Anda di halaman 1dari 10

Makalah Ekonomi Syariah

Al-‘Urf sebagai salah satu metode Ushul


Fiqih dalam meng-Istimbath setiap
permasalahan dalam kehidupan

Oleh:
Rhesa Yogaswara
207000377

Magister Bisnis dan Keuangan Islam


Universitas Paramadina
Jakarta
2008
PENDAHULUAN

Konsep bahwa Islam sebagai agama wahyu yang mempunyai doktrin-doktrin


ajaran tertentu yang harus diimani, juga tidak melepaskan perhatiannya terhadap kondisi
masyarakat tertentu. Kearifan lokal (hukum) Islam tersebut ditunjukkan dengan beberapa
ketentuan hukum dalam al-Qur’an yang merupakan pelestarian terhadap tradisi
masyarakat pra-Islam.

S. Waqar Ahmed Husaini mengemukakan, Islam sangat memperhatikan tradisi


dan konvensi masyarakat untuk dijadikan sumber bagi jurisprudensi hukum Islam dengan
penyempurnaan dan batasan-batasan tertentu. Prinsip demikian terus dijalankan oleh
Nabi Muhammad saw. Kebijakan-kebijakan beliau yang berkaitan dengan hukum yang
tertuang dalam sunnahnya banyak mencerminkan kearifan beliau terhadap tradisi-tradisi
para sahabat atau masyarakat.

Sehingga sangatlah penting bagi umat muslim untuk mengetahui serta


mengamalkan salah satu metode Ushl Fiqh untuk meng-Istimbath setiap permasalahan
dalam kehidupan ini.

PENGERTIAN

Secara bahasa "Al-adatu" terambil dari kata "al-audu" dan "al-muaawadatu" yang
berarti "pengulangan", Oleh karena itu, secara bahasa al-'adah berarti perbuatan atau
ucapan serta lainnya yang dilakukan berulang-ulang sehingga mudah untuk dilakukan
karena sudah menjadi kebiasaan.

Menurut jumhur ulama, batasan minimal sesuatu itu bisa dikatakan sebagai
sebuah 'adah adalah kalau dilakukan selama tiga kali secara berurutan. Jadi arti kaidah ini
secara bahasa adalah sebuah adat kebiasaan itu bisa dijadikan sandaran untuk
memutuskan perkara perselisisihan antar manusia.

Perbedaan antara Al-‘Adah dengan Al-‘Urf


Kata 'urf dalam bahasa Indonesia sering disinonimkan dengan 'adat kebiasaan
namun para ulama membahas kedua kata ini dengan panjang lebar, ringkasnya: AI-'Urf
adalah sesuatu yang diterima oleh tabiat dan akal sehat manusia.

Meskipun arti kedua kata ini agak berbeda namun kalau kita lihat dengan jeli,
sebenarnya keduanya adalah dua kalimat yang apabila bergabung akan berbeda arti
namun bila berpisah maka artinya sama.

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa makna kaidah ini menurut
istilah para ulama adalah bahwa sebuah adat kebiasaan dan urf itu bisa dijadikan sebuah

Al-‘Urf sebagai salah satu metode Ushul Fiqih 2


dalam meng-Istimbath setiap permasalahan dalam kehidupan
sandaran untuk menetapkan hukum syar'i apabila tidak terdapat nash syar'i atau lafadh
shorih (tegas) yang bertentangan dengannya.
Tabel 1. Tabel perbandingan antara ’Urf dengan ’Adah
’Urf ’Adah
Adat memiliki makna yang lebih sempit Adat memiliki cakupan makna yang lebih
luas
Terdiri dari ‘urf shahih dan fasid Adat tanpa melihat apakah baik atau buruk
‘Urf merupakan kebiasaan orang banyak Adat mencakup kebiasaan pribadi
Adat juga muncul dari sebab alami
Adat juga bisa muncul dari hawa nafsu dan
kerusakan akhlak

