Anda di halaman 1dari 13

Keterlambatan Rehabilitasi Visus pada Lansia Penderita Katarak dengan Diabetes Melitus

Oleh : Jivita Catleya Basarah NIM : 110 2007 157 Kelompok 1 Bidang Kepeminatan Geriatri Tutor : Dr. Rita Murnikusumawatie Sp.M

Tahun 2010/2011 Laporan Kasus Blok elektif

Keterlambatan Rehabilitasi Visus pada Lansia Penderita Katarak dengan Diabetes Melitus

ABSTRAK Latar Belakang : Katarak adalah penyakit penyebab kebutaan nomor 1 di Indonesia dengan sebagian besar penderitanya adalah lansia. Katarak yang disertai Diabetes Melitus (DM) sering ditemukan pada lansia penghuni Panti Tresna Werdha (PTW). Keterlambatan rehabilitasi visus dapat meningkatkan kemungkinan kebutaan sehingga perlu diketahui pentingnya rehabilitasi visus dan kontrol DM pada penderita katarak dengan DM. Presentasi kasus : Ny.MM, seorang lansia usia 52 tahun penghuni PTW yang menderita katarak yang disertai DM dengan visus sangat buruk dan diet tidak terkontrol. Diskusi dan simpulan : Rehabilitasi visus penderita katarak sangat diperlukan untuk menurunkan kemungkinan komplikasi, mencegah distres psikologis dan meningkatkan kualitas hidup. Namun hal tersebut harus beriringan dengan kontrol DM karena tanpa kontrol dapat meningkatkan kemungkinan komplikasi yang berhubungan dengan prognosis visus. LATAR BELAKANG Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa atau kedua-duanya2. Umumnya mengenai kedua mata yang ditandai dengan pandangan berasap dan penurunan tajam penglihatan yang menurun secara progresif, bila disertai dengan penyakit DM dapat mempercepat progresifitas. Katarak yang terjadi pada usia lanjut disebut juga katarak senilis, adalah semua kekeruhan lensa yang terjadi pada usia diatas 50 tahun2. Menurut World Health Organization (WHO),Indonesia merupakan negara tertinggi penderita kebutaan (1,5 %) di wilayah Asia Tenggara. Setelah Indonesia, diikuti oleh Bangladesh (1,0%) , India (0,7%) , Thailand (0,3%). Katarak merupakan penyebab utama kebutaan tersebut (0,78%), diikuti oleh glaukoma (0,20%), kelainan refraksi (0,14%) dan penyakit mata yang berhubungan dengan usia lanjut5.Jumlah penderita katarak berbanding lurus dengan jumlah penduduk lanjut usia yang pada tahun 2000 sekitar 15,3 juta (7,4% total penduduk)17.Berdasarkan pengamatan dan wawancara di PTW ditemukan bahwa katarak yang disertai dengan DM merupakan penyakit mata yang banyak dijumpai.

Penyembuhan katarak adalah dengan operasi yang bertujuan untuk rehabilitasi tajam penglihatan (visus) yang optimal. Visus pascaoperasi katarak juga tergantung pada status kesehatan penderita. Pasien katarak dengan DM mempunyai prognosis visus pasca operasi yang kurang baik dibandingkan pasien katarak yang tidak menderita DM. Hal ini disebabkan karena pada pasien katarak dengan DM mempunyai resiko terkena penyakit retinopati diabetik. DM merupakan suatu penyakit dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin,kerja insulin atau kedua-duanya19. DM adalah penyakit sistemik metabolik yang memerlukan terapi medis serta kontrol diet yang rutin. Aspek keterbatasan, ketidaktahuan dan ketidakpedulian merupakan kendala pada pasien katarak untuk menjalankan tindakan rehabilitasi visus6,11 .Keterlambatan penanganan dapat memperburuk penglihatan hingga mencapai kebutaan dan meningkatkan kemungkinan komplikasi. Berdasarkan hal tersebut diatas,dalam laporan kasus ini penulis akan menjelaskan pentingnya rehabilitasi visus pasien katarak dan kontrol DM yang menjadi penyulit penyakit. PRESENTASI KASUS Ny.MM, seorang perempuan berumur 52 tahun memiliki keluhan penglihatan buram saat melihat dekat maupun melihat jauh yang dirasakan sejak dua tahun yang lalu,bersamaan saat diketahui bahwa ia juga menderita DM. Awalnya, mata pasien terasa berkabut/berasap kemudian semakin parah sehingga tidak dapat lagi melihat wajah seseorang yang berbicara padanya. Kira-kira 3 bulan setelah pasien mengetahui penyakit diabetesnya,pasien mengalami penurunan tajam penglihatan yang sangat dratis. Pasien juga memiliki keluhan kencing manis, sering buang air kecil yang menganggu tidur,dan keinginan makan dan minum yang berlebih. Pasien telah berobat untuk penyakit DM nya selama 2 tahun namun sampai dengan lima bulan yang lalu setelah berada di Jakarta, pasien tidak meneruskannya. Pasien telah di terapi dengan obat yang diberikan dokter di kampungnya, pasien lupa nama dari obat tersebut namun, pasien jelaskan bentuknya kecil dan harus diminum pagi dan sore setiap hari. Pasien dibawa ke PTW 1,5 bulan yang lalu,setelah 5 bulan bekerja sebagai pengemis dan pemulung dengan mata yang buram. Sebelumnya pasien bekerja sebagai petani. Saat ini, pasien terlihat sangat kurus dengan berat badan 37 kg dan tinggi badan 150 cm. Saat dilakukan pemeriksaan visus pasien adalah ,dan tampak lensa sangat keruh

(katarak hipermatur). Sejak 1,5 bulan yang lalu,pasien tidak pernah bertemu tenaga medis PTW karena ketidakmampuannya untuk melihat dan kesulitannya untuk berjalan sehingga, tidak ada catatan tekanan darah maupun kadar gula darah nya sekarang. Kadar riwayat gula terakhir diketahui tinggi dari dokter yang memeriksanya di kampung lima bulan yang lalu. Pasien makan dengan menu harian yang sama dengan warga binaan sosial yang lain,karena disebabkan pengurus PTW tidak mengetahui bahwa pasien mengidap DM. Penurunan penglihatan menyebabkan pasien tidak dapat melakukan aktivitas seharihari (hanya berbaring dan duduk). Hal ini diperberat oleh kondisi pasien yang pernah patah tulang sehingga pasien juga sulit berjalan. Pasien menarik diri dari lingkungannya, tidak ingin berinteraksi dengan penghuni PTW lain dan terlihat sedih karena keterbatasan kondisi fisiknya. Pasien tidak pernah melakukan aktivitas yang terjadwal menyatakan keinginannya untuk mengikuti semua kegiatan tersebut. Pasien tidak mengerti komplikasi dari penyakit DM dan pengaruhnya terhadap progresivitas katarak yang dideritanya. Pasien menyatakan keinginannya untuk melihat kembali seperti sebelumnya agar dapat beraktivitas seperti penghuni PTW lainnya sehingga pasien memiliki motivasi untuk menjalani operasi katarak. Informasi tentang operasi katarak didapatkan dari penghuni PTW lain yang telah menjalani operasi katarak sebelumnya. Pihak PTW sendiri tidak mengetahui bahwa pasien adalah penderita katarak dengan DM sehingga tidak didaftarkan untuk operasi bakti sosial katarak. DISKUSI Katarak senilis merupakan penyakit degeneratif, yang salah satu penyebabnya adalah adanya radikal bebas4. Paparan terhadap sinar matahari (UV) dapat menjadi salah satu penyebab peningkatan radikal bebas.Riwayat pasien sebagai petani sebelumnya merupakan salah satu resiko progresivitas katarak. Panz dkk melaporkan bahwa terjadi penurunan enzim Superoksida Dismutase (SOD) pada lensa penderita DM yang berfungsi sebagai penangkal radikal bebas. Katarak yang disertai dengan diabetes melitus dapat mempercepat terjadinya penurunan visus. Keadaan hiperglikemia yang berlangsung lama akan meningkatkan kadar glukosa di dalam humour aquous yang kemudian secara difusi masuk kedalam lensa. Glukosa yang berada didalam lensa akan diubah menjadi sorbitol oleh enzim aldose reduktase yang akan menetap di dalam lensa. Perbedaan osmolaritas antara lensa dan humour aquous akan di PTW, namun ia

menarik air ke dalam lensa sehingga terjadi hidrasi lensa10,4,2. Teori penurunan enzim SOD7, juga dipercaya meningkatkan progresifitas katarak yang disertai diabetes melitus. Lensa sebagai media refraksi berperan penting dalam memfokuskan cahaya di fovea dengan fungsinya sebagai akomodasi. Penurunan visus pada penderita katarak diakibatkan oleh kelainan pembiasa cahaya oleh keruhnya lensa1,2. Pasien ini didiagnosa dengan katarak hipermatur dengan kekeruhan lensa yang masif sehingga tajam penglihatan sangat menurun hingga (Gambar.1).

Gb.1 katarak hipermatur (http://4.bp.blogspot.com/_EZ6qOEBy8WM/TJyD5yOemLI /cataracts.jpg)

Perkembangan katarak senilis biasanya sangat lambat selama beberapa tahun1. Namun, pada katarak senilis dengan DM memiliki progresifitas yang sangat cepat sehingga kontrol DM memegang peran penting dalam keberhasilan rehabilitasi visus3. Visus pada

pasien ini telah membuat pasien tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari nya lagi dan adanya resiko terjadi glaukoma dan uveitis merupakan indikasi operasi untuk meningkatkan prognosis visus pascaoperasi. Walaupun sudah terdapat indikasi, Rehabilitasi visus pasien ini terlambat dilakukan karena keterbatasan fisik, pendidikan pasien dan kurangnya sosialisasi pengurus PTW (ketidakpedulian PTW). Rehabilitasi visus penderita katarak dapat dilakukan dengan kacamata atau dengan operasi. Ada 4 teknik dalam operasi tersebut yaitu : Extra Capsular Cataract Extraction (ECCE) , Intra Capsular Cataract Extraction (ICCE), Phacoemulsification dan Small Incision Sutureless Cataract Surgery (SICS)1,2,4. Saat ini pasien memiliki visus yang termasuk dalam kategori sangat buruk, jika tidak di rehabilitasi dapat menyebabkan kebutaan akibat komplikasi katarak. Komplikasi katarak hipermatur adalah glaukoma sekunder dan uveitis. Dimana Glaukoma sekunder terjadi akibat

penyumbatan trabekulum karena protein di dalam lensa yang keluar ke dalam bilik mata depan. Protein di dalam bilik mata depan tersebut akan mengaktifkan mediator inflamasi sehingga menimbulkan gejala uveitis2 Peningkatan resiko kehilangan penglihatan pada pasien katarak dengan DM dapat diperburuk oleh penyulit yaitu retinopati diabetik. Retinopati Diabetik adalah suatu mikroangiopati progresif yang ditandai oleh kerusakan dan sumbatan pembuluh-pembuluh halus3. Dua tipe retinopati diabetik : Non proliferatif dan proliferatif. Retinopati diabetik ploriferatif merupakan penyulit penyakit mata yang paling parah. Iskemia retina yang progresif akan mengakibatkan neovaskularisasi yang menyebabkan kebocoran protein serum dan neovaskularisasi yang rapuh akan menyebabkan perdarahan vitreus yang menimbulkan penurunan penglihatan mendadak. Jika terdapat jaringan neovaskularisasi mengalami fibrosis akan menarik retina terus menerus sehingga dapat menimbulkan ablasio retina2,3,10. Apabila hal ini telah terjadi gangguan visus akan menetap dan tidak dapat diperbaiki (Rehabilitasi visus tidak berguna). Keterbatasan pasien dalam beraktivitas karena sulit berjalan dan melihat,serta kurangnya pengertian pengurus PTW terhadap penyakit pasien menyebabkan keterlambatan rehabilitasi visus . Kondisi pasien diatas seharusnya menjadi hal yang harus diperhatikan pengurus PTW dalam memberikan perawat pribadi untuk pasien. Pasien mengerti jelas bahwa ia membutuhkan operasi untuk mengembalikan penglihatannya. Motivasi dari pasien tersebut sangat menunjang keberhasilan dimana beberapa laporan menyebutkan bahwa hambatan pasien lansi untuk operasi adalah kepercayannya12. Penyakit katarak yang disertai DM dapat mempercepat progresivitas kekeruhan lensa dan memperburuk visus pascaoperasi. Berdasarkan hal tersebut diatas, maka lansia penderita DM membutuhkan tatalaksana khusus. Penatalaksaan DM pada geriatri adalah mengupayakan normoglikemia dengan diet rendah glukosa, pengobatan dengan obat anti diabetik jika terdapat 3P (polifagi, poliuri, polidipsi) dan olahraga4 . Pengurus PTW tidak mengetahui bahwa pasien adalah penderita DM sehingga pasien mengkonsumsi makanan harian penghuni PTW (Lampiran 1). PTW juga tidak memiliki program diet khusus bagi Warga Binaan Sosial yang memiliki DM. Hal ini memperberat kerusakan penglihatan serta penyakit DM itu sendiri. Perburukan tajam penglihatan dalam keterlambatan rehabilitasi visus menyebabkan pasien tidak dapat mengikuti aktivitas di PTW (Lampiran 2) dan gangguan mobilitas

menyebabkan pasien tidak dapat beraktivitas. Hal ini menyebabkan pasien tidak lagi menikmati hidupnya yang mempengaruhi kondisi psikisnya sehingga pasien menarik diri dari pergaulan di PTW. Penelitian Walker dkk menyatakan bahwa keterbatasan dalam penglihatan berhubungan erat dengan distres psikologis dan depresi13. Menurut WHO, batasan tajam penglihatan setelah operasi katarak yaitu normal ( 6/18) adalah tajam pernglihatan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat agar dapat melakukan aktifitas sehari-hari14. Rehabilitasi visus sangat berguna bagi pasien katarak yang telah terganggu aktivitas sehari harinya dan hal ini didukung pula oleh penelitian Diansyah15, yang menyatakan tingkat kepuasan pasien setelah operasi katarak cukup tinggi. Menurut penelitian Dewiyani16 bahwa kualitas hidup penderita katarak dapat segera meningkat bila terjadi peningkatan tajam penglihatan. Maka sebaiknya, rehabilitasi visus dilakukan segera setelah ada indikasi. Visus pascaoperasi pada pasien katarak yang disertai DM akan sulit mencapai normal karena terdapat kemungkinan penyulit seperti retinopati diabetik. Kekeruhan lensa akan hilang melalui tindakan operasi katarak, namun perjalanan penyakit yang diakibatkan oleh DM akan terus berjalan2,3 dan menurunkan visus pasien jika diabetes melitus dibiarkan tidak terkontrol. Berdasarkan hal diatas, maka prognosis dari rehabilitasi visus pada pasien ini akan buruk, karena tidak disertai dengan kontrol penyakit DM. SIMPULAN Sesuai kasus diatas, keterlambatan rehabilitasi visus pada penderita katarak dapat meningkatkan kemungkinan komplikasi dari katarak,menurunkan kualitas hidup dan menyebabkan distres psikologis akibat keterbatasan. Diabetes Melitus yang tidak terkontrol pada pasien akan memperberat kemajuan rehabilitasi visus progresifitas katarak yang meningkat dan timbulnya retinopati diabetik sehingga Panti Tresna Werdha sebagai tempat binaan sosial memiliki peranan yang penting dalam mengatasi permasalahan keterlambatan rehabilitasi visus dan kontrol diabetes melitus tersebut. Saran saran penulis kepada pasien sehubungan dengan pembahasan tersebut diatas : 1. Pasien harus mengetahui dengan jelas resiko yang dihadapi yaitu kebutaan akibat dai komplikasi katarak dengan DM.

2. Pasien harus mengontrol asupan makanannya (diet rendah glukosa) hingga kadar glukosa darah normal untuk meningkatkan keberhasilan rehabilitasi visus. 3. Pasien harus menatalaksana penyulit terlebih dahulu sebelum melakukan operasi katarak. 4. Jika rehabilitasi visus telah dilakukan, kontrol terhadap DM harus terus dilakukan untuk mencegah komplikasi. Saran saran penulis untuk PTW sehubungan dengan kasus tersebut diatas adalah : 1. Deteksi dini dan rehabilitasi dini adalah satu-satunya cara dalam mencegah kebutaan akibat katarak sehingga diperlukan peningkatan kepedulian dan perhatian dari PTW dalam menangani hal tersebut. 2. PTW perlu melakukan pemeriksaan rutin kesehatan kepada seluruh warga binaan sosial, sehingga tercapai kesehatan yang merata. Pemeriksaan kesehatan tersebut sebaiknya mencakup pemeriksaan fisik umum dan vital serta dilengkapi data laboratorik gula dan lemak darah. 3. Tenaga medis PTW seharusnya lebih peduli dan tanggap terhadap keterbatasan penghuni PTW dalam kesehatan dan perawatannya (obat, nutrisi, olahraga)
4.

Tersedianya program diet khusus untuk penderita DM yang disesuaikan dengan standar kesehatan lansia.

5. Kebutuhan perawat pribadi bagi penderita disabilitas dibutuhkan oleh pasien ini
6. Pemberian suplemen multivitamin (vitamin A,C,E) dan makanan rendah

natrium yang dipercaya mencegah pembentukan katarak dini8,9.


7. Penggalangan dana perlu dilakukan untuk mensukseskan program diatas

sesuai dengan UU no.13 tahun 1999 tentang tanggung jawab pemerintah dan dinas sosial masyarakat dalam meningkatkan upaya perlindungan sosial dan agama lansia, menciptakan lingkungan ramah, serta menunjang kreativitas dalam meningkatkan kesejahteraan lansia19.

ACKNOWLEDGEMENT Pada bagian ini penulis ingin berterimakasih kepada Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia Cengkareng yang telah memberikan kesempatan untuk berkunjung dan pengumpulkan data. Kepada dr.Rita Murnikusumawatie Sp.M yang telah memberikan bimbingannya sehingga terselesaikannya laporan kasus ini. Tidak lupa kepada dr.Faisal Sp.PD, dr. Hj. Susilowati, Mkes dan DR. Drh.Hj Titiek Djannatun dan teman sejawat Universitas Yarsi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Vaughan & Asburys : General Ophtalmology, sixteenth edition. A LANGE medical

book. 2004, chapter 8 : 175 - 177


2. Ilyas, Sidharta. 2006. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. Halaman :

200 211, 169


3. Vaughan D, Asbury T. Oftalmologi Umum; alih bahasa Jan Tambayong. Ed.14 .

Jakarta : Widya Medika, 2000. Halaman : 211 214


4. Darmojo B. 2010. Buku Ajar Geriatri. Edisi ke-4. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.

Halaman :409 412, 536 537


5. http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid1035261958,9327.Sebuah

artkel dari Koran Kompas,22oktober 2002 diambil pada tanggal 2/12/10 pk. 19.00 WIB
6. Rifati L. Assessmen pelayanan operasi katarak di Kecamatan Kebun Jeruk dan

Pulogadung. Tesis. Program Studi Ilmu Penyakit Mata FKUI. Jakarta. 2005
7. Pansz Tomaz, Wojcik Rafal,Krukar-baster Krystyna.2008. Activity of superoxide

dismutase obtained from senile cataract lenseffect of diabetes mellitus. Acta Biochimica Polonica vol.5 no.4/2008,821 823 p.
8. Ravanshad S, Salooti R, Maram ES, Aberomand L,Montaseri H. Antioxidants in

people with and without senile cataract. Pak J Med vol.20,April-June 2004, 121-123p
9. Mirsamadi M, Nourmohammadi I, Manucher Imamian. Comparative study of serum

Na+ and K+ in senile cataract patients and normal individual. Int J Med Sci 2004 1(3): 165-169p
10. Sudoyo A. 2006. Bab 427 : Komplikasi Kronik Diabetes dalam Buku Ajar Ilmu

penyakit Dalam. Jilid III. Edisi ke-4. Jakarta : Balai Penerbitan FKUI. Halaman : 1884 1885 11. Meyrita,Lieska. Kualitas Hidup Penderita Katarak di Kecamatan Bojonggede Kabupaten Bogor. Tesis. Program Studi Ilmu Penyakit Mata FKUI. Jakarta. 2006
12. Temporini ER, Newton KJ, Holzchuch Nilo. Popular Beliefs Regarding the treatment

of Senile Cataract. Rev Saude Publica 2002;36:(3): 343-9


13. Walker JG, Anstey KJ, Lord Sr. Psychological distress and visual functioning in

relation to vision-related disability in older individuals with cataracts. British Journal of Health Psychology (2006), 11, 303317

14. American

Academy of Ophtalmology staff. Philadelphia : WB Saunders; 2002. P.19-36,37-53

International

Opthalmology.

15. Fitriani, Diansyah. Tingkat Kepuasan Pasien Setelah Operasi Katarak dengan Metode

SICS di Lombok. Tesis. Program Studi Ilmu Penyakit Mata FKUI. Jakarta.2009. 16. Dewiyani Cl. Hubungan Operasi Katarak dengan Kualitas Kehidupan. Tesis. Program Studi Ilmu Penyakit Mata FKUI. Jakarta. 2004
17. http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=3&jd=Tinggi

%2C+Kasus+Penyakit+Katarak+Pada+Lansia&dn=20081009204527 artikel kabar indonesia 9 oktober 2010


18. Sudoyo A. 2006. Bab 419 : Diagnosis dan Klasifikasi Diabetes Melitus. Jilid III. Edisi

ke-4. Jakarta : Balai Penerbitan FKUI. Halaman : 1857 19. UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 1999 TENTANG KESEJAHTERAAN LANJUT USIA

LAMPIRAN 2 JADWAL KEGIATAN HARIAN PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA WAKTU


05.00 06.00 06.00 07.30

KEGIATAN
Sholat shubuh Membantu di dapur, membersihkan lingkungan, membuang sampah SKJ Bersama Makan Pagi Bimbingan Rohani Bimbingan Sosial Perorangan Bimbingan Sosial Perkelompok Bimbingan Keterampilan Latihan Qasidahan Makan Siang / ISHOMA Pemeriksaan Rutin Kesehatan dari PUSKESMAS Pemeriksaan Rutin Kesehatan dari Panti Usada Mulia (PUM) Sholat Ashar Merawat Tanaman dan membersihkan lingkungan panti Mandi Sore Makan Sore Sholat Maghrib, Zikir Bersama dilanjutkan Sholat Isya Istirahat

KETERANGAN
Berjamaah Senin s/d Minggu

07.00 07.30 07.30 09.00 09.00 10.30 09.00 14.00 09.00 11.30 09.00 10.30 10.30 12.00 12.00 13.00 14.00 selesai

Selasa dan Jumat Seluruh WBS Senin, Kamis, Sabtu dan Minggu Senin s/d Jumat Selasa Rabu Kamis Istirahat Kamis

14.00 - selesai

Sabtu

15.00 16.00 16.00 16.30

Berjamaah Senin s/d Minggu

16.30 17.00 17.00 18.00 18.00 19.30

Seluruh WBS Seluruh WBS Berjamaah

19.30 05.00

Istirahat

Lampiran 1
I Pagi -Nasi putih -Tumis Sawi -Balado telur -Kerupuk II - Nasi goreng - Dadar telor - Abon - kerupuk

Menu Makan Harian PTW Budi Mulia Cengkareng


III - Nasi Putih - Mie Goreng - Orek tempe - kerupuk IV - Nasi putih - tempe tepung - Dadartelor - tumis labu V - nasi putih - semur tahu - tumis kacang panjang - kerupuk

VI
- nasi putih - abon - bihun goreng - kerupuk

VII
- Nasi putih - oseng toge, baso, tahu. - orek tempe - kerupuk

VIII
- nasi putih - tumis caisim - telur balado - kerupuk

IX
- nasi putih - tumis labu siam - semur tahu tempe - kerupuk

X
- nasi putih - tumis kacang panjang - telor dadar - kerupuk

Siang

-Nasi Putih -Sayur Asem -Ayam Goreng -Tempe Bacem -Sambal

-Nasi putih -Urap -Tahu bacem -Ikan goreng -Kerupuk -buah

- Nasi Putih - Daging Semur - Bening bayam - tempe - Buah

- kerupuk - Nasi putih - Ayam Opor - Tahu - Acar timun - kerupuk - buah

- nasi putih - sayur sop baso - ayam goreng - tempe - sambel - buah

- nasi putih - pecel - ikan goreng - tahu bacem - kerupuk - buah

- nasi putih - soto ayam - perkedel kentang - tempe - sambel - kerupuk - buah

- nasi putih - sayur daun singkong - ikan goreng - tahu - sambel - buah

- nasi putih - capcay komplit - ayam goreng tepung -tempe - kerupuk - buah

- nasi putih - sayur mentimun - ikan goreng - tahu bacem - sambel - buah

Sore

- Buah - Nasi putih - Sayur sop baso - Ikan goreng - Pepes tahu

-Nasi putih -Tempe orek -Bakwan udang - Tumis kacang panjang

- nasi putih - ikan goreng - tahu - tumis kangkung

- nasi putih - pepes ikan - sayur labu - tempe goreng

- nasi putih - ikan bumbu kuning - capcay - tahu

- nasi putih - oseng buncis - bakwan jagung - tempe

- nasi putih - ikan asem pade - tumis kcg panjang - tahu goreng

- nasi putih - sayur sop baso - sambel grg kentang - tempe

- nasi putih - gudeg - krecek kacang - pindang tolo

- nasi putih - oseng toge - tempe - bakwan udang