Anda di halaman 1dari 4

Tugas Hukum Diplomatik dan Konsuler

The Convention on the Prevention and Punishment of Crimes


against Internationally Protected Persons, including Diplomatic
Agents









melia Rahmawaty
170210080069







Jurusan Hubungan Internasional
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Padjadjaran
Jatinangor
2011
The Convention on the Prevention and Punishment of Crimes against
Internationally Protected Persons, including Diplomatic Agents

The Convention on the Prevention and Punishment of Crimes against Internationally
Protected Persons dimana termasuk didalamnya adalah agen diplomatic dan biasa dikenal
sebagai 'Protection of Diplomats Convention` diadopsi oleh PBB pada tanggal 14 Desember
1973. Konvensi ini merupakan salah satu seri dari sektoral` konvensi anti-terorisme yang
bernegosiasi dengan PBB dan special agensinya. Didirikan berdasarkan konvensi-konvensi
kodiIikasi dalam aspek hak-hak istimewa dan kekebalan termasuk didalamnya Konvensi Wina
Hubungan Diplomatik dan Konsuler. Selain itu adaptasi konvensi ini juga menanggapi peristiwa
seperti pembajakan dan sabotase pesawat serangan pada pengiriman dll.

I. lasan Terbentuknya The Convention on the Prevention and Punishment of Crimes
against Internationally Protected Persons
1. Pembunuhan Karl von Spreti Duta Besar Republik Federal Jerman untuk
Guatemala
Terbunuhnya seorang diplomat terbaik Jerman yang merupakan Duta Besar untuk
Guatemala periode 1968 hingga terbunuhnya ia pada tahun 1970. Von Spreti
dibunuh oleh pemberontak. Ia diculik emudian ditembak mati. Pemberontak
tersebut menuntut pembebasan 25 tahanan politik. kibat kejadian ini staI
kedutaan Jerman Barat dipanggil dari Guatemala untuk kembali ke Jerman dan
duta besar Guatemaa di Bonn diperintahkan untuk meninggalkan Jerman.
Menangggapi banyaknya jumlah pembunuhan serangan dan penculikan agen
diplomatic di akhir tahun 1960an kemudian dibentuklah konvensi ini untuk
memberikan perlindungan khusus dibawah hokum internasional.
2. Kejahatan terhadap agen diplomatic dan orang lain yang dilindungi memberikan
ancaman serius dalam pemeliharaan hubungan internasional. Sehingga diperlukan
kerjasama untuk menetapkan langkah-langkah eIektiI demi mencegah dan
mengatur hukuman atas kejahatan yang dilakukan maka dibentuklah konvensi ini.
3. danya kekgagalan pihak bersangkutan yang memiliki wewenang resmi untuk
mengambil tindakan yang tepat demi mencegah serangan criminal pada orang-
orang kebebasan dan harga diri dari agen diplomatic atau mengambil tindakan
untuk menghukum pihak yang bersalah.

II. DeIinisi yang Terdapat dalam Konvensi
1

1. Internationally Protected Persons adalah:
- Kepala Negara termasuk didalamnya anggota kolegial yang melakukan
Iungsi kepala Negara dibawah konstitusi Negara yang bersangkutan kepala
pemerintahan atau menteri luar negeri kapanun orang-orang ini berada diluar
negeri serta anggota keluarga yang menemaninya.
- Setiap perwakilan atau pejabat dari suatu Negara atau agen resmi atau agen-
agen organisasi internasional antar pemerintah yang pada saat dan ditempat
kejahatan menyerang ia tempat resminya akomodasi pribadinya atau sarana
transportasi yang berkomitmen memiliki hak sesuai dengan hukum
internasional untuk mendapatkan perlindungan khusus dari setiap serangan
padanya kebebasan atau martabat serta anggota keluarganya yang
membentuk bagian dari rumah tangganya.
1. Alleged Offender berarti seseorang yang memiliki bukti yang cukup untuk
menentukan prima facie bahwa ia telah melakukan atau berpartisipasi dalam satu
atau lebih kejahatan yang ditetapkan dalam artikel 2 konvensi ini.
2. The Intentional Commission yaitu yang termasuk didalamnya:
- Pembunuhan penculikan atau serangan pada orang-orang atau kebebasan
orang-orang yang secara internasional dilindungi.
- Sebuah serangan kekerasan pada tempat resmi akomodasi pribadi sarana
transportasi dari orang yang dilindungi secara internasional yang mana
berkemungkinan besar membahayakan orang tersebut dan kebebasannya.
- ncaman untuk melakukan setiap serangan tersebut.
- Sebuah usaha untuk melakukan setiap serangan tersebut.
- Suatu perbuatan yang merupakan partisipasi sebagai kaki tangan dalam
serangan tersebut harus dibuat oleh setiap partai Negara kejahatan menurut
houkum internal.

1
hLLp//unLreaLyunorg
III. Masalah yang da dalam Konvensi
1. Beberapa kesulitan muncul ketika adanya gerakan liberasi atau gerakan
pembebasan nasional. Namun solusi akhirnya ditemukan dengan memasukkan
sebuah paragraph dalam resolusi yang diadopsi kedalam konvensi (resolusi 3166
(XXVIII)) dimana Majelis Umum menentukan ketentuan bahwa 'tidak bisa
berprasangka dalam cara apapun pelaksanaan hak yang sah untuk menentukan
nasib sendiri dan kemerdekaan sesuai dengan tujuan dan prinsip Piagam PBB dan
The Declaration on Principles of International Law Concerning Friendly
Relations and Cooperation among States in accordance with the Charter of the
United Nations oleh orang-orang yang berjuang melawan kolonialisme dominasi
asing pendudukan asing diskriminasi rasial dan apartheid. Hal ini diterima
karena dianggap tidak dmaksudkan untuk membuat pengecualian apapun untuk
kejahatan yang dicakup dalam konvensi atau untuk memenuhi syarat kewajiban
apapun yang diasumsikan oleh Negara-negara yang ikut serta dalam konvensi.
Majelis Luar Biasa memutuskan bahwa resolusi harus dipublikasikan bersama-
sama dengan konvensi.
2


2
hLLp//unLreaLyunorg