di pergelangan tangan kiriku. Aku segera menggoyang-goyangkan tangan. "Ada apa ini?" bisikku pelan. Seluruh tubuhku mulai gatal. Lengan dan kakiku seperti ditusuk-tusuk. Cepat-cepat aku berdiri dan mengayun-ayunkan lengan. Helmku membentur langitlangit yang rendah, Dan lampu senternya menyala lagi.

Aku memekik tertahan ketika melihat makhluk-makhluk kecil merayap-rayap di sekitarku. Labah-labah. Ratusan labah-labah putih berbadan gemuk memadati lantai. Mereka merayap kian kemari, bertumpang tindih. Aku menengadah, dan sorot lampu senter di helmku Ikut bergerak ke atas. Ternyata dinding-dinding batu pun penuh labah-labah. Binatang-binatang itu membuat dinding tampak seperti bergerak, seolah-olah bernyawa. Puluhan labah-labah bergelantungan dari benang-benang halus yang menempel di langit-langit. Mereka seakan-akan sedang melayang di udara. Aku menepis seekor labah-labah dari kepalaku. Baru sekarang aku sadar kenapa kakiku terasa gatal. Kakiku penuh labah-labah. Begitu pula lenganku. Dan punggungku. "Tolong! Tolong!" aku menjerit. "Hei! Ada yang bisa mendengarku, tidak?" Tiba-tiba aku melihat sesuatu yang lebih menakutkan lagi. Jauh lebih menakutkan. Seekor ular muncul di atas dan meluncur ke arah wajahku. 10 AKU merunduk dan berusaha melindungi kepalaku ketika ular itu semakin dekat. "Tangkap!" aku mendengar seseorang berseru. Tangkap ujungnya!" Aku memekik kaget, dan menoleh ke atas. Sorot senter mengikuti gerakan kepalaku. Dan kemudian aku melihat bahwa yang turun itu bukan ular-melainkan tali tambang. "Tangkap, Gabe! Cepat!" Sari berseru dari atas. Sambil menggoyang-goyangkan kaki dan tangan agar semua labah-labah yang menempel di tubuhku terlepas, aku berusaha meraih ujung tali itu. Dan kemudian tubuhku mulai terangkat. Beberapa detik setelah itu, Paman Ben mengulurkan tangannya, lalu mencengkeram pundakku. Jika dia menarikku naik, aku melihat Sari dan Nila menghela tali dengan sekuat tenaga. Aku berseru dengan gembira ketika kakiku kembali menginjak lantai yang kokoh. Tapi kegembiraanku tidak bertahan lama. Seluruh tubuhku serasa terbakar! Aku kembali menendang-nendang dan menepis-nepis, lalu menginjak-injak semua labah-labah yang berjatuhan.

Kemudian aku sadar bahwa Sari sedang menertawakanku. "Wah, Gabe, apa sih nama tarian itu? dia bertanya. Paman Ben dan Nila ikut tertawa. "Bagaimana kau bisa jatuh ke situ, Gabe?" tanya pamanku, sambil menatap ke lubang yang penuh labah-labah itu. "Dindingnya ambruk," aku menyahut sambil menggaruk-garuk:kaki. "Aku pikir kau masih di belakangku," ujar Sari. "Waktu aku menengok..." suaranya melemah. Berkas sinar dari lampu senter di helm Paman Ben menyorot ke bawah. "Wah, dalam juga," Paman berkomentar sambil kembali berpaling padaku. "Kau betul tidak apaapa?" Aku mengangguk. "Yeah. Aku cuma sempat tidak bisa napas tadi, Dan kemudian labah-labah itu-" "Di sini ada ratusan ruang seperti itu," pamanku berkata kepada Nila. "Orang-orang yang membangun piramida sengaja membuat lorong-lorong buntu dan jebakanjebakan untuk mengelabui para penjarah agar mereka tidak dapat menemukan ruang makam yang sesungguhnya," "Idih! Labah-labahnya gemuk sekali!" Sari bergumam sambil mundur selangkah. "Di bawah sana ada, sejuta," aku bercerita. "Di dinding, di langit-langit-di manamana." "Oh, aku pasti akan bermimpi buruk," ujar Nila pelan-pelan sambil bergeser lebih dekat ke pamanku. "Kau yakin baik-baik saja?" Paman Ben bertanya sekali lagi. Aku sudah hendak menjawab, tapi tiba-tiba aku ingat sesuatu. Tangan mumi-ku. Tangan itu terselip di kantong belakang celanaku. Jangan-jangan remuk waktu aku terjatuh tadi? Jantungku hampir copot. Aku tidak mau tangan mungil itu rusak. Tangan mungil itu jimat keberuntunganku. Aku segera merogoh kantong dan menariknya ke luar. Kemudian aku memeriksanya dengan saksama sambil mengarahkan berkas sinar dari senterku. Ternyata masih utuh. Aku menarik napas lega. Tangan itu ternyata tidak remuk, namun tetap terasa dingin ketika kupegang.

"Apa itu?" Nila bertanya sambil membungkuk sedikit agar dapat melihat lebih jelas. Ia menyibakkan rambutnya yang panjang. "Kelihatannya seperti Pemanggil." "Bagaimana Anda tahu itu?" aku balik bertanya. Nila memperhatikannya dengan sungguh-sungguh. "Saya tahu banyak tentang Mesir kuno," sahutnya. "Seumur hidup saya mempelajari sejarah Mesir." "Ini mungkin benda upacara. yang sudah tua sekali," Paman Ben angkat bicara. "Atau sekadar cenderamata murahan," Sari menimpali. "Tangan mumi ini sakti," aku berkata sambil membersihkannya dengan hati-hati. "Tangannya tertimpa badanku waktu aku jatuh tadi, tapi nyatanya tidak rusak. " "Mungkin memang jimat keberuntungan," ujar Nila. Ia kembali berpaling pada Paman Ben. "Kalau begitu, kenapa Gabe bisa sampai jatuh? Sari mempertanyakan dengan nada menantang. Sebelum aku sempat menjawab, aku melihat tangan mumi-ku bergerak-gerak. Jarijemarinya yang mungil menekuk pelan-pelan, lalu kembali lurus. Aku memekik kaget. "Gabe-apa lagi sekarang?" Paman Ben bertanya dengan ketus. "Ehm..,tidak ada apa-apa," jawabku. Mereka toh takkan percaya. "Rasanya penjelajahan kita hari ini sudah cukup, kata Paman Ben. Tangan mumi-ku kugenggam erat-erat ketika kami menuju pintu keluar. Aku yakin aku tidak salah lihat tadi. Aku yakin seratus persen. Jari-jemarinya memang bergerak. Tapi kenapa? Apakah tangan itu hendak memberi tanda padaku? Apakah aku hendak diberi peringatan? 11 DUA hari kemudian, anak buah Paman Ben mencapai pintu ruang makam.

Sari dan aku menghabiskan dua hari itu dengan bermain-main di perkemahan dan menjelajahi daerah di sekitar piramida, Tapi berhubung, sebagian besar gurun pasir, maka tidak banyak yang bisa kami jelajahi. Suatu sore kami terus-menerus bermain scrabble. Bermain scrabble dengan Sari betul-betul menjemukan. Dia tipe pemain bertahan, dan dia menghabiskan berjam-jam untuk memikirkan cara memenuhi papan permainan dan menghalangiku membuat kata-kata yang akan meraih nilai tinggi. Setiap kali aku menyusun kata yang hebat, Sari lalu berdalih kata itu sebenarnya tidak ada, dan karena itu tidak boleh dipakai, Dan karena di tenda kami tidak ada kamus, maka biasanya dia yang keluar sebagai pemenang dalam perdebatan sengit yang menyusul. Sementara itu, Paman Ben kelihatan tegang sekali. Sepertinya ia merasa gelisah karena saat untuk membuka ruang makam akhirnya tiba. Ia jarang berbicara dengan Sari dan aku. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk menemani orang-orang yang tidak kukenal. Sikap Paman Ben sangat serius. Ia sama sekali tidak bersenda-gurau dan berkelakar seperti biasanya. Paman Ben juga sering berbicara dengan Nila. Mula-mula wanita itu hendak membuat artikel mengenai temuan Paman Ben di dalam piramida. Tapi sekarang dia berubah pikiran, dan akan menulis tentang Paman Ben sendiri. Hampir setiap ucapan pamanku dicatatnya dalam buku kecil yang selalu dibawa-bawanya. Lalu, saat sarapan, Paman tersenyum untuk pertama kali dalam dua hari terakhir ini. "Inilah hari yang ditunggu-tunggu," dia mengumumkan. Sari dan aku langsung bersemangat sekali. "Kami juga boleh ikut?" aku bertanya. Paman Ben mengangguk. Aku ingin kalian hadir," sahutnya. "Barangkali kita akan membuat sejarah hari ini. Barangkali saja hari ini akan menjadi hari yang akan kalian kenang seumur hidup. Paman mengangkat bahunya seraya menambahkan "Siapa tahu?" Beberapa menit kemudian, kami bertiga mengikuti sejumlah pekerja ke piramida. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, langit tampak mendung. Awan tebal tampak bergumpal-gumpal. Piramida di hadapan kami menjulang tinggi. Puncaknya hampir menyentuh lapisan awan. Ketika kami mendekati pintu kecil di dinding belakang, Nila berlari menghampiri kami. Kameranya terayun-ayun di dadanya. Ia mengenakan kemeja denim berlengan panjang dan celana jeans belel berpotongan longgar. Paman Ben menyapanya dengan hangat. "Tapi jangan ambil foto dulu!" ia menambahkan. "Janji?"

Nila menatapnya sambil tersenyum. Matanya nampak berbinar-binar. Ia menempelkan tangan kanannya ke dada. "Janji." Semua mengambil helm proyek berwarna kuning dari kotak penyimpanan. Paman Ben juga membawa palu godam. Ia masuk lebih dulu ke terowongan. Yang lain menyusulnya satu per satu. Jantungku berdebar-debar ketika bergegas supaya tidak ketinggalan lagi. Sorot lampu dari senter-senter kami menyapu lantai dan dinding terowongan yang sepit. Jauh di depan terdengar suara para pekerja serta bunyi gesekan alat-alat gali mereka. "Wah, ini benar-benar menegangkan!" aku berkata kepada Sari. "Mungkin saja ruang makam itu penuh permata," ujar sepupuku itu, ketika kami melewati sebuah tikungan. "Batu safir dan mirah delima dan zamrud. Siapa tahu aku bisa mencoba mahkota intan yang pernah dipakai salah satu putri kerajaan." "Dan barangkali kita akan menemukan mumi di sana," kataku. Terus terang, aku memang tidak terlalu tertarik pada batu permata. "Siapa tahu kita akan menemukan mumi Pangeran Khor-Ru yang sudah empat ribu tahun terbaring di sana." Sari langsung meringis. "Yang kaupikirkan kok mumi melulu, sih?" dia bertanya dengan nada mengejek. "Habis, ini kan piramida Mesir kuno!" aku membalas dengan sengit. "Ruang makam itu mungkin berisi permata dan benda antik bernilai jutaan dolar," Sari menggerutu. "Tapi kau malah sibuk memikirkan tubuh bulukan yang terbungkus tar dap. kain kumal." Dia menggeleng-gelengkan kepala. "Kalau kau anak umur delapan atau sembilan tahun, aku masih maklum deh. Tapi kau kan sudah terlalu besar untuk tergila-gila pada mumi." "Paman Ben belum bosan meneliti mumi, padahal ia sudah dewasa," sahutku. Sari langsung terdiam. Sambil membisu kami mengikuti Nila dan Paman Ben. Setelah beberapa saat, terowongan sempit yang kami telusuri membelok tajam. Udaranya bertambah panas. Aku melihat cahaya lampu di depan. Dua lampu sorot bertenaga baterai menerangi dinding di ujung terowongan. Ketika kami mendekat, aku menyadari dinding itu bukan dinding, melainkan sebuah pintu. Empat pekerja-dua pria dan dua wanita-tampak berlutut sambil menggali-gali dengan sekop dan cangkul kecil. Mereka sedang membersihkan sisa-sisa tanah yang masih melekat di pintu tersebut. "Oh, betapa indahnya!" seru Paman. Ia bergegas menghampiri para pekerja. Mereka menoleh dan menyapanya dengan gembira. "Luar biasa!" Paman Ben berkomentar sambil berdecak-decak kagum.

