Anda di halaman 1dari 17

EFEK / PENGARUH STRESS TERHADAP NEUROFISIOLOGI (PSIKOSOMATIS)

Disusun untuk memenuhi salah satu syarat tugas kelompok mata kuliah Psikologi Kesehatan

Disusun oleh : Kelompok 4 ( Autis)

1. Annisa Dian Kartika 2. Haris Suhud 3. Hasyim 4. Nidha Janari Nanel 5. Preselia Sahertian

0810713005 0810713010 1040713073 0810713013 0830713038

FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAKARTA

TAHUN 2011

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat dan karunia-Nya hingga saat ini. Alhamdulillah atas usaha dan kerja keras serta bantuan dari rekan satu kelompok dan atas kehendak-Nya, kami telah menyelesaikan tugas kelompok mata kuliah Psikologi Kesehatan dengan judul Efek / Pengaruh Stress terhadap Neurofisiologi (Psikosomatis). Dalam papper ini dijelaskan mengenai Definisi, penyebab, efek stress terhadap neurofisiologi (psikosomatis) serta terapinya. Kami telah berusaha menyusun makalah ini sebaik mungkin. Demikian makalah ini kami susun. Semoga bermanfaat bagi kami yang telah membuatnya dan bagi anda yang membacanya. Apabila terdapat kesalahan dalam pembuatan papper ini, kami mohon maaf karena kami masih dalam tahap belajar. kritik dan saran akan kami terima, terima kasih.

Jakarta, November 2011

Penulis

DAFTAR ISI

COVER Kata Pengantar Daftar Isi. BAB I PENDAHULUAN 1.1 1.2 1.3 BAB II BAB III Latar belakang.... Tujuan penulisan Sistematika penulisan. 4 5 5 6 15 17 2 3

TINJAUAN PUSTAKA.. PENUTUP...

Daftar Pustaka..

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Gangguan psikosomatis adalah faktor psikologis yang merugikan,

mempengaruhi kondisi medis pasien. Faktor psikologis tersebut dapat berupa gangguan mental, gejala psikologis, sifat kepribadian atau gaya mengatasi masalah, dan prilaku kesehatan yang maladaptif.1 Kurang lebih 400 tahun SM ahli filsafat Hipocrates sudah mengutarakan pentingnya peran faktor psikis pada penyakit. Pada abad pertengahan Paracelcus seorang ahli kimia menyatakan bahwa kekuatan batin memiliki pengaruh terhadap kekuatan seseorang.2 Menurut The National Academy Science tahun 1978 definisi psikosomatis adalah bidang interdisiplin yang memperhatikan perkembangan dan integrasi ilmu pengetahuan prilaku, biomedis dan teknik yang relevan dengan kesehatan dan penyakit serta penerapan pengetahuan, dan teknik-teknik tersebut untuk mencegah, mendiagnosis dan rehabilitasi.1 Masalah kesehatan jiwa memang seringkali dipandang sebelah mata bahkan oleh para klinisi di bidang kesehatan. Kesehatan jiwa dianggap tidak lebih penting daripada kesehatan fisik. Padahal badan kesehatan dunia (WHO) sendiri pada tahun 2020 memproyeksikan bahwa Depresi akan menjadi penyakit kedua terbanyak setelah penyakit jantung dan pembuluh darah. Penelitian yang dilakukan oleh para staf di Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA) di sebuah Puskesmas di Jakarta Barat memperlihatkan hasil bahwa pasien yang datang ke puskesmas dengan keluhan fisik ternyata 30 persen lebih di antaranya mengalami gangguan kesehatan jiwa dan yang paling besar adalah gangguan depresi, cemas dan psikosomatik (28,5%). Artinya orang yang datang dengan keluhan fisik ke pelayanan kesehatan belum tentu sebenarnya gangguan dasarnya bersifat fisik medis saja tetapi mungkin merupakan manifestasi dari keluhan gangguan kejiwaannya. 1.2 Tujuan penulisan
4

