Anda di halaman 1dari 4

1

http://www.pustakasekolah.com/
1. Novel Belenggu

Pengarang : 72n Pane
Penerbit : PT Pustaka Rakyat Jakarta
Cetakan : Keempat Maret 1957
Tebal : 132 halaman
Pelaku Utama : Dokter Sukartono, Sumartini (Pop) dan Nyonya Eni
(Rohayah/Yah, Siti Hayati)

Rngkasan Ce79a

Kisah roman Belenggu dimulai dari retaknya rumah tangga Dokter Sukartono (Tono)
dengan istrinya Sumartini (Tini). Kehidupan rumah tangga Tono dengan Tini kian hari
kian merenggang. Antara keduanya sudah tidak ada lagi komunikasi yang baik.
Masing-masing menutup diri, saling berprasangka buruk, hingga kemudian masing-
masing mencari kesibukan sendiri-sendiri.
Padahal awalnya, Tono memilih Tini menjadi istrinya hanya atas dasar kecantikan,
kepintaran, dan keenergikan Tini saja. Tono beranggapan bahwa wanita yang pantas
mendampinginya adalah wanita yang berkarakter seperti Tini. Sayangnya, Tono
memilih Tini bukan atas dasar cinta. Sebaliknya, Tini memilih dokter Sukartono
sebagai suaminya karena ia ingin melupakan masa lalunya yang kurang baik. Sama
dengan Tono, Tinipun menikah bukan atas dasar cinta.
Rumah tangga yang dibangun bukan atas dasar cinta itu akhirnya tidak bahagia. Tono
dan Tini kurang harmonis dan sering terjadi pertengkaran di antara mereka.
Masing-masing dari mereka berusaha menyibukkan diri dengan aktivitas masing-
masing. Tini sibuk dengan organisasi kewanitaan dan segala macam kongres, sedang
Tono sibuk dengan tugasnya sebagai dokter, Tono sangat bangga dan mencintai
proIesinya. Dia bekerja tanpa mengenal waktu. Jam berapa pun pasien
membutuhkannya, dia selalu datang. Itulah sebabnya, ia sangat disenangi para
pasiennya. Selain mudah dimintai pertolongan, Tono juga dikenal sebagai dokter yang
dermawan karena ia tidak pernah minta bayaran pada pasiennya yang kurang mampu.
Kesibukan Tono seringkali memicu percekcokan rumah tangga mereka. Tini, istrinya
semakin sering keluar rumah. Tini sangat tidak betah dengan kesendiriannya. Tini
merasa harga dirinya dilecehkan
2

http://www.pustakasekolah.com/
Akhimya, lewat telepon, muncul Ny. Eni, pasien Tono. Ketika Tono datang ke hotel
tempat Ny. Eni, ia pun mengetahui bahwa Ny. Eni adalah Rohayah, kawan lamanya di
Bandung dulu. Dengan caranya Yah menggoda Tono. Tono masih menjaga sumpah
jabatannya sebagai dokter. Hari-hari berikutnya ketika Tono merawat Yah yang
sebenarnya tidak sakit itu, akhimya ia tak kuasa lagi jatuh cinta. Hubungan mereka
kian hari kian mesra. Tono sering mengajak Yah ke Tanjung Priok pesiar. Sikap Yah
yang penuh pengertian membuat Tono mabuk. Hubungan Tono dengan Tini semakin
meruncing. Apalagi berita itu menyebar di kalangan ibu-ibu teman Tini.
Ketika Tini pergi ke Solo mengadakan Kongres Perempuan Seumumnya, Tono makin
gila. Ia memutuskan untuk tinggal selama seminggu di rumah sewaan Yah. Dari
pertemuan sebagai suami isteri itu kemudian terungkap kembali kisah lama mereka.
Setelah Tono lulus dari sekolah rendah di Bandung, Tono meneruskan sekolah HBS di
Surabaya. Sementara Yah yang berbeda tiga tahun dalam sekolah itu harus kembali ke
Palembang karena akan dikawinkan oleh orang tuanya. Ternyata lelaki yang
dipilihkan orang tuanya itu jauh lebih tua darinya. Karena tidak tahan, Yah akhirnya
lari ke Jakarta. Kisah berianjut, Yah menjadi wanita panggilan dari hotel ke hotel.
Kemudian ia menjadi nyai seorang lelaki Belanda di Sukarasa. Hanya selama tiga
tahun, kemudian Yah meninggalkan suaminya lagi. Ia mendengar berita bahwa Tono
menjadi dokter di Jakarta, ia pun berusaha menemui Tono. Bagi Tono, Yah adalah
tempat pelarian, tempat berkeluh, tempat di mana pikiran-pikiran kusut dan kenangan
lama yang mati dapat dihidupkan kembali. Yah, amat berbeda dengan Tini, isterinya.
Tono mengatakan bahwa ia tak mungkin lepas lagi dari Yah.
Bagi Yah, Tono adalah harapan, di mana cita-citanya untuk kembali menjadi wanita
yang baik mungkin dapat terlaksana. Namun Yah sendiri amat sering ragu-ragu dan
menaruh rasa belas pada Tono yang mau menerimanya begitu saja. Yah sendiri punya
problem kejiwaan karena masa lalunya yang gelap.
Ketika itu Tono akan menjadi juri pada perlombaan keroncong di Pasar Gambir.
Hartono dan Mardani kawannya semasa sekolah di kota Malang datang berkunjung.
Hartono menanyakan isteri Tono, Tono hanya mengatakan bahwa ia sedang ke Solo.
Hartono kemudian mengetahui bahwa isteri Tono adalah Tini, seorang gadis yang
pemah bersahabat dengannya di Bandung sewaktu ia menjadi mahasiswa Technische
Hoogereschool. Secara tidak sengaja, Tini bertemu dengan Hartono ketika Hartono
3

