Anda di halaman 1dari 3

Nama NPM

: Prista Mardani : 170210090012

Tugas analisis kebijakan luar negeri Analisis kebijakan luar negeri Amerika Serikat terhadap pengembangan nuklir di Iran 1. Pendekatan Realisme Konsep kepentingan yang didefinisikan sebagai kekuasaan, memaksakan disiplin intelektual kepada pengamat, memasukkan keteraturan rasional ke dalam pokok masalah politik, sehingga memungkinkan pemahaman politik secara teoritis. Dipihak pemeran, konsep itu memberikan disiplin yang rasional dalam tindakan dan menimbulkan kontinuitas yang sangat mengherankan dalam politik luar negeri, yang menyebabkan politik luar negeri Amerika Serikat, Inggris, atau Rusia tampaknya seperti dalam rangkaian kesatuan yang dapat dimengerti, rasional, pada umumnya konsisten pada batas-batasnya sendiri, tanpa memperhatikan perbedaan motif, preferensi, serta kualitas intelektual dan moral para negarawan yang selanjutnya.1 Realisme politik tidak hanya mengandung unsur teoritis, tetapi juga unsur yang berdasarkan norma. Realisme politik memahami bahwa realitas politik penuh dengan ketidakpastian dan keadaan yang tidak masuk akal yang sistemik serta menunjuk pada pengaruh mereka terhadap politik luar negeri. Namun, realisme berbagi dengan semua teori sosial, kebutuhan demi pengertian teoritis, untuk menekan unsur-unsur rasional dari realitas politik, karean unsur-unsur rasional inilah yang menyebabkan realitas dapat dipahami untuk teori. Realisme politik menyajikan konsep teoritis politik luar negeri yang rasional, yang tidak pernah dicapai sepenuhnya oleh pengalaman.2 Realisme politik beranggapan bahwa kepentingan menguasai tindakan manusia. Tetapi, corak kepentingan yang menentukan tindakan politik dalam periode sejarah tertentu, tergantung dari konteks politik dan kebudayaan, dan dalam konteks ini dirumuskan politik luar negeri. Sasaran yang mungkin dikejar oleh bangsa-bangsa dalam politik luar negeri mereka dapat meliputi seluruh rangkaian tujuan yang pernah atau mungkin dikejar oleh suatu bangsa. Kekuasaan dapat terdiri atas apa saja yang membentuk dan mempertahankan pengendalian manusia atas manusia. Jadi, kekuasaan meliputi semua hubungan sosial yang berguna untuk tujuan itu, dari kekerasan fisik sampai ikatan psikologis yang
1

Hans J. Morgenthau, 2010, Politik Antar Banga, diterjemahkan oleh: S. Maimoen, A.M. Fatwan, Cecep Sudrajat, Yayasan Pustaka Obor Indonesia: Jakarta, hal 6 2 Ibid hal 11

paling licik, yang dipakai untuk saling mengendalikan pemikiran.3 Kaum realis juga percaya bahwa kepentingan merupakan norma yang terus berlangsung terus dan yang dipakai untuk menilai serta mengarahkan tindakan politik, hubungan kontemporer antara kepentingan dan negara-bangsa merupakan produk sejarah, dan oleh sebab itu harus lenyap dalam perjalanan sejarah.4

2. Analisis kebijakan Amerika Serikat terhadap pengembangan nuklir di Iran

Konsep kepentingan nasional sering digunakan sebagai dasar untuk menjelaskan perilaku luar negeri suatu negara. Kepentingan nasional ini jugalah yang selama ini digunakan oleh para petinggi Amerika Serikat untuk menentang pengembangan nuklir di Iran. Awalnya Amerika Serikat menilai Iran dapat memainkan peran yang sangat signifikan dalam menciptakan pemerintahan Irak yang stabil dan bersifat pluralistik. Di samping itu Iran merupakan salah satu faktor kunci dalam memelihara dan menjaga kestabilan kawasan Timur Tengah.5 Namun setelah terbitnya US National Security Strategy 2002, Amerika Serikat mengubah haluan kebijakan luar negerinya dengan mengaitkan Iran, Irak, dan Korea Utara sebagai poros kejahatan (axis of evil). Sikap Amerika Serikat terhadap program pengembangan nuklir Iran didasarkan atas beberapa factor:
1. AS menilai bahwa program pengayaan uranium merupakan teknologi dual use; dapat