Mengetahui efek / pengaruh stress terhadap neurofisiologi (psikosomatis). 1.3 Sistematika Penulisan Cover Kata Pengantar Daftar Isi BAB I PENDAHULUAN 1.1 1.2 BAB II BAB III Daftar Pustaka Latar belakang Tujuan penulisan

TINJAUAN PUSTAKA PENUTUP

BAB II
5

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Istilah psikosomatis berasal dari bahasa yunani (psyche berarti psikis dan soma berarti badan). Istilah ini diperkenalkan oleh seorang dokter Jerman Heinroth ke dalam kedokteran Barat. Pada tahun 1818 ia menerbitkan desertasi yang menekankan pentingnya faktor psikososial dalam perkembangan penyakit fisik. Kartini Kartono dalam bukunya yang berjudul psikologi abnormal mendefinisikan psikosomatis yaitu bentuk macam-macam penyakit fisik yang ditimbulakn oleh konflik-konflik psikis/psikologis dan kecemasan-kecemasan kronis. Dia juga mendefinisikan psikosomatis sebagai kegagalan sistem syaraf dan sistem fisik disebabkan oleh kecemasan-kecemasan, konflik-konflik psikis dan gangguan mental. J.P Chaplin dalam kamus psikologi menyebutkan bahwa psikosomatis adalah satu penyakit yang disebabkan oleh satu kombinasi dari faktor organis dan psikologis. Gangguan psikosomatis secara tradisional didefinisikan sebagai penyakit fisik yang dipengaruhi oleh faktor psikologis. Gangguan psikosomatis sebenarnya tidak termasuk faktor psikologis yang terlalu berat untuk digolongkan ke dalam gangguan mental tetapi gangguan ini sangat berperan mempengaruhi gangguan medis. Pada psikosomatis penyakit-penyakit fisik dan kegagalan sistem syaraf tadi terus berlangsung, walaupun tanpa ada stimulus atau perangsang khusus yang jelas ada kaitan antara tubuh dan jiwa, seperti pada perasaan/ emosi-emosi yang mempunyai latar belakang komponen mental dan komponen jasmaniah. Jadi, ada interdependensi (saling ketergantungan) diantara proses-proses mental dengan fungsi fungsi somatic (jasmani,fisik). Dalam hal ini ada kegagalan pada sistem syaraf dan sistem fisik untuk menyalurkan peringan kecemasan dan gangguan mental. Konflik-konflik psikis atau psikologis dan kecemasan bisa menjadi sebab timbulnya bermacam-macam penyakit jasmani atau bakhan bisa menjadi penyebab semakin beratnya suatu penyakit jasmani yang telah ada. Sebagai contoh : karena rasa takut yang hebat, detak jantung jadi sangat cepat, dan ada kelelahan ekstrim dari reaksi asthenis (kelemahan) pada badan yang lemah. kedua-duanya adalah benarbenar gejala fisiologis atau jasmaniah yang diidentifikasikan sebagai akibat dari konflik-konflik emosional yang sifatnya psikologis.
6

Gangguan psikosomatik biasanya digolongkan menurut organ yang terkena, yaitu: 1. Gangguan kulit misalnya neurodermatitis dan hiperhidrosis (kulit kering) 2. Gangguan pernafasan misalnya asma bronchial, hiperventilasi (bernafas sangat cepat seringkali menjadi pingsan) 3. Gangguan kardiovaskular misalnya migraine dan tekanan darah tinggi (hipertensi) 4. Gangguan gastrointestinal misalnya luka lambung.