DALIL KAIDAH

Lafadl al-‘adah tidak terdapat dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, namun yang
terdapat pada keduanya adalah lafadh al-‘urf dan al-ma’ruf. Ayat dan hadits inilah yang
dijadikan dasar oleh para ulama kita untuk kaidah ini. Diantaranya ialah:

Dalil aI-Qur'an, Firman Allah Ta'ala :

∩⊇∪ šÎ=Îγ≈pgø:$# Çtã óÚÌôãr&uρ Å∃óãèø9$$Î/ óß∆ù&uρ uθøyèø9$# É‹è{


(QS Al-Araaf[7]:199). Jadilah Engkau Pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta
berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.

Juga firman-Nya:

tÎ/tø%F{$#uρ Ç÷ƒy‰Ï9≡uθù=Ï9 èπ§‹Ï¹uθø9$# #·öyz x8ts? βÎ) ßNöθyϑø9$# ãΝä.y‰tnr& u|Øym #sŒÎ) öΝä3ø‹n=tæ |=ÏGä.

∩⊇∇⊃∪ tÉ)−Fßϑø9$# ’n?tã $ˆ)ym ( Å∃ρã÷èyϑø9$$Î/


(QS.Al-Baqarah[2]: 180). diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-
tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, Berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya
secara ma'ruf

Dan beberapa ayat lain yang menyebut lafadh ’urf atau ma’ruf yang mencapai 37
ayat. Maksud dan ma'ruf di semua ayat ini adalah dengan cara baik yang diterima oleh
akal sehat dan kebiasaan manusia yang berlaku.

Dalil dari as-Sunnah:


Dalam salah satu Hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Abdullah ibn Mas’ud
disebutkan, “Apa yang dipandang baik oleh umat Islam, maka di sisi Allah pun baik”.

Al-‘Urf sebagai salah satu metode Ushul Fiqih 3


dalam meng-Istimbath setiap permasalahan dalam kehidupan
Hadis tersebut oleh para ahli ushul fiqh dipahami (dijadikan dasar) bahwa tradisi
masyarakat yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syari’at Islam dapat dijadikan
dasar pertimbangan dalam menetapkan hukum Islam (fiqh).

QAWAID FIQHIYAH YANG BERKAITAN

Berkaitan dengan ’Urf, dalam qa’idah fiqhiyah disebutkan:


“Adat kebiasaan dapat dijadikan dasar (pertimbangan) hukum”
Qaidah yang lain:
“Menetapkan (suatu hukum) dengan dasar (‘urf), seperti menetapkan
(hukum) dengan dasar nash”.

Dengan kaidah tersebut, hukum Islam dapat dikembangkan dan diterapkan sesuai
dengan tradisi (adat) yang sudah berjalan. Sifat al-Qur’an dan al-Sunnah yang hanya
memberikan prinsip-prinsip dasar dan karakter keuniversalan hukum Islam (sebagaimana
contoh ayat di atas) dapat dijabarkan kaidah ini dengan melihat kondisi lokal dengan
masing-masing daerah. Lebih jauh, dengan kaidah tersebut, dalam bidang perdagangan
(perekonomian), qa’idah fiqhiyah memberikan keluasaan untuk menciptakan berbagai
macam bentuk transaksi atau kerja sama, yaitu dengan kaidah:
“Sesuatu yang sudah terkenal (menjadi tradisi) di kalangan pedagang, seperti
syarat yang berlaku diantara mereka”

Kaidah-kaidah tersebut memberikan peluang pada kita untuk menetapkan


ketentuan-ketentuan hukum, apabila tidak ada nash yang menjelaskan ketentuan
hukumnya. Bahkan meneliti dan memperhatikan adat (‘urf) untuk dijadikan dasar
pertimbangan dalam menetapkan suatu ketentuan hukum merupakan suatu keharusan.

KLASIFIKASI

Klasifikasi 'Urf ditinjau berdasarkan ruang lingkupnya, yaitu:


1. 'Urf ‘am (umum). Yaitu 'urf yang berlaku di seluruh negeri muslim, sejak zaman
dahulu sampai saat ini. Para ulama sepakat bawa 'urf umum ini bisa dijadikan
sandaran hukum.

2. 'Urf khosh (khusus). Yaitu sebuah 'urf yang hanya berlaku di sebuah daerah dan
tidak berlaku pada daerah lainnya. 'Urf ini diperselisihkan oleh para ulama apakah
boleh dijadikan sandaran hukum ataukah tidak.

Contoh: Di sebuah daerah tertentu, ada seseorang menyuruh seorang


makelar untuk menawarkan tanahnya pada pembeli, dan 'urf yang berlaku di
daerah tersebut bahwa nanti kalau tanah laku terjual, makelar tersebut
mendapatkan 2% dari harga tanah yang ditanggung bendua antara penjual dengan
pembeli; maka inilah yang berlaku, tidak boleh bagi penjual maupun pembeli
menolaknya kecuali kalau ada perjanjian sebelumnya.

Al-‘Urf sebagai salah satu metode Ushul Fiqih 4


dalam meng-Istimbath setiap permasalahan dalam kehidupan
Klasifikasi 'Urf ditinjau berdasarkan objeknya, yaitu:
1. 'Urf Lafzhy (ucapan). Yaitu sebuah kata yang dalam masyarakat tententu
dipahami bersama dengan makna tertentu, bukan makna lainnya. 'Urf ini kalau
berlaku umum di seluruh negeni muslim ataupun beberapa daerah saja maka bisa
dijadikan sandaran hukum.

Misalnya:
a. Ada seseorang berkata: "Demi Alloh, saya hari ini tidak akan makan daging."
Ternyata kemudian dia maka ikan, maka orang tersebut tidak dianggap
melanggar sumpah, karena kata ”daging” dalam kebiasaan masyarakat kita
tidak dimaksudkan kecuali untuk daging binatang darat seperti kambing, sapi,
dan lainnya.
b. Ada seorang penjual berkata: "Saya jual kitab ini seharga lima puluh ribu."
Maka yang dimaksud adalah lima puluh ribu rupiah, bukan dolar ataupun
riyal.

2. 'Urf Amali (perbuatan). Yaitu Sebuah penbuatan yang sudah menjadi 'urf dan
kebiasaan masyanakat tertentu. Ini juga bisa dijadikan sandaran hukum meskipun
tidak sekuat 'urf lafzhy.

Misalnya:
a. Dalam masyarakat tertentu ada ’urf orang bekerja dalam sepekan mendapat
libur satu hari, pada hari Jum’at. Lalu kalau seorang yang melamar pekerjaan
menjadi tukang jaga toko dan kesepakatan dibayar setiap bulan sebesar
Rp.500.000, maka pekerja tersebut berhak berlibur setiap hari Jum'at dan tetap
mendapatkan gaji tersebut.

Klasifikasi 'Urf ditinjau berdasarkan diterima atau tidaknya, yaitu:


1. 'Urf shahih ialah 'urf yang baik dan dapat diterima karena tidak bertentangan
dengan syara'.

Misalnya:
a. Seperti mengadakan pertunangan sebelum melangsungkan akad nikah,
dipandang baik, telah menjadi kebiasaan dalam masyarakat dan tidak
bertentangan dengan syara'.

2. 'Urf bathil ialah 'urf yang tidak baik dan tidak dapat diterima, karena bertentangan
dengan syara'.

Misalnya:
a. Seperti kebiasaan mengadakan sesajian untuk sebuah patung atau suatu
tempat yang dipandang keramat. Hal ini tidak dapat diterima, karena
berlawanan dengan ajaran tauhid yang diajarkan agama Islam.

Al-‘Urf sebagai salah satu metode Ushul Fiqih 5


dalam meng-Istimbath setiap permasalahan dalam kehidupan
SYARAT-SYARAT ‘URF

Tidak semua 'urf bisa dijadikan sandaran hukum. Akan tetapi, harus memenuhi
beberapa syarat, yaitu:
1. ’Urf itu berlaku umum. Artinya, 'urf itu dipahami oleh semua lapisan masyarakat,
baik di semua daerah maupun pada daerah tertentu. Oleh karena itu, kalau hanya
merupakan 'urf orang-orang tententu saja, tidak bisa dijadikan sebagai sebuah
sandaran hukum.
2. Tidak bertentangan dengan nash syar'i. Yaitu 'Urf yang selaras dengan nash syar'i.
'Urf ini harus dikerjakan, namun bukan karena dia itu ’urf, akan tetapi karena dalil
tersebut.

Misalnya:
'Urf di masyarakat bahwa seorang suami harus memberikan tempat tinggal
untuk istrinya. 'Urf semacam ini berlaku dan harus dikerjakan, karena Alloh
Azza wa Jalla berfirman:

βÎ)uρ 4 £Íκön=tã (#θà)ÍhŠŸÒçGÏ9 £èδρ•‘!$ŸÒè? Ÿωuρ öΝä.ω÷`ãρ ÏiΒ ΟçGΨs3y™ ß]ø‹ym ôÏΒ £èδθãΖÅ3ó™r&

£èδθè?$t↔sù ö/ä3s9 z÷è|Êö‘r& ÷βÎ*sù 4 £ßγn=÷Ηxq z÷èŸÒtƒ 4®Lym £Íκön=tã (#θà)ÏΡr'sù 9≅÷Ηxq ÏM≈s9'ρé& £ä.

∩∉∪ 3“t÷zé& ÿ…ã&s! ßìÅÊ÷äI|¡sù ÷Λän÷| $yès? βÎ)uρ ( 7∃ρã÷èoÿÏ3 /ä3uΖ÷t/ (#ρãÏϑs?ù&uρ ( £èδu‘θã_é&
(QS. athTholaq [65]:6). tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat
tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk
menyempitkan (hati) mereka. dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang
hamil, Maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika
mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu Maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan
musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan jika kamu menemui
kesulitan Maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya.

3. 'Urf itu sudah berlaku sejak lama, bukan sebuah 'urf baru yang barusan terjadi.

Misalnya:
Maknanya kalau ada seseorang yang mengatakan demi Allah, saya tidak
akan makan daging selamanya. Dan saat dia mengucapkan kata tersebut yang
dimaksud dengan daging adalah daging kambing dan sapi; lalu lima tahun
kemudian ‘urf masyarakat berubah bahwa maksud daging adalah semua daging
termasuk daging ikan. Lalu orang tersebut makan daging ikan, maka orang
tersebut tidak dihukumi melanggar sumpahnya karena sebuah lafadh tidak
didasarkan pada ‘urf yang muncul belakangan.

Al-‘Urf sebagai salah satu metode Ushul Fiqih 6


dalam meng-Istimbath setiap permasalahan dalam kehidupan
4. Tidak berbenturan dengan tashrih. Jika sebuah 'urf berbenturan dengan tashrih
(ketegasan seseorang dalam sebuah masalah), maka 'urf itu tidak berlaku.

Misalnya:
Kalau seseorang bekerja di sebuah kantor dengan gaji bulanan Rp.
500.000,- tapi pemilik kantor tersebut mengatakan bahwa gaji ini kalau masuk
setiap hari termasuk hari Ahad dan hari libur, maka wajib bagi pekerja tersebut
untuk masuk Setiap hari maskipun 'urf masyarakat memberlakukan hari Ahad
libur.

5. ‘Urf tidak berlaku atas sesuatu yang telah disepakati


Hal ini sangatlah penting karena bila ada ’urf yang bertentangan dengan
apa yang telah disepakati oleh para ulama (dalam hal ini ’Ijma) maka ’urf menjadi
tidak berlaku, terlebih bila ’urf nya bertentangan dengan dalil syar’i.

PERBANDINGAN DENGAN METODE LAINNYA

’Urf vs Qiyas
’Urf lebih kuat dari qiyas karena ’urf adalah dalil yang berlaku umum dan bukti
bahwa sesuatu memang dibutuhkan (Ibn Abidin). Contoh: sucinya kotoran merpati sesuai
’urf yang terjadi pada mesjid2 bahkan masjid al-haram. Ini tidak bisa diqiyaskan pada
korotan ayam.

Perbedaan ’Urf dengan ’Ijma


Tabel 2. Tabel perbandingan antara ’Ijma dengan ’Urf
’Ijma ’Urf
Dasarnya adalah kesepakatan para mujtahid Tindakan mayoritas individu baik ’awam
atas suatu hukum syar’i setelah Nabi SAW maupun ulama dan tidak harus dalam
wafat bentuk kesepakatan
Harus berdasarkan dalil Syara Tidak harus berdasarkan dalil Syara
’Ijma ada yang sampai kepada kita dan ada Relatif sama dengan sejarah
yang tidak
Merupakan hujjah yang mesti dilakukan Tidak menjadi hujjah yang harus dilakukan
karena ’urf ada yang shahih dan ada yang
bathil

PANDANGAN ULAMA

Para ulama sepakat bahwa 'urf shahih dapat dijadikan dasar hujjah. Ulama
Malikiyah terkenal dengan pernyataan mereka bahwa amal ulama Madinah dapat
dijadikan hujjah, demikian pula ulama Hanafiyah menyatakan bahwa pendapat ulama
Kufah dapat dijadikan dasar hujjah.

Al-‘Urf sebagai salah satu metode Ushul Fiqih 7


dalam meng-Istimbath setiap permasalahan dalam kehidupan
Para ulama telah sepakat bahwa seorang mujtahid dan seorang hakim harus
memelihara ’urf shahih yang ada di masyarakat dan menetapkannya sebagai hukum. Para
ulama juga menyepakati bahwa ’urf fasid harus dijauhkan dari kaidah-kaidah
pengambilan dan penetapan hukum. ’Urf fasid dalam keadaan darurat pada lapangan
muamalah tidaklah otomatis membolehkannya. Keadaan darurat tersebut dapat
ditoleransi hanya apabila benar-benar darurat dan dalam keadaan sangat dibutuhkan.

Imam Syafi'i terkenal dengan qaul qadim dan qaul jadidnya. Ada suatu kejadian
tetapi beliau menetapkan hukum yang berbeda pada waktu beliau masih berada di
Mekkah (qaul qadim) dengan setelah beliau berada di Mesir (qaul jadid). Hal ini
menunjukkan bahwa ketiga madzhab itu berhujjah dengan 'urf. Tentu saja 'urf fasid tidak
mereka jadikan sebagai dasar hujjah.

Abdul Wahab Khalaf berpandangan bahwa suatu hukum yang bersandar pada
’Urf akan fleksibel terhadap waktu dan tempat, karena Islam memberikan prinsip sebagai
berikut:
“Suatu ketetapan hukum (fatwa) dapat berubah disebabkan berubahnya waktu,
tempat, dan siatuasi (kondisi)”.

Dengan demikian, memperhatikan waktu dan tempat masyarakat yang akan diberi
beban hukum sangat penting. Prinsip yang sama dikemukakan dalam kaidah sebagai
berikut:
“Tidak dapat diingkari adanya perubahan karena berubahnya waktu (zaman)”.

Dari prinsip ini, seseorang dapat menetapkan hukum atau melakukan perubahan
sesuai dengan perubahan waktu (zaman). Ibnu Qayyim mengemukakan bahwa suatu
ketentuan hukum yang ditetapkan oleh seorang mujtahid mungkin saja mengalami
perubahan karena perubahan waktu, tempat keadaan, dan adat.

Jumhur ulama tidak membolehkan ’Urf Khosh. Sedangkan sebagian ulama


Hanafiyyah dan Syafi'iyyah membolehkannya, dan inilah pendapat yang shohih karena
kalau dalam sebuah negeri terdapat 'urf tertentu maka akad dan mu'amalah yang terjadi
padanya akan mengikuti 'urf tersebut.

CONTOH PRAKTEK ‘URF

Berikut adalah praktek-praktek ’Urf dalam masing-masing mahzab:


1. Fiqh Hanafy
a. Dalam akad jual beli. Seperti standar harga, jual beli rumah yang meliputi
bangunanya meskipun tidak disebutkan.
b. Bolehnya jual beli buah yang masih dipohon karena ’urf.
c. Bolehnya mengolah lahan pertanian orang lain tanpa izin jika di daerah
tersebut ada kebiasaan bahwa lehan pertanian digarap oleh orang lain, maka
pemiliknya bisa meminta bagian.

Al-‘Urf sebagai salah satu metode Ushul Fiqih 8


dalam meng-Istimbath setiap permasalahan dalam kehidupan
d. Bolehnya mudharib mengelola harta shahibul maal dalam segala hal menjadi
kebiasaan para pedagang.
e. Menyewa rumah meskipun tidak dijelaskan tujuan penggunaaannya

2. Fiqh Maliki
a. Bolehnya jual beli barang dengan menunjukkan sample
b. Pembagian nisbah antara mudharib dan sahibul maal berdasarkan ’urf jika
terjadi perselisihan

3. Fiqh Syafi’i
a. Batasan penyimpanan barang yang dianggap pencurian yang wajib potong
tangan
b. Akad sewa atas alat transportasi
c. Akad sewa atas ternak
d. Akad istishna

4. Fiqh Hanbali
a. Jual beli mu’thah

Berikut adalah akad-akad saat ini yang dapat diterima dengan ’Urf, yaitu
1. Konsep Aqilah dalam asuransi
2. Jual beli barang elektronik dengan akad garansi
3. Dalam sewa menyewa rumah. Biaya kerusakan yang kecil-kecil yang
seharusnya menjadi tanggung jawab pemilik rumah, menjadi tanggung
jawab penyewa.

KESIMPULAN

Karakteristik hukum Islam adalah syumul (universal) dan waqiyah (kontekstual)


karena dalam sejarah perkembangan (penetapan)nya sangat memperhatikan tradisi,
kondisi (sosiokultural), dan tempat masyarakat sebagai objek (khitab), dan sekaligus
subjek (pelaku, pelaksana) hukum. Perjalanan selanjutnya, para Imam Mujtahid dalam
menerapkan atau menetapkan suatu ketentuan hukum (fiqh) juga tidak mengesampingkan
perhatiannya terhadap tradisi, kondisi, dan kultural setempat.

Tradisi, kondisi (kultur sosial), dan tempat merupakan faktor-faktor yang tidak
dapat dipisahkan dari manusia (masyarakat). Oleh karenanya, perhatian dan respon
terhadap tiga unsur tersebut merupakan keniscayaan.

Tujuan utama syari’at Islam (termasuk didalamnya aspek hukum) untuk


kemaslahatan manusia – sebagaimana di kemukakan as-Syatibi– akan teralisir dengan
konsep tersebut. Pada gilirannya syari’at (hukum) Islam dapat akrab, membumi, dan
diterima di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang plural, tanpa harus meninggalkan
prinsip-prinsip dasarnya.

Al-‘Urf sebagai salah satu metode Ushul Fiqih 9


dalam meng-Istimbath setiap permasalahan dalam kehidupan
Sehingga dengan metode al-’urf ini, sangat diharapkan berbagai macam
problematika kehidupan dapat dipecahkan dengan metode ushl fiqh salah satunya al-’urf,
yang mana ’urf dapat memberikan penjelasan lebih rinci tanpa melanggar al-Quran dan
as-Sunnah.

DAFTAR PUSTAKA

Al-A’jam, Rafiq. 1983. Ushul Islamiyah Manhajuha wa Ab’aduha. Beirut: Dar al-Ilmi.
Al-Bugha, Musthafa Dib. Atsar al-Adillah al-Mukhtalafah fiha fi al-Fiqh al-Islamy.
Damaskus: Dar el-Qalam, 1420 H/1999M, cet. III
Al-Jawaziyah, Ibnu Qayyim. TT. I’lam al-Muwaqi’in. Beirut: Dal al-Jil.
Al-Maraghi, Ahmad Mustafa. TT. Tafsir al-Maraghi, Juz I. Beirut: Dar al-Fikr.
Al-Nadawi, Ali Ahmad. 1986. Al-Qawa’id al-Fiqhiyah. Damaskus: Dar al-Qalam.
Al-Qarrafi, Syaihabuddin Ahmad ibd Idris. TT. al-Furuq fi Anwa’il Buruq. Beirut: ‘Alam
al-Kutb.
Al-Yamani, Abu Bakar al-Ahdal. TT. al-Fara’id al-Bahiyyah. Semarang: al-Munawar.
Al-Zarqa’, Ahmad bin Muhammad. 1988. Syarh al-Qawa’id al-Fiqhiyah. Beirut: al-
Qalam.
Al-Zuhaily, Wahbah. Ushul Fiqh al-Islamy. Beirut: Dar el- Fikr al-Mu’ashir, 1424
H/2004 M, vol. 2, cet. II
Bisri, M. Adib. 1977. Risalah Qawa’id Fiqh. Kudus: Menara Kudus.
Fatah, Syekh Abdul. 1990. Tarikh al-Tasyri al-Islam. Kairo: Dar al-Ittihad al’Arabi.
Haidar, Ali. TT. Darru al-Hukkam Syarhu Majallah al-Ahkam. Beirut: Maktabah al-
Nahdhah.
http://www.cybermq.com/index.php?pustaka/detail/8/1/pustaka-129.html
Husaini, S. Waqar Ahmad. 1983. Sistem Pembinaan Masyarakat Islam (Terj.). Bandung:
Pustaka.
Ibnu Nujaim, Zainal Abidin bin Ibrahim bin Nujaim. 1985. al-Asybah wa al-Naqza’ir.
Beirut: Dar al Kutb al-Alamiah.
Khalaf, Abdul Wahab. Ilm Ushul Fiqh. Damaskus: Dar el-Qalam, 1398 H/1978 M, cet.
XII
Madjid, Nurcholish. 1995. “Pergeseran Pengertian Sunnah ke Hadis: Implikasinya dalam
Pengembangan Syari’ah”, dalam Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah.
Jakarta: Paramadina.
Muhsin, Abdullah bin Abdul. 1980. Ushul al-Madzahib al-Imam Ahmad. TTP: TP.
Ridla, Muhammad Rasyid. TT. Tafsir al-Manar, Juz I. Bairut: Dar al-Fikr.
Sabiq, Ahmad bin Abdul Lathif Abu Yusuf, Majalah Al Furqon Edisi Khusus,
Romadhon/Syawal 1427 (Okt/Nov '06)
Syarifuddin, Amir. 1990. Ushul Fiqh. Jakarta: Logos.
Yamanni, Ahmad Zaki. 1388 H. Islamic Law and Contemporary Issues. Jeddah: The
Saudi Publishing House.

Al-‘Urf sebagai salah satu metode Ushul Fiqih 10


dalam meng-Istimbath setiap permasalahan dalam kehidupan