Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

Mioma uteri adalah suatu tumor jinak yang tumbuh dalam otot uterus. Biasa juga
disebut fibromioma uteri, leiomioma uteri atau uterine fibroid. Mioma uteri bukanlah suatu
keganasan dan tidak juga berhubungan dengan keganasan. Mioma bisa menyebabkan gejala
yang luas termasuk perdarahan menstruasi yang banyak dan penekanan pada pelvis.(1,3)
Berdasarkan otopsi, Novak menemukan 27% wanita berumur 25 tahun mempunyai
sarang mioma, pada wanita yang berkulit hitam ditemukan lebih banyak. Mioma uteri belum
pernah dilaporkan terjadi sebelum menarche, sedangkan setelah menopause hanya kira-kira
10% mioma yang masih bertumbuh. Diperkirakan insiden mioma uteri sekitar 20 – 30% dari
seluruh wanita. Di Indonesia mioma uteri ditemukan pada 2,39 – 11,7% pada semua penderita
ginekologi yang dirawat. Tumor ini paling sering ditemukan pada wanita umur 35 – 45 tahun
(kurang lebih 25%) dan jarang pada wanita 20 tahun dan wanita post menopause. Wanita yang
sering melahirkan akan lebih sedikit kemungkinan untuk berkembangnya mioma ini
dibandingkan dengan wanita yang tak pernah hamil atau hanya 1 kali hamil. Statistik
menunjukkan 60% mioma uteri berkembang pada wanita yang tak pernah hamil atau hanya
hamil 1 kali.(2,3)
Perihal penyebab pasti terjadi tumor mioma belum diketahui. Mioma uteri mulai
tumbuh dibagian atas (fundus) rahim dan sangat jarang tumbuh dimulut rahim. Bentuk tumor
bisa tunggal atau multiple (banyak), umumnya tumbuh didalam otot rahim yang dikenal
dengan intramural mioma. Tumor mioma ini akan cepat memberikan keluhan, bila mioma
tumbuh kedalam mukosa rahim, keluhan yang biasa dikeluhkan berupa perdarahan saat siklus
dan diluar siklus haid. Sedangkan pada tipe tumor yang tumbuh dikulit luar rahim yang
dikenal dengan tipe subserosa tidak memberikan keluhan perdarahan, akan tetapi seseorang
baru mengeluh bila tumor membesar yang dengan perabaan didaerah perut dijumpai benjolan
keras, benjolan tersebut kadang sulit digerakkan bila tumor sudah sangat besar.(4)
Berikut ini diajukan suatu kasus seorang wanita 42 tahun dengan diagnosa mioma
uteri, yang selanjutnya ditatalaksana untuk laparotomi dengan Total Abdominal Histerektomi
(TAH). Selanjutnya akan dibahas apakah diagnosa, tindakan, penatalaksaaan ini sudah tepat
dan sesuai dengan literatur.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi
Mioma uteri adalah tumor jinak miometrium uterus dengan konsistensi padat
kenyal, batas jelas, mempunyai pseudo kapsul, tidak nyeri, bisa soliter atau multipel.
Tumor ini juga dikenal dengan istilah fibromioma uteri, leiomioma uteri, atau uterine
fibroid. Mioma uteri bukanlah suatu keganasan dan tidak juga berhubungan dengan
keganasan.(1,5,6)

2.2. Epidemiologi
Berdasarkan otopsi, Novak menemukan 27% wanita berumur 25 tahun
mempunyai sarang mioma, pada wanita yang berkulit hitam ditemukan lebih banyak.
Diperkirakan insiden mioma uteri sekitar 20 – 30% dari seluruh wanita. Di Indonesia
mioma uteri ditemukan pada 2,39 – 11,7% pada semua penderita ginekologi yang
dirawat. Tumor ini paling sering ditemukan pada wanita umur 35 – 45 tahun (kurang
lebih 25%) dan jarang pada wanita 20 tahun dan wanita post menopause. Wanita yang
sering melahirkan akan lebih sedikit kemungkinan untuk berkembangnya mioma ini
dibandingkan dengan wanita yang tak pernah hamil atau hanya 1 kali hamil. Statistik
menunjukkan 60% mioma uteri berkembang pada wanita yang tak pernah hamil atau
hanya hamil 1 kali. Prevalensi meningkat apabila ditemukan riwayat keluarga, ras,
kegemukan dan nullipara.(2,3)

2.3. Etiologi
Sampai saat ini belum diketahui penyebab pasti mioma uteri dan diduga
merupakan penyakit multifaktorial. Dipercaya bahwa mioma merupakan sebuah tumor
monoklonal yang dihasilkan dari mutasi somatik dari sebuah sel neoplastik tunggal.
Sel-sel tumor mempunyai abnormalitas kromosom lengan 12q13-15. Ada beberapa
faktor yang diduga kuat sebagai faktor predisposisi terjadinya mioma uteri, yaitu : (3)
1. Umur : mioma uteri jarang terjadi pada usia kurang dari 20 tahun, ditemukan
sekitar 10% pada wanita berusia lebih dari 40 tahun. Tumor ini paling sering
memberikan gejala klinis antara 35-45 tahun.

