MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -8

-

Modul 1 1.1. Judul : Gaya Gaya dan Keseimbangan Gaya
Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul, mahasiswa bisa memahami pengertian tentang gaya. Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menjelaskan konsep pengertian tentang gaya dan bagaimana bisa melakukan penjumlahannya 1.1.1. Pendahuluan Gaya serta sifat-sifatnya perlu difahami dalam ilmu Mekanika Teknik karena dalam ilmu tersebut, mayoritas membicarakan tentang gaya, sedang Mekanika Teknik adalah merupakan mata kuliah dasar keahlian yang perlu dimengerti oleh semua sarjana Teknik Sipil. Jadi dengan memahami sifat-sifat gaya, mahasiswa akan lebih mudah memahami permasalahan yang terjadi di pelajaran Mekanika Teknik. Misal pada suatu jembatan, kendaraan yang lewat adalah merupakan suatu beban luar yang ditampilkan dalam bentuk gaya. Contoh : * Suatu kendaraan yang terletak diatas jembatan * Beban roda kendaraan pada jembatan tersebut adalah suatu beban atau gaya.

gaya

struktur jembatan

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -9-

1.1.2. Pengertian tentang Gaya dan Garis Kerja gaya Gaya adalah merupakan vektor yang mempunyai besar dan arah.

Penggambarannya biasanya berupa garis dengan panjang sesuai dengan skala yang ditentukan. Jadi panjang garis bisa dikonversikan dengan besarnya gaya. * Contoh 1

Orang berdiri dengan berat 50 kg Panjang gaya 1 cm arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah ke bawah dengan skala 1 cm = 50 kg

Jadi 50 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh orang berdiri tersebut dengan arah gaya kebawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan berat 50 kg. * Contoh 2 Batu diatas meja dengan berat 10 kg
Panjang gaya = 1 cm

Arah berat = kebawah (sesuai arah gravitasi) ditunjukkan dengan gambar anak panah dengan skala 1 cm = 10 kg

Jadi 10 kg adalah gaya yang diakibatkan oleh batu yang menumpu di atas meja dengan arah gaya ke bawah yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena panjang 1 cm setara dengan gaya 10 kg.

* Contoh 3 15 kg Orang mendorong mobil mogok kemampuan orang mendorong tersebut adalah 15 kg. 1 cm Panjang gaya Arah dorongan kesamping kanan ditunjukkan dengan gambar anak panah arah kesamping dengan skala 1 cm = 15 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -10-

Jadi 15 kg adalah gaya yang diberikan oleh orang untuk mendorong mobil mogok dengan arah kesamping kanan, yang diwakili sebagai gambar anak panah dengan panjang 1 cm karena 1 cm setara dengan 15 kg.

Garis kerja gaya adalah garis lurus yang melewati gaya Seperti contoh di bawah : Contoh * Garis kerja gaya Garis kerja gaya orang yang mempunyai berat 50 kg tersebut adalah vertikal

Orang dengan berat 50 kg garis kerja gaya 15 kg Garis kerja gaya untuk mendorong mobil mogok tersebut adalah horisontal

Titik tangkap gaya adalah titik awal bermulanya gaya tersebut. Contoh: mobil mogok diatas jembatan, roda mobil serta tumpuan tangan orang yang mendorong adalah merupakan titik tangkap gaya.

titik tangkap gaya Titik tangkap gaya

gaya

50 kg

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -11-

1.1.3. Sifat Gaya Gaya dan titik tangkap gaya bisa dipindah-pindahkan asal masih dalam daerah garis kerja gaya Contoh dalam gambar K dan K1 adalah merupakan gaya. Ga Posisi gaya K lama Posisi gaya K baru mb ar garis kerja gaya K1 Posisi gaya K1 lama 1.1 . Ga mb Posisi gaya K1 baru is kerja gaya ar gar

1.1.4. Penjumlahan Gaya Penjumlahan gaya bisa dilakukan secara analitis maupun grafis.

1.1.4.1. Penjumlahan secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama, jadi gaya-gaya tersebut sebidang, bisa secara langsung dijumlahkan secara grafis.

A K1

C R = K1 + K2 



D K2 Titik tangkap gaya

B 

K1, K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan Urut-urutan penjumlahan Buat urut-urutan penjumlahan garis sejajar dengan K1 dan K2 di ujung gaya, (K1 diujung K2 dan sehingga K2 diujung K1 ) membentuk bentuk jajaran genjang D.A.C.B Salah satu diagonal yang panjang tersebut yaitu R

. . yang titik tangkapnya tidak sama Urutan-urutan penjumlahan . . Penjumlahan gaya secara grafis Penjumlahan 2 gaya yang sebidang.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -12- Gambar 1. pertemuannya di titik 0. tapi masih sebidang. tapi titik tangkapnya tidak sama.2.Salah satu diagonal yang terpanjang (R) adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2. OABC . ar 1.Buat garis-garis sejajar gaya K1 dan K2 di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang.3 Penju mlaha n gaya secara grafis. Gaya-gaya tersebut bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya. Gamb R = K1 + K2 A Posisi awal (K2)KK2 2 Posisi awal1 (K1) KK 1 0 K1 C B K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan.Gaya K1 dipindah searah garis kerja gaya sampai garis kerja gaya K1 bertemu dengan garis kerja gaya K2. 2 gaya tersebut tidak mempunyai titik tangkap yang sama.

K2) di ujung-ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk suatu jajaran genjang 0ACB    Salah satu diagonal terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah K1 + K2 Buat garis sejajar K3 dan R1 di ujung gaya-gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 0CED Salah satu diagonal terpanjang (R2) adalah jumlah dan R1 dan K3 sehingga sama dengan jumlah antara K1. Urut-urutan penjumlahan. Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tangkap tunggal   Penjumlahan tersebut dilakukan secara bertahap Titik tangkap gaya bisa dipindahkan sepanjang garis kerja gaya. K2 dengan cara membuat garis sejajar Gambar 1. 0 K3 D  Jumlahkan dulu K1. K2 dan K3 adalah gaya-gaya yang akan dijumlahkan dengan titik tangkap tunggal. Penjumlahan 3 gaya secara grafis dengan gaya-gaya tersebut (K1. . K2 dan K3.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -13- Penjumlahan 3 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal Penjumlahan tersebut bisa dilakukan secara bertahap C R1=K1+K2 R1 A K1 K2 B R2 E R2 R2 = R + K 1 3 = K1 + K2 + K3  K1.4.

 Tarik gaya R1 dan K3 sehingga titik tangkapnya bertemu pada titik di 01 . Penjumlahan 3 gaya yang tidak mempunyai titik tunggal. K2 dan K3 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan.  A K1 K2 0 R2 = R1 + K3 = K1 + K2 + K3 F D B Kerjakan dulu penjumlahan antara K1 dan K2 dengan cara :  Tarik gaya K1 dan K2 sehingga titik tangkapnya bertemu pada satu titik di O.5.  Buat garis sejajar K1 dan K2 pada yang ujung-ujung berlainan gaya sehingga membentuk jajaran genR1 E K3 01 Gambar 1. secara grafis jang OACB Posisi awal (K3)  Salah satu diagonal yang terpanjang yaitu R1 adalah merupakan jumlah dari K1 dan K2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -14- (posisi awal) K1 R1 = K1 + K2 C (Posisi awal) K2 Urut-urutan penjumlahan  K1.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -15-  Buat garis sejajar R1 dan K3 melalui ujung gaya yang berlainan sehingga membentuk jajaran genjang 01. D F E. salah satu diagonal yang terpanjang adalah R2 yang merupakan jumlah antara R1 dan K3 berarti jumlah antara K1 dan K2 dan K3. K3 .

garis tersebut diberi tanda titik satu buah ( ) sampai lima buah ( jari-jari polygon. d. memotong gaya K2 di titik B ) ( ) memotong gaya Ob Dari titik B dibuat garis sejajar Oc ( ) memotong K3 di . dan e.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -16- a K1 b1 K1 A B K2 C O R K3 D K2 K4 K1 c K3 K4 e d R O titik tangkap Polygon Batang Jari-jari Polygon Gambar 1. Polygon batang dan jari-jari polygon   Gaya K1. Garis-garis tersebut dinamakan . K3 dan K4 adalah gaya-gaya yang mau dijumlahkan Untuk pertolongan. garis .6. perlu dibuat jari-jari polygon (lihat gambar) dengan cara sebagai berikut : buat rangkaian gaya K1. c. K3 dan K4 secara berurutan dimana tiap-tiap gaya sejajar dengan gaya aslinya (pada gambar jari-jari polygon). K3 dan K4 yaitu R. K2. b. yang diwakili oleh garis sepanjang a-e tapi letak titik tangkapnya belum betul.Dari titik A dibuat garis sejajar K1 di (titik A. Ambil titik 0 sembarang di daerah sekitar R Tarik garis dari 0 ke ujung-ujung gaya sehingga ketemu titik a. Dari gaya-gaya asal yang akan dijumlahkan ditarik garis sejajar O a ) pada garis tersebut. pangkal gaya K1 dan ujung gaya K4 merupakan jumlah (resultante) gaya K1. K2. K2.

Dari titik C dibuat garis sejajar Od ( Dari titik D dibuat garis sejajar Oe ( dan garis ) ( ) memotong K4 di D. K3 dan K4 dengan titik tangkap yang betul. K3 dan K4. Jadi R adalah merupakan jumlah (resultante) dari gaya-gaya K1. . dengan garis kerja melewati 0 1. Contoh : y Pernjumlahan 2 gaya yang mempunyai titik tangkap tunggal y K2 y K1 y E K1 K2  O F K2x x  K1 dan K2 adalah gayagaya yang akan dijumlahkan dimana mempunyai titik tangkap tunggal di O . yang mana biasanya sering dipakai adalah sumbu oxy. Penjumlahan gaya secara analitis dengan sumbu x dan y K1x = K1 cos E K1y = K1 sin E . K2.7. .1. Penjumlahan secara analitis Dalam penjumlahan secara analitis kita perlu menentukan titik pusat (salib sumbu) koordinat. Dari titik O dibuat garis sejajar R yaitu garis R . diproyeksikan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -17- titik C. Didalam salib sumbu tersebut gaya-gaya yang akan dijumlahkan. K2.4.2. K2x = K2 cos F K2y = K2 sin F K1x . perpanjangan garis ( ) ) pada polygon batang akan ketemu di titik O yang merupakan titik tangkap jumlah (resultante) gaya-gaya K1. Eadalah sudut antara K1 dengan sumbu ox Fadalah sudut antara K2 dengan sumbu ox K1 dan K2 diuraikan searah Gambar 1.

8. Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya-gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : . K1 membentuk sudut E dengan sumbu ox K2 membentuk sudut Fdengan sumbu ox. Rx = K1x + K2x Ry = K1y + K2y Rx = § Kx Ry = § Ky Jumlah gaya total yang merupakan penjumlahan secara analitis dari komponen-komponen tersebut adalah : R= Rx ²  Ry ² Penjumlahan 2 gaya dengan letak titik tangkap berbeda y K1y E K1  K1 dan K2 adalah gaya-gaya yang akan dijumlah-kan dengan letak titik tangkap berbeda. secara analitis K1x = K1 cos E . K2x = K2 cos F K1y = K1 cos E . Penjumlahan gaya dengan titik tangkap berbeda.  K1 dan K2 diuraikan searah dengan sumbu x dan y K2 K2y F O K1x K2x x Gambar 1. K2y = K2 sin F Semua Komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah oy.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -18- Semua komponen yang searah ox dijumlahkan demikian juga yang searah dengan oy.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -19- R= Rx ²  Ry ² 1. Gaya bisa dipindah-pindah sepanjang garis kerja gaya Penjumlahan gaya-gaya bisa dilakukan secara grafis ataupun analitis.6. K3 dan K4. Rangkuman     Gaya adalah suatu besaran vektor yang mempunyai besar dan arah serta diketahui letak titik tangkapnya.1. 5 ton 0 K1 K2 K3 K4 7 ton 9 ton 4 ton Empat gaya K1. Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun grafis 2. dengan besar dan arah seperti pada gambar Cari besar dan arah jumlah gaya-gaya tersebut (R) dengan cara polygon batang. K1 45° K2 Dua gaya yang mempunyai titik tangkap yang sama seperti seperti pada gambar. K1 Dua gaya K1 dan K2 tidak mempunyai titik tangkap yang sama K1 = 10 ton dan K2 = 4 ton Garis kerja ke dua gaya tersebut bertemu dan K2 membentuk sudut 60° Cari besarnya jumlah gaya-gaya tersebut (R) baik secara analitis maupun garfis. K2. Penjumlahan gaya lebih dari 4 buah bisa memakai cara grafis dengan bantuan polygon batang.1. 3.5. . 1. sudut yang dibentuk antara 2 gaya tersebut adalah 45°. Latihan 1. K1 = 5 ton dan K2 = 7 ton.

1.7.1 ton sdt = 22. Penutup Untuk mengukur prestasi. Statika I ITB.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 24 ton Skor Nilai 50 50 50 50 3 Grafis Jari-jari polygon Polygon batang 50 50 1. secara bertahap.1 ton sdt = 22. 3.5 ton sdt = 30° dari sumbu x R = 12. Determinate Structures ITP (International Thomson Publishing Company) 1996. Senarai Gaya Resultante = mempunyai besar dan arah = jumlah . Samuel E.9.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -20- 1.1. No. Suwarno. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada. 3 hanya berupa grafis. French. Daftar Pustaka 1. sedang soal no.5° dari sumbu x R = 12.5° dari sumbu x R = 11. Bab I 1. Soemono. Soal 1 dan 2 ada jawaban secara analitis dan grafis. soal Sub Jawaban 1 Analitis Grafis 2 Analitis Grafis Jawaban R = 11. 2. Mekanika Teknik Statis Tertentu UGM bab I. Bab I.8. skor penilaian ada di tabel bawah untuk mengontrol berapa skor yang didapat.1.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -21- .

reaksi dan gaya dalam. reaksi. maka mahasiswa perlu tahu bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik.2. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar tentang struktur dalam suatu bidang Teknik Sipil.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -22- 1. bentuk gedung bertingkat dalam penggambaran di mekanika teknik kolom Kolom = tiang-tiang vertical Balok = batang-batang horisontal balok perletakan Gambar 1. maka siswa bisa memahami secara jelas apa itu bentuk-bentuk struktur di bidang teknik sipil. apa itu beban. mengerti tentang beban. JUDUL : PENGGAMBARAN STRUKTUR DALAM MEKANIKA TEKNIK Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini. 1. serta bisa menggambar skema struktur dalam mekanika teknik. jembatan dan lainsebagainya. Pendahuluan Dalam disiplin ilmu teknik sipil dimana mahasiswa akan diajak bicara tentang bangunan gedung.9. sehingga dalam menerima pelajaran akan lebih mudah menerima. Gambar portal gedung bertingkat dalam mekanika teknik .1.2. kolom. gaya dalam dan bagaimana cara penggambarannya dalam mata kuliah mekanika teknik. kolom. balok. Contoh : a. balok.

2. a. Beban Didalam suatu struktur pasti ada beban.2.2. Beban terpusat Beban terpusat adalah beban yang terkonsentrasi di suatu tempat.1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -23- b. bentuk jembatan sederhana dalam penggambarannya di mekanika teknik. a. dan lain sebagainya. kendaraan. balok perletaka n Gambar 1. misal : meja. Ada beberapa macam beban yaitu beban terpusat dan beban terbagi rata. Beban yang tidak dapat bergerak disebut beban mati. Gambar jembatan dalam mekanika teknik 1. beban yang bisa bergerak umumnya disebut beban hidup misal : manusia. peralatan dan lainsebagainya. manusia yang berdiri diatas jembatan P beban terpusat Penggambaran dalam mekanika teknik a. Kendaraan berhenti diatas jembatan P1 P2 P3 Penggambaran dalam mekanika teknik .10.

Gambar 1. Beban terbagi rata Beban terbagi rata adalah beban yang tersebar secara merata baik kearah memanjang maupun ke arah luas. Newton. Gambar beban terpusat dalam mekanika teknik b. dan lainsebagainya. Gambar 1. Penggambaran beban terbagi rata dalam mekanika teknik .12.11. anak-anak berbaris diatas jembatan q t/m Penggambaran dalam mekanika teknik Notasi beban terbagi rata = q Satuan beban terbagi rata = ton/m . kg/cm Newton/m dan lainsebagainya. kg.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -24- Notasi beban terpusat = P Satuan beban terpusat = ton.

1. sedang yang masuk pada lapisan permukaan bumi disebut dengan bangunan bawah. konsep pengertian tentang perletakan. Contoh : a. jembatan. Bangunan yang terletak diatas permukaan bumi disebut bangunan atas.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -25- 1.2. maka siswa bisa memahami pengertian tentang perletakan dan bagaimana pemakaian perletakan ini pada suatu struktur. Bangunan-bangunan tersebut harus terletak diatas permukaan bumi. 1. Struktur jembatan (bangunan atas) perletakan Pondasi Penggambaran pada mekanika (bangunan struktur . Perletakan y Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah membaca modul bagian ini.2. hubungan antara bangunan tersebut dengan lapisan permukaan bumi dikaitkan dengan suatu pondasi. y Tujuan Pembelajaran Khusus : Mahasiswa dapat menunjukkan konsep dasar dan pengertian tentang struktur. Hubungan antara bangunan atas dan bawah melalui suatu tumpuan yang disebut dengan Perletakan . Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil kita selalu membicarakan masalah bangunan seperti bangunan gedung. serta konsep kedudukan perletakan dalam suatu struktur.3.3. Hubungan antara bangunan atas jembatan dan bangunan bawah pondasi. dan lainsebagainya.

14. pada suatu struktur jembatan yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan.2. jadi tidak bisa mempunyai reaksi horizontal.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -26- Gambar 1.15. Rol Strukt Bentuk perletakan rol. a. Ada 4 macam perletakan dalam mekanika teknik yaitu : rol.15) silinder baja Karena struktur harus stabil maka perletakan rol tersebut tidak boleh turun jika kena beban Rv Perletakan rol bila dilihat dari gambar struktur. Hubungan antara bangunan gedung dan pondasi Bangunan gedung (bangunan atas) muka tanah Perletakan (tumpuan) Pondasi (bangunan bawah) Penggambaran pada mekanika teknik 1.3. . jepit dan perodel. perletakan Gambar 1.2.13. Gambar perletakan gedung (tumpuan)dalam mekanika teknik Macam-Macam Perletakan Dalam mekanika teknik perletakan berfungsi untuk menjaga struktur supaya kondisinya stabil. sendi. ada reaksi vertikal. Pada perletakan Rol Rv Penggambaran perletakan rol dalam bidang mekanika teknik. Skema perletakan rol diberi beban momen jadi tidak mempunyai reaksi momen. olehtersebut bias bergeser dari maka rol karena itu rol ke arah horizontal. bisa berputar jika tersebut harus mempunyai reaksi Gambar 1. (Gambar 1. Gambar perletakan jembatan dalam mekanika teknik b. atas.

Sendi Bentuk perletakan sendi pada suatu struktur jembatan.17.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -27- Balok jembatan Gambar 1. Strukt RH silinder baja Selain itu perletakan sendi tidak boleh bergeser horizontal. Jadi sendi tidak mekanika teknik. RH sendi tersebut bisa berputar jika Penggambaran perletakan sendi dalam diberi beban momen.16. maka perletakan sendi tidak boleh turun jika kena beban dari atas. Jepit Rv balok jembatan Gambar 1. Karena struktur harus stabil. Skema perletakan Sendi Pada perletakan karena itu mempunyai sendi tersebut harus reaksi vertikal (Rv). oleh Rv Gambar 1.17). yang bertugas untuk menyangga sebagian dari jembatan (Gambar 1. Rv RH c. Aplikasinya perletakan rol dalam mekanika teknik Rv b. ada reaksi vertikal dan horisontal punya reaksi momen.18. Oleh karena itu perletakan sendi harus mempunyai reaksi horizontal (RH). Aplikasinya perletakan sendi di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu .

ada reaksi searah pendel.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -28- RH RM RV RH RM R d.21. horizontal. jadi hanya mempunyai satu reaksi yang searah dengan sumbu pendel.) Pendel tersebut hanya bisa menyangga sebagian jembatan. bertugas untuk menyangga sebagian dari struktur baja (Gambar 1. Aplikasi perletakan jepit di dalam mekanika teknik Bentuk perletakan jepit dari suatu struktur. Skema perletakan pendel pada suatu struktur baja RR R . Pendel V Penggambaran perletakan jepit dalam mekanika teknik.20. Penggambaran perletakan pendel dalam mekanika teknik. balok baja pendel Gambar 1. hanya searah dengan sumbu pendel tersebut. dan momen Gambar 1. ada reaksi vertikal.21.

Aplikasi di perletakan dalam pendel pende l mekanika teknik .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -29- balok baja Gambar 1.22.

serta manfaatnya dalam struktur tersebut. yang berarti kotak tersebut tidak bisa turun. Keseimbangan vertikal .3.2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -30- 1. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat memahami pengertian keseimbangan dalam suatu struktur dan syarat-syarat apa yang diperlukan.23.3. dan bagaimana cara menyelesaikannya. JUDUL : KESEIMBANGAN BENDA Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan bisa mengerti apa yang disebut keseimbangan pada suatu benda. maka kotak tersebut dalam keadaan seimbang. Pengertian tentang keseimbangan Sebuah kotak yang dilem diatas meja. 1. Bangunan bangunan tersebut supaya tetap berdiri. Apa saja syaratsyaratnya supaya suatu bangunan tetap seimbang. maka struktur-strukturnya harus dalam keadaan seimbang. hal itu merupakan syarat utama. suatu kotak yang dilem diatas meja 1. Pendahuluan Dalam bidang teknik sipil mahasiswa selalu diajak berbicara tentang bangunan gedung. mahasiswa perlu mengetahuinya.3. a. jembatan dan lain sebagainya. Contoh : benda dalam keadaan seimbang (tidak bisa bergerak) kotak lem meja Gambar 1. tidak bisa bergeser horisontal dan tidak bisa berguling.1.

Kotak tenggelam dalam lumpur b. Keseimbangan vertikal Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas lumpur Kalau kotak tersebut dibebani Lumpur secara vertikal (Pv). (Gambar 1.24. yang berarti Kotak tenggelam lumpur tersebut tidak mampu memberi perlawanan secara Pv Rv vertikal (Rv).25. perlawanan Meja vertikal tersebut (Rv) disebut reaksi vertikal. Keseimbangan horisontal PH Kotak Lem RH Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH).25) Gambar 1. Kotak Gambar 1. maka kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal. yang meja berarti lem yang merekat antara kotak dan meja tersebut . maka kotak tersebut langsung tenggelam. yang berarti meja tersebut mampu memberi perlawanan vertikal (Rv). maka kotak tersebut tidak bisa turun.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -31- Pv kalau kotak tersebut dibebani Kotak Lem secara vertikal (Pv).

27) Gambar 1. maka kotak tersebut tidak bisa berputar (tidak bisa terangkat). Kotak yang bergeser Karena beban horizontal c. yang berarti lem perekat antara kotak dan meja tersebut mampu memberikan perlawanan momen (RM). PM Kotak Lem Meja .26. sehingga bisa menahan kotak untuk tidak bergeser. Perlawanan horisontal tersebut (RH) disebut reaksi horisontal. Keseimbangan horizontal memberi perlawanan horisontal (RH). yang berarti meja tersebut tidak mampu memberi perlawanan horisontal (RH) (Gambar 1. karena tidak ada yang menghambat. Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem Kalau kotak tersebut dibebani secara PH kotak yang bergeser horisontal (PH).27. maka kotak tersebut langsung bergeser.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -32- mampu Gambar 1. perlawanan momen tersebut (RM) disebut dengan reaksi momen. Keseimbangan Momen Kalau kotak tersebut dibebani momen (PM).

