Anda di halaman 1dari 5

PEMICU 3 BLOK 17

1.

Klasifikasi Ellis dan Davis kelas VII trauma yang menyebabkan berpindahnya gigi atau displacement gigi (intrusi, ekstrusi, labial, palatal, bukal, distal, mesial, rotasi) tanpa disertai oleh adanya fraktur mahkota atau akar gigi gigi 11 intrusi, gigi 12 dan 53 luksasi ke palatal Intrusi suatu keadaan yang ditandai dengan masuknya gigi (sebagian atau seluruhnya) yang mengalami trauma ke dalam soket gigi sering terjadi pada gigi sulung atas, karena gigi insisivus yang baru erupsi sering menerima tekanan yang kuat akibat trauma terjadi perubahan tempat bagian palatal dan atas dari mahkota Luksasi perubahan tempat dari gigi pada tulang alveolar Pemeriksaan darurat (langsung paa daerah yang mengalami cedera) Pertolongan pertama dilakukan untuk semua luka pada wajah dan mulut. Jaringan lunak harus dirawat dengan baik. Pembersihan luka dengan baik merupakan tolak ukur pertolongan pertama. Pembersihan dan irigasi yang perlahan dengan saline akan membantu mengurangi jumlah jaringan yang mati dan resiko adanya keadan anaerobik. Antiseptik permukaan juga digunakan untuk mengurangi jumlah bakteri pada kulit atau mukosa daerah yang ada jejas/luka

2.

3. Perawatan pendahuluan pada kasus: Anamnesis secara lengkap dengan menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan riwayat terjadinya trauma dilakukan dengan memberikan pertanyaan kapan terjadinya trauma, bagaimana trauma bisa terjadi, apakah ada luka di bagian tubuh lainnya, perawatan apa yang telah dilakukan, apakah pernah terjadi trauma gigi pada masa lalu, dan imunisasi apa saja yang telah diberikan pada anak. Pemeriksaan luka ekstra oral dilakukan dengan cara palpasi pada bagian- bagian wajah sekitar. Palpasi dilakukan pada alveolus dan gigi, tes mobilitas, reaksi terhadap perkusi, transiluminasi, tes

vitalitas baik konvensional maupun menggunakan vitalitester, gigigigi yang bergeser diperiksa dan dicatat, apakah terjadi maloklusi akibat trauma, apakah terdapat pulpa yang terbuka, perubahan warna, maupun kegoyangan. Gigi yang mengalami trauma akan memberikan reaksi yang sangat sensitif terhadap tes vitalitas, oleh karena itu tes vitalitas hendaknya dilakukan beberapa kali dengan waktu yang berbeda-beda. Imunisasi Tetanus. Salah satu tindakan pencegahan yang dapat dilakukan pada anak yang mengalami trauma yaitu melakukan imunisasi tetanus. Pencegahan tetanus dilakukan dengan membersihkan luka sebaik-baiknya, menghilangkan benda asing, dan eksisi jaringan nekrotik. Dokter gigi bertanggungjawab untuk memutuskan apakah pencegahan tetanus dipelrukan bagi pasien anak-anak yang mengalami avulsi gigi, kerusakan jaringan lunak yang parah, luka karena objek yang terkontaminasi tanah atau luka berlubang. Riwayat imunisasi sebaiknya didapatkan dari orang tua penderita. Pada umumnya anak-anak telah mendapatkan proteksi yang memadai dari imunisasi aktif berupa serangkaian injeksi tetanus toksoid. Apabila imunisasi aktif belum didapatkan, maka dokter gigi sebaiknya segera menghubungi dokter keluarga untuk perlindungan ini. Imunisasi dengan antitoksin tetanus dapat diberikan, tetapi imunisasi pasif ini bukan tanpa bahaya karena dapat menimbulkan anafilaktik syok. Pemberian antibiotik diperlukan hanya sebagai profilaksis bila terdapat luka pada jaringan lunak sekitar. Apabila luka telah dibersihkan dengan benar maka pemberian antibiotik harus dipertimbangkan kembali. 4. Pemeriksaan penunjang Foto periapikal dari berbagai sudut dan panoramic Luksasi dapat menyebabkan fraktur mahkota atau akar. Fraktur mahkota biasanya jelas, tetapi fraktur akar mungkin tersembunyi atau tidak terlihat jelas. Itulah sebabnya radiograf selalu penting untuk kasus trauma/fraktur. 5. Rencana terapi gigi 11

Reposisi Reposisi adalah mengembalikan gigi tersebut ke posisi semula. Caranya dengan menarik gigi tersebut sehingga kembali ke posisi semula (gigi tetangga dapat digunakan sebagai patokan). Gigi ditarik dengan menggunakan jari tangan dan bantuan anastesi. Sebagai fiksasi dianjurkan menggunakan akrilik atau zink oxid cement/GIC yang diletakkan sepanjang permukaan gigi selama 6 8 minggu. Ligature wire tidak dianjurkan untuk digunakan sebagai fiksasi, karena dapat menyebabkan ankilosis. Pencabutan Keputusan apakah gigi dicabut atau dibiarkan erupsi sangat sering dijumpai di klinik dan ini berdasarkan terjadinya cedera serta keadaan anak. Untuk cedera yang lebih parah, melibatkan tulang alveolar dan gingival, sering diperlukan pencabutan. Jika mahkota terlihat dan kerusakan tulang alveolar kecil, biarkan gigi reerupsi. Re-erupsi adalah membiarkan gigi tersebut mengadakan erupsi kembali. Diperlukan waktu 1 6 bulan dan harus dikontrol setiap minggu selama 3 4 minggu. Cara ini didukung oleh teori yang menyatakan bahwa gigi sulung dapat menuntun gigi tetap, sehingga mempertahankan gigi sulung adalah lebih baik daripada mencabutnya. Gigi yang re-erupsi kemungkinan dapat menjadi non-vital, tetapi keadaan ini dapat ditanggulangi dengan perawatan endodonti. Rencana terapi gigi 12 dan 53 Tujuan perawatan untuk mengoptimalkan penyembuhan ligamen periodontal dan suplai neurovaskular Perawatan dilakukan dengan mereposisi pasif atau aktif dan splint, gunanya untuk mempercepat pemulihan, kecuali injuri berat dan gigi hampir lepas. Lakukan anestesi lokal. Palpasi daerah lekukan sulkus dan pastikan letak apeks. Lakukan penekanan dengan perlahan dan tekan daerah insisal agar gigi dapat bergerak ke arah asal melalui fenestrasi di dalam soket. Reposisi gigi kembali ke posisi asal melalui arah tekan yang

berlawanan. Lakukan reposisi tulang yang fraktur menggunakan tekanan jari. (5). Lakukan foto rontgen untuk memastikan posisi yang benar. Stabilisasi gigi dengan menggunakan splint. Pertahankan splint minimal 3-4 minggu. Pembuatan foto rontgen setelah kira-kira 3 minggu bila tidak menunjukkan keretakan pada tulang marginal maka splint dipertahankan sampai 3-4 minggu berikutnya. 6. Tindakan pasca trauma :
-

Diet lunak selama gigi dilakukan splinting splinting dilakukan tidak boleh lebih dari 4 minggu bisa menyebabkan ankylosis

Bebaskan oklusi pada gigi yang bergeser Ikuti perkembangan gigi minimal 1 tahun secara klinis observasi dan kontrol setiap 3 bulan sekali Periksa keadaan pulpa, warna, mobiliti dan penilaian perubahan secara radiograf dalam bentuk kamar pulpa dan perkembangan akar ada rasa sakit atau tidak, ketika dilakukan test thermal ada respon atau tidak. Diagnosa gigi 11, 21, 22 fraktur (1/3) mahkota dengan pulpa terbuka Diagnosa gigi 23 fraktur akar horizontal garis fraktur 1/3 apikal akar gigi Diagnosa 31, 41 mobility derajat dua

7.

8.

Rencana perawatan gigi 11, 21, 22 perlu dilakukan perawatan endo dengan restorasi akhir porcelain post core crown Rencana perawatan gigi 23 perawatan endo? mobility lakukan fiksasi dengan adhesive splinting Rencana perawatan 31, 41 splinting

9. Penatalaksanaan

Gigi 11,21,22 fraktur 1/3 servikal mahkota pulpa terbuka Pulpektomi

Ekstirpasi pulpa vital seluruhnya dilakukan pada gigi yang telah berkembang penuh dengan mahkota klinis yang sangat mengalami fraktur, yang menyebabkan terbukanya pulpa. Untuk merestorasi gigi tersebut, diperlukan pembuatan mahkota pasak inti. Restorasi ini memerlukan penyelesaian perawatan endodontic sebelum preparasi mahkota pasak. Restorasi yang dapat dilakukan, karena gigi anterior, menggunakan full crown porcelain. Setelah dilakukan pulpektomi, pada gigi 23, 31, 41 dilakukan splinting Teknik memasang splint: (1). Gunakan kawat ortodontik dengan panjang kira-kira 0,032 inci dan letakkan kira-kira pada sepertiga tengah permukaan bukal gigi yang mengalami trauma dan beberapa gigi sebelah kanan dan kirinya. (2). Aplikasikan asam fosfat selama 15-20 detik pada permukaan bukal gigi yang akan dilakukan splinting. (3). Bilas dengan menggunakan air hangat. (4). Aplikasikan selapis tipis resin komposit light curing. (5). Tempelkan kawat pada gigi yang tidak mengalami trauma selanjutnya pada gigi yang mengalami trauma dan pastikan bahwa posisinya sudah dalam keadaan baik. (6). Pasien diminta untuk berkumur sehari 2 kali dengan menggunakan larutan klorheksidin 0,1%.