2
2. Paritas : lebih sering terjadi pada nullipara atau pada wanita yang relatif infertil,
tetapi sampai saat ini belum diketahui apakah infertil menyebabkan mioma uteri
atau sebaliknya mioma uteri yang menyebabkan infertil, atau apakah kedua
keadaan ini saling mempengaruhi.
3. Faktor ras dan genetik : pada wanita ras tertentu, khususnya wanita berkulit hitam,
angka kejadiaan mioma uteri tinggi. Terlepas dari faktor ras, kejadian tumor ini
tinggi pada wanita dengan riwayat keluarga ada yang menderita mioma.
4. Fungsi ovarium : diperkirakan ada korelasi antara hormon estrogen dengan
pertumbuhan mioma, dimana mioma uteri muncul setelah menarke, berkembang
setelah kehamilan dan mengalami regresi setelah menopause.

2.4. Patofisiologi
Mioma merupakan monoclonal dengan tiap tumor merupakan hasil dari penggandaan
satu sel otot. Etiologi yang diajukan termasuk di dalamnya perkembangan dari sel otot uterus
atau arteri pada uterus, dari transformasi metaplastik sel jaringan ikat, dan dari sel-sel
embrionik sisa yang persisten. Penelitian terbaru telah mengidentifikasi sejumlah kecil gen
yang mengalami mutasi pada jaringan ikat tapi tidak pada sel miometrial normal. Penelitian
menunjukkan bahwa pada 40% penderita ditemukan aberasi kromosom yaitu
t(12;14)(q15;q24).
Meyer dan De Snoo mengajukan teori Cell Nest atau teori genioblast. Percobaan
Lipschultz yang memberikan estrogen kepada kelinci percobaan ternyata menimbulkan tumor
fibromatosa baik pada permukaan maupun pada tempat lain dalam abdomen. Efek
fibromatosa ini dapat dicegah dengan pemberian preparat progesteron atau testoster.
Pemberian agonis GnRH dalam waktu lama sehingga terjadi hipoestrogenik dapat
mengurangi ukuran mioma. Efek estrogen pada pertumbuhan mioma mungkin berhubungan
dengan respon mediasi oleh estrogen terhadap reseptor dan faktor pertumbuhan lain. Terdapat
bukti peningkatan produksi reseptor progesteron, faktor pertumbuhan epidermal dan insulin-
like growth factor 1 yang distimulasi oleh estrogen. Anderson dkk, telah mendemonstrasikan
munculnya gen yang distimulasi oleh estrogen lebih banyak pada mioma daripada
miometrium normal dan mungkin penting pada perkembangan mioma. Namun bukti-bukti
masih kurang meyakinkan karena tumor ini tidak mengalami regresi yang bermakna setelah
menopause sebagaimana yang disangka. Lebih daripada itu tumor ini kadang-kadang
berkembang setelah menopause bahkan setelah ooforektomi bilateral pada usia dini.(3)

3
2.5. Klasifikasi mioma uteri
Klasifikasi mioma dapat berdasarkan lokasi dan lapisan uterus yang terkena.(3)
1. Lokasi
• Cerivical (2,6%), umumnya tumbuh ke arah vagina menyebabkan infeksi.
• Isthmica (7,2%), lebih sering menyebabkan nyeri dan gangguan traktus
urinarius.
• Corporal (91%), merupakan lokasi paling lazim, dan seringkali tanpa
gejala.

2. Lapisan Uterus
Mioma uteri pada daerah korpus, sesuai dengan lokasi dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :
• Mioma Uteri Submukosa
Mioma submukosa dapat tumbuh bertangkai menjadi polip, kemudian
dilahirkan melalui saluran serviks disebut mioma geburt. Hal ini dapaat menyebabkan
dismenore, namun ketika telah dikeluarkan dari serviks dan menjadi nekrotik, akan
memberikan gejala pelepasan darah yang tidak regular dan dapat disalahartikan
dengan kanker serviks.
Dari sudut klinik mioma uteri submukosa mempunyai arti yang lebih penting
dibandingkan dengan jenis yang lain. Pada mioma uteri subserosa ataupun intramural
walaupun ditemukan cukup besar tetapi sering kali memberikan keluhan yang tidak
berarti. Sebaliknya pada jenis submukosa walaupun hanya kecil selalu memberikan
keluhan perdarahan melalui vagina. Perdarahan sulit untuk dihentikan sehingga
sebagai terapinya dilakukan histerektomi.
• Mioma Uteri Subserosa
Lokasi tumor di subserosa korpus uteri dapat hanya sebagai tonjolan saja,
dapat pula sebagai satu massa yang dihubungkan dengan uterus melalui tangkai.
Pertumbuhan ke arah lateral dapat berada di dalam ligamentum latum dan disebut
sebagai mioma intraligamenter. Mioma yang cukup besar akan mengisi rongga
peritoneal sebagai suatu massa. Perlengketan dengan usus, omentum atau
mesenterium di sekitarnya menyebabkan sistem peredaran darah diambil alih dari
tangkai ke omentum. Akibatnya tangkai makin mengecil dan terputus, sehingga
mioma akan terlepas dari uterus sebagai massa tumor yang bebas dalam rongga
peritoneum. Mioma jenis ini dikenal sebagai jenis parasitik.