PM Kotak yang terangkat Kalau dibebani kotak tersebut (PM). yang RH berarti harus stabil. RV Meja tidak bisa bergeser horisontal. RM Gambar 1. Meja karena tidak ada lem yang mengikat antara kotak dan meja tersebut. dan tidak bisa terangkat.30.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -33- Bandingkan hal tersebut diatas dengan kotak yang berada di atas meja tanpa di lem. benda tersebut harus tidak bisa turun. Keseimbangan statis . Gambar 1. meja mampu yang tersebut berarti tidak memberikan perlawanan momen (RM). Kotak yang terangkat karena beban momen d Keseimbangan Statis PV PH PM Kotak Lem  Kalau kotak tersebut di lem diatas meja. momen maka kotak tersebut bisa terangkat.29.

dapat dikatakan bahwa suatu benda yang stabil atau dalam keadaan seimbang. maka syarat minimum RM = PM atau RM . tumpuannya mampu memberi perlawanan secara vertikal pula. maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara momen (RM ).3. Latihan 1. agar kotak tersebut tidak bisa turun syarat minimum RV = PV.  Dari variasi tersebut diatas.4.PM = 0 atau 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen beban dan reaksi harus sama dengan nol).  Kalau kotak tersebut dibebani secara horisontal (PH ).PV = 0 atau 7V = 0 (jumah gayagaya vertikal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol). maka pada tumpuannya mampu memberi perlawanan secara horisontal (RH ). 1. Suatu benda diatas meja dengan berat sendiri = 5 kg Pv = 5 kg . Agar kotak tersebut tidak bisa terpuntir (terangkat). Agar kotak tersebut tidak bisa bergeser secara horisontal maka syarat minimum RH = PH atau RH PH = 0 atau 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara beban dan reaksi harus sama dengan nol)  Kalau kotak tersebut dibebani secara momen (PM ). maka harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 7V = 0 (jumlah gaya-gaya vertikal antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol) 7H = 0 (jumlah gaya-gaya horisontal antara aksi (beban) dan reaksi sama dengan nol) 7M = 0 (jumlah gaya-gaya momen antara aksi (beban) dan reaksi harus sama dengan nol). atau RV .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -34-  Kalau kotak tersebut dibebani secara vertikal (PV).

Rangkuman o Macam-Macam Beban . RH dan RM sejajar dengan batang pendel o Syarat Keseimbangan Ada 3 syarat keseimbangan yaitu : 7v = 0 7H = 0 7M = 0 1. satuan kg/m atau ton/m atau Newton / m o Macam Perletakan .Sendi punya 2 reaksi .Beban terpusat.Jepit punya 3 reaksi . Penutup .3.Pendel punya 1 reaksi Rv Rv dan RH Rv.5. Suatu kantilever (konsol) dengan beban seperti pada gambar. P.Beban terbagi rata. satuan. PV = 5 kg PH = 2 kg PM = 5 kgm Cari reaksi-reaksi yang terjadi supaya konsol tersebut tak roboh. notasi.6. 1.Rol punya 1 reaksi . Rv = ? 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -35- Berapa reaksi vertikal yang terjadi supaya balok tersebut tidak turun ?. notasi. kg atau ton atau Newton . q.3.

Nomor Soal 1 2 Reaksi yang ada Rv Rv RH RM Besar Reaksi 5 kg 5 kg 2 kg 5 kg m Arah o o p 1 1.7.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -36- Untuk mengukur prestasi.8. Mekanika Teknik Statis Tertentu UGM Bab I. 2. Soemono Statika I ITB Bab I 1. Senarai Beban = aksi Reaksi = perlawanan aksi .3. Daftar Pustaka 1.3. Suwarno. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci-kunci yang ada.

JUDUL : KONSTRUKSI STATIS TERTENTU Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa akan mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu. 2.1. Mahasiswa diwajibkan memahami struktur yang paling sederhana sebelum melangkah ke yang lebih kompleks. Balok jembatan diatas 2 Balok jembatan B A rol sendi perletakan A dan B Perletakan A adalah rol Perletakan B adalah sendi . mulai dari yang sederhana sampai dengan yang kompleks. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa selain dapat mengerti apa yang disebut dengan konstruksi statis tertentu. jembatan dan lain sebagainya. Contoh : contoh struktur sederhana yaitu balok jembatan diatas 2 tumpuan. Pendahuluan Dalam bangunan teknik sipil.1. ada beberapa macam sistem struktur. mengetahui syarat-syarat apa yang diperlukan dan bagaimana cara pemanfaatannya. seperti gedung-gedung.1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -37- MODUL 2 : ARTI KONSTRUKSI STATIS TERTENTU DAN CARA PENYELESAIANNYA 2. sistim yang paling sederhana tersebut disebut dengan konstruksi statis tertentu.

maka jumlah reaksi yang tidak diketahui maksimum adalah 3. jumlah bilangan yang tidak diketahui dalam persamaan tersebut maximum adalah 3 buah. Contoh a).1. Ada beberapa syarat-syarat keseimbangan Sesuai dengan materi yang sebelumnya ada 3 (tiga) syarat keseimbangan yaitu : § V ! 0 ( jumlah gaya  gaya vertikal sama dengan nol) § H ! 0 ( jumlah gaya  gaya horisontal sama dengan nol) § M ! 0 ( jumlah momen sama dengan nol) Kalau dalam syarat keseimbangan ada 3 persamaan.1. B= rol dengan reaksi tidak diketahui (RBV = reaksi vertikal di B) .2. A = sendi dengan 2 reaksi tidak RAH A B diketahui (RAV dan RAH adalah reaksi-reaksi vertikal dan horizontal RAV RBV di A). 2. Gambar konstruksi jembatan dalam Mekanika Teknik 2. Definisi Statis Tertentu Suatu konstruksi disebut statis tertentu jika bisa diselesaikan dengan syaratsyarat keseimbangan. Balok diatas dua perletakan dengan P beban P seperti pada gambar. Jika dalam menyelesaikan suatu konstruksi tahap awal yang harus dicari adalah reaksi perletakan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -38- Gambar 2.3.maka pada konstruksi statis tertentu yang harus bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan.1.

Jumlah reaksi yang tidak diketahui ada 3 buah. maka konstruksi tersebut statis tak tertentu. A B Gambar 2.3. A = jepit dengan 3 reaksi yang tidak diketahui. Konstruksi statis tertentu Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 3 buah. RAV = reaksi vertical di A RM RAH A RAV Gambar 2.4. sedang persamaan syarat keseimbangan hanya ada 3.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -39- Gambar 2. maka konstruksi tersebut adalah konstruksi statis tertentu. maka konstruksi tersebut adalah statis tertentu. B = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RBV dan RBH (reaksi vertical dan reaksi horizontal di B). Jumlah reaksi yang tidak diketahui adalah 4 buah. Konstruksi statis tertentu c) P Balok diatas 2 perletakan A = sendi dengan 2 reaksi yang tidak diketahui RAV dan RAH (reaksi vertikal dan reaksi horisontal di A). RAH = reaksi horizontal di A RM = momen di A. Konstruksi statis tidak tertentu .2. b). P Suatu konstruksi kolom yang berkonsol dengan perletakan di A adalah jepit.

Penutup Untuk mengukur prestasi. Tunjukkan apakah konstruksi tersebut statis tertentu atau bukan.6. Persamaan syarat-syarat keseimbangan adalah 3 buah 7V = 0 7H = 0 dan 71 = 0 2. Latihan a).mahasiswa bisa melihat kunci dari soal-soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal P C A B titik A B Macam Perletakan Sendi sendi Total reaksi Jumlah reaksi 2 buah 1 buah 3 buah . jika bisa diselesaikan dengan persamaan syarat-syarat keseimbangan. b). Perletakan A adalah sendi dan di B adalah rol. Rangkuman Konstruksi disebut statis A tertentu.1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -40- 2. P B C dua seperti pada adalah tersebut suatu balok ABC terletak diatas perletakan dengan beban P gambar.1.1. P C A B suatu balok ABC berkantilever terletak diatas dua perletakan dengan beban P seperti pada gambar. 2. Tunjukkan apakah konstruksi statis tertentu atau bukan. Perletakan A dan C sendi.4.5.

2. 2.8. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa dapat menggunakan teori yang telah diberikan untuk menghitung gaya dalam suatu struktur serta bisa menggambarkan gaya-gaya dalam tersebut secara rinci pada struktur statis tertentu. Suwarno Mekanika Teknik Statis Tertentu UGM bab I 2.1. JUDUL : GAYA DALAM Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca bagian ini mahasiswa bisa mengetahui apa yang disebut dengan gaya dalam dan bisa mengetahui bagaimana cara mencarinya.1. Dalam pembuatan struktur-struktur tersebut perlu diketahui ukruan atau yang lazim disebut dengan demensi dari tiap-tiap elemen .7.2. baja dan lain-lain. Daftar Pustaka 1.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -41- Bisa diselesaikan dengan persamaan syarat keseimbangan. Jadi diatas adalah statis tertentu. b) P B C konstruksi A Macam Perletakan Jumlah reaksi Sendi 2 buah sendi 2 buah Total reaksi 4 buah Persamaan tidak bisa diselesaikan dengan syarat-syarat keseimbangan. Jadi konstruksi statis tidak tertentu. Senarai Konstruksi statis tertentu = konstruksi yang bisa diselesaikan syarat-syarat keseimbangan dengan Itik A B 2.1. kayu. Suwarno Statika I ITB bab I 2. Pendahuluan Bangunan teknik sipil pada umumnya terbuat dari struktur beton.2.

kecil dalam membawa beban P tersebut urat-urat yang ada pada tangannya tertegang dan menonjol keluar sehingga kita bisa melihat alur uratP = 5 kg P = 5 kg uratnya. Kalau beban P tersebut dinaikkan secara bertahap. 2.2. maka demensi dari struktur (a) akan berbeda pula dengan struktur (b). memerlukan gaya dalam. satu kecil. Yang menjadikan urat-urat tangan orang (A) tersebut menonjol sehingga tampak dari luar A B adalah karena adanya gaya dalam pada tangan tersebut akibat beban P = 5 kg.3. dalam yang menyebabkan pelenturan balok tersebut disebut momen yang . Namun hal ini tidak terjadi pada B karena orangnya besar. demikian juga untuk orang B. pendek (A). beban Beban maksimum yang dipikul oleh orang A akan lebih kecil dari pada beban maksimum yang bisa dipikul oleh orang B karena diameter lengan orang A lebih kecil dari diameter lengan orang B. maka kedua tangan orang A dan B tersebut tertegang. Pengertian tentang Gaya Dalam A L2 B Ada 2 (dua) orang yang mempunyai bentuk tubuh yang berbeda. maka balok tersebut akan menderita beberapa gaya dalam yaitu : y Balok menderita beban lentur yang menyebabkan balok bentuk tersebut berubah Gaya melentur. Jika kedua-duanya membawa barang beban P = 5 kg. Untuk menentukan demensi-demensi dari elemen struktur tersebut. sampai suatu saat tangan A tidak mampu Gambar 2. tinggi. yang satu lagi besar. Macam-macam Gaya dalam P1 P reaksi A RA l Gambar 2.5.8. Balok diatas 2 perletakan dan menerima beban P (sehingga melendut) P B beban RB Suatu balok terletak pada 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -42strukturnya (balok.7. Contoh (a) P2 B o Gaya dalam yang diterima pada struktur (a) berbeda pula dengan gaya dalam yang diterima oleh struktur (b). Contoh : a).6.2. Contoh (b) 2.2. dansebagainya). tinggi (B). kolom. pelat. P P Untuk A orangnya pendek. P1 A L1 Gambar 2. Gambar 2. Orang membawa membawa beban tersebut. o Dua buah struktur seperti pada gambar (a) dan (b) dengan beban (P) dan bentang (l) berbeda.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -43- .

x 1) gaya jarak gaya jarak II q. ada beban terbagi rata q (kg/m ) dan beban terpusat P (kg). yang berarti balok tersebut menerima beban lentur atau momen.2.(pers. balok tersebut menerima gaya dalam yang disebut gaya lintang dan diberi notasi D. Pengertian Momen (M) c A c x RA l (m) RB P (kg) q kg/m B Suatu balok yang terletak diatas 2 tumpuan dengan beban seperti pada gambar.4. o Balok tersebut menderita gaya lintang. Balok yang menerima beban terpusat dan terbagi rata Definisi Momen adalah perkalian antara gaya x jarak. Momen untuk daerah balok antara perletakan A ke perletakan B dengan variable x bisa ditulis sebagai berikut : I (1) Mx = RA . 2. maka akan menerima beban gaya dalam yang disebut Normal yang diberi notasi N. Balok yang terletak antara tumpuan A dan B menderita (menerima) momen. (atau menerima gaya dalam momen) Gambar 2.x. Balok yang menerima gaya yang searah dengan sumbu batang.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -44- o Balok tersebut menderita gaya tekan karena adanya beban P dari kiri dan kanan.9. Balok tersebut akan menerima beban lentur sehingga balok akan melendut. ½ x (dihitung dari kiri ke potongan c-c) . . akibat adanya reaksi perletakan atau gaya-gaya yang tegak lurus ( B ) sumbu batang. Gaya Dalam Momen a).

Gambar potongan struktur bagian kiri Kalau dihitung dari sebelah kanan ke (c-c) I Mx = RB (l-x) (pers. 2) Kalau diambil di potongan c-c RB (reaksi di B) merupakan gaya I (l-x) = jarak dari RB ke potongan c-c Q (l-x) = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh (l-x) q (l-x) = Q2 ½ (l-x) = adalah jarak dari titik berat beban terbagi II q (l x) . .10.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -45- Misal kita ambil potongan c-c yang terletak sejarak x dari A RA (reaksi di A) merupakan gaya x = adalah jarak dari RA ke potongan c-c sejauh x qx = merupakan gaya dari beban terbagi rata sejauh x yang diberi notasi (Q1 = qx) ½x= adalah jarak dari titik berat beban terbagi rata sepanjang x ke potongan c-c I II q (kg/m ) titik berat qx c ½x Q1= qx x c Gambar 2. ½ (l -x) (dihitung dari kanan) .

Demikian juga sebaliknya. Tanda momen 2.5. GayaRA RB gaya tersebut adalah RA . balok yang terletak diatas 2 (dua) perletakan A dan B. Gambar potongan struktur bagian momen yang mempunyai arah berbeda. menerima gaya-gaya yang c arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu balok. Gambar balok menerima beban memberi gaya lintang terhadap . maka tertekankanan perlu memberi tanda terhadap momen tersebut.13. Tanda momen (-) * Gambar 2. q dan RB gaya-gaya tersebut yang Gambar 2.11. Jika momen tersebut mampu melentur suatu tertarik tertarik balok sehingga serat atas tertekan dan serat Tanda momen (+) * Tanda momen (+) * bawah tertarik maka momen tersebut diberi tanda (+) = positif.2. ½ (l-x) c Q2 = q (lx) l -x y Tanda Gaya Dalam Momen Untuk memberi perbedaan antara momentertekan Gambar 2.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -46- II c c q (kg/m ) titik berat dari q (l-x) (2) Kalau menghitung besarnya momen di cboleh dari kiri potongan seperti pada persamaan (1) ataupun menghitung dari kanan potongan seperti pada persamaan dan hasilnya pasti sama. Gaya Lintang (D) c P (kg) q (kg/m ) Kalau dilihat.12.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -47- Definisi : Gaya lintang adalah gaya-gaya yang B dengan sumbu batang. maka coba gaya-gaya apa saja yang arahnya B (tegak lurus) terhadap sumbu AB. y kalau dilihat dari C ke kiri potongan. Potongan balok bagian kiri y (2) Kalau dihitung dari titik c ke kanan potongan. maka D1 = RB = RB kanan potongan) P c q (kg/m ) q (l-x) Q2 P P (gaya lintang di c yang dihitung dari c Q2 = q (l(l x)x) RB Gambar 2. Kalau kita ambil salah satu potongan antara perletakan A-B yaitu c-c. Potongan balok bagian kanan . maka (1) Dc = RA x q x = RA Q1 (gaya lintang di c yang dihitung dari kiri potongan) q (kg/m ) c c Q1=q x RA Gambar 2.15.14.

gaya yang ada hanya RA. jumlah gaya arahnya ke Gambar 2. jumlah gaya arahnya ke atas. atau kalau dilihat di kanan RB potongan.16. maka perlu memberi tanda (+) dan (-). P Jika dilihat dari kanan potongan c. C RA Dilihat dari kiri potongan C. jadi jumlah gaya-gayanya yang B sumbu hanya RA dengan arah o (keatas) jadi tanda gaya lintang adalah positip. maka P > RB sehingga jumlah antara P dan RB arah ( q ) kebawah. gaya yang C ada B terhadap sumbu adalah RB ( o ) keatas dan RB P (q ) kebawah. Skema gaya lintang dengan tanda positif (+) Coba dilihat pada Gambar 1 dari kalau kita mau menghitung besarnya gaya lintang di c (Dc).MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -48- y Tanda Gaya Lintang P C A RB C C RA B Untuk membedakan gaya lintang. Definisi : * Gaya lintang diberi tanda positif jika dilihat di kiri potongan titik yang ditinjau. Karena RB adalah merupakan reaksi. .

Gambar 2 Skema gaya lintang dengan tanda negatif (-) Coba dilihat pada Gambar 2. Jika dilihat di sebelah kanan potongan gayagaya yang B sumbu hanya RB dengan arah ke RB atas ( o ). Gambar 2. Jadi RA < P.17 bagaimana kalau kita mau menghitung besarnya gaya P D lintang di D (DD). Jadi gaya lintangnya tandanya adalah . A Dilihat dari kiri potongan D. karena RA adalah reaksi.17. D maka gaya lintangnya tandanya negatif. jika dilihat di kiri titik potongan P A D B D yang ditinjau arahnya kebawah ( q ) dan bila ditinjau di kanan titik potongan yang ditinjau arahnya ke atas.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -49- * P D B Definisi : * Gaya lintang diberi tanda negatif. maka resultante gaya-gaya antara RA dan P arahnya adalah kebawah ( q ). gaya-gaya yang B RA sumbu hanya RA dan P.

18 yang RA Gambar 3 Gambar 2. Pengertian Tentang Gaya Normal (N) P A B Definisi : Gaya normal adalah gaya-gaya yang arahnya sejajar (//) terhadap sumbu beban balok.19 dimana ada gaya-gaya yang // Gambar 4 RB Gambar 2.19) menerima gaya normal (N) sebesar P.2. maka pada batang AB (Gambar 3. * Jadi kalau kita lihat balok yang seperti pada Gambar 2. Balok tanpa beban normal RB mana tidak ada gaya-gaya yang sejajar sumbu batang.18.Jika gaya yang ada arahnya menekan balok. . P P Kalau dilihat pada Gambar 3. 2. maka tanda gaya normalnya P adalah negatif (-) { € €p P n €€ }. Balok menerima beban gaya normal RA (sejajar) sumbu batang yaitu P.6. berarti balok tersebut tidak mempunyai gaya normal (N). * Tanda Gaya Normal .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -50- Jadi untuk menghitung gaya lintang. baik dihitung dari kiri ataupun kanan hasilnya harus sama.19.

MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -51- .2.7. Ringkasan Tanda Gaya Dalam M tekan M tanda momen positif (+) tarik tarik tekan M M tanda momen negatif () tanda gaya lintang positif (+) tanda gaya lintang negatif (-) tanda gaya normal negatif (-) . 2. maka tanda gaya normalnya P €€ adalah positif (+) { n P € €p }.Jika gaya yang ada arahnya menarik balok.

P1 = 2 2 t (º).20. Contoh : Penyelesaian Soal 1 Sebuah balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban seperti pada gambar. q2 = 1 t/m P1 = 2 2 t q1 = 2t/m P2 = 6 ton q2 = 1 t/m P4 = 3 ton P1v = 2 t 45 ° C P1H = 2 t A D P = 2t 3 E B RBV RBH 6m RAV 2m 10 m 2m .2.8. P2 = 6t (¶). q1 = 2 t/m .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -52- tanda gaya normal positif (+) Gambar 2. Ringkasan tanda gaya dalam 2. P3 = 2t (´) P4 = 3t .

1. dan D) Jawab : Mencari reaksi vertical RA (µ) keatas dan arah reaksi vertical di B Dimisalkan arah reaksi vertical di A RB (µ) juga keatas.2 = 0 RBV = 1.6 + P2 + q2. (Bidang M.2) (2 + 2.3 + P1R. N.7 P2.1  6.4  2.7  6. maka perlu memakai kontrol yaitu § V = 0 (P1R + q1.q2.4 + 2.21. yang searah diberi tanda sama.10 q2.6.6. RBV 71%! RBV.q1 P2.1 = 0 RAV = 2.6 + 6 + 1.2) (RAR + RBR) = 0 (13 + 9) = 0 Beban vertikal Reaksi vertikal .10 P1R.2 = 9 ton (µ) 10 Karena tanda RBV adalah positif berarti arah reaksi RBV sama dengan permisalan yaitu (µ) keatas. gaya lintang dan bidang normal. Untuk mengetahui apakah reaksi di A (RA) dan reaksi di B (RB) adalah benar. sedang yang berlawanan arah diberi tanda berlawanan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -53- Gambar 2.12  2.3  2.2 .12 q1.1 = 13 ton (µ)Karena tanda + berarti arah sama dengan permisalan (+) 10 Pemberian tanda pada persamaan berdasarkan atas arah momen.6.6 q1. Balok diatas 2 perletakan dan pembebanannya Diminta : Gambar bidang momen.6. Mencari RAV dengan 7MB = 0 (jumlah momen-momen terhadap titik B = 0) RAV.6  2.

Perletakan B = sendi ada RBH. Untuk mencari RBH dengan memakai syarat keseimbangan ( § H = 0) §H = 0 RBH = P1H + P3 + P4 = 2 + 2 + 3 = 7 ton (³) Menghitung dan Menggambar Gaya Lintang (D) Dihitung secara bertahap Daerah C A lihat dari kiri Gaya lintang dari C ke A bagian kiri adalah konstan DA kr = P1R = .P1R + RAR = -2 + 13 = 11 ton (di kiri potongan arah gaya lintang ke atas). D Beban P1 = 2 2 (45°) bisa diuraikan menjadi P1V = 2t (¶) dan P1H = 2t ( ) P2 = 6 q1 = 2 ton 2t t/m P3 = 2 ton C D 6m RA = 13 t X A .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -54- Mencari Raksi Horizontal Karena perletakan A = rol tidak ada RAH.2 ton (gaya lintang (D) di kiri titik A. di kiri potongan arah gaya lintang kebawah (¶) DA kn (gaya lintang (D) di kanan titik A) DA kn = .

1ton lintang ke bawah) didapat Untuk x = 6 m DD kn : sedikit di kanan titik D. melampaui beban P2. sedang beban yang dihitung dimulai dari titik C. Variabel x2 berjalan dari E ke B. DE = 0 Dx2 = q2 . x2 = + x2 (persamaan liniear) .7 ton (dikiri potongan arah gaya lintang ke bawah) Dari titik D s/d B tidak ada beban. jadi Bidang D sama senilai DD kn (konstan dari D sampai B). Dx = -2 + 13 q1 x = (-P1V + RA q1x) Persamaan (Linier) didapat Untuk x = 0 DAkn = -2 + 13 = + 11 ton 2. DD kn : -2 + 13 12 6 = .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -55- Variabel x berjalan dari A ke D (sebelah kiri titik P2).2 RBV = 9 ton B E P4 = 3 ton Lebih mudah kalau dihitung dari kanan dari E menuju B.6 DD kr= -2 + 13 (di kiri potongan arah gaya 12 = . Daerah B-E 2m q2 = 1 t/m x.

ND kr = . dari E ke B nilai gaya normal konstan. dimana gaya normal dihitung dari titik C.P1H = . Dari kiri DBkn = (-4 + 7) t = + 3 ton (gaya normal menarik batang) MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG MOMEN (M) Daerah C A C P1H = 2t 2m x P1V = 2t A . batang dari D ke B nilai gaya normal konstan).7 ton (kanan potongan arah ke atas) MENGHITUNG DAN MENGGAMBAR BIDANG NORMAL (N) Daerah CD dihitung dari kiri sampai D.2 ton (gaya normal menekan batang) Daerah DB dihitung dari kiri (beban yang dihitung mulai dari titik C. NB kn = + 3 ton (gaya normal menarik batang) Kalau dihitung dari kiri. P2 tidak termasuk dari C ke D nilai gaya normal konstan.4 ton Daerah BE dihitung dari kanan. ND kn = (-2 2) ton = .4 ton (gaya normal menekan batang) NB kr = NDkn = .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -56- DB kn kanan perletakan B (x2 = 2 m) arah ke DB kn = + 2 ton (kanan potongan kebawah) DB kr (kiri titik B) DB kr = + 2 Melewati perletakan B 9 = .

2 x (linier) Untuk x = 0 x=2 Mc = 0 MA = . Daerah A D . x = .P1v .2.4 tm. sehingga tanda negatif (momen P1v .2 = .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -57- Variabel x berjalan dari C ke A Mx = . x mengakibatkan serat atas tertarik (-) ).

5.2 (5.m Letak dimana harga Mmax = Letak dimana harga (D = 0) 2.1 RAV = 13t 2 m Variabel x1 berjalan dari A ke D Mx1 = -P1V (2 + x1) + RA.5 m Mmax = .½ . x1 = 5.22.5)² + 11. 4 lihat pada Gambar .5.5 = 26.x1 Mx1 = -2 (2 + x1) + 13 x1 = .½ q1 x12 + 11 x1 ½ q1 x1² ½ q1 x12 (persamaan parabola) 6 m 4 MENCARI MOMEN MAXIMUM D Mx1 !0 d x1 d Mx1 !  q1 x1  11 ! 0 d x1 p x1 ! 5.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -58- Gaya-gaya yang dihitung mulai dari titik C q1 = 2 t/m P1V = 2t C P1H = 2t A D x.25 tm.