2.2

Penyebab Gangguan Psikosomatis David B.Cheek, M.D. dan Leslie M. Lecron,B.A. dalam bukunya Clinical Hypnotherapy mengatakan bahwa ada 7 faktor penyebab berbagai gangguan psikosomatis. Memahami 7 kunci penting ini akan membantu terapis dan klien membuka pintu gerbang kesadaran baru tentang pemahaman masalahnya. Untuk memudahkan mengingat maka kita gunakan mnemonik COMPISS (Conflict, Organ Language, Motivation, Past Experience, Identification, Self-punishment, Suggestion/Imprint) 1. Conflict Konflik internal muncul karena ada minimal dua bagian dari diri seseorang yang saling bertentangan. Tujuan dari kedua bagian ini sebenarnya sama baiknya namun karena bertolak belakang akibatnya timbul masalah. Contohnya adalah seorang manajer yang selalu sakit kepala pada akhir bulan. Ternyata ada dua bagian dari dirinya yang konflik. Satu bagian dirinya ingin agar ia istirahat di rumah bersama keluarganya. Yang satu lagi ingin agar ia tetap bekerja agar menerima uang lembur lebih banyak dengan menyelesaikan laporan bulanan. Sebagai contoh kasus yang lain adalah seorang salesman yang sangat sukses namun memiliki kecemasan sangat tinggi dan selalu berusaha menghindar untuk berjabat tangan. Padahal dalam menjalankan aktivitasnya ia seringkali harus berjabat tangan memperkenalkan diri dengan pelanggannya. Setelah dilakukan hipnoanalisis ternyata saat ia masih remaja ia sering melakukan masturbasi dan ia ketakutan membayangkan orang-orang yang dikenalnya akan bisa mengenali keburukannya
7

2. Organ Language / Unresolved problem

Ini adalah salah satu cara pikiran bawah sadar berbicara pada kita tentang masalah yang belum terselesaikan. Caranya adalah dengan memberi rasa sakit pada bagian tertentu tubuh kita. Jadi masalah itu dimunculkan dalam bentuk symptom. Dengan adanya symptom diharapkan pikiran bawah sadar mendapatkan perhatian dari pikiran sadar. Makna symptom ini adalah, Saya tidak suka apa yang sedang anda lakukan. Inilah penyakit yang bersifat psikosomatis. Jadi klien perlu dibantu menemukan akar masalahnya jauh di pikiran bawah sadarnya. Seringkali apa yang tampaknya menjadi masalah, menurut pikiran sadar, ternyata berbeda dengan yang dinyatakan oleh pikiran bawah sadar. 3. Motivation Symptom yang dialami seseorang sering kali mempunyai tujuan tersembunyi demi keuntungan orang tersebut. Contohnya adalah seorang anak yang malas sekali belajar sehingga ulangannya mendapatkan nilai jelek semua. Ternyata hal ini adalah salah satu upayanya agar mendapatkan teguran dari orangtua. Ia menyamakan teguran dengan perhatian. Ya... benar ia ingin mendapatkan perhatian dari orangtuanya. Contoh lain lagi adalah kasus pada seorang wanita yang mengalami migrain. Setelah diselidiki lebih dalam ternyata pikiran bawah sadar wanita ini membuat wanita ini mengalami migrain karena dengan demikian suami dan anakanaknya memperhatikannya. Bila dalam kondisi normal, tanpa migrain, keluarganya biasanya sibuk sendiri dan kurang memperhatikan wanita ini. 4. Past Experience Pengalaman masa lalu yang menyakitkan, sesuai dengan persepsi pikiran bawah sadar, mempunyai pengaruh yang sangat kuat dan bertahan lama. Contohnya adalah phobia. Ketakutan akan sesuatu, yang terjadi di masa lalu, terbawa hingga masa kini dan sangat mengganggu seseorang. 5. Identification Pada kasus ini klien mengidentifikasikan dirinya dengan satu figur yang ia kagumi. Contoh kasusnya adalah seorang klien yang sering ditipu oleh rekan kerjanya. Ternyata ia mengidolakan seorang tokoh bisnis yang dulunya ditipu berkali-kali sehingga akhirnya bisa sukses dan makmur. Identifikasi ini adalah
8

