Anda di halaman 1dari 1

Ekstrakurikuler, Pemantik Kecerdasan Majemuk?

leh: Nurul Lathiffah


DI wilayah pendidikan kita, sejatinya kecerdasan majemuk yang lebih sering disebut dengan
multiple intelligence selalu menjadi konsep yang menarik sekaligus belum terlalu aplikatiI dalam
pembelajaran dalam kelas. Howard Gardner, penggagas kecerdasan jamak, sejak awal
bermaksud memperlakukan individu sesuai dengan siIat khasnya. Ia, pada awalnya, memperluas
konsep indvidual diIIerences yang memahami bahwa manusia memiliki potensi yang beragam
dan potensi itu sebaiknya dikembangkan, ditumbuhkan ke arah hal yang lebih matang. Konsep
ini sesungguhnya membuat pendidikan kita menjadi menyenangkan, sekaligus diapresiasi baik
oleh anak-anak.
Kita sudah terlalu lama membiasakan diri untuk mengurutkan prestasi siswa berdasarkan jenjang
ranking akademik. Padahal, dalam ranking akademik, kita hanya mempertimbangkan aspek
kognitiI, dan sedikit intelegensi. Akibatnya, tak jarang hal semacam ini menjadi semacam
stressor tersendiri bagi peserta didik. Padahal, tujuan pendidikan bukan saja pencerdasan kognitiI
semata. Lebih dari itu, kita telah lama mencita-citakan pendidikan karakter, pendidikan daya
juang, dan pendidikan kepribadian yang matang. Dengan pemahaman demikian, kita menjadi
yakin bahwa kebutuhan kecerdasan majemuk yang diajarkan dari pendidikan kepada siswa
adalah sebuah kebutuhan.
Kecerdasan personal dan kecerdasan kognitiI adalah dua hal yang berbeda. Maka, ketika kita
berniat untuk memantikkan kecerdasan majemuk, kita akan memberi warna dalam pendidikan
kita, sebuah warna yang jauh lebih dewasa dan matang. Kecerdasan majemuk pada awalnya
diperkenalkan Howard Gardner yang menyadari bahwa kesuksesan seseorang tidak hanya
ditentukan kecerdasan kognitiI belaka, tapi juga kecerdasan interpersonal, intrapersonal,
emosional, kinestetik, linguistik, logis matematis. Kecerdasan itulah yang bisa dioptimalkan
melaui kolaborasi, proses latihan, dan penempaan yang secara intens dilakukan.
Pendidikan dengan tawaran "kecerdasan majemuk" adalah niscaya dilakukan oleh sekolah.
Meski tidak melulu melalui program belajar dalam kelas. Kita tahu, betapa kini waktu sangat
terbatas sementara kita harus jujur bahwa banyak hal yang harus dipahami oleh peserta didik.
Pun demikian, ini masih menyisakan peluang.
Kita memiliki ekstrakurikuler. Taruh saja Pramuka yang melatih ketangguhan, kecerdasan
mengenal alam, juga kognitiI, spiritual dapat menjadi sarana pemantik kecerdasan majemuk.
Belum lagi majalah dinding dengan penawaran pemantik kecerdasan li nguistiknya, lalu PMI
dengan pemantik kecerdasan intra-interpersonal, emosional, dan lain sebagainya.
Lantas pertanyaannya, seberapa mampukah ekstrakurikuler dapat berIungsi sebagai pemantik
kecerdasan majemuk? Tentu, secara konseptual kita yakin dan berani menggaransi bahwa
ekstrakurikuler di sekolah dapat memantikkan kecerdasan majemuk. Namun tentu saja, semua
bergantung pada proIesionalitas pengelola, yakni sekolah, dan juga tak lupa siswa yang
mengapresiasi ekskul, serta orangtua yang memberi izin dan mendukung sepenuhnya. Kita selalu
berharap, ke depan pendidikan kita lebih proIesional dan kontributiI terhadap perkembangan
kepribadian peserta didiknya. (Penulis, Aktivis Forum Kajian Perkembangan, Fakultas Ilmu
Sosial Humaniora UIN Suka Yogyakarta)** Share