Nila, Sari, dan aku menyusulnya. Paman Ben benar. Pintu kuno itu memang mengesankan. Tingginya tidak seberapa. Paman Ben harus menunduk jika ingin melewatinya. Tapi bentuk pintu itu memang pantas untuk makam seorang pangeran. Kayu mahoninya-yang kini sudah membatu-pasti diangkut dari tempat yang jauh sekali. Aku yakin bahwa jenis kayu itu tidak berasal dari pohon-pohon yang tumbuh di Mesir. Pintu itu dihiasi hieroglif-hieroglif -aksara Mesir kuno - dari atas sampai bawah. Aku mengenali gambar burung, kucing, dan binatang-binatang lain, semuanya berupa ukiran pada permukaan kayu. Tapi yang paling mengesankan adalah segel yang mengunci pintu itu - sebuah kepala singa yang sedang menyeringai, dan terbuat dari emas. Cahaya lampu sorot membuat kepala singa itu bersinar-sinar bagaikan matahari. "Emasnya tidak keras," aku mendengar salah satu pekerja berkata kepada Paman Ben. "Segel ini takkan sulit dibuka." Paman Ben menurunkan palu godamnya. Sejenak dia menatap kepala singa yang berkilau-kilau itu, lalu kembali berpaling kepada kami. "Mereka pikir kepala singa ini akan menghalau orang-orang dari ruang makam," katanya. "Dan kelihatannya berhasil. Sampai sekarang." "Doktor Hassad, saya harus mengabadikan pembukaan segel ini," ujar Nila. Ia menghampiri Paman Ben. "Anda harus mengizinkan saya mengambil foto, Peristiwa besar Semacam ini tidak boleh berlalu begitu saja." Paman Ben menatapnya sambil mengerutkan kening. "Ehm... baiklah," ia akhirnya setuju. Nila tersenyum gembira ketika mengangkat kameranya. "Terima kasih, Ben." Para pekerja mundur. Salah satu dari mereka menyerahkan palu dan sebuah alat kecil yang menyerupai pisau bedah. "Silakan, Doktor Hassad, katanya. Paman Ben menerima alat-alat tersebut, lalu menghampiri pintu. . "Setelah segel ini saya bongkar, kita akan membuka pintu dan memasuki sebuah ruangan yang selama empat ribu tahun tak pernah dilihat orang," ia mengumumkan. Nila mengintip melalui kameranya dan mengatur-atur lensa. Sari dan aku menepi mendekati para pekerja. Singa emas itu seakan-akan semakin mengilap ketika Paman Ben mengambil ancangancang untuk mengayunkan palu. Suasana menjadi hening. Ketegangan yang begitu kental terasa melingkupi kami semua.

Tanpa sengaja aku menahan napas. Ketika sadar udara di paru-paruku langsung kuembuskan pelan pelan. Kemudian aku menghela napas lagi. Aku melirik Sari. Dia sedang menggigit-gigit bibir. Kedua tangannya merapat di pinggangnya. "Ayo, siapa yang lapar? Bagaimana kalau urusan ini kita tunda dan pesan pizza dulu?" Paman Ben berkelakar. Kami semua tertawa keras-keras. Begitulah Paman Ben-di saat yang mungkin paling penting dalam hidupnya, dia masih juga melontarkan lelucon konyol. Suasana kembali hening dan tegang. Roman muka Paman Ben berubah menjadi serius ketika dia berkeling ke segel kuno di pintu. Dia menempelkan pahat dan mulai mengayunkan palu. Sekonyong-konyong sebuah suara menggelegar, OHIHH-BIARKAN AKU BERISTIRAHAT DENGAN TENANG!" 12 AKU memekik kaget. "BIARKAN AKU BERISTIRAHAT DENGAN TENANG!" suara itu kembali menggelegar. Aku melihat Paman Ben menurunkan pahat. Dan membalikkan badan, dan membelalakkan mata dengan bingung. Kemudian aku sadar bahwa suara itu berasal dari belakang kami. Aku menoleh dan melihat seorang pria yang sebelumnya belum pernah kulihat setengah tersembunyi dalam keremangan. Ia menghampiri kami dengan langkah panjang. Orangnya tinggi kurus, bahkan begitu tinggi sehingga terpaksa membungkuk agar kepalanya tidak terbentur di langit-langit terowongan. Kepalanya botak, kecuali di sekitar telinga. Wajahnya sempit, dan tampak merengut. Ia mengenakan jas safari yang disetrika licin, serta kemeja dan dasi. Matanya yang kecil dan hitam, yang sepintas lalu mirip kismis, mendelik ke arah pamanku. Aku menatapnya dengan heran. Sepertinya orang itu tak pernah makan. Ia kurus sekali, sekurus mumi! "Omar-!" - Paman Ben berseru. "Aku tidak menyangka kau sudah kembali dari Kairo!"

"Biarkan aku beristirahat dengan tenang," Dr. Fielding mengulangi, kali ini lebih pelan. "Itulah pesan Pangeran Khor-Ru yang tertulis pada prasasti kuno yang kita temukan bulan lalu. Itulah kehendak sang Pangeran." "Omar, kita sudah membahas semua ini," pamanku menyahut sambil menghela napas panjang. Ia menurunkan pahat dan palu di tangannya. Dr. Fielding melewati Sari dan aku tanpa menggubris sedikit pun. Ia berhenti di hadapan pamanku dan mengusap kepalanya yang botak .Hmm, kalau begitu, kenapa kau nekat mau membongkar segel ini?" tanyanya dengan ketus. . "Aku ilmuwan," Paman Ben menjawab dengan tegas. "Aku tidak bisa membiarkan takhayul menghalangi kemajuan ilmu pengetahuan, Omar." "Aku juga ilmuwan," balas Dr. Fielding, sambil mengencangkan dasinya dengan kedua tangan. "Tapi aku tidak mau mencemari makam tua ini. Aku tidak mau menentang kehendak Pangeran Khor-Ru. Dan aku tidak bersedia menganggap tulisan hieroglif sebagai takhayul belaka." "Dan ini merupakan pangkal perselisihan kita," kata Paman Ben. Ia menunjuk keempat pekerja tadi. "Kita sudah bekerja keras selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Tidak seharusnya jerih payah kita berakhir di depan pintu ini, Omar. Usaha kita harus diteruskan sampai tuntas." Dr. Fielding menggigit-gigit bibir. Ia menunjuk ke bagian atas pintu. "Lihat, Ben. Hieroglif yang sama seperti yang kita temukan pada prasasti itu. Peringatan yang sama. Biarkan aku beristirahat dengan tenang." "Aku tahu, aku tahu," ujar pamanku sambil mengerutkan kening. "Peringatannya jelas sekali," Dr. Fielding melanjutkan dengan sengit. "Jika ada yang berani mengganggu istirahat abadi sang Pangeran, jika ada yang nekat mengucapkan mantra di peti mayatnya sebanyak lima kali maka mumi sang Pangeran akan hidup kembali. Dan ia akan membalas dendam kepada mereka yang mengganggunya." Aku langsung merinding ketika mendengar kata-kata itu. Seketika aku menoleh kepada Paman Ben. Kenapa ia tidak pernah menceritakan ancaman pangeran itu kepada Sari dan aku? Kenapa peringatan yang mereka temukan pada prasasti kuno itu tak pernah disinggungnya? Apakah karena kuatir kami bakal takut? Ataukah ia sendiri yang gentar? Tidak mungkin. Mustahil. Paman Ben sama sekali tidak kelihatan takut ketika berdebat dengan Dr. Fielding. Segera kelihatan bahwa mereka sudah sering membahas persoalan ini. Dan aku langsung sadar bahwa Dr. Fielding takkan sanggup menghalangi Paman Ben membongkar segel dan masuk ke ruang makam.

"Ini peringatanku yang terakhir, Ben," ujar Dr. Fielding. Demi keselamatan semua orang yang ada di sini. Ia menunjuk keempat pekerja yang sejak tadi membisu. "Takhayul," balas Paman Ben. "Aku tidak mau menghalangi takhayul. Aku ilmuwan." Ia kembali mengangkat pahat dan palu. "Segel ini akan kubongkar." Dr. Fielding angkat tangan. "Aku tidak mau ambil bagian," ia berkata dengan gusar. Serta-merta dia berbalik. Kepalanya nyaris terbentur langit-langit yang rendah. Lalu, sambil bergumam sendiri, ia bergegas pergi. Dalam sekejap Dr. Fielding telah lenyap dalam kegelapan yang menyelubungi terowongan, Paman Ben mencoba mengejarnya. "Omar-? Omar? Tapi suara langkah Dr. Fielding semakin jauh. Paman Ben menghela napas panjang. "Orang itu tidak bisa dipercaya," ia berkomentar. "Sebenarnya ia tidak peduli pada takhayul lama. Ia hanya mau merebut temuan ini untuk dirinya sendiri. Karena itulah ia berusaha menghentikanku sebelum pintu ini dibuka." Aku tidak tahu harus berkata apa. Ucapan pamanku sungguh mengejutkan. Tadinya kupikir kaum ilmuwan sudah punya peraturan tentang siapa yang berhak atas suatu temuan. Paman Ben berbisik kepada Nila. Kemudian ia kembali menghampiri keempat anak buahnya. "Kalau di antara kalian ada yang sependapat dengan Doktor Fielding," ia berkata kepada mereka, "maka kalian boleh menyusulnya." Para pekerja berpandangan satu sama lain. "Kalian sudah dengar tentang peringatan yang tercantum di pintu makam. Saya tidak mau memaksa kalian melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani kalian." "Tapi kita sudah bekerja begitu keras," ujar salah satu dari mereka. "Kita tidak bisa berhenti sekarang. Kita tidak punya pilihan. Kita harus membuka pintu itu." Pamanku mengembangkan senyum. "Saya setuju," dia berkata, la,lu kembali berpaling pada kepala singa di pintu. Aku melirik Sari, tapi ternyata ia sudah lebih dulu menatapku. "Gabe, kalau kau takut, kau keluar saja. Dad pasti maklum, kok," bisiknya. "Kau tidak perlu, malu. Huh, dasar! "Aku sih mau tetap di sini," sahutku, juga sambil berbisik: "Tapi kalau kau mau kembali ke tenda ayo, kuantar saja sebentar."

Bunyi kling yang keras membuat kami berdua menoleh. Paman Ben sudah mulai membongkar segel di pintu. Nila telah siap dengan kameranya. Para pekerja tampak tegang. Tanpa berkedip mereka memperhatikan setiap gerakan pamanku. Paman Ben bekerja dengan hati-hati. Ia menyorongkan pahat ke balik kepala singa, dan mengungkitnya pelan-pelan sambil mengetukkan palu. Beberapa menit kemudian, segel itu sudah terlepas. Dengan cekatan Paman Ben menangkapnya sebelum Jatuh ke lantai. Nila menjepret-jepret tanpa henti. Paman Ben menyerahkan segelnya kepada salah satu pekerja. "Ini bukan hadiah Natal, lho," kelakarnya. "Ini mau saya simpan untuk dipajang di atas perapian." Semua tertawa. Paman menggenggam tepi pintu dengan kedua tangannya. "Saya masuk pertama," dia memberi tahu yang lain. "Kalau dalam dua puluh menit saya belum muncul lagi, tolong beritahu Doktor Fielding bahwa dia benar! Leluconnya kembali disambut tawa berderai. Dua pekerja membantu Paman Ben menggeser pintu. Mereka mendorong dengan sekuat tenaga. Tapi pintu itu tidak bergerak sedikit pun. "Mungkin perlu dilumuri minyak dulu," Paman Ben bergurau. "Habis, pintu ini sudah empat ribu tahun tertutup rapat dan tak pernah dibuka." Selama beberapa menit mereka kembali sibuk dengan cangkul dan pahat. Kemudian mereka sekali lagi mendorong pintu mahoni yang berat itu. "Yes!" Paman Ben berseru ketika pintunya bergeser satu inci. Lalu satu inci lagi. Dan satu lagi. Semuanya berdesak-desakan agar dapat mengintip ke dalam ruang makam kuno. Dua pekerja memindahkan lampu-lampu sorot dan mengarahkannya ke celah pintu. Sari dan aku berdiri di samping Nila ketika Paman Ben mendorong pintu itu dengan bantuan anak buahnya. "Wah, ini menegangkan sekali!" seru Nila. "Dan aku satusatunya wartawan di sini! Beruntung sekali aku!" Aku juga beruntung, pikirku. Berapa banyak anak yang memperoleh kesempatan seperti aku? Berapa banyak anak yang termasuk orang pertama yang memasuki makam berusia empat ribu tahun di dalam piramida Mesir? Tiba-tiba terbayang wajah-wajah temanku. Uh! Rasanya tak sabar lagi aku ingin menceritakan segala pengalamanku ini pada mereka!