4
• Mioma Uteri Intramural
Disebut juga sebagai mioma intraepitelial. Biasanya multipel apabila masih
kecil tidak merubah bentuk uterus, tetapi bila besar akan menyebabkan uterus
berbenjol-benjol, uterus bertambah besar dan berubah bentuknya. Mioma sering tidak
memberikan gejala klinis yang berarti kecuali rasa tidak enak karena adanya massa
tumor di daerah perut sebelah bawah. Kadang kala tumor tumbuh sebagai mioma
subserosa dan kadang-kadang sebagai mioma submukosa. Di dalam otot rahim dapat
besar, padat (jaringan ikat dominan), lunak (jaringan otot rahim dominan).
Secara makroskopis terlihat uterus berbenjol-benjol dengan permukaan halus. Pada
potongan, tampak tumor berwarna putih dengan struktur mirip potongan daging ikan.
Tumor berbatas tegas dan berbeda dengan miometrium yang sehat, sehingga tumor
mudah dilepaskan. Konsistensi kenyal, bila terjadi degenerasi kistik maka konsistensi
menjadi lunak. Bila terjadi kalsifikasi maka konsistensi menjadi keras. Secara
histologik tumor ditandai oleh gambaran kelompok otot polos yang membentuk
pusaran, meniru gambaran kelompok sel otot polos miometrium. Fokus fibrosis,
kalsifikasi, nekrosis iskemik dari sel yang mati. Setelah menopause, sel-sel otot polos
cenderung mengalami atrofi, ada kalanya diganti oleh jaringan ikat. Pada mioma uteri
dapat terjadi perubahan sekunder yang sebagian besar bersifat degenerasi. Hal ini oleh
karena berkurangnya pemberian darah pada sarang mioma. Perubahan ini terjadi
secara sekunder dari atropi postmenopausal, infeksi, perubahan dalam sirkulasi atau
transformasi maligna.

2.6. Gejala klinis


Hampir separuh kasus mioma uteri ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaan
ginekologik karena tumor ini tidak mengganggu. Gejala yang timbul sangat tergantung pada
tempat sarang mioma ini berada (serviks, intramural, submukus, subserus), besarnya tumor,
perubahan dan komplikasi yang terjadi. Gejala tersebut dapat digolongkan sebagai berikut : (6)
1) Perdarahan abnormal
Gangguan perdarahan yang terjadi umumnya adalah hipermenorea, menoragia dan
dapat juga terjadi metroragia. Beberapa faktor yang menjadi penyebab perdarahan ini, antara
lain adalah :
- Pengaruh ovarium sehingga terjadilah hyperplasia endometrium sampai adeno
karsinoma endometrium.
- Permukaan endometrium yang lebih luas daripada biasa.
5
- Atrofi endometrium di atas mioma submukosum.
- Miometrium tidak dapat berkontraksi optimal karena adanya sarang mioma diantara
serabut miometrium, sehingga tidak dapat menjepit pembuluh darah yang melaluinya
dengan baik.
2) Rasa nyeri
Rasa nyeri bukanlah gejala yang khas tetapi dapat timbul karena gangguan sirkulasi
darah pada sarang mioma, yang disertai nekrosis setempat dan peradangan. Pada pengeluaran
mioma submukosum yang akan dilahirkan, pula pertumbuhannya yang menyempitkan kanalis
servikalis dapat menyebabkan juga dismenore.
3) Gejala dan tanda penekanan
Gangguan ini tergantung dari besar dan tempat mioma uteri. Penekanan pada kandung
kemih akan menyebabkan poliuri, pada uretra dapat menyebabkan retensio urine, pada ureter
dapat menyebabkan hidroureter dan hidronefrosis, pada rectum dapat menyebabkan obstipasi
dan tenesmia, pada pembuluh darah dan pembuluh limfe dipanggul dapat menyebabkan
edema tungkai dan nyeri panggul.
4) Infertilitas dan abortus
Infertilitas dapat terjadi apabila sarang mioma menutup atau menekan pars intertisialis
tuba, sedangkan mioma submukosum juga memudahkan terjadinya abortus oleh karena
distorsi rongga uterus. Rubin (1958) menyatakan bahwa apabila penyebab lain infertilitas
sudah disingkirkan, dan mioma merupakan penyebab infertilitas tersebut, maka merupakan
suatu indikasi untuk dilakukan miomektomi.