digunakan untuk kepentingan damai maupun program senjata nuklir, seperti halnya kasus nuklir India pada dekade 60-an. Bila Iran mampu mengembangkan senjata nuklir, maka kondisi geopolitik di kawasan Timur Tengah akan berubah drastis. Kondisi ini akan mendorong negaranegara lain di Timur Tengah untuk ikut mengembangkan senjata nuklir.
2. Selama ini AS menuduh Iran memiliki hubungan dengan beberapa organisasi teroris

internasional, kelompok garis keras Islam (Hamas dan Jihad Islam), serta kelompok perlawanan Syiah di Irak, seperti Moqtada Al Sadr dengan tentara Mahdi nya. Adanya indikasi link antara kelompok Moqtada Al Sadr dengan Iran juga dikemukakan oleh Smith Al Hadar. 6 Bila Iran
3 4

Ibid hal 13 Ibid hal 14 5 Zbigniew Brzezinski and Robert M. Gates, cochairs, Iran: Time for a New Approach, New York: Council on Foreign Relations, 2004, http://www.cfr.org/pdf/Iran_TF.pdf, diakses tanggal 28 November 2011, hal 2 6 Wawancara Smith Al Hadar dengan Radio Singapore International, "Situasi Dalam Negeri Irak: Terus Memburuk ?", http://www.rsi.sg/indonesian/fokusasia/view/20070123173500/1/.htm, diakses tanggal 28 November 2011

dibiarkan menguasai senjata nuklir, dikhawatirkan teknologi tersebut akan didistribusikan pula kepada kelompok-kelompok tersebut. Dari penjelasan diatas, Amerika Serikat merasa terancam oleh pengembangan nuklir Iran. Terancam disini maksudnya adalah kepentingan Amerika Serikat di negara Timur Tengah menjadi terganggu. Morgenthau dalam bukunya mengatakan bahwa petunjuk utama yang membantu realisme politik untuk menemukan jalannya melintasi bentangan alam politik ialah konsep kepentingan yang diartikan dalam istilah kekuasaan.7 Dengan berkembangnya pengembangan nuklir Iran, Amerika Serikat menganggap bahwa itu akan membuat kepentingan Amerika Serikat di negara-negara Timur Tengah terancam. Seperti yang kita ketahui bersama, Amerika Serikat adalah negara yang berusaha menguasai sumber daya minyak Timur Tengah. Selain itu, pengembangan nuklir ini juga mengancam keamanan nasional Amerika Serikat, hal ini karena sejak intervensi Amerika Serikat ke Afghanistan, negara adidaya ini menjadi negara yang paling dibeci oleh negara-negara Timur Tengah. Cukup beralasan karena kebijakan luar negeri AS yang baru terhadap Afganistan sama sekali tidak menyinggung soal mengubah negeri itu menjadi suatu negara demokratis. Sebaliknya, seperti dikatakan Menteri Pertahanan Robert Gates di muka Kongres, Jika tujuan kita adalah untuk menciptakan semacam Valhalla di Asia Tengah, maka kita akan gagal.8 Apalagi jika Iran sukses dengan pengembangan nuklirnya dan ketakutan Amerika Serikat terhadap kelompok garis keras Islam jika seandainya mereka mendapatkan senjata nuklir dari Iran, ini akan menyebabkan perang terbuka terhadap Amerika Serikat. Dapat disimpulkan menurut pemikiraan realisme, tindakan Amerika Serikat dengan menentang pengembangan nuklir di Iran tidak lain tidak bukan semata-mata demi kepentingan mereka sendiri dan demi keamanan nasional mereka. Dengan kekuasaan yang dimiliki, Amerika Serikat mengajak negaranegara lain untuk ikut serta menentang pengembangan nuklir di Iran dan mendesak PBB untuk memberikan sanksi kepada Iran.

Hans J. Morgenthau, 2010, Politik Antar Banga, diterjemahkan oleh: S. Maimoen, A.M. Fatwan, Cecep Sudrajat, Yayasan Pustaka Obor Indonesia: Jakarta, hal 5 8 http://asrudiancenter.wordpress.com/2010/01/17/kembalinya-realisme-kebijakan-luar-negeriamerika-serikat/ diakses tanggal 28 November 2011.