Pintu itu berderak-derak. Satu inci lagi. Dan satu lagi. Bukaannya sudah hampir cukup lebar untuk dilewati orang. "Coba lampu-lampu digeser sedikit, Paman Ben menginstruksikan. "Beberapa inci lagi, dan kita bisa masuk dan bersalaman dengan sang Pangeran." Paman Ben, dan para pekerjanya mengerahkan segenap tenaga dan berhasil mendorong pintu berapa inci lagi. "Yes!" ia berseru dengan riang, Nila mengambil foto. Semuanya mendesak maju. Paman Ben masuk paling dulu. Sari mendorongku ke samping, lalu menyelinap menduluiku. Jantungku berdebar-debar. Tanganku mendadak dingin seperti es. Aku tidak peduli siapa yang masuk pertama. Yang penting, aku bisa masuk! Satu per satu kami menyusup ke ruang makam yang teramat tua itu. Akhirnya aku mendapat giliran. Setelah menarik napas, aku menerobos masuk, dan melihat--aku tidak melihat apa-apa. Selain sarang labah-labah di mana-mana, ruangan itu ternyata kosong. Kosong melompong. 13 Aku mendesah perlahan. Kasihan Paman Ben. Semua jerih payahnya ternyata sia-sia. Aku jadi ikut patah semangat. . Kemudian aku memandang berkeliling. Semua sarang labah-labah tampak mengilap keperakan karena terkena sorot lampu. Bayangan-bayangan kami tampak membentang di lantai tanah, menyerupai hantu. Aku berpaling kepada Paman Ben. Ia pasti kecewa sekali, aku berkata dalam hati. Tapi di luar dugaanku, Paman Ben malah tersenyum lebar. "Pindahkan lampu-lampu," ia menyuruh salah satu anak buahnya. "Dan bawa alat-alat ke dalam. Ada satu segel lagi yang harus kita bongkar."

Ia menunjuk dinding belakang di ruangan yang kosong itu. Samar-samar aku melihat garis tepi sebuah pintu. Pintu tersebut juga bersegel kepala singa. "Sudah kuduga bahwa ini bukan ruang makam sesungguhnya!" Sari berseru. Ia menatapku sambil nyengir lebar. "Seperti yang kukatakan tadi, orang Mesir kuno sering melakukan hal ini," Paman Ben menjelaskan. "Mereka membangun beberapa ruangan palsu untuk menyembunyikan ruang makam sesungguhnya dari para penjarah." Ia melepaskan helmnya dan menggaruk-garuk kepala. "Bukan tidak mungkin kita harus melewati beberapa ruangan kosong lainnya sebelum sampai di tempat peristirahatan terakhir Pangeran Khor-Ru." Nila mengambil foto Paman Ben yang sedang memeriksa pintu yang baru ditemukan, Kemudian ia menatapku sambil tersenyum. "Sayang kau tidak bisa melihat tampangmu tadi, Gabe," katanya. "Kau kelihatan begitu kecewa." "Kupikir-" aku mulai menyahut. Tapi bunyi pahat yang menggores-gores segel pintu membuatku terdiam lagi. Semuanya menoleh dan memperhatikan Paman Ben bekerja. Aku menebak-nebak apa yang menanti kami di balik pintu itu. Ruangan kosong lagi? Atau pangeran Mesir berumur empat ribu tahun, yang dikelilingi seluruh harta dan miliknya? Segel yang satu ini ternyata lebih keras dari yang pertama. Kami memutuskan untuk beristirahat dulu dan kembali setelah makan siang. Sore itu, Paman Ben dan anak buahnya bekerja beberapa jam lagi. Dengan hati-hati mereka berusaha membuka segel itu tanpa merusaknya. Sari dan aku duduk di lantai dan memperhatikan mereka. Udaranya panas dan berbau agak asam. Mungkin karena udaranya juga sudah tua sekali. Sari dan aku mengobrol tentang musim panas tahun lalu serta petualangan-petualangan yang kami alami di Piramida Agung. Nila mengambil foto kami. "Sudah hampir selesai," Paman Ben mengumumkan. Seketika semangat kami mulai bangkit lagi. Sari dan aku segera berdiri, lalu melintasi ruangan agar dapat melihat lebih jelas. Kepala singa itu copot dari pintu. Dua pekerja menyimpannya di sebuah peti beralas jerami. Kemudian Paman Ben dan kedua pekerja lain mulai mendorong pintu. Pintu ini ternyata lebih berat lagi dari yang pertama. "Uh... pintunya... macet... total," Paman Ben bergumam sambil mendorong. Ia dan para pekerja meraih peralatan masing-masing dan mulai mengerik-ngerik tanah yang terkumpul di celah-celah pintu selama berabad-abad.

Satu jam kemudian, mereka berhasil menggeser pintu sejauh satu inci. Lalu satu inci lagi. Dan satu lagi. Ketika pintunya sudah setengah terbuka, Paman Benmencabut lampu senter dari helmnya. Ia mengarahkan sinarnya ke ruangan di balik pintu dan mengintip. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Sari dan aku maju beringsut-ingsut. Jantungku kembali berdebar-debar. Apa yang dilihat Paman Ben? aku bertanya dalam hati. Kenapa dia diam saja? Akhirnya, Paman Ben mengalihkan senternya dan berpaling kepada kami. "Kita telah membuat kesalahan besar," katanya pelan-pelan. 14 SUASANA menjadi hening. Semua orang menahan napas. Aku sampai menelan ludah karena terkejut mendengar ucapan pamanku. Tapi tiba-tiba dia tersenyum lebar, "Kita keliru menilai temuan kita ini!" serunya. "Makam ini bahkan lebih mencengangkan dari makam Raja Tut!" Seketika terdengar sorak-sorai yang memantul-mantul pada dinding-dinding batu. Para pekerja segera menghampiri Paman Ben untuk memberi selamat padanya. "Selamat untuk kita semua!" seru Paman Ben dengan riang. Kami semua tertawa dengan gembira ketika menyusup lewat celah yang sempit, dan masuk ke ruangan berikut. Dan dalam cahaya lampu sorot yang menerangi ruangan luas itu, aku melihat sesuatu yang takkan pernah kulupakan. Lapisan debu yang tebal pun tak sanggup menyembunyikan harta luar biasa yang mengisi ruangan tersebut. Aku memandang berkeliling. Ternyata begitu banyak yang harus dilihat! Kepalaku menjadi pening. Dinding-dinding dipenuhi hieroglif dari lantai sampai ke langit-langit. Lantainya dipadati perabot dan benda-benda lainnya. Ruangan itu lebih mirip gudang daripada ruang makam! Sebuah singgasana tinggi bersandaran lurus menarik perhatianku. Sandaran punggungnya dihiasi ukiran berbentuk matahari emas yang memancarkan sinar ke segala arah. Di belakangnya aku melihat sejumlah kursi dan bangku, serta sebuah sofa panjang. Lusinan bejana batu dan tanah liat ditumpuk di dinding. Ada beberapa yang sudah retak dan pecah. Tapi sebagian besar masih utuh dan dalam kondisi sempurna.

Sebuah kepala monyet yang terbuat dari emas tergeletak di tengah-tengah ruangan. Di belakangnya ada peti-peti besar. Dengan hati-hati Paman Ben dan anak buahnya membuka salah satu peti. Aku melihat mereka membelalakkan mata ketika menatap ke dalamnya. "Perhiasan!" seru Paman Ben. "Peti ini penuh perhiasan emas!" Sari muncul di sampingku. Dia tersenyum lebar. "Ini benar-benar gila!" bisikku. Dia mengangguk. "Ya, gila!" Kami bicara sambil- berbisik-bisik. Selain kami tak ada yang bersuara. Semua tercengang-cengang karena pemandangan menakjubkan yang terbentang di hadapan kami. Bunyi paling keras adalah bunyi "klik" dari kamera Nila. Paman Ben melangkah ke antara Sari dan aku, lalu merangkul kami berdua. "Ini betul-betul luar biasa ya?" ujarnya dengan semangat berkobar-kobar. "Semuanya masih utuh. Tak tersentuh selama empat ribu tahun." Waktu aku menoleh, aku melihat matanya berkaca-kaca. Aku menyadari, inilah puncak keberhasilan Paman Ben, "Kita harus berhati-hati-" Paman Ben mulai berkata, lalu berhenti di tengah-tengah kalimat. Raut mukanya berubah. Ketika ia menggiring aku dan Sari melintasi ruangan, aku melihat apa yang menarik perhatiannya. Sebuah peti mumi yang terbuat dari batu tampak bersandar di dinding seberang, setengah tersembunyi dalam keremangan. "Oh, wow!" aku bergumam waktu kami menghampirinya. Peti itu terbuat dari batu licin berwarna kelabu. Sebuah retakan tampak memanjang di tengah-tengah tutupnya. "Pangerannya ada di dalam situ?" tanya Sari. Paman Ben tidak segera menyahut. Ia berdiri di antara kami sambil mengamati peti mumi yang sudah teramat tua itu. "Kita lihat saja," jawab Paman akhirnya. Sementara Paman Ben dan keempat anak buahnya berusaha membuka tutupnya, Nila menurunkan kamera dan melangkah maju untuk memperhatikan mereka. Matanya yang hijau menyorot tajam ketika tutup yang berat itu mulai bergerak.

Isinya ternyata peti mayat yang mengikuti bentuk mumi yang tersimpan di dalamnya. Peti itu tidak seberapa tinggi. Dan lebih sempit dari yang kuduga semula. Dengan hati-hati para pekerja mengangkat tutup peti mayat. Aku menahan napas dan menggenggam tangan Paman Ben ketika mumi di dalamnya mulai terlihat. Muminya begitu kecil dan rapuh. "Pangeran Khor-Ru," Paman Ben bergumam. Tanpa berkedip dia menatap mumi itu. Sang pangeran terbaring dalam posisi telentang. Tangannya yang kecil bersilang di dadanya. Tar berwarna hitam telah menembus kain yang membalutnya. Kain di bagian kepala bahkan sudah hancur, sehingga tengkoraknya yang berlapis tar kelihatan jelas: Jantungku berdegup-degup ketika aku membungkuk untuk mengamati mumi itu. Matanya yang hitam karena tar seakan-akan menatapku dengan pandangan tak berdaya. Yang terbungkus kain itu adalah jasad manusia, pikirku sambil merinding. Tingginya kira-kira sama denganku. Dan setelah meninggal, ia disiram tar panas dan dibalut. kain. Dan ia terbaring di sini selama empat ribu tahun. Bukan sembarang manusia, tapi seorang pangeran. Aku memperhatikan lapisan tar yang menutup wajahnya, serta kain pembungkusnya, yang sudah rapuh dan menguning. Aku memperhatikan tubuhnya yang begitu mungil. Dulu ia pernah hidup, aku berkata dalam hati. Pernahkah terbayang olehnya bahwa empat ribu tahun kemudian akan ada orang yang membuka peti mayatnya dan menatapnya dengan takjub? Aku mundur selangkah dan menarik napas panjang. Kemudian aku menyadari bahwa mata Nila pun berkaca-kaca. Ia membungkuk. Kedua tangannya bersandar pada pinggiran peti mayat, dan matanya tak beralih dari wajah si pangeran. "Rasanya sampai sekarang belum pernah ada mumi dalam kondisi sebaik ini," ujar Paman Ben. Tentu saja kita harus melakukan serangkaian tes untuk memastikan identitas anak muda ini. Tapi kalau melihat segala sesuatu yang ada di sini, rasanya kita bisa menarik kesimpulan bahwa......:." Paman mendadak terdiam ketika kami mendengar suara-suara di ruangan pertama. Suara langkah. Suara orang berbicara.