3756 m (yang dipakai) x1 = 10.4 = -2 tm didapat Untuk x2 = 2 . 1. titik E ke titik B) variabel x2 berjalan dari E ke B q2 = 1 t/m P4 = 3 t B 2m x2 E Dihitung dari kanan Parabola Mx2 = .½ q2 x22 Untuk x2 = 0 didapat ME = 0 MB = .62 m (tidak mungkin) Untuk x1 = 6 MD = -36 + 66 4 = + 26 tm Daerah E-B (dihitung dari kanan.x12 + 11 x1 = x12 11 x1 + 4 = 0 4=0 x1 = 0.½ .½ .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -59- Mencari titik dimana M = 0 Mx1 = .q1.

22. N.3756 parabola BIDANG M linier Gambar 2. D balok diatas 2 tumpuan .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -60- P1V = 2 t C =2t A q1 = 2t/m P2 = 6 ton D P3 = 2 ton B RBV ton q2 = 1t/m E P4 = 3 ton = P1H RAV = 13 t RBH 7t =9 11 2 - + 6 t BIDANG D 1 t - 2 t + 7 t 2 t 2 t 4t + 3 t BIDANG N 5.5 m linier - 4 tm + - 2 tm parabola 0.286 0. Gambar bidang M.

D 3m x1 x2 Jawab : Mencari reaksi di D dengan syarat keseimbangan RD = ? 7v = 0 RD P2 P1 q. pilih yang lebih mudah dalam hal ini pilih yang dari kanan.1 = 8 t (o) Untuk menggambar gaya dalam kita bisa dari kiri atau kanan. N.5 = 0 RD = 2 + 1 + 5. N. Contoh 2 Diketahui: KONSOL (CANTILEVER) P2 D 1t C 1m RD 2m B = q=1 t/m P1 2t A Suatu konstruksi konsol (cantilever) dengan perletkan di D = jepit dengan beban P1 = 2t = (¶).9.5 32.3 = 5 ton (dari kanan potongan arah gaya ke bawah tanda positif (+) ).3 = 6 ton Untuk x2 = 5 DC = 2 + 1 + 5 = 8 ton Daerah M B Bidang A (dari kanan) MA = 0 linierGambar 2.5 24. parabola x2 merupakan variabel yang bergerak dari A ke C Daerah B C 10.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -61- 2. P2 = 1t (¶) dan beban terbagi rata q = 1 t/m Ditanya : Gambar bidang M. Bidang M. x1 Untuk x = 3 DB kn = 2 + 1. 5 8 BIDANG D + 1t Bidang D (dari kanan) DA kr = + 2 ton Daerah A B BIDANG M x1 merupakan variabel yang bergerak dari A ke B Dx1 = 2 + q.5 parabola Dx2 = 2 + 1 + q . D Balok cantilever . x2 Untuk x2 = 3 DB kr = 2 + 1 + 1.23.2.

P1. Latihan Balok diatas 2 tumpuan. D dan M 45 ° Soal 2 P ! 3 32 2t t P= HA A VA 2m 4m q = 1 t/m' 45° D B RB 2m C .C : Mx2 = -P1 x2 : MC = -2. Soal 1 P1 = 4t P2 = 4 2t HA A B VA 2m 3m 3m RB Balok AB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 4 ton P2 = 4 2 ton Ditanyakan.5 tm ( 5.1.1 (2.10.5 + 1) = -12 P2.2.3 2.2 ½ q x22 ) 3 5. D dan M Balok ADCB dengan beban seperti tergambar A = sendi B = rol P1 = 3 2 ton q = 1 ton/m· Ditanyakan.MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -62- Daerah B .3. a) reaksi perletakan b) bidang N.5 = 32.5² = .6 ) P2 (x2 3) 1.5 t ( ½ .24.5 MD : . a) reaksi perletakan b) bidang N.

D dan M   £ A B 2t 2m RB 2m C   ¤ 2 2 2t ¢¡   q = 1. reaksi perletakan b). P1 = 2 ton P2 = 2 2 ton .MODUL AJAR II (MEKANIKA TEKNIK) -63- Soal 3 q HA . t/m' VA 6m P1 Balok ADCB dengan beban seperti tergambar : A = sendi B = rol .5 ton /m· ° . a). bidang N. Ditanyakan.

1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A²C C²D D²B A C D B Nilai 4. Rangkuman Dalam suatu konstruksi ada gaya dalam sebagai berikut : M (momen) dengan tanda + D (gaya lintang) dengan tanda + N (gaya normal) dengan tanda + - 2.5 tm 0 Tanda/arah o o p .5 ton 3.5 ton 3.5 ton 4 ton 4 ton 0 4.5 ton 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -1- 2.2. mahasiswa bisa melihat kunci dari soal -soal yang ada sebagai berikut : Jawaban Soal No.2.5 ton 0 9 tm 10. Penutup Untuk mengukur prestasi.tekan + + + + Momen = M .12.11.

tekan + + Momen = M + + Jawaban Soal No.375 ton 2 ton 0 0 7.13 tm 0.08 m kanan A A X = 3.375 ton 2 ton 2 ton 4.0 tm 0 Tanda/arah o o p .08 m D B C Nilai 4. 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D D²B A ² D kiri D kanan B kiri B kanan C A D B C 2 m kanan D Nilai 3 ton 6 ton 3 ton 3 ton 0 3 ton 0 4 ton 2 ton 0 0 6 tm 2 tm 0 4 tm Tanda/arah o o p .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -2- Jawaban Soal No.625 ton 4.625 ton 4.tekan + + Momen = M + + - . 3 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : HA A²D²B²C A D kiri D kanan ² B kiri B kanan ² C X = 3.375 ton 2.75 tm 4.

½ dx dan kanan ada Mx + dMx o ½ qx. qx = beban terbagi rata Mx = momen di potongan I ( ) Dx = gaya lintang di potongan I ( o) qx . dx = berat beban terbagi rata Sepanjang dx Dx + dDx = gaya lintang di potongan II (¶) dDx = selisih gaya lintang antara Potongan I dan II. gaya lintang dan momen. ½ dx ½ q. (Mx + d Mx) = 0 .qx dx d Dx !  qx dx (turunan pertama dari gaya lintang adalah beban) Keseimbangan momen 7 M = 0 di potongan II Mx + Dx dx qx .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -3- 2. Hubungan Antara Momen (M) .dx² } 0 karena dx = cukup kecil dan dx² bertambah kecil sehingga bisa diabaikan. Dx dx dan qx.0 d Mx = Dx . Mx + dMx = momen di potongan II ( ) dMx = selisih momen antara I dan II qx ½ dx beban qx.3.dx Mx Dx M x + dMx D x + dDx batang I dx II Gambar 2. Dengan beban sepanjang dx tersebut kita akan mencari hubungan antara beban.dx.24.dx . Gaya Lintang D dan q (Muatan) Pada gambar terdapat potongan sepanjang dx batang yang diberi beban terbagi rata (qx). potongan tersebut antara I dan II sepanjang dx. distribusi gaya dalam pada balok sepanjang dx Keseimbangan gaya gaya vertikal 7V = 0 di potongan II Dx qx dx (Dx + d Dx) = 0 (kiri ada Dx (o) dan qx dx (q) dan kanan ada Dx + d Dx (q) dDx = . dx o Kiri ada Mx . dx² .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -4- d Mx ! Dx dx * turunan pertama dari momen adalah gaya lintang 2. Dasar Penyelesaian Dalam penyelesaian struktur.4. Pengertian Dasar Balok miring adalah suatu balok yang berperan sebagai pemikul struktur yang posisinya membentuk sudut dengan bidang datar. Namun disini perlu lebih berhati-hati karena dalam baloknya menghitung (b) Gambar 2. balok atap dan lain sebagainya. Pada kenyataan sehari -hari balok-balok tersebut bisa berdiri sendiri atau digabungkan dengan balok vertikal atau horisontal. terutama untuk menghitung dan menggambar gaya dalam adalah (a) sama dengan balok biasa (horizontal). misal : tangga. 2.4. Skema balok miring .25. Balok Miring Pada pelaksanaan sehari -hari sering kita menjumpai balok yang posisinya miring seperti : tangga. Seperti pada gambar. dalam hal ini kita harus tahu bagaimana menyelesaikannya.1.

Beban P 1 = 4 t vertikal di C dan beban P2 = 4t vertikal di D. D Jawab: q = 1 t/m B rol P 1=4 C P2=4 t D A R AH ­ E 1m 1m 1m RB Di B 3 m = rol jadi reaksinya hanya satu B sumbu batang 5 3 E send RAV 4m 1m 2m 1m 4 di B = rol jadi reaksinya hanya satu B sumbu batang . 2. N. dan beban terbagi rata q = 1 t/m dari D ke B dengan arah vertikal.2. perletakan B = rol duduk pada bidang miring // dengan sumbu batang. perletakan A = sendi duduk di bidang horizontal.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -5- Dalam hal ini mahasiswa bisa lebih mendalam dalam pengetrapan pengertian gaya -gaya dalam pada semua kondisi balok. Contoh soal Diketahui Suatu balok miring di atas 2 tumpuan. Ditanya : Gambar bidang M.4.

2. 7H = 0 RB sin2 = 0 3 RAH = .6 ton (arah R B B sumbu batang) RB.2 q.3 RAV.26.4 RAH.1.5 q.3 4.3 4.3.16 ton 5 Mencari R AV dengan 7 M B = 0 RAH RAH RAV 7 MB = 0 RAV.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -6- Gambar 2.12 ton P2.2.1 = 0 RB = 5 Untuk mencari R AV dicari dulu R AH dengan syarat keseimbangan horizontal.3 RAV = 7.5 1.a. Reaksi di B RB B bidang sentuh RB dicari dengan 7 MA = 0 RB.3 P2.1 = 0 .2 4.1 = 0 4.2. Pembebanan pada balok miring Untuk mencari reaksi kita lebih cepat kalau yang dicari reaksi di B dulu.16.6 ton = 2.2 2.4 2.1 = 0 18 ! 3.3 P 1.2 P1.

2 ton (dari kanan) ND kr = .E!4.6 + 2.(4 + 2) sin E = -6 .x .6 ton NC kr = .2 ton Dc kr = . sin E = -2 .6 ton MENGHITUNG GAYA LINTANG (D) (dari kanan) DB kr = .1.// sumbu batang .3.6 + (2 + 4) 4/5 = 1.3/5 = .3.3.B sumbu batang 1 m a E q q E b Gambar 2.6 + q.2 ton DD kr = -3. Distribusi beban pada balok miring Gaya yang // sebagai bata ng Gaya yang B sebagai batang menjadi gaya normal (N) a ® ! q sin E ¾ ¯ ¿ b ° ! q cos E À menjadi gaya lintang (D) ND kn = -2q .b.3. cos E DD kn = . cos E= .RB = .4 ton 4/5 .6 + q.(4 + 4 + 2) sin E = -10. 3/5 = -1. 4/5 = . 3/5 = .6 + (2 + 4 + 4) cos.6 ton Dari B ke D Dx = .26.3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -7- MENGHITUNG BIDANG NORMAL (N) Beban P dan q diuraikan menjadi : .2 .3.

75 Gambar bidang M.  .1 4. D 1 t/m 4t B . N.6 .1 = + 5. 3 .2.1.q.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -8- 1 t/m B 4t 4t D A 1m C 1m 2m x 3m 1 t/m MENGHITUNG BIDANG MOMEN (M) Dihitung dari kanan B ke D 4 t C A Untuk x = 0 Untuk x = 2 MB = 0 M D = 3.6 .5 tm = 3.2 cos E 2.2 P.q.x ² cos E 2 x cos E E x Mc = RB . 3.4 !  7 tm 4/5 2 4 t D x B RB x 1 Mx = RB . 2 1  .

Gambar 2.27. Bidang gaya dalam pada balok miring . Seperti contoh dibawah ini.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -9- Seperti teori sebelumnya kita bisa menghitung gaya -gaya dalam dari dan hasilnya harus sama.

3. 3/5 + 2. 3/5 = 0 ton Gaya lintang DA kn = R AV cos E .2 ton Gaya normal dari D ke B linier { NB = . sin E E RAV . cos E . Contoh dinding dinding tangki tangki Sin E = 3/5 Cos E = 4/5 air . DB = -2 2. 3/5 = 4. 4/5] = . 4/5) = .1. cos E RAH diuraikan menjadi : RAH. namun ada yang berbentuk segitiga seperti beban tekanan .6 ton 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -10- PERHITUNGAN DARI KIRI RAV diuraikan menjadi : RAV.2 + q.12 4). cos E (gaya // sumbu batang) RAV. NDkn = . sin E + RAH . Gaya lintang dari D ke B adalah linier karena ada beban terbagi rata.16 t D = + RAV .1 . Sin E (gaya // sumbu batang) RAH  RAV = 7.2 . beban tekanan tanah dan lain sebagainya.16 . sin% E E RAV R AH sin E A E RAH cos E N = .2 ton. Cos E (gaya B sumbu batang) RAV . sin E NB = . 3/5 = 1.3.[(7. 3/5 + 2.16 .(RAV .1.5. Beban Segitiga Pada kenyataan di lapangan beban tak hanya terpusat a tau terbagi rata.6 ton t Gaya normal di C kanan ke D kiri adalah konstan Di Nc kanan ada pengaruh beban P = 4 ton.[(7. sin E (gaya B sumbu batang) RAH.12 .1 .12 NA kn = .6 ton Gaya normal di D kanan ada pengaruh P = 4 ton.16 .12 4) 4/5 2.2 + 2.5. 2.16 .RAH .1.12 .16 . 4/5 = .(7.2 ton Gaya lintang di D kanan ada pengaruh P = 4t DD kn = (7. DA kn = 7. 4/5] = . Cos E) RAH = 2.12 4 4) 4/5 2.16 .12 4 4) 3/5 + 2.1. NC kn = . Pengertian Dasar Beban segitiga seiring terjadi pada kenyataan di lapangan seperti beban tekanan air dan tekanan tanah. 4/5 2. 3/5 = .R AH sin E Gaya lintang dari A kn ke C kiri adalah konstan.4 ton Gaya lintang di C kanan ada pengaruh P = 4 ton Gaya lintang dari C kanan ke D kiri adalah konstan Dc kn = (7.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-11-

2.5.2.

Gambar 2.28.a. Diagram beban segitiga

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-12-

Dasar Penyelesaian Prinsip dasar penyelesaiannya adalah sama dengan yang lain -lain namun kita harus lebih hati -hati karena bebannya membentuk persamaan.

Persamaan a x = x .a l ax A Px a.l 6 B

a t/m

RA =

2/3x 1/3x

RB = P=

a .l ton 2 x Gambar 2.28.b. Beban segitiga pada struktur

a .l 3

l Mencari Reaksi Perletakan Titik berat beban P : 2/3 l dari A atau 1/3 l dari B 1/ 3 l 1/3 l § M B ! 0 p R A .l  P .12/3 ! 0 p R A ! / 3l l P l 1 / 3 l a.l a.l ton RA ! x ! 2 6 l 2/3 l § M A ! 0 p R B .l  P . 2 / 3 l ! 0 p R B ! P l 2 / 3 l a.l a.l x ! R ! ton l 2 3

Menghitung Bidang D (dari kiri) X = variable bergerak dari A ke B x Di potongan x ax = . a l Beban segitiga sepanjang x Px = ½ x. ax ax ² x Beban Px = ½ x . . a ! 2l l Persamaan gaya lintang : a.l ax ² Dx = RA Px = (parabola)  6 2l Persamaan pangkat 2 Mencari tempat dimana gaya lintang = 0

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-13-

D=0

RA Px = 0 a.l ax ² l² ! p x² ! 6 2. l 3 XD ! 0 ! l² 1 ! l 3 3 3

MENGHITUNG BIDANG M x Mx = RA . x Px . 3 a.l ax ² x = .x  . 6 2 .l 3 a a .l = (persamaan pangkat 3 / parabola) x  . x³ 6l 6

M max terletak di daerah untuk D = 0 1 x= l 3 3 3 a.l ¨ 1 ¸ ¸ a ¨1 M max = l 3¹ l © l 3¹ © 6 ª3 º º 6 ª3 a.l² a .l² 3 3 = 54 18

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-14-

Contoh Perhitungan ax = x
2/3 x 1/3 x

x .3 6 Jawab : h=3 ton/m TOTAL BEBAN B P=½lxh RB P= 7 MB 0 RA = 7 MA 2 .9 = 3 ton 6 RB . l P.2/3 l = 0 RB .6-9.4 = 3.6 = 9 ton 2 RA.l P l/3 = 0 RA . 6-9.2 =

A Px RA 2 l/3 l=6 m P l/3

3,464 m 3t + D=0 BIDANG D 6t

0 RB = 4 .9 = 6 ton 6

Menghitung Bidang D x = variable bergerak dari A ke B ax ! x x .3 ! 2 6

Gambar 2.29. Bidang gaya dalam pada beban segitiga x = 0 DA = + 3 ton x = 6 DB = - 6 ton + Menghitung Bidang M x Mx = RA . x Px . 3 x² x x³ = 3x . ! 3x  BIDANG 4 3 12 Mmax M D=0 M max (x = 3,464 m) M
max

Px = ½ x . ax Px ! x x x² . ! 4 2 4 Dx = R A Px

Persamaan gaya lintang Dx = 3 x² 4

Tempat dimana gaya lintang = 0

x² D=0 !3 3 4 ¨ 3,464 ¸ 3.3,464 - © ¹ ! 10,392  3,464 ! 6,928 tm ª 12 º

2.5.3. LATIHAN Soal 1 : Balok Miring

B = rol.5 t/m' P=4t B HA A E 3m RB VA 4m Soal 3 : Balok dengan beban segitiga. D dan M Soal 4 3m ¦ ¥ q 1 t/m' C B ¥ P 3t Balok miring ABC ditumpu di A = sendi. q t/m' X RHA A VA L Balok AB dengan beban segitiga seperti tergambar A = sendi. Beban q = 1 t/m· . a) reaksi perletakan b) bidang N. P = 3 ton Ditanyakan. RB . a) reaksi perletakan b) bidang N. D dan M 30° . B = rol Ditanyakan. seperti tergambar. D dan M Portal ACB dengan perletakan A = sendi . a) reaksi perletakan c) bidang N. seperti tergambar Beban q = 1 t/m· . B = rol.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -15- HA A VA 6m 1m Soal 2 q = 1. P = 3 ton Ditanyakan.

B = rol.815 t 4.12 ton 5.50 t 2.76 ton 1.88 m Nilai 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -16- RHA A B RAV 4m RB 2m C Balok ABC dengan beban segi tiga q = 3 t/m ditumpu pada A = sendi .50 t 1.tekan + + Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Momen = M § q 3 t/m' + .88m jarak miring dr A A B C X = 2.4. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi miring Titik A : VA B : RB Atau : H B VB A : HA A B kiri B kanan ² C A B kiri B kanan ² C X = 2. Penutup Untuk mengukur prestasi. 2. Rangkuman - Balok miring adalah balok yang seiring dipergunakan dalam struktur tangga. mahasiswa bisa melihat kunci soal -soal yang ada sebagai berikut : Soal no.63 t 2. Ditanyakan.tekan . ketelitian perhitungan perlu. besarnya merupakan fungsi x. Beban segitiga (() adalah beban yang terjadi akibat tekanan air dan tekanan tanah.5.11 tm Tanda/arah o n o p .5. a) reaksi perletakan b) bidang N.88 t 3 ton 9.16 t t 2.6 t 0 0 3 tm 0 3. seperti tergambar.5.tekan . D dan M 2.

l 6 q.l 6 q.2 ton 0 4 ton 0 12 tm(max) 9 tm 0 Tanda/arah o o p . 4 .. B «««.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -17- Jawaban soal no.5774 L dari A A B C X= Nilai q. 2 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Data pendukung Gaya normal = N Titik A : VA B : RB A : HA Sin E Cos E A C bawah C kanan ² B A C kiri C kanan ² B A C X = 2 m horisontal dari A B Nilai 6 ton 4 ton 0 3/5 4/5 3. Jawaban soal no. 3 Keterangan Reaksi vertikal Titik A : RAV B : RB Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D A : RAH A-B A «««.l 3 0 0 q.l 3 0 0 0 0. X= Momen = M L 3 = 0..06415 x q x l2 (max) + Tanda/arah o o + - L 3 ««««.tekan Gaya lintang = D + + + Momen = M Jawaban soal no.6 ton 0 0 5.

7. 2.6. Bab I Soemono. Bab I.5 ton 1 ton 0 0 0 0. Mekanika Teknik Statis Tertentu .5 ton 0 0 4. ITB.5 ton 3.5. UGM.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -18- Keterangan Reaksi vertikal Reaksi horisontal Gaya normal = N Gaya lintang = D Titik A : VA B : RB A : RAH A²B-C A B kiri B kanan C X = 2. Daftar Pustaka - Suwarno. Senarai Balok miring = balok yang membentuk sudut Beban segitiga = besarnya merupakan fungsi x .5.24m dari B A B X = 2.5 ton 4.73 tm Tanda/arah o o p + + Momen = M + 2.67 tm 3.24m Nilai 4. Statika I .

a l a .2 2 = panjang beban terbagi rata 2 = jarak titik berat q ke titik D.2.l ton Resultante Beban : P = 2 Persamaan garis ax = Diketahui : .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -19- 4/5 RB RB 3/5 R B catatan : q. x Di ujung titik A RAV dan RAH diuraikan menjadi gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar) dengan sumbu x = jarak R B ke sepanjang batang cos E BD x .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -20- Balok di atas 2 perletakan A dan B. bagaimana penyelesaiannya bisa lihat dalam contoh soal.l 6 B a t/m RA = 2/3x 1/3x x l 2/3 l RB = P= a . dengan beban segitiga diatasnya.a l ax A Px a. seperti bebab Tekanan tanah dan beban air pada tandon air. Balok statis tertentu diatas 2 perletakan dengan beban U (segitiga) seperti pada gambar.l ton 2 a. Tahap penyelesaiannya adalah sebagai berikut : Persamaan a x = x .l 3 1/3 l . Ditanya : Selesaikan dan gambar bidang gaya dalamnya Pada pelaksanaan sehari -hari sering dijumpai beban yang berbentuk linier segitiga. tinggi beban di atas perletakan B adalah 3 ton/m = h.

Gelagar Tidak Langsung 2. dan profil baja. Untuk jembatan dimana yang roda kendaraan tidak bisa langsung diterima oleh struktur utama disebut dengan gelagar tidak langsung atau beban tidak langsung yang mana da lam penggambaran seperti pada Gambar 2. bambu.31.1. maka roda kendaraan tidak bisa secara langsung diterima oleh struktur kayu. maka dalam hal ini roda kendaraan bisa diterima langsung oleh plat lantai yang terbuat dari beton tersebut. Plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton Gambar 2.31). gelagar memanjang dan plat lantai dasar (lihat Gambar 2. bambu. bambu atau baja tersebut.30.6. Jembatan dengan gelagar langsung Jembatan yang roda kendaraannya bisa diterima langsung oleh plat lantai kendaraan yang terbuat dari beton disebut dengan gelagar langsung. baja. Pengertian Dasar Ada beberapa macam model jembatan yang ada di lapangan yaitu jembatan yang terbuat dari beton dan jembatan yang terbuat dari kayu. melainkan harus lewat suatu perantara yang disebut dengan gelagar melintang.6. . Kalau jembatan yang terbuat dari beton karena bentuknya bisa dibuat sesuai dengan yang diinginkan. Untuk jembatan yang terbuat dari kayu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -21- 2.

memanjang Potongan Melintang Gambar 2.31. melintang Potongan melintang Gelagar induk Gel. Skema gelagar tidak langsung dari suatu jembatan .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -22- arah muatan aspa l Gel.

tida k langsung Gambar 2. Skema Penggambaran MuatanTidak Langsung dalam Mekanika Teknik Untuk mempercepat perhitungan maka struktur dengan muatan tak langsung harus mengalami penyederha naan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -23- 2. memanjang gel. Cara distribusi beban Karena roda kendaraan tidak langsung diterima oleh gelagar utama (gel. maka beban yang diterima oleh gelagar induk tidak selalu sama dengan beban yang berada diatas jembatan. gel. tidak 2. melintang P gelagar induk / utama beban terbagi rata tersebut akan ditransfer ke gelagar induk melewati gelagar melintang jadi yang sebenarnya beban merata.2. gel. melainkan lewat perantara gelagar melintang. Penyederhanaan awal.6.33.3.6. melintang gel. mas uk ke gelagar induk (utama) menjadi beban P beban terbagi rata diatas gel.32. untuk gel. Penyederhanaan akhir. q kg/m beban terbagi rata gel. induk / Gambar 2. induk). memanjang P P P .