http://www.pustakasekolah.com/
menunggu Tono pulang dari kantor. Pertemuan itu mengungkapkan peristiwa
beberapa tahun silam di Bandung. Tini ternyata bekas kekasih Hartono, bahkan Tini
sendiri telah ternoda oleh Hartono. Itulah sebabnya kemudian Tini mau menerima
Tono menjadi suaminya, di samping sikap Hartono sendiri yang pengecut membuat
surat perpisahan dan mengatakan bahwa setibanya surat itu pada Tini, Hartono telah
tiada. Hartono ternyata hanya mengganti namanya menjadi Abdul Humid dan masih
duduk dalam organisasi Partindo tempat mereka berdua berkenalan pertama kali.
Pada pertemuan itu Hartono masih mengharapkan agar Pop (nama Tini sewaktu di
Bandung) dapat kembali padanya. Namun Tini amat tersinggung pada sikap Hartono.
Ia marah dan meminta supaya mereka hidup sendiri-sendiri.
Tono amat kecewa pada Yah karena sekali lagi Yah menipunya. Siti Hajati penyanyi
pujaannya ternyata adalah Yah sendiri. Ia amat tidak senang dengan sikap Yah yang
selalu berpura-pura. Tono menduga keras bahwa Yah akan selalu bersikap manis dan
merayu laki-laki lain seperti kalau ia bertemu dengan Tono. Yah yang terpojok dan
merasa tidak dipercaya mengatakan pada Tono bahwa ia sebenarnya amat mencintai
Tono namun ia sangsi apakah hubungan cintanya dapat langgeng. Ia merasa tidak
seimbang mendapatkan Tono, itulah problem kejiwaannya.
Tono sebenarnya telah tahu bahwa Tini telah ternoda sebelum mereka menikah. Ia pun
tahu bahwa ketika Tini menerimanya sebagai suami tidak berdasarkan cinta. Tono
mau menerima Tini karena kekagumannya pada kecantikan Tini. Namun ia tidak
pemah mengetahui siapa laki-laki yang menodai Tini. Pikiran-pikiran yang menyebar
itu menyebabkan ia dapat memaklumi keadaan Yah. Ia pun menerima alasan Yah.
Suatu ketika paman Tini datang hendak mendamaikan pertengkaran Tini dengan
Tono. Namun usaha itu sia-sia. Baik Tono maupun Tini tidak dapat rukun kembali.
Tini yang mulai tahu hubungan gelap Tono dengan Yah berkeinginan untuk menemui
dan mendamprat Yah. Bertemulah Tini dengan Yah di sebuah hotel. Keinginan Tini
untuk memaki-maki Yah yang telah menggoda suaminya akhirnya luluh begitu Tini
bertemu dengan Yah. Betapa Yah adalah seorang wnaita lemah lembut dan sangat
perhatian. Tini merasa malu dengan Yah, lebih-lebih ternyata Yah banyak tahu masa
lalu Tini yang gelap. Tini menyesal bahwa selama ini ia kurang memberi perhatian
pada Tono. Ia bukan istri yang baik. Ia tidak pernah memberikan kasih sayang yang
tulus kepada Tono suaminya.


http://www.pustakasekolah.com/
Peristiwa di hotel itu membuat Tini berintrospeksi. Ia merasa gagal menjadi seorang
istri. Akhimya, Tini memutuskan untuk bercerai dengan suaminya. Bahkan ia berharap
agar Yah bersedia menjadi isteri Tono. Niat ini disampaikan kepada Tono. Kenyataan
ini juga membuat Tono tersadar. Ia berharap Tini masih mau menjadi istrinya. Tetapi
tekad Tini sudah bulat. Perceraian tidak dapat dihindari lagi.
Akibat perceraian ini hati Tono amat sedih. Lebih sedih lagi ketika Tono menghadapi
kenyataan bahwa Yah telah pula meninggalkan dirinya. Yang dijumpai Tono hanyalah
sepucuk surat dan sebuah piringan hitam lagu-lagu Siti Hayati yang tak lain adalah
Yah sendiri. Yah yang menyatakan betapa Yah sangat mencintai Tono, tetapi ia tidak
ingin merusak rumah tangganya. Untuk itu, Yah telah meninggalkan tanah air pergi ke
New Caledonia. Sedangkan Tini saat ini sudah berada di Surabaya, mengabdikan
dirinya di sebuah panti asuhan yatim piatu.
1.1. Makna Yang Te7kandung
a. Suatu rumah tangga akan menjadi rusak jika antara suami dan isteri tidak
saling menghargai dan saling mengerti akan kepentingannya masing-
masing.
b. Jika serba ragu-ragu kita mengerjakan suatu pekerjaan, pasti kita tidak akan
mencapai hasil pekerjaan itu dengan sempurna dan memuaskan.