Anda di halaman 1dari 10

KEJAHATAN KORPORASI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Korporasi sebagai alat yang sangat luar biasa untuk memperoleh keuntungan
pribadi tanpa perlu adannya pertanggung jawaban. Pada berbagai sektor perekonomian, dapat
ditemukan satu contoh pelanggaran korporasi yang telah menimbulkan banyak kerugian dan
kerusakan. Walaupun terdapat berbagai bukti yang menunjukkan adanya kejahatan korporasi,
namun hukuman atas tindakan tersebut selalu terabaikan. Kejahatan korporasi yang telah terjadi
pada berbagai perusahaan di masa lalu dapat hidup kembali. Oleh karena itu, perlu diketahui
bagaimana untuk mencegahnya
Banyak perusahaan sering, dengan sengaja bahkan berulang-ulang,
mencemoohkan hukum; mereka melakukan tidakan yang melanggar hokum namun dengan
mudah keluar dari tuntutan hukum. Padahal masyarakat sangat terganggu akibat tindakan
korporasi tersebut. Pandangan masyarakat pada bentuk kejahatan korporasi sangat berbeda
dengan pandangan mereka pada kejahatan jalanan. Hampir pada setiap kejadian, eIek dari
kejahatan korporasi selalu lebih merugikan, memakan biaya lebih besar, berdampak lebih
meluas, dan lebih melemahkan daripada bentuk kejahatan jalanan.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah diatas dapat dirumuskan suatu masalah yaitu :
1. Apa yang dimaksud dengan kejahatan Korporasi.
2. Sebab-sebab adanya kejahatan Korporasi.

C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan kejahatan Korporasi.
2. Mengetahui sebab-sebab adanya kejahatan Korporasi.



D. ManIaat
Hasil penulisan makalah diharapkan bermanIaat bagi pengembangan pembelajaran Ilmu
Kriminologi terkait Kejahatan Korporasi guna mengkaji lebih rinci tentang deIinisi kejahatan
korporasi serta sebab-sebab munculnya kejahatan korporasi.




BAB II
PEMBAHASAN

A. Kejahatan Korporasi
1. Pengertian Kejahatan Korporasi
Kejahatan diartikan sebagai suatu perbuataan yang oleh masyarakat dipandang sebagai
kegiatan yang tercela, dan terhadap pelakunya dikenakan hukuman (pidana). Sedangkan
korporasi adalah suatu badan hukum yang diciptakan oleh hukum itu sendiri dan mempunyai hak
dan kewajiban. Jadi, kejahatan korporasi adalah kejahatan yang dilakukan oleh badan hukum
yang dapat dikenakan sanksi. Dalam literature sering dikatakan bahwa kejahatan korporasi ini
merupakan salah satu bentuk White Collar Crime.Dalam arti luas kejahatn korporasi ini sering
rancu dengan tindak pidana okupasi, sebab kombinasi antara keduanya sering terjadi.
Menurut Marshaal B. Clinard dan Peter C Yeager sebagaimana dikutip oleh Setiyono
dikatakan bahwa setiap tindakan yang dilakukan oleh korporasi yang bias diberi hukuman oleh
Negara, entah di bawah hukum administrasi Negara, hokum perdata maupun hukum pidana.
Menurut Marshaal B. Clinard kejahatan korporasi adalah merupakan kejahatan kerah
putih namun ia tampil dalam bentuk yang lebih spesiIik. Ia lebih mendekati kedalam bentuk
kejahatan terorganisir dalam konteks hubungan yang lebih kompleks dan mendalam antara
seorang pimpinan eksekutiI, manager dalam suatu tangan. Ia juga dapat berbentuk korporasi
yang merupakan perusahaan keluarga, namun semuanya masih dalam rangkain bentuk kejahatan
kerah putih.
Menurut Sutherland kejahatan kerah putih adalah sebuah perilaku keriminal atau
perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh seseorang dari kelompok yang memiliki
keadaan sosio- ekonomi yang tinggi dan dilakukan berkaitan dengan aktiIitas pekerjaannya.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kejahatan korporasi pada umumnya
dilakukan oleh orang dengan status social yang tinggi dengan memanIaatkan kesempatan dan
jabatan tertentu yang dimilikinya. Dengan kadar keahlian yang tinggi dibidang bisnis untuk
mendapatkan keuntungan dibidang ekonomi.
2. Karakteristik Kejahatan Korporasi
Salah satu hal yang membedakan antara kejahatan korporasi dengan kejahatan konvensional atau
tradisional pada umumnya terletak pada karakteristik yang melekat pada kejahatan korporasi itu
sendiri, antara lain :
1. Kejahatan tersebut sulit terlihat ( ow visibility ), karena biasanya tertutup oleh kegiatan
pekerjaan yang rutin dan normal, melibatkan keahlian proIessional dan system organisasi yang
kompleks.
2. Kejahatan tersebut sangat kompleks ( complexity ) karena selalu berkaitan dengan kebohongan,
penipuan, dan pencurian serta sering kali berkaitan dengan sebuah ilmiah, tekhnologi, Iinancial,
legal, terorganisasikan, dan melibatkan banyak orang serta berjalan bertahun tahun.
3. Terjadinya penyebaran tanggung jawab ( diffusion of responsibility ) yang semakin luas akibat
kompleksitas organisasi.
4. Penyebaran korban yang sangat luas (diffusion of victimi:ation ) seperti polusi dan penipuan.
5. Hambatan dalam pendeteksian dan penuntutan ( detection and prosecution ) sebagai akibat
proIesionalisme yang tidak seimbang antara aparat penegak hukum dengan pelaku kejahatan.
6. Peraturan yang tidak jelas (ambiguitas law ) yang sering menimbulkan kerugian dalam
penegakan hukum.
7. Sikap mendua status pelaku tindak pidana. Harus diakui bahwa pelaku tindak pidana pada
umumnya tidak melanggar peraturan perundang undangan tetapi memang perbuatan tersebut
illegal.

B. Sebab-sebab Adanya Kejahatan Korporasi
Keinginan korporasi untuk terus meningkatkan keuntungan yang diperolehnya
mengakibatkan terjadinya tindakan pelanggaran hukum. Korporasi, sebagai suatu badan hukum,
memiliki kekuasaan yang besar dalam menjalankan aktivitasnya sehingga sering melakukan
aktivitas yang bertentangan dengan ketentuan hukum yang berlaku, bahkan selalu merugikan
berbagai pihak. Walaupun demikian, banyak korporasi yang lolos dari kejaran hokum sehingga
tindakan kejahatan korporasi semakin meluas dan tidak dapat dikendalikan. Dengan mudahnya
korporasi menghilangkan bukti-bukti atas segala kejahatannya terhadap masyarakat. Sementara
itu, tuntutan hukum terhadap perilaku buruk korporasi tersebut selalu terabaikan karena tidak ada
ketegasan dalam menghadapi masalah ini.
Pemerintah dan aparat hukum harus mengambil tindakan yang tegas mengenai
kejahatan korporasi karena baik disengaja maupun tidak, kejahatan korporasi selalu memberikan
dampak yang luas bagi masyarakat dan lingkungan, bahkan dapat mengacaukan perekonomian
negara. Jika hukuman dan sanksi yang dijatuhkan kepada korporasi tidak memiliki keberartian,
perilaku buruk korporasi dengan melakukan aktivitas yang illegal tidak akan berubah. Korporasi
diharapkan tidak lagi melarikan diri dari tanggung jawabnya, dalam hal ini tanggung jawab
pidana. Terutama, korporasi akan dibebani oleh lebih banyak tanggung jawab moral dan sosial
untuk memperhatikan keadaan dan keamanan lingkungan kerjanya, termasuk penduduk, budaya,
dan lingkungan hidup.
Menurut Gobert dan Punch, hal paling utama untuk mencegah terjadinya kejahatan korporasi
adalah dengan adanya pengendalian diri dan tanggung jawab sosial dan moral terhadap
lingkungan dan masyarakat di mana tanggung jawab tersebut berasal dari korporasi itu sendiri
maupun individu-individu di dalamnya.

Kejahatan korporasi yang lazimnya berbentuk dalam kejahatan kerah putih (white-collar
crime), biasanya dilakukan oleh suatu perusahaan atau badan hukum yang bergerak dalam
bidang bisnis dengan berbagai tindakan yang melanggar hukum pidana. Berdasarkan
pengalaman dari beberapa negara maju dapat dikemukakan bahwa identiIikasi kejahatan-
kejahatan korporasi dapat mencakup tindak pidana seperti pelanggaran undang-undang anti
monopoli, penipuan melalui komputer, pembayaran pajak dan cukai, pelanggaran ketentuan
harga, produksi barang yang membahayakan kesehatan, korupsi, penyuapan, pelanggaran
administrasi, perburuhan, dan pencemaran lingkungan hidup. Kejahatan korporasi tidak hanya
dilakukan oleh satu korporasi saja, tetapi dapat dilakukan oelh dua atau lebih korporasi secara
bersama-sama. Apabila perbuatan yang dilakukan korporasi, dikaitkan dengan peraturan
perundang-undangan di bidang hukum pidana yang merumuskan korporasi sebagai subjek tindak
pidana, maka korporasi tersebut jelas dapat dipidana. Bercermin dari bentuk-bentuk tindak
pidana di bidang ekonomi yang dilakukan oleh korporasi dalam menjalankan aktivitas bisnis,
jika dikaitkan dengan proses pembangunan, maka kita dihadapkan kepada suatu konsekuensi
meningkatnya
tindak pidana korporasi yang mengancam dan membahayakan berbagai segi
kehidupan di masyarakat. Korporasi, sebagai subjek tindak pidana, dapat dimintai pertanggung
jawaban atas tindakan pidana, jika tindakan pidana tersebut dilakukan oleh atau untuk korporasi
maka hukuman dan sanksi dapat dijatuhkan kepada korporasi dan atau individu di dalamnya.
Namun demikian perlu diadakan indentiIikasi pada individu korporasi misalnya pada direktur,
manajer dan karyawan agar tidak terjadi kesalahan dalam penjatuhan hukuman secara individual.
Tidak bekerjanya hukum dengan eIektiI untuk menjerat kejahatan korporasi, selain karena
keberadaan suatu korporasi dianggap penting dalam menunjang pertumbuhan atau stabilitas
perekonomian nasional, sering kali juga disebabkan oleh perbedaan pandangan dalam melihat
kejahatan yang dilakukan oleh korporasi. Kejahatan yang dilakukan oleh korporasi lebih
dianggap merupakan kesalahan yang hanya bersiIat administratiI daripada suatu kejahatan yang
serius. Sebagian besar masyarakat belum dapat memandang kejahatan korporasi sebagai
kejahatan yang nyata walaupun akibat dari kejahatan korporasi lebih merugikan dan
membahayakan kehidupan masyarakat dibandingkan dengan kejahatan jalanan.
Akibat dari suatu kejahatan yang dilakukan oleh korporasi lebih membahayakan dibandingkan
dengan kejaharan yang diperbuat seseorang. Dasar kesalahan perusahaan yang dapat
diindikasikan sebagai kejahatan korporasi, terlihat dalam kelalaian, keserampangan, kelicikan,
dan kesengajaan atas segala tindakan korporasi. Setiap suatu korporasi dimintai
pertangungjawabannya oleh aparat penegak hukum, selalu ada berbagai tekanan baik dari
korporasi maupun pemerintah yang akhirnya menghilangkan tuntutan hukum korporasi. Aparat
penegak hukum seringkali gagal dalam mengambil tindakan tegas terhadap berbagai kejahatan
yang dilakukan oleh korporasi. Hal ini sangat mengkhawatirkan, karena dampak kejahatan yang
ditimbulkan oleh korporasi sangat besar. Korbannya bisa berjumlah puluhan, ratusan, bahkan
ribuan orang.
Contohnya, terbaliknya kapal the Herald oI Free Enterprise yang memakan korban ratusan orang.
Selain itu korporasi, dengan kekuatan Iinansial serta para ahli yang dimiliki, dapat
menghilangkan bukti-bukti kejahatan yang dilakukan. Bahkan, dengan dana yang dimiliki,
korporasi dapat pula mempengaruhi opini serta wacana di masyarakat, sehingga seolah-olah
mereka tidak melakukan suatu kejahatan.
Salah satu penyebab utama gagalnya penuntutan dalam suatu perkara yang terdakwanya
korporasi adalah karena korporasi tersebut tidak memiliki direktur yang bertanggung jawab atas
keselamatan dan tidak memiliki kebijakan yang jelas yang mengatur mengenai keselamatan.
Kurangnya koordinasi structural dalam sebuah organisasi dianggap sebagai penyebab terjadinya
kejahatan korporasi.
Misalnya pada kasus terbaliknya kapal the Herald oI Free Enterprise. Penyebab nyata terbaliknya
kapal yang menyebabkan kematian sekitar 200 nyawa ini adalah lemahnya koordinasi di antara
para pekerja sebagai akibat tidak adanya kebijakan-kebijakan tentang keselamatan. Laporan
mengenai investigasi terbaliknya kapal tersebut menyatakan bahwa tidak ada keraguan kesalahan
sebenarnya terletak pada korporasi itu sendiri karena tidak memiliki kebijakankebijakan
mengenai keselamatan dan gagal untuk memberikan petunjuk keselamatan yang jelas. Kasus ini
terutama disebabkan oleh kecerobohan.
Hukuman atas segala kejahatan korporasi adalah sebuah persoalan politis. Yang
terjadi dalam peristiwa politis adalah tawar-menawar yang mencari keseimbangan antara hak dan
kewajiban warga negara. Dalam hitungan hak dan kewajiban, korporasi dibolehkan menikmati
hak-hak yang sangat luas dan menciutkan kewajiban-kewajiban mereka. Kerugian akibat
kejahatan korporasi sering sulit dihitung karena akibat yang ditimbulkannya berlipat-lipat,
sementara hukuman atau denda pengadilan acap kali tidak mencerminkan tingkat kejahatan
mereka Perusahaan memiliki kekuatan untuk menentukan kebijakan melalui direktur dan para
eksekutiI dan perusahaan seharusnya bertanggung jawab atas akibat dari kebijakan mereka.
Namun perusahaan tidak seperti manusia tidak dibebani oleh berbagai emosi dan perasaan
sehingga dengan mudahnya dapat menutupi perilaku buruknya.
Terdapat dua model kejahatan korporasi; pertama, kejahatan yang dilakukan oleh
orang yang bekerja atau yang berhubungan dengan suatu perusahaan yang dipersalahkan; dan
kedua, perusahaan sendiri yang melakukan tindakan kejahatan melalui karyawan-karyawannya.
Kejahatan yang terjadi dalam konteks bisnis dilatar belakangi oleh berbagai sebab. Human error
yang dipadukan dengan kebijakan yang sesat dan kekeliruan dalam pengambilan keputusan
merangsang terjadinya tindakan pelanggaran hukum. Pada pendekatan di Amerika mengenai
vicarious liability menyatakan bahwa bila seorang pegawai korporasi atau agen yang
berhubungan dengan korporasi, bertindak dalam lingkup pekerjaannya dan dengan maksud untuk
menguntungkan korporasi dengan melakukan suatu kejahatan, tanggung jawab pidananya dapat
dibebankan kepada perusahaan. Tidak peduli apakah perusahaan secara nyata memperoleh
keuntungan atau tidak atau apakah perusahaan telah melarang aktivitas tersebut atau tidak.
Sedangkan di Inggris, various liability terbatas pada tanggung jawab perusahaan terhadap
kejahatan korporasi yang dilakukan oleh seorang yang memiliki kekuasaan yang tinggi
(identiIication). Teori ini menyatakan bahwa korporasi tidak dapat melakukan sesuatu kecuali
melalui seorang yang dapat
mewakilinya. Bila seorang yang cukup berkuasa dalam struktur korporasi, atau dapat mewakili
korporasi melakukan suatu kejahatan, maka perbuatan dan niat orang itu dapat dihubungkan
dengan korporasi. Korporasi dapat dimintai pertanggungjawaban secara langsung. Namun, suatu
korporasi tidak dapat disalahkan atas suatu kejahatan yang dilakukan oleh seorang yang berada
di level yang rendah dalam hirarki korporasi tersebut. Komisi Hukum Inggris telah mengusulkan
bahwa terdapat satu kejahatan baru, yaitu pembunuhan oleh korporasi 'corporate killing.
Kejahatan ini
merupakan suatu species terpisah dari manslaugter yang hanya dapat dilakukan oleh korporasi.
Dalam hal ini, masalah-masalah yang berkaitan dengan penegasan tentang kesalahan korporasi,
seperti pembuktian dari niat atau kesembronoan, dapat diatasi dengan membuat deIinisi khusus
yang hanya dapat diterapkan kepada korporasi.
Pada era globalisasi ini, perkembangan perusahaan multinasional sangat pesat,
bahkan perusahaan tersebut mampu menempatkan diri pada posisi yang sangat strategis untuk
memperoleh perlindungan hukum sehingga peradilan dalam negeri sulit untuk mengajukan
tuntutan terhadap tindakan mereka yang merugikan. Agar kelemahan perangkat hukum tidak
terulang lagi, perlu dibuat aturan pertanggung jawaban korporasi yang komprehensiI dan
mencakup semua kejahatan. Namun, pada pengadilan atas tindakan kriminalirtas korporasi,
keputusan mengenai hukuman dan sanksi, selalu menjadi hal terakhir untuk diputuskan. Setiap
tuntuan yang terjadi atas kejahatan korporasi selalu dipersulit sehingga sering tidak dapat
direalisasikan. Dengan demikian dapat terlihat bahwa hukum pun masih tidak dapat diandalkan
untuk menindak lanjuti masalah kejahatan korporasi. Suatu tindakan kejahatan, terjadi karena
korporasi tersebut mendapatkan keuntungan dari tindakan kejahatan yang dilakukannya. Oleh
karena itu, agar dapat menghapuskan tindakan kejahatan korporasi, dapat dilakukan dengan
mengambil keuntungan yang diperolehnya atas tindakan kriminalitas tersebut. Misalnya dengan
membebankan korporasi suatu denda yang lebih besar dibandingkan dengan keuntungan yang
diperoleh. Jika tindakan kriminalitas tidak lagi mengutungkan korporasi, maka ia tidak akan
terlibat kembali dalam suatu tindakan kriminal. Namun dalam prakteknya, denda hukum yang
dijatuhkan kepada korporasi sekedar dihitung sebagai biaya produksi tanpa sepeserpun
mengurangi keuntungan korporasi. Walaupun mengurangi keuntungan, praktek illegal korporasi
masih dapat terus berlanjut. Dengan kata lain, denda yang
dikenakan kepada korporasi hanya mengubah tindakan kejahatan korporasi dari kesalahan
terhadap masyarakat menjadi biaya dalam kegiatan bisnis Publisitas atas keburukan korporasi
juga dapat dilakukan sebagai sanksi atas kejahatan korporasi. Namun sayangnya, hal tersebut
membawa dampak yang tidak diinginkan. Jika terjadi pemboikotan dari seluruh konsumen
terhadap semua produk korporasi, maka secara pidana, pengadilan berhasil mengadili korporasi
tersebut. Tetapi jika korporasi mengalami kerugiam yang besar, maka korporasi akan
mengurangi jumlah karyawannya sehingga akan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya.
Beraneka ragam sanksi yang dikenakan kepada korporasi seperti melalui denda, kompensasi dan
ganti rugi, kerja sosial, pengenaan perbaikan, publisitas keburukan, dan orientasi pengendalian,
tidak dapat menghentikan tindakan kejahatan yang dilakukan korporasi. Korporasi dapat lolos
dari sanksi-sanksi tersebut dengan mengorbankan pegawai mereka. Sebagaimana vicarious
liability dan identiIication, kejahatan yang dilakukan korporasi juga merupakan tanggung jawab
individu-individu di dalammnya. Demikian juga, korporasi bertanggung jawab atas kejahatan
yang dilakukan oleh individu-individunya. Jika suatu korporasi dikenai suatu hukuman atas
kejahatan, kepada siapa hukuman tersebut akan dikenakan? Jawaban yang masuk akal adalah
direktur perusahaan. Menurut identiIication`, tanggung jawab perusahaan sering didasarkan atas
kejahatan yang dilakukan direktur atau para
eksekutiInya. Sayangnya, hal itu akan terlihat sangat tidak adil bagi direktur yang selalu
menjalankan bisnisnya sesuai dengan hukum yang berlaku. Oleh karena itu diperlukan adanya
keseimbangan tanggung jawab terhadap kejahatan korporasi dari direktur, eksekutiI, manajer,
dan karyawan. Setiap individu harus bertanggung jawab baik secara moral maupun hukum atas
keputusan dan tindakan mereka. Jika seseorang melakukan tindakan kejahatna melalui
perusahaan, maka tuntutan hukum seharusnya dikenakan terhadap orang tersebut, bukan
terhadap perusahaan, terutama jika tindakan kejahatan tersebut tidak memberikan keuntungan
terhadap perusahaan.
Perusahaan bertindak melalui individu tetapi individu juga bertindak melalui perusahaan. Oleh
karena itu, tanggung jawab atas suatu tindakan kejahatan yang dilakuakan individu seharusnya
tidak dilimpahkan kepada perusahaan. Begitu juga sebaliknya.


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kejahatan korporasi adalah merupakan kejahatan yang besar dan sangat berbahaya
sekaligus merugikan kehidupan masyarakat, kendatipun di pihak lain ia juga memberi
kemanIaatan bagi kehidupan masyarakat dan negara. Keinginan korporasi untuk terus
meningkatkan keuntungan yang diperolehnya mengakibatkan terjadinya tindakan pelanggaran
hukum. Korporasi, sebagai suatu badan hukum, memiliki kekuasaan yang besar dalam
menjalankan aktivitasnya sehingga sering melakukan aktivitas yang bertentangan dengan
ketentuan hukum yang berlaku, bahkan selalu merugikan berbagai pihak. Dikatakan 'besar,
oleh karena kompleksnya komponen-komponen yang bekerja dalam satu kesatuan korporasi,
sehingga metode pendekatan yang dilakukan terhadap korporasi tidak bisa lagi dengan
menggunakan metode pendekatan tradisional yang selama ini berlaku dan dikenal dengan
metode pendekatan terhadap kejahatan konvensional, melainkan harus disesuaikan dengan
kecanggihan dari korporasi itu sendiri, demikian pula dengan masalah yang berkenaan dengan
konstruksi yuridisnya juga harus bergeser dari asas-asas yang tradisional kearah yang lebih dapat
menampung bagi kepentingan masyarakat luas, yaitu dalam rangka memberikan perlindungan
terhadap masyarakat.
Kejahatan terorganisir, yang dalam literatur mendapat tempat dalam klasiIikasi tersendiri,
tapi sebenarnya dalam pengertian yang lebih luas adalah merupakan bagian dari kejahatan
korporasi, korporasi adalah suatu organisasi, suatu bentuk organisasi dengan tujuan tertentu yang
bergerak dalam bidang ekonomi atau bisnis, maka kita harus melihat kejahatan korporasi sebagai
kejahatan yang bersiIat organisatoris, yaitu suatu kejahatan yang terjadi dalam konteks
hubungan-hubungan yang kompleks dan harapan-harapan diantara dewan direksi, eksekutiI dan
manejer disuatu pihak dan diantara kantor pusat, bagian-bagian dan cabang-cabang pada pihak
lain.
Kendatipun demikian, tidak berarti lalu kejahatan 'warungan tidak mendapat perhatian
lagi, akan tetapi harus terdapat perhatian lagi, akan tetapi harus terdapat pemikiran yang
proporsionalitas penanganan, sehingga tidak memberi kesan adanya ketidakadilan penanganan.
Artinya, kejahatan yang begitu membahayakan dan merugikan masyarakat luas yang
ditimbulkan oleh korporasi, namun tidak mendapat penanganan sebagaimana mestinya, tapi
dilain pihak, seperti yang selama ini terjadi, kejahatan 'warungan justru mendapat perhatian
secara serius dan sungguh-sungguh. Dari apa yang diuraikan di atas adalah merupakan tantangan
dan sekaligus menjadi arah bagi pengembangan kriminologi Indonesia di masa mendatang.
B. Saran
Untuk mencegah terjadinya kejahatan korporasi, perlu diadakan aturan yang tegas baik
berupa collective selI-regulation maupun individualized selIregulation. Namun penerapan
collective selI-regulation tidak eIektiI karena pemerintah dan pengadilan harus terus
memonitoring setiap aktivitas korporasi, sementara korporasi berusaha untuk mengambil celah
agar aktivitas kejahatannya tidak terpantau oleh mereka. Dengan demikian, cara yang paling baik
untuk melawan kejahatan korporasi adalah dengan mencegahnya sebelum terjadi yang dapat
dilakukan dengan adanya individualized selI regulation di mana setiap perusahaan bertangung
jawab atas kebijakan mereka sendiri. Tidak sulit untuk menemukan perusahaan yang mengatakan
kepada masyarakat bahwa mereka memiliki tanggung jawab sosial. Namun banyak perusahaan
yang menggunakan hal itu sebagai suatu cara pemasaran untuk meningkatkan image, bahkan
penjualan mereka. Selain itu, terdapat berbagai macam perlakuan perusahaan atas nama
tanggung jawab sosial yang pada prakteknya sangat bertolak belakang.