Aku langsung menoleh ke pintu, dan melihat empat polisi berseragam hitam menyerbu masuk. "Oke. Semuanya harap mundur satu langkah," salah satu dari mereka memerintahkan, sementara tangannya meraih pistol yang tergantung di pinggangnya. 15 DISEKELILINGKU terdengar seruan-seruan kaget. Paman Ben membalik sambil membelalakkan mata dengan bingung. "Ada apa ini?" tanyanya. Keempat petugas kepolisian Kairo langsung maju ke tengah ruangan. Keempatempatnya pasang tampang kencang. "Hati-hati!" Paman Ben memperingatkan. Ia berdiri di hadapan peti mumi, seakanakan hendak melindunginya. "Jangan sentuh apa pun. Semuanya sudah rapuh sekali." Ia melepaskan helm proyeknya, Pandangannya beralih dari petugas yang satu ke petugas berikutnya. "Kenapa Anda ada di sini?" "Aku yang minta mereka datang kemari," sebuah suara menggelegar. Dr. Fielding muncul di pintu. Ia tersenyum puas. Matanya yang kecil tampak berbinar-binar. "Omar-aku tidak mengerti," ujar Paman Ben sambil menghampiri rekannya itu. "Menurutku, isi ruangan ini sebaiknya dilindungi pihak berwajib," sahut Dr, Fielding. Ia menoleh ke kiri- kanan, dan mengagumi harta karun di sekelilingnya. "Menakjubkan! Sungguh-sungguh menakjubkan!" serunya. Kemudian ia menghampiri Paman Ben dan menyalaminya dengan hangat. "Selamat, semuanya!" ia berkata dengan suaranya yang lantang. "Ini nyaris tidak bisa dipercaya." Roman muka Paman Ben melunak. "Aku tetap tidak mengerti kenapa mereka ada di sini," ia berkata sambil menoleh ke arah keempat petugas polisi, yang tetap bertampang kencang, "Tak seorang pun di dalam ruangan ini akan mencuri sesuatu." "Tentu saja tidak," sahut Dr. Fieldng, masih sambil meremas tangan Paman Ben. "Tentu saja tidak. Tapi kabar mengenai temuan ini akan segera tersebar, Ben, Dan menurutku, semua ini perlu diamankan dengan sebaik-baiknya." Paman Ben menatap para petugas polisi dengan curiga. Tapi kemudian ia mengangkat bahunya yang lebar. "Mungkin kau benar," katanya kepada Dr. Fielding. "Mungkin tindakan ini memang tindakan yang tepat." ''Jangan hiraukan mereka," ujar Dr. Fielding. Ia menepuk punggung pamanku. "Aku harus minta maaf padamu, Ben. Sebagai ilmuwan, aku sebenarnya tidak boleh berpandangan sempit. Makam ini memang wajib kita buka-demi kemajuan ilmu pengetahuan, Ah, sudahlah. Lebih baik kira rayakan keberhasilan ini."

*** "Aku tidak percaya padanya," ujar Paman Ben ketika kami meninggalkan tenda untuk makan malam, "Aku tidak percaya pada rekanku itu." Langit tampak cerah, dan udaranya jauh lebih sejuk dibandingkan hari kemarin. Sejuta bintang bekerlap-kerlip di langit malam. Embusan angin yang cukup kencang menggoyangkan daun-daun palem di cakrawala. Api unggun di depan kami menarinari. "Apakah Doktor Fielding ikut makan malam bersama kita?" tanya Sari. Ia mengenakan sweter hijau muda yang panjang dan celana ketat berwarna hitam. Paman Ben menggelengkan kepala. "Tidak, ia mau menelepon ke Kairo dulu. Ia pasti mau memberitahukan keberhasilan kita kepada orang-orang yang membiayai penggalian ini." "Ia kelihatan gembira sekali waktu melihat isi ruang makam," kataku sambil menatap piramida yang menjulang tinggi ke langit malam. "Ya, memang," pamanku membenarkan. "Cepat sekali dia berubah pikiran. Tapi aku akan terus memperhatikan gerak-gerik Omar. Aku yakin dia sedang menunggununggu kesempatan untuk mengambil alih proyek ini. Dan polisi-polisi itu juga perlu diawasi." "Aduh, Dad, seharusnya kita bersenang-senang malam ini," ujar Sari sambil merengut. "Untuk apa sih kita membicarakan Doktor Fielding? Lebih baik kita bicara tentang Pangeran Khor-Ru dan bagaimana Daddy bakal kaya dan terkenal!" Paman Ben tertawa. "Oke," katanya. Nila sudah duduk di dekat api unggun. Paman Ben memang mengundangnya untuk ikut makan malam bersama kami. Wanita itu memakai sweter putih serta jeans gombrong. Kalungnya memantulkan cahaya bulan sabit yang baru muncul di atas tenda-tenda. Dia tampak cantik sekali. Begitu melihat kami mendekat, ia langsung tersenyum hangat kepada Paman Ben. Dan dari tampang Paman Ben, aku langsung tahu bahwa pamanku itu juga menyukainya. "Wah, Sari, kamu lebih tinggi dari Gabe, ya?" Nila berkomentar. . Sari cengar-cengir. Dia bangga sekali karena lebih tinggi dariku, walaupun aku sedikit lebih tua. "Kurang dari satu inci," aku segera menambahkan. "Semakin lama, manusia semakin tinggi," Nila berkata kepada pamanku. "Pangeran Khor-Ru, misalnya. Ia pendek sekali. Untuk ukuran sekarang, ia termasuk cebol."

"Ya," ujar Paman Ben sambil tersenyum. "Kadang-kadang aku heran sendiri kenapa orang-orang yang begitu pendek membangun piramida-piramida yang begitu tinggi." Nila pun tersenyum, lalu menggandeng tangan Paman Ben. Sari dan aku berpandangan, Aku langsung tahu apa yang dipikirkannya, Ia mengerutkan kening, seakan-akan hendak bertanya: Ada apa dengan mereka berdua? Acara makan malam berlangsung dalam suasana riang gembira. Daging hamburger yang dipanggang paman Ben agak gosong, namun tak ada yang peduli. Sari melahap dua hamburger. Aku cuma sanggup menghabiskan satu. Dan tentu saja ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mengolok-olokku. Terus terang, aku sudah mulai muak dengan tingkahnya yang menyebalkan itu. Dan dalam hati aku mencari-cari akal untuk membalas dendam. Sementara itu, Nila dan Paman Ben asyik bercanda. Ruang makam itu mirip tempat pembuatan film, Nila menggoda pamanku. "Semuanya terlalu sempurna. Emas di mana-mana. Dan mumi mungil itu. Ini pasti cuma tipuan. Dan itulah yang akan kutulis dalam artikelku." Paman Ben tertawa. Ia berpaling padaku. "Kau sempat mengamati mumi itu, Gabe? Apakah ia memakai jam tangan?" Aku menggelengkan kepala. "Tidak, ia tidak pakai jam tangan." "Nah, bagaimana?" Paman Ben berkata kepada Nila. "Ia tidak pakai jam tangan. Berarti pasti bukan tipuan." "Oke, oke. Aku percaya, deh," balas Nila sambil tersenyum manis. "Dad," Sari angkat bicara. "Dad tahu mantra yang bisa membuat mumi itu hidup lagi? Maksudnya, kata-kata di ruang makam yang tadi disinggung Doktor Fielding?" Paman Ben menghabiskan hamburgernya yang tinggal segigitan lagi, lalu menyeka bibirnya dengan serbet. "Aku tidak mengerti bagaimana ilmuwan seperti Omar bisa percaya takhayul semacam itu," katanya bergumam. "Tapi bagaimana bunyi keenam kata yang bisa membuat mumi itu hidup kembali?" Nila mendesak. "Ayolah, Ben. Kami semua ingin tahu." Paman Ben berhenti tersenyum. Ia menggoyang-goyangkan telunjuknya ke arah Nila. "Oh, nanti dulu!" katanya dengan tegas. "Aku tidak percaya padamu. Kalau mantranya kuberitahu padamu, kau akan menghidupkan mumi itu agar mendapat foto bagus untuk koranmu!" Semuanya tertawa.

Kami duduk mengelilingi api unggun. Pantulan cahayanya yang berwarna jingga menari-nari di wajah kami. Paman Ben meletakkan piringnya di tanah, lalu merentangkan tangannya. "Teki Kahru Teki Kahra Teki Kahri!" ia melantunkan dengan suara berat, sambil menggerak-gerakkan tangan di atas api. Apinya meretih-retih. Sebuah ranting meletus menyebabkan aku tersentak kaget. "Itu mantranya?" tanya Sari. Paman Ben mengangguk. "Begitulah bunyi hieroglif-hieroglif yang tertulis di atas pintu ruang makam." "Jadi ada kemungkinan si mumi baru saja bangun dan meregangkan otot-ototnya? Sari kembali bertanya. "Kemungkinan besar tidak," balas Paman Ben sambil berdiri. "Jangan lupa, Sarimantra itu harus diucapkan lima kali berturut-turut." "Oh." Sari termenung-menung dan menatap lidah api yang menari-nari di hadapan kami. Aku mengulangi kata-kata itu dalam hati. "Teki Kahru Teki Kahra Teki Kahri!" Mantra tersebut perlu kuhafalkan, sebab aku sudah punya rencana untuk menakutnakuti Sari. "Mau ke mana, Ben?" Nila bertanya pada pamanku. "Ke tenda komunikasi," jawabnya. "Aku harus menelepon seseorang," Ia berbalik, lalu melintasi hamparan pasir ke arah deretan tenda. Nila tertawa sambil geleng-geleng kepala. "Ia bahkan tidak bilang selamat malam dulu." "Dad memang begitu kalau sedang memikirkan sesuatu," Sari menjelaskan. "Kalau begitu aku juga pulang saja," ujar Nila. Ia bangkit dan menepis pasir yang menempel di celananya. "Aku harus mulai menulis artikelku." Ia mengucapkan selamat malam, dan segera pergi. Sari dan aku tetap duduk sambil menatap api yang meretih-retih. Bulan sabit sudah tinggi di langit malam. Cahayanya yang pucat terpantul dari puncak piramida di kejauhan. "Nila benar," aku berkata kepada Sari. "Tempat ini memang seperti tempat pembuatan film."