II I q t/m Potongan I I = tepat diatas gel.qP² . melintang.qP² = 4 q P² (muatan tidak langsung) II P/2 P I P gelagar induk 6P P P 3 q P II I 3qP . melintang Menghitung momen di potongan I -I P P/2 M I (untuk potongan I -I) M I = RA . melintang Potongan II-II = ditengah-tengah gel. dimana P Q1 Q2 Q2 = b a Q dan Q1 ! x x A Gambar 2.P/2 . 2P . Distribusi beban terpusat pada gelagar tidak langsung BEBAN TAK LANGSUNG Contoh : Suatu gelagar yang tidak langsung mendapat beban q t/m¶ dengan jumlah bentang gel.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -24- a Q b Jika beban terpusat Q berada diantara gel.35. memanjang genap. P = 6q P² . maka Q tersebut didistribusi menjadi beban Q 1 dan Q 2. 2P .P.

1. 2P .5 P . Melintang) boleh dihitung sebagai beban langsung.2 q P² = 4 q P² Catatan : Besar M (momen) pada titik balok penghubung (gel.1.125 q P²) q t/m Perbedaan tersebut adalah dari : P 0.5 P)² = 4.375 qP² .½ q (1.125 q P ² 8 P/2 = 3 qP . 1.½ q (2P)² = 6q P² .125 qP² = 3.25 q P² Perbedaan momen (0. 1. Penyelesaian : P=qP RA = RB = 3q P Beban diantara perletakan P = q P Beban di atas perletakan P/2 = q P/2 Perhitungan Momen Pada Potongan II q t/m II Dengan memakai beban langsung MII II P 3qP ½ qP qP II Jika dihitung dengan beban tidak langsung P 3qP P/2 q t/m II M II = 3q P .q P .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -25- Kalau dicek memakai muatan langsung adalah : M I = beban langsung M I = 3.5P .q P .125 qP² Momen lantai = kendaraa 1 q P ² ! 0.5 P .5 P² .½ q P . ½ P = 3.

maka gambar bidang D (bidang gaya lintang).125 q P² = 3. Perhitungan gaya lintang (D) ½ P P P P P P ½ P Walaupun beban terbagi rata.25 q P² jadi dalam hal ini ada perbedaan nilai perhitungan momen pada gelagar tak langsung untuk potongan dibawah gelagar melintang dan potongan diantara gelagar melintang.37.375 q P² . namun s eperti gaya lintang beban terpusat. garisnya 3P P 2½ P P + P P P Bidang D 3P bukan linier. lantai = 3. tapi kalau gelagarnya tidak langsung. Bidang gaya l intang (D) dari gelagar tidak langsung .0. 2½ P Gambar 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -26- Catatan : Momen tidak langsung (diantara gelagar) MII = M langsung M.

2. D. Bidang N.4. q = 1.6. RB b). transfernya ke gelagar utama selalu berbentuk beban terpusat.5. M 1 2 3 HA VA P P P = 2m Soal 2 : P1=3t 1m 2 3 A 4 P 5 B R B P2=1t 4 5 B P RB C 6 1 HA P VA Balok ABC mendapat beban tak langsung seperti tergambar.6. 2. Latihan Soal 1: q = 1.6. Rangkuman - Gelagar tidak langsung biasanya terdapat pada jembatan kayu atau baja - Apapun bentuk beban yang terdapat diatas jembatan. Penutup Untuk mengukur prestasi.5 t/m sepanjang bentang. H A .5 t/m Balok AB mendapat beban tak langsung seperti tergambar. Ditanyakan : a). Gaya reaksi V A. mahasiswa bisa melihat hasil atau kunci kunci yang ada. Bidang N. . Gaya reaksi V A. D.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -27- 2. H A. M. 3t P 2 = 1t P1 = P = 3m P P Ditanyakan : a).6. RB b).

25 t 1.5 t 0 9 tm 12 tm 9 tm 0 Arah / Tanda o o q q q q q         Soal No.5 t 0 4.25 t 1. 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 6 1-2-3-4-5-6 1-2 2-3 3-4 4-5 5-6 A=1 2 3 4 Nilai 1.5 t 1.5 t 3.00 t 0 5.25 tm 4.5 t 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -28- Soal no 1 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Beban Pada Titik Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M Titik A : VA B : RB A : HA 1 2 3 4 5 1-2-3-4-5 1-2 2-3 3-4 4-5 A=1 2 3 4 5=B Nilai 6t 6t 0 1.5 t 4.5 tm 0.75 tm Arah / Tanda o q q q         Gaya Normal = N Gaya Lintang = D Momen = M .25 t 0 0 2t 1t 0 0 1t 0 1.25 t 1.0 t 3.75 t 2.0 t 1.75 t 0.0 t 3.

5 ton 3. Daftar Pustaka - Soemono.24 m dari B A B X = 2.5 ton 1 ton 0 0 0 0. UGM Bab I. 2. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -29- Gaya Normal = N Gaya Lintang = D 5=B 6=C A B C A B kiri B Kanan C X = 2. Mekanika Teknik Statis Tertentu . ITB-Bab I Suwarno. Statika I .6.73 tm  + + Momen = M + 2.7. Senarai Muatan tak langsung = beban tak langsung = beban yang tak langsung terletak di balok induk.0 tm 0 0 4.24 m 3.6.67 tm 3.8.

Definisi Garis pengaruh : adalah garis yang menunjukkan besarnya R (Reaksi). dan gaya no rmal. maka didalam suatu garis pengaruh. atau gaya dalam M (Momen). Sedang bentuk garis pengaruh tersebut adalah suatu garis yang menunjukkan nilai dari apa yang akan dicari tersebut misal : Reaksi (R) atau gaya momen (M) atau. atau D (Lintang) disuatu titik akibat pengaruh dari muatan sebesar 1 ton berjalan. Garis Pengaruh 2. Garis pengaruh ini sebagai alat bantu untuk mencari nilai reaksi. tersebut berjalan suatu muatan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -30- 2. Untuk menjawab hal tersebut diperlukan suatu garis pengaruh. gaya lintang dan gaya normal.7.7. gaya momen.7. Pendahuluan Kalau kita meninjau atau melihat suatu jembatan. atau N (Normal). reaksi-reaksi kemudian gaya -gaya dalamnya yaitu. Pengertian Dasar Untuk mempermudah suatu penyelesaian. muatan yang dipakai sebagai standard adalah beban P sebesar satu satuan (ton atau kg atau Newto n) yang berjalan diatas struktur suatu jembatan tersebut.1. maka kaitannya adalah : Berapa besarnya nilai maksimum dari gaya -gaya dalam di suatu tempat di struktur tersebut. jika di atas struktur jembatan 2. Di sisi lain kalau kita meng analisa struktur maka yang dicari dari struktur tersebut adalah. maka struktur tersebut selalu dilewati oleh suatu muatan yang berjalan. Jika dua hal tersebut dipadukan. gaya lintang. gaya momen.2. gaya lintang (D) atau gaya normal (N) di suatu tempat pada gelagar tersebut. . jika ada muatan yang berjalan di atasnya ?.

R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) 7 MB = 0 RA = G. R B + G.x = 0 P. Gambar garis pengaruh R A dan RB .x) l  x ! ton (linier ) l l x=0 x=l RA = 1 ton RA = 0 ton Untuk P di A Untuk P di B + 1 ton G.P.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -31- Contoh 1 : Mencari garis pengaruh Reaksi (R A dan R B) x P=1 ton A RA l x = variabel sesuai letak (posisi) P yang bergerak dari titik A ke titik B B RB Muatan P = 1 ton berjalan dari A ke B G.x x RB = ton (linier) ! l l 1 ton Untuk P di A Untuk P di B x=0 x=l RB = 0 RB = 1 ton Gambar 2.l P.P.P.38. R A RA .RB (Garis Pengaruh Reaksi di B) 7 M A = 0 R B. l P (l-x) = 0 P(l .P.

maka besarnya reaksi di A RA = y1 dan besarnya reaksi di B R B = y2.39.beban tidak=sama atau 4b 4a dengan 1 ton RA = dan RB ! l l . dimana d c ton dan y 4 = ton. Kegunaan dari garis pengaruh untuk beban di titik c * Jika beban P = 1 ton berada di atas titik D sejauh c dari perletakan A dan sejauh d dari perletakan B.41.40 P= 4 ton A a + y1 C b 1t GP.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) Garis ini menunjukkan besarnya nilai R A sesuai dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar Ini adalah GP. jadi y3 = l l d c RA = ton dan R B = ton B l l Gambar 2.R B Gambar 2.RA + y4 + b 1t l RB Ini adalah GP.R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) Garis ini menunjukkan besarnya n ilai R B sesuai B dengan posisi P yang berjalan diatas gelagar P=1 t B 1t 1t GP. maka besarnya reaksi di A R A = y3 dan besarnya reaksi di B 1t RB = y4.3. dimana 1t b a y1 = ton dan y 2 = ton.R B + 1t Bagaimana kalau P tidak sama dengan 1 ton Jika P = 4 ton terletak di titik c Maka untuk y1 dan RB 4 .RB Gambar 2.R A y2 GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -32- 2. Kegunaan garis pengaruhRA = 4 . Kegunaan digaris pengaruh untuk beban di titik D GP. jadi l l b a ton dan R B = ton RA = l l B Gambar 2.39 A c 1t + y3 GP. Kegunaan dari suatu Garis Pengaruh X A RA + GP.R A + P=1 GP.RA + P=1 t D d * Jika beban P = 1 ton berada di titik C sejauh a dari perletakan A dan sejauh b dari perletakan B. y2 Gambar 2.R B t A C a + y1 y2 GP.7.40.

RB = 4 y2 + 6 y4 = 4 y4 b d ton  6 ton l l c a ton  6 ton l l Gambar 2. Kegunaan garis pengaruh untuk beban P = 6t GP. sejarak d dari titik B.D) P = 1 ton berjalan dari A ke B X = variabel yang bergerak sesuai dengan posisi P dari A ke B C = suatu titik terletak antara A B . Mencari Garis Pengaruh Gaya Lintang (G.43.42.RB P= 4 ton A a C 1t Bagaimana kalau ada beberapa muatan : y Jika di atas gelagar ada muatan P1 = 4t di c.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -33- P=6 t A c 1t + y3 GP. dan P 2 = 6t sejarak c dari titik A. sejarak b dari titik B.RA 1t d B + + D d B Jika P = 6 ton terletak ti titik D Maka RA = 6 .R B + y3 GP.P. maka 1t RA = 4y1 + 6y3 = 4 . Kegunaan garis pengaruh untuk beban P 1 = 4 ton dan P 2 = 6 ton Beberapa Contoh 1. y3 dan R B = 6 y4 atau RA = c 6d ton dan R B ! 6 ton l l Gambar 2.R A y4 P2= 6 ton D b c y1 + y2 GP. sejarak dari titik A.

Gambar garis pengaruh gaya lintang . R B - b/l G. Dc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C 7 MA = 0 RB .P. D c Untuk P di C kn Dc = l a b ! ton l l ll ! 0 ton l Gambar 2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -34- P = 1t x G.P.P.x = 0 P berjalan dari A ke C A RA a l RB RB = b Px x ! ton l l Dc dihitung dari kanan Dc = -RB =  P = 1t x Untuk P di C kr x = a A C a l x ton (linier) l x=0 Dc = 0 Dc = - Untuk P di A a ton l B P berjalan dari C ke B P (l  x ) l  x RA = ! ton l l Dc dihitung dari kiri + Dc = RA = G.44.P. R A l x ton (linier ) l x=a G. l P.

M c ¨l a¸ b © ¹ ! . a tm = © ¹ . tm ª l º l Untuk P di B x=l ¨l l ¸ Mc = © ¹ a . b =  Untuk P di A x .P. Gambar garis pengaruh momen di c (GP Mc) . a .b tm l x=0 x=a P = 1t x A C B Untuk P di C P berjalan dari C ke B RA = P (l  x ) l x ton ! ton l l Mc dihitung dari kiri + GP RB.P. a tm ª l º Untuk P di C GP R A.b tm l ¨l x ¸ Mc = + RA .45.a x=a Mc = G. tm ª l º = 0 tm Gambar 2. Mc (Garis Pengaruh Gaya Lintang di C) B C RA a l b RB P berjalan dari A ke C RB = Px x ! ton l l A Mc dihitung dari kanan Mc = + RB .b a.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -35- Mencari Garis Pengaruh Momen (G.P.M) P = 1 ton berjalan dari A ke B x = variabel yang bergerak dari A ke B sesuai posisi P. b tm (linier ) l Mc = 0 Mc = + a . P = 1t x G.

R B : 7 . DBkn Jawab : GP. RB. M A = 0 RB = x ton lt RB = 0 RB = 1 ton GP.2 ! MD = 3 l 6 Untuk P di B x = 8 m 2 68 MD = .M D + GP.R B 1 t 3 2 3 + GP. 4 tm l Untuk P di A x = 0 MD = 0 Untuk P di D x = 2 m 2.RA + P B C Diketahui : Balok ABC diatas 2 perletakan A dan B Ditanya : Gambar Garis Pengaruh R A. Contoh lain x D A 2 m l=6 m GP. M D. DD.DD - 1 t 3 GP.4 4 MD = ! tm 6 3 P antara D-C lihat bagian l x M D = RA .2 - GP.2 l Untuk P di D x = 2m 4 l 2 62 . MD lihat kanan bagian x M D = RB .R B + 1t 4 3 Untuk P di A Untuk P di B Untuk P di C 8 8 ! ! RB = l 6 x=0 x=l x=8 4 ton 3 2/3 ton GP.R B. 4 = . 2 = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -36- 3.R A.R A .2 ! tm . t !  tm 3 63 P antara A-D 4 tm 3 GP.R A : 7 MB = 0 - l 1= 2 m RA = lx ton l 1t 1/3 t Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di B x = l RA = 0 Untuk P di C x = 8 1 l 8 68 2 RA = ! !  ton ! ton 3 l 6 6 GP.4 GP.

DBkr 1t GP.RB = P di A P di D lihat kanan bagian x ton l x = 0 DD = 0 x = 2 DD = -2/6 ton = -1/3 ton lihat kiri bagian P antara D-C D D = RA = P di D P di B P di C l x ton l DD = x=2 x=6m x=8m 62 2 ! ton 6 3 DD = 0 DD = 68 1 !  ton 6 3 Bkn GP.RB lihat kanan bagian Bkr A B GP.M B P antara A MB = 0 x P antara B M B = -x tm P di B P di C Gambar 2.46.MB 2 tm GP.DBkr C P antara A-Bkr DBkr = .DD P antara A-D D D = .DBkn P antara A DBkn = 0 GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -37- GP.R B GP.D Bkn 1t + P antara B C lihat kanan bagian B lihat kanan bagian DBkn = P = 1 ton GP.R A 1/3 t P antara B-C DBkr = + RA lihat kiri bagian GP. Gambar knmacam-macam garis x=0 x = 2m MB = 0 M B = -2 tm C lihat kanan bagian B lihat kanan bagian .

LATIHAN Soal 1 ¨ P berjalan 1 t bejana A B I RA 3m 5m RB a) Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC. MI max. GPMI b) Bila beban P1 = Ditanya. M max. P2 = 2t P = 1 t berjalan I RA 4m 5m Akibat beban P = 1ton berjalan diatas balok ABC. 3m berjalan. 4t DI (+) max.4. Soal 2 A 3m berjalan. GPRB. max.    ©  B RB 3m C . GPD I. DI (-) max. MI max. GP D I. ditanyakan GP R A.7. RB max.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -38- 2. GP MI a) Bila beban Ditanya. GP RB. ditanyakan GPR A.

6.3 ton MI max.5. = + 9 tm Mmax.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -39- 2. 1 Keterangan RA RB DI P = 1 ton di titik A B A B A I kiri I kanan MI A B I Nilai 1 ton 0 0 1 ton 0 3 t 8 5 8 0 0 15 tm 8 Tanda/arah + o + + o + RA max. Rangkuman o Garis pengaruh adalah : garis yang menunjukkan besarn ya reaksi atau gaya-gaya dalam disuatu titik. o Beban yang dipakai untuk garis pengaruh adalah satu satuan muatan (ton atau kg atau Newton). Penutup o Untuk mengukur prestasi. = + 9. mahasiswa bisa melihat hasil jawaban sebagai berikut : Jawaban soal no. akibat muatan berjalan sebesar 1 ton.1875 tm .7. = + 5. = + 3. 2.7.5 ton D I (+) max. Max.

2 Keterangan RA P = 1 ton di titik A B C A B C A I kiri I kanan B C A B I C A B C = + 5.2 tm 0 0 3 TM Tanda/arah + + + + o o o o RB DI MI + - MB - RB max. Statika I .7.Garis pengaruh - Beban berjalan .7. 2.3 ton 0 1 ton 1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -40- Jawaban soal no.4 ton 0.3 ton 0 0.175 ton = + 9. ITB. MI max.Soemono. Mekanika Teknik Statis Tertentu .7. - Suwarno.4 tm 1. Senarai .8. Bab I.6 ton 0 0. UGM Bab I.3 ton 0 0 2.18 tm Nilai 1 ton 0 0. Daftar Pustaka . 2.

1. A B Jembatan berbentang satu Kalau dilihat pada gambar b. a).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -41- MODUL : 3 : ARTI BALOK GERBER DAN CARA PENYELESAINNYA 3. perletakan di B terdapat 1 reaksi (karena B = rol) yaitu R BV. perletakan di C ada 1 reaksi (karena C = rol) yaitu R . Untuk mengatasi penyeberangan sungai penampang cukup besar (>100m) ( ) maka dibuatlah suatu jembatan yang berbentang lebih dari satu. yaitu 3 buah dimana A = sendi. syarat -syarat yang diperlukan untuk menyelesaikan dan mahasiswa bisa menggambarkan bidang -bidang gaya dalam balok tersebut.1. perletakan dari jembatan tersebut > 2 buah. Tujuan Pembelajaran Khusus Mahasiswa diharapkan bisa mengerti dengan seksama tentang pengertian balok gerber. Pendahuluan Didalam kenyataan se -hari-hari jarang dijumpai jembatan y ang berbentang Satu. 3. Kalau di perletakan A terdapat 2 reaksi (karena A = sendi) yaitu R AH dan R AV. sehingga mempunyai perletakan > 2 buah.1. ( yang mempunyai lebar > 100 m ). maka jumlah . Judul : BALOK GERBER Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini diharapkan mahasiswa mengerti apa arti balok gerber serta mengetahui bagaimana cara menyelesaikan struktur tersebut. B = rol dan C = rol.

1. Dalam kondisi tersebut konstruksi masih tertentu.2. Kalau 1 (satu) persamaan baru tadi bisa disediakan maka syarat syarat keseimbangan masih bisa dipakai untuk menyelesaikan konstruksi jembatan (b) tersebut (4 buah bilangan yang dicari yaitu R AV.2. RBV. supaya bilangan yang tidak diketahui yaitu RAV. karena masih bisa diselesaikan dengan statis syarat -syarat keseimbangan dan konstruksinya dinamakan dengan konstruksi balok gerber. RCV bisa didapat sedang untuk konstruksi statis tertentu persamaan yang tersedia hanya 3 buah yiatu 7V = 0.1. 7M = 0. Macam-macam bentang jembatan Jika dalam persamaan keseimbangan hanya punya 3 buah ( 7V = 0. Definisi Balok Gerber Dengan uraian seperti dalam pendahuluan. RCV dengan 4 buah persamaan yaitu 7V = 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -42- b). maka persamaan baru tersebut adalah 7 M D = 0 Sedang titik D tersebut disebu t dengan sendi gerber A B D C Sendi gerber Gambar 3. maka bisa didefinisikan bahwa : . 7H = 0. 7M = 0 dan 1 (satu) persamaan baru). Jika 1 (satu) persamaan baru tersebut dengan memberikan 1 buah perletakan baru di D yang berbentuk sendi. A B C Jembatan berbentang lebih dari satu Gambar 3. RBV. 7H = 0. 7H = 0. 7M = 0) berarti untuk bisa menyelesaikan struktur jembatan (b) masih memerlukan 1 buah persamaan baru lagi. RAH. Skema balok gerber 3. RAH. dalam keadaan tersebut konstruksi jembatan (b) disebut dengan kontruksi statis tidak tertentu.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -43- Konstruksi balok gerber : adalah suatu konstruksi balok jembatan yang mempunyai jumlah reaksi perletakan > 3 buah. namun masih bisa diselesaikan dengan syarat syarat keseimbangan. .

Kondisi kontruksi tersebut adalah : Jumlah bilangan yang tidak diketahui = jumlah persamaan yang ada ( 7V = 0. dimana ada 2 reaksi yaitu R AV dan R AH. B = rol. C = rol. dimana ada 1 reaksi yaitu R CV Jadi jumlah reaksi adalah 4 buah yaitu. 7H = 0. 7H = 0. yang masih statis tertentu. RAH. . disebut dengan konstruksi balok ge rber.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -44- Contoh : Sendi gerber RAH A RAV B RBV D C RCV Suatu konstruksi balok gerber ABC dengan perletakan : A = sendi. 7H = 0 dan 7M = 0 1 (satu) buah persamaan baru yaitu 7 M D = 0 Jadi jumlah persamaan ada 4 (empat) buah yaitu 7V = 0. R dan Persamaan yang tersedia adalah : 3 (tiga) buah persamaan syarat keseimbangan yaitu 7V = 0. R . 7M = 0 dan 7M D = 0. R . RBV dan R CV) = jumlah bilangan yang dicari Maka konstruksi tersebut. dimana ada 1 reaksi yaitu R BV. 7M = 0 dan 7MD = 0) = jumlah persamaan (yaitu R AV.

3. Sendi gerber D A RAH B C R AV RB RC Detail perletakan D (sendi gerber) Gambar 3. Bentuk Sendi Gerber Kalau balok gerber tersebut adalah dibuat dari balok beton.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -45- 3. maka bentuk konstruksi gerber tersebut seperti pada gambar.1.3. Detail sendi gerber .

4. Jadi kalau diuraikan balok gerber ABC tersebut merupakan gabungan dari 2 balok statis tertentu DC dan ABD.1. Skema pemisahan balo k gerber Catatan : Reaksi di balok DC menjadi (beban) pada balok AB.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -46- A RAH RAV B D C RBV RCV A RAH RAV B D C RCV RBV atau D RDH RDV C R CV A RAH RAV B RDV D RDH R BV Gambar 3.4. 3. Menentukan letak sendi gerber beban = q kg/m C B A . dimana balok DC tertumpu di balok AB.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -47- Gambar 3. Apakah mungkin ? Perhatikan . balok tersebut jika disederhanakan Gambar a 2. D B C Cara memilih : alternatif (1). dimana di titik D dibuat sendi gerber dengan persamaan baru 7M D = 0. Bagaimana cara mencari bidang momen (bidang M) tersebut. Balok statis tak tentu dan skema bidang momennya Jika dalam balok ABC.6. alternatif tempat dimana momennya sama dengan nol adalah titik 1 dan 2 yang posisinya di kiri dan kanan perletakan B. maka konstruksinya masih statis tak tertentu. maka kita cukup memilih salah sa tu dari 2 (dua) alternatif tersebut sendi gerber diatas. akan dan seperti jika pada diuraikan strukturnya akan seperti pada gambar a 3. Penentuan sendi gerber yang tak mungkin C D B C Gambar a 1 dimana balok AD terletak di atas balok DBC. jika kita a1 A 1 memilih titik (1) sebagai sendi gerber. untuk mahasiswa semester I belum bisa mengerjakan. sendi gerber belum ada. maka alangkah tepatnya jika untuk menentukan posisi di titik D dicari tempat-tempat yang momennya Dalam hal seperti tersebut diatas. Karena kita hanya membutuhkan 1 (satu) buah persamaan baru. sehingga struktur bisa diselesaikan. maka gambar bidang momennya (bidang M) seperti gambar dibawahnya. Kalau dilihat dari sub bab 3. dan jika diberi beban terbagi rata sebesar q kg/m . maka gambarnya adalah seperti pada 1 A a2 D A a3 B TIDAK MUNGKIN Gambar 3.2. jadi untuk sementara diterima saja.5.1.