sebuah program yang bekerja sangat halus yang jika digunakan dengan baik maka akan menghasilkan sesuatu yang positif. Satu hal yang perlu diingat bila kita menggunakan identifikasi adalah apapun yang melekat pada seorang figur biasanya akan ikut terserap juga walau terkadang ini bertentangan dengan nilai hidup kita. Hal ini bisa menimbulkan permasalahan baru yang masuk dalam kategori conflict 6. Self-punishment Perasaan bersalah atas apa yang telah dilakukan di masa lalu sering kali termanifestasi dalam sebuah perilaku untuk menghukum diri sendiri. Terapi dilakukan dengan membantu klien untuk bisa memaafkan dirinya sendiri atas kesalahan tersebut atau yang dirasa sebagai suatu kesalahan yang ia lakukan 7. Sugesstion/Imprint Imprint adalah sebuah kepercayaan/belief yang ditanamkan ke pikiran klien, biasanya oleh figur yang oleh klien dipandang memiliki otoritas. Seorang wanita berumur 40 an tahun menderita batuk puluhan tahun. Tak ada pengobatan yang bisa menyembuhkan batuknya. Akhirnya ia pun mencoba hipnoterapi dan setelah dilakukan hipnoanalisis akhirnya terungkap pada saat ia berusia 4 tahun ia sedang terbaring di ranjang rumah sakit. Ia menderita batuk yang sangat parah. Ayah ibunya ada di sisi ranjangnya saat seorang dokter mengatakan bahwa ia tak akan pernah sembuh dari batuknya. Perkataan dokter ini langsung membuatnya ketakutan dan saat itulah perkataan sang dokter menjadi sebuah kebenaran yang diterima pikiran bawah sadarnya. 2.3 Efek Stress terhadap Neurofisiologi (Psikosomatis) Konflik dan gangguan jiwa dapat menimbulkan gangguan badaniah yang terus menerus, biasanya hanya pada satu alat tubuh saja, tetapi kadang-kadang juga berturut-turut atau serentak beberapa organ yang terganggu. Berikut ini reaksi tubuh ketika mengalami stress : 1. Sistem Saraf Saat stress baik secara fisik maupun psikologis tubuh akan secara tiba-tiba memindahkan sumber energinya untuk memberikan perlawanan terhadap serangan stress. Ini apa yang dikenal dengan respons fight or flight (melawan atau terserang) dimana saraf simpatik akan memberi sinyal kepada kelenjar
9

Adrenal untuk mengeluarkan kortisol dan adrenalin. Hormon ini akan menyebabkan denyut jantung lebih cepat, meningkatnya tekanan darah, mengubah pencernaan dan meningkatkan level glukosa dalam aliran darah. Saat krisis telah lewat maka tubuh akan kembali normal lagi. Masalahnya, bila kondisi ini berlangsung terus-menerus, maka hormon-hormon tadi bisa mengganggu kemampuan mengingat dan belajar sehingga kita rentan depresi. 2. Sistem Kardiovaskuler Stress akut yaitu stress yang sementara saja seperti stress ketika terjadi kemacetan lalulintas akan menyebabkan meningkatnya denyut jantung dan kontraksi yang berlebihan pada audan otot jantung mengalami pelebaran, menyebabkan suplai darah yang terlalu berlebihan kepada beberapa bagian tubuh. Apabila episode ini berlanjut lagi maka akan menyebabkan peradangan pada arteri koroner, yang bisa mengarah pada serangan jantung. Mekanisme yang terjadi pada psikosomatis dapat melalui rasa takut atau kecemasan yang akan mempercepat denyutan jantung, meninggikan daya pompa jantung dan tekanan darah, menimbulkan kelainan pada ritme dan EKG. Kehilangan semangat dan putus asa mengurangi frekuensi, daya pompa jantung dan tekanan darah.3 Gejala-gejala yang sering didapati antara lain: takikardia, palpitasi, aritmia, nyeri perikardial, napas pendek, lelah, merasa seperti akan pingsan, sukar tidur. Gejala- gejala seperti ini sebagian besar merupakan manifestasi gangguan kecemasan.3 3. Sistem Pernafasan Stress bisa menyebabkan kita sulit bernapas dan pernapasan yang cepat atau hiperventilasi dimana bisa menyebabkan keadaan panik pada beberapa orang. Gangguan psikosomatis yang sering timbul dari saluran pernapasan ialah sindrom hiperventilasi dan asma bronkiale dengan bermacam-macam keluhan yang menyertainya. hiperventilasi biasanya merupakan tarikan nafas panjang, dan dapat menjadi suatu kebiasaan, seperti ada orang yang mengisap rokok bila ia tegang, yang lain mulai bernafas panjang. Kecemasan dapat menggangu ritme pernapasan dan diketahui juga dapat menimbulkan serangan asma. Stimuli emosi