Sari diam saja. Tanpa berkedip dia memperhatikan lidah api yang menari-nari. Sepertinya dia sedang berpikir keras. Tiba-tiba terdengar letusan lagi, dan bunyi itu membuyarkan lamunan sepupuku. "Aku dapat kesan bahwa Nila suka pada Daddy. Menurutmu bagaimana?" dia bertanya sambil menatapku dengan matanya yang gelap. , "Yeah, kelihatannya begitu," sahutku. "Ia selalu, tersenyum-senyum kalau Paman ada di sekitarnya. Aku menirukan senyum Nila. "Dan ia selalu menggoda Paman," Sari merenungkan jawabanku. "Dan bagaimana dengan Dad? Apakah ia juga suka pada Nila?" Aku nyengir lebar. "Itu sih sudah jelas." Aku berdiri. Aku ingin segera kembali ke tenda. Aku ingin menakut-nakuti Sari. Sambil membisu kami berjalan ke tenda. Sepertinya sepupuku itu masih memikirkan ayahnya dan Nila. Udara malam terasa dingin, tapi tenda kami tetap agak pengap. Sari menarik kopernya dari bawah ranjang, lalu berlutut mencari sesuatu. "Sari," aku berbisik. "Coba tantang aku mengucapkan mantra kuno itu lima kali berturut-turut." "Hah?" Dia menoleh. "Aku akan membacakannya lima kali berturut-turut," aku menegaskan, "Aku mau tahu apa yang bakal terjadi." Semula aku menduga dia akan memohon-mohon agar aku berubah pikiran. Aku menduga dia bakal ketakutan dan berusaha mencegahku, "Jangan, Gabe! Jangan! itu terlalu berbahaya!" Tapi Sari malah kembali berpaling ke kopernya dan berkata, "Oh, coba saja!" "Benar, nih?" tanyaku. "Yeah. Kenapa tidak?" dia menyahut, sambil mengeluarkan sebuah celana pendek. Aku mengamatinya dengan saksama. Rasa takutkah yang terpancar dari matanya? Mungkinkah dia cuma pura-pura tenang? Ya. Aku rasa dia sebenarnya ngeri juga. Tapi dia berusaha keras untuk menutupnutupinya. Aku maju beberapa langkah, lalu melantunkan mantra itu sambil merendahkan suara, persis seperti Paman Ben tadi: "Teki Kahru Teki Kahra Teki Kahri!"

Sari melepaskan celana pendeknya dan berpaling padaku. Aku mengulangi mantra itu untuk kedua kali. "Teki Kahru Teki Kahra Teki Kahri!" Ketiga kali. Keempat kali. Kemudian aku terdiam sejenak. Embusan angin dingin menggelitik tengkukku. Haruskah mantra itu kuucapkan lagi? Haruskah aku melantunkannya untuk kelima kali? 16 AKU menoleh ke arah Sari. Dia telah menutup kopernya, dan sedang menatapku dengan tegang. Kelihatan jelas bahwa dia takut, soalnya dia terus menggigit-gigit bibir. Aku sendiri masih bimbang. Haruskah kuulangi mantra itu untuk kelima ka1i? Sekali lagi tengkukku merinding karena embusan angin dingin. Ah, itu kan cuma takhayul, aku berkata dalam hati. Takhayul dari empat ribu tahun yang lalu. Mana mungkin mumi tua itu mendadak hidup lagi, hanya karena aku mengucapkan enam kata? Aku bahkan tidak tahu arti kata-kata tersebut. Mustahil. Tiba-tiba aku teringat semua video mengenai mumi di Mesir kuno yang pernah kusewa. Dalam film-film itu; para ilmuwan tak pernah menghiraukan kutukan yang melarang mereka mengganggu sebuah makam mumi. Dan muminya selalu hidup kembali untuk membalas dendam. Mereka berjalan sambil terhuyung-huyung, lalu mencegat si ilmuwan dan mencekiknya sampai mati. Film-film konyol. Tapi aku suka sekali. Kini aku menatap Sari, dan aku melihat dia benar-benar. ketakutan. Aku menarik. napas panjang, Tiba-tiba saja aku sadar bahwa aku pun ngeri. Tapi sudah terlambat; ,Aku sudah melangkah terlalu jauh. Aku tidak bisa berhenti sekarang. "Teki Kahru Teki Kahra Teki Kahri!" aku berseru.

Untuk kelirna kali. Aku berdiri kaku seperti patung-dan menunggu. Entah apa yang kutunggu. Petir menyambar, mungkin. Sari langsung berdiri. Dengan gelisah dia menarik-narik rambutnya yang gelap. "Ayo, mengaku saja. Kau ketakutan, kan?" aku berkata tanpa sanggup,menahan senyum. "Enak saja!" sahutnya dengan sengit. "Ayo, Gabe. Ulangi kata-kata itu sekali lagi. Biar kauulangi seratus kali, aku tetap tak bakal takut." Tapi kami sama-sama tersentak kaget ketika sebuah bayangan melintasi dinding tenda. Dan jantungku seakan-akan berhenti mendadak ketika sebuah suara berbisik parau, "Kalian ada di dalam situ?" 17 LUTUTKU gemetaran ketika aku melangkah mundur, mendekati Sari, Aku melihat sepupuku itu membelalakkan mata karena kaget-dan takut. Dalam sekejap bayangan tadi telah bergeser ke pintu tenda. Sari dan aku tak sempat menjerit. Kami tak sempat berteriak minta tolong. . Aku menahan napas ketika kanvas penutup pintu tersingkap, dan sebuah kepala plontos menyembul ke dalam tenda. . "Ohhh!'" Aku memekik tertahan ketika sosok gelap itu menghampiri kami. Si mumi hidup lagi! aku berkata dalam hati. Pikiran mengerikan itu merasuk ke dalam benakku ketika aku melangkah mundur. Si mumi hidup lagi! "Doktor Fielding!" seru Sari. "Hah?" Aku memicingkan mata agar dapat melihat lebih jelas. Ya. Ternyata memang Dr. Fielding. Aku berusaha mengucapkan sesuatu, tapi tenggorokanku serasa tersekat. Jantungku berdegup begitu keras, sehingga aku tak sanggup berbicara. Aku menarik napas panjang, lalu menahannya di dadaku.

"Saya mencari ayahmu," Dr. Fielding berkata kepada Sari. Saya harus segera bicara dengannya. Ada urusan yang sangat penting." '''Ia-ia dang menelepon," balas Sari dengan .suara gemetar. Dr. Fielding berbalik, langsung meninggalkan tenda., Kain kanvas penutup pintu kembali ke tempat semula, dan mengepak-ngepak karena tertiup angin. Aku berpaling kepada,Sari. Jantungku masih berdebar-debar. Aku kaget setengah mati tadi!" aku mengakui. "Kukira dia sudah balik ke Kairo. Waktu kulihat kepalanya yang kecil dan licin..." Sari tertawa. "Dia memang mirip mumi, ya?" Tapi kemudian senyumnya menghilang. "Kenapa dia begitu ngotot ingin menemui Daddy?" "Ayo, kita buntuti dia, aku mendesak. Ide itu muncul tiba-tiba saja. "Ya! Ayo!" Aku tidak menyangka bahwa usulku akan langsung diterima. Aku masih terbengong-bengong ketika Sari bergegas keluar. Aku segera menyusulnya. Udara malam telah bertambah dingin. Embusan angin menyebabkan semua tenda kelihatan seperti gemetaran. "Ke mana ya dia?" aku bertanya sambil berbisik. "Kalau tidak salah, tenda komunikasi ada di ujung sana," Sari menyahut sambil menunjuk. Dia mulai melintasi hamparan pasir sambil berlari kecil. Samar-samar aku mendengar alunan musik serta senda-gurau di salah satu tenda. Rupanya para pekerja sedang .merayakan keberhasilan yang mereka capai tadi. Seberkas sinar bulan menerangi pasir di sekeliling kami, membuatnya terlihat, bagaikan permadani. Jauh di depan aku melihat sosok Dr. Fielding yang kurus kering. Ia berjalan sambil membungkuk menuju tenda paling ujung. Ia menghilang di samping tenda itu. Sari dan aku segera berhenti, Lalu kami menyelinap ke tempat gelap, di sana kami takkan terlihat. Aku mendengar suara Dr., Fielding yang menggelegar di tenda komunikasi. Ia berbicara dengan cepat, berapi-api. "Dia bilang apa?" bisik Sari. Aku juga tidak tahu apa yang dikatakan orang itu, Beberapa detik kemudian ada dua orang yang keluar dari tenda. Sambil membawa senter yang bersinar terang, mereka bergegas menuju kegelapan malam.

Sepertinya Dr. Fielding sedang menyeret Paman Ben ke arah piramida. "Ada apa ini?" bisik Sari sambil meraih lenganku. "Sepertinya dia memaksa Daddy untuk ikut dengannya." Angin menerbangkan pasir di sekitar kami. Aku merinding. Kedua laki-laki itu berbicara berbarengan, berseru-seru sambil menggerak-gerakkan tangan. Tampaknya mereka sedang berdebat dengan sengit. Dr, Fielding menggenggam pundak Paman Ben dengan sebelah tangan. Apakah ia yang mendorong Paman Ben ke piramida? Ataukah Paman Ben sedang menuntunnya? Aku tidak bisa memastikannya. "Ayo, jalan lagi," aku berbisik kepada Sari. Kami keluar dari persembunyian dan kembali membuntuti mereka. Kami berjalan pelan-pelan, dan terus menjaga jarak. "Kalau mereka menoleh ke belakang, mereka bakal melihat kita," bisik Sari. "Mudah-mudahan saja mereka tidak menoleh," sahutku penuh harap. Kami kembali membisu. Piramida di hadapan kami tampak menjulang tinggi. Kami melihat Dr. Fielding dan Paman Ben berhenti di pintu masuk. Mereka masih berbicara dengan nada ketus, namun ucapan mereka tak terdengar karena terbawa angin yang bertiup kencang. Tapi sepertinya mereka masih berdebat. Paman Ben lebih dulu masuk ke piramida. Dr. Fielding segera menyusul. "Apakah ia mendorong Daddy ke dalam?" Sari bertanya dengan waswas. "Kelihatannya Daddy didorong!" "A-aku tidak tahu," jawabku sambil tergagap-gagap. Kami menghampiri pintu masuk, kemudian berhenti dan menatap ke lubang yang gelap itu. Aku tahu pikiran Sari dan aku sama. Aku sadar kami mengajukan pertanyaan yang sama dalam benak masing-masing: Haruskah kami mengikuti mereka? 18 SARI dan aku berpandangan.

Malam-malam begini piramida itu tampak jauh lebih besar, jauh lebih seram. Angin kencang menderu-deru, seakan-akan hendak memperingatkan kami. Kami bersembunyi di balik tumpukan puing yang ditinggalkan para pekerja. "Kita tunggu di sini saja sampai Dad keluar lagi," bisik Sari. Aku tidak membantah. Kami tidak membawa senter maupun penerangan lainnya. Rasanya percuma saja kalau kami nekat menyusuri terowongan-terowongan yang gelap gulita tanpa membawa lampu. Aku bersandar pada batu-batu yang licin dan menatap pintu masuk ke piramida. Sari memandang bulan sabit di langit yang seolah-olah diterkam gumpalan awan. Keadaan di sekeliling kami bertambah gelap. "Jangan-jangan Dad dalam kesulitan?" bisik Sari. "Kau dengar sendiri kan waktu dia bilang dia tidak percaya pada Doktor Fielding-" "Aku yakin Paman Ben tidak apa-apa," kataku menenangkannya. "Doktor Fielding kan ilmuwan. Ia bukan penjahat atau sebangsanya." "Tapi kenapa ia memaksa Daddy masuk ke piramida, di tengah malam buta begini?" Sari bertanya dengan nada melengking. "Dan apa yang mereka ributkan tadi?'" Aku angkat bahu. Belum, pernah kulihat Sari setakut ini. Biasanya sih, aku pasti akan senang sekali. Habis, dia selalu gembar-gembor bahwa dia begitu berani, tak kenal takut-apalagi dibandingkan aku. Tapi kali ini aku tidak bisa menikmati kemenanganku. Soalnya aku sama takutnya dengan dia. Sepertinya, kedua ilmuwan itu memang bertengkar tadi. Dan sepertinya Dr. Fielding memang mendorong Paman Ben ke dalam piramida. Sari menyilangkan kedua tangannya dan menatap lubang gelap di kaki piramida. Rambutnya melambai-lambai tertiup angin, beberapa helai jatuh menutupi keningnya. Tapi dia diam aja, tidak menepisnya. "Urusan apa yang begitu penting sampai harus ditangani sekarang juga?" dia bertanya. "Kenapa mereka sampai harus masuk ke piramida di tengah malam buta? Masa sih ada yang dicuri? Para polisi dari Kairo kan berjaga di dalam?" "Aku sempat melihat mereka pergi," aku memberitahunya, "naik mobil kecil mereka, sebelum makan malam tadi. Aku tidak tahu kenapa. Barangkali mereka tiba-tiba dipanggil kembali ke kota." "A-aku jadi bingung," Sari mengakui. "Bingung dan cemas. Aku curiga melihat kelakuan Doktor Fielding tadi. Seenaknya saja ia mengagetkan kita dengan tiba-tiba muncul di tenda. Bilang selamat malam dulu, kek." .