2.7. Diagnosis
1. Anamnesis
Dalam anamnesis dicari keluhan utama serta gejala klinis mioma lainnya, faktor resiko
serta kemungkinan komplikasi yang terjadi.
2. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan status lokalis dengan palpasi abdomen. Mioma uteri dapat diduga dengan
pemeriksaan luar sebagai tumor yang keras, bentuk yang tidak teratur, gerakan bebas,
tidak sakit.
3. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
Akibat yang terjadi pada mioma uteri adalah anemia akibat perdarahan
uterus yang berlebihan dan kekurangan zat besi. Pemeriksaaan laboratorium yang
6
perlu dilakukan adalah Darah Lengkap (DL) terutama untuk mencari kadar Hb.
Pemeriksaaan lab lain disesuaikan dengan keluhan pasien.
b. Imaging
1) Pemeriksaaan dengan USG akan didapat massa padat dan homogen pada
uterus. Mioma uteri berukuran besar terlihat sebagai massa pada abdomen
bawah dan pelvis dan kadang terlihat tumor dengan kalsifikasi.
2) Histerosalfingografi digunakan untuk mendeteksi mioma uteri yang tumbuh ke
arah kavum uteri pada pasien infertil.
3) MRI lebih akurat untuk menentukan lokasi, ukuran, jumlah mioma uteri,
namun biaya pemeriksaan lebih mahal.

2.8. Diagnosis banding


1. Adenomiosis (7)
2. Neoplasma ovarium
3. Kehamilan

2.9. Penatalaksanaan
Tidak semua mioma uteri memerlukan pengobatan bedah. Penanganan mioma uteri
tergantung pada umur, status fertilitas, paritas, lokasi dan ukuran tumor, sehingga biasanya
mioma yang ditangani yaitu yang membesar secara cepat dan bergejala serta mioma yang
diduga menyebabkan fertilitas. Secara umum, penanganan mioma uteri terbagi atas
penanganan konservatif dan operatif. (3)
Penanganan konservatif bila mioma berukuran kecil pada pra dan post menopause
tanpa gejala. Cara penanganan konservatif sebagai berikut : (3)
- Observasi dengan pemeriksaan pelvis secara periodic setiap 3-6 bulan.
- Pemberian tablet Fe untuk mencegah anemia dan pemberian NSAID untuk
pengobatan nyeri.
Pengobatan operatif meliputi miomektomi dan histerektomi. Miomektomi adalah
pengambilan sarang mioma saja tanpa pengangkatan uterus. Tindakan ini dapat dikerjakan
misalnya pada mioma submukoum pada myom geburt dengan cara ekstirpasi lewat vagina.
Pengambilan sarang mioma subserosum dapat mudah dilaksanakan apabila tumor bertangkai.
Apabila miomektomi ini dikerjakan karena keinginan memperoleh anak, maka kemungkinan
akan terjadi kehamilan adalah 30-50%. Histerektomi adalah pengangkatan uterus, yang
umumnya tindakan terpilih. Histerektomi dapat dilaksanakan perabdominan atau pervaginam.
7
Yang akhir ini jarang dilakukan karena uterus harus lebih kecil dari telor angsa dan tidak ada
perlekatan dengan sekitarnya. Adanya prolapsus uteri akan mempermudah prosedur
pembedahan. Histerektomi total umumnya dilakukan dengan alasan mencegah akan
timbulnya karsinoma servisis uteri. Histerektomi supravaginal hanya dilakukan apabila
terdapat kesukaran teknis dalam mengangkat uterus.(6)

Mioma

Besar < 14 mgg Besar > 14 mgg

Tanpa keluhan Dengan keluhan

Konservatif Operatif

Gambar 2. Bagan Penatalaksanaan Mioma Uteri. (5)

2.10. Komplikasi
Perubahan sekunder pada mioma uteri yang terjadi sebagian besar bersifat degenerasi.
Hal ini oleh karena berkurangnya pemberian darah pada sarang mioma. Perubahan sekunder
tersebut antara lain : (6)
• Atrofi : sesudah menopause ataupun sesudah kehamilan mioma uteri menjadi
kecil.
• Degenerasi hialin : perubahan ini sering terjadi pada penderita berusia lanjut.
Tumor kehilangan struktur aslinya menjadi homogen. Dapat meliputi sebagian
besar atau hanya sebagian kecil dari padanya seolah-olah memisahkan satu
kelompok serabut otot dari kelompok lainnya.