. Jumlah total reaksi adalah 3 (tiga) buah. Perhatikan balok DBC. perletakan A = sendi dengan 2 reaksi (R AV. sehingga jumlah reaksi hanya ada 2 (dua) buah. perletakan A = sendi. maka konstruksi balok DC adalah statis tertentu y Perhatikan balok ABD. sehingga strukturnya adalah statis tidak tertentu. mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R AH dan R AV. Perhatikan balok DC yag terletak diatas balok ABD. jadi konstruksi balok ABD masih statis tertentu. mempunyai 1 (satu) reaksi yaitu RBV. sedang Jumlah letak reaksi adalah 3 (tiga). RDH). Perletakan D = Gambar 3. maka struktur balok DBC tidak stabil sendi gerber adalah tidak Alternatif 2 mungkin.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -48- Lihat balok AD. y Jadi pemilihan titik (2) sebagai sen di gerber adalah mungkin. maka gambarnya adalah seperti gambar (b1) dimana balok DC terletak diatas balok ABD. karena kedua perletakan B dan C adalah rol. RAH) perletakan D = sendi dengan 2 reaksi (R DV. perletakan C = rol dengan 1(satu) buah reaksi (R CV).7. perletak B = rol. D b1 2 A B A RDH D RDV b3 A B D RDH C B C b2 sendiC gerber Jika yang sebagai dipilih adalah titik (2) sendi gerber. Balok gerber dan cara pemisahannya sendi mempunyai 2 (dua) reaksi yaitu R DV dan R DH. perletakan B = rol dengan 1 buah reaksi (R BV). sehingga jumlah reaksi ada 4 (empat) buah. balok tersebut jika akan gambarnya disederhanakan seperti pada gambar (b 2). dan jika diuraikan strukturnya ak an menjadi seperti pada gambar (b 3) apakah mungkin ?.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -49- .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -50- 3. maka b1 1 A B D A B RD RD yang perlu dikerjakan pertama adalah memisahkan balok tersebut C menjadi beberapa konstruksi balok statis tertentu.8. b2 Jika konstruksinya (a).5.1. gambar (b) terdiri dari gambar (b 1) dan (b 2). seperti kita pada bisa gambar maka konstruksi memisahkan C menjadi tersebut b1 dan b 2 C1 A B tidak D C konstruksi tersebut konstruksi beberapa seperti dimana beberapa menjadi statis tertentu pada gambar (b) atau (c). Mekanisme Penyelesaian Balok Gerber A B D C Jika D ada suatu konstruksi balok a gerber seperti pada gambar a. Skema penyelesaian balok gerber Tinjauan gambar b 1 dan b2 . demikian juga gambar (c) D RD C2 A B C1 dan C2 mungkin RD C Gambar 3.

Perhatikan struktur balok DC gambar (C2). jadi jumlah total reaksi hanya ada 1 buah yaitu R CV di C. jadi balok ABD merupakan balok statis tidak tertentu. Perhatikan balok DC (gambar b2). titik D = be bas (tak mempunyai tumpuan). perletakan. sehingga reaksi R D dari balok ABD akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok DC. Tinjauan gambar (c1) dan (2) Titik D dari balok DC (gambar (C1) menumpu pada titik D balok ABD. Jadi total perletakan balok ABD ada 5 (lima) buah. dimana titik D pada balok ABD menumpu pada titik D balok DC.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -51- Titik D dari balok ABD (gambar (b1) menumpu pada titik D pada balok DC. perletakan B = rol (ada 1 reaksi) jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. c = rol (ada 1 reaksi). . dimana titik D dari balok DC menumpu pada titik D balok ABD. Jadi alternatif (C) adalah mungkin. perletakan D = sendi. perletakan B = rol (ada 1 reaksi). Jadi balok DC adalah balok statis tertentu Perhatikan struktur balok ABD (gambar (C2)). sehingga reaksi RD dari balok DC akan menjadi beban (aksi) pada titik D balok ABD. Perhatikan struktur balok ABD (gambar b2). Sehingga alternatif (b) adalah tidak mungkin. jadi tidak ada reaksi. per letakan A = sendi (ada 2 reaksi). dan jika diuraikan strukturnya akan menjadi seperti pada gambar (C2). perletakan A = sendi (ada 2 reaksi). perletakan D = sendi (ada 2 reaksi). perletakan C = rol (ada 1 reaksi) total jumlah perletakan ada 3 (tiga) buah. Jadi balok ABD adalah balok statis tertentu juga. dan jika dijabarkan (diuraikan) strukturnya akan menjadi seperti gambar (b2). Dalam kondisi seperti tersebut diatas balok DC merupakan balok yang tidak stabil atau labil. (ada 2 reaksi).

N. Penggambaran bidang M.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -52- Tahapan Penyelesaian q D a A B Sendi gerber P Kalau kita mempunyai balok gerber ABC seperti pada gambar (a).9. N. D balok gerber merupakan penggabungan dari bidang M. Skema pemisahan balok gerber . Dengan beban yang ada (q) dan beban R D. N. D) bisa diselesaikan sendiri-sendiri pada balok DC dan AB. maka balok AB bisa diselesaikan. yang kemudian diuraikan seperti pada gambar (b). Bidang-bidang gaya dalam (M. Reaksi R D dari balok DC akan menjadi beban di titik D dan balok ABD. maka tahapan pengerjaannya adalah sebagai berikut : y Balok DC dikerjakan dulu sehingga menemukan R D dan R C. D dari masing-masing C P D C y q b RD RD D A B y RC y y Gambar 3.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -53- 3.3 = 0 BID. Contoh Soal P=4t (a) A S 1m B q = 2t /m C Suatu struktur balok gerber ABC dengan beban seperti pada gambar. A = rol C = rol .6. Ditanya : Gambar bidang M.1 ! ! 1t 4 4 Reaksi Rs = 1t akan menjadi beban di titik S pada balok S B C (gambar (b)) 6.6.3 = 0 RA. .6.8 1.33t 3t + 1t BID.833 m 5. D + - Balok S B C (mencari RB dan R C) 7 MC = 0 RB.2 RC.6 RB.667 m 7 MA = 0 RS . N. dan beban terbagi rata q = 2 4m 2m 6m t/m dari B ke C.1.6 + 1. N Gambar 3.6.1 4. 4 P. x (b) A P=4t S Rs = x1 Rs S B 3 tm + R B = 7 1/3 t 2 tm RC = 5 Jawab: Struktur balok gerber seperti pada gambar (a) kalau diuraikan akan menjadi struktur seperti pada gambar 2 t/m x2 C (b). M 2.= P.3 = 0 2.6 + RS. D.10.0287 tm + 2 Balok A-S (mencari RA dan RS) t 3 7 MS = 0 RA .2 q. 4 RS = P.8 q.3 = 0 2.3 4. Balok AS harus diselesaikan lebih dahulu.6.6 RS. B = sendi S = sendi gerber Beban P = 4 ton. baru selanjutnya reaksi Rs dari balok As menjadi beban / aksi ke balok SBC RA = 3t (c) - 8. dengan jarak 1 m dari A.3 = 0 2 5 t 1 44 3 RB = t!7 t 3 6 7 MB = 0 RC.3 ! ! 3t 4 4 P.1 = 0 BID. Gambar-gambar gaya Bidang Momen (M) dalam balok gerber 34 ! 5 2 / 3t 6 .

667 m ( Letak dimana momen = 0 ) Bidang D ( GAYA LINTANG ) .x-P (x-1) = 3.833 = 16.667 2 x2 = 0 = x2 = 2.x (linear) x=0 x=1 MA = 0 MP = 3 tm (momen dibawah P) S 4 (x-1) Daerah P Mx = RA.q x2² (parabola) 2 1 .667-x2 ) = 0 x2 =5.1.667.833 m (lokasi dimana terletak M max M x2 max =5.667.x 2 - = 5.0287 tm.x1 (linear) = -x1 x1 = 0 x2 = 2 Ms = 0 MB = -2 tm B (dari kanan) 1 .0546 (2.Rs.02589 = 8.x2 - Mx2 = 5.667 x 2 .x = 3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -54- Balok A-S Daerah A P (P = letak beban P = 4t) Mx = RA.833)² 8.x2² 2 Daerah C Mx2 = Rc.2.667 x 2 x2 2 = 0 X2 (5.x1 = . 2.x2² Mencari M max dMx 2 =0 dx 2 5. Mencari titik dimana momen = 0 M x =5.x x=1 x=4 MP = 3 tm MS = 0 Balok SBC Daerah S B (dari kiri) Mx1 = .

833 m M max ) (Letak D = 0 sama dengan letak Bidang N ( Normal ) Bidang N tidak ada 3.667 + 2 .6 = + 6.5. x 2 2 = . x (Linieair) X2 = 0 X2 = 6 Dc = .1.667 + 2X 2 = 0 X2 = 2.333 t Mencari titik dimana D = 0 -5.667 t Dbkn = -5.P = 3 4 = -1 t (Konstan ) Balok S BC Daerah S B ( Dari Kiri ) Dx = .6.Rs = -1 t (Konstan) Daerah C B (Dari Kanan) Dx2 = . Latihan .Rc + q .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -55- Balok A-S Daerah A P ( dari Kiri ) D2 = + Ra = + 3 + ( Konstan ) Daerah P S ( Dari kiri ) Dx = + R a .667 + 2.5.

Rangkaian dari beberapa balok statis tertentu. 2m dari A q = 2t/m sepanjang bentang SC. N. o Tahap awal penyelesaiannya adalah : balok tersebu t harus diuraikan lebih dahulu. P = 5t S B q = 2t/m C Suatu balok gerber dengan beban dan struktur seperti gambar.1. Gambar : bidang-bidang gaya dalamnya (Bidang M. Atau .bidang 3. A 2 m 5m 2 m 4m 2). maka perlu diadakan (diberi) suatu latihan . B = rol S = sendi gerber Beban P = 5 2 t dengan sudut 45° terletak di tengah bentang SB. tapi masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan. B = rol C = rol.Suatu balok yang mempunyai jumlah reaksi lebih besar dari 3 buah. D) Suatu balok gerber dengan 1).8. S A 2m 3m P=5 2t 45° B 3m beban dan struktur seperti pada gambar dengan perletakan : A = jepit. dengan perletakan A = sendi. dan di sendi gerber ditentukan daerah bagian balok tertumpu . Rangkuman o Balok gerber adalah : . S = sendi gerber Beban : P = 5t. Gambar : bidang.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -56- Dalam mempraktekan teori teori yang ada di depan ( bagian sebelumnya ).

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -57- mana yang terletak diatas (tertumpu) dan mana yang menumpu ( ) o Penyelesaiannya dilakukan secara bertahap dari masing -masing balok tersebut.6 ton 4 ton 4 ton - Tanda (-) (+) (-) (+) (-) - . o Balok yang salah satu perletakannya tertumpu (menumpang) diselesaikan terlebih dahulu. 1 Keterangan Titik A Harga 1. 3.4 ton 3. Soal No.9. mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban dari soal-soal tersebut diatas sebagai kontrol. Penutup Untuk mengukur prestasi. o Gambar bidang gaya dalamnya adalah merupakan gabungan dari masing-masing balok tersebut.6 ton 4 ton 4 ton Arah o o o o Reaksi B S C Keterangan Momen (M) Gaya Lintang (D) Gaya Normal (N) Titik A B S C A B kiri B kanan C - Harga 0 8 tm 0 0 1.1.4 ton 7.

1. Soemono Statika I ITB bab V 2. Senarai : Sendi Gerber : tempat penggabu ngan balok satu dengan balok lainnya. Garis Pengaruh Balok Gerber .5 tm 0 2.2.5 ton 5 ton 5 ton 5 ton (+) (-) (-) (-) (-) (+) (-) Tanda 3.11. Suwarno.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -58- Soal 2 Keterangan Titik AV Reaksi AH MA S B A Momen (M) S di P B Gaya Lintang (D) A B A Gaya Normal (N) S P kiri Harga 2. 3. Daftar Pustaka 1. Mekanika Teknik Statis Tertentu UGM bab V-4 3.10.5 ton 5 tm 0 7.5 ton 5 ton 5 tm 2.5 ton 2.5 ton 2.

reaksi di S (Rs) dan reaksi di C (Rc) semuanya ada (Gambar c).2. maka untuk balok gerber inipun kita harus mencari besarnya reaksi. o Kalau ada muatan berjalan diatas ABS maka reaksi di S (R S) dan reaksi di C (Rc) tidak ada (Gambar d). Pendahuluan Seperti halnya balok diatas 2 perletakan. 3.11.2. Reaksi perletakan pada balok gerber dengan muatan berjalan diatas . atau gaya momen (M) atau gaya lintang (D) atau gaya normal (N). Gambar 3.2. RC ada o Namun jika ada muatan berjalan diatas balok S-C maka reaksi di A (R A). Prinsip Dasar Yang perlu diperhatikan dalam membuat garis pengaruh balok gerber adalah : (a ) A B S C o Harus bisa memisahkan balok yang mana yang disangga dan yang mana yang menyangga. reaksi ada di B (R B). Pengertian dasar dan definisinya sama dengan garis pengaruh balok diatas 2 perletakan.1. Standart beban yang dipakai juga sama yaitu muatan berjalan dengan beban P = 1 t on atau satu satuan beban. jika ada muatan yang berjalan diatas balok gerber tersebut.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -59- 3. o Dalam gambar sebelah o Balok SC yang disangga RS RS (b ) A RA B P RB RS RS (c ) RA ada P (d ) RA ada tidak ada reaksi RB ada tidak ada reaksi R B ada RC o Balok ABS yang menyangga.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-60-

Contoh
Balok gerber seperti pada gambar Cari garis pengaruh reaksi -reaksinya P=1 x1 x P=1t t A l
1

GP.R A (Garis Pengaruh Reaksi di A) P berjalan dari A ke S x = variable bergerak sesuai posisi P dari A ke C 7 Ms = 0 P (l1  x ) l1  x RA = ton ! l1 l1 Untuk P di A x = 0 RA = 1 ton Untuk P di S x = l1 RA = 0 P dari S ke C RA tidak ada pengaruh terhadap

S

B l
2

C

a

A

S

RS RS B C

GP.R S (Garis Pengaruh Reaksi di S) GP.R A 1t + P dari A Rs = ke S

Px x ! l1 l1

GP.R S +

P di A x = 0 Rs = 0 P di S x = l1 RS = 1t P dari S ke C tidak ada pengaruh untuk reaksi di S (Rs)

GP.R B (Garis Pengaruh Reaksi di B) x1 variabel bergerak dari C ke A sesuai

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-61-

1t

GP.R B

1t

P= 1t x1

+

¨ l2  a ¸ © ¹ © l ¹ ª 2 º A S B C GP.Rc (Garis Pengaruh Reaksi di C) P berjalan dari C ke S l  x1 Rc = 2 t l2 P di C x1 = 0 x1 + a/l
2

GP. Rc

P = 1t

Rc = 1t Rc = 0

P di B P di S

x 1 = l2 Rc =

1t

Rs . a a karena ! l2 l2

(Rs = 1t) P di A Rs = 0 Rc = 0

Gambar 3.12. Garis pengaruh reaksi (RA; Rs; RB dan Rc) Jika potongan I -I antara : A3 Jika potongan II-II antara : BC b x A P I I l1 A Rs B S a B II II l2 C c d

cari garis pengaruh D I-I dan M I-I cari garis pengaruh D II-II dan M II-II e GARIS PENGARUH D DAN M G.P.DI-I (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan I -I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan potongan) DI = - Rs (dari kanan)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-62-

Gambar 3.13. Garis pengaruh D I-I dan M I-I

G.P.MI-I (Garis Pengaruh Momen di Potongan I-I) P berjalan di kiri potongan I -I (perhitungan dari kanan) M I = Rs . c = Untuk P di A Untuk P di I-I x Px .c .c ! l t1 l t1 x=0 x=b MI = 0 MI = b.c l1

P berjalan di kanan potongan (perhitungan dari kiri) l x M I = RA . b = 1 .b l1 Untuk P di I-I x=b

l b c.b MI = 1 .b ! l1 l1

Jika P berjalan dari S ke C tidak ada M I x A l1 P S B d II II a l2 e C G.P. D II-II (Garis Pengaruh Gaya Lintang di potongan II -II) P berjalan dari A ke P otongan II (perhitungan kanan potongan II) DII = - Rc (sama dengan g.p. Rc)

A

S

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK)

-63-

Sama dengan g.p. Rc

Sama dengan g.p. RB G.P. M II-II (Garis Pengaruh Momen di potongan II-II) P berjalan dari A ke II (perhitungan dari kanan potongan) MII = Rc . e (sama dengan GP.Rc x e) Untuk P di S Rs = 1t Rc = a l2

a/l2. b + d/l2 . e

g.p. Rc.e

g.p. R B.d M II = -

a l2

.e

Gambar 3.14. Garis pengaruh D II-II dan M II-II P berjalan dari II ke C (perhitungan dari kiri) M II = RB . d Untuk P di II RB = M II =
e l2
e l2 dtm e l2 d

Untuk P di II

Rc =

d l2 M II = -

d .e l2

Dc y1 y2 + y3 y4 Dc = -P1 y1 + P 2 y2 + P 3 y3 + P4 y4 Dc = q F Beban terbagi rata Dc = q F .Mc + ´ y dx ! luas bagian yang diarsir ! F Mc = q F Luas = F y P1 P2 P3 P4 q dx = muatan q sejarak dx.qdx ! q ´ y dx Mc = 7 P.q dx Mc = ´ y.a. dimana dx 0 (mendekati 0) y = ordinat dibawah dx Mencari harga Dc Untuk beban titik GP.3.Mc y2 C d P.2. MENCARI HARGA MOMEN DAN GAYA LINTANG DENGAN GARIS PENGARUH Jika ada suatu rangkaian muatan atau muatan terbagi rata berjalan diatas gelagar berapa momen maximum di titik C dan berapa gaya lintang maximum di titik C. A C B Mencari harga Mc a b l Kondisi muatan seperti pada 1) Mc = P1 y1 + P 2 y2 + P3 y3 * P P2 P3 1 Kondisi muatan seperti pada 2) 1) Mc = P1 y1 + P2 y2 + P3 y3 + P4 * y4 P2 P3 P4 2) P 1 y1 A GP.y GP.b x l y3 y 1 y4 y2 y3 B Untuk muatan terbagi rata = q t/m q t/m d Mc = y.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -64- 3.

15.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -65- q t/m Luas = F + - GP. Mencari gaya lintang (D) dan momen (M) dengan garis pengaruh .Dc Gambar 3.

2.16. Pendahuluan Pada kenyataannya.2.4.4. Dalam kondisi tersebut kita tetap harus mencari berapa nilai momen maximum di suatu tempat pada gelagar tersebut. . Prinsip dasar perhitungan .2.Untuk mencari nilai maximum tersebut perlu memakai ga ris pengaruh dari gaya dalam yang dicari sebagai perantaranya.Untuk mencari nilai momen maximum di suatu untuk didalam gelagar maka kita perlu mencari posisi dimana muatan tersebut berada yang menyebabkan momen di titik tersebut maximum. Misal : Suatu gelagar muatan P1 P2 A C a l b P3 P4 P5 P6 B Suatu gelagar Jembatan Gambar 3. ada yang lewat sendirian atau merupakan suatu rangkaian muatan.2. . Mencari Momen Maximum di Suatu Titik Pada Gelagar 3.4. muatan yang melewati suatu jembatan adalah tidak menentu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -66- 3. 3. Muatan berjalan diatas gelagar Berapa momen maximum yang terjadi di titik C jika ada suatu rangkaian muatan seperti pada gambar tersebut melewati jembatan seperti pada gambar.1.

(x P1 P 1 P P 2 P3 P3 P4 P4 P5 P5 2 Jawab : A (c) l l r B C (l. atau Mc = 7 Py = P 1 y1 + P 2 y 2 + P 3 y 3 + P 4 y2 y3 y4 y5 = posisi kedua . Perpindahan ordinat untuk muatan berjalan y GP.Mc y4 y5 Pada posisi awal. Contoh Mencari Momen Maximum Pada Gelagar Ada suatu balok terletak diatas 2 perletakan seperti pada Gambar. ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1 s/d yS.c) Mencari Mc max untuk rangkaian muatan berjalan (dari kiri k e kanan) Jarak rangkaian muatan constant (tetap) = posisi awal (x y1 y1 y2 y3 C1 y y y y4 + P5 y 5 Gambar 3. jika ada rangkaian muatan yang berjalan diatasnya berapa Mc maximum yang terjadi.17.Kemudian nilai maximum tersebut didapat dengan cara mengalikan antara beban yang terletak diatas gelagar dengan ordinat dari garis pengaruh yang dipakai.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -67- .

c1 ¹ c l c º ª º ª § ® Pl § Pr ¾ ( x.c1 ¯  q ¿ ! (x.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -68- Muatan bergerak ke kanan sejauh (x. c1 c (x .bagian kiri titik C dan .(P3 + P4 + P5) y ¨ (x ¸ ¨ (x ¸ = 7 Pl © .c1 ¹  § Pr © .bagian kanan titik C Di kiri titik C ordinat bertambah y dan Di kanan titik C ordinat berkurang y y = y = (x . c1 ( l  c) Perbedaan nilai momen ( (M) dari perpindahan posisi beban adalah sebagai berikut : (Mc = P1 y + P2 y = (P1 + P2) y + P5) = 7 Pr P3 y P4 y P5 y jika (P1 + P2) = 7 Pl dan (P3 + P4 .c1 ? l  qr A l c À °c ql qr ql = jumlah beban rata -rata di sebelah kiri titik C qr = jumlah beban rata -rata di sebelah kanan titik C Jika q l > qr ( M positif ql = Jika muatan bergeser terus ke kanan sehingga P2 melampaui C P1 C . dimana ordinat garis pengaruh dinyatakan dengan y 1 s/d y5 dan Mc = 7 Py (dalam hal ini y berubah menjadi y ) Jika ditinjau 2 bagian : .

34 dan 45 Cara : buat garis AB dibawah gelagar.di ujung bagian kanan (B ) buat muatan tumpukan beban dari 45. 23. 23. 12.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -69- ql menjadi kecil sehingga q l < qr ( M negatif (pergerakan P2 dari kiri C ke kanan C menjadikan tanda ( M dari positif ke negatif) Jadi Mmax terjadi jika P2 diatas C. dan 01 (dengan skala) .Tarik dari titik 0 (ujung dari beban 01) ke ujung garis bagian kiri (A ) sehingga membentuk sudut (E) . Posisi beban terbagi rata untuk Mencari M maximum kiri kana n Mmax terjadi jika psosisi beb an tota l q l = qr = q s Mencari perkiraan posisi beban dalam mencari momen max supaya beban di kiri dan di kanan potongan seimbang. 34. maka bisa diperkirakan secara grafik sebagai berikut : Gelagar diatas 2 perletakan A -B. digunakan rangkaian muatan berjalan dengan nomor urut 01. M max terjadi jika salah satu muatan di atas potongan sehingga § Pl Pr !§ atau C l c ql = qr Mmax di suatu titik untuk muatan terbagi rata a b Untuk muatan terbagi rata Mc max terjadi jika : ql = qr B a b ab ! ! c (l  c) l A C c (l c) ql qr qs Gambar 3.12. .18.

Kalau kita mau mencari dimana letak beban yang mengakibatkan momen di potongan I maksimum.Dari titik II ditarik garis // (sejajar) dengan A memotong tumpukan muatan di beban 12.Jadi M II akan maximum jika beban 12 terletak diatas potongan II. O dan .Tarik dari titik I sejajar (//) dengan garis A 0 dan garis tersebut akan memotong tumpukan muatan di beban 01. . . sampai memotong garis A -B di I .Dengan cara yang sama.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -70- . * Bagaimana posisi beban untuk mendapatkan momen di potongan II maximum. tarik garis dari potongan II ke bawah sampai pada garis A -B dan memotong di potongan II . °1 12 23 34 45 Mmax terjadi jika q l = qr = qs = tg E B tg E! 01  12  23  34  45  l A I II l III IV 0 1 2 3 4 E A 5 .Jadi M I akan maximum jika beban 01 terletak di atas potongan I. yaitu dengan menarik garis dari potongan I kebawah. . .

M II max terjadi jika muatan 12 terletak diatas potongan II -II. Pendahuluan Mencari momen maximum maximorum ini berbeda dengan mencari momen maximum di suatu titik pada gelagar.1.2. Jadi dalam hal ini-: dicari !!.2. M III max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan III -III. Mencari posisi muatan untuk mendapatkan Mmax dengan cara grafis M I max terjadi jika muatan OI terletak diatas potongan I -I.5.Letak posisi beban yang menyebabkan momen maximum. serta posisi beban yang menyebabkan terjadinya momen maximum harus dicari. M IV max terjadi jika muatan 34 terletak diatas potongan atau mutan 45 terletak diatas potongan IV -IV dan diambil yang besar.5. . . . Mencari Momen Maximum Maximorum di Suat u Gelagar 3. Jadi dalam hal ini titik letak dimana momen maximum terjadi. 3. mencari momen maximum-maximorum di suatu gelagar ini posisi titiknya tidak tertentu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -71- I II III IV B Gambar 3.19.Letak posisi titik dimana momen maximum terjadi.