"Tenang saja, Sari," ujarku dengan. lembut. "Kita tunggu saja di sini. Semuanya akan beres. Lihat saja nanti." Dia mendesah tertahan, namun tidak berkata apa-apa, . Kami menunggu sambil membisu. Aku tidak tahu berapa lama kami menunggu, tapi rasanya seperti berjam-jam, Bulan muncul kembali dari balik awan. Angin masih menderu-deru. "Kenapa mereka belum keluar juga? Sedang apa mereka di dalam sana?" tanya Sari. Aku sudah mau menjawab-namun mendadak terdiam ketika melihat cahaya berkerlap-kerlip di pintu masuk piramida. Seketika aku meraih lengan Sari. "Eh, kau lihat itu?" aku berbisik. Cahaya itu bertambah terang, dan sebuah sosok muncul. Dr. Fielding. Ketika melangkah ke luar, aku melihat bahwa, raut mukanya tampak aneh. Matanya yang hitam terbelalak lebar dan terus memandang ke segala arah, seakan-akan kebingungan. Alisnya berkedut-kedut, Mulutnya menganga, dan sepertinya ia terengah-engah. Dr. Fielding menepis debu yang menempel pada pakaiannya, lalu mulai menjauhi piramida. Ia setengah berjalan, setengah terhuyung-huyung, "Tapi-mana Daddy?" tanya Sari. Aku mengintip dari balik puing-puing. Lubang di kaki piramida. kelihatan jelas. Namun tak ada kerlip cahaya. Tak ada tanda-tanda bahwa Paman Ben akan segera menyusul. "Dia tidak keluar!" Sari tergagap-gagap. Dan sebelum aku sempat berkata apa-apa, Sari sudah keluar dari tempat persembunyian kami di balik puing-puing-dan mencegat Dr. Fielding. "Doktor Fielding," dia berseru keras-keras. "Di mana ayah saya?" Aku juga berdiri, lalu mengejar Sari. Aku melihat mata Dr. Fielding berputar-putar, seakan-akan tak terkendali. Ia tidak menjawab pertanyaan Sari. "Di mana ayah saya?" Sari mengulangi sambil setengah berteriak. Dr. Fielding bersikap seolah-olah tidak melihat Sari. Ia melewatinya dengan langkah kaku. "Doktor Fielding-?" Sari memanggilnya.

Pria itu menembus kegelapan, menuju ke deretan tenda. Sari kembali berpaling padaku. Roman mukanya kencang. "Ia telah berbuat sesuatu pada Daddy!" serunya dengan nada melengking. "Ia pasti telah berbuat sesuatu pada ayahku!" 19 AKU berbalik dan menatap ke arah pintu masuk. Lubang di kaki piramida itu masih gelap dan sunyi. Satu-satunya suara yang terdengar adalah suara angin yang menderu-deru. "Doktor Fielding sama sekali tidak menggubrisku!" Sari berseru dengan sengit. "Ia melewatiku seakan-akan aku tidak ada. Menengok pun tidak!" "Ya, aku tahu," ujarku. "Dan kaulihat tampangnya tadi?" tanya Sari. ''Tampangnya jahat sekali. Betul-betul jahat." "Sari-" aku mulai berkata. "Barangkali-" "Gabe, kita harus mencari ayahku!" Sari memotong. Dia meraih lenganku dan mulai menarikku ke pintu masuk piramida. "Ayo, cepat!" ''Jangan, Sari, tunggu!" aku mencegahnya, dan melepaskan lenganku dari cengkeramannya. "Percuma saja kita masuk piramida tanpa membawa senter. Kita tak bakal bisa menemukan Paman Ben. Bisa-bisa malah kita yang tersasar nanti!" "Kalau begitu, kita kembali dulu ke tenda mengambil senter," dia menyahut. "Ayo, Gabe-" "Kau tunggu di sini saja," kataku padanya. "Kemungkinan besar Paman Ben akan segera muncul. Biar aku saja yang mengambil senter." Sari memandang ke pintu masuk yang gelap. Sepertinya dia hendak menolak usulku. Tapi kemudian dia berubah pikiran. Aku berlari ke tenda kami. Jantungku berdegup kencang. Ketika sampai di deretan tenda, aku berhenti sejenak dan memandang ke kiri-kanan untuk mencari Dr. Fielding. Orang itu tidak kelihatan. Aku masuk ke tenda dan mengambil dua senter. Kemudian aku bergegas kembali ke piramida. Moga-moga Paman Ben sudah keluar kalau aku sampai di sana, pikirku. Moga-moga dia tidak apa-apa.

Namun ketika aku memandang ke depan, aku melihat Sari masih sendirian. Dia tampak mondar-mandir dengan tegang. Dari jauh pun aku bisa melihat bahwa dia ketakutan. Paman Ben, ke mana sih Paman? aku bertanya dalam hati. Kenapa Paman belum keluar juga? Sari dan aku sama-sama membisu. Tak perlu ada yang dikatakan. Kami segera menyalakan senter, lalu masuk melalui lubang gelap di kaki piramida. Terowongannya ternyata lebih curam dari yang kuingat. Aku nyaris kehilangan keseimbangan. Sorot senter kami menerangi lantai terowongan. Kemudian aku mengarahkan senterku ke langit-langit yang rendah, dan berjalan mendului Sari. Aku melangkah pelan-pelan sambil meraba-raba dinding. Permukaan dindingnya terasa empuk dan rapuh. Sari mengikutiku. Sorot senternya menerangi lantai di depan kami. Ketika terowongan itu membelok ke sebuah ruangan kecil yang kosong, dia tiba-tiba berhenti. "Kau yakin ini jalan yang benar?" dia bertanya dengan suara bergetar. Aku angkat bahu. "Kupikir kau tahu jalannya," sahutku sambil bergumam. "Biasanya aku ikut Daddy," balasnya sambil mengamati ruangan kosong itu. "Pokoknya, kita akan mencari Paman sampai ketemu," ujarku dengan tegas. Tapi sebenarnya, aku sendiri juga mulai waswas. Sari melewatiku dan menyorot dinding-dinding terowongan. "Dad!" dia memanggil. "Dad? Dad mendengar aku, tidak?" Suaranya terdengar bergema. Tanpa berani beranjak kami menanti jawaban. Hening. "Ayo," aku mengajaknya. Aku terpaksa merunduk agar bisa masuk ke terowongan sempit berikutnya. Ke mana terowongan itu akan membawa kami? Ke makam Pangeran Khor-Ru? Apakah kami bakal menemukan Paman Ben di sana? Pertanyaan demi pertanyaan terlintas dalam benakku. Aku berusaha memusatkan perhatian untuk mengingat-ingat apakah terowongan berkelok-kelok yang kami lewati memang jalan yang benar, tapi pertanyaan-pertanyaan tersebut tetap terngiang-ngiang di telingaku.

"Dad? Dad-di mana kau?" Suara Sari semakin gelisah. Terowongan itu, membelok dan menanjak, lalu kembali datar. Sari berhenti mendadak. Aku tak sempat berhenti. Senternya hampir jatuh ketika aku menabraknya. "Sori," bisikku. "Gabe, lihat tuh-!" dia berseru tertahan sambil mengarahkan senternya ke lantai. "Jejak kaki." Aku menatap lingkaran cahaya di bawah, lalu melihat sejumlah jejak kaki di lantai tanah. Bekas tumit dan tonjolan-tonjolan runcing. "Sepatu pekerja," gumamku. Sari menggerak-gerakkan senternya. Kami melihat sejumlah jejak yang berbeda, dan semuanya menuju ke arah yang sama dengan kami. "Apakah ini berarti bahwa ini jalan yang benar?" tanya Sari. "Mungkin," jawabku. Aku mengamati jejak-jejak sepatu itu. Aku tidak tahu apakah jejak-jejak ini masih baru, atau sudah lama." "Dad!" Sari kembali berseru. "Dad bisa mendengarku?" Tetap tak ada jawaban. Sari mengerutkan kening, lalu memberi isyarat agar aku mengikutinya. Jejak kaki itu telah memberikan harapan baru kepada kami, dan Sari dan aku segera mempercepat langkah. Kami terus berjalan sambil berpegangan pada dinding untuk menjaga keseimbangan. Tiba-tiba kami sampai di ruangan depan ruang makam, dan kami sama-sama bersorak dengan gembira. Sorot senter kami menerangi hieroglif-hieroglif tua yang memenuhi dinding dan pintu. "Dad? Dad?" Suara Sari membelah keheningan yang terasa mencekam, Kami bergegas melewati ruangan kosong itu, lalu menyelinap lewat pintu berikutnya. Ruang makam sang pangeran tampak gelap dan sunyi. "Dad? Daddy?" Sari kembali memanggil-manggil. Aku ikut berseru. "Paman Ben? Paman ada di sini?" Cahaya senterku menyapu harta karun yang menumpuk di ruangan tersebut, menerangi peti-peti, kursi-kursi, dan bejana-bejana tanah liat di pojok. "Ia tak ada di sini," ujar Sari dengan lesu. Sepertinya dia sudah mau menangis. "Kalau begitu, ke mana Doktor Fielding membawa Paman Ben?" aku bertanya. "Untuk apa reka masuk ke piramida kalau bukan untuk datang ke sini?"

Sorot senter Sari menerangi peti mumi yang terbuat dari batu. Sari mengamatinya sambil memicingkan mata. "Paman Ben!" aku berseru. "Paman Ben ada di sini?" Sari meraih lenganku. Lihat, Gabe!" Sorot senternya masih menerangi peti mumi. Aku tidak tahu apa yang hendak diperlihatkannya padaku, "Ada apa?" aku bergumam. "Peti mumi itu," Sari berkata pelan-pelan, Aku menatap peti mumi yang tertutup rapat. "Petinya tertutup," Sari melanjutkan. Dia langsung melangkah maju dan menghampiri peti itu sambil menyorotkan senternya. "Kenapa memangnya?" Aku masih belum mengerti. "Waktu kita pulang kemarin sore," Sari menjelaskan, "petinya masih terbuka. Aku ingat Daddy menyuruh para pekerja membiarkannya terbuka sampai besok pagi." "Oh, kau benar!" seruku. '''Bantu aku Gabe" Sari memohon sambil meletakkan senternya di tanah. "Kita harus membuka peti mumi ini! Sejenak aku bimbang. Aku merinding karena ngeri. Tapi kemudian aku menarik napas panjang dan maju untuk membantu sepupuku itu. Dia sudah mulai mendorong tutup peti mumi yang terbuat dari batu. Aku melangkah ke sampingnya dan ikut mendorong. Dengan sekuat tenaga. Ternyata lempengan batu itu bergeser lebih mudah dari yang kuduga. Sari dan aku mendorong sambil terengah-engah, sampai berhasil menggeser tutup peti mumi itu sejauh satu kaki. Kemudian kami mengintip ke dalamnya dan memekik dengan ngeri. 20 "DADDY!" Sari memekik. Paman Ben tergeletak dalam posisi telentang. Lututnya tertekuk, lengannya terjulur lurus ke bawah, kedua matanya terpejam rapat-rapat. "Apakah ia-apakah ia-?" Sari tergagap-gagap, tanpa berani menyelesaikan pertanyaan tersebut.