8
• Degenerasi kistik : dapat meliputi daerah kecil maupun luas, dimana sebagian dari
mioma menjadi cair, sehingga terbentuk ruangan-ruangan yang tidak teratur berisi
agar-agar, dapat juga terjadi pembengkakan yang luas dan bendungan limfe
sehingga menyerupai limfangioma. Dengan konsistensi yang lunak ini tumor sukar
dibedakan dari kista ovarium atau suatu kehamilan.
• Degenerasi membatu (calcereus degeneration) : terutama terjadi pada wanita
berusia lanjut oleh karena adanya gangguan dalam sirkulasi. Dengan adanya
pengendapan garam kapur pada sarang mioma maka mioma menjadi keras dan
memberikan bayangan pada foto rontgen.
• Degenerasi merah (carneus degeneration) : perubahan ini terjadi pada kehamilan
dan nifas. Patogenesis : diperkirakan karena suatu nekrosis subakut sebagai
gangguan vaskularisasi. Pada pembelahan dapat dilihat sarang mioma seperti
daging mentah berwarna merah disebabkan pigmen hemosiderin dan hemofusin.
Degenerasi merah tampak khas apabila terjadi pada kehamilan muda disertai
emesis, haus, sedikit demam, kesakitan, tumor pada uterus membesar dan nyeri
pada perabaan. Penampilan klinik ini seperti pada putaran tangkai tumor ovarium
atau mioma bertangkai.
• Degenerasi lemak : jarang terjadi, merupakan kelanjutan degenerasi hialin.

Komplikasi yang terjadi pada mioma uteri : (6)


1. Degenerasi ganas.
Mioma uteri yang menjadi leiomiosarkoma ditemukan hanya 0,32-0,6% dari seluruh
mioma; serta merupakan 50-75% dari semua sarkoma uterus. Keganasan umumnya
baru ditemukan pada pemeriksaan histologi uterus yang telah diangkat. Kecurigaan
akan keganasan uterus apabila mioma uteri cepat membesar dan apabila terjadi
pembesaran sarang mioma dalam menopause.
2. Torsi (putaran tangkai).
Sarang mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi, timbul gangguan sirkulasi akut
sehingga mengalami nekrosis. Dengan demikian terjadilah sindrom abdomen akut.
Jika torsi terjadi perlahan-lahan, gangguan akut tidak terjadi.
3. Nekrosis dan infeksi.
Sarang mioma dapat mengalami nekrosis dan infeksi yang diperkirakan karena
gangguan sirkulasi darah padanya.

9
BAB III
LAPORAN KASUS

I. Identitas pasien
Nama : Ny. Hasanah
Umur : 42 tahun
Agama : Islam
Suku/ Bangsa : Sasak/ WNI
Alamat : Pagutan, Pagesangan
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Wiraswasta
Nama suami : Tn. Ahmad
Umur : 45 tahun
Agama : Islam
Suku/ Bangsa : Sasak/ WNI
Pekerjaan : Wiraswasta
Pendidikan : SMA
Rekam Medik : 87 70 49
Tgl MRS : 05-05-2008

II. Anamnesis (05-05-2008)


Pasien datang ke Poli Kandungan RSU Mataram atas rujukan dokter spesialis dengan
mioma uteri. Pasien mengeluh keluar darah sejak 5 thn yang lalu dan terasa ada benjolan
pada perut bagian bawah. Darah haid terasa lebih banyak dan lebih lama, kira-kira 10-20
hari. Pasien juga mengeluhkan rasa penuh dan berat sejak 2 tahun yang lalu pada perut
bagian bawah. Pasien merasa benjolannya semakin besar.
Gangguan BAK dirasakan pasien lebih sering dan tidak nyeri.
Pada tanggal 01-05-2008, pasien memeriksakan diri ke spesialis, lalu di diagnosis mioma
uteri kemudian datang ke poli tanggal 05-05-2008 untuk rencana histerektomi.

10
Riwayat menstruasi sebelum terjadi gangguan haid :
- menarche : umur 16 tahun.
- siklus : teratur 30 hari sekali.
- banyaknya : normal (2-3 pembalut/ hari)
- lamanya : 6 hari
- HPHT : 04-05-2008
Riwayat penggunaan KB: suntikan per tiga bulan.
Riwayat pernikahan : suami ke I, menikah 1x selama 21 tahun.
Jumlah anak : 3 orang, hidup 3 orang.
Usia anak terkecil : 10 tahun.
Riwayat abortus : tidak pernah mengalami keguguran.
Riwayat penyakit dahulu : tidak pernah menderita penyakit jantung, paru, hati, ginjal, DM
dan hipertensi.
Riwayat penyakit keluarga : tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit menular,
mioma, keturunan dan kejiwaan.
Riwayat penyakit yang pernah diderita : sakit biasa seperti demam, flu dan batuk.
Riwayat penyakit keganasan pada keluarga : tidak ada anggota keluarga yang menderita
penyakit keganasan.
Riwayat alergi : tidak mempunyai alergi terhadap obat-obatan, makanan dan cuaca.

III. Pemeriksaan fisik (05-05-2008)


Status present
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Tensi : 130/90 mmHg
Nadi : 82 x/menit
Nafas : 22x/menit
Suhu : 36,3 0C
Tinggi badan : 155 cm
Berat badan : 53 kg

Status general
Kepala : Normocephali
11
Mata : Anemis (-/-), ikterik (-/-)
Thorak : Cor  S1, S2 tunggal, reguler, murmur (-)
Pulmo vesikuler -/-, rhonki -/-, wheezing -/-
Abdomen : Bising usus (+) normal
Ekstremitas : Edema -/-

Status ginekologi
Abdomen : Fundus uteri 3 jari di atas simpisis pubis, teraba massa mioma
berukuran 10 x 6 cm, konsistensi padat kenyal dan bersifat
mobile.
Nyeri tekan (+)
Inspekulo : Fluksus (-), P∅ (+), livide (-).
VT : Fluksus (-), P∅ 1 cm, nyeri (-)
CU AF --- lebih besar dari normal b/c ∞ 14-16 minggu.
APCD ---- nyeri (-), massa (+).

IV. Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan Laboratorium (05-05-2008)
Hb : 9,7 g% Berat Jenis Urine : 1030
Leu : 6800 /ul Urea : 38 mg%
Erit : 5,1.106 /ul Kreatinin : 1,0 mg%
Plt : 484.000 /ul pH urine : 8,0.
Hct : 32,2 % LED : 12
LED :9 GDS : 106 mg%
HbSAg : (-) Bilirubin total : 0,44 mg%
AST : 12 u/l
ALT : 24 u/l
BUN : 19 mg%
Kreatinin : 0,6 mg%

• USG (tgl 05-05-2008) hasil USG dari dr.SpOG :


Tampak uterus membesar dengan gambaran hiperechoic.
Kesan : mioma uteri.

12
• Patologi Anatomi (PA) setelah miomektomi.

V. Diagnosis Kerja
Mioma uteri

VI. Terapi
• Konsul anastesi dan penyakit dalam.
• Rencana untuk dilakukan Total Abdominal Histerektomi (TAH).

Operasi tanggal 29-05-2008 (jam 09.15 wita)


S : (-)
O : KU : Baik
Tensi : 140/80 mmHg
Nadi : 80x/menit
Nafas : 12x/menit
Suhu : 36 0C
Mata : Anemis (-/-), ikterik (-/-)
Thorak : Cor  S1, S2 tunggal, reguler, murmur (-)
Pulmo vesikuler -/-, rhonki -/-, wheezing -/-
A : Mioma Uteri
P : • Temuan Operasi : Uterus b/c ∞ 12-14 minggu, uteri ukuran 14 cm.
Tuba kanan dan kiri dalam batas normal
• Tindakan Operasi : Total Abdominal Histerektomi (TAH) & memasang drainage.
• Terapi post operasi : - Amoxan 3 x 1 tab
- Kaltrofen 3 x 1 ampul
- Transamin 3 x 1 ampul
Hasil lab:
Hb : 9,4 gr% Leukosit : 12.300 /UL.
PLT : 415.000 /UL.
LED : 15

VII. Follow Up
29 Mei 2008

13
S: (-)
O: KU : Baik
Tensi : 110/80 mmHg
Nadi : 82x/menit
Nafas : 20x/menit
Suhu : 36 0C
Mata : Anemis (-/-), ikterik (-/-)
Thorak : Cor  S1, S2 tunggal, reguler, murmur (-)
Pulmo vesikuler -/-, rhonki -/-, wheezing -/-
Abdomen : Luka operasi baik, terpasang drainage (residu (-)).
Urogen : Perdarahan aktif (-)

A: Post TAH hari ke I


P: - Amoxan 3 x 1 tab
- Kaltrofen 3 x 1 ampul
- Transamin 3 x 1 ampul

30 Mei 2008
S: (-)
O: KU : Baik
Tensi : 110/70 mmHg
Nadi : 86x/menit
Nafas : 20x/menit
Suhu : 36,3 0C
Mata : Anemis (-/-), ikterik (-/-)
Thorak : Cor  S1, S2 tunggal, reguler, murmur (-)
Pulmo vesikuler -/-, rhonki -/-, wheezing -/-
Abdomen : Luka operasi baik, terpasang drainage (residu (-)).
Urogen : Perdarahan aktif (-)

A: Post TAH hari ke II

P: - Amoxan 3 x 1 tab

14
- Kaltrofen 3 x 1 ampul
- Transamin 3 x 1 ampul

31 Mei 2008
S: (-)
O: KU : Baik
Tensi : 110/70 mmHg
Nadi : 88x/menit
Nafas : 20x/menit
Suhu : 36 0C
Mata : Anemis (-/-), ikterik (-/-)
Thorak : Cor  S1, S2 tunggal, reguler, murmur (-)
Pulmo vesikuler -/-, rhonki -/-, wheezing -/-
Abdomen : Luka operasi baik, terpasang drainage (residu (-)).
Urogen : Perdarahan aktif (-)

A: Post TAH hari ke III


P: - Amoxan 3 x 1 tab
- Kaltrofen 3 x 1 ampul
- Transamin 3 x 1 ampul

01 Juni 2008
S: (-)
O: KU : Baik
Tensi : 110/80 mmHg
Nadi : 84x/menit
Nafas : 20x/menit
Suhu : 36,1 0C
Mata : Anemis (-/-), ikterik (-/-)
Thorak : Cor  S1, S2 tunggal, reguler, murmur (-)
Pulmo vesikuler -/-, rhonki -/-, wheezing -/-
Abdomen : Luka operasi baik, terpasang drainage (residu (-)).
Urogen : Perdarahan aktif (-)

15
A: Post TAH hari ke IV
P: - Melepas drainage dan perawatan luka operasi
- Memulangkan pasien
- KIE pasien untuk datang kontrol ke poli seminggu lagi.

BAB IV
PEMBAHASAN

Mioma uteri adalah tumor jinak miometrium uterus dengan konsistensi padat kenyal,
batas jelas, mempunyai pseudo kapsul, tidak nyeri, bisa soliter atau multipel. Tumor ini juga
dikenal dengan istilah fibromioma uteri, leiomioma uteri, atau uterine fibroid. Mioma uteri
bukanlah suatu keganasan dan tidak juga berhubungan dengan keganasan.(1,5,6)
Pada laporan kasus berikut diajukan suatu kasus seorang wanita 42 tahun dengan
diagnosa mioma uteri. Sampai saat ini belum diketahui penyebab pasti mioma uteri dan
diduga merupakan penyakit multifaktorial. Faktor predisposisi pada pasien tersebut
kemungkinan karena umur pasien 42 tahun dimana tumor ini paling sering memberikan gejala
klinis antara 35-45 tahun. Diperkirakan ada korelasi antara hormon estrogen dengan
pertumbuhan mioma, dimana mioma uteri muncul setelah menarche, berkembang setelah
kehamilan dan mengalami regresi setelah menopause.(3)
Diagnosa mioma uteri ditegakan berdasarkan gejala yang timbul, pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan penunjang yang ada. Gejala yang timbul sangat tergantung pada tempat
sarang mioma ini berada (serviks, intramural, submukus, subserus), besarnya tumor,
perubahan dan komplikasi yang terjadi.(6) Gejala-gejala pada pasien tersebut antara lain
gangguan haid berupa menoragia yaitu perdarahan haid yang lebih banyak dari normal, atau
lebih lama dari normal (lebih dari 8 hari). Sebab kelainan ini terletak pada kondisi dalam
uterus, misalnya adanya mioma uteri dengan permukaan endometrium lebih luas dari biasa
dan dengan kontraktilitas yang terganggu.(6) Gejala yang lain yaitu rasa penuh (kemeng), nyeri
dan berat pada perut bagian bawah serta gangguan BAK berupa retensio urine. Gangguan ini
tergantung dari besar dan tempat mioma uteri sehingga menimbulkan gejala dan tanda
penekanan.(6)
Pemeriksaan fisik pada pasien ini didapatkan status vital yang baik, yang berarti
hemodinamik pasien masih baik. Kemudian juga ditemukan fundus uteri 3 jari di atas simpisis

