Anda di halaman 1dari 19

Kemunduran Peradaban Islam Posted by banihamzah pada April 26, 2007 Lanjutan..

Setelah mengetahui asas kebangkitan peradaban Islam kini kita perlu mengkaji sebabsebab kemunduran dan kejatuhannya. Dengan begitu kita dapat mengambil pelajaran dan bahkan menguji letak kelemahan, kekuatan, kemungkinan dan tantangan (SWOT). Kemunduran suatu peradaban tidak dapat dikaitkan dengan satu atau dua faktor saja. Karena peradaban adalah sebuah organisme yang sistemik, maka jatuh bangunnya suatu perdaban juga bersifat sistemik. Artinya kelemahan pada salah satu organ atau elemennya akan membawa dampak pada organ lainnya. Setidaknya antara satu faktor dengan faktor lainnya yang secara umum dibagi menjadi faktor eksternal dan internal berkaitan erat sekali. Untuk itu, akan dipaparkan faktor-faktor ekternal terlebih dahulu dan kemudian faktor internalnya. Untuk menjelaskan faktor penyebab kemunduran umat Islam secara eksternal kita rujuk paparan al-Hassan yang secara khusus menyoroti kasus kekhalifahanTurkey Uthmani, kekuatan Islam yang terus bertahan hingga abad ke 20. Faktor-faktor tersebut adalah sbb: 1. Faktor ekologis dan alami, yaitu kondisi tanah di mana negara-negara Islam berada adalah gersang, atau semi gersang, sehingga penduduknya tidak terkonsentrasi pada suatu kawasan tertentu. Kondisi ekologis ini memaksa mereka untuk bergantung kepada sungai-sungai besar, seperti Nil, Eufrat dan Tigris. Secara agrikultural kondisi ekologis seperti ini menunjukkan kondisi yang miskin. Kondisi ini juga rentan dari sisi pertahanan dari serangan luar. Faktor alam yang cukup penting adalah Pertama, Negara-negara Islam seperti Mesir, Syria, Iraq dan lain-lain mengalami berbagai bencana alam. Antara tahun 1066-1072 di Mesir terjadi paceklik (krisis pangan) disebabkan oleh rusaknya pertanian mereka. Demikian pula di tahun 1347-1349 terjadi wabah penyakit yang mematikan di Mesir, Syria dan Iraq. Kedua, letak geografis yang rentan terhadap serangan musuh. Iraq, Syria, Mesir merupakan target serangan luar yang terus menerus. Sebab letak kawasan itu berada di antara Barat dan Timur dan sewaktu-waktu bisa menjadi terget invasi pihak luar. 2. Faktor eksternal. Faktor eksternal yang berperan dalam kajatuhan peradaban Islam adalah Perang Salib, yang terjadi dari 1096 hingga 1270, dan serangan Mongol dari tahun 1220-1300an. Perang Salib, menurut Bernard Lewis, pada dasarnya merupakan pengalaman pertama imperialisme barat yang ekspansionis, yang dimotivasi oleh tujuan materi dengan menggunakan agama sebagai medium psikologisnya. Sedangkan tentara Mongol menyerang negara-negara Islam di Timur seperti Samarkand, Bukhara dan Khawarizm, dilanjutkan ke Persia (12201221). Pada tahun 1258 Mongol berhasil merebut Baghdad dan diikuti dengan serangan ke Syria dan Mesir. Dengan serangan Mongol maka kekhalifahan Abbasiyah berakhir.

3. Hilangnya Perdagangan Islam Internasional dan munculnya kekuatan Barat. Pada tahun 1492 Granada jatuh dan secara kebetulan Columbus mulai petualangannya. Dalam upayanya mencari rute ke India ia menempuh jalur yang melewati negara-negara Islam. Pada saat yang sama Portugis juga mencari jalan ke Timur dan juga melewati negara-negara Islam. Di saat itu kekuatan ummat Islam baik di laut maupun di darat dalam sudah memudar. Akhirnya pos-pos pedagangan itu dengan mudah dikuasai mereka. Pada akhir abad ke 16 Belanda, Inggris dan Perancis telah menjelma menjadi kekuatan baru dalam dunia perdagangan. Selain itu, ternyata hingga abad ke 19 jumlah penduduk bangsa Eropa telah meningkat dan melampaui jumlah penduduk Muslim diseluruh wilayah kekhalifahan Turkey Uthmani. Penduduk Eropa Barat waktu itu berjumlah 190 juta, jika ditambah dengan Eropa timur menjadi 274 juta; sedangkan jumlah penduduk Muslim hanya 17 juta. Kuantitas yang rendah inipun tidak dibarengi oleh kualitas yang tinggi. Sebagai tambahan, meskipun Barat muncul sebagai kekuatan baru, Muslim bukanlah peradaban yang mati seperti peradaban kuno yang tidak dapat bangkit lagi. Peradaban Islam terus hidup dan bahkan berkembang secara perlahan-lahan dan bahkan dianggap sebagai ancaman Barat. Sesudah kekhalifahan Islam jatuh, negara-negara Barat menjajah negara-negara Islam. Pada tahun 1830 Perancis mendarat di Aljazair, pada tahun 1881 masuk ke Tunisia. Sedangkan Inggris memasuki Mesir pada tahun 1882. Akibat dari jatuhnya kekhalifahan Turki Uthmani sesudah Perang Dunia Pertama, kebanyakan negara-negara Arab berada dibawah penjajahan Inggris dan Perancis, demikian pula kebanyakan negara-negara Islam di Asia dan Afrika. Setelah Perang Dunia Kedua kebanyakan negara-negara Islam merdeka kembali, namun sisa-sisa kekuasaan kolonialisme masih terus bercokol. Kolonialis melihat bahwa kekuatan Islam yang selama itu berhasil mempersatukan berbagai kultur, etnik, ras dan bangsa dapat dilemahkan. Yaitu dengan cara adu domba dan tehnik divide et impera sehingga konflik intern menjadi tak terhindarkan dan akibatnya negara-negara Islam terfragmentasi menjadi negeri-negeri kecil. Itulah di antara faktor-faktor eksternal yang dapat diamati. Namun analisa al-Hassan di atas berbeda dari analisa Ibn Khaldun. Bagi Ibn Khaldun justru letak geografis dan kondisi ekologis negara-negara Islam merupakan kawasan yang berada di tengah-tengah antara zone panas dan dingin sangat menguntungkan. Di dalam zone inilah peradaban besar lahir dan bertahan lama, termasuk Islam yang bertahan hingga 700 tahun, India, China, Mesir dll. Menurut Ibn Khaldun faktor-faktor penyebab runtuhnya sebuah peradaban lebih bersifat internal daripada eksternal. Suatu peradaban dapat runtuh karena timbulnya materialisme, yaitu kegemaran penguasa dan masyarakat menerapkan gaya hidup malas yang disertai sikap bermewah-mewah. Sikap ini tidak hanya negatif tapi juga mendorong tindak korupsi dan dekadensi moral. Lebih jelas Ibn Khaldun menyatakan: Tindakan amoral, pelanggaran hukum dan penipuan, demi tujuan mencari nafkah meningkat dikalangan mereka. Jiwa manusia dikerahkan untuk berfikir dan mengkaji cara-cara mencari nafkah, dan untuk menggunakan segala bentuk penipuan untuk tujuan