Dengan waswas aku menempelkan tanganku ke dada Paman Ben. Detak jantungnya kuat dan berirama. "Dia masih hidup," aku memberi tahu Sari. Kemudian aku membungkuk ke peti mumi. "Paman Ben? Paman bisa mendengarku? Paman Ben?" Ia tidak bergerak. Aku meraih sebelah tangan Paman Ben dan meremasnya. Tangannya terasa hangat, namun lunglai. "Paman Ben? Bangunlah!" seruku. Matanya tetap terpejam rapat-rapat. Pelan-pelan aku menurunkan kembali tangannya ke dasar peti mumi. "Dia pingsan," gumamku. Sari berdiri di belakangku. Kedua tangan ditempelkannya ke pipi. Dia menatap Paman Ben sambil membelalakkan mata karena ngeri. "Ini tidak bisa dipercaya!" dia berseru dengan suara kecil. "Doktor Fielding menyekap Daddy. Dia menyekapnya di dalam peti mumi. Kalau saja kita tidak menemukan Daddy...." Suaranya melemah. Paman Ben mengerang tertahan. Sari dan aku menatapnya dengan penuh harap. Tapi ia tetap tidak membuka mata. "Kita harus panggil polisi," aku berkata kepada Sari. "Kita harus melaporkan perbuatan Doktor Fielding." "Tapi kita tidak bisa membiarkan Dad sendiri di sini!" balas Sari. Aku sudah hendak menjawab-tapi tiba-tiba sebuah pertanyaan mengerikan timbul dalam pikiranku. "Sari?" aku berkata pelan-pelan. "Kalau Paman Ben terbaring di dalam peti mumi... lalu muminya ada di mana?" Sari langsung melongo. Dia menatapku tanpa sanggup berkata apa-apa. Tiba-tiba terdengar suara langkah. Pelan, seperti diseret. Dan kemudian mumi itu muncul sambil terhuyung-huyung. 2.1 AKu membuka mulut untuk menjerit-tapi suaraku seperti tersangkut di tenggorokan. Sambil terhuyung-huyung mumi itu melintasi uang makam, Pandangannya kosong dan tertuju lurus ke depan. Tengkoraknya yang berlumuran tar tampak menyeringai.

Srek. Srek. Langkahnya diseret-seret. Perlahan-lahan mumi itu mengangkat kedua tangannya, diiringi bunyi berderak yang membuat bulu roma berdiri. Srek. Srek. Aku mulai panik. Seluruh tubuhku gemetar tak terkendali. Aku mundur pelan-pelan, menjauhi, peti mumi. Sari tidak beranjak dari tempatnya, Dia terpaku bagaikan patung, sambil menempelkan tangan ke pipi. Aku meraih lengannya dan menariknya ke belakang. "Sari-mundur! Mundur!" aku berbisik dengan nada mendesak. Dia menatap mumi itu dengan mata terbelalak. Aku tidak tahu apakah dia mendengarku atau tidak. Sekali lagi aku menarik lengannya, Punggungku membentur dinding. Mumi itu terus menghampiri kami. Semakin dekat. Dia menatap kami dengan matanya yang kosong, dan tangannya yang berlepotan tar menggapai-gapai. Sari memekik. "Lari!" teriakku. "Sari-lari!" Tapi kami tetap terpaku dengan punggung merapat ke dinding. Sedangkan jalan ke pintu terhalang oleh si mumi. "Ini salahku!" aku berkata dengan suara bergetar. "Aku nekat mengulang-ulangi mantra itu sampai lima kali. Gara-gara aku dia jadi hidup lagi!" "A-apa yang harus kita lakukan?" tanya Sari sambil berbisik. Aku pun tidak tahu. "Paman Ben!" aku berseru dengan panik. "Paman Ben-tolong kami!" Tapi Paman Ben tetap tidak bereaksi. Teriakanku pun tidak sanggup menyadarkannya. Sari dan aku beringsut-ingsut menyusuri dinding. Pandangan kami terpaku pada mumi yang terus bergerak maju. Kakinya diseret-seret di lantai tanah, sehingga menerbangkan awan debu yang gelap. Bau busuk mulai memenuhi ruangan. Bau mumi berumur empat ribu tahun yang tibatiba hidup lagi.

Aku semakin merapat ke dinding batu yang dingin. Otakku bekerja keras. Mumi itu berhenti sejenak ketika sampai di petinya, kemudian membelok dengan kaku dan kembali menghampiri kami. "Hei-!" aku berseru, ketika sebuah ide muncul dalam benakku. Tangan mumi-ku! Si Pemanggil. Kenapa baru sekarang aku teringat? Musim panas tahun lalu tangan mungil itu sudah pernah menyelamatkan nyawa kami dengan menghidupkan sejumlah mumi tua. Barangkali tangan itu juga ampuh untuk menghentikan mumi, untuk membuat mumi kembali ke alam baka. Kalau aku mengacungkan tangan itu ke hadapan Pangeran Khor-Ru, mungkinkah dia akan berhenti cukup lama sehingga Sari dan aku sempat kabur? Kesempatanku tinggal beberapa detik lagi. Tak ada salahnya dicoba. Aku merogoh kantong belakang jeans-ku untuk meraih tangan kecil itu. Tapi ternyata Pemanggil-ku sudah hilang. 22 "ADUH!" aku berseru kaget, lalu merogoh kantongku yang lain. Tangan mumi itu tidak ada. "Gabe-ada apa?" tanya Sari. "Tangan mumi-ku-hilang!" aku menyahut dengan suara parau karena panik. Srek, Srek. Bau busuk tambah menyengat ketika mumi tua itu menghampiri kami. Aku tahu aku harus menemukan tangan mumiku. Tapi aku sadar bahwa aku tidak punya waktu untuk mencarinya. "Kita harus kabur," aku berkata kepada Sari. "Gerakan mumi itu lamban dan kaku. Kalau kita bisa melewati dia..." "Tapi bagaimana dengan Daddy?" seru Sari. "Kita tidak bisa meninggalkannya begitu saja di sini." "Tidak ada pilihan lain," balasku, "Kita panggil bantuan dulu. Setelah itu kita kembali lagi,"

Tulang-tulang Pangeran Khor-Ru berderak-derak ketika dia melangkah maju. Aku langsung tahu bahwa itu suara tulang patah. Meski demikian, dia terus mengejar kami dengan tangan terjulur ke depan, "Sari-lari-sekarang!" aku memberi aba-aba. Aku mendorongnya dengan keras. Sekali lagi terdengar bunyi berderak. Mumi itu membungkuk, berusaha menangkap Sari dan aku ketika kami berlari menghindarinya. Aku berusaha mengelak dengan merundukkan kepala. Tapi tengkukku sempat tergores tangannya yang dingin dan kaku, bagaikan tangan patung. Seumur hidup aku takkan pernah melupakan sentuhan itu. Bulu kudukku berdiri. Aku merunduk semakin rendah lalu menerjang maju. Aku mendengar napas Sari yang tersengal-sengal. Jantungku berdegup kencang waktu aku berusaha mengejarnya. Aku memaksakan diri untuk berlari, tapi kakiku terasa berat sekali, seakan-akan terbuat dari batu. Kami sudah hampir mencapai lubang pintu ketika melihat cahaya berkerlap-kerlip, Sari dan aku memekik tertahan dan langsung berhenti ketika seberkas sinar menyapu ruangan. Di balik cahaya itu, kami melihat sesosok tubuh melangkah masuk. Aku segera melindungi mata dari cahaya yang terasa menyilaukan, Siapa itu? aku bertanya dalam hati. "Nila!" setuku, ketika wanita itu mengalihkan sorot senternya ke langit-langit. "Nilatolong!" aku tergagap-gagap. "Dia hidup!" teriak Sari. "Nila-mumi itu hidup lagi!" Dia menunjuk mumi di belakang kami. "Tolong kami!" aku memekik. Nila membelalakkan mata dengan heran. "Apa yang harus kulakukan?" tanyanya. Namun tiba-tiba roman mukanya berubah marah. "Apa yang harus kulakukan pada kalian berdua? Seharusnya kalian tidak di sini. Kalian mengacaukan semuanya!" "Bah? aku berseru dengan bingung. Nila melangkah maju sambil mengangkat tangan kanannya. Aku memicingkan mata agar bisa melihat apa yang sedang dipegangnya. Tangan mumi-ku!

Dia mengacungkan tangan mungil itu ke hadapan si mumi. Kemarilah, adikku!" Nila memanggil. 23 "KOK tangan mumi-ku bisa sampai ke tanganmu? Apa yang telah kaulakukan? tanyaku. Nila tidak menggubris pertanyaanku. Sebelah tangannya memegang senter, Tangannya yang satu lagi mengangkat tangan mumi-ku tinggi-tinggi. "Kemarilah, adikku!" ia memanggil sambil melambai-lambaikan tangan mumi-ku. "Ini aku Putri Nila!" Dengan patuh mumi itu menghampirinya. Kakinya berderak-derak, tulang-tulangnya patah dan retak. "Nila-hentikan! Kau mau apa?" Sari memekik. Tapi Nila terus mengabaikan kami. "Ini aku, kakakmu!" dia berseru kepada mumi itu. Sebuah senyum kemenangan muncul di wajahnya yang cantik. Matanya yang hijau tampak bersinar-sinar bagaikan zamrud. "Sudah begitu lama aku menanti hari ini," ujar Nila. "Berabad-abad aku menunggu dan berharap bahwa suatu hari makammu akan ditemukan dan kita bisa bersatu kembali," Wajah Nila berseri-seri. Tangan mumi-ku tampak bergetar di tangannya. "Aku telah mengembalikan nyawamu, adikku!" dia berseru. "Berabad-abad aku menunggu kesempatan ini. Tapi penantianku tidak sia-sia, Kita akan berbagi semua harta yang ada di sini. Dan dengan kekuatan kita, kita akan memimpin negeri Mesir-seperti empat ribu tahun lalu!" Nila menoleh ke arahku. "Terima kasih, Gabe." katanya. "Terima kasih atas Pemanggil ini! Begitu aku melihatnya, aku langsung tahu bahwa aku harus memilikinya. Aku langsung tahu tangan mumi ini bisa membuat adikku hidup kembali. Mantra kuno itu belum cukup! Aku juga memerlukan si Pemanggil!" "Kembalikan!" aku berseru sambil berusaha merampasnya. "Itu punyaku, Nila. Kembalikan padaku" Wanita itu tertawa mengejek. "Kau takkan memerlukannya, Gabe," katanya perlahan. Nila kembali melambaikan tangan mungil itu ke arah si mumi. "Binasakan mereka, adikku!" perintahnya. "Binasakan mereka! Sekarang juga! Tidak boleh ada saksi!" ''Tidaalkkk!'' Sari memekik. Berdua kami langsung menuju ke pintu. Tapi Nila keburu mencegat sebelum kami sempat keluar.

