Anda di halaman 1dari 9

OBAT ANTIPSIKOTIK

PENDAHULUAN
Sejarah tentang obat anti psikotik di mulai sejak 50 tahun yang lalu. Pada tahun 1953
(Delay dan Denicker) penemuan bahwa chlorpromazine eIektiI dalam mengobati gejala
utama dari psikotik, seperti delusi, halusinasi dan disorganisasi pikir, merupakan awal dari
perkembangan obat antipsikotik.
(3)

Sejak awal perkembangannya hingga kini, antipsikotik menjadi pilihan utama dalam
pengobatan skizoIrenia dan pengetahuan tentang susunan kimia dan Iarmakologi dari obat ini
banyak menjelaskan bagaimana perubahan kimia yang terjadi pada skizoIrenia.
(7)
Obat psikotik merupakan obat psikotropik atau obat yang bekerja pada atau
mempengaruhi Iungsi psikik, kelakuan atau pengalaman. Obat ini merupakan neuroleptik
yang memiliki ciri: (1) bereIek antipsikosis, yaitu berguna mengatasi agresivitas,
hiperaktivitas dan labilitas emosional pada pasien psikosis. EIek ini tidak berhubungan
langsung dengan eIek sedatiI; (2) dosis besar tidak menimbulkan koma yang dalam ataupun
anestesia; (3) dapat menimbulkan gejala ekstrapiramidal yang reversibel atau ireversibel; dan
(4) tidak ada kecenderungan untuk menimbulkan ketergantungan psikik dan Iisik.
(2)


KLASIFIKASI OBAT ANTIPSIKOTIK
(5)
1. ntipsikotik Tipikal
a. Phenotiazine
hlorpromazine (Largactil)
Thioridazine (Melleril)
TriIluoperazine (Stelazine)
luphenazine (natensol)
b. Butyrophenone
aloperidol (aldol, Lodomer)
c. Dyphenylbutylpiperidine
Pimozide (Orap)
2. ntipsikotik tipikal
a. Dibenzodiazepine
lozapine (lozaril)
Olanzapine (Zyprexa)

b. Benzixasole
#isperidone (#isperdal)
c. Benzamide
Sulpride (Dogmatil)

NEUROKIMIAWI SKIZOFRENIA DAN MEKANISME KER1A ANTIPSIKOTIK
Dopamin
Observasi pada penggunaan awal chlorpromazine pada terapi klinis diiringi dengan
gejala parkinsonism-like yang menunjukkan adanya hubungan dopamin dalam kerja obat
antipsikotik. Bukti selanjutnya yang memperkuat hipotesis dopamin adalah amIetamin, yang
akan meningkatkan pelepasan dopamin yang kemudian menginduksi psikosis paranoid dan
memperparah skizoIrenia, serta pemberian disulIiram yang menghambat kerja enzim
dopamin hidroksilase dan memperparah skizoIrenia.
(7)

Lima jalur sistem dopaminergik telah diketahui pada otak. (1) Paling berhubungan
dengan sikap (behaviour) adalah jalur mesolimbic-mesocortical, berasal dari badan sel dekat
substansia nigra menuju sistem limbik dan neocortex, diperkirakan obat antipsikotik memberi
eIek klinis pada jalur ini; (2) jalur nigrostriatal, berasal dari substansia nigra menuju corpus
striatum, berhubungan dengan kontrol motorik dan koordinasi pergerakan involunter.
Degenerasi sel pada substansia nigra mengakibatkan penyakit parkinson idiopatik, dan blok
pada reseptor dopamin di daerah ini memunculkan eIek samping sindrom ekstra piramidal
oleh obat antipsikosis; (3) sistem tuberoinfundibular, menghubungkan nukleus arcuate dan
neuron periventrikuler menuju hipotalamus dan pituitari posterior. Dopamin yang dilepaskan
neuron ini secara Iisiologis menghambat sekresi prolaktin, blokade pada reseptor ini oleh
antipsikotik menghilangkan inhibisi dari pelepasan prolaktin dan mengakibatkan
prolaktinemia; (4) jalur medullary-periventricular, berisi neuron dari nukleus motorik
nervus vagus yang proyeksinya masih belum jelas. Sistem ini mungkin berhubungan dengan
kebiasaan makan; (5) jalur incertohypothalamic, membentuk hubungan antara medial zona
incerta menuju hipotalamus dan amigdala. Pada tikus jaras ini mengatur Iase antisipasi dan
kebiasaan kopulasi.
(4)(7)
Pada saat ini telah ditemukan lima jenis reseptor yang terbagi menjadi dua grup yaitu,
D
1
-like dan D
2
-like grup. #eseptor D
1
dan D
5
memiliki kemiripan yang keduanya
menstimulasi pembentukan cMP dengan mengaktivasi protein G
s
-coupled yang
menstimulasi adenyl cyclase. Sedangkan reseptor D
2
sampai D
4
bekerja mengaktivasi protein

G
i
-coupled (inhibitorik), sehingga menghambat pembentukkan cMP. #eseptor D
2
diketahui
lebih banyak berperan dari resptor D
3
dan D
4
.
(4)(7)

Serotonin
ipotesis serotonin pada skizoIrenia semakin berkembang dimulai dengan penemuan
Wooly dan Shaw tahun 1954, yaitu pengaktiIan halusinogen LSD via serotonin. alusinogen
seperti LSD merupakan agonis pada reseptor 5-T
2
dan eIek tingkah lakunya menunjukkan
gejala positiI pada skizoIrenia.
(1)(7)

Obat antipsikotik menempel pada beragam reseptor termasuk D
2
reseptor. Obat
antipsikotik tipikal seperti haloperidol merupakan antagonis D
2
yang kuat, memblokade kerja
dopaminergik pada striatum, sehingga memiliki eIek samping ekstrapiramidal yang tinggi.
Sedangkan pada antipsikotik atipikal tidak menimbulkan eIek samping ekstrapiramidal
(clozapine) dan menunjukkan aIinitas yang kuat pada beberapa subtipe reseptor 5-T,
diantaranya reseptor5-T
1
, 5-T
2
dan 5-T
2c
.
(1)

Kemampuan obat antipsikotik untuk mengurangi gejala positiI pada skizoIrenia
berkorelasi dengan kemampuannya melekat pada reseptor D
2
. Bukti terbaru menunjukkan
bahwa eIek ini bekerja pada neuron mesostriatal. da banyak bukti klinis yang menunjukkan
bahwa antipsikotik atipikal lebih lemah dalam memblokade reseptor dopamin. kan tetapi,
studi in vivo preklinis menunjukkan obat antipsikotik atipikal memberi eIek yang mendalam
pada Iisiologi neuron dopaminergik.
(1)

Pemberian antipsikotik atipikal menunjukkan peningkatan secara selektiI aktivitas
dopamin pada mesocortical. Sejak diasosiasikannya penurunan Iungsi preIrontal cortex
dengan munculnya gejala negatiI dan deIisit kognitiI pada skizoIrenia oleh Weinberger,
sebuah dalil mengenai hipoIungsi dari dopamin pada jalur mesocortical berhubungan dengan
skizoIrenia mulai dikenal. Jadi eIektiIitas dari antipsikotik atipikal diperkirakan berhubungan
dengan kemampuannya meningkatkan baseline dopamine pada preIrontal cortex. Beberapa
bukti ditemukan bahwa eIek ini merupakan eIek tidak langsung dan dimediasi oleh reseptor
5-T yang mengatur Iungsi sel dopaminergik. Dalam hal ini, para peneliti memIokuskan
pada reseptor 5-T
2
, 5-T
2
dan 5-T
1
.
(1)

Antipsikotik Tipikal.
Potensi antipsikotik tipikal untuk menurunkan gejala psikotik adalah sangat
berhubungan dengan aIinitas obat tersebut dengan reseptor D
2
. Mekanisme kerja terapeutik
obat antipsikotik adalah dihipotesiskan melalui antagonisme reseptor D
2
. Jadi mencegah

dopamin endogen mengaktivasi reseptor. Penelitian yang menggunakan teknik PET pada
pasien yang menggunakan antipsikotik tipikal dengan dosis yang berlainan telah
menghasilkan data yang menyatakan bahwa penempatan kira-kira 60 persen reseptor D
2
di
kaudatus-putamen adalah berhubungan dengan repon klinis dan penempatan lebih dari 70
persen reseptor D
2
adalah berhubungan dengan perkembangan gejala ekstrapiramidal.
(6)
hlorpromazine. EIek Iarmakologik meliputi eIek saraI pusat, sistem otonom dan sistem
endokrin. EIek ini terjadi karena antipsikotik menghambat berbagai reseptor dopamin, u-
adrenergik, muskarinik dan histamin
1
. PZ memiliki aIinitas yang tinggi terhadap reseptor
dopamin dan u-adrenergik.
(2)

Haloperidol. aloperidol memperlihatkan antipsikosis yang kuat dan eIektiI untuk Iase
mania penyakit manik depresiI dan skizoIrenia. aloperidol selain menghambat eIek
dopamin, juga meningkatkan turn over ratenya.
(2)

Antipsikotik Atipikal
Risperidone. Merupakan golongan benzixasole. #isperidone pertama melewati metabolisme
hepatik menjadi 9-hydroxyrisperidone, metabolit yang memiliki aktivitas antipsikotik. Level
puncak pada plasma muncul sekitar 1 jam dengan pemberian parenteral dan 3 jam untuk
metabolit. #isperidone memiliki bioaktivitas 70 persen. #isperidone eIektiI untuk pemberian
dosis tunggal. #isperidone merupakan antagonis dari reseptor serotonin 5-T
2
, dopamine
D
2
, adrenergik dan histamine
1
. #isperidone memiliki aIinitas yang rendah terhadap
reseptor muscarinic cholinergic. Walaupun memiliki potensi yang sama sebagai antagonis
reseptor D
2
dengan haloperidol, risperidone lebih sedikit memiliki eIek samping ekstra
piramidal.
(6)
Olanzapine. Sekitar 85 persen olanzapine terserap dari saluran pencernaan, dan sekitar 40
persen diinaktivasi oleh metabolisme hepatik. Konsentrasi puncak dicapai setelah 5 jam, dan
memiliki waktu paruh rata-rata 31 jam (21-54 jam). Pemberian dengan dosis tunggal. Selain
sebagai antagonis 5-T
2
danD
2
, olanzapine juga merupakan antagonis reseptor D
4
, 5-T
1
,
muscarinic dan
1
.
(6)
lozapine. Merupakan dibenzodiazepine. epat diserap, dan kadar puncak pada plasma
dicapai setelah 2 jam. Keadaan tetap akan dicapai kurang dari 1 minggu jika dosis pemberian
2 kali sehari diberikan. Memiliki kadar paruh sekitar 12 jam. lozapine memiliki dua
metabolit utama, pertama N-dimethyl clozapine, kemungkinan memiliki beberapa aktivitas
Iarmakologik. lozapine merupakan antagonis reseptor 5-T
2
, D
1
, D
3
, D
4
, dan adrenergik.
lozapine berpotensi rendah sebagai antagonis reseptor D
2
, dimana dosis eIektiI clozapine

hanya menempati 40-50 persen dari reseptor striatal D


2
. Perbedaan dalam aIinitas terhadap
reseptor D
2
ini mungkin menjawab mengapa clozapine tidak menimbulkan eIek samping
ekstra piramidal.
(6)

INDIKASI TERAPEUTIK
ndikasi utama Ienotiazin adalah skizoIrenia gangguan psikosis yang tersering ditemukan.
Obat ini sampai sekarang masih tetap digunakan sebagai antipsikosis, karena ketersediaannya
dan harganya murah.
(2)
ndikasi utama haloperidol ialah untuk psikosis. Selain itu juga merupakan obat pilihan untuk
mengobati sindrom illes de la Tourette, suatu kelainan neurologik yang ditandai dengan
kejang otot hebat, menyeringai (grimacing) dan explosive utterances oI Ioul expletives
(koprolalia) .
(2)
#isperidone sangat baik untuk penanganan skoziIrenia dan bentuk lain dari psikotik.
#isperidone memiliki keunggulan dari obat antipsikotik tipikal dalam mengatasi gejala
negatiI , kognitiI dan eIek samping ekstrapiramidal, tetapi risperidone juga memiliki eIek
samping prolaktinemia. #isperidone juga dapat menimbulkan eIek samping ekstra piramidal
jika diberikan dengan dosis tinggi, karena itu risperidone diberikan dengan dosis serendah
mungkin.
(3)

Olanzapine sangat diterima sebagai obat anti psikotik karena pemberian dosis tunggal, eIektiI
terhadap gejala negatiI, peningkatan Iungsi kognitiI dan rendahnya eIek samping ekstra
piramidal. Peningkatan berat badan secara signiIikan dapat terjadi pada beberapa pasien.
(3)

lozapine adalah obat yang paling eIektiI untuk pasien yang gagal pada terapi standar,
clozapine menunjukkan keunggulan pada pasien dengan tardive dyskinesia berat. lozapine
menekan dyskinesia, tetapi gerakan abnormal ini kembali jika pemberian dihentikan. Namun
dalam sedikit keadaan clozapine dapat menyebabkan tardive dyskinesia. lozapine juga
dapat digunakan pada pasien psikotik dengan eIek samping ekstrapiramidal akibat obat lain,
pengobatan mania resisten, psikotik-depresi berat, penyakit parkinson idiopatik, penyakit
untington dan pasien yang mencoba bunuh diri dengan skizoIrenia atau gangguan
skizoaIektiI.
(6)


EFEK SAMPING
Neuroleptik Tipikal
Reaksi Ekstra Piramidal muncul pada awal pengobatan dengan obat tipikal dengan
munculnya sindrom parkinson, akathisia dan reaksi distonia akut. Parkinsonism dapat diobati,

jika perlu dengan menggunakan obat antiparkinson. kathisia dan distonia juga merespon
dengan pengobatan di atas, tetapi dapat juga diberikan sedatiI antihistamin dengan eIek
antikolinergik seperti diphenhydramine yang dapat diberikan parenteral atau oral.
(4)

Tardive dyskinesia sesuai dengan namanya, gejala ini muncul lambat dengan timbulnya
gerakan choreoathetoid yang abnormal. ni eIek yang paling tidak diinginkan dari obat
antipsikotik. Tardive dyskinesia biasanya reversibel dan ringan. ara terbaik untuk
menghindari eIek samping ini dengan menggunakan antipsikotik atipikal.
(4)
Neuroleptic malignant syndrome adalah eIek samping yang dapat membahayakan nyawa
namun eIek samping ini jarang terjadi. EIek ini biasa muncul pada pengobatan dengan
menggunakan dosis yang tinggi. Penghentian pengobatan segera harus dilakukan. Kondisi ini
ditandai dengan kekakuan otot, kerusakan serat otot yg menyebabkan peningkatan kreatin
kinase plasma, demam, instabilitas autonom, perubahan tingkat kesadaran dan kadang
kematian. al ini ditangani dengan penghentian segala jenis antipsikotik segera, hipotermia
eksternal, menjaga tekanan darah dan pemberian dopamine agonis yang bekerja langsung
seperti bromocriptine atau pergolide dan sodium dantrolene, yang menghambat pelepasan ion
kalsium intraseluler.
(3)
ntipsikotik tipikal juga memiliki eIek samping lain seperti peningkatan berat badan, seizure
(pimozide), sedasi, hipotensi, peningkatan enzim hati, retinitis pigmentosa (thioridazine) dan
eIek antikolinergik (mesoridazine dan thioridazine). Seluruh antipsikotik tipikal
meningkatkan level prolaktin dalam serum.
(3)












Gambar 1.






KESIMPULAN

Obat antipsikotik merupakan obat psikotropik. Obat ini bekerja dengan siIat antagonis pada
beberapa reseptor, seperti reseptor D
2
, 5-T
2
, 5-T
2
dan 5-T
1
. Obat antipsikotik yang
kini digunakan dibagi menjadi dua golongan yaitu antipsikotik tipikal dan antipsikotik
atipikal. Obat antipsikotik tipikal terutama bekerja sebagai antagonis dari reseptor D
2
karena
aIinitasnya yang tinggi pada reseptor ini. Penghambatan pada reseptor D
2
memberikan eIek
terhalangnya jalur dopaminergik pada otak terutama pada jalur mesocortical, nigrostriatal dan
tuberoinIundibular yang menghasilkan eIek terapeutik dan eIek samping dari penggunaan
obat antipsikotik tipikal. Sedangkan obat antipsikotik atipikal memiliki aIinitas yang kuat
terhadap reseptor 5-T dan D
2
(walaupun aIinitas terhadap reseptor D
2
lebih rendah
dibandingkan antipsikotik tipikal sedangkan clozapine memiliki aIinitas yang sangat kecil
terhadap reseptor D
2
). ntipsikotik atipikal baik digunakan dalam pengobatan skizoIrenia
dengan gejala negatiI karena kemampuannya meningkatkan secara selektiI aktivitas dopamin
di jalur mesocortical. Selain itu, antipsikotik atipikal juga menunjukkan eIek samping yang
lebih sedikit dibandingkan antipsikotik tipikal

















DAFTAR PUSTAKA

1. lex K.D; Pehek E.. !armacologic mecanisms of serotonergic regulation of
dopamine neurotransmission. Pharmacol Ther. 2007
2. Ganiswarna G.S. !sikotropik, In. Farmakologi & Terapi, Edisi 5. Jakarta: Gaya Baru;
2007
3. Gelder M.G; bor J.J; ndreasen N. ew Oxford Textbook of !syciatry, OxIord
University Press; 2000
4. Katzung B.G. asic and Clinical !armacology, 10
th
Ed. McGraw ill; 2006
5. Maslim #. !enggunaan Klinis Obat !sikotropik. Edisi 3. Jakarta; 2007
6. Sadock B.J; Sadock V.. $ynopsis of !syciatry. 10
th
Ed. Lippincott Williams &
Wilkins; 2007
7. SteIan M; Travis M; Murray #.M. n tlas of $ci:oprenia. The Parthenon
Publishing Group; 2002