16
pubis. Hal ini karena adanya massa mioma yang tumbuh pada uterus. Pada palpasi abdomen
teraba massa mioma berukuran 10 x 6 cm yang berkonsistensi padat kenyal dan bersifat
mobile. Konsistensi dari mioma bervariasi dari keras seperti batu hingga lembek, walaupun
sebagian besar memiliki konsistensi kenyal seperti karet.(8) Selain itu didapatkan pembukaan
karena adanya mioma yang mendesak dari dalam porsio. Dari pemeriksaan dalam juga
ditemukan hal serupa, besar serta konsistensi corpus uteri sesuai 14-16 minggu.
Pemeriksaan penunjang dengan USG pada pasien ini didapatkan gambaran uterus
yang membesar dan hiperekoik dengan kesan mioma uteri. Pemeriksaan dengan CT scan
maupun USG juga dapat dilakukan, namun lebih mahal dan menghabiskan waktu lebih lama
tetapi tidak memberikan informasi yang lebih daripada USG.(9)
Pemeriksaan patologi anatomi (PA) direncanakan dilakukan setelah miomektomi,
karena bagaimanapun diagnosis definitif dari perdarahan uterus adalah dengan biopsi atau
dilatasi dan kuretase partial.(10) Pemeriksaan PA dapat menyingkirkan kemungkinan kelainan
yang paling mematikan dan penting seperti adenokarsinoma endometrium atau sarcoma
uterus dan karsinoma ovarium.(10)
Dapat ditarik kesimpulan diagnosis pasien tersebut adalah mioma uteri melalui hasil
anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang dilakukan. Pada anamnesis
yang menunjang diagnosis mioma uteri adalah didapatkan keluhan perdarahan pervaginam,
rasa penuh dan berat pada perut bagian bawah dan gangguan miksi. Kemudian dari
pemeriksaan fisik ditemukan ditemukan fundus uteri 3 jari di atas simpisis pubis. Dari
inspekulo dan VT tidak didapatkan fluksus dan pembukaan, kemudian teraba massa mioma
berukuran 10 x 6 cm. Pencitraan dengan USG semakin memperkuat diagnosis mioma uteri
dimana terdapat uterus yang membesar dengan ukuran 10 x 6 cm.
Penatalaksanaan pasien ini dilakukan konsul ke anastesi untuk mengevaluasi keadaan
pasien untuk operasi dan ke penyakit dalam untuk mengkorfirmasi keadaan pasien dengan
anemia ringan. Penatalaksanaan mioma uteri berdasarkan besar kecilnya tumor, ada tidaknya
keluhan, umur dan paritas penderita.(5) Pada pasien ini dilakukan tindakan operatif mengingat
pada hasil pemeriksaan dalam didapatkan besar konsistensi uterus sesuai 14-16 minggu. Hal
tersebut sesuai dengan penatalaksanaan mioma uteri yang menyebutkan dapat dilakukan
tindakan operatif bila besar konsistensi uterus sesuai >14 minggu.(5) Direncanakan Total
Abdominal Histerektomi (TAH) elektif karena selain untuk mengendalikan perdarahan,
pasien juga sudah tidak mempunyai keinginan untuk hamil lagi sehingga tidak perlu
mempertahankan fungsi dari rahim. Miomektomi bisa dipilih untuk pasien yang masih

17
menginginkan anak, sehingga perlu mempertahankan fungsi uterus. Histerektomi total
umumnya dilakukan dengan alasan mencegah akan timbulnya karsinoma servisis uteri.(6)

BAB V
KESIMPULAN

a. Diagnosis pasti dari pasien tersebut ialah dengan pemeriksaan dalam dan pemeriksaan
penunjang, USG.
b. Faktor penyebab mioma uteri pada pasien tersebut ialah usia pasien yang tergolong
dalam resiko tinggi dan multiparitas.
c. Penatalaksanaan kasus ialah dengan histerektomi total, karena pasien sudah tidak ingin
hamil lagi.

18
DAFTAR PUSTAKA

1. Yuad H., 2007. Miomectomi Pada Kehamilan. Available from :


http://www.ksuheimi.blogspot.com. Accested : March 01, 2008.
2. Pinkerzzz, 2007. Mioma Uteri. Available from :
http://www.pinkerzzz03.blogspot.com. Accested : March 01, 2008.
3. Jevuska O., 2007. Mioma Geburt. Available from :
http://www.oncejevuska.blogspot.com. Accested : March 01, 2008.
4. Anonim, 2008. Sekilas tentang Tumor (Myoma) Rahim. Available from :
http://www.klinikandalas.wordpress.com. Accested : March 02, 2008.
5. Suwiyoga K. et all., 2003. Mioma Uterus dalam Buku Pedoman Diagnosis-Terapi dan
Bagan Alir Pelayanan Pasien. SMF Obsgin FK UNUD RS Sanglah, Denpasar.
6. Sutoto J. S. M., 2005. Tumor Jinak pada Alat-alat Genital dalam Buku Ilmu
Kandungan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirodihardjo, Jakarta.
7. Marjono B. A. et all., 2008. Tumor Ginekologi. Available from :
http://www.geocities.com. Accested : March 02, 2008.
8. Edward E., 2007. Uterine Miomas : Comprehensive Review. Available from :
http://www.gynalternatives.com. Accested : March 02, 2008.
9. Stovall et all., 1992. Benign Diseases of the Uterus – Leiomyoma Uteri and the
Hysterectomy. Clinical Manual Gynecology, Second Edition, Mc. Graw-Hill
International, Singapore.
10. Anonim, 2000. Gynecology by Ten Teachers 17th Edition. Editor : Campbell, S.C.,
Monga, A.

19