10

bersama dengan alergi penderita menimbulkan kontruksi bronkoli bila sistem saraf vegetatif juga tidak stabil dan mudah terangsang. 4. Sistem Muskuloskeletal (Otot dan Rangka) Dalam keadaan stress, otot-otot akan menjadi kencang. Kontraksi otot-otot dalam waktu yang lama akan menyebabkan sakit kepala (tension headache), migrain dan gangguan otot yang lain. Nyeri otot atau mialgi sering terdapat dalam praktek. Kecuali hawa dan pekerjaan, maka faktor emosi memegang peranan yang penting dalam menimbulkannya. Karena tekanan psikologik, maka tonus otot meninggi dan penderita mengeluh nyeri kepala, kaku kuduk dan nyeri punggung bawah. Ketegangan otot dapat menyebabkan ketegangan sekitar sendi dan menimbulkan nyeri sendi. Contoh kasus, seringkali seorang pasien dengan nyeri punggung bawah melaporkan bahwa nyerinya dimulai saat trauma psikologis atau stres. Disamping itu reaksi pasien terhadap nyeri adalah tidak sebanding secara emosional, dengan kecemasan dan depresi yang berlebihan.1 5. Sistem Pencernaan Gangguan saluran pencernaan sebagai manifestasi gangguan psikosomatis paling sering terdapat dalam praktek, akan tetapi penderita harus diperiksa betul untuk menyingkirkan penyebab somatogenik Kerongkongan Stress akan menyebabkan Anda makan lebih banyak ataupun lebih sedikit dari yang biasanya. Jika Anda makan berlebihan, atau mengganti makanan, atau merokok lebih banyak, ataupun meminum alkohol, hal ini akan menyebabkan perasaan terbakar pada dada (heartburn) ataupun naiknya asam lambung ke atas (reflux).

Perut Anda akan merasa seperti ada kupu-kupu,bisa juga mual ataupun perih. Pada keadaan lanjut bahkan sampai terasa muntah.
11

Muntah, isi lambung disemprotkan ke luar sebab ada kontraksi otot-otot dinding perut dan diafragma serta kardia dalam keadaan relaksasi. Muntah ialah suatu refleks yang kompleks. Muntah dipengaruhi oleh banyak sentra yang lain antara lain : pengaruh dari olfaktorius, dari penglihatan dan dari vertibularis. Usus Stress akan menghambat penyerapan nutrisi dalam usus. Ia juga dapat mempengaruhi seberapa cepat makanan bergerak dalam tubuh. Anda mungkin merasa sembelit ataupun diare. 6. Sistem Endokrin Sistem endokrin memegang peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan individu, baik fisik maupun mental. Gangguan psikosomatik mengenai sistem endokrin yang mungkin terjadi adalah hipertiroidi dan syndrome menopause. Sebelum gejala-gejala hipertiroidi timbul sering didahului konflik atau stress dalam hidup penderita. Hampir semua penderita mengalami krisis emosional sebelum sakit. Sering gejala-gejala pada hipertiroidi hanya merupakan mengerasnyasifat-sifat kepribadian yang ada sebelumnya, seperti : lekas terpengaruh, mudah terkejut bila menerima suara atau cahaya keras, gugup, lekas marah, rasa cemas yang ringan. Dalam syndrom menopause sering timbul gangguan jiwa dalam waktu ini yang merupakan gangguan psikosomatis, nerosa ataupun psikosa. Contoh Premenstrual syndrome (PMS), ditandai oleh perubahan subjektif mood,
rasa kesehatan fisik, dan psikologis umum yang berhubungan dengan siklus menstruasi. Secara khusus, perubahan kadar estrogen, progesteron, dan prolaktin dihipotesiskan berperan penting sebagai penyebab.Gejala biasanya dimulai segera setelah ovulasi, meningkat secara bertahap, dan mencapai intensitas maksimum kirakira lima hari sebelum periode menstruasi dimulai. Faktor psikososial, dan biologis telah terlibat didalam patogenesis gangguan.1

