Anda di halaman 1dari 19

Laboratorium Farmakognosi-Fitokimia

Fakultas Farmasi
Universitas Hasanuddin

LAPORAN LENGKAP INDIVIDU
FRAKSINASI


OIeh:
Lusi Capriny Tendean
N111 09 267
KeIompok V
GoIongan Rabu
Asisten : Ratna Putri Dewi P.


Makassar
2011
A I
PENDAHULUAN

I.1. Latar eIakang
ndonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah dan memberikan
manfaat yang besar bagi manusia. Sumber daya alam ini termasuk biota
laut. ndonesia mempunyai sekitar 7000 jenis sponge yang telah
dipublikasikan dan diperkirakan memiliki sekitar 15.000 jenis sponge.(1)
Sponge dapat memproduksi racun dan senyawa lain yang
digunakan untuk mengusir predator, kompetisi dengan hewan sesil lain
dan untuk berkomunikasi dan melidungi diri dari infeksi. Lebih dari 10 %
spons memiliki aktifitas sitotoksik yang dapat yang berpotensial untuk
bahan obat-obatan. Sponge laut memiliki potensi bioaktif yang sangat
besar. Selama 50 tahun terakhir telah banyak kandungan bioaktif yang
telah ditemukan.(2)
Oleh karena itu, dibutuhkan untuk diadakan penelitian mengenai sponge
dan mengetahui kandungan senyawa yang terdapat di dalamnya, serta
menguji bioaktifitasnya.

I.2 Maksud dan Tujuan Percobaa
I.2.1 Maksud Percobaan
Mengetahui dan memahami cara fraksinasi sampel Amphimedon
sp setelah dilakukan kromatografi kolom.
I.2.2 Tujuan Percobaan
Mengetahui dan memahami cara fraksinasi sampel Amphimedon
sp guna mendapatkan kelompok ekstrak yang sama berdasarkan tingkat
kepolarannya.
I.3 Prinsip Percobaan
Melakukan proses fraksinasi dengan menggunakan teknik
kromatografi lapis tipis.

A II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Teori Umum
Fraksinasi merupakan prosedur pemisahan yang bertujuan
memisahkan golongan utama kandungan yang satu dari kandungan yang
lain. Senyawa yang bersifat polar akan masuk ke pelarut polar dan
senyawa non polar akan masuk ke pelarut non polar.(3)
Adapun metode Fraksinasi dilakukan terhadap ekstrak yang telah
dihidrolisis, dengan menggunakan 2 jenis pelarut, yaitu n-heksan dan etil
asetat. Ekstrak terhidrolisis ditempatkan dalam corong pisah, ke dalamnya
ditambahkan pelarut n-heksan dengan perbandingan 1 : 1, kemudian
dikocok secara perlahan hingga tercampur, kemudian didiamkan hingga
tepat memisah menjadi 2 fase yang terdiri dari fase n-heksan dan fase air.
Fase n-heksan dipisahkan dan fase air difraksinasi kembali hingga tiga
kali. Fase n-heksan yang telah terkumpul dipekatkan menggunakan alat
rotary evaporator dan penangas air. Fase air difraksinasi kembali dengan
menggunakan pelarut etil asetat dengan perbandingan 1 : 1, proses
fraksinasi ini dilakukan tiga kali hingga diperoleh fase etil asetat dan fase
air, yang masing-masing dipekatkan dengan alat rotary evaporator dan
penangas air.(4)
Selain itu Fraksinasi Minyak atsiri dapat dilakukan dengan
Kromatografi Kolom Fraksinasi dilakukan setelah penentuan eluen terbaik
dengan menggunakan KLT. Setelah diperoleh eluen terbaik, selanjutnya
dilakukan Fraksinasi dengan kromatografi kolom pemisahan minyak atsiri
secara bertahap. Ekstrak minyak atsiri, difraksinasi dengan kromatografi
kolom dengan menggunakan metode elusi gradien (heksana-kloroform-
metanol). Setiap eluat ditampung dalam tabung reaksi dengan volume
masing-masing 3 mL dan diuji dengan kromatografi lapis tipis
menggunakan eluen terbaik. (5)
Metode fraksinasi yang umum digunakan dalam penelitian adalah
menggunakan kromatografi kolom. Kolom diisi dengan penyerap padat
sebagai fase tetap dan dialiri dengan pelarut sebagai fase gerak. Cuplikan
yang akan difraksi dimasukan ke dalam kolom dan dialiri fase gerak yang
akan membentuk jalur-jalur serapan dari senyawa. Bila pelarut dibiarkan
mengalir melalui kolom, ia akan mengangkut senyawa-senyawa yang
merupakan komponen-komponen dari campuran. Pemisahan komponen
suatu campuran tergantung pada tingkat kepolaran dari fase gerak dan
senyawa yang terkandung dalam campuran tersebut. Selain kromatografi
kolom konfensional, kromatografi kolom yang digunakan dalam fraksinasi
adalah kromatografi kolom cair vakum (KCV). Metode ini merupakan
modifikasi dari kromatografi kolom gravitasi dengan menambahkan vakum
(penarik udara) pada bawah kolom. Dapat digunakan untuk fraksinasi atau
memurnikan fraksi.(3)
Fraksinasi dapat dilakukan dengan menentukan terlebih dahulu
senyawa yang ingin kita dapatkan sehingga kita dapat memilih senyawa
dengan tingkat kepolaran seperti apa yang kita inginkan, misalnya
flavonoid. Dengan demikian yang terpilih untuk diamati selanjutnya adalah
ektrak metanol. (6)
Cara ini dapat dilakukan dengan, senyawa non polar dihilangkan
dengan ekstraksi menggunakan pelarut n-heksana. Ekstrak metanol yang
diperoleh difraksinasi dengan Kromatografi Lapis Tipis Kresgel G 60 F 254
dengan eluen fase atas n-butanol : asam asetat : air, 9:2:6(v/v). Jika
pemisahan belum optimal dibuat variasi perbandingan volumenya.
Fraksinasi dilakukan dengan KLT preparatif dan setiap fraksi yang
diperoleh dilarutkan dalam metanol.(6)
Fraksinasi dilakukan untuk mendapatkan isolat (ekstrak) murni.
Pada tahapan ini dilakukan optimasi eluen yang akan digunakan untuk
mendapatkan isolat murni dengan menggunakan plat KLT kresgel G 60 F
254 3 x 10 cm.. Eluen yang digunakan pada pengembangan adalah eluen
terbaik yang telah diperoleh dari hasil identifikasi pendahuluan. Elusi
dilakukan setelah chamber KLT penuh dengan uap eluen, didiamkan
sekitar 5 10 menit. Untuk mendeteksi bercak dilakukan dengan
menggunakan lampu UV pada panjang gelombang 254 nm dan 366 nm.
Bercak ditandai dengan menggunakan pensil(6)
II.2 Uraian SampeI
Klasifikasi Sponge(5):
Kingdom : Animalia
Filum : Porifera
Kelas : Demospongiae
Ordo : Haplosclerida
Family : niphatidae
Species : Amphimedon sp
Deskripsi(6):
Morfologi : kelas demospongia sering berbentuk massif dan
berwana cerah dengan system saluran yang rumit
yang dihubungkan dengan ruang-ruang yang
bundar yang bercambuk kecil. Betuk umumnya
pendek dan bercabang
Habitat : Lebih banyak hidup di daerah yang cukup terekspos,
di area intertidal yang tidak berlumpur
Lokasi : Pulau Barang Lompo, Sulawesi Selatan
Kandungan Kimia:
Amphimedon sp. mengandung senyawa Pyrinodemin yang bersifat
sitotoksik.(7) Amphilactams yang berhasil diisolasi dari spons
Amphimedon sp. sangat efektif digunakan untuk mengatasi parasit
nematoda. Sayang sekali amphilactams tidak mampu mengatasi
telur nematoda.(8)
II.3 Uraian ahan
1. Air suling (4)
Nama resmi : Aqua destillata
Nama lain : Aquades
RM/BM : H
2
O/18,02
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak
berasa
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
2. Etil Asetat (4)
Nama resmi : Etil asetat
Nama lain : Etil asetat
RM : CH
3
CO.O.C
2
H
5

Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, bau khas
Kelarutan : Larut dalam 15 bagian air, dapat bercampur
dengan etanol 95% dan eter
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
3. Metanol (4)
Nama resmi : Metanol
Nama lain : Metanol
RM : CH
3
OH
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, bau khas
Kelarutan : Dapat bercampur dengan air
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
4. Heksan (4)
Nama resmi : Heksan
Nama lain : Heksan
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, bau khas, stabil
sangat mudah terbakar
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
5. H
2
SO
4
(4)
Nama resmi : Acidum Sulfuricum
Nama lain : Asam Sulfat
Pemerian : Cairan kental seperti minyak, korosif, tidak
berwarna, jika ditambahkan ke dalam air
meimbulkan panas.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat


A III
METODE KERJA

III.1 AIat dan ahan
III.1.1 AIat
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu gunting, botol coklat,
chamber, gegep, pipa kapiler, pensil, vial, pipet skala, pipet tetes.
III.1.2 ahan
Adapun bahan-bahan yang digunakan pada percobaan kali ini yaitu
air, heksan, etil asetat, metanol, sampel spons Amphimedon sp, H
2
SO
4
10%, pelat KLT, silika gel GF 254.

III.2 Cara Kerja
Hal pertama yang dilakukan dalam praktikum ini adalah alat dan
bahan disiapkan, kemudian jenuhkan chamber dengan eluen heksan : etil
asetat (1:3), kemidian dilakukan penotolan sampel hasil kromatografi
kolom, selanjutnya dielusi hasil penotolan, diamati pada UV 254, UV 366
dan di semprotkan H
2
SO
4
10%, terakhir dikelompokkan noda berdasarkan
hasil pengamatan menjadi beberapa fraksi berdasarkan tingkat kepolaran
atau nilai Rf dan warna yang dihasilkan.



A IV
HASIL PENGAMATAN

IV.1 Data Pengamatan
Fraksi Vial ke-
1 1-12
2 13-15
3 16-19
4 20-21
5 22-24
6 25-26
7 27-29
8 30-35
9 36-39
10 40-41
11 42-43
12 44-47






IV.2 Gambar
H
2
SO
4
10% UV 366

UV 254


IV.3 Perhitungan
Fraksi 4
Rf =
7,5 cm
9 cm
= 0,83

Fraksi 6
Rf =
7,2 cm
9 cm
= 0,8
Fraksi 7
- Noda 1
Rf =
4,5 cm
9 cm
= 0,5
- Noda 2
Rf =
6 cm
9 cm
= 0,67
- Noda 3
Rf =
7 cm
9 cm
= 0,78
Fraksi 8
-Noda 1
Rf =
3 cm
9 cm
= 0,33
-Noda 2
Rf =
3,7 cm
9 cm
=0,41
-Noda 3
Rf =
4,5 cm
9 cm
= 0,5
Noda 4
Rf =
6,7 cm
9 cm
= 0,74
Fraksi 9
Noda 1
Rf =
2,2 cm
9 cm
= 0,24
Noda 2
Rf =
3 cm
9 cm
= 0,33
Noda 3
Rf =
4,3 cm
9 cm
=0,48
Noda 4
Rf =
5,5 cm
9 cm
= 0,61

















A V
PEMAHASAN

Pada praktikum ini dilakukan proses fraksinasi pada sampel
Amphimedon sp.. Berdasarkan hasil fraksinasi pada hasil kromatografi
kolom, maka didapatkan 12 fraksi. Pengelompokan ini didasarkan pada
panjang nilai Rf dan reaksi warna yang terbentuk. Dari 47 ekstrak hasil
kromatografi kolom tersebut ditotol dan dielusi menggunakan eluen
heksan : etil asetat dengan perbandingan 1 : 3. Berdasarkan nilai Rf
masing-masing noda yang muncul, maka noda yang memiliki nilai Rf
berdekatan digabungkan menjadi satu fraksi, dari proses ini akhirnya
diperoleh 12 fraksi yang dilanjutkan ke proses identifikasi. Vial-vial yang
dianggap memiliki fraksi yang sama, kemudian digabungkan menjadi satu
vial.
Setelah itu, 12 fraksi tersebut ditotolkan kembali pada lempeng KLT
dan dilihat pada lampu UV 254 nm, 366 nm, dan semprot dengan H
2
SO
4
.
Kemudian diperoleh adalah 2 fraksi yang memiliki nilai Rf sama yaitu
fraksi 7 dan fraksi 8. Karena pada lempeng KLT, ketika disinari dengan
lampu UV 366 nm terlihat sebuah noda yang berpendar dan mempunyai
nilai Rf yang hampir sama. Selain noda tersebut, ada juga ada lain yang
terlihat namun memiliki niali Rf yang sama. Berdasarkan hal tersebut,
maka kami memilih fraksi 7 dan fraksi 8 untuk dilanjutkan ke isolasi
senyawa murni yang mana menggukan metode kromatografi lapis tipis
preparative (KLTP).
Masalah yang biasanya timbul dalam fraksinasi adalah perbedaan
fraksi yang didapatkan ketika membagi berdasarkan warna dan
berdasarkan nilai Rf. Pada saat dilakukan pengabungan berdasarkan
warna ada kemungkinan senyawa yang berbeda menjadi bergabung
dengan senyawa lain meskipun memiliki warna yang sama tapi tingkat
kepolarannya berbeda. ni dapat diatasi dengan mengurutkan
penggabungan warna berdasarkan tingkat kepolarannya.

A VI
PENUTUP

VI.1 KesimpuIan
Dari percobaan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan
bahwa dari hasil kromatografi kolom sebanyak 47 vial yang kemudian
difraksinasi, maka diperoleh jumlah fraksi sebanyak 12 fraksi.

VI.2 Saran
Untuk laboratorium, Agar lebih banyak referensi buku yang
disediakan oleh laboratorium dan bahan yang disediakan lebih memadai.
Untuk asisten penanggung jawab, agar bisa memberikan lebih
banyak diskusi dengan praktikan.


DAFTAR PUSTAKA

1. http://www.iptek.net.id/ind/?mnu=8&ch=jsti&id=33. Diakses tanggal 23
November 2011.
2. http://beginer.multiply.com/journal/item/4/Manfaat_Spon_laut. Diakses
tanggal 23 November 2011.
3. Sa'ad, Muhammad. 2009. &i Aktivitas Penangkap Radikal Isolat A dan
B Fraksi IV Ekstrak Etanol Daun Dewandru (Eugenia uniflora L.)
dengan Metode DPPH. Surakarta.:Universitas Muhammadiah.
4. Pradipta, van Surya, dkk. solasi dan dentifikasi Seyawa Golongan
Xanton dari Kulit Manggis ( Garcinia mangostana L.). Jakarta: U
5. Dirjen, POM.1979.Farmakope ndonesia Edisi .Depkes R:Jakarta
6. Rohyami, Yuli. 2008. Penentuan Kandungan Flavonoid dari Ekstrak
Metanol Daging Buah Mahkota Dewa. Jurnal Logika. Direktorat
Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Univervitas slam
ndonesia (U) Yogyakarta.



LAMPIRAN

Skema
Digabungkan dalam satu vial menurut warna

Di totolkan masing-masing fraksi pada lempang KLT

Dielusi

Dikelompokkan berdasarkan nilai Rf