Anda di halaman 1dari 32

1

I.

PENDAHULUAN

Latar Belakang Kemajuan teknologi menyebabkan manusia dituntut untuk lebih cepat bergerak. Oleh karena itu, tidak heran jika jumlah kendaraan bermotor semakin banyak. Jumlah kendaraan yang semakin meningkat setiap tahunnya, menuntut ketersediaan bahan bakar yang besar pula. Selama ini, bahan bakar utama untuk kendaraan bermotor adalah bahan bakar fosil, seperti bensin. Bahan bakar ini memiliki kelemahan, yaitu tidak dapat diperbaharui, sehingga cepat atau lambat akan habis. Ketersediaan bahan bakar dari fosil yang terus menipis dan tidak dapat diperbaharui, tentunya tidak berimbang dengan jumlah kendaraan bermotor yang terus bertambah, akibatnya, harga bahan bakar fosil terus merayap naik. Solusi pengganti bahan bakar dari fosil terus dicari, salah satu alternatifnya adalah bioetanol. Bioetanol adalah salah satu jenis alkohol yang merupakan hasil fermentasi dari tumbuhan. Karena berasal dari tumbuhan, bahan bakar ini bisa dikategorikan sebagai bahan bakar ramah lingkungan (www.baristamobile.com, 2007). Tumbuhan yang populer dijadikan bioetanol adalah gula bit, jagung, tebu, dan berbagai biji-bijian. Pada dasarnya, semua bahan yang mengandung karbohidrat dapat diolah menjadi bioetanol, contohnya yaitu ubi kayu, walur, kelapasawit, tetes tebu, kacang koro, dan sebagainya (www.antara.co.id, 2008). Berdasarkan fakta di atas, dalam kegiatan ini digagas untuk mencoba memanfaatkan biji durian sebagai bahan baku pembuatan bioetanol. Gagasan ini diajukan karena diketahui biji durian mengandung karbohidrat dengan kadar yang cukup tinggi, yakni mencapai 43.6% (Brown, 1997). Jumlah ini jauh lebih tinggi dibandingkan

singkong yang hanya mengandung pati 33%. Dengan demikian, bertdasarkan

kadar karbohidrat yang dikandungnya, secara teoritis biji durian mempunyai potensi yang cukup tinggi untuk diolah menjadi bioetanol.

Di samping dukungan kadar karbohidtrat yang menjanjikan, gagasan penelitian ini juga didukung keberadaan durian sebagai tanaman yang sangat umum di berbagai daerah di Indonesia. Daerah utama penghasil durian di Indonesia adalah seluruh pelosok Jawa, Sumatra, dan Kalimantan (Astaman, 2007, Hatta, 2007). Pada umumnya, bagian buah durian yang sudah dimanfaatkan adalah salut biji, sementara biji masih merupakan hasil buangan yang seringkali menjadi masalah lingkungan, terutama pada musim buah. Dalam kaitan ini, keberhasilan

pemanfaatan biji durian sebagai bahan baku bioetanol akan merupakan kontribusi yang penting bukan hanya pada perolehan nilai tambah tapi juga mendukung pada penanggulangan masalah lingkungan.

Perumusan Masalah Pada dasarnya, bioetanol dapat dibuat dari bahan-bahan yang mengandung karbohidrat. Atas dasar ini, masalah yang akan dipelajari dalam penelitian ini adalah apakah biji durian dapat dimanfaatkan menjadi bahan baku pembuatan bioetanol dan bagaimana kadar etanol hasil fermentasi biji durian tersebut.

Tujuan Program Tujuan umum dari kegiatan ini adalah untuk mengkaji apakah biji durian layak dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan bioetanol. Terkait dengan tujuan umum tersebut, penelitian ini diajukan dengan tujuan khusus untuk mempelajari kandungan gula reduksi dan gula total pada pati biji durian.

Luaran yang Diharapkan Dari kegiatan ini akan didapatkan informasi ilmiah yang menunjukkan kelayakan biji durian untuk digunakan sebagai bahan baku bioetanol, sehingga dapat

diamanfaatkan sebagai landasan untuk penelitian lebih lanjut.

Kegunaan Program Secara umum, program ini memiliki kegunaan yang sangat signifikan dalam meningkatkan budaya meneliti di kalangan mahasiswa, sehingga diharapkan dapat memunculkan para peneliti yang mempunyai ketertarikan akan pengembangan sumber daya alam Indonesia yang sangat beragam dan melimpah. Secara

khsusus, dalam kaitannya dengan penelitian yang diusulkan, kegunaan utama yang diharapkan adalah terungkapnya potensi biji durian sebagai bahan baku bioetanol, sehingga membuka peluang untuk mendapatkan nilai tambah dari sektor pertanian.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Tanaman Durian Tanaman durian, pada awalnya tumbuh liar dan terpencar-pencar di hutan Malaysia, Sumatera dan Kalimantan. Kemudian menyebar ke seluruh wilayah Indonesia, Thailand, India dan Pakistan (Astaman, 2007). Di Indonesia, tanaman durian terdapat di seluruh pelosok Jawa dan Sumatra. Sedangkan di Kalimantan dan Irian Jaya umumnya hanya terdapat di hutan dan di sepanjang aliran sungai (Bappenas, 2000). Nama durian diambil dari ciri khas kulit buahnya yang keras dan berlekuk-lekuk tajam sehingga menyerupai duri. Tanaman durian termasuk famili Bombaceae, sebangsa pohon kapuk-kapukan. Yang lazim disebut durian adalah tumbuhan dari marga (genus) Durio (www.pusri.wordpress.com, 2007). Adapun klasifikasi tanaman durian secara lengkap adalah sebagai berikut : Kingdom Phylum Klas Ordo Famili Genus Spesies : Plantae : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Malvales : Bombaceae : Durio : Durio zibethinus

Budidaya durian pada umumnya tidaklah terlalu sulit, karena tanaman ini sangat cocok tumbuh di Indonesia yang memiliki iklim tropis. durian dapat tumbuh dengan baik di daerah dengan ketinggian kurang dari dari 800 m dpl, suhu ratarata antara 20-30 0C, curah hujan antara 3000-3500 mm/tahun, dan derajat

keasaman tanah (pH) 5-7 (Prabowo, 2007). Secara morfologi buah durian ini dibagi menjadi tiga bagian utama yaitu kulit, daging buah dan biji. Pada bagian kulit luar (perikarp) buah durian memiliki duri-

duri yang sangat tajam. Bagian yang dapat dimakan dari buah durian adalah sekitar 22%, yaitu bagian daging buahnya. Bagian lainnya adalah kulit luar (pericarp) dan biji (pongge) (Astaman, 2007). Bagian kulit biasanya dibuang, sedangkan bagian biji dapat diolah menjadi tepung, keripik atau dimakan setelah direbus. Biji durian bersifat recalcitrant, hanya dapat hidup dengan kadar air

tinggi (di atas 30% berat) dan tanpa perlakuan tertentu hanya sanggup bertahan seminggu sebelum akhirnya embrio mati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biji durian mengandung beragam senyawa kimia, seperti terlihat dalam data yang disajikan dalam Tabel 1 (Brown, 1997). Seperti terlihat dalam tabel, salah satu komponen utama dari biji durian adalah karbohidrat. Keberadaan karbohidrat sebagai omponen utama mencerminkan

bahwa pada hakekatnya biji durian dapat dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat atau dimanfaatkan sebagai bahan baku produk berbasis karbohidrat, yang salah satunya adalah bioetanol.

Tabel 1. Komposisi kimia biji durian (Brown, 1997)


Per 100 g biji segar tanpa kulit ari 51.5 g 2.6 g 43.6 g Per 100 g biji yang sudah dimasak 51.1 g 1.5 g 46.2 g 0.7 0.71 g 0.297 g 1.9 g 17 mg 68 mg 1.0 mg 3 mg 962 mg 250 g 0.05 mg 0.05 0.052 mg 0.03 0.032 mg 0.9 mg 0.89 0.9 mg 1.0 g 39 -88.8 mg 86.65 87 mg 0.6 0.64 mg

Komponen Uap air Protein Karbohidrat total Serat kasar Nitrogen Abu Kalsium Fosfor Besi Natrium Kalium Beta karoten Riboflavin Thiamin Niasin

Etanol Etanol adalah senyawa yang mudah terbakar, tidak berwarna, tidak berasa, dan memiliki bau yang khas. Etanol yang terbentuk dari hasil fermentasi karbohidrat disebut bioetanol. Etanol mudah larut dalam air dan merupakan pelarut yang baik. Rumus molekul etanol adalah C2H5OH dengan rumus empiris C2H6O. Karena sifatnya yang tidak beracun, bahan ini banyak dipakai sebagai pelarut dalam dunia farmasi dan industri makanan dan minuman. Etanol digunakan dalam beragam industri seperti sebagai bahan baku industri turunan alkohol, campuran untuk minuman keras seperti sake atau gin, bahan baku farmasi dan kosmetika, dan campuran bahan bakar kendaraan, peningkat oktan, dan bensin alkohol (gasohol). Etanol memiliki tiga jenis (grade) berdasarkan kadar alkoholnya. Jenis industrial jika kadar alkoholnya 90-96.5 persen. Jenis netral, jika berkadar 96-99,5 persen dan digunakan untuk minuman keras atau bahan baku farmasi. Jika kadarnya di atas 99,5-100 persen termasuk jenis bahan bakar (Nurdyastuti, 2005). Sampai saat ini, konsumsi etanol dunia sekitar 9% untuk industri, 16% untuk minuman, dan 75% untuk bahan bakar (Mackle, 2005). Brasil dan Amerika adalah produsen sekaligus konsumen terbesar bioetanol. Konsumsi bioetanol di Brazil mencapai 12 juta ton, sementara di Amerika Serikat mencapai 4,5 juta ton (www.researchandmarkets.com, 2007). Semakin meningkatnya kebutuhan dunia akan etanol, mengakibatkan perkembangan produksi etanol di berbagai negara seperti Swedia, Kanada, India, China, New Zealand, termasuk Indonesia. Di Indonesia, produksi etanol pada 2002 mencapai 174 ribu kiloliter.

(www.tempo.co.id, 2007) Fungsi etanol sebagai campuran bahan bakar kendaraan memiliki prospek bagus karena makin tingginya harga minyak mentah. Etanol berfungsi sebagai penambah volume BBM, peningkat angka oktan, dan sebagai sumber oksigen untuk pembakaran yang lebih bersih pengganti methyl tertiary-butyl ether (MTBE). Karena etanol mengandung 35 % oksigen, etanol dapat meningkatkan efisiensi pembakaran. Etanol juga ramah lingkungan karena emisi gas buangnya (karbon monoksida, nitrogen oksida, dan gas-gas rumah kaca yang menjadi

polutan) rendah. Selain itu, etanol juga mudah terurai dan aman karena tak mencemari air .

Pembuatan Etanol Dalam prakteknya, etanol dapat dibuat dengan cara sintesis dan dengan cara fermentasi. Melalui sintesa kimia melalui antara reaksi gas etilen dan uap air dengan asam sebagai katalis. Katalis yang dipakai misalnya asam fosfat atau asam sulfat. C2H4(g) + H2O(g) CH3CH2OH(l) Cara lainnya yaitu dengan proses fermentasi atau peragian bahan makanan yang mengandung pati atau karbohidrat, seperti beras, dan umbi. C6H12O6 2C2H5OH + 2CO2 Dari kedua metode yang telah disebutkan di atas, yang akan digunakan untuk proses pembuatan bioetanol adalah proses fermentasi. Proses pembuatan bioetanol dengan metode ini dibagi menjadi 3 tahap, yaitu gelatinasi, sakharifikasi, dan fermentasi (Nurdyastuti, 2005). Pada tahap gelatinasi, terjadi proses hidrolisis. Proses hidrolisis dibedakan menjadi dua, yaitu hidrolisis asam dan hidrolisis enzim. Pada metode ini akan dibahas hidrolisis enzim. Bahan baku dihancurkan dan dicampur air hingga menjadi bubur. Bubur pati tersebut kemudian dimasak atau dipanaskan selama 2 jam sehingga berbetuk gel. Proses gelatinasi tersebut dapat dilakuka dengan 2 cara, yaitu : Bubur pati dipanaskan sampai 130oC selama 30 menit, kemudian didinginkan sampai mencapai temperatur 95oC, yang diperkirakan memerlukan waktu sekitar 15 menit. Temperatur 95oC tersebut dipertahankan selama sekitar 1 jam, sehingga total waktu yang dibutuhkan mencapai 2 jam. Bubur pati ditambah enzim termamyl, lalu dipanaskan langsung sampai mencapai temperatur 130oC selama 2 jam.