tersebut. Masyarakat lebih suka berbohong, berjudi, menipu, menggelapkan, mencuri, melanggar sumpah dan memakan riba. Tindakan-tindakan amoral di atas menunjukkan hilangnya keadilan di masyarakat yang akibatnya merembes kepada elit penguasa dan sistem politik. Kerusakan moral dan penguasa dan sistem politik mengakibatkan berpindahnya Sumber Daya Manusia (SDM) ke negara lain (braindrain) dan berkurangnya pekerja terampil karena mekanimse rekrutmen yang terganggu. Semua itu bermuara pada turunnya produktifitas pekerja dan di sisi lain menurunnya sistem pengembangan ilmu pengertahuan dan ketrampilan. Dalam peradaban yang telah hancur, masyarakat hanya memfokuskan pada pencarian kekayaan yang secepat-cepatnya dengan cara-cara yang tidak benar. Sikap malas masyarakat yang telah diwarnai oleh materialisme pada akhirnya mendorong orang mencari harta tanpa berusaha. Secara gamblang Ibn Khaldun menyatakan: ..mata pencaharian mereka yang mapan telah hilang, .jika ini terjadi terus menerus, maka semua sarana untuk membangun peradaban akan rusak,dan akhirnya mereka benarbenar akan berhenti berusaha. Ini semua mengakibatkan destruksi dan kehancuran peradaban. Lebih lanjut ia menyatakan: Jika kekuatan manusia, sifat-sifatnya serta agamanya telah rusak, kemanusiaannya juga akan rusak, akhirnya ia akan berubah menjadi seperti hewan. Intinya, dalam pandangan Ibn Khaldun, kehancuran suatu peradaban disebabkan oleh hancur dan rusaknya sumber daya manusia, baik secara intelektual maupun moral. Contoh yang nyata adalah pengamatannya terhadap peradaban Islam di Andalusia. Disana merosotnya moralitas penguasa diikuti oleh menurunnya kegiatan keilmuan dan keperdulian masyarakat terhadap ilmu, dan bahkan berakhir dengan hilangnya kegiatan keilmuan. Di Baghdad keperdulian al-Mamun, pendukung Mutazilah dan alMutawakkil pendukung Ashariyyah merupakan kunci bagi keberhasilan pengembangan ilmu pengetahuan saat itu. Secara ringkas jatuhnya suatu peradaban dalam pandangan Ibn Khaldun ada 10, yaitu: 1) rusaknya moralitas penguasa, 2) penindasan penguasa dan ketidak adilan 3) Despotisme atau kezaliman 4) orientasi kemewahan masyarakat 5) Egoisme 6) Opportunisme 7) Penarikan pajak secara berlebihan Keikutsertaan penguasa dalam kegiatan ekonomi rakyat 9) Rendahnya komitmen masyarakat terhadap agama dan 10) Penggunaan pena dan pedang secara tidak tepat. Kesepuluh poin ini lebih mengarah kepada masalah-masalah moralitas masyarakat khususnya penguasa. Nampaknya, Ibn Khaldun berpegang pada asumsi bahwa karena kondisi moral di atas itulah maka kekuatan politik, ekonomi dan sistem kehidupan hancur dan pada gilirannya membawa dampak terhadap terhentinya pendidikan dan kajian-kajian keislaman, khususnya sains. Menurutnya ketika Maghrib dan Spanyol jatuh, pengajaran sains di kawasan Barat kekhalifahan Islam tidak berjalan. Namun dalam kasus jatuhnya Baghdad, Basra dan Kufah ia tidak menyatakan bahwa sains dan kegiatan saintifik

