Anda di halaman 1dari 4

ANTICARIES AGENTS

A. Pendahuluan
Dental caries adalah suatu proses patologik dari mikroorganisme yang menyebabkan timbulnya kerusakan pada jaringan gigi, atau suatu serangan yang bersifat lokal oleh bakteri yang terkonsentrasi pada suatu plak gigi yang sifatnya adhesif. Berdasarkan sudut pandang anatomis dan mikrobiologis, ada beberapa jenis karies : pit and fissure caries, smooth surface caries, root caries, dan deep dentinal caries.

Dental caries merupakan penyakit multifaktorial yang melibatkan tiga faktor utama yaitu : host/inang, khususnya saliva dan gigi; microflora; dan substrat. Faktor ke-4 adalah waktu, yaitu dimana caries akan terjadi dengan didukung ketiga faktor utama hingga masa tertentu.

Dental plaque (plak gigi) bersifat adhesif dan terbentuk dari hasil metabolisme bakteri (khususnya S. mutans) berupa polisakarida/poliglukan (membuat sifatnya adhesif, mencegah dilution/netralisasi asam bakteri oleh saliva, dan sebagai nutrien cadangan), plak sendiri bisa terbentuk di permukaan gigi manapun, namun caries hanya terjadi di daerah stagnation areas yaitu tempat dimana plak sudah tebal dan susah dibersihkan.

Tindakan preventif karies yang dilakukan adalah dengan tujuan : 1. Meningkatkan pertahanan dari inang (terapi fluoride, occlusal sealants, imunisasi) 2. Menurunkan angka mikroorganisme kariogenik yang berkontak dengan gigi (plaque control dan antiplaque agents) 3. Memilih makanan yang nonkariogenik 4. Membatasi memakan makanan yang bersifat fermentable.

B. Klasifikasi Anticaries Agents

Anticaries agents yang dipercaya memiliki kemampuan paling baik untuk meningkatkan host resistance terhadap caries sekaligus sebagai antibacterial agents adalah Fluorides. Namun karena berbagai kontroversi pemakaian fluoride, sekarang ini para peneliti terus mencoba membuat anticaries agents yang sifatnya nonfluoride (misalnya phosphorus-containing agents, calcium-containing agents, antimicrobials dan antibiotics, metals, dan miscellanous agents).

FLUORIDES as ANTICARIES AGENTS


Fluorine merupakan salah satu unsur senyawa halogen yang bersifat paling elektronegatif dibanding seluruh elemen, sehingga sifatnya sangat reaktif. Fluorine dapat berikatan dengan hampir semua unsur termasuk unsur radikal organik, sehingga fluorine sangat jarang ditemukan dalam keadaan bebas di alam, lebih sering ditemukan dalam nama fluoride (sekitar 0.06 0.09% di bumi). Biasanya fluoride ada dalam mineral fluorspar (CaF2), cryolite (Na3AlF6), atau fluorosilicate (Na2SiF6) dan dalam bentuk batu berupa mica, hornblende, dan pegmatite. Dalam mineral biologis jaringan, seperti tulang dan gigi, fluoride berupa kristal apatit tak murni, bukan fluorapatite (Ca10[PO4]6F2).

Hingga tahun 1930-an barulah zat fluoride dipastikan sebagai pencegah terjadinya caries karena dengan mekanisme kerjanya yang dapat menurunkan insidensi terjadinya karies gigi. Jenis anticaries agents berfluoride ini dapat dibagi lagi menjadi systemic dan topical fluoride.

1. Systemic Fluoride
Merupakan jenis fluoride yang diingesti lalu diabsorbsi, didistribusikan dalam tubuh menuju tulang dan gigi. Beberapa macam jenis pemberian fluoride secara sistemik :

a. Fluoridation of drinking water Fluoride yang ditambahkan dalam kandungan air minum adalah paling efektif sekitar 1 ppm saat perkembangan gigi geligi. Cara pemberian fluoride sistemik ini adalah yang terbaik, paling nyaman, efektif, ekonomis, dan aman dengan menambahkan sodium fluoride (konsentrasi 1 ppm) ke suplai air. Meminum air berfluoride ini juga memberikan efek topikal pada gigi.

Terjadinya overdosis akut maupun kronis sangat tidak mungkin (agar terjadi keracunan akut seseorang harus meminum 2500 l air dalam waktu singkat).

b. Fluorides in food Salah satu kekurangan dari fluoridasi air minum adalah bahwa orang dewasa yang terus meminum air minum berkandungan fluoride namun berisiko rendah terkena karies, diduga dapat menyebabkan sesuatu yang masih belum bisa diprediksi. Maka biasanya garam fluoride ditambahkan dalam susu dan garam dapur. Sifatnya cukup efektif, namun tak sebanding dengan yang ada pada air minum.

c. Fluorides tablets (suplements) Karena banyak faktor (mencakup politik dan ekonomi), fluoridasi air menjadi tidak mungkin lagi dalam skala besar, maka ditawarkan fluoride sistemik berupa suplemen. Dosis yang tepat untuk resep suplemen fluoride bergantung kepada umur dan konsentrasi fluoride dalam air minum. Kesalahan dalam penentuan dosis dapat menimbulkan overdosis fluoride dan diikuti dental fluorosis (karena dikonsumsi dalam bentuk bolus, sehingga terjadi kenaikan kandungan fluoride dalam darah secara cepat). Bentuk suplemen untuk bayi biasanya berupa obat tetes mulut, untuk anak-anak bergigi sulung dapat berupa tablet yang dikunyah (memberikan efek topikal juga).

d. Fluorides in other drugs Walau pentingnya kandungan fluoride kurang jelas dalam ilmu farmakologi, namun fluoride menjadi elemen penting dalam semua obat inhalasi anestesi modern dan beberapa obat seperti benzodiazepines, antagonisnya flumazenil, dan lebih dari 20 obat lain berawalan flu-.

2. Topical Fluoride
Merupakan jenis pemberian fluoride yang secara langsung terhadap permukaan gigi tanpa diabsorbsi, dan didistribusikan. Beberapa contoh fluoride yang diberikan secara topical adalah sbb. :

a. Fluoridised toothpastes

Adapun pasata gigi yang sekarang mengandung sodium fluoride dan sodium monofluorophosphate dengan sedikit bahan abrasif yang relatif lemah. Namun, kandungan fluoride ini terus menurun karena selama penyimpanan ia terus bereaksi dengan komponen lain.

b. Fluoride mouth rinses Biasanya berupa larutan 0.05% sodium fluoride membersihkan mulut sekitar 1 2 mins setiap hari. untuk

c. Fluoride salts i. Sodium Fluoride Biasanya dipakai dengan konsentrasi 2% dengan keuntungan: stabil secara kimia dan disimpan dalam wadah plastik; rasanya kurang enak; tidak mengiritasi gusi; tidak mewarnai gigi. ii. Stannous Fluoride Biasanya dipakai dengan konsentrasi 2 8%. Dipercaya lebih efektif dibanding sodium fluoride 2%. Beberapa kerugiannya: tak stabil dalam keadaan cair; bau yang tidak sedap; terkadang iritasi gusi dan warnanya menjadi pucat; sering mewarnai gigi. Untuk mengatasi kerugian ini, dibuatlah gel stannous fluoride yang stabil 0.4% (Omnigel). iii. Acidulated Phosphate Fluoride (APF) Merupakan larutan sodium fluoride dalam asam fosfat lemah. Melalui beberapa percobaan laboratorium, APF masih diduga memiliki efek yang jauh lebih baik dalam mengurangi karies gigi dibanding sodium atau stannous fluoride. iv. Fluoride gels Berupa jenis APF dalam bentuk gel yang diberikan ke gigi menggunakan suatu tray khusus. Penggunaan gel dalam tray ini boleh dilakukan di rumah, namun jika tidak diawasi akan menyebabkan jumlah fluoride yang tidak sesuai tertelan dan menyebabkan nausea.