Gelatinasi cara pertama, yaitu cara pemanasan bertahap mempunyai keuntungan, yaitu pada suhu 95oC aktifitas termamyl merupakan yang paling tinggi, sehingga mengakibatkan ragi cepat aktif. Pemanasan dengan suhu tinggi 130oC dimaksudkan untuk memecah granula pati, sehingga lebih mudah terjadi kontak dengan air enzim. Perlakuan pada suhu tinggi tersebut juga dapat berfungsi untuk sterilisasi bahan, sehingga bahan tersebut tidak mudah terkontaminasi. Gelatinasi cara kedua, yaitu cara pemansan langsung, memberikan hasil yang kurang baik, karena mengurangi aktifitas ragi. Hal tersebut disebabkab gelatinasi dengan enzim pada suhu 130oC akan terbentuk tri-fenil-furan yang mempunyai sifat racun terhadap ragi. Gelatinasi pada suhu tinggi tersebut juga akan berpengaruh terhadap penurunan aktifitas termamyl, karena aktifitas termamyl akan semakin menurun setelah melewati suhu 95oC. Selain itu, tingginya temperatur tersebut juga akan mengakibatkan half life dari termamyl semakin pendek, sebagai contoh pada temperatur 93oC, half life dari termamyl adalah 1500 menit, sedangkan pada temperatur 107oC, half life termamyl tersebut adalah 40 menit. Hasil gelatiansi dari ke dua cara tersebut didinginkan sampai mencapai 55oC, kemudian ditambah SAN untuk proses sakharifikasi dan selanjutnya difermentasikan dengan menggunakan ragi Saccharomyces ceraviseae. Proses fermentasi dimaksudkan untuk mengubah glukosa menjadi etanol dengan menggunakan ragi. Alkohol yang diperoleh dari proses fermentasi ini, biasanya alkohol dengan kadar 8-10 persen volum. Etanol yang dihasilkan dari proses fermentasi tersebut perlu ditingkatkan kualitasnya dengan cara membersihkannya dari zat-zat yang tidak diperlukan. Alkohol yang dihasilkan dari proses fermentasi biasanya berkadar rendah (sekitar 30-40%). Untuk mendapatkan alkohol dengan kadar yang lebih tinggi (95%) diperlukan proses pemurnian melalui penyulingan atau distilasi. Untuk memperoleh etanol dengan kemurnian yang lebih tinggi dari 99,5% atau yang umum disebut fuel based ethanol, tidak cukup dengan proses destilasi biasa, namun perlu dilakukan pemurnian lebih lanjut dengan cara destilasi azeotropik.

III.

METODE PENELITIAN

Waktu dan Tempat Pelaksanaan Kegiatan Penelitian dilakukan selama empat bulan di laboratorium polimer jurusan kimia dan laboratorium mikrobiologi FMIPA Universitas Lampung. Kegiatan dilakukan sesuai dengan jam kerja, yaitu dari pukul 08.00 - 15.00 WIB, dengan hari kerja dari senin-jumat.

Alat dan Bahan Alat yang diperlukan pada penelitian ini antara lain erlenmeyer 250 mL, labu ukur 100 mL, labu ukur 200 mL, labu didih 500 mL, gelas kimia 100 mL, pipet volum, termometer, neraca analitik, penangas air, shaker, refraktometer, dan pH meter. Bahan yang digunakan yaitu biji durian, larutan H2SO4 pekat, Pb Asetat, Na2CO3, larutan Luff Schoorl, KI 20% , H2SO4 26,5%, HCl 25%, NaOH 20%, urea, (NH4)2HPO4, air suling, Na2S2O3, amilum 1%, dan ragi.

Prosedur Kerja a. Pembuatan Pati Biji Durian Biji durian dibersihkan dari bagian selubung luar dan kulit arinya. Kemudian biji dipotong-potong kecil, dan dihancurkan menggunakan blender dengan bantuan air. Biji durian yang sudah hancur, selanjutnya diperas menggunakan kain flanel hingga ampas tidak mengeluarkan air perasan lagi. Suspensi yang dihasilkan kemudian didekantasi. Pati yang dihasilkan kemudian dikeringkan dengan cara pemanasan pada suhu 37oC.

10

b. Hidrolisis Biji Durian Pati biji durian yang telah tersedia ditimbang sebanyak 30 gram, kemudian ditambah dengan air suling sebanyak 97,5 mL dilanjutkan dengan penambahan 2,5 mL H2SO4 pekat. Setelah tercampur rata dilakukan proses hidrolisis selama 3 jam pada suhu 100oC. c. Fermentasi Pati durian yang telah dihidrolisis, ditambahkan dengan kapur dan diaduk sampai merata. Kemudian dilakukan pemanasan selama 15 menit sampai didapat pH 5. Pengaturan pH ini penting dilakukan agar proses fermentasi berlangsung optimal. Setelah didapat pH larutan 5, sampel ditambahkan dengan nutrien [urea, (NH4)2HPO4] kemudian diikuti dengan penambahan seeding. Setelah itu sampel dikocok selama 2 jam, dan didiamkan selama 48 jam. Setelah 2 hari, larutan pati laritan disaring untuk memisahkan etanol dan endapan protein. d. Destilasi Etanol Meski telah disaring, etanol hasil fermentasi tadi, masih bercampur air. Untuk memisahkannya, dilakukan destilasi atau penyulingan. Campuran air dan etanol dipanaskan pada suhu 78"C atau setara titik didih etanol. Pada suhu itu etanol lebih dulu menguap ketimbang air yang bertitik didih 100C. Uap etanol dialirkan melalui pipa yang terendam air sehingga terkondensasi dan kembali menjadi etanol cair. Hasil penyulingan berupa etanol dengan kadar yang lebih murni. e. Analisis gula reduksi (RS) Pada analisis ini, pati biji durian ditimbang 5 25 gr, dimasukkan ke dalam gelas piala 250 ml, dilarutkan dengan 100 ml aquades dan tambahkan Pb Asetat untuk penjernihan. Kemudian ditambahkan Na2CO3 untuk menghilangkan kelebihan Pb, selanjutnya ditambah aquades hingga tepat 250 ml. Dari campuran tadi, diambil 25 ml larutan, dimasukkan ke dalam Erlenmeyer, dan ditambah 25 ml larutan Luff Schoorl. Untuk blako tambahkan 25 ml larutan Luff-Schoorl dengan 25 ml aquades.

11

Erlenmeyer dihubungkan dengan pendingin balik dan didihkan selama 10 menit. Kemudian cepat-cepat didinginkan, ditambahkan 15 ml KI 20% dan 25 ml H2SO4 26,5%. Iodium yang dibebaskan dititrasi dengan larutan Na-2S2O3 0,1 N memakai indikator amilum 1% sebanyak 2-3 ml hingga timbul warna krem. RS dapat dihitung dengan rumus : (Titrasi Blanko Titrasi sample* ) x Fakt. Pengenceran RS (%) = --------------------------------------------------------------------- X 100 Mg Sampel Ket : * Masukkan dalam Tabel (dilihat pada Tabel 4) f. Analisis gula total (TS) Sampel pati biji durian ditimbang 5 25 gr, dimasukkan ke dalam gelas piala 250 ml, dilarutkan dengan 100 ml aquades dan tambahkan Pb Asetat untuk penjernihan. Kemudian ditambahkan Na2CO3 untuk menghilangkan kelebihan Pb, lalu ditambah aquades hingga tepat 250 ml. Diambil 50 ml larutan yang telah dicampurkan sebelumnya dan tambahkan 20 ml HCl 25% dipanaskan di dalam penangas air dengan suhu 67-70oC selama 10 menit. Setelah dingin netralkan dengan larutan NaOH 40% dan encerkan hingga volume 250 ml, kemudian disaring. Larutan hasil penyaringan diambil 25 ml, dimasukkan ke dalam Erlenmeyer dan ditambah 25 ml larutan Luff Schoorl. Dibuat perlakuan blanko yaitu 25 ml larutan Luff-Schoorl ditambah 25 ml aquades. Erlenmeyer dihubungkan dengan pendingin balik dan didihkan selama 10 menit. Kemudian cepat-cepat didinginkan, ditambahkan 15 ml KI 20% dan 25 ml H2SO4 26,5%. Iodium yang dibebaskan dititrasi dengan larutan Na2S2O3 0,1 N memakai indikator pati 1% sebanyak 2-3 tetes hingga timbul warna krem susu. TS dapat dihitung dengan rumus : (Titrasi Blanko Titrasi sample* ) x Fakt. Pengenceran TS (%) = --------------------------------------------------------------------- X 100 Mg Sampel

12

Ket : * Masukkan dalam Tabel 4.

e. Analisis kadar alkohol Etanol murni 90% diencerkan hingga konsentrasi 25, 20, 15, 10, dan 5%. Kelima larutan etanol tersebut diukur indeks biasnya dengan refraktometer. Untuk blanko, diukur indeks bias air. Dari data indeks bias larutan etanol dengan konsentrasi 0, 5, 10, 15, 20, dan 25%, diperoleh persamaan regresi linear dan kurva standar etanol. Etanol hasil fermentasi biji durian yang telah didestilasi, diukur indeks biasnya. Hasil pengukuran indeks bias etanol disubstistusi ke persamaan regresi linear dan diplotkan ke kurva standar etanol. Dari persamaan regresi linear dan kurva standar etanol, akan diperoleh konsentrasi etanol hasil fermentasi biji durian.

13

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pembuatan Pati Biji Durian

Pada penelitian ini, dibuat dua sampel pati biji durian dengan perlakuan yang berbeda. Sampel 1 merupakan biji durian yang telah dibuang kulit arinya, sedangkan sampel 2 adalah biji durian dengan kulit ari. Kedua jenis sampel dihancurkan dengan blender, diperas, lalu dipanaskan dalam oven pada suhu 37oC.

Untuk sampel biji durian tanpa kulit ari, pati biji durian sebelum dipanakan berwarna krem, namun setelah dipanaskan, warnanya berubah menjadi agak kecoklatan. Begitu pula dengan sampel biji durian dengan kulit ari, yang awalnya berwarna kecoklatan (akibat dari kulit ari yang telah dihancurkan), warnanya berubah menjadi lebih coklat setelah pemanasan. Hal ini terjadi akibat proses pencoklatan pada bahan-bahan yang mengandung karbohidrat.

Pencoklatan/browning pada bahan yang mengandung karbohidrat dapat terjadi secara enzimatik dan non enzimatik. Pencoklatan enzimatik banyak terjadi pada bahan-bahan, (umumnya buah) yang mengandung substrat senyawa fenolik. Sedangkan pencoklatan secara non enzimatik umumnya ada tiga macam, yaitu karamelisasi, reaksi Mailard, dan pencoklatan akibat vitamin C. Dari kedua jenis pencoklatan tersebut, diperkirakan pencoklatan pada pati biji durian yang telah dipanaskan, terjadi secara non enzimatik, yaitu akibat reaksi Mailard. Reaksi Mailard merupakan reaksi antara karbohidrat, khususnya gula pereduksi dengan gugus amina primer. Gugus amina primer terdapat pada bahan awal sebagai asam amino.

14

Hidrolisis Pati Biji Durian Bila pati dihidrolisis dengan katalis asam akan terjadi pemutusan ikatan C-O-Cmenghasilkan dekstrin, isomaltosa, maltosa dan glukosa. Hidrolisis dapat dilakukan dengan menggunakan asam pekat (concentrated acid hydrolysis) dan asam encer (dilute acid hydrolysis). Perbandingan anatara hidrolisis dengan asam kuat dan hidrolisis dengan asam lemah dapat dilihat pada Tabel 2.
Asam sulfat pekat Konsentrasi asam Waktu reaksi hidrolisis Suhu hidrolisis Netralisasi dan pemisahan Green technology > 3% waktunya singkat < 70 C Sulit Tidak
o

Asam sulfat encer < 3% waktu reaksinya lama antara (150 200)oC Mudah Ya

Tabel 2. Profil Hidrolisis Polisakarida Menggunakan Asam Sulfat (Sumber : Choi and Kim, 1994)

Dari data perbandingan hidrolisis di atas, maka pada penelitian ini digunakan asam sulfat encer dengan perbandingan asam dan air 1 : 39, dan perbandingan sampel biji durian dengan larutan asam 1 : 20. Sampel biji durian yang digunakan adalah sebanyak 30 gram. Hidrolisis biji durian tanpa kulit ari menghasilkan larutan berwarna coklat muda, sedangkan hasil hidrolisis biji durian dengan kulit ari menghasilkan larutan dengan warna merah.

Fermentasi

Hasil hidrolisis pati biji durian difermentasi dengan menggunakan ragi dari jenis Saccharomyces cereviseae. Sebagai nutrien, digunakan urea dan (NH4)2HPO4. Fungsi nutrien adalah sebagai sumber nitrogen bagi mikroorganisme dalam proses fermentasi.

Selama proses fermentasi tersebut, glukosa akan terurai menjadi etanol dan karbondioksida melalui mekanisme reaksi yang dikenal dengan jalur Embden-

15

Meyerhof-Parnas. Mekanismenya dapat dilihat pada Gambar 1. Reaksi glikolisis tersebut adalah sebagai berikut : C6H12O6 2C2H5OH + 2CO2 + Energi H = -586 J

Persamaan reaksi di atas menunjukkan tiap 1 mol glukosa akan diolah menjadi 2 mol etanol. Glukosa pada reaksi ini dapat diasumsikan sebagai gula reduksi pada biji durian, sehingga, dari hasil analisis gula reduksi, nantinya akan diperoleh massa gula reduksi pada biji durian, dan stoikiometri reaksi dapat dihitung.
CH2OH O H H OH HO H H OH OH HO H H ATP ADP CH2O P H H OH H OH OH H OH H H HO OH O H CH2O P O CH2OH

D-Glukosa

Glukosa 6-fosfat

Fruktosa 6-fosfat ATP

ADP CH2O P CHOH H CHO Gliseraldehid 3-fosfat OH H Fruktosa 1,6-difosfat CH2O P H O CH2O P HO OH

CH2OH C=O CH2O P Dihidroksiaseton fosfat HAD P HADH CH2O P CH2O P CHOH CHOH ATP COO 3-fosfogliserat ADP COO P 1,3-difosfogliserat

CH2OH CHO P COO 2-fosfogliserat

CH2 CO P COO

ADP

ATP

CH3 C=O COO Piruvat CO2

Fosfoenol piruvat

CH3 H C H Etanol OH NAD+ NADH

CH3 C=O H

Asetaldehid

Gambar 1. Mekanisme pembentukan etanol (Embden-Meyerhof- Parnas pathway dalam Judoamidjojo, 1992)

16

Pemisahan Etanol dari Air

Pemisahan campuran etanol dan air hasil fermentasi dilakukan dengan proses destilasi. Prinsip destilasi adalah pemisahan campuran berdasarkan perbedaan titik didih. Pada penelitian ini, proses destilasi tidak dilakukan hingga campuran air dan etanol pada labu bundar habis. Destilasi dihentikan ketika etanol yang dihasilkan dari proses destilasi sudah mencapai volume 5 mL. Hal ini dilakukan karena, yang akan diuji adalah indeks bias etanol untuk menentukan kadar etanol yang dihasilkan, sehingga tidak diperlukan volume etanol yang terlalu besar.

Analisis Gula Reduksi Analisis gula reduksi pada penelitian ini dilakukan dengan metode Luff-Schoorl. Data analisis dapat dilihat pada Tabel 3.
SAMPEL Tanpa Kulit Dengan Kulit BERAT (mg) 20224,6 20858,7 FP 25 25 TITRASI (ml) B S 14,85 14,85 13,50 11,00 B-S 1,35 3,85 ANGKA TABEL* BULAT DELTA 2,40 7,20 2,40 2,50 JUMLH DELTA 0,84 2,13 JMLH TOTAL 3,24 9,33 RS (%) 0,4005 1,1176

Tabel 3. Data analisis gula reduksi

Nilai RS dapat dihitung dengan persamaan berikut : (Titrasi Blanko Titrasi sample* ) x Fakt. Pengenceran RS (%) = --------------------------------------------------------------------- X 100 Mg Sampel Contoh perhitungan RS untuk biji durian tanpa kulit ari :

RS (%) RS (%) RS (%) RS (%) RS (%)

(14,85 13,50) 25 100 20224 ,6 (1,35 *) 25 100 20224 ,6 3,24 25 100 20224 ,6 81 100 20224 ,6 0,4005

17

Ket : * Masukkan data ke Tabel 4.


Volume Na2S2O3 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Glukosa, fruktosa, gula invert mg C6H12O6 2,4 2,4 4,8 2,4 7,2 2,5 9,7 2,5 12,2 2,5 14,7 2,5 17,2 2,6 19,8 2,6 22,4 2,6 25,0 2,6 27,6 2,7 30,3 2,7 Volume Na2S2O3 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Glukosa, fruktosa, gula invert mg C6H12O6 33,0 2,7 35,7 2,8 38,5 2,8 41,3 2,9 44,2 2,9 47,3 2,9 50,0 3,0 53,0 3,0 56,0 3,1 59,1 3,1 62,2 -

Tabel 4. Tabel penentuan glukosa, fruktosa dan gula invert dalam suatu bahan dengan metoda Luff Schoorl.

Hasil analisis gula reduksi (RS) pada penelitian ini menunjukkan bahwa kadar RS biji durian tanpa kulit ari adalah 0,4005 % dan kadar RS biji durian dengan kulit ari 1,1176 %. Dari hasil analisis ini dapat dihitung massa gula reduksi dari tiap 30 gram sampel biji durian. Massa gula reduksi pada biji durian tanpa kulit adalah 120,15 mg, sedangkan massa gula reduksi pada biji durian dengan kulit yaitu 335,28 mg. Gula reduksi inilah yang akan mengalami proses fermentasi membentuk etanol.

Dari data di atas, dapat dihitung jumlah mol gula reduksi, hingga diperoleh persamaan reaksi untuk biji durian tanpa kulit, yaitu : 0,6675 mmol C6H12O6 1,335 C2H5OH + 1,335 CO2 + Energi Dari persamaan reaksi di atas, maka volume etanol yang akan dihasilkan dari proses fermentasi 30 gram biji durian tanpa kulit pada keadaaan standar (STP) dapat ditentukan melalui persamaan :
V n 22,4

(1)

Sehingga didapat volume etanol hasil fermentasi biji durian tanpa kulit adalah 29,904 mL. Sedangkan untuk fermentasi biji durian dengan kulit, volume etanol

18

yang akan dihasilkan pada keadaan standar adalah 83,4475 mL, dengan persamaan reaksi: 1,8627 mmol C6H12O6 3,7253 mmol C2H5OH + 3,7253 CO2 + Energi

Analisis Gula Total

Sama halnya dengan analisis gula reduksi, pada analisis gula total ini, metode yang digunakan adalah metode Luff-Schoorl. Data hasil analisis dapat dilihat pada Tabel 5.
BERAT (mg) 20224,6 20858,7 TITRASI (ml) B S 14,85 11,90 14,85 10,80 ANGKA TABEL* BULAT DELTA 4,80 2,40 9,70 2,50 JUMLH DELTA 2,28 0,13 JMLH TOTAL 7,08 9,83

SAMPEL Tanpa Kulit Dengan Kulit

FP 50 50

B-S 2,95 4,05

TS (%) 1,7503 2,3551

Tabel 5. Data analisis gula total

Perhitungan TS : (Titrasi Blanko Titrasi sample* ) x Fakt. Pengenceran TS (%) = --------------------------------------------------------------------- X 100 Mg Sampel Contoh perhitungan TS untuk biji durian tanpa kulit ari :
TS (%) TS (%) TS (%) TS (%) (14,85 11,90 ) 50 100 20224 ,6 (2,95 *) 50 100 20224 ,6 7,08 50 100 20224 ,6 1,7503

Ket : * Masukkan data ke Tabel 4.

Hasil analisis gula total (TS) untuk sampel biji durian tanpa kulit dan biji durian dengan kulit, masing-masing adalah 1,7503 % dan 2,3351 %. Sehingga diperoleh

19

massa gula total pada sampel biji durian tanpa kulit yaitu 525,09 mg dan massa gula total pada sampel biji durian dengan kulit 700,53 mg.

Analisis Kadar Etanol

Kadar etanol dihitung dengan mengukur indeks bias etanol yang dihasilkan lalu hasil tersebut dimasukkan ke dalam persamaan linear yang didapat dari kurva standar etanol. Kurva standar (Gambar 2) didapat dari data indeks bias larutan etanol dengan konsentrasi 5, 10, 15, 20, dan 25 % (Tabel 6).

1,3460 1,3440 1,3420 1,3400 y = 0,0006x + 1,3284 R2 = 0,9977

indeks bias

1,3380 1,3360 1,3340 1,3320 1,3300 1,3280 1,3260 0 5 10 15 kadar etanol(%) 20 25 30

Gambar 2. Kurva Standar Etanol

Konsentrasi etanol (%) Indeks Bias

0 1,3285

5 1,3315

10 1,3341

15 1,3379

20 1,3403

25 1,3436

Tabel 6. Data indeks bias etanol konsentrasi 0,5,10,15,20, dan 25%

Persamaan garis : y = 0,0006x + 1,3284 Keterangan: y = nilai indeks bias x = kadar etanol Pada bioetanol hasil fermentasi biji durian tanpa kulit ari, diperoleh nilai indeks bias 1,3353. Maka kadar etanol :

20

y 1,3353 0,0069 x

0,0006 x 1,3284 0,0006 x 1,3284 0,0006 x 11,5%

Untuk fermentasi biji durian utuh, diperoleh nilai indeks bias 1,3357. Maka kadar etanol :
y 1,3357 0,0073 x 0,0006 x 1,3284 0,0006 x 1,3284 0,0006 x 12,17%

Dari hasil ini dapat dilihat bahwa kadar etanol hasil fermentasi biji durian dengan kulit lebih tinggi daripada etanol hasil fermentasi bici durian dengan kulit.

21

V.
Kesimpulan

KESIMPULAN DAN SARAN

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan : Biji durian dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan bioetanol. Biji durian dengan kulit memiliki kandungan gula total yang lebih tinggi (2,3551 %) daripada biji durian tanpa kulit ari (1,7503 %). Kandungan gula reduksi pada biji durian dengan kulit (1,1176 %) lebih tinggi daripada kandungan gula reduksi pada biji durian tanpa kulit (0,4005 %). Kadar etanol hasil fermentasi biji durian tanpa kulit dan biji durian dengan kulit, masing-masing adalah 11,5 % dan 12,17 %.

Saran

Untuk penelitian lebih lanjut, kami mengajukan bebrapa saran, yaitu : Penelitian ini hanya menitikberatkan pada fermentasi biji durian membentuk etanol, tanpa mengamati pengaruh berbagai variabel yang mempengaruhi proses fermentasi, misalnya fermentor yang digunakan, sehingga untuk penelitian selanjutnya disarankan untuk mempelajari pengaruh fermentor yang digunakan. Penelitian ini dilakukan dengan memanfaatkan Sumber Daya Alam berupa biji durian yang biasanya hanya menjadi limbah, karenanya perlu dikaji lebih lanjut pemanfaatan berbagai Sumber Daya Alam di Indonesia yang dapat dimanfaatkan menjadi barang yang lebih bermanfaat.

22

DAFTAR PUSTAKA

Amin, Amiza Mat, et al. 2004. Extraction, Purification and Characterization of Durian (Durio zibethinus) seed gum. Terengganu : Kolej Universiti Sains dan Teknologi Malaysia. Anonim. 2004. Buletin Teknopro Hortikultura. Jakarta : Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura Departemen Pertanian. Anonim. http://www.antara.co.id/ Anonim. http://www.baristamobile.com/ Anonim. http://www.pusri.wordpress.com/ Anonim. http://www.researchandmarkets.com/reports/ Anonim. http://www.sentrapolimer.com/ Anonim. http://tempo.co.id/ Armenio, Roman B. Jr. 2006. Durian Production. Davao City : Department of Agriculture. Astaman, Made. 2007. Durian Bukan Buah Terlarang. Wordpress Bappenas. 2000. Durian (Bombaceae sp.). Sistem Informasi Manajemen Pembangunan di Pedesaan, Bappenas. Brown, Michael J. 1997. Durio - A Bibliographic Review. Hal. 37-40 Camacho, F., Tello, P.G., Juradoe, dan Robles, A. 1996. Microcrystalline Hydrolysis with Concentrated Sulphuric Acid. J Chem Tech. Bioethanol. 67, 350-356. Choi, J.H dan Kim, S. B. 1994. Effect of Ultrasound on Sulfuric Acyd-Catalised Hydrolisis of Starch. Korean Journal of Chemistry. 11(3), 178-184. Department for Environment Food and Rural Affairs. 2003. The Facts on Biodiesel and Bioethanol. UK : Defra.

23

Hatta, Violet. 2007. Manfaat Kulit Durian Selezat Buahnya. Wordpress Ihwan, M. Khairul. 2007. Pengolahan Limbah Sebagai Alternatif Penggunaan Energi Terbaharukan. Yogyakarta : UGM. Judoamidjojo, M. 1992. Teknologi Fermentasi. Jakarta : Rajawali Press Jufri, M. dan Dewi, R. 2006. Studi Kemampuan Pati Biji Durian Sebagai Bahan Pengikat Dalam Tablet Ketoprofen Secara Granulasi Basah. Majalah Ilmu Kefaramasian. Hal. 78-86 Kruglianskas, Ilan. 2006. Bioethanol : Climate Benefits with Responsible Production. Brasil : Agriculture and Environment Programme WWF. Mackle, Tim. 2005. Bioethanol as a Transport Fuel. New Zealand : Fonterra Cooperative Group Ltd. Nurdyastuti. Indah. 2005. Teknologi Proses Produksi Bioetanol. Bandung : Institut Teknologi Bandung Poedjiadi, Anna. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta : UI Press Prabowo, Abror Yudi. 2007. Budidaya Durian. Teknis Budidaya Agrokomplek. Ruckle L. 2005. Hop Acid as Natural Anti Bacterials in Ethanol Fermentation. Nuremberg : International Media. Sakti, Tini Silvia. 2009. Pengaruh Perlakuan Ultrasonifikasi Terhadap Hasil Hidrolisis Pati dan Onggok serta Fermentasinya dengan Saccharomyces cerevisiae. Bandarlampung : Universitas Lampung Sriburi, Pensiri and Chumpookum, Orada. 2001. Chemical Composition and Properties of Starch from Fruit Seeds. Thailand : Chiang Mai University. Young Ji, J. and Heui Dong P. 2002. Antisense-medited Inhibition of Acid Trehalase (ATH) gene Expression Promotes Ethanol Fermentation and Tolerance in Saccharomyces Cerevisae. Daegu : Kyung Pook National University.

24

25

Lampiran 1. Dokumentasi Penelitian

Preparasi sampel pati biji durian

Buah durian

Biji durian yang telah dikupas

Biji durian yang telah dipotongpotong

Biji durian yang telah diblender dan dikeringkan

Hidrolisis dan fermentasi pati biji durian

Biji durian terhidrolisis

Biji durian yang telah dikocok dengan shaker

26

Destilasi etanol hasil fermentasi biji durian Analisis Gula Reduksi (RS) dan Gula Total (TS)

Sampel (biji durian tanpa kulit ari) yang telah dilarutkan

Sampel biji durian utuh yang telah dilarutkan dengan aquades

Sampel biji durian tanpa kulit yang telah ditambah berbagai pereaksi dan siap dititrasi

Sampel biji durian utuh yang telah ditambah berbagai pereaksi dan siap dititrasi

27

Larutan pati setelah proses titrasi

28

Lampiran 2. Justifikasi Anggaran

Justifikasi Anggaran No. 1. Jenis Pengeluaran Bahan Habis Pakai NaOH HCl H2SO4 (NH4)2HPO4 Urea Natrium Tiosulfat Tissu Aquades Biji Durian Kalium Oksalat Kalium Iodat Cuptic sulfat Garam Rochelle Natrium Karbonat anhidrat Natrium fospat tri basic Zeolit Amilum Kertas Lakmus Aluminium Foil Plastik Kedap Udara Kertas label Sabun cair Kain lap Pipet tetes Jumlah Lain-lain Transportasi dan Perjalanan Dokumentasi (baterai dan cetak foto) Pembuatan laporan ( print dan rental ) Fotokopi dan penjilidan Alat tulis kantor Jumlah Total Aggaran Keseluruhan Volume 250 gram 0,5 L 0,5 L 50 gram 50 gram 100 gram 10 ktk 50 L 50 kg 100 gram 50 gram 100 gram 500 gram 100 gram 500 gram 100 gram 50 gram 1 pak 5 kotak 3 gulung 1 pak 5 botol 10 buah 20 buah Nilai Satuan (Rp) 380.000 / kg 380.000 / L 581.000 / L 560.000 / kg 610.000 / kg 520.000 / kg 15.000 / ktk 9.000 / L 4000 / kg 665.000 / 100 gram 1.504.000 / 100 gram 1.820.000 / kg 875.000 / kg 610.000 / kg 635.000 / kg 2.000.000 / kg 4000 / gram 250.000 / pak 25000 / kotak 15000 / gulung 10.000 / pak 15.000 / botol 9.000 / buah 500 / buah 350.000 200.000 300.000 100.000 50.000 Jumlah (Rp) 95.000 190.000 290.500 28.000 30.500 52.000 150.000 450.000 200.000 665.000 752.000 182.000 437.500 61.000 317.500 200.000 200.000 250.000 125.000 45.000 10.000 75.000 90.000 10.000 4.906.000 350.000 200.000 300.000 100.000 50.000 1.000.000 5.906.000

2.

29

Lampiran 3. Riwayat Hidup Anggota Pelaksana dan Dosen Pembimbing

A. Nama dan Biodata Anggota Pelaksana 1. Ketua Pelaksana Nama : Triana Widya Sari

Tempat Tanggal Lahir : Panjang, 06-05-1988 Agama Pekerjaan E-mail Alamat Rumah Pendidikan SDN 1 Sawah Lama SLTPN 2 Bandarlampung SMAN 2 Bandarlampung Kimia FMIPA Unila Pengalaman Organisasi Anggota Klub Jurnalistik (Deppel) SMAN 2 Bandarlampung. Anggota TKS Rohis SMAN 2 Unit Humas Bidang Pengembangan. Sekretaris Biro Keputrian Rois FMIPA Unila. Anggota Bidang Sains dan Penalaran Ilmu Kimia Himaki FMIPA Unila. 2. Anggota Pelaksana Nama : Kartika Fandika : 1994 - 2000 : 2000 - 2003 : 2003 - 2006 : 2006 - sekarang : Islam : Mahasiswa : tria_na2@plasa.com : Jl. P. Bacan 18, Sukabumi, Bandarlampung.

Tempat Tanggal Lahir : Kotaagung, 03-05-1988 Agama Pekerjaan Alamat Rumah Pendidikan SDN 1 Pasar Madang : 1994 - 2000 : Islam : Mahasiswa : Jl. Harapan 344, Kotaagung, Tanggamus

30

SLTPN 1 Kotaagung SMA Al-Kautsar Bandarlampung Kimia FMIPA Unila Pengalaman Organisasi Anggota KIR SMA Al-Kautsar.

: 2000 - 2003 : 2003 - 2006 : 2006 - sekarang

Anggota TKS Rohis SMA Al-Kautsar Bidang Pengembangan. Ketua Biro Keputrian Rois FMIPA Unila. Anggota Bidang Sains dan Penalaran Ilmu Kimia Himaki FMIPA Unila. 3. Anggota Pelaksana Nama : Septhian Try Sulistyo

Tempat Tanggal Lahir : Branti, 27 September 1989 Agama Pekerjaan Alamat Rumah Pendidikan SDN 2 Branti Raya SMPN 1 Natar SMKN 2 Bandarlampung Kimia FMIPA Unila Pengalaman Organisasi Anggota Bidang Sosial Kemasyarakatan Himaki FMIPA Unila. : 1995 - 2001 : 2001 - 2004 : 2004 - 2007 : 2007 - sekarang : Islam : Mahasiswa : Jl. Abdul Gani, Branti Raya, Lampung Selatan

B. Nama Dan Biodata Dosen Pendamping 1. Identitas Nama Lengkap dan Gelar Jenis Kelamin NIP Pangkat/Golongan : Wasinton Simanjuntak, Ph. D. : Laki-laki : 131804069 : Penata /III-d

31

Jurusan/Fakultas Perguruan Tinggi Alamat Kantor

: Kimia/MIPA : Universitas Lampung : Jl. Prof. Dr. Soemantri Brojonegoro No. 1 Bandarlampung 35145

2. Pendidikan
Tahun Lulus 1986 1994 2004

No 1. 2. 3.

Tempat Pendidikan Universitas Sumatera Utara, (S1) The University of Wyoming, (S2) Curtin University of Technology, (S3)

Kota / Negara Medan/Indonesia Wyoming/USA Australia

Bidang Ilmu Kimia Kimia Fisik Kimia Fisik

3. Penelitian Koagulasi Limbah Cair Industri Tapioka Menggunakam Aluminium Sulfat, Jurusan Kimia, FMIPA Unila (2003). Koagulasi Limbah Cair Industri Tahu Menggunakan Aluminium Sulfat, Jurusan Kimia, FMIPA Unila (2003). Koagulasi Limbah Cair Industri Kecap Secara Elektrokimia, Jurusan Kimia, FMIPA Unila (2003). Koagulasi Limbah Cair Industri Nata de Coco Secara Elektrokimia, Jurusan Kimia, FMIPA Unila (2003). Koagulasi Limbah Cair Industri Karet Secara Elektrokimia, Jurusan Kimia, FMIPA Unila (2003). Uji Pendahuluan Pemanfaatan Limbah Padat Tapioka (Onggok) Sebagai Bahan Baku Pembuatan Biogas Dengan Menggunakan Lumpur Sawah Sebagai Pemicu, Jurusan Kimia, FMIPA Unila. Investigasi Pengaruh Variabel-Variabel Elektrokimia Terhadap Elektrokoagulasi Senyawa Organik dalam Air, Hibah Penelitian Dasar, Kementerian RISTEK (2004).

32

Pengaruh Potensial Terhadap Selektivitas Elektrokoagulasu Limbah Cair Industri Tahu (2005). Fungsionalisasi Silika Sekam Padi Sebagai Penukar Ion dan Promotor Adhesi, Hibah Penelitian Fundamental, DIKTI (2006). Kajian Dasar Metode Elektreokimia Sebagai Metode Pengawetan Makanan Segar, Hibah Penelitian Dasar, Kementerian RISTEK (2007). Pembuatan Polimer Cerdas Berbasis Selulosa Onggok, Hibah Penelitian Bersaing, DIKTI (2007).

4. Publikasi Joll, C.A., Heitz, A., Simanjuntak, W., Alexander, R., and Kagi, R. I. (1999). Characterisation of Natural Organic Matter in Some Western Australia Drinking Water Sources and The Relationship of NOM to Organic-Related Bulk Water Quality Parameters. In: Proceedings of the American Water Works Association 1999 Annual Conference and Exposition, Chicago Illinois, USA., 20-24 June. Joll, C.A., Simanjuntak, W., Heitz, A., Vuong, S., and Kagi, R. I. (2000). Application of Solid Phase Microextraction to The Analysis of Trihalomethanes in Drinking Water. In: Proceedings of Envirotech 2000, Watertech, Sidney, Australia, 9-12 April. Joll, C.A., Simanjuntak, W., Heitz, A., Kristiana, I., and Kagi, R. I. (2002). Catchment Contributions to Disinfection By-products in a Surface Water Source, ENVIRO2002, Melbourne, Australia, 8-12 April. Pandiangan, K. D., dan Simanuntak W., Penanganan Zat Warna dalam Air Secara Elektrokimia, (2004). Prosiding Seminar Nasional Kimia, Bandarlampung, 6-7 Oktober. Pandiangan, K. D., dan Simanuntak W., (2004). Pengaruh Potensial dan pH Elektrokoagulasi Terhadap Penurunan Kekeruhan Limbah Cair Industri Tapioka, Prosiding Seminar dan Rapat Tahunan (SEMIRATA) ke-18, Universitas Jambi.