berhenti atau menurun, tapi berpindah ke bagian Timur kekhalifahan Baghdad, yaitu Khurasan dan Transoxania atau ke Barat yaitu Cairo. Itulah sebagian pelajaran yang dapat dipetik dari apa yang disampaikan oleh para sejarawan Muslim tentang kemunduran peradaban Islam. Jika al-Hassan memfokuskan pengamatannya pada masa-masa terakhir kejatuhan kekuasaan Islam pada abad ke 16 hingga abad ke 20, Ibn Khaldun mengamati peristiwa-peristiwa sejarah pada abad ke 15 dan sebelumnya. Kini masih diperlukan redifinisi tentang kemunduran ummat Islam secara umum dan mendasar, agar kita dapat memberikan solusi yang tepat. * Tema selanjutnya: Membangun Kembali Peradaban Islam Like this: Suka Be the first to like this post. Entri ini dituliskan pada April 26, 2007 pada 2:21 am dan disimpan dalam Islamic Studies, Peradaban Islam, Sejarah Peradaban. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan atas artikel ini melalui RSS 2.0 pengumpan. Anda bisa tinggalkan tanggapan, atau lacak tautan dari situsmu sendiri. 8 Tanggapan to Kemunduran Peradaban Islam 1. pangeran berkata September 26, 2007 pada 1:53 pm Sebab-sebab kemunduran masyarakat islam pada masa kini ialah disebabkan oleh kelemahan umat islam itu sendiri yang tidak mempunyai pegagan yang kuat terhadap agamanya. mereka juga mudah terpengaruh dengan iedologi-ideologi barat yang sebenarnya mengancam agamanya sendiri melalui agen-agennya yang tertentu. mereka juga kurang mengamalkan kandungan yang terdapat dalam AlQuran dan Hadith yang menjadi panduan umat manusia yang sebenarnya, lalu mereka tersesat. Umat islam juga pada masa kini kurang memberi perhatian terhadap lam akhirat, oleh itu mereka berlumba-lumba mengejar harta keduniaan sehinnga alpa terhadapnya. bagi mereka, material itu sangat penting dalam kehidupan yang semakin maju ini. dengan adanya harta kekayaan tersebut, mereka akan mudah bersikap rakus dengan khazanah dunia ini sehinga sanggup menindas orang lain dan saudaranyanya sendiri untuk merebut peluang tersebut. seterusnya ialah sikap individualistik yang seringkali mengabaikan aspek kemasyarakatan dan kesejagatan. mereka sangup melakukan apa saja untuk

mencapai matlamat mereka sehingga leka dan alpa dengan tugas mereka dimuka bumi ini sebagai hamba dan khalifah Allah SWT. Balas 2. summayah berkata Oktober 5, 2007 pada 12:15 am kemunduran islam terjadi karena umat islam menjauhkan diri dari Alquran dan sunnah Rasulullah. kalau kita menilik sejarah kejayaan islam dahulu karena umat tidak meninggal 2 pusaka yang di tingngalkan oleh Rasulullah. sekarang bagaimana kita berpikir untuk membangkitkan kembali kejayaan umat ini. Balas 3. aji berkata Maret 12, 2008 pada 4:56 pm kemunduran peradaban islam disebabkan oleh umat yang meninggalkan al Quran dan Hadith, kemudian disusul oleh rusak sistem kemasyarakatan dan pengembangan teknologi dan pendidikan keislaman, sehingga umat hidup dalam kebimbangan dan keruntuhan keimanan. Balas 4. budi berkata Februari 2, 2010 pada 4:57 am Terima kasih atas ulasannya. Menurut saya, perilaku umat islam yang umumnya saat ini : 1. Cinta dunia 2. Jauh dan cenderung merendahkan agamanhya 3. Individualis

4. Bangga dengan budaya barat 5. Jauh dari alquaran dan hadis 6. Miskin dan terjebak hutang dengan berbagai modelnya (kredit, terjebak rentenir dll) 7. Malas meningkatkan kualitas pribadinya adalah penyebab kemunduran umat islam yang paling akut Balas 5. herry berkata November 10, 2010 pada 11:16 am kemunduruan islam lebih disebabkan karena hilangnya budaya pengkajian ilmu pengetahuan akibat paham-paham fatalistik serta ketidakmampuan umat islam mengaktualisasi ajarannya pada konteks kekinian dan yang terakhir bahwa islam mundur karena tidak mampu bersatu, sepaham dan memiliki tujuan yang sama. perbedaan dalam islam dianggap sebagai rahmat padahal mudharat akhirnya sudah menjadi cirinya bahwa islam tidak bisa bersatu dan menjadi maju dan ini memang sudah merupakan takdirnya, seperti kata nabi muhammad saw, bahwa umat islam nantinya akan terdiri dari 73 golongan dan nhany satu yang masuk surga.. Balas 6. Khalid berkata Maret 1, 2011 pada 12:29 pm Kemunduran ummat Islam secara prinsip karena meninggalkan warisan Rosululloh yaitu Al-Quran dan Assunah. Al-Quran dan Assunah hanya bisa dilaksanakan sepenuhnya oleh adanya kepemimpinan, yaitu seorang Khalifah seperti dahulu, dalam bingkai negara Khilafah yang menerapkan Islam secara kaffah. Sedangkan, kemunduran saat itu disebabkan oleh serangan pemikiran dari barat, yang menjauhkan ummat Islam dari Al-Quran dan Assunah sekalipun dahulu memiliki pemimpin (khalifah), wujudnya dengan menerapkan kaidah umum Tidak ditolak adanya perubahan terhadap hukum, dengan adanya perubahan zaman dan adat istiadat dapat dijadikan dasar hukum, sehingga ada fatwa2 yg bertentangan dengan hukum syara,misal penghentian hukum hudut,