7. Sistem Reproduksi

12

Pada lelaki, produksi berlebihan kortisol akan mempengaruhi sistem reproduksi. Stress kronis bisa menyebabkan kerusakan pada sperma dan menyebabkan impotensi. Pada wanita, stress bisa menyebabkan tidak menstruasi lagi ataupun siklus menstruasi yang tidak teratur, dan bahkan periode menstruasi dengan rasa sakit. Stress juga mengurangi gairah seksual. 8. Kulit Emosi dapat menimbulkan gangguan pada kulit telah lama diketahui. Baru tahun-tahun belakangan ini diperhatikan dan diselidiki hubungan antara timbulnya neurodermatitis dan hiperhidrosis dan reaksi kulit lain dengan kesukaran penyesuain diri terhadap stress dalam hidup manusia.

2.4

Terapi Psikosomatis Adapun tipe-tipe terapi yang digunakan bagi para penderita psikosomatis adalah : 1. Psikoterapi Kelompok dan Terapi keluarga Karena kepentingan psikopatologis dari hubungan ibu-anak dalam perkembangan gangguan psikosomatik, modifikasi hubungan tersebut telah diajukan sebagai kemungkinan focus penekanan dalam psikoterapi untuk gangguan psikosomatik. Toksoz Bryam Karasu menulis bahwa pendekatan kelompok harus juga menawarkan kontak intrapersonal yang lebih besar, memberikan dukungan ego yang lebihh tinggi bagi ego pasien psikosomatis yang lemah dan merasa takut akan ancaman isolasi dan perpisahan parental. Terapi keluarga menawarkan harapan suatu perubahan dalam hubungan antara keluarga dan anak. Kedua terapi memiliki hasil klinis awal yang sangat baik. 2. Terapi Perilaku Biofeedback. Ini adalah terapi yang menerapkan teknik behavior dan banyak digunakan untuk mngatasi psikosomatik. Terapi yang dikembangkan oleh Nead Miller ini didasari oleh pemikiran bahwa berbagai respon atau reaksi yang dikendalikan oleh sistem syaraf otonam sebenarnya dapat diatur sendiri oleh
13

individu melalui operant conditioning. Biofeedback mempergunakan instrumen sehingga individu dapat mengenali adanya perubahan psikologis dan fisik pada dirinya dan kemudian berusaha untuk mengatur reaksinya. Misalnya seseorang penderita migrain atau sakit kepala. Dengan menggunakan biofeedback, ia bisa berusaha untuk rileks pada saat mendengan singal yang menunjukkan bahwa ada kontraksi otot atau denyutan dikepala. Penerapan teknik ini pada pasien dengan hipertensi, aritmia jantung, epilepsy dan nyeri kepala tegangan telah memberikan hasil terapetik yang membesarkan hati tetapi tidak menyakitkan. Teknik Relaksasi, Terapi hipertensi dapat termasuk penggunaan teknik relaksasi. Hasil yang positif telah diterbitkan tentang pengobatan penyalahgunaan alcohol dan zat lain dengan menggunakan meditasi transcendental. Teknik meditasi juga digunakan dalam pengobatan nyeri kepala.

BAB III PENUTUP Kesimpulan Efek stress terhadap neurofisiologi (Psikosomatis), meliputi :
14