2.r = R1 .Untuk mencari momen maximum -maximorum di suatu gelagar ini tidak bisa memakai garis pengaruh karena titik letak momen maximum terjadi harus dicari. r P1 P2 P 4 P5 P3 (b ) RA R1 a x l Rt Rt b R2 7M di P 3 = 0 RB Rt.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -72- 3. . P2.x  R1 ( x  a )  R 2 ( x  ba lt Momen dibawah P 3 dengan jarak x dari titik A RB = R2 . Jawab: R1 = resultante dari P 1 dan P 2 R2 = resultante dari P 3 dan P 4 Rt = resultante dari R 1. Prinsip Dasar Perhitungan . dan suatu rangkaian muatan dari P 1 s/d P5. Berapa dan dimana momen maximum-maximorumnnya ?. b . P 3.5. Contoh 1 P1 (a ) A P2 P3 P4 P 5 B Suatu gelagar diatas 2 perletakan A B. P4.Dalam mencari momen maximum -maximorum ini harus memakai persamaan. P5 r = jarak antara Rt dan P 3 a = jarak antara R 1 dan P 3 b = jarak antara R 2 dan P 3 b P1 P2 P3 P4 P5 R1 r R2 Rt a Rangkaian muatan terl etak diatas gelagar dan dimisalkan momen maximum terletak dibawah beban P 3 dengan jarak x dari perletakan A.2. a 7 MA = 0 1 _P3 . R2 dan P3 atau resultante P 1.

2.3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -73- Rt M max terdapat dibawah P 4 = M4max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 4 Mextrem = Mmax maximorum adalah tengah-tengah momen yang terbesar diantara bentang Mmax (1. P1 (e A ) r ½ r½ r Mmax terjadi dibawah beban B P 1 M 1 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 1.4.5). Rt .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -74- ½r x ½ l M max terdapat dibawah P1 = M 1 max P1 (f) A tengahtengah B P2 P3 P4 P5 Mmax terjadi dibawah beban P2 M 2 max Dalam hal ini r = jarak antara Rt dengan P 2. l = 10 Jawab : kondisi beban seperti pada gambar .20. r ½ r Rt x=½l+½r M max terdapat dibawah P 2 = M 2 max P 1 P2 (g A ) r tengah bentang ½ r ½ r P 3 P4 P 5 B Mmax terjadi dibawah beban P5 M 5 max Dalam hal ini : r = jarak antara Rt dengan P 5 Rt x=½l+½r M max terdapat di bawah P 5 = M 5 Gambar 3. Posisi beban untuk kondisi Mmax 1 s/d M Suatu gelagar dengan bentang l = 10 max5 Contoh 2 m dan ada suatu rangkaian muatan P1=8 P2=6 P 3=6 berjalan dengan lebar seperti pada gambar. 1m 1m Cari besarnya momen maximum A B maximum maximorum.

1 + 6. GP RB.45 r =1. GP RC .x 6. Latihan : Garis pengaruh pada balok menerus dengan sendi-sendi gerber Soal 1 : P=1t berjalan 2m S A I B C Balok ABC dengan sendi gerber S seperti tergambar.1 4. x x= B tengahtengah bentang P2 P3 B 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -75- Kondisi 1 Dimana M max dibawah P 1 tengah P1 A 5m x=½l+ = 5 ½ 0.1 4.45 + r ½ Kondisi 2 Dimana M max dibawah P 2 P1 P2 P3 A 0.95 Rt Kondisi 3 Dimana M max dibawah P 3 P1 tengah-tengah bentang P1 P2 P3 P2 P3 B l-x Rt 4.1 + P3.45 Rt Gambar 3. ditanyakan : GP R A.2.2 = Rt.6. Posisi beban untuk mencari momen maximum maximorum 3. Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok.2 = 20 .21.55 8t 1m x 4t 1m 6t Rt Rt = P 1 + P2 + P 3= 20 ton Statis momen terhadap P 1 P 2.

3. Akibat beban P = 1t berjalan diatas balok. GP RD GP M I.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -76- Soal 2 : 4m S1 A I B P = 1 t berjalan S2 C RB RC 6m 2m 6m D RD Balok ABCD dengan sendi gerber S 1 dan S 2 seperti tergambar. GP RA.7. GP R B. Akibat rangkaian beban M max berjalan. GP M B. Rangkuman . GP DB kanan 2 2 b). GP D I. GP RC. ditanyakan. ditanyakan : MI max . RA 8m 2m a). P1=4 P2=4 P 3=2 t t t maximorum pada balok tersebut.2.

2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -77- . harus tahu dulu bagaimana memisahkan balok terse but menjadi bagian bagian yang tertumpu dari bagian yang menumpu.Untuk mengerjakan garis pengaruh balok gerber. perlu dibuat dulu garis pengaruh reaksi. karena dari garis pengaruh reaksi tersebut garis pengaruh gaya dalam mudah dikerjakan. maka bisa melihat jawaban soal sebagai berikut : Jawaban : Soal No. . Penutup Untuk melihat prestasi mahasiswa dalam mengerjakan latihan. 3.8.Sebelum mengerjakan garis pengaruh gaya -gaya dalam. 1 Keterangan RA P =1t Titik A B S C A B S C A B S C Nilai 1t 0 1/3 t 0 0 1t 4/3 t 0 0 0 0 1t Tanda / Arah  o  q RB   o o RC  o .

333 t 1t 0 Tanda / Arah  o  q RB   o o RC   o o . Keterangan RA P = 1 dititik A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D A B S1 S2 C D Nilai 1t 0 0.25 t 0 0 0 0 1t 1.667 tm 0 0 1/3 t 2/3 t 0 1/3 t 0 0 0 2 tm 0 Tanda / Arah       Soal No.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -78- Lanjutan Jawaban Soal 1 Keterangan MI DI MB P =1t Titik A I B S C A I kiri I kanan B S C A B S C Nilai 0 1.333 tm 0 0. 2 a).25 t 0 0 0 0 0 0 1.

pada saat P 2 terletak pada titik I .333 t 0 1t 0 2 tm 0 1 tm 0 0 0 Tanda / Arah     q o Lanjutan Jawaban Soal 2 Keterangan DI MB DB kanan P =1t Titik A I kiri I kanan B S1 S2 C D A C S1 S2 C D A I kiri I kanan B S1 S2 C D Nilai 0 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -79- Keterangan RD MI P = 1 dititik A B S1 S2 C D A I B S1 S2 C D Nilai 0 0 0 0.5 t 0 0.25 t 0 0 0 0 0 2 tm 0 0 0 0 0 1t 1t 0 0 0 Tanda / Arah      b).5 t 0. MI max = + 14 tm.

9. terjadi pada titik dibawah P 2 3. .Soemono.2.05 tm.2. Senarai Balok gerber = balok yang bisa dipisah -pisah menjadi beberapa konstruksi statis tertentu Sendi gerber = sendi yang dipakai sebagai penghubung antara balok satu dengan balok yang lain. UGM.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -80- MI max maximum = + 14. Daftar Pustaka . bab V-4 3. ITB. Statika I . Mekanika Teknik Statis Tertentu . bab V .10.Suwarno.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -81- .

maka + 100 m Pilar dibuatlah jjembatan balok dengan beberapa bentang.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -82- MODUL 4 : PELENGKUNG DAN PORTAL 3 SENDI SERTA CARA PENYELESAIANNYA 4.1. seperti pada gambar (b) yaitu jembatan balok dengan 2 bentang (perletakan di tengah Tapi bagaimana kalau kit a mendapatkan sungai dengan lebar yang cukup berarti dan dasar sungai juga cukup dalam. D) 4. . serta bisa menggambarkan bidang gaya dalamnya (Bidang M. mengerti juga kapan struktur itu digunakan dan tahu cara menyelesaikan struktur tersebut. pada umumnya dipakai jembatan balok diatas 2 perletakan bias a seperti pada Gambar Untuk sungai yang mempunyai lebar cukup berarti misal : + 100 m. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa salain mengerti apa arti struktur pelengkung 3 sendi. Untuk sungai yang lebarnya tidak besar missal : + 30. N. Judul : PELENGKUNG 3 SENDI Tujuan Pembelajaran Umum Dengan membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui apa itu arti struktur pelengkung 3 sendi dan tahu bagaimana menyelesaikan struktur tersebut. (c). a.1. dan dasar sungainya tidak terlampau dalam. Pendahuluan Konstruksi pelengkung 3 sendi biasanya dipergunakan pada konstruksi jembatan. dan dasar sungainya tidak terlampau + 30 (b). tapi dengan kondisi yang bagaimana ?. dalam. sehingga sulit untuk membuat pilar di tengah -tengah jembatan ?. (a).1.

A VA HA HB VA B Gambar (a) Gambar 4.1.2. B = sendi (ada 2 reaksi V B dan H B).1. maka perlu tambahan 1 (satu) persamaan lagi yaitu 7 Ms = 0 (jumlah momen pada sendi = 0). Perletakan A = sendi (ada 2 reaksi V A dan H A).MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -83- Tiang penyangga Maka jawabannya adalah konstruksi utama dibuat pelengkung sehingga tidak memerlukan pilar di tengah -tengah sungai (Gambar c). struktur pelengkung tersebut. kedua perletakan dibuat sendi. Bermacam-macam bentuk jembatan 4.1. Penempatan Titik s (sendi) . Pengertian tentang Pelengkung 3 Sendi 4.2. Pelengkung sungai Gambar 4. Dengan konstruksi pelengkung terse but. Skema pelengkung 3 Jadi agar struktur tersebut bisa sendi diselesaikan secara statis tertentu.2. 4.1. S = sendi yang terletak pada pelengkung tersebut sehingga struktur tersebut dinamakan struktur pelengkung 3 sendi atau struktur pelengkung yang mempunyai 3 buah sendi. Jadi total reaksi ada 4 (empat) buah. gelagar memanjang. sedang persamaan dari syarat keseimbangan hanya 3 (tiga) buah yaitu : 7 H = 0. tempat dimana kendaraan lewat bisa tertumpu pada tiang-tiang penyangga yang terletak pada pelengkung tersebut.1. 7 V = 0 dan 7 M = 0.2.2. S Pengertian Dasar Untuk menjaga kestabilan dari perletakan.

dimana letak sendi s tidak di tengah-tengah busur pelengkung B A (b) Gambar 4. Contoh posisi sendi pelengkung 3 sendi . Hal ini tergantung dari kondisi lapangan : seperti pada gambar (b). S Letak sendi tersebut bisa ditengah-tengah busur pelengkung atau tidak.3.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -84- Sendi s yang dipakai untuk melengkapi persamaan pelengkung 3 s endi terletak di busur pelengkung antara perletakan A dan B.

h1 I II VB Nilai M E-E dibagi menjadi 2 bagian.q x² diatasnya. Pemilihan Bentuk Pelengkung q kg/m A RA B Kita kembali ke belakang.x1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -85- 4. x1 l persamaan momen gambar (c) yaitu 2 (dua) VA x1 VB perletakan dan dengan gambar bidang momen 1 q x1 2 2 A 1 q x12 sama dengan 2 .3. 2 q kg/m (c) Gambar 4.2.q x12 2 B HA.4.1. Bidang M struktur statis tertentu 1 M= q l² dengan beban terbagi rata 8 1 q l² (coba dihitung lagi sendiri) 8 S Struktur pelengkung dengan bentang = l dan tinggi = f di A ada 2 reaksi VA dan H A di B ada 2 reaksi VB dan H B f HA S E l HB A Kalau kita mau mencari besarnya momen di 1 potongan E E. kalau kita R B mempunyai balok statis tertentu diatas 2 l + parabola Bidang M (dua) perletakan A dan B dengan beban terbagi rata q kg/m .x .h1 B Nilai I = V A . maka bidang momennya berbentuk parabola dengan tanda bidang M adalah positif (+) dengan nilai maximum di tengah -tengah bentang = dengan persamaan momen Sekarang kalau ditin jau struktur pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata 1 Mx = RA. maka M E-E = VA. h1 f I = VA . x 1 HA HB II = HA.

x1 + Bidang M + ½ q x 1² Gambar nilai II = H A. 4. Pendekatan 2 : Jika V A dan V B dicari dulu baru H A dan H B kemudian a b Gambar 4.1.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -86- Bidang M.h1 Gambar 4. P1 S1 hB HB a1 A HA b1 B VB hA Mencari Reaksi Perletakan S Ada 2 (dua) cara pendekatan penyelesaian untuk mencari reaksi. Gambar nilai I = V A. Skema gaya dan jarak pada pelengkung (pendekatan 1) Pendekatan 1VA HA dan V Al dicari dengan persamaan 7MB = 0 dan 7M S = 0 (bagian kiri) (2 persamaan dengan 2 bilangan tak diketahui) Gambar (a) 7M B = 0 V A. Pendekatan 1 : Jika HA dan V A atau H B dan V B dicari bersamaan.3. (hA-hB) P1.6. Cara Penyelesaian 4.l HA.b1 = 0 (1) .5.3.1. Skema NilainyaM pada pelengkung bidang mengecil Harga momen total adalah sebagai berikut : Nilai I dan nilai II = nilai tota l M E-E = nilai total M E-E + + = nilai kecil (saling menghapus) Dari uraian tersebut diatas terlihat bahwa bentuk pelengkung itu akan memperkecil nilai momen.

S 1 = 0 (2) .hA P1.a (bagian kiri) HA.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -87- 7M S = 0 V A.

Pendekatan 2 P1 S S1 f a Ba Reaksi horizontal H A dan HB ditiadakan kemudian arahnya diganti. 7M A = 0 VB.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -88- Dari 2 persamaan tersebut diatas yaitu (1) dan (2) maka V A dan H A bisa dicari. hB) = 0 (bagian kanan) Dari persamaan (3) dan (4) maka V B dan H B bisa dicari.a1 = 0 7M S = 0 VB.l + HB (hA hB) P1. masing -masing menuju ke arah perletakan yang lainnya menjadi Ab ¸ dan ¹ Ba B Dengan arah Ab yang menuju perletakan B dan . (4).l . HB dan V B dicari dengan persamaan 7M A = 0 dan 7M S = 0 (bagian kanan) 2 persamaan dengan 2 bidang tidak diketahui (3).HB .

l P1. b1 = 0 Pb Av = 1 1 l (1) y Mencari reaksi Bv 7 MA = 0 Bv.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -89- y Mencari reaksi Av 7 MB = 0 Av. f = 0 Av .l P1.S1 Ab . f = 0 Bv .a P 1. maka nilai Ab bisa dicari. b Ba = dengan memasukkan nilai Bv dari f Bv. Ba . y Mencari reaksi Ba 7 MS = 0 (bagian kanan) persamaan (2) maka nilai Ba bisa dicari. a  P1S1 dengan memasukkan nilai A v dari Ab = f persamaan (1).b Lihat posisi Ba dan Ab dan Ab ( ¸) merupakan reaksi yang arahnya miring Ba ( ¹) Ba cos E Ba E Ab sin E Ba sin E Ab . a1 = 0 Pa Bv = 1 1 l (2) y Mencari reaksi Ab 7 MS = 0 (bagian kiri) Av.

( ´) Ba cos E= HB pada cara pendekatan 2 yaitu merupakan reaksi horizontal di B.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -90- Kedua reaksi ini harus gaya dan diuraikan gaya menjadi vertical yang horizontal Ab diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ab cos E( ) merupakan uraian horizontal dan Ab sin E(µ) merupakan uraian vertical sedang. y Bagaimana dengan komponen -komponen itu selanjutnya ? Ternyata : Ab cos E = HA pada cara pendekatan 1 yaitu merupakan reaksi horizontal di A. (³) dan : VA (µ) = Av ( µ) + Ab sin E (µ) pendekatan 2 gambar (b) dan Pendekatan 1 gambar (a) VB (µ) = Bv (µ) + Ba sin E (¶) pendekatan 2 gambar (b) Pendekatan 1 gambar (a) . Ba juga diuraikan menjadi 2 (dua) gaya yaitu : Ba cos E(³) merupakan uraian horizontal dan Ba cos E(¶) merupakan uraian vertikal.

gaya lintang (D) dan gaya normal (N). y I = VA . dimana suatu pelengkung 3 sendi dibebani beban terbagi rata q kg/m .3 Gambar (c). RA Karena bidang M merupakan fungsi x Mx = RA . x ½ q x² gambarnya adalah parabola seperti pada I sub bab 4.1.2. y HA = konstan nilainya y = jarak titik dasar ke pelengkung S y A HA VA Gambar 4. merupakan nilai konstan Dx = R A (x A a RA l Bidang + b P. maka Mx = V A . Jika x adalah titik yang ditinjau bergerak dari A s/d B. (x dari 0 ke a) linear dan bidang D dari 0 ke a).8). Gaya dalam untuk balok diatas 2 perletakan Bagaimana dengan bidang gaya dalam pada pelengkung ?.3.9 disamping. seperti pada gambar (4. gaya-gaya dalam yang ada pada suatu balok adalah gaya dalam momen (M).a. x ½ q x² .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -91- 4. x q kg/m Lihat pada gambar 4.1.HA . x P Untuk balok yang lurus.8.b l RA + Bidang D RB Gambar 4. II II = HA . x. Mencari Gaya-gaya Dalam Seperti telah diketahui sebelumnya.2. maka dengan mudah B kita menggambarkan bidang momennya (Bidang M) dan bidang gaya lintangnya (Bidang D).9 Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata HB B VB . bukan pelengkung.

dimana pada umumnya persamaannya adalah : y = II = HA.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -92- y adalah merupakan persamaan parabola dari pelengkung. Garis singgung tersebut membentuk Garis singgung di x sudut E dengan garis horizontal. Vx = V A q . Gaya vertical dan horizontal disuatu titik pa da pelengkung 3 sendi Bagaimana nilai Dx dan Nx ? gaya-gaya tersebut Vc dan Hx harus diuraikan ke gaya -gaya yang B (tegak lurus) dan // (sejajar sumbu) Dimana posisi sumbu batang?. maka Vx dan Hx harus diuraikan ke E .10. * Bagaimana dengan bidang D (bidang gaya lintang) Kita lihat titik dimana x berada di situ ada x Hx S Vx Vx dan Hx.y gambarnya juga parabola 4 fx (l  x ) l² Jadi Mx = I II merupakan penggabungan 2 parabola yaitu parabola I dan II yang tidak mudah penggambarannya !. Posisi sumbu batang adalah merupakan garis singgung dimana titik x berada. x (jumlah gaya -gaya vertikal di x kalau di hitung dari bagian kiri) Hx = H A HA VA HB VB Gambar 4.

Vx sin E. Uraian Vx dan Hx pada sumbu batang Dx = jumlah komponen yang B garis singgung Nx = jumlah komponen yang // garis singgung.( Vx sin EHx cos E   Kedua gaya ini menekan batang tanda (-) Dari uraian tersebut diatas kalau kita mau menggambar bidang D (gaya lintang) atau bidang N (gaya normal) akan mendapat kesulitan.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -93- Hx sin E Vx sin E E Vx cos E Vx Hx E Hx cos E * Uraian Vx ke garis singgung singgung * Uraian Hx ke garis Gambar 4. Garis singgung Garis singgung E x di sebelah kanan titik puncak . maka Dx = Vx cos E Hx sin E Jumlah gaya dari kiri bagian arah ke atas tanda (+) Jumlah gaya dari kiri bagian dengan arah ke bawah tanda (-) Nx = .11. Karena setiap letak x berubah garis singgung akan berubah sudutnya dan nilai E akan berubah lihat gambar bawah.x cos E = .

VB. bidang gaya lintang (Bid.12. Pelengkung 3 sendi dengan beban terbagi rata Dintanya : Nilai VA. S Ec C yc f=3 m A H 2. H.5 m dari titik A. M). Dc dan Nc Dimana c terletak sejarak x c = 2.13. Namun biasanya yang ditanyakan adalah besarnya nilai momen. dan nilai gaya normal di salah satu titik di daerah pelengkung tersebut.5 m xc VA 5m VB 5m Gambar 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -94- Gambar 4. N). Contoh Penyelesaian Contoh 1 3 t/m Diketahui : Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(lt  x ) parabola y = l² y = jarak pelengkung dari garis horizontal dasar x = aksis yang bergerak secara horizontal dari A ke B l = bentang pelengkung f = tinggi pelengkung H B Pelengkung tersebut dibebani secara terbagi rata q = 3 t/m . Perubahan arah garis singgung Biasanya yang ditanyakan dalam struktur pelengkung bukanlah bid ang momen (Bid. nilai gaya lintang. Mc. . D) ataupun bidang normal (Bid.

l. 3 .5 ton 3 3 y Mencari ordinat titik c guna mencari Mc dengan persamaan parabola y = 4 fx (l  x ) l² untuk x = 2.5² = 0 (nilai momen = 0) y Mencari gaya normal dan gaya Hc Vc A 2.3.5 (10  2. 2.5) ! 2.yc ½ .H .5 m yc = 4.5 . ½ l = 0 q. l VB . maka 12. yang berarti reaksi horizontal di A HA = HB kenapa ? dengan mengacu bahwa 7H = 0 maka H A = HB = H dimana beban luar secara horizontal tidak ada Mencari V A dan VB 7 MB = 0 7 MA = 0 mencari H 7 Ms = 0 (kiri bagian dari S) VA . l q. (5)² = 0 VA .l.Xc = 15 . 5.5m Gambar 4.q.3. 25 ! ! 12.q (5)² 15.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -95- Jawab : Lihat notasi reaksi yang ada di perletakan A dan B. 2.5  1 / 2.14. reaksi horizontal di B ditulis H bukanlah H B (HA) dan di B (H B) adalah sama.10 = 15 ton (o) VB = 15 ton (o) V .25 m 10² y Mencari Mc (momen di titik c) dihitung dari kiri c Mc = VA . di A ada V A dan H dan di B ada V B dan H Reaksi horizontal di A ditulis H buk anlah H A demikian juga. ½ l = 0 VA = ½ . 2.5 H. 3 .Xc² ½ .5  1 / 2 . 3 H= ½ q .25 4 f x (l  x ) 4 f (l  2 x   y' ! l² l² . Sudut Ec B Menentukan nilai Ec y= Ec lintang Untuk mencari gaya lintang maupun gaya normal pada potongan x.2.

Contoh 2 xc=2. jadi ini jelas bahwa struktur pelengkung ditekankan menerima gaya tekan. 0.8575) = . Uraian gaya Vc dan Hc Nc = . hanya beban luar yang berbeda yaitu P = 6 ton ( ) horizontal .5 .5 = 7.5145 + 12.4312 = 0 Hc sin Ec Ec Vc sin Ec Ec Vc cos Ec Vc Hc Hc cos Ec Gambar 4.5 ton ( ) Dc = Vc cos Ec = 7.15.5774 ton.sin Ec + Hc cos Ec) = .5145 6. 0.5 .2.x = 15 3.5m xp=2m C P=6t yp HA yc f=3 m HB Diketahui : S Pelengkung 3 sendi dengan persamaan 4fx(l  x ) bentang l = 10 m parabola l² dan tinggi f = 3 m persis seperti pada contoh 1.(Vc. 0.14.5 .5774 ton Dari Mc hasil = nilai gaya dalam tersebut tampak bahwa nilai 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -96- kita perlu mencari sudut Ec yaitu sudut yang terbentuk antara garis singgung di titik c dan garis horizontal.4312 Hc sin Ec 12. Nc = -14. Dc = 0. 0.(7.8575 = 6.5 .5 ton (o) Hc = H = 12. Vc = VA q.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -97- Gambar 4.16. Gambar pelengkung 3 sendi pada contoh soal .

5 .152 ton (q) 7 MA = 0 VB = + 1. 3 6 . l + P.08 = 0  5. 3 = 0 HB = 1. 1. f = 0 HB .92 = 0 VA + VB = 0 cocok VA = -1.6 .152 ton (o) 7v=0 Mencari H A dan HB 7 M S = 0 (kiri) 7 MS = 0 VA . l . 5 HB .152 .92 = 0 (cocok) .yp = 0 VA . 1.08 ton (n) 3 Kontrol 7H = 0 P + HA + HB = 0 6 4.48 ! 4. 3 P(f 6 (3 yp ) = 0 1.76 HA = 7 M S = 0 (kanan) 7 MS = 0 VB .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -98- Jawab : Karena ada beban horizontal maka H A { HB Mencari V A dan V B Untuk mencari VA dan VB perlu tahu tinggi yp untuk Xp = 2 m 4. ½ l .2 (10  2) ! 1.92 m Yp = 10² 7 MB = 0 VA .yp = 0 VB .92 ton (n) HA . f HA .152 . 1.5.08 1.3.P. 10 + 6 .76  6.1.92 = 0 VB . 10 . ½ l 1.92) = 0 HA .

152 .88 + 9.5145 4. Dc dan Nc Seperti pada contoh 1 yc = 2.98 VB Hc C Hc Vc P Vc sin E HA VA Gambar 4.8575 = -1. 0.25 = .92 .Xc + HA .V A .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) -99- Mencari M.08 .5 + 4.5145. cos E = 0.92) = -1. = -1.32 tm 1.18 HB = 4.Vc cos Ec Hc sin Ec 1. 25 6 (2. 2.152 ton (q) Hc = 6 0.152 .08 = 1. 2.96° sin Ec = 0.9757 ton Nc = + Vc sin Ec Hc cos Ec .25 m Ec = 30. Distribusi Vc dan Hc Vc Vc cos E Ec Hc sin Ec Ec Hc cos Ec Vc = 1.2.8575 Mc = . yc P (yc yp) C P=6 t yc HA VA Ec Mc 1.17.92 ( ) Dc = .

VB.92 . Latihan Untuk mempraktekan teori -teori yang ada diuraian depan. dan P = 6t vertical terletak sejarak 2 m horizontal dari B. HB.152 . Mc. VB. Nc. Dc f=4 m sendi ABS dengan beban = 3 t/m sepanjang dan P = 4 ton horizontal m dari A. HA. 2m HB 2m VA 4m 4m VB Ditanyakan : VA. Dc f=3 m A HA B Persamaan Parabola : y= 2). maka perlu diadakan suatu lat ihan sebagai berikut : 1). HB. Nc.4. c P = 4t A HA HB B Persamaan parabola : y = VB 4 f x (l  x ) l² Xp=2 m VA Xc=3 m 5m 5m . 0.8575 = . HA. 4 f x (l  x ) l² q=3 Suatu pelengkung terbagi rata q setengah bentang terletak di sejarak 2 S Ditanyakan : VA.0537 ton 1. Mc. 4.1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 100- - = 1.1.5145 0. q=2 P = 6t c S Suatu pelengkung 3 sendi ABS dengan beban terbagi rata q = 2 t/m sepanjang setengah bentang.

1.5 ton 4. o Struktur tersebut masih merupakan struktur statis tertentu yang bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan. Penutup Untuk mengukur prestasi.667 ton 2. Sedang bidang momen.6 0.1.667 ton 4. mahasiswa bisa melihat sebagian jawaban darsoal -soal tersebut diatas sebagai kontrol.25 m 0. Rangkuman o Pelengkung 3 sendi adalah struktur jembatan yang dipergunakan untuk penampang sungai yang mempunyai dasar cukup dalam.5 ton 6. bidang ga ya lintang dan bidang normal tidak dihitung karena penggambarannya cukup kompleks.75 0.6.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 101- - 4. 4. o Yang biasanya dicari dalam struktur pelengkung adalah nilai momen.8 o o p n . 1 Keterangan Titik Nilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc y Sin E Cos E 7. Soal No. gaya lintang dan gaya normal di salah satu titik.5.

2 Keterangan Titik Nilai Arah / Tanda Reaksi Vertikal A B Reaksi Horizontal A B Data Pendukung yc y Sin E Cos E Momen Gaya Lintang Normal C C C 10.6854 (+) (-) (-) o o p n 4.64 0.5625 tm ~0 5.226 ton 4.184 ton 5.842 7.9675 ton 3.774 ton 1. Daftar Pustaka 1. bab 4.1.36 m 0.8336 ton (-) (-) Soal No. berfungsi supaya pelengkung tersebut menjadi statis tertentu. bab 2. .9675 ton 5. Senarai Pelengkung sendi : struktur pelengkung di suatu jembatan dimana salah satu sendinya (selain perletakan).8. Soemono Statika I ITB.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 102- - Momen Gaya Lintang Normal C C C 0.1.3672 tm 2. Suwarno Mekanika Teknik Statis Tertentu .7. UGM.539 0.

b H .P. a f Px b .P. x = 0 1t Untuk P di B .2.f Untuk P di A . 6 MA = 0 VA H l a G.P V B VB = Px l f H b VB VB Untuk P di A .P. a . H P. Garis pengaruh V A. Pengertian Dasar Pengertian tentang garis pengaruh pada pelengkung 3 sendi sama dengan pengertian garis pengaruh pada balok menerus.2. f = 0.3 Prinsip penyelesaian. b f VA . Untuk mencari besarnya gaya dalam (momen.P VA (+) 1t G. ton (di persamaan atas V B = l f Gambar 4.2. b l . yaitu besarnya reaksi atau gaya -gaya dalam disuatu tempat yang diakibatkan muatan berjalan sebesar satu satuan muatan. V A dan V B (garis pengaruh reaksi di A dan B) P berjalan dari A ke B. b = f VB . s truktur pelengkung 3 sendi difungsikan sebagai jembatan yang mana diatasnya selalu ada muatan yang berjalan. 4. x = 0 Untuk P di B . Pendahuluan Seperti pada balok diatas dua perletakan. VB .2. Garis Pengaruh Pelengkung 3 Sendi 4. x = l VB = 0 V B = 1 ton 6 MB = 0 VA = P (l x) ton (linier) l V A = 1 ton VA = 0 (+ G. V B dan H Px ) l .1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 103- - 4. Garis Pengaruh Reaksi x P S G.H (Garis Pengaruh reaksi horizontal) HA = HB (karena beban hanya vertikal) Jika P berjalan dari A ke S (li hat bagian kanan S) 6 MS = 0 H= VB .2. 4.18. x = l G. a. gaya lintang) pada suatu titik dipelengkung tersebut perlu adanya garis pengaruh.

a . x = a p H = P. f ton H= 6MS = 0 VA .b c l . a . bagian I (+) P . a - P ( l  x ) a ton f l dipusatkan VA = P (l  x ) l Untuk P di B . bagian II (-) Untuk P di C maka M C = P . B H b MC = VB .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 104- - Untuk P di A . M C Garis Pengaruh Total (M C) sama dengan jumlah dari garis pengaruh bagian I dan bagian II (+ (-) . u dan V B . c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) u VA c A H a f VB P dikiri potongan C (dari A ke C) lih at kanan potongan. maka lihat kiri potongan (kiri C).P.v l G. v sama dengan G. u .f G. v . H x C v P.b ton l. x = l Untuk P di S .P.P.C = G. R l C u VA VB Bagian II H.f Jika P berjalan dari S ke B (lihat bagian kiri S): H. c I II (dibagi menjadi dua bagian I dan II) Bagian I VA .P. x = a H=0 P.b ton H= l .f = 0 a H = VA . x = 0 p H = 0 Untuk P di S . M C pada balok di atas dua perletakan l G.H .P. a.H .P.f v G. u . M C = VA . Jika P berjalan di kanan Potongan C (dari C ke B). M C (Garis Pengaruh Momen dititik C). u .

P. a .Mc C. Gaya Lintang balok diatas 2 perletakan untuk G. Gambar GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 105- - Gambar 4. HC = H H cos H diuraikan D E menjadi gayaD gaya yang Sin sejajar ( // ) H sin dan tegak lurus VA yaitu H cos D dan H sin D.(VA sin D + H cos D ) I II DC = VA cos D . VA sin D dan V A cos D. N dan D Jika P berada dikanan C (lihat dari A ke C) H a l G.f .P Gaya Lintang perlu dikalikan cos D v G. b cos E l . NC bagian I Q sin E l (+) ( .) v sin E H b l GP VB sin GP.P. sehingga: NC = . Gaya normal perlu dikalikan sin D dan untuk G.P.H sin D I II I -> identik dengan G. V A Sin D D GP NC Bagian II () P. Garis Pengaruh Gaya Lintang (D) dan Normal (N) u VA S C VA D H f V C = VA HC = H VA sin D VA diuraikan VB menjadi gaya VA cos D D yang sejajar C ( // ) dan ( ^ ) garis B singgung di C.P.19.

Gaya lintang G.b cos E l . D C a b sin E l.DC bagian II y= y = 4fx (lt  x ) l² 4f ( lt  2 x ) l² - Pab sin E lf u cos E l GP DC Total (I + II) Mencari nilai E Persamaan parabola 4fx (l  x ) y= l² 4f ( l  2 x ) l² Untuk nilai x tertentu E bisa dicari y' = (-) v cos E l.20. Garis pengaruh gaya lintang (D) dan gaya normal (N) . NC v cos E l perlu dikalikan cos sin E (-) (+) VB cos E v cos E l Mencari Nilai E Persamaan parabola VA cos E GP.f identik dengan garis pengaruh gaya horizontal (H). Gaya normal perlu dikalikan cos E dan untuk GP. G.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 106- - v sin E l GP NC Total ( I dan II ) II (-) a . untuk GP.P. f Gambar 4.P.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 107-

-

1. Contoh Soal x C P S EC

Diketahui : suatu pelengkungan 3 sendi seperti pada gambar dengan persamaan parabola:

4 fx ( l  x ) l² Ditanyakan : G.P reaksi dan G.P. Nc dan Dc Y= f =3 m Jawab : H B VB GP V A § MB = 0 P (l  x) lx ton = ton VA = l l Untuk P di A x=0 VA = 1 ton Untuk P di B x=l VA = 0 G.P. V B § MA = 0 Px x VB = ton ! ton l l 1tUntuk P di A Untuk P di B x=0 x= l VB = 0 VB = 1 ton

A VA 2.5 m

H 5m l G.P. VA 5m

1t

(+) G.P. V B t (+) G.P. H (+) 5/6

G.P. H P berjalan antara A - S (lihat kanan S) § MA = 0 § MS = 0 VB = VB
Px x ! l l

Gambar 4.21. GP VA; VB dan H dari pelengkung 3 sendi

1 l - H.f = 0 2 VB . 5 - H. 3 = 0 H= VA . 5 3 ( l  x ) 5 (10  x ) 5 H= . ! t l 3 10 3 Untuk P di B x = 10 H=0t Untuk P di S x=5 H= 105 5 5 5 5 ! t . ! 10 3 10 3 6 .a.b 1.5.5 5 Atau H = ! ! t l. f 10.3 6 

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 108-

-

C

S i VA cos E

VA VA sin E EC VC = VA HC = H

A G.P. NC Bagian I (+ 0.3858 0.1286 t (-) G.P. NC Bagian (-)
0.714 t

B H cos E EC H sin E NC = - (VA sin E + H cos E) I = VA cos E - H sin E I II II

DC G.P NC 0.5144 t ( -) 0.9712 (-) 0,2143 Bag.I (+) G.P.D C

Mencari nilai EC 4 f .x (l  x ) 4.3 (10  x ) ! Y= l² 10² 4 f ( l  x ) 4 . 3 x (10  2 x ) ! l² 10² 4.3 (10  5) 60 3 Untuk x = m y' = ! ! 100 100 5 y' =3/5 = arc tg EC EC = 30.96º sin E = 0.5145 cos E = 0.8575 .G.P. NC NC = - (VA sin E + N cos E) Y' = I I untuk P di C II x = 2.5 m VA = ¾ t VB = ¼

0.643 1 G.P. DC bag. II (-) 0.42875

(-)

G.P. D C 0.4286

I

t VA sin E = ¾ . 0,5145 = 0,3858 VB sin E = ¼ . 0,5145 = 0,1286 II H cos E Untuk P di S H cos E = 5/6 . 0,8575 = 0,714 G.P. D C DC = V A cos E - H sin E Untuk P di C x = 2,5

0,428 8 Gambar 4.22. GP Nc dan Dc pada pelengkung 3 sendi

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 109-

-

4.3.

Muatan tak langsung untuk pelengkung 3 sendi

4.3.1. Pendahuluan Seperti pada balok menerus, pada pelengkung 3 sendi ini pun terdapat muatan yang tak langsung. Pada kenyataannya tidak pernah ada muatan yang langsung berjalan diatas gelagar pelengkung 3 sendi, yang melewati diatas pelengkung 3 sendi harus melalui gelagar perantara. Gelagar perantara Kolom perantara Pelengkungan

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 110-

-

S

Gambar 4.23. Gelagar perantara pada pelengkung 3 sendi

4.3.2. Prinsip dasar Prinsip dasar penyelesaiannya sama dengan muatan tak langsung pada balok. Muatan akan ditransfer ke struktur utama, dalam hal ini pelengkung 3 sendi, melewati gelagar perantara dan kemudian ke kolom perantara.

q = kg/m

a

P

b

q kg/m P

R1 R1

R2 R2

R3 R3

R4 R4

R5 R5

R6 R6

S

P

P

P L =5P

P

P

. P = qP = ½ qP + (L/P )P R3 = q . . . . Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 1t 1t q = 1 t/m 2 3 S 4 a a5 6 .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 111- - . . ½ P = ½ qP R2 = q . transfer beban lewat perantara P q = kg/m R1 P R2 P R3 R4 a P b R5 P P R6 (c) Perhitungan nilai R (beban yang ditransfer) R1 = q . (a). ½ P + (b/P ).24. P R4 = a P P R5 = R6 = 0 Gambar 4. Kondisi pembebanan kolom (b).

e-HA. .Hc sin E Vc Vc cos E Vc sin E Ec C Hc cos E C Hc Hc sin E Gambar 4. R4 Yc HA VA HB VB Hc = H Mc = VA. Cos E .4. R4 dan R5) b R2 = R3 = ½ P. . .Yc Vc = VA. Beban dipindahkan ke pelengkungan melalui gelagar. R3. Garis pengaruh gelagar tak langsung pada pelengkung 3 sendi 4.Yc Nc = -(Vc .4. . .1. sinE + Hcos E) Dc = Vc.Xc-R2. Distribusi beban pada pelengkung 3 sendi 4.e-HA.5 ton a R1 R2 C R3 S e .25. . Pendahuluan .qton R5 R6 Vc = Av R1 R4 = 0. Prinsip penyelesaian sama dengan muatan tak langsung pada balok sederhana diatas 2(dua) perletakan. . Muatan Tak Langsung Pelengkung 3 Sendi.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 112- - Contoh. R2. Pada Suatu konstruksi pelengkung 3 sendi dengan muatan tak langsung seperti pada gambar.Xc-R2.5 ton R5 = 1. Menjadi (R1.

5 P 15 ! P P 8 GP M I untuk gelagar langsung Gambar 4.33 A C I D E B y1 y y2 + C P1 I D P2 GP M I gel. A C I D E ½ ½ P P + 1.5 P . 2.2. B Bagaimana garis pengaruh momen dipotongan I pada gambar dengan gelagar tak langsung (gambar a).N. Garis pengaruh momen di potongan I untuk gelagar langsung P 54.4.Y1 + P2.5P . maka kalau diperhatikan beban tak pernah lewat diatas potongan I. atau 1 kg atau Newton) .Y2). Jadi ordinat yang bawah titik I adalah (P1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 113- - Seperti biasanya pada sutau jembatan tentu selalu dilewati muatan yang berjalan diatasnya. Beban standart yang dipakai adalah muatan berjalan sebesar satu satuan. 4. transfer beban hanya disalurkan lewat kolom perantara. Jika letak .33 P 54. P . untuk itu garis pengaruh selalu diperlukan untuk mencari reaksi atau gaya-gaya dalam (M.33  Gambar b adalah gambar garis pengaruh mome n dipotong I (GP M I) untuk gelagar langsung dengan puncak dibawah potongan I.D) disuatu ttitik pada gelagar tersebut. P . (1 ton.26. Kalau muatan berada diatas gelagar C D beban tak penuh melewati tepat pada potongan I P P 54.33 P 54. langsung y1 y2 Beban tersebut selalu ditransfer ke gelagar lewat titik C dan D dengan C D I nilai P1 dan P2.25P 15 ! P puncak adalah 4P 8  Kalua gelagarnya tak langsung. P . karena potongan I tersebut terletak diantara gelagar lintang C dan D. dengan ordinat 1. Prinsip Dasar Sama seperti pada balok diatas gelagar tak langsung 2 tumpuan. Seperti garis pengaruh pada gelagar tak langsung diatas-atas 2 tumpuan. P .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 114- - GP. Garis pengaruh m omen di potongan I untuk gelagar tak langsung potongan I ditengah -tengah C-D maka ordinat dibawah potongan I adalah ½ y 1 + ½ y2 C I D y1 y2 ½ y1 + ½ y Jadi garis pengaruh untuk gelagar tak langsung sama dengan garis pengaruh pada gelagar langsung dengan pemotongan puncak dipap ar dimana titik tersebut berada. Gambarkan Garis pengaruh Mc .27. Contoh Suatu struktur pelengkug 3 sendi dengan gelagar tak langsung seperti pada gambar. Pemaparan pada gelagar disebelah kiri dan kanan dimana titik berada seperti pada gambar d. M I gel. tak langsung ½ y1 + ½ y Gambar 4. Dc dan Nc .

5.Q.a . Judul : Portal 3 sendi 4. 28.Nc = . C yc .f G.P.a. Mc total (bag I + bag II) - II + P. b GPMc bagian I P.H sin E Cos E P.Y l I + pemaparan GPMc bagian II pemaparan P.1.P.Y l P. Penyelesaiannya sama dengan beban langsung.P.Dc = Av cos E . . ]  II I . Cuma dipapar pada bagian gelagar yang bersangkutan.f G.b cos E lf pemaparanG.b yc l.yc .b sin E lf pemaparan Gambar 4. GP Mc = VAx  H.(Av sin E + H cos E ) pemaparan Sin E pemaparan P. a .5.a . 4. Untuk garis pengaruh gelagar tak langsung. Pendahuluan . f H R VB H VA Q .a .b yc l. S .Q.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 115- - Penyelesaian.

maka bentuk lain dari struktur tersebut adalah portal 3 sendi sepeti tergambar dibawah ini S A B Gambar 4. balok gerder. 4. Prinsip Dasar Prinsip dasar penyelesaian nya sama dengan pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan Pendekatan I . Kalau dibagian sebelumnya ada struktur pelengkung 3 sendi. Bentuk portal 3 sendi Portal 3 sendi adalah suatu penyederhanaan sederhana dari pelengkung 3 sendi supaya penyelesaiannya lebih sederhana dan tidak perlu memakai gelagar yang tak langsung.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 116- - Bentuk dengan suatu struktur adalah bermacam-macam.5. bisa berupa balok menerus.2. pelengkung 3 sendi dan gelagar lainnya.29.

a 1 = 0 P2 . (h P2 . b2 = 0 P 1 .l + HB.30. Arah reaksi -reaksi dari portal 3 sendi untuk penyelesaian dengan cara pendekatan I Prinsip penyelesaiannya sama den gan pada pelengkung 3 sendi yaitu memakai 2 pendekatan. 7 MA = 0 7 MS = 0 VB.l + HA. a 2 h) P1 .h VA.h P 1 . S1 = 0 VA dan H A dapat ditentukan Pendekatan II .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 117P1 S a1 a2 - S2 P1 P2 b1 b2 B VB h' HB h h A VA HA a L b Gambar 4. b1 P2 . Pendekatan I 2 cara seperti pada pelengkung 3 sendi.a + HA.l + HB.h VB. S 2 = 0 VB dan H B dapat ditentukan (dari kanan) 7 MB = 0 7 MS = 0 (dari kiri) VA.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 118P1 P1 P2 S - S1 a1 a2 S S2 b1 b2 h h BA B BV A AV AB h' a b L P1 S P1 f ff B BA BV A AV AB a b L Av A AB HA HB BA B Bv Gambar 4.31. Arah reaksi portal 3 sendi dengan cara pendekatan II .

l Av = P1 .b 2 l 7 MA = 0 Bv. S 2 f BA .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 119- - Cara 2 7 MB = 0 Av. f AB dan B A diuraikan HA = AB cos E HB = BA cos E Av = A B sin E Bv = B A sin E Maka : VA = Av + Av VB = Bv Bv HA = AB cos E HB = BA cos E Contoh .a P1 . f = 0 . f = HB . f = 0 Bv . f 7 MS = 0 (kiri) Av. S 2 Nilai BA . b  P2 . a 1 P2 . S 1 HA . S1 AB = Av f 7 MS = 0 (kanan) HB . f Bv. b 1 P2 .a  P1 .b BA = P2 . f = HA .l Bv = P1 .a 2 l Nilai A B .b1  P2 . f AB . b 2 = 0 P1. a 2 = 0 P1.a 1  P2 .

1. 4. 3 .l ± P.q . selesaikanlah struktur tersebut. 38 ! 1. 3 2.3 . 1.l ± q .5 - P.5 = 0 Bv HB = 4 5/6 .7334t  q  7 MB = 0 5m (f ) HA BA B Av.1 = 0 Av.5 ± 4.5 = 0 Bv Av. 1.1 = 0 Av = 27  4 ! 5 1 / 6 ton 6 7 MA = 0 Av.3 ton . P =1 m Penyelesaian. Skema reaksi yang terjadi dalam portal 3 sendi HA = 1. 4.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 120- - Suatu struktur portal 3 sendi seperti pada gambar . P1 q 2t/m' S 4t Memakai pendekatan 2 D C 4m AB 2m B Av HB 3m 3m HA E AB Av BA E HB Gambar 4.3t 4.6 ± 4.3. 3 .4333 ( q) Bv = 0.5 . 2/6 = 0.5 = 0 Bv = 20  9 ! 4 5 / 6 ton 6 MS = (dari kiri) Av .3 ton Av = H A .4333 (o) 4t P1 S D C A A 1.6 ± 2.32. tg E Av = 1.3 .5 HA.3 .5 ± 2.

4333 = 5.3t B B 5.7334 t VA = Av = 5 1/6 VB = Bv + 0.2666 H =0 2t/m' HA ( ) = HB (n) Pusat 1.2666 t .4333 = 4.7334 + 5.n 5 Av 0.2666 t Kontrol : 7 Kontrol : 7 V =0 6 + 4 = 4.4333 m = 4 5/6 + 0.

8 1.3t Dx = VA qx x=3m 6 = -1.8 tm Momen dibawah beban P MP=VB.7334 ton Daerah C-D = -1.5334 tm Bidang D (gaya lintang) Daerah A-C Daerah C-D Di S D = -HA = -1.2666. N.2 tm - S D 7.7334 t BIDANG N - 1. 6 = .4 = .2666 t Gambar 4. 2.7334 Daerah B-D Bidang N (gaya Normal) Daerah A-C = -4.2666 t 5.3667)² = -5. D portal 3 sendi Ds = 4.3 .6 = 5.20254 5.7.3 . 2 (2. 2.3 t 5.3.3 ton Daerah B-D 5.60127 = 0.5. 4 + ½ .2666 tm N = -V B = N = -HA = -HB N = -VA . q (x²) .40127 tm (M max) MD = -HB .3667 m (daerah cs) x = 2.7334 .3667 ½ .3 t 1.1 7.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 121Bidang M (momen) - 5.2666 t Mx = -1.32.3 t 4. 4 = -1.2666 tm D = -HB = -1.2.8 tm - Mc = -HA .3 t = .3667 Mx = -HA .3 t 1. Bidang M. 6 = -1. 4 + 4.2 tm Mmax teletak di D = 0 x = 2.C A x 4.2 + 11.1 H B.3667 VA .7334 t + 4 + BIDANG D BIDANG M B 1.

maka untuk memperpanjang bentang. 4.34. Pendahuluan Seperti pada balok menerus diatas 2 perletakan. Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi beban pada struktur menumpu.6. - Harus pula diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana pula struktur yang menumpu.2.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 122- - 4.6. dimana kedua-duanya harus merupakan S konstruksi statis tertentu. Skema pemisahan struktur gerber portal 3 sendi menjadi 2 bagian S RS1 (b ) - Prinsip penyelesaian dasar seperti pada Balok gerber biasa. .1. - Struktur yang ditumpu diselesaikan dulu dan reaksinya merupakan yang Gambar 4. JUDUL : BALOK GERBER PADA PORTAL 3 SENDI 4. S S1 C (a) S = sendi dari portal 3 sendi S1 = sendi gerber A B RS1 C Rc Gambar 4. Prinsip Penyelesaian Dasar S1 C R S1 R S1 - Dipisahkan dulu struktur gerber tersebut menjadi 2 ba gian. dibuat balok gerber dari portal 3 sendi dengan skema struktur seperti pada Gambar (a).33.6.

. Baik struktur S 1-C ataupun struktur A B S 1 kedua-duanya merupakan struktur sta tis tertentu Gambar 4. RC HA A HB B VA VB Reaksi R S1 pada struktur S1-C merupakan beban pada struktur portal sendi A B S 1. Contoh Penyelesaian P1 S S1 C GERBER PADA PORTAL 3 SENDI q t/m S = sendi portal S1 = sendi gerber A B Penyelesaian dengan prinsip balok gerber P1 sama pada Balok S 1-C merupakan struktur yang ditumpu dari portal 3 sendi RS1 q t/m S RS1 A B S. Pemisahan struktur gerber portal 3 sendi Penyelesaian kedua struktur tersebut.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 123- - 4.3.35. termasuk penyelesaian gaya -gaya dalamnya. merupakan struktur yang menumpu. baik S 1-C maupun A B S 1 diselesaikan seperti biasanya.6.

7.7. (a) S S1 C Seperti pada gambar (a) dan (b) struktur S. namun S1 C sebaliknya jjika muatan berada diats S1C maka reaksi-reaksi di struktur ABS 1 ada. Pemisahan struktur pada gerber portal 3 sendi 4.36. besarnya momen serta gaya lintang disuatu titik memerlukan suatu garis pengaruh. Contoh Penyelesaian .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 124- - 4. Pendahuluan Seperti biasanya.C adalah yang ditumpu sedang struktur ABS 1 adalah struktur yang menumpu Kalau A B muatan berada diatas struktur ABS1.3. Garis Pengaruh Gerber Pada Portal 3 Sendi 4.2. maka RS 1 dan Rc di struktur S 1C tidak ada. 4.7. Jadi untuk menghitung besarnya reaksi.7. S (b) A B Gambar 4. bahwa jembatan gerber pelengkung 3 sendi selalu dimuati oleh suatu kendaraan yang berjalan.1. Prinsip Dasar Untuk menghitung garis pengaruh tersebut perlu diketahui mana struktur yang ditumpu dan mana yang menumpu.

d l.37.RA .M D cb l Gambar 4.H u.b a.c l .v l a.f GP. f l d.f ! l.b .b l .RA a.R B + c l + + d l a. Garis pengaruh pada gerber portal 3 sendi GP.DD Q l GP.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 125- - GARIS PENGARUH GERBER PORTAL 3 SENDI x u E A D S P v B S1 C f A c H a l b H B d e d l - l c l GP.R A + 1t C l V l 1t l d l GP.a l cb l GP.f - + + GP.RB b.f GP.ND=GP.

f = 0 b . ~ g. P di E RB = RB = x l 7 Ms = 0 (lihat kanan s) H.p nilai H. R B f c c l c.RB RB = P di E P di A P di B P di S 1 x ton l x=-c x=0 x=l RB = c ton l RB = 0 ton R B = 1 ton RA = l d ton l x=l+d GP.b p H ! x p ND !  l l f lf . b H = RB . N D Garis pengaruh N D sama dengan g.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 126- - RA = P di E P di A P di B l x ton l x=-c x=0 x=l RA = RA = l c ton l l ! 1 ton l R A = 0 ton RA = d ton l P di S 1 x=l+d GP. DD P berada antara E P berada antara D D C lihat kanan potongan lihat kiri potongan DD = -RB D D = RA GP.p. P berada antara E lihat kanan S RB .

8. p N D !  l l f l f P di S 1 GP. Q .a f P di S b a ab RA = b p H ! .V l II = H . f I II I = RA Q = Garis pengaruh M D diatas 2 perletakan P di D MD = Q. f = Garis pengaruh H x f. a H= RA = l x t l P berada antara DC 7 Ms = 0 (lihat kiri s) H.H .MD P berada antara D C M D = RA .b a a b p H ! x p ND !  l l f lf lihat kiri S RA . 4. Latihan : Garis pengaruh pada Pelengkung dan Portal tiga sendi .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 127- - P di S RB = a. p N D !  l l f lf ab b a RA = b p H ! .f = 0 R A .

P.D C . G.P VA .P D C bawah.P. G.P. . G.P N C bawah . G.PH.P. N C . G. 4m C yc A H S P = 1 t berjalan Pelengkung 3 sendi seperti tergambar. dimana dalam penyelesaiannya merupakan gabungan dari penyelesaian masing -masing struktur statis tertentu tersebut. C S D Portal 3 sendi ABCD seperti tergambar Akibat beban P = 1t berjalan diatas portal.P.P NC kanan. G. G. Gerber portal 3 sendi adalah suatu rangkaian antara portal 3 sendi dan balok statis tertentu. M C f= 4 H H B H 8m 8m VB VA Soal 2. G. H. ditanyakanL G. ditanyakan : G. Pelengkung mengikuti persamaan parabola: y = 4fx (l .x) / l² Akibat beban P = 1t berjalan diatas pelengkung. VA .P D C kanan A B H f=3m EE 4m 4m 4m VA H 4m VB Portal 3 sendi adalah suatu portal yang kondisinya masih statis tertentu.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 128- - Untuk memacu mahasiswa belajar maka perlu diberi latihan Soal 1. G.

782t 1.447t 0. Rangkuman 4.1175t 0 0 0. Penutup Untuk mengetahui kemampuan mahasiswa.9.447 0.5t m 1. Keterangan VA P = 1t dititik A B A S B Yc Y' = tng E Sin E Sin E Nilai 1t 0 0 1t 0 3m 0.894 Tanda / Arah + o Di A = H + p Data pendukung Keterangan NC P = 1t di titik A C kiri C kanan S B A C kiri C kanan S B Nilai 0 0.447t 0 0 0 1.10.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 129- - 4. perlu melihat jawaban soal-soal tersebut seperti dibawah ini.0t m 0 Tanda / Arah - DC + MC A C S B + - .335t 0.5 0.

333t 0 0 0. Daftar Pustaka Suwarno.336t 0 0 0.11.084t 1.60t 0.25t 0. UGM Bab VI dan .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 130- - Soal No.40t 0 0 1.333t 0 0 0.20t 0. VII Mekanika Teknik Statis Tertentu . 2 Keterangan VA P = 1t di titik A B A S B A C bawah C kanan S B A C bawah C kanan S B NC kanan A S B A C bawah C kanan B A C S B Nilai 1t 0 0 1.384t 0.75t 0 0 1t m 2t m 0 Tanda/ Arah + o Di A = H + p NC bawah - DC bawah - - DC kanan + MC + - 4.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 131- - 4.R.1.B. JUDUL : KONSTRUKSI RANGKA BATANG (K. Senarai Pelengkung 3 sendi : struktur pelengkung yang masih statis tertentu Portal 3 sendi = struktur portal yang masih statis tertentu Gerber pelengkung 3 sendi = gabungan antara pelengkung 3 sendi dan balok.12.) . MODUL 5 : ARTI KONSTRUKSI RANGKA BATANG DAN CARA PENYELESAIANNYA 5. Gerber portal 3 sendi = gabungan antara portal 3 sendi dan balok.

Rangkaian dari material bambu. Missal : Rangka batang dari suatu jembatan Rangka batang dari suatu kuda kuda Gambar 5. kayu atau baja tersebut disebut dengan konstruksi rangka batang.2.3.1. tapi kalau materialnya dari kayu.1. ba mbu atau baja. . 5.4. Pendahuluan Dalam membuat suatu struktur bangunan maka kita harus menyesuaikan dengan material yang ada terutama dengan nilai harga yang paling murah.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 132- - 5. Jika materialnya dari beton. Bentuk-bentuk dari suatu konstruksi Bentuk Rangkaian Konstruksi rangka batang tersebut merupakan rangkaian dari be ntuk segitiga. Kenapa bentuk ( tersebut dipilih !. 5. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah membaca materi ini mahasiswa bisa mengetahui bentuk -bentuk KRB serta bisa menyelesaikan struktur tersebut dengan beberapa cara pendekatan yang telah dijalankan diajarkan serta tahu persyaratan-persyaratan yang diperlukan.1. maka struktur bisa dibuat sesuai dengan keinginan perencana. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah membaca materi ini mahasiswa diharapkan bisa mengerti arti serta cara menyelesaikan struktur konstruksi rangka batang. maka kita harus merangkai material tersebut.1.

Bentuk K.5. Untuk menyambung titik sudut digunakan plat buhul / simpul.1. Pada konstruksi baja sambungan -sambungan pada plat buhul digunakan baut. . 5. paku keling atau las. pasak atau paku. Bentuk Konstruksi Rangka Batang 5. Bagaimana jika tersebut segiempat ( ) segiempat ( ) tersebut tidak stabil.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 133- - Bentuk bentuk bentuk bentuk segitiga (() tersebut dipilih karena segitiga tersebut adalah suatu yang mantap (stabil) tidak mudah berubah. Pada konstruksi kayu memakai baut.1. = Suatu konstruksi yang terdiri dari batang -batang yang berbentuk segitiga Segitiga (bentuk teta p).1. P segiempat mudah berubah menjadi jajaran genjang.B.R.5.

salah satu sambungan Titik buhul sebagai sambungan tetap / stabil.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 134- - titik buhul K.3.B = segitiga yang dihubungkan melalui plat buhul pada titik buhulnya I titik buhul Gambar 5. .R.2. Detail I. Bentuk Konst ruksi Rangka Batang + + + + + + + + Batang Plat buhul Titik buhul Paku keling / baut Gambar 5. tapi dalam perhitungan titik buhul ini dianggap SENDI.

R. sisi 1 K.B. Gambar 5. Bidang.R. Bentuk konstruksi rangka batang pada jembatan 5.R.5.4.R. Pada Jembatan K. Ruang bisa dipisahkan menjadi K.B. bawah (ikatan angin bawah) K.B.B.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 135- - K.R.B.B.2.1. Perletakan : 1 sendi dan 1 lagi merupakan rol karena konstruksi statis tertentu Sendi Rol 2 Reaksi 1 Reaksi .R. atas (ikatan angin atas) 1 K.B.R. Ruang terdiri dari 2 K.

R.B.3.B. Konstruksi Statis Tertentu Pada K. 7H = 0 7V = 0 7M = 0 3 persamaan keseimbangan Jadi maximum harus ada 3 reaksi yang tidak diketahui (3 bilangan yang tidak diketahui) Pendekatan Penyelesaian Konstruksi Rangka Batang K. Pada konstruksi dibawah ini (Gambar 5). Jumlah bilangan yang tidak 2 4 4 8 6 diketahui : Reaksi 1 3 1 RH 2 3 6 5 10 7 RV 5 7 9 11 13 Jumlah batang 12 8 Bilangan yang tidak diketahui = 3 + 13 = 16 =3 Jumlah = 13 RV Gambar 5. Dalam hal ini gaya -gaya batang tersebut beberapa gaya tarik atau tekan. Konstruksi rangka batang bidang .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 136- - Perletakan sendi RH ada 2 reaksi R V = Reaksi vertikal R H = Reaksi horizontal RV Perletakan rol RV ada 1 reaksi R V = Reaksi vertikal 5.5. merupakan kumpulan dari batang -batang yang mana gaya -gaya batang tersebut harus diketahui.5.1. (Konstruksi Rangka Batang) Konstruksi statis tertentu adalah suatu konstruksi yang masih bisa diselesaikan dengan syarat -syarat keseimbangan .R.

maka pada konstruksi rangka batangpun ada balok gerber 2 1 1 A Sendi 2 3 3 4 5 6 5 B rol 4 7 8 9 10 7 6 12 11 13 14 S 9 8 15 10 16 17 11 19 18 20 21 13 12 23 22 14 24 25 26 15 rol C C Rol (Sendi Gerber) .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 137- - Titik simpul : dianggap sendi Jadi tiap-tiap titik simpul ada 2 persamaan Yaitu : 7V = 0 atau 7H = 0 7Kx = 0 7Ky = 0 Pada gambar (5.4. Rangka Batang Gerber Seperti pada balok menerus. Rumus Umum Untuk K. 7k=b+r k = banyaknya titik simpul (titik buhul) b = jumlah batang pada K.B. r = jumlah reaksi perletakan 5.6.B.15.1.R.5) ad a 8 titik simpul jadi ada 2 x 8 persamaan = 16 persamaan Dari keseluruhan konstruksi : Ada 16 bilangan yang tidak diketahui 3 reaksi 13 gaya batang Ada 16 persamaan (karena masih bisa Konstruksi statis tertentu diselesaikan dengan syarat -syarat persamaan keseimbangan) 5.R.

B.Ky = 0 b. Cara analitis dengan menggu nakan 7. Keseimbangan titik buhul a. Ada 30 bilangan yang tidak diketahui dan tersedia 30 persamaan Konstruksi statis tertentu Konstruksi statis tertentu 5. Rangka batang gerber A = sendi B = rol S = sendi gerber C = rol Jumlah reaksi perletakan = 4 1 sendi + 2 rol 2 2 Jumlah batang = 26 Jumlah bilangan yang tidak diketahui = 30 Jumlah titik simpul = 15 Persamaan yang tersedia = 2 x 15 = 30 persamaan. Cara grafis dengan metode Cremona .6.7. 1.R.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 138- - Gambar 5.Kx = 0 dan 7. Prinsip Penyelesaian Ada beberapa cara penyelesaian K.1.

Distribusi Beban Konstruksi rangka batang merupakan gelagar tidak langsung. P1 = distribusi akibat beban terbagi rata Akibat beban P P2 = distribusi akibat beban terbagi rata dan P P3 = distribusi akibat beban P Akibat P P1 P2 P3 . a. Penyelesaian secara analitis Cara menyelesaikannya dengan keseimbangan titik simpul. Metode Potongan : a. y 7H=0 7. Cara Analitis Metode Ritter b.Kx =0 7. b.8.Ky = 0 x semua gaya yang searah x dijumlahkan demikian juga yang searah y dan resultantenya harus sama dengan rol.V = 0 ata 7.1. Keseimbangan Titik Simpul Dalam bagian ini hanya membahas teori tentang keseimbangan titik simpul saja.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 139- - 2. jadi kalau ada beban terbagi rata atau beban titik yang terletak di tengah-tengah antara 2 titik simpul (gelagar lintang) harus diuraikan menjadi beban titik pad simpul -simpul terdekat. Cara Grafis Metode Cullman 3. Metode Penukaran batang 5.

2t 2t A B 4t 4t 4t Gambar 5. Contoh distribusi beban pada konstruksi Rangka batang q = 1 t/m (muatan terbagi rata) 4m A B 4m 4m 4m 4m Muatan terbagi rata tersebut dijadikan mua tan terpusat pada titik -titik simpulnya. Beban terbagi rata didistribusikan menjadi beban titik .8.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 140- - c.

4 . A 2 Untuk batang bawah diberi notasi B 1. B2 dan B1 .1. 3P = 0 RA = 3t Pemberian notasi Untuk mempermudah penyelesaian.9.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 141- - 5.9. P = 0 RB = 1t 7 MB = 0 RA . V2 dan V 1 . B2 Untuk batang diagonal diberi notasi D 1. Contoh Soal 1 Suatu konstruksi Rangka Batang dengan beban sebesar P = 4 ton seperti pada gambar !. V 2 serta V 3 Tiap-tiap titik simpul diberi nomor urut dari I s/d X. D2 dan D 1 . 4 P . D2 Untuk batang vertikal diberi notasi V 1. . selesaikan struktur tersebut. Untuk batang atas diberi notasi A 1. Konstruksi rangka batang dengan beban P = 4t Mencari reaksi perletakan 7 M A = 0 RB .4 . A2 dan A 1 . 4 P . tiap -tiap batang perlu diberi notasi. P A 4t RA = B P P P P RB = Gambar 5.

Catatan Mulailah bekerja pada titik simpul yang mempunyai 2 batang yang tidak diketahui.R. Pemberian notasi pada gaya -gaya batang Penyelesaian keseimbangan titik simpul diselesaikan dengan memakai syarat-syarat keseimbangan pada titik simpul yaitu 7 Kx = 0 dan 7 Ky = 0 Jadi keseimbangan pada tiap -tiap titik tersebut bisa diselesaikan jika terdapat maximum 2 batang yang tidak diketahui.B. Dalam penjumlahan. .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 142- - II V1 I A1 D1 IV V2 III 4t A2 D2 VI A2 D2 VIII V2 VII A1 D1 IX V3 V V1 X P B1 3t B2 B2 B1 P P P P 1 Gambar 5. titik simpul Batang tertekan dengan tanda ( -) (gaya menuju titik simpul) Batang tertarik dengan tanda (+) (gaya menjauhi titik simpul) Penyelesaian Mulai dari titik simpul yang mempunyai 2 batang tak diketahui Titik I V1 B1 Anggap dulu semua batang yang tidak diketahui adalah batang tarik. karena hanya menyediakan 2 persamaan yaitu 7Kx = 0 dan 7 Ky = 0. y sebelum mengerjakan perlu perjanjian tanda terhadap gaya -gaya batangnyua y (Anggapan) / perjanjian pada K. gaya yang searah diberi tanda sama. Jika hasil negatif berarti anggapan kita salah batang tertekan.10. Jika hasil positif berarti anggapan kita betul batang betul-betul tertarik.

½ D 1 A1 = . 2 A1 = .½ . 2 7V=0 . V1 = .3 t + ½ D1 ½ D1 2=0 2= 3 D1 = 3 2 t (tarik) 7H=0 A 1 + ½ D1 2= 0 2= .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 143- - 3t 7V=0 3 t + V1 = 0 V1 = -3 ton (berarti batang tekan) 7H=0 B1 + 0 = 0 B1 = 0 (batang nol) V1 B1 = 0 Batang A1 dan D1 dianggap tarik dan batang D1 diuraikan menjadi gaya batang horizontal dan vertikal.3 ton (tekan) Titik III V2 3 2 3t 3t B2 B1 = 0 P = 4t 7H=0 Batang V 2 dan B2 dianggap tarik Batang D1 = 3 2 (tarik) diuraikan menjadi batang vertikal = 3 t dan horizontal = 3t 7V=0 4t 3t V2 = 0 V2 = 1 t (tarik) B2 3t=0 B2 = 3 t (tarik) . 3 2 .3 t (menuju titik simpul) ½ 3t V1 ½ D1 2 A1 Batang D 1 diuraikan menjadi arah vertikal ½ D1 Titik II 2 dan arah horizontal ½ D1 2.

2 ton (tekan) Titik VI Batang A 2 dan V 3 dianggap tarik A2 7V=0 7H=0 V3 = 0 V3 = 0 ton A2 + 2 t = 0 A2 = .2 t (tekan) 2t Batang D 2 dan B 2 dianggap tarik Titik V Batang D 2 diuraikan horizontal dan vertikal 0t ½D 2 1t 1t 2 2 D2 7V=0 ½ D2 D2 = 2+0 1t=0 2 t (tarik) 7H=0 ½ D2 B2 + 1t 3 t + 1t = 0 B2 = 1 ton (tarik) 3t 2 B2 Titik VIII Batang A 1 dan V 2 dianggap tarik 7H=0 A1 V2 2 t + A1 1t=0 2t A1 = .1t (tekan) .1 t (tekan) 2t 7V=0 1 + V2 = 0 V2 = . Titik IV 3t ½ D2 2 ½ D2 2 1t D2 7H=0 A2 Batang D 2 diuraikan menjadi gaya horizontal dan vertikal ½ D 2 2 7V=0 ½ D2 2 + 1 t = 0 D2 = .MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 144- - Batang A 2 dan D2 dianggap tarik.2 t (tekan) 3 + A 2 + ½ D2 2 = 0 3 + A2 1 ton = 0 A 2 = .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 145- - .

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 146-

-

Titik VII

½ D1 1t 1t

2

D1

Batang D 1 dan B 1 dianggap tarik Batang D 1 diuraikan menjadi ½ D1

2
½ D1 D1 =

½ D1

2

B1

7V=0

2

1t=0

2 t (tarik) 2 - 1t = 0

7H=0

B1 - ½ D1 B +1 B = 0t

1=0

Titik X

V1

7V=0

1t + V1 = 0 V 1 = - 1t (tekan)

B1 = 0 RB = 1t

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 147-

-

Kontrol ke Titik IX

7V=0 V1 1t ½ D1 ½ .

A1 = 1 t (tekan) D1 = 2 (tarik) V1 = 1 t

2 =0
2 . 2 !0

(cocok) 7H=0 A1 1 ½ D1 ½ .

2 =0 2. 2 = 0 (cocok)

DAFTAR

BATANG A1 A2 A2 A1 B1 B2 B2 B1 V1 V2 V3 V2 V1 D1 D2 D2 D1

GAYA BATANG -3t -2t -2t -1t 0 3t 1t 0 -3t 1t 0 -1t -1 t 3 2t - 2t 2t 2t

Batang B 1 dan B1 = 0, menurut teoritis batang -batang tersebut tidak ada, tapi mengingat K.R.B. terbentuk dari rangkaian bentuk ( maka batang ini diperlukan. Batang atas pada umumnya batang tekan Batang bawah pada umumnya batang tarik.

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 148-

-

Contoh Soal 2 Suatu konstruksi Rangka Batang, dengan notasi seperti pada ga mbar, beban sebesar 3 ton terletak di titik simpul III Jumlah batang = 9 = b Jumlah reaksi = 3 = r 12 D3 B3 IV P P 1t VI B Jumlahg titik simpul = 6 = k 2k=b+r 2x6=9+3 konstruksi .r.b. statis tertentu Mencari Reaksi 7 MB = 2 RA = 3 7 MA = 1 RB = 3
Titik Simpul I

II P A I D1 B1 III 2t P 3t V1

A D2 B2

V

V2

0 x3t=2t 0 x3t=1t

Batang D 1 dan B1 dianggap tarik Batang D 1 diuraikan ke arah vertikal dan horizontal sebesar ½ D 1

2

½ D1

2

D1

½ D1

2
B1

7 Ky = 0 ½ D1 2 + 2t = 0 2 D1 = . 2 = - 2 2 t . (tekan) 2 7 Kx = 0 B1 - ½ D1 2 = 0 B1 = 2 ton (tarik)

2 t (reaksi)

MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 149-

-

Titik III

V1

Gaya batang V1 dan B2 dianggap tarik 7 Ky = 0 V1 = 3 ton (tarik) B2 = 2 ton (tarik)

2t

3t

B2

7 Kx = 0

Titik II
½ D2 ½ D1

2

Gaya batang A dan D2 dianggap tarik 7 Kx = 0 ½ D1 2 - 3t ½ D2 2 = 0 ½ D2 2 = -3 t + ½ . 2 2 . 2 = -3 + 2 = -1 (tekan) D2 = - 2 t (tekan)

2

A

D1 = 2 2 3t ½ D2 ½ D1 D2

2

7 Ky = 0 A + ½ D1 2 + ½ D2 2 = 0 A + ½ . 2 2. 2 - ½ . 2. 2 = 0 A = 1 2 = -1t (tekan)

2

Titik IV

Gaya batang V2 dan B3 dianggap tarik 7 Ky = 0 V2

D2 =

2t

½ D 2 2 - V2 = 0 V2= ½ . 2 . 2 = 1 t (tarik) B3 7 Kx = 0 B3 B2 + ½ D2 2 = 0 B3 = 2 - ½ . 2 . 2 = 1 t (tarik)

B2 = 2t

Titik VI

Gaya batang D3 dianggap tarik 7 Ky = 0 D3 ½ D3 2 + 1t = 0 D3 = - 2 . 1t D3 = - 2 t (tekan) 7 Kx = ½ D 3 2 + B3 = 0 - ½ . 2 . 2 + B3 = 0

B3 = 1t

2 =0 (cocok) D3 V2 = 1t 5.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 150- - B3 = 1t 1t Kontrol Titik V A = 1t 7 Kx = 0 A 1t ½ . P 1 = 600 kg P2 = 600 kg P3 = 400 kg Ditanyakan: a).10.1. Beban . D3 ½. Gaya-gaya batang D5 B3 P P P2=3 t P= 4m P2 = 600 kg Soal 2 P1 = 600 kg 8 9 5 6 R AH A RAV 45° 1 3m 2 3m 3 3m 7 11 13 12 45° 4 3m 10 P3 = 400 kg Kuda-kuda konstruksi Rangka Batang seperti tergambar. Gaya Reaksi B b). 2. 2 = 0 Latihan : Konstruksi Rangka Batang Untuk mendorong mahasiwa belajar maka perlu dibuatkan suatu latihan sebagai berikut : Soal 1 A1 D1 RAH A E B1 RAV P1=6 t D2 E B2 D3 D4 A2 D6 3 m Konstruksi Rangka Batang seperti tergambar P1 = 6t .gaya batang RB . Gaya. P2 = 3t Ditanyakan : RB P a). Gaya reaksi b).

hanya bisa diselesaikan jika jumlah gaya batang yang tidak diketahui max hanya 2.000 t 2.835 0.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 151- - 5. Penutup Agar mahasiswa bisa mengontrol pekerjaan latihan.20 t 1.1.12.00 t 1. 5. atau gaya tekan.808 t Arah / Tanda o o Gaya Batang Tekan Tekan Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tarik + .1.11.00 t 6.667 t 5. o o Tiap-tiap titik simpulnya dianggap sendi. bisa berupa gaya tarik.808 t 4.20 t 4. 1 Keterangan Reaksi vertikal Reaksi Horizontal Data Pendukung Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH Sin E Cos E A1 A2 B1 B2 B3 D1 D2 D3 D4 D5 D6 Nilai 5t 4t 0 0. 667 t 6.333 t 3.555 6. o o Rangkuman KRB merupakan rangkaian dari bentuk ( (segitiga) Dalam KRB yang dicari adalah gaya -gaya batangnya.333 t 6. Pencarian gaya-gaya batang. maka mahasiswa bisa melihat jawaban dibawah ini : Jawaban : Soal No.

Mekanika Teknik Statis Tertentu .1. UGM Bab Soemono.13. 2 Keterangan Reaksi Vertikal Reaksi Horizontal Gaya Batang Titik / Gaya A : RAV B : RB A : RAH  2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Nilai 850 kg 750 kg 0 850 kg 850 kg 750 kg 750 kg 1202 kg 0 424 kg 778 kg 500 kg 778 kg 283 kg 0 1061 kg Arah / Tanda o o Tarik + Tarik + Tarik + Tarik + Tekan Tekan Tekan Tarik + Tekan Tekan Tekan - 5. - - Senarai Konstruksi Rangka Batang : Suatu rangkaian batang -batang yang berbentuk ( (segitiga) Titik simpul : dianggap sendi. .1.MODUL I (MEKANIKA TEKNIK) 152- - Soal No. bab 5. - Daftar Pustaka Suwarno.14. Statika I .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful