Anda di halaman 1dari 16

REALITA DAN IDEALNYA POLITIK HUKUM DI INDONESIA

oleh: Mirawati Saktiana, SH. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hukum adalah sebuah entitas yang sangat kompleks, meliputi kenyataan kemasyarakatan yang majemuk, mempunyai banyak aspek, dimensi, dan fase. Bila diibaratkan benda ia bagaikan permata, yang tiap irisan dan sudutnya akan memberikan kesan berbeda bagi setiap orang yang melihat atau memandangnya. Bernard Arief Sidharta menyebutkan bahwa, hukum berakar dan terbentuk dalam proses interaksi berbagai aspek kemasyarakatan (politik, ekonomi, sosial, budaya, teknologi, keagamaan, dan sebagainya) dibentuk dan ikut membentuk tatanan masyarakat, bentuknya ditentukan oleh masyarakat dengan berbagai sifatnya, namun sekaligus ikut menentukan sifat masyarakat itu sendiri.1 Menurut Utrecht, hukum adalah himpunan peraturan-peraturan (perintah-perintah dan larangan-larangan) yang mengurus tata tertib suatu masyarakat dan karenanya harus ditaati oleh masyarakat itu. Sementara itu Mochtar Kusumaatmadja menyebutkan definisi hukum adalah keseluruhan asas-asas dan kaidah-kaidah yang mengatur kehidupan manusia dalam masyarakat, termasuk juga lembaga-lembaga (institusion) dan proses-proses yang mewujudkan berlakunya kaidah-kaidahnya itu dalam kenyataan. Politik merupakan macam-macam kegiatan dalam suatu sistem politik (negara) yang menyangkut proses menentukan tujuan-tujuan dari sistem itu dan melaksanakan tujuan-tujuan itu, atas dasar tersebut, maka politik selalu

Imam Syaukani dan A. Ahsin Thohari, Dasar-dasar Politik Hukum, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2010) hlm.

menyangkut tujuan-tujuan dari seluruh masyarakat (public goals) dan bukan tujuan pribadi seseorang (private goals). Politik dalam arti sempit merupakan kekuasaan atau kekuatan (Belanda = politiek), sementara dalam arti luas, politik itu multi perspektif, terdiri dari 3 (tiga) dimensi, yaitu power, decision making process, dan game theory (Anglo Saxon: politic; policy). Politik adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. Pengertian ini merupakan upaya penggabungan antara berbagai definisi yang berbeda mengenai hakikat politik yang dikenal dalam ilmu politik. Selain itu dalam perkuliahan ilmu politik, diketahui bahwa politik juga merupakan seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun non konstitusional. Dalam konteks memahami politik perlu dipahami beberapa kunci, antara lain : kekuasaan politik, legitimasi, sistem politik, perilaku politik, partisipasi politik, proses politik dan juga tidak kalah pentingnya untuk mengetahui seluk beluk tentang partai politik. Terkait dengan politik hukum, maka penting untuk diketahui tentang beberapa pengertian sistem politik dari beberapa ahli, sebagai berikut: a. David Easton; sistem politik sebagai seperangkat interaksi tingkah laku sosial, melalui mana nilai-nilai dialokasikan, secara otoratif kepada masyarakat. b. Robert A. Dahl; sistem politik adalah pola yang tetap dari hubunganhubungan antar manusia yang melibatkan kontrol, pengaruh, kekuasaan dan wewenang. c. Gabriel A. Almond; sistem politik adalah sistem interaksi yang terjadi di dalam masyarakat merdeka yang menjalankan fungsi integrasi dan adaptasi dengan menggunakan sedikit kewenangan/kekuatan fisik. d. Haryanto; sistem politik merupakan sistem interaksi atau hubungan yang terjadi di dalam masyarakat melalui mana dialokasikan nilai-nilai kepada

masyarakat dan pengalokasian nilai-nilai itu dengan mempergunakan paksaan fisik yang sedikit banyak bersifat sah. Hukum dan politik, merupakan hal yang saling terkait. Mochtar Kusumaatmadja menyebutkan bahwa politik dan hukum itu interdeterminan, sebab politik tanpa hukum itu zalim, sedangkan hukum tanpa politik itu lumpuh. Sudah seharusnya keduanya berjalan seiring sejalan, dimana hukum sebagai rel bagi politik yang menjadi gerbong keretanya. Pada saat ini, ada beberapa tokoh hukum yang telah membukukan pendapat mereka seperti Soehino dan Mahfud MD, bahwa dalam sistem politik di Indonesia, hukum merupakan produk politik. Tentu saja ini membuat sedikit banyak kesalah pahaman ketika hal ini menjadi salah satu materi yang diterima oleh mahasiswa hukum yang baru mengerti tentang sedikit pengertian dan konsep hukum secara ideal. Untuk itu dalam makalah ini, penulis memberanikan diri untuk mengangkat permasalahan mengenai peranan politik dan hukum, serta penerapan politik hukum di Indonesia. Namun karena kurangnya literatur, bimbingan dan waktu yang penulis dapatkan, maka makalah ini hanya menyajikan secara umum dari pendapat beberapa ahli hukum, dan mencoba untuk membuat kesimpulan sendiri sebagai salah seorang calon Magister Hukum yang berharap agar hukum dan politik secara ideal masih dapat dilaksanakan di negara tercinta Republik Indonesia ini. B. Permasalahan Dalam makalah ini, penulis mencoba untuk merangkum berbagai pendapat pakar dan tokoh hukum dalam kaitannya terhadap adanya asumsi mengenai hukum sebagai produk politik dan pelaksanaannya di Indonesia. Untuk itu penulis merumuskan satu permasalahan tentang bagaimanakah pelaksanaan politik hukum di Indonesia secara realita dan secara ideal bagi kepentingan seluruh rakyat Indonesia?

C. Metode Penulisan 1. Penulisan ini menggunakan Sumber Data Sekunder berupa: 1) Bahan hukum primer berupa ketentuan perundang-undangan yang terkait dengan penelitian ini. 2) Bahan hukum sekunder dari buku-buku, hasil penelitian, jurnal, majalah, artikel, surat kabar, internet yang terkait dengan objek penelitian ini. 2. Tehnik Pengumpulan Data Pengumpulan data dalam penulisan makalah ini lebih bertumpu pada data sekunder yang dilakukan dengan cara studi kepustakaan dengan mengkaji peraturan yang terkait dengan objek penulisan serta mengkaji berbagai buku, jurnal, artikel, surat kabar, majalah, yang terkait. 3. Analisis Data Analisis kualitatif, yaitu menjabarkan, menguraikan, menyusun secara sistematislogis sesuai dengan data penelitian, untuk merumuskan jawaban atas permasalahan yang terjadi

BAB II POLITIK HUKUM A. Pengertian Politik Hukum 1. Perspektif Etimologis Secara estimologis, istilah politik hukum merupakan terjemahan bahasa Indonesia dari istilah hukum Belanda rechtspolitiek, yang merupakan bentukan dari dua kata recht dan politiek. Recht berarti hukum, yang secara sederhana dapat diartikan bahwa law in generic sense, is a body of rules of action or conduct prescribed by controlling authority, and having bindng legal force (Henry Campbell Black, Blacks law Dictionary, 1991) atau bahwa hukum adalah seperangkat aturan tingkah laku yang berlaku dalam masyarakat.2 Politiek, dalam kamus bahasa Belanda yang ditulis oleh Van der Tas, mengandung arti beleid yang dalam bahasa Indonesia beleid berarti kebijakan (policy)... Secara sederhana dapat diambil kesimpulan bahwa politik hukum secara estimologis adalah kebijaksanaan hukum.3 2. Perspektif Terminologis Pengertian politik hukum secara terminologis, banyak diartikan oleh beberapa ahli hukum sebagai berikut:4 a. Padmo Wahjono; bahwa politik hukum adalah kebijakan penyelenggara negara tentang apa yang dijadikan kriteria untuk menghukumkan
2 3

Ibid, hlm. Ibid, hlm. 4 Mahfud MD, Politik Hukum di Indonesia, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2010) hlm.1-2

sesuatu yang di dalamnya mencakup pembentukan, penerapand an penegakan hukum. b. Teuku Mohammad Radhi; bahwa politik hukum adalah suatu pernyataan kehendak penguasa negara mengenai hukum yang berlaku di wilayahnya, dan mengenai arah perkembangan hukum yang dibangun. c. Soedarto; bahwa politik hukum adalah usaha untuk mewujudkan peraturan-peraturan yang baik sesuai dengan keadaan dan situasi pada suatu waktu d. Satjipto Rahardjo; bahwa politik hukum adalah aktivitas memilih dan cara yang hendak dipakai untuk mencapai suatu tujuan sosial dan hukum tertentu dalam masyarakat e. Abdul Hakim Garuda Nusantara; bahwa politik hukum adalah kebijakan hukum (legal policy) yang hendak diterapkan atau dilaksanakan secara nasional oleh suatu pemerintahan negara tertentu. Selain beberapa pendapat tersebut di atas, terdapat beberapa pendapat lainnya yang tidak lain menyimpulkan dari hasil pendapat ahli hukum tersebut di atas, diantaranya adalah Imam Syaukani dan A. Ahsin Thohari yang menyimpulkan bahwa Politik Hukum adalah kebijakan dasar penyelenggara negara dalam bidang hukum yang akan, sedang dan telah berlaku, yang bersumber dari nilai-nilai yang berlaku di masyarakat untuk mencapai tujuan negara yang dicita-citakan.5 Soehino, seorang Prof di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, menyebutkan bahwa pengertian politik hukum, secara sederhana dapat dirumuskan sebagai: Kebijaksanaan hukum (legal policy) yang akan dan atau telah dilaksanakan secara nasional oleh pemerintah, mencakup pula pengertian tentang bagaimana politik hukum mempengaruhi hukum dengan cara melihat konfigurasi kekuatan yang ada

Imam Syaukani, Op.Cit. hlm. 32

di belakang pembentukan dan penegakan hukum itu. Definisi hukum tidak dapat hanya dipandang sebagai pasal-pasal yang bersifat imperatif atau kehatusan yang bersifat das sollen, melainkan harus dipandang sebagai subsistem yang dalam kenyataannya (das sein) bukan tidak mungkin sangat ditentukan oleh politi, baik dalam perumusan materi muatan dan pasal-pasalnya maupun dalam implementasi dan penegakannya.6 Sementara itu Mahfud MD. Dalam bukunya Politik Hukum di Indonesia menyebutkan bahwa politik hukum adalah legal policy atau garis (kebijakan) resmi tentang hukum yang akan diberlakukan baik dengan pembuatan hukum baru maupun dengan penggantian hukum lama, dalam rangka mencapai tujuan negara.7 Politik hukum satu negara berbeda dengan politik hukum negara lainnya, yang disebabkan adanya perbedaan latar belakang sejarah, pandangan dunia (world-view), sosio kultural dan political will dari masingmasing pemerintah. Politik hukum bersifat lokal dan partikular, bukan universal, namun bukan berarti politik hukum suatu negara mengabaikan realitas dan politik hukum internasional. Sunaryati Hartono menyebutkan bahwa faktor-faktor yang akan menentukan politik hukum tidak sematamata ditentukan oleh apa yang kita cita-citakan atau tergantung pada kehendak pembentuk hukum, praktisi atau para teoritisi belaka, akan tetapi ikut ditentukan pula oleh kenyataan serta perkembangan hukum di lain-lain negara serta perkembangan hukum internasional.8 B. Ruang lingkup Kajian Politik Hukum Ruang lingkup atau wilayah kajian (domain) disiplin politik hukum adalah meliputi aspek aspek sebagai berikut:

6 7

Soehino, Politik Hukum di Indonesia, (Yogyakarta: BPFW,2010) hlm.10 Mahfud MD, Op.Cit., hlm. 1 8 Imam Syaukani, Op. Cit., hlm. 33

1. Proses penggalian nilai-nilai dan aspirasi yang berkembang dalam masyarakat oleh penyelenggara negara yang berwenang mrumuskan politik hukum;9 2. Proses perdebatan dan perumusan nilai-nilai dan aspirasi tersebut ke dalam bentuk sebuah rancangan peraturan perundang-undangan oleh penyelenggara negara yang berwenang merumuskan politik hukum; 3. Penyelenggara negara yang berwenang merumuskan dan menetapkan politik hukum. 4. Peraturan perundang-undangan yang memuat politik hukum. 5. Faktor-faktor yang mempengaruhi dan menentukan suatu politik hukum, baik yang akan, sedang, dan telah ditetapkan. 6. Pelaksanaan dari peraturan perundang-undangan yang merupakan implementasi dari politik hukum suatu negara.

Ibid, hlm. 51

BAB III POLITIK HUKUM NASIONAL Politik Hukum adalah kebijakan dasar penyelenggara negara dalam bidang hukum, yang akan, sedang dan telah berlaku, yang bersumber dari nilai-nilai yang berlaku di masyarakat untuk mencapai tujuan negara yang dicita-citakan. Kata nasional, diartikan sebagai wilayah berlakunya politik hukum itu sendiri yang berarti wilayah yang tercakup dalam kekuasaan negara Republik Indonesia, maka pengertian politik hukum nasional adalah kebijakan dasar penyelenggara negara (Republik Indonesia) dalam bidang hukum yang akan, sedang dan telah berlaku, yang bersumber dari nilai-nilai yang berlaku di masyarakat untuk mencapai tujuan negara (Republik Indonesia) yang dicita-citakan.10 Menurut Imam Syaukani dan A. Ahsin Thohari, berdasarkan pengertian tersebut, jelas bahwa politik hukum nasional dibentuk dalam rangka mewujudkan tujuan cita-cita ideal negara Republik Indonesia, yang meliputi dua aspek yang saling berkaitan, yaitu :11 1) sebagai suatu alat (tool) atau sarana dan langkah yang dapat digunakan oleh pemerintah untuk menciptakan suatu sistem hukum nasional yang dikehendaki; 2) dengan sistem hukum nasional itu akan diwujudkan cita-cita bangsa Indonesia yang lebih besar.

10 11

Ibid, hlm. 58
Ibid, hlm. 59

Sistem hukum nasional adalah sebuah sistem hukum (meliputi materiil dan formil; pokok dan sektoral) yang dibangun berdasarkan ideologi negara Pancasila dan UUD 1945, serta berlaku di seluruh Indonesia.12 Hasil seminar tentang hukum nasional di Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia yang telah dibukukan dengan judul Identitas Hukum Nasional, merekomendasikan bahwa hukum nasional yang sedang dibangun haruslah: 1. Berlandaskan Pancasila (filosofis) dan UUD 1945 (konstitusional); 2. Berfungsi mengayomi, menciptakan dan ketertiban sosial, mendukung dari pelaksanaan pembangunan. Menurut Philippe Nonet dan Philip Selznik dalam bukunya Law and Society in Transition: Toward Responsive Law, Politik Hukum Nasional bertujuan menciptakan sebuah sistem hukum nasional yang rasional, transparan, demoktaris, otonom, dan responsif terhadap perkembangan aspirasi dan ekspektasi masyarakat,bukan sebuah sistem hukum yang bersifat menindas, ortodoks, dan reduksionistik.13 Idealitas sistem hukum nasional itu pada dasarnya adalah dalam rangka membantu terwujudnya keadilan sosial dan kemakmuran masyarakat atau sebagaimana disebutkan dalam Pembukan UUD 1945: 1. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia; 2. Memajukan kesejahteraan umum; 3. Mencerdaskan kehidupan bangsa; 4. Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. pembangunan, mengamankan hasil-hasil

12 13

Ibid, hlm. 65 Ibid, hlm. 72

10

Pasal 1 ayat (3) perubahan ketiga UUD 1945 menyatakan bahwa Negara Indonesia adalah negara hukum, ini berarti bahwa hukum dalam Negara Indonesia secara normatif mempunyai kedudukan yang sangat mendasar dan tertinggi (supreme). BAB IV PELAKSANAAN POLITIK HUKUM DI INDONESIA Negara Indonesia, merupakan negara demokrasi Pancasila. Selain itu, di dalam Pasal 1 ayat (3) perubahan ketiga UUD 1945 menyatakan bahwa Negara Indonesia adalah negara hukum. Untuk itu sudah seharusnya, politik di Indonesia mengikuti aturan-aturan yang telah ditentukan oleh hukum. Asumsi tentang hukum adalah produk politik, berangkat dari proses pembuatan hukum itu sendiri. Bahwa hukum dibuat oleh lembaga legislatif, yang terdiri dari berbagai partai politik, hal ini berarti dalam proses pembuatan hukum tentunya akan terjadi konfigurasi politik yang saling tarik menarik. Soehino menyebutkan dalam bukunya Sistem Politik Indonesia, bahwa dengan menggunakan asumsi hukum merupakan produk politik, maka hukum dipandang sebagai dependent variable (variabel terpengaruh), politik diletakkaan sebagai independent variable (variabel berpengaruh). Peletakan hukum sebagai variabel terpengaruh ataas politik atau politik yang determinan atas hukum, mudah difahami dengan memperhatikan realita bahwa dalam kenyataannya hukum, dalam pengertian sebagai peraturan yang abstrak (pasalpasal yang imperatif), merupakan kristalisasi dari kehendak-kehendak politik yang saling berinteraksi dan saling bersaing.14 Lebih lanjut Soehino menyampaikan bahwa dalam hubungannya antara politik dan hukum, terdapat beberapa opsi atau kemungkinan, sebagai berikut: 15

14 15

Soehino, Op. Cit., hlm. 10 Ibid, hlm. 113

11

1. Hukum menentukan politik, berarti bahwa politik harus tunduk kepada aturan-aturan hukum atau peraturan perundang-undangan, atau hukum. Dengan demikian gerak dan kiprah politik harus tunduk dan mentaati ketentuan-ketentuan hukum, atau aturan-aturan hukum, atau peraturan perundang-undangan, atau hukum (pendapat para pakar hukum yang berpandangan atau berpendapat normatif dan das sollen). 2. Politik menentukan hukum, dalam hal ini politik menentukan kelahiran, wujud, perkembangan dan kehidupan hukum. Pendapat ini didasarkan atas kenyataan bahwa hukum merupakan hasil atau produk politik. Dengan demikian perumusan ketentuan hukum dan/atau aturan-aturan hukum merupakan perwujudan kehendak-kehendak politik yang saling bersaing, bahkan bergulat. Dalam hal ini hukum dipandang secara empiris (das sein) sebagai produk politik. 3. Hukum dan politik terjalin dalam hubungan yang saling tergantung (independent). Dalam hal ini keduanya dianggap sebagai sub sistem yang mempunyai kedudukan dan kekuatan seimbang. Mahfud MD dalam bukunya Politik Hukum di Indonesia, menyebutkan bahwa hukum tidak steril dari subsistem kemasyarakatan lainnya. Politik kerapkali melakukan intervensi atas pembuatan dan pelaksanaan hukum sehingga muncul juga pertanyaan berikutnya tentang subsistem mana atara hukum dan politik yang dalam kenyataaannya lebih suprematif. Mahfud MD juga menyebutkan bahwa hukum merupakan produk politik yang memandang hukum sebagai formalisasi atau kristalisasi dari kehendak-kehendak politik yang saling berinteraksi dan saling bersaingan.16 Dengan menggunakan dalil hukum sebagai produk politik, maka karakter produk hukum ditentukan oleh konfigurasi politik yang melahirkannya, seperti hukum pada masa orde lama dan orde baru, dimana para penguasa/pemerintah pada kedua orde tersebut, menggunakan hukum sebagai dasar hukum dalam

16

Mahfud MD, Op.Cit., hlm. 9 dan 15

12

bersikap, bertingkah laku dan bertindak atau berbuat, terutama dalam bidang penyelenggaraan pemerintah negara dan dalam bidang pembentukan peraturan perundang-undangan.17 Sistem pemerintahan negara Indonesia adalah berdasar atas hukum (rechtsstaat), tidak berdasarkan atas kekuasaan belaka (machtstaat). Untuk itu seharusnya penguasa/pemerintah menjadikan hukum sebagai panduan dalam berpolitik demi kepentingan seluruh rakyat Indonesia. Karena pengertian hukum sebagai produk politik, ternyata bukan hanya karena proses pembentukan hukum itu sendiri yang dilaksanakan oleh partai politik yang duduk dalam lembaga legislatif, tapi ternyata materi atau substansi hukum yang telah dibentuk itu sendiri, selama ini ternyata juga merupakan upaya melegalkan berbagai kepentingan politik dari para penguasa/pemerintah. Sangat sedikit produk hukum yang dihasilkan tersebut memihak kepada kepentingan seluruh rakyat Indonesia. Apabila hukum sebagai produk politik seperti ini yang dimaksud, maka penulis tidak heran terhadap kondisi Republik tercinta pada saat ini. Di mana rakyat kecil semakin lemah dan tertindas, sementara itu banyak bermunculan raja-raja baru diberbagai daerah yang hanya meributkan batas wilayah dan memperebutkan berbagai proyek dari pemerintah pusat. Sri Soemantri pernah mengonstatasi hubungan antara hukum dan politik di Indonesia ibarat perjalanan lokomotif kereta api yang keluar dari relnya. Jika hukum diibaratkan rel dan politik diibaratkan lokomotif maka sering terlihat lokomotif itu keluar dari rel yang seharusnnya dilalui. Prinsip yang menyatakan politik dan hukum harus bekerja sama dan saling menguatkan melalui ungkapan hukum tanpa kekuasaan adalah angan-angan, kekuasaan tanpa hukum adalah kelaliman menjadi semacam utopi belaka. Hal ini terjadi karena di dalam prakteknya hukum kerapkali menjadi cermin dari kehendak pemegang

17

Soehino, Op. Cit., hl. 124

13

kekuasaan politik, sehingga tidak sedikit orang yang memandang bahwa hukum sama dengan kekuasaan.18

BAB VI PENUTUP A. KESIMPULAN Berdasarkan uraian singkat di atas, maka penulis menyimpulkan sebagai berikut: 1. Negara Indonesia merupakan negara hukum, hal ini secara tegas disebutkan dalam Pasal 1 ayat (3) perubahan ketiga UUD 1945. Untuk itu meskipun hukum di Indonesia dalam hal ini peraturan perundangundangan, adalah dibuat oleh lembaga legislatif dengan segala konfigurasi politik di dalamnya, maka seharusnya hukum tetap merupakan rel pengatur bagi politik. Karena bila kita menyimpang dari hal tersebut, maka itu berarti kita mengingkari UUD 1945 itu sendiri, yang akan kan mengakibatkan kesewenangan penguasan/pemerintah sehingga rakyat akan semakin menderita. 2. Realita yang terjadi di masa lalu dan masa sekarang pada peta politik dan hukum di Indonesia menjelaskan bahwa telah terjadi penyimpangan pelaksanaan politik dan hukum, dimana hukum dijadikan alat untuk melegalkan kepentingan politik para penguasa/pemerintah yang tidak memihak kepada kepentingan seluruh rakyat Indonesia, sehingga terlihat disini bahwa hukum merupakan produk politik, dengan adagium bahwa

18

Mahfud MD, Op.Cit., hlm. 20

14

hukum menjadi keretanya, sedangkan politik yang menjadi relnya. Hal ini menjelaskan kenapa situasi hukum dan politik di Indonesia begitu jauh dari tujuan utama hukum nasional, yaitu untuk mensejahterahkan kehidupan seluruh rakyat Indonesia.

B. SARAN Kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia, merupakan satu tujuan nasional yang mulia, dan penulis sangat yakin apabila tujuan itu tercapai, maka NKRI yang berdaulat, utuh dan disegani oleh seluruh dunia akan tercapai. Namun hal tersebut akan sangat jauh untuk menjadi kenyataan, apabila penguasa/pemerintah mempermainkan hukum yang secara tegas dan jelas merupakan hal yang tertinggi di negara kedaulatan Republik Indonesia ini. Beberapa pemerintahan di Indonesia telah membuktikan bahwa ketika hukum menjadi produk politik oleh penguasa/pemerintah, maka yang terjadi adalah kehancuran bangsa dan penderitaan bagi rakyatnya. Menurut penulis, sistem politik hukum di Indonesia yang seharusnya diterapkan adalah sistem politik hukum yang memihak kepada seluruh rakyat, dimana lembaga legislatif dan eksekutif secara sungguh-sungguh membuat suatu hukum (peraturan perundang-undangan) yang benar-benar dibutuhkan oleh rakyat Indonesia, haruslah dibentuk suatu tim yang terdiri dari berbagai unsur seperti dari akademisi, alim ulama, teknisi dan sebagainya untuk mengadakan penelitian terhadap kepentingan yang memihak seluruh rakyat Indonesia, sebelum dