Anda di halaman 1dari 3

Epulis Gravidarum (Tumor Kehamilan)

DeIinisi / klinis :
Yaitu granuloma pyogenik yang berkembang pada gusi selama kehamilan
(Barber dan Graber,1974; Pinborg,1994; Sonis dkk,1995). Tumor ini adalah lesi
proliIerative jinak pada jaringan lunak mulut dengan angka kejadian berkisar
antara 0,2 hingga 5 dari ibu hamil. Epulis tipe ini berkembang dengan cepat
dan ada kemungkinan berulang pada kehamilan berikutnya.Tumor kehamilan ini
biasanya muncul pada trisemster pertama kehamilan namun ada pasien yang
melaporkan kejadian ini pada trimester kedua kehamilannya. Perkembangannya
cepat seiring dengan peningkatan hormone estrogen dan progestin pada saat
kehamilan. Penyebab dari tumor kehamian hingga saat ini masih belum
dipastikan, namun diduga kuat berhubungan erat dengan perubahan hormonal
yang terjadi pada saat wanita hamil. Faktor lain yang memberatkan keadaan ini
adalah kebersihan mulut ibu hamil yang buruk.

Gambar. Epulis Gravidarum pada wanita hamil
Gejala :
Tumor kehamilan ini tampak sebagai tonjolan pada gusi dengan warna
yang bervariasi mulai dari merah muda, merah tua hingga papula yang berwarna
keunguan, pailng sering dijumpai pada rahang atas. (Killey dkk,1975;
Adyatmaka,1992;
Pinborg,1994). Umumnya pasien tidak mengeluhkan rasa sakit, namun lesi ini
sangat mudah berdarah saat pengunyahan atau penyikatan gigi(Barber dan
Graber, 1974). Pada umumnya lesi ini berukuran diameter tidak lebih dari 2 cm,
namun pada beberapa kasus dilaporkan ukuran lesi yang jauh lebih besar sehingga
membuat bibir pasien sulit dikatubkan.

Etiologi :
Iritasi kronis dan gangguan keseimbangan hormonal
HPA :
Jaringan dilapisi epitel bertatah yang akantotik dengan ketebalan
bervariasi. Dibawah lapisan epitel tampak jaringan granulasi yang terdiri dari :
O ProliIerasi pembuluh darah muda
O Sebukan sel radang kronis
O ProliIerasi sel Iibroblast
Perawatanya :
Umumnya lesi ini akan mengecil dan menghilang dengan sendirinya
segera setelah ibu melahirkan bayinya, sehingga perawatan yang berkaitan denga
lesi ini sebaiknya ditunda hingga setelah kelahiran kecuali bila ada rasa sakitdan
perdarahan terus terjadi sehingga mengganggu penyikatan gigi yang optimal dan
rutinitas sehari-hari. Namun pada kasus-kasus diman epulis tetap bertahan setelah
bayi lahir, diperlukan biopsy untuk pemerikssaan lesi secara histologist. Frekuensi
yang terjadi secara spontan dilaporkan pada 75 kasus, setelah 1 hingga 4 bulan
setelah melahirkan. Bila massa tonjolan berukuran besar dan mengganggu
pengunyahan dan bicara, tonjolan tersebut dapat diangkat dengan bedah eksisi
yang konservatiI selain itu jika ada gangguan,perdarahan yang berlebihan, dokter
gigi dapat melakukan perawatan dengan pembedahan pada masa kehamilan.
Perawatan yang dilakukan yaitu dengan melakukan, kauterisasi atau gingivektomi
di bawah anestesi lokal (Barber dan Graber, 1974; Killey, 1979; Sonis dkk,1995)..
Namun terkadang tumor kehamilan ini dapat diangkat dengan Nd:YAG laser
karena memberi keuntungan yaitu sedikit perdarahan.



1. Piborg, JJ. 1994. Atlas Penyakit Mulut, alih bahasa drg. Kartika
Wangsaraharja. Ed. Ke .1 Binarupa Akasara. Jakarta. 226-227.
2. Killey, HC; Steward, GR; Kay, LW. 1975. An Outline oI Oral Surgery,
Part 1. Bristol.John Wright & Son's Ltd. 170.
Adyatmaka, A. 1992. Buku Pegangan Materi Kesehatan Gigi Mulut
Untuk Kegiatan KIA diPosyandu (UKGMD). Departemen Kesehatan RI.
1-8.
4. Barber, HRK; Graber, EA. 1974.Surgical Diseases in Pregnancy.
Philadelphia. WB Saunders Company. 257-258.
5. Burket, L W. 1971. Oral Medicine, Diagnosis and Treatment .Ed. Ke-6.
Philadelphia. JB Lippincot Company.