Aku berusaha mendorongnya seperti pemain rugby. Tapi ternyata Nila jauh lebih kuat dari yang kuduga. "Nila-biarkan kami pergi!" Sari menuntut. Napasnya terengah-engah. Nila tersenyum dan menggelengkan kepala. "Tak boleh ada saksi," gumamnya. "Nila-kami cuma mau mengeluarkan Daddy dari sini. Kau boleh berbuat sesuka hatimu!" Sari mendesaknya dengan panik. Nila tidak menghiraukan imbauan itu. Dengan tenang dia kembali berpaling kepada si mumi. "Binasakan kedua-duanya!" serunya. "Mereka tidak boleh meninggalkan makam ini dalam keadaan hidup!" Sari dan aku membalik, dan melihat mumi itu menghampiri kami. Tengkoraknya yang hitam seakan-akan berpendar dalam cahaya yang remang-remang. Aku melihat kain kuning yang membalutnya telah terbuka sebagian, dan terseret di belakangnya. Ia semakin dekat. Semakin dekat. Aku kembali berpaling ke pintu. Nila menghalangi jalan kami. Dengan kalut aku memandang berkeliling, mencari-cari jalan lain untuk menyelamatkan diri. Tapi tak ada jalan lain. Tak ada cara lain untuk melarikan diri. Mumi itu menerjang Sari dan aku. Dan dia menjulurkan tangannya yang dingin untuk melaksanakan perintah Nila yang kejam. 2.4 SARI dan aku melompat ke pintu, tapi Nila tidak membiarkan kami lewat. Mumi itu langsung mengejar. Ditatapnya kami dengan pandangannya yang kosong. Tangannya yang kaku menggapai-gapai. Sekali lagi dia melangkah maju. Aku memejamkan mata dan menahan napas. Tapi di luar dugaanku, mumi melewati Sari dan aku-lalu mencengkeram leher Nila dengan tangannya yang hitam karena tar. Nila hendak memprotes. Tapi cengkeraman mumi itu terlalu kuat, sehingga Nila tidak sanggup bersuara. Si mumi mendongakkan kepalanya sedikit, seakan-akan hendak menatap wajah wanita itu. Dia menggerak-gerakkan bibir, lalu terbatuk-batuk. Kemudian, ia berkata dengan suara yang teramat parau:

"Biarkan aku beristirahat dengan tenang!" Nila memekik tertahan. Cengkeraman mumi itu semakin keras pada leher Nila. Aku berbalik berusaha meraih tangan mumi itu. "Lepaskan dia!" jeritku, Angin kering tersembur dari mulut si mumi. Tanpa mengendurkan cengkeramannya, mumi itu berusaha menjatuhkan Nila ke lantai. Tangan wanita itu mendayung-dayung untuk menjaga keseimbangan. Senter dan tangan mumi-ku terlepas dari tangannya. Aku memungut tangan mumi-ku dan langsung memasukkannya ke kantong celanaku. "Pergi! Pergi! Pergi!" teriakku, Aku menjangkau punggung si mumi, berusaha menarik tangannya dari leher Nila, Mumi itu menggerung, mengeluarkan suara penuh marah. Lalu mumi itu menegakkan dirinya, dan dengan keras berusaha menepiskan cengkeramanku pada bahunya. Aku terkejut menyadari kekuatan mumi itu. Aku terdorong ke belakang, menggapai-gapai, mencari keseimbangan agar tak sampai terjatuh. Tanpa sengaja tanganku menggenggam kalung yang melingkar di leher Nila. "Hei-!" seruku lagi dengan kaget ketika si mumi kembali mendorongku dengan keras. Aku terhuyung-huyung ke belakang. Mata kalung Nila copot dari rantainya, terlepas dari tanganku, jatuh ke lantai-dan pecah berkeping-keping. "Aduuuuuuh!" Sebuah jeritan memilukan terdengar, membuat dinding-dinding bergetar. Si mumi langsung terdiam, berhenti bergerak. Nila membebaskan diri dari cengkeramannya. Dia mundur sambil membelalakkan mata dengan ngeri. "Nyawaku! Nyawaku!" dia memekik-mekik. Dia membungkuk, berusaha memungut semua pecahan mata kalungnya dari lantai. Tapi mata kalung itu telah terpecah menjadi seratus bagian kecil-kecil. "Nyawaku!" Nila meratap sambil mengamati pecahan-pecahan di tangannya. Ia menoleh ke arah Sari dan aku. "Aku hidup di dalam mata kalung itu!" serunya. "Setiap malam aku kembali ke dalamnya. Berkat mata kalung itu aku bisa hidup empat ribu tahun! Dan sekarang... sekarang... ohhhh..."

Suaranya melemah, dan serta-merta ia mulai mengecil. Kepalanya, lengannya, seluruh tubuhnya mengerut. sampai menghilang di dalam pakaiannya. Sari, dan aku menyaksikan semua itu sambil terbengong-bengong. Beberapa detik kemudian, seekor scarab muncul dari balik sweter wanita itu. Mulamula gerakannya tampak kikuk. Tapi kemudian serangga tersebut merayap dengan cepat, menghilang dalam kegelapan. "Kum-kumbang itu-" Sari tergagap-gagap. "Itu Nila?" Aku mengangguk. "Kelihatannya begitu," ujarku, sambil menatap pakaiannya yang mengonggok di lantai. "Kau percaya dia benar-benar putri Mesir kuno? Kakaknya Pangeran Khor-Ru?" Sari bertanya sambil bergumam. "Ini semua tidak masuk akal," sahutku. Aku berusaha keras untuk memahami segala sesuatu yang diucapkan Nila tadi. "Rupanya setiap malam dia berubah jadi scarab," aku berkata kepada Sari. "Dia masuk ke dalam mata kalung dan tidur di situ. Mata kalung itu melindunginyasampai... " "Sampai kau memecahkannya," bisik Sari. "Ya." Aku mengangguk. "Tapi aku tidak sengaja. itu kecelakaan...." Tiba-tiba aku merasakan sebuah tangan dingin menggenggam bahuku dari belakang. Seketika aku sadar bahwa si mumi berhasil menangkapku. 25 TANGAN itu terus mencengkeram pundakku. "Lepaskan aku!" aku memekik. Aku berbalik-dan jantungku nyaris copot. "Paman Ben? seruku, "Daddy!" Sari langsung melompat maju dan mendekap ayahnya. "Daddy-kau tidak apa-apa?" Paman Ben melepaskan tangannya dari pundakku, lalu menggosok-gosok tengkuknya. Matanya berkedip-kedip, lalu dia menggeleng-gelengkan kepala. Sepertinya Paman masih pusing.

Di belakangnya, aku melihat si mumi berdiri tak bergerak, sekali lagi tanpa nyawa. "Uih, kepalaku masih berdenyut-denyut," ujar Paman Ben. sambil mengusap rambutnya yang hitam dan tebal. "Hampir saja aku celaka," "Ini semua salahku," aku mengakui. "Mantra itu kuulangi sampai lima kali, Paman. Aku tidak bermaksud menghidupkan mumi itu, tapi-" Pamanku tersenyum, lalu merangkulku. "Bukan kau, Gabe," katanya dengan lembut. "Nila menduluimu." Dia menghela napas, "Tadinya aku tidak percaya keampuhan mantra itu," katanya pelan-pelan, "tapi sekarang aku sudah berubah pikiran. Nila mencuri tangan mumimu, lalu mengucapkan mantra itu. Ia menggunakan Pemanggil itu untuk menghidupkan mumi ini. Doktor Fielding dan aku memang sudah curiga padanya." "Oh, ya?" aku berseru. Tapi kenapa? Aku Pikir-" "Aku mulai curiga waktu makan malam tadi," Paman Ben menjelaskan. "Kalian ingat, tidak? Dia tanya bagaimana bunyi keenam kata tua yang bisa menghidupkan kembali orang yang sudah mati. Nah, aku tidak pernah memberitahunya bahwa mantra itu terdiri atas enam kata. Jadi aku langsung tanya dari mana ia tahu itu." Paman Ben juga merangkul Sari, lalu berjalan menghampiri dinding. Kemudian ia menyandarkan punggung sambil kembali menggosok-gosok tengkuk. "Karena itulah aku pergi ke tenda komunikasi sehabis makan malam," Paman Ben melanjutkan. "Aku menelepon Harian Cairo Sun. Ternyata mereka belum pernah mendengar nama Nila. Dari situ aku tahu dia bohong." "Tapi kami melihat Doktor Fielding menyeret Dad dari tenda," ujar Sari. "Kami melihat bagaimana dia memaksa Daddy masuk ke pirdmida-" Paman Ben tertawa kecil. "Rupanya kalian ini tidak berbakat sebagai mata-mata," komentarnya. "Doktor Fielding tidak memaksaku berbuat apa pun. Dia sempat melihat Nila menyelinap ke dalam piramida, lalu memanggilku di tenda komunikasi. Kami berdua segera menyusul Nila untuk melihat apa yang hendak dilakukannya. "Tapi kami terlambat," Paman Ben melanjutkan. "Wanita itu sudah menghidupkan si mumi. Doktor Fielding dan aku berusaha menghalaunya, tapi Nila memukul kepalaku dengan senter. Kemudian menyeretku ke peti mumi. Rupanya ia menyekapku di dalam peti itu." Sekali lagi Paman menggosok-gosok tengkuk. "Hanya itu yang kuingat. Sampai sekarang. Sampai aku siuman tadi dan melihat Nila berubah menjadi scarab."

"Kami melihat Doktor Fielding bergegas keluar dari piramida," Sari melaporkan. "Aku sama sekali tak digubrisnya ketika ia melewatiku. Tampangnya aneh sekali dan-" Dia terdiam dan melongo. Paman Ben dan aku juga mendengar suara itu. Suara langkah diseret-seret di luar ruang makam. Jantungku langsung berdegupdegup. Aku berpegangan pada lengan Paman Ben. Suara langkah itu semakin dekat. Ada mumi lagi, pikirku. Ada mumi lagi. Mumi yang ikut hidup kembali, dan kini menuju ke makam sang pangeran. 26 AKU merogoh kantong jeans- ku, meraih tangan mumi-ku. Sambil merapatkan punggung ke dinding, aku menatap ke lubang pintu ruang makam-dan menunggu. Menunggu mumi itu muncul. Tapi di luar dugaanku, yang melangkah masuk adalah Dr, Fielding. Ia diikuti empat polisi berseragam gelap yang siap mencabut pistol. "Ben-kau tidak apa-apa?" Dr. Fielqing bertanya kepada pamanku. "Mana wanita muda itu?" "Ia... ia melarikan diri," jawab Paman Ben. Dengan hati-hati para petugas memeriksa seluruh ruang makam. Sambil mengerutkan kening mereka memperhatikan mumi yang seakan-akan terpaku di dekat pintu. "Syukurlah kau tidak apa-apa, Ben," ujar Dr, Fielding sambil menggenggam pundak Paman. Kemudian ia berpaling kepada Sari. "Saya harus minta maaf padamu, Sari," katanya serius. "Waktu saya keluar dari sini, saya dalam keadaan bingung. Saya ingat sempat melihatmu di luar. Tapi seingat saya, saya tidak mengatakan apa-apa." "Tidak apa-apa," sahut Sari. "Saya minta maaf kalau saya membuatmu takut," Dr. Fielding menegaskan. "Ayahmu baru saja dipukul sampai pingsan oleh wanita muda yang sinting itu. Dan yang terpikir oleh saya hanyalah bahwa saya harus segera memanggil polisi." "Sudahlah, petualangan ini sudah berakhir," kata Paman Ben sambil tersenyum. "Mari kita keluar dari sini."

Kami mulai berjalan ke pintu, tapi dicegah oleh salah satu polisi. "Ada satu hal yang ingin saya tanyakan," petugas itu berkata sambil menatap mumi di tengah-tengah ruangan. "Apakah mumi ini tadi berjalan?" "Tentu saja tidak!" balas Paman Ben cepat-cepat. Ia langsung nyengir lebar. "Kalau bisa jalan, masa ia masih meringkuk di tempat pengap seperti ini?" Nah, sekali lagi aku menjadi pahlawan yang menyelamatkan keadaan. Dan tentu saja, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Begitu kembali ke tenda, aku langsung gembar-gembor tentang keberanianku. Sari pasang tampang kecut. Tapi dia tidak punya pilihan selain mendengarkan ceritaku. Bagaimanapun juga, aku yang menghentikan mumi itu dan memecahkan mata kalung Nila, sehingga dia kembali jadi kumbang. "Tapi jangan lupa, kumbang itu sempat kabur dan menghilang," Sari berkomentar sambil tersenyum jail, "Aku jamin kumbang itu sedang menunggumu, Gabe. Aku yakin dia ada di tempat tidurmu dan menunggu untuk menggigitmu." Aku tertawa. "Sari, jangan coba menakut-nakuti aku, deh. Kau cuma tidak tahan karena aku yang jadi pahlawan." "Ya," akunya terus terang. "Aku memang tidak tahan. Sudahlah, aku mau tidur dulu. Sampai besok, Gabe," Beberapa menit kemudian aku sudah berganti baju dan sudah siap naik ke tempat tidur. Malam ini luar biasa! Betul-betul luar biasa! Ketika aku menyusup ke bawah selimut, aku masih sempat berpikir bahwa malam ini merupakan malam yang takkan pernah kulupakan. "Aduh!" Selesai