1. Sistem Saraf Saat stress baik secara fisik maupun psikologis tubuh akan secara tiba-tiba memindahkan sumber energinya untuk memberikan perlawanan terhadap serangan stress. Ini apa yang dikenal dengan respons fight or flight (melawan atau terserang) dimana saraf simpatik akan memberi sinyal kepada kelenjar Adrenal untuk mengeluarkan kortisol dan adrenalin. Hormon ini akan menyebabkan denyut jantung lebih cepat, meningkatnya tekanan darah, mengubah pencernaan dan meningkatkan level glukosa dalam aliran darah. Saat krisis telah lewat maka tubuh akan kembali normal lagi. Masalahnya, bila kondisi ini berlangsung terus-menerus, maka hormon-hormon tadi bisa mengganggu kemampuan mengingat dan belajar sehingga kita rentan depresi. 2. Sistem Kardiovaskuler Stress akut yaitu stress yang sementara saja seperti stress ketika terjadi kemacetan lalulintas akan menyebabkan meningkatnya denyut jantung dan kontraksi yang berlebihan pada audan otot jantung mengalami pelebaran, menyebabkan suplai darah yang terlalu berlebihan kepada beberapa bagian tubuh. Apabila episode ini berlanjut lagi maka akan menyebabkan peradangan pada arteri koroner, yang bisa mengarah pada serangan jantung. 3. Sistem Pernapasan Gangguan psikosomatis yang sering timbul dari saluran pernapasan ialah sindrom hiperventilasi dan asma bronkiale dengan bermacam-macam keluhan yang menyertainya. hiperventilasi biasanya merupakan tarikan nafas panjang, dan dapat menjadi suatu kebiasaan, seperti ada orang yang mengisap rokok bila ia tegang, yang lain mulai bernafas panjang. 4. Sistem Muskuloskeletal Dalam keadaan stress, otot-otot akan menjadi kencang. Kontraksi otot-otot dalam waktu yang lama akan menyebabkan sakit kepala (tension headache), migrain dan gangguan otot yang lain. 5. Sistem Pencernaan Gangguan saluran pencernaan sebagai manifestasi gangguan psikosomatis paling sering terdapat dalam praktek adalah perut kembung, mual, muntah, diare, nafsu makan berlebih, dll. 6. Sistem Endokrin
15

Sebelum gejala-gejala hipertiroidi timbul sering didahului konflik atau stress dalam hidup penderita. Hampir semua penderita mengalami krisis emosional sebelum sakit. Sering gejala-gejala pada hipertiroidi hanya merupakan mengerasnyasifat-sifat kepribadian yang ada sebelumnya, seperti : lekas terpengaruh, mudah terkejut bila menerima suara atau cahaya keras, gugup, lekas marah, rasa cemas yang ringan. 7. Sistem Reproduksi Pada lelaki, produksi berlebihan kortisol akan mempengaruhi sistem reproduksi. Stress kronis bisa menyebabkan kerusakan pada sperma dan menyebabkan impotensi. Sedangkan pada wanita, stress bisa menyebabkan tidak menstruasi lagi ataupun siklus menstruasi yang tidak teratur, dan bahkan periode menstruasi dengan rasa sakit. Stress juga mengurangi gairah seksual. 8. Kulit Emosi dapat menimbulkan gangguan pada kulit telah lama diketahui. Baru tahuntahun belakangan ini diperhatikan dan diselidiki hubungan antara timbulnya neurodermatitis dan hiperhidrosis dan reaksi kulit lain dengan kesukaran penyesuain diri terhadap stress dalam hidup manusia.

DAFTAR PUSTAKA
1. Kaplan, Saddock, Grebb. Sinopsis Psikiatri. Jilid II. Edisi ketujuh. Bina Rupa Aksara. Jakarta.1997: 276-303 2. Budihalim S, Sukatman D. Psikosamatis. Dalam : Ilmu Penyakit Dalam jilid II, FK UI Jakarta 1999: 591-592 3. Maramis. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Airlangga University Press. Surabaya 1980:339-371 4. http://detikhealth.com , diakses pada hari Senin, 06 November 2011. 16

5. http://akademihipnoterapi.com/index.php/free-stuffs/46-penyebab-umum-gangguanpsikosomatis.html , diakses pada hari Senin, 06 November 2011. 6. http://belibis-a17.com/2008/10/26/gangguan-psikosomatik-dan-penatalaksanaannya/ , diakses pada hari Senin, 06 November 2011. 7. http://3lox.wordpress.com/2010/04/08/psikosomatis/ , diakses pada hari Senin, 06 November 2011.

17