mengambil manfaat/maslahat dahulu daripada hukum syara. dsb. Waallahu alam bisshowab Balas 7. ramadhan berkata Mei 2, 2011 pada 8:50 am penyebab kemunduran islam adalah akumulasi dr berbagai faktor berikut: 1. pengaruh penjarahan kota baghdat yg merupakan pusat perkembangan intelektual islam 2. pengaruh dr filsafat yunani (yg cenderung materialistis) 3. peranan dr (sebagian) pemikiran Al-Ghazali (mesti dikaji lg secara keseluruhan) 4. perkembangan (metode berfikir) mazahab fiqh 5. mistisme asketik (zuhud) yg disalah artikan 6. kekhawatiran para penguasa yg cenderung menganggap kemajuan rakyat adalah ancaman bagi kekuasaana.. Balas 8. muhammad jufri berkata November 4, 2011 pada 2:39 am Penyebab Islam mengalami kemunduran adalah : 1. Sudah jauh dari Al Quran (tidak membaca, tidak memahami, tidak mengamalkan Al-Quran) 2. Sudah Jauh dari Assunnah (sudah tidak pernah mengkaji dan mengamalkan hadits-hadits Rasulullah, Akhlak/perilaku Rasullah sudah tidak dipakai lagi oleh kaum muslimin itu sendiri)

MENCARI FAKTOR PENYEBAB KEMUNDURAN UMAT ISLAM DAN ALTERNATIF JALAN KELUARNYA[*]

Oleh: Drs. Lukman Hadi, S.H., M.H**

Artinya: Telah kutinggalkan kepadamu dua perkara yang kamu tidak akan tersesat selamanya sepanjang berpegang teguh kepadanya, yakni Kitabullah (al-Quran) dan alSunnah (al-Hadits) Setiap pribadi muslim mempunyai kewajiban moral untuk berjuang dan memikirkan nasib serta kondisi umat Islam pada saat ini. Sebab, Nabi Muhammad SAW telah bersada, artinya: siapa yang mengaku umatku, kata Nabi, engkau Islam, tetapi tidak peduli terhadap kaum muslimin, tidak peduli terhadap jatuh bangunnya Islam, sakit sehatnya umat Islam, berarti bukan umatku, bukan golongan Islam itu sendiri. Oleh karena itu, sebagai muslim, dengan segala kemampuan yang ada pada diri kita, sesuai dengan profesi dan posisi masing-masing yagn telah dikaruniakan Allah kepada kita, harus kita pergunakan semaksimal mungkin untuk membela dan memperjuangkan Islam dan umatnya, kalau betul kita mencintai Islam, mencintai Allah dan Rasul-Nya. Inilah potret pribadi muslim yang utuh, yang sanggup ditampilkan ditengah-tengah umat manusia untuk membela dan mempertahankan serta mengembangkan Islam. Pribadi-pribadi muslim yang senantiasa bekerja keras dan secara fundamental berpegang teguh pada ajaran Islam yang bersumber pada al-Quran dan al-Sunnah karena dua pedoman ini sudah dijamin kebenaran dan keampuhannya oleh Allah SWT. Dengan dua pedoman pokok inilah kaum muslimin bisa selamat dari segala bentuk kesesatan dan malapetaka. Kalau kita menengok ke belakang, ke panggung sejarah Islam masa lalu, maka tidaklah berlebihan apabila kita kemukakan bahkwa kemajuan dan perkembangan umat Islam pada masa dahulu diperoleh atau dicapai dengan mengikuti dan mentaati ajaran Islam secara murni dan konsekuen. mereka bersikap dan berpikir di atas landasan ajaran yang telah digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya. Nabi Muhammad SAW dengan ajaran Islamnya telah merubah citra dan kebiasaan bersatu padu, se ia dan se kata di bawah naungan panji petunjuk dan pimpinan ajaran Islam yang benar. Bangsa Arab yang dahulunya biasa menjadi berada. dari bodoh menjadi pandai dan cerdik, dari kekerasan hati dan kerasnya perangai menjadi lembut, ramah tamah dan kasih sayang kepada sesama, dan dari bangsa politeisme penyembah berhala menjadi monoteisme penyembah Allah Yang Maha Esa. Dengan demikian, jelas bahwa pada saat itu ajaran Islam telah mampu menjadikan spirit baru dalam melakukan perombakan besar serta mendasar dalam merubah watak dan

karakter bangsa Arab. Kalau umat Islam menghayati dan mengamalkan Islam secara integral dalam arti yang sebenarnya, maka umat Islam akan terangkat martabatnya ke posisi yang terhormat, sebagaimana generasi umat Islam terdahulu yang pernah tampil ke depan memimpin dunia disegani umat lain. Apabila kita menyimak secara seksama tentang faktor-faktor yagn mendorong kemajuan umat Islam di masa lalu, maka kita akan sepakat bahwa faktor-faktor tersebut kini mulai sirna dan tidak melekat lagi pada umat Islam, tinggal puing-puingnya saja, dan hanya menjadi kenangan sejarah masa lalu. Untuk itu, marilah kita melacak faktor-faktor yang menjadi penyebab kemunduran dan kemerosotan umat Islam saat ini, yang telah dikemukakan oleh beberapa ahli. Di antaranya Amir Syakib Arsalan dalam kitabnya Limadzaa Taakkhara al-Muslimuuna Wa Limaadzaa Taqaddama al-Ghayruuna. Dengan tegas beliau mengemukakan beberapa faktor penyebab yang terbesar dan terpenting sebagai faktor kemunduran umat Islam, yaitu: 1. Kebodohan; Kebodohan inilah yang menyebabkan umat Islam mudah sekali dibohongi dan diombang-ambingkan, sebab tidak bisa membedakan mana yang merugikan dan mana yang menguntungkan; 2. Kerusakan Budi Pekerti; Umat Islam telah kehilangan perangai sebagaimana yang telah diperintahkan oleh alQuran, meninggalkan akhlaq mulia yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat serta salaf al-Shalihin. Budi pekerti mulia sungguh sangat besar peranannya dalam rangka membangun umat dan bangsa. Dalam pada itu, Syauki Beik telah mengingatkan: sesungguhnya umat-umat itu tidak lain melainkan budi pekerti. Selama budi pekerti itu tetap ada pada sebuah umat maka umat itu tetap ada, dan jika budi pekerti itu lenyap maka mereka pun ikut lenyap. 3. Kebejatan Moral dan kerusakan budi pekerti para pemimpinnya. Munculnya pemimpin diktator dan otoriter yang bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat dan mengutamakan kepentingan pribadi daripada kepentingan rakyat dan menumpas golongan/ kelompok yang ingin meluruskan perbuatan mereka 4. Sikap penakut dan pengecut Dahulu, umat Islam terkenal sebagai umat pemberani, dapat mengalahkan musuh yang berlipat ganda jumlahnya. Namun sekarang, uamt Islam dilandasi rasa takut, dan rasa takut itulah yang menyebabkan umat Islam menjadi penakut dan pengecut.

Menurut Lotrop Stodart dalam bukunya the New World of Islam telah mengemukakan beberapa faktor penyebab kemunduran umat Islam yang secara ringkas dapat diurai berikut ini: a. Kambuhnya rasa permusuhan di kalangan umat Islam; b. Rusaknya ajaran Islam, akibatr dari bermacam-macam penafsiran yang menyimpang sari esensi ajaran Islam; c. Sikap jumud/ beku yang dialamai umat Islam, dengan menyelubungi ketauhidan yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dengan khurafatdan faham kesufian; d. Merosotnya akhlak dan kehormatan diri. semua faktor tersebut di atas berlangsung tanpa rasa takut dan malu. Dalam kenyataan yang ada pada saat ini, kita lihat dan rasakan upaya-upaya untuk memundurkan umat Islam yang dilakukan dengan serius dan sistematik, yaitu di antaranya dengan jalan: 1. Menjauhkan umat Islam dari al-Quran; 2. Menghancurkan akhlak umat Islam; 3. Memecah belah persatuan dan kesatuan umat Islam; 4. Menanamkan keraguan terhadap ajaran Islam; 5. Merintangi kemajuan umat Islam. Hal-hal di atas merupakan faktor-faktor penyebab bagi kemunduran umat Islam menurut beberapa ahli yang akibatnya umat Islam diremehkan dan tidak lagi disegani oleh umat lain. Umat Islam menduduki peringkat bawah dan hanya sebagai pengikut, bukan sebagai pemimpin, sehingga mudah sekali dikendalikan dan diombang-ambingkan, dan pada gilirannya satu sama lain mudah diadu domba. Dan, inilah yang mengakibatkan uamt Islam berantakan, tidak sempat mengejar ketertinggalan. Setelah kita mengemukakan beberapa faktor penyebab bagi kemunduran umat Islam, maka dengan segera kita mencari alternatif pemecahannya sebagai jalan keluar dari kemelut kemunduran dan kejumudan yang dialami oleh umat Islam pada saat ini. Sebab, kalau tidak maka umat Islam akan berlarut-larut menajdi umat yang mundur dan berceraiberai serta semakin sulit untuk mengejar ketertinggalan. Untuk itu, Jamaluddin al-Afghani telah memberikan beberapa alternatif jalan keluar, di antaranya adalah:

1. Memberantas kemiskinan dan kebodohan yang sampai saat ini masih membelenggu umat Islam; 2. Melenyapkan pengertian-pengertian yang salah, yang dianut oleh umat Islam pada umumnya; 3. Kembali kepada ajaran-ajaran dasar Islam yang sebenarnya; 4. Hati nurani harus disucikan; 5. Budi pekerti luhur mesti dihidupkan kembali; 6. Kesediaan berkorban untuk kepentingan umat; 7. Berpedoman pada ajaran-ajaran dasar Islam; 8. Mewujudkan kehidupan demokrasi; 9. Mewujudkan persatuan umat Islam. Persatuan umat Islam ini dapat diwujudkan melalui ukhuwah Islamiyah yang kemudian bisa menjadi kerangka landasan yang kokoh. Untuk itu, perlu dipupuk halhal berikut ini: a. Harus dilandasi dengan Iman dan Takwa; b. Didasari rasa ikhlas karena Allah; c. Terikat dalam nilai-nilai Islam yang bersumber pada al-Quran dan al-Sunnah; d. Saling mengingatkan dan memberi nasihat yang baik; e. Setia dan menjalin kerjasama dalam segala hal, yang mengarah pada kebaikan. Itulah beberapa agenda yang harus digarap oleh umat Islam untuk mengejar ketertinggalan yagn dialami oleh umat Islam. Dengan demikian, umat Islam akan kembali pada masa kejayaan seperti sedia kala, disegani oleh umat lain. Dengan mencermati dan menyikapi kondisi kritis yang melanda Islam dewasa ini, maka yang harus diperhatikan adalah tidak perlu menyalahkan umat lain dan meminta pertanggungjawaban terhadap stagnansi yang lama melanda umat Islam dan kemerosotan yang nyata-nyata terjadi dalam dunia Islam. Kemunduran dan kemerosotan yang saat ini melanda umat Islam harus ditimpakan dan dialamatkan kepada umat Islam sendiri, yagn tidak mau hidup menurut ajaran Islam dengan berpedoman pada al-Quran dan alSunnah. Umat Islam kurang selektif dalam mentransfer ajaran-ajaran budaya dari luar Islam, sehingga ajaran-ajaran budaya tersebut ditelan mentah-mentah yang akibatnya

uamt Islam kehilangan jati diri dan semangat berjuang, serta tidak sanggup lagi berkompetisi dan berpacu menghadapi kemajuan zaman. Untuk itu, tidak ada alternatif lain kecuali secara total kita harus kembali pada pedoman pokok, yaitu al-Quran dan al-Sunnah, karena dengan dua pedoman itulah umat Islam menjadi umat terbaik, terhormat, dan teratas, Amiin. Wallahu Alamu Bi al-Shawwab.

BAB I PENDAHULUAN Latar belakang

Sudah menjadi sunatullah bagi manusia sebagai hamba Allah dimuka bumi yang memiliki sifat-sifat kelebihan dan kekurangn, tidak Cuma hanya terjadi terhadap manusia saja bahkan bahkan kepada makhluk yang lain pun seperti itu. Islam sebagi agama Tuhan yang diturunkan kemuka bumi lewat orang-orang yang dipercaya keshalihannya oleh Tuhan untuk disebarkan di muka bumi dengan tujuan supaya manusia kembali kefitrahnya sebagai makhluk yang menghamba kepadaNya. Islam1 pertama kali muncul yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sangat menarik dan santun sehingga banyak orang yang berbondong-bondong masuk Islam (QS: 110: 2), ketika islam dipimpin para khalifah yang empat islam mengalami perluasan-perluasan wilayah, sehingga islam tidak hanya dianut oleh orang-orang arab dan sekitarnya. Sepeninggalnya para khalifa yang empat islam dipimpin dinasti umayah yang berfokus pada pembenahan adminstarsi Negara. Sedangkan ketika dinasti abbasiyah maju sebagai pimpinan Islam mengalami kemajuan-kemajuan dalam bidang sain dan teknologi yang diambilkan dari alQuran yang berkaiatan dengan ayat-ayat kauniyah (alam semesta) yang di padukan dengan filsafat yunani. Tetapi setelah beberapa abad lamanya islam mengalami kemunduran sehingga tradisi keiluan pindah kenegeri barat sampai saat ini. 1 Pengertian islam di atas dimaksudkan agama yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW. KarenaNabi-nabi sebelum nabi Muhammad juga mengajarkan tentang Islam (ketundukan/kepasrahan),yaitu kesamaan dalam ajaran tauhid yang mereka sampaikan. Kemunduran Islam 1250-1500. 1 Alasan memilih judul Pertama, sebagai tugas dari dosen untuk membahas kemunduran islam di

zaman dahulu yang berakibat kepada kepada zaman sekarang. Kedua, menurut kami judul ini perlu diangkat/dibahas karena dengan membaca atau menelaah kesalahan-kesalahan kita diwaktu dulu kita bisa diperbaiki kita di masa yang akan dating. Rumusan masalah -Apa yang menyebabkanislam menjadi mundur. -Pengaruh apa saja kemunduran tersebut. Demikianlah pembukaan makalah ini yang akan kami bahas di depan. BAB II MASA KEMUNDURAN ISLAM (1250 M 1500 M) Kemunduran Islam di Bagdad Masa-masa kemajuan dunia islam yang telah berjalan beberapa abadlamanya, yang pengaruhnya telah merebak dan merambah jauh ke berbagaibelahan dunia non muslim pada akhirnya juga mengalmi masa-masakemundurannya. Berbagai macam krisis yang sangat komplek sekali telahmenerpa dunia islam Jatuhnya kota bagdad pada tahun 1258 M ke tangan bangsa mongol bukan sajamengakhiri khilafah Abbasiyah, tetapi merupakan juga awal kemunduranperadaban islam, karena bagdad sebagai pusat kebudayaan dan peradaban isalamyang sangat kaya dengan kazanah ilmu pengetahuan itu ikut pula lenyapdibumihanguskan oleh pasukan mongol yang di pimpin Hulagu Khan. Bagdad yang terkenal sebagai pusat kebudayaan dan pengetahuan islam,pada tahun 1258 M mendapat serbuan tentara mongol. Tentara mongolmenyembelih seluruh penduduk dan menyapu bagdad bersih dari pemukanaanbumi. Dihancurkan segala pusaka dan peradaban yang telah dibuat beratus-ratustahun lamanya. Diangkut kitab-kitab yang telah dikarang oleh ahli ilmupengetahuan bertahun-tahun lalu dihanyutkan ke dalam sungai dajlah2 sehinggaberubah warna airnya lantaran tinta yang larut. Khalifah sendiri

besertakeluarganya dimusnakan sehingga terputuslah keturunan abbasiyyah danhancurlah kerajaannya yang telah lama bertahta selama 500 tahun. 2 Prof. DR. Hj. Musyrifah Sunanto, sejarah islam klasik, perkembangan ilmu pengetahuan islam. (Predana Media : Jakarta) cet, ke-2 hal 172 Kemunduran Islam 1250-1500. 3

Masa Kemunduran (1250 -1500 M) - Bangsa Mongol dan Dinasti Ilkhan


Pada tahun 565 H/1258 M, tentara Mongol yang berkekuatan sekitar 200.000 orang tiba di salah satu pintu Baghdad. Khalifah Al-Mu'tashim betul-betul tidak berdaya dan tidak mampu membendung "topan" tentara Hulagho Khan. Kota Baghdad dihancurkan rata dengan tanah, dan Hulagho Khan menancapkan kekuasaan di Banghdad selama dua tahun, sebelum melanjutkan gerakan ke Syiria dan Mesir. Jatuhnya kota Baghdad pada tahun 1258 M ke tangan bangsa Mongol bukan saja mengakhiri khilafah Abbasiyah di sana, tetapi juga merupakan awal dari masa kemunduran politik dan peradaban Islam, karena Baghdad sebagai pusat kebudayaan dan peradaban Islam yang sangat kaya dengan khazanah ilmu pengetahuan itu ikut pula lenyap dibumihanguskan oleh pasukan Mongol yang dipimpin Hulagu Khan tersebut. Bangsa Mongol berasal dari daerah pegunungan Mongolia yang membentang dari Asia Tengah sampai ke Siberia Utara, Tibet Selatan dan Manchuria Barat serta Turkistan Timur. Nenek moyang mereka bernama Alanja Khan, yang mempunyai dua putera kembar, Tatar dan Mongol. Kedua putera itu melahirkan dua suku bangsa besar, Mongol dan Tartar. Mongol mempunyai anak bernama Ilkhan, yang melahirkan keturunan pemimpin bangsa Mongol di kemudian hari. Dalam rentang waktu yang sangat panjang, kehidupan bangsa Mongol tetap sederhana. Mereka mendirikan kemah-kemah dan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, menggembala kamhing dan hidup dari hasil buruan. Mereka juga hidup dari hasil perdagangan tradisional, yaitu mempertukarkan kulit binatang dengan binatang yang lain, baik di antara sesama mereka maupun dengan hangsa Turki dan Cina yang menjadi tetangga mereka. Sebagaimana umumnya hangsa nomad, orang-orang Mongol mempunyai watak yang kasar, suka berperang, dan berani menghadang maut dalam mencapai keinginannya. Akan tetapi, mereka sangat patuh kepada pemimpinnya. Mereka menganut agama Syamaniah (Syamanism), menyembah bintang-bintang, dan sujud kepada matahari yang sedang terbit. Kemajuan bangsa Mongol secara besar-besaran terjadi pada masa kepemimpinan Yasugi Bahadur Khan. la herhasil menyatukan 13 kelompok suku yang ada waktu itu. Setelah Yasugi meninggal, puteranya, Timujin yang masih berusia 13 tahun tampil sebagai pemimpin. Dalam waktu 30 tahun, ia berusaha memperkuat angkatan perangnya dengan menyatukan hangsa Mongol dengan suku bangsa lain sehingga menjadi satu pasukan yang teratur dan tangguh. Pada tahun 1206 M, ia mendapat gelar

Jengis Khan, Raja Yang Perkasa. la menetapkan suatu undang-undang yang disebutnya Alyasak atau Alyasah, untuk mengatur kehidupan rakyatnya. Wanita mempunyai kewajiban/yang sama dengan laki-laki dalam kemiliteran. Pasukan perang dibagi dalam beberapa kelompok besar dan kecil, seribu, dua ratus, dan sepuluh orang. Tiap-tiap kelompok dipimpin oleh seorang komandan. Dengan demikian bangsa Mongol mengalami kemajuan pesat di bidang militer. Setelah pasukan perangnya terorganisasi dengan haik, Jengis Khan berusaha memperluas wilayah kekuasaan dengan melakukan penaklukan terhadap daerahdaerah lain. Serangan pertama diarahkan ke kerajaan Cina. la herhasil menduduki Peking tahun 1215 M. Sasaran selanjutnya adalah negeri-negeri Islam. Pada tahun 606 H/1209 M, tentara Mongol keluar dari negerinya dengan tujuan Turki dan Ferghana, kemudian terus ke Samarkand. Pada mulanya mereka mendapat perlawanan berat dari penguasa Khawarizm, Sultan Ala al-Din di Turkistan. Pertempuran berlangsung seimbang. Karena itu, masing-masing kembali ke negerinya. Sekitar sepuluh tahun kemudian mereka masuk Bukhara, Samarkand, Khurasan, Hamadzan, Quzwain, dan sampai ke perbatasan Irak. Di Bukhara, ibu kota Khawarizm, mereka kembali mendapat perlawanan dari Sultan Ala al-Din, tetapi kali ini mereka dengan mudah dapat mengalahkan pasukan Khawarizm, Sultan Ala al-Din tewas dalam pertempuran di Mazindaran tahun 1220 M. la digantikan oleh puteranya, Jalal al-Din yang kemudian melarikan diri ke India karena terdesak dalam pertempuran di dekat Attock tahun 1224 M. Dari sana pasukan Mongol terus ke Azerbaijan: Di setiap daerah yang dilaluinya, pembunuhan besar-besaran terjadi. Bangunan-bangunan indah dihancurkan sehingga tidak berbentuk lagi, demikian juga isi bangunan yang sangat bernilai sejarah. Sekolahsekolah, mesjid-mesjid dan gedung-gedung lainnya dibakar. Pada saat kondisi fisiknya mulai lemah, Jengis Khan membagi wilayah kekuasaannya menjadi empat bagian kepada empat orang puteranya, yaitu Juchi, Chagatai, Ogotai dan Tuli. Chagatai berusaha menguasai kembali daerah-daerah Islam yang pemah ditaklukkan dan berhasil merebut Illi, Ferghana, Ray, Hamazan, dan Azerbaijan. Sultan Khawarizm, Jalal al-Din berusaha keras membendung serangan tentara Mongol ini, namun Khawarizm tidak sekuat dulu. Kekuatannya sudah banyak terkuras dan akhirnya terdesak. Sultan melarikan diri. Di sebuah daerah pegunungan ia dibunuh oleh seorang Kurdi. Dengan demikian, itu berakhirlah jalan kerajaan bagi Khawarizm. untuk Kematian melebarkan Sultan sayap Khawarizmsyah membuka Chagatai

kekuasaannya dengan lebih leluasa.

Saudara Chagatai, Tuli Khan menguasai Khurasan. Karena kerajaan-kerajaan Islam sudah terpecah belah dan kekuatannya sudah lemah. Tuli dengan mudah dapat menguasai Irak. la meninggal tahun 654 H/1256 M, dan digantikan oleh puteranya, Hulagu Khan. Pada tahun 656 H/1258 M, tentara Mongol yang berkekuatan sekitar 200.000 orang tiba di salah satu pintu Baghdad. Khalifah al-Mu'tashim, penguasa terakhir Bani Abbas di Baghdad (1243 - 1258), betul-betul tidak mampu membendung "topan" tentara Hulagu Khan. Pada saat yang kritis tersebut, wazir khilafah Abbasiyah. Ibn al-' Alqami ingin mengambil kesempatan dengan menipu khalifah. la mengatakan kepada khalifah. "Saya telah menemui mereka untuk perjanjian damai. Raja (Hulagu Khan) ingin mengawinkan anak perempuannya dengan Abu Bakr. putera khalifah. Dengan demikian, Hulagu Khan akan menjamin posisimu. la tidak menginginkan sesuatu kecuali kepatuhan, sebagaimana kakek- kakekmu terhadap sultan-sultan Seljuk. Khalifah menerima usul itu. la keluar bersama beberapa orang pengikut dengan membawa mutiara, permata dan hadiah-hadiah berharga lainnya untuk diserahkan kepada Hulagu Khan. Hadiah-hadiah itu dibagi-bagikan Hulagu kepada para panglimanya. Kebe- rangkatan khalifah disusul oleh para pembesar istana yang terdiri dari ahli fikih dan orang-orang terpandang. Tetapi, sambutan Hulagu Khan sungguh di luar dugaan khalifah. Apa yang dikatakan wazirya temyata tidak benar. Mereka semua. termasuk wazir sendiri. dibunuh dengan leher dipancung secara bergiliran. Dengan pembunuhan yang kejam ini. berakhirlah kekuasaan Abbasiyah di Baghdad. Kota Baghdad sendiri dihancurkan rata dengan tanah, sebagaimana kota-kota lain yang dilalui tentara Mongol tersebut. Walaupun sudah dihancurkan, Hulagu Khan memantapkan kekuasaannya di Baghdad selama dua tahun, sebelum melanjutkan gerakan ke Syria dan Mesir. Dari Baghdad pasukan Mongol menyeberangi sungai Euphrat menuju Syria, kemudian melintasi Sinai, Mesir. Pada tahun 1260 M mereka berhasil menduduki Nablus dan Gaza. Panglima tentara Mongol, Kitbugha, mengirim utusan ke Mesir meminta supaya Sultan Qutuz yang menjadi raja kerajaan Mamalik di sana menyerah. Permintaan itu ditolak oleh Qutuz, bahkan utusan Kitbugha dibunuhnya. Tindakan Qutuz ini menimbulkan kemarahan di kalangan tentara Mongol. Kitbugha kemudian melintasi Yordania menuju Galilie. Pasukan ini bertemu dengan pasukan Mamalik yang dipimpin langsung oleh Qutuz dan Baybras di ' Ain Jalut. Pertempuran dahsyat terjadi, pasukan Mamalik berhasil menghancurkan tentara Mongol, 3 September 1260 M.

Baghdad dan daerah-daerah yang ditaklukkan Hulagu selanjutnya diperintah oleh dinasti Ilkhan. Ilkhan adalah gelar yang diberikan kepada Hulagu. Daerah yang dikuasai dinasti ini adalah daerah yang ter1etak antara Asia Kecil di barat dan India di timur, dengan ibukotanya Tabriz. Umat Islam, dengan demi dipimpin oleh Hulagu Khan, seorang raja yang beragama Syamanism. Hulagu meninggal tahun 1265 M dan diganti oleh anaknya, Abaga ( 1265-1282 M) yang masuk Kristen. Baru rajanya yang ketiga, Ahmad Teguder ( 1282-1284M), yang masuk Islam. Karena masuk Islam, Ahmad Teguder ditantang oleh pembesar- pembesar kerajaan yang lain. Akhimya, ia ditangkap dan dibunuh oleh Arghun yang kemudian menggantikannya menjadi raja (1284-1291 M). Raja dinasti Ilkhan yang keempat ini sangat kejam terhadap umat Islam. Banyak di antara mereka yang dibunuh dan diusir . Selain Teguder, Mahmud Ghazan ( 1295-1304 M), raja yang ketujuh, dan raja-raja selanjutnya adalah pemeluk agama Islam. Dengan masuk Islamnya Mahmud Ghazan -sebelumnya beragama Budha, Islam meraih kemenangan yang sangat besar terhadap agama Syamanisme. Sejak itu pula orang-orang Persia mendapatkan kemerdekaannya kembali . Berbeda dengan raja-raja sebelumnya, Ghazan mulai memperhatikan perkembangan peradaban. la seorang pelindung ilmu pengetahuan dan sastera. la amat gemar kepada kesenian terutama arsitektur dan ilmu pengetahuan alam seperti astronomi, kimia, mineralogi, metalurgi dan botani. la membangun semacam biara untuk para darwis, perguruan tinggi untuk mazhab Syafi'i dan Hanafi, sebuah perpustakaan, observatorium, dan gedung-gedung umum lainnya. la wafat dalam usia muda, 32 tahun, dan digantikan oleh Muhammad Khudabanda Uljeitu (1304-1317 M), seorang penganut syi'ah yang ekstrem. la mendirikan kota raja Sultaniyah, dekat Zan jan. Pada masa pemerintahan Abu Sa' id ( 1317-1335 M), pengganti Muhammad Khudabanda, terjadi bencana kelaparan yang sangat menyedihkan dan angin topan dengan hujan es yang mendatangkan malapetaka. Kerajaan Ilkhan yang didirikan Hulagu Khan ini terpecah belah sepeninggal Abu Sa'id. Masing-masing pecahan saling memerangi. Akhirnya, mereka semua ditaklukkan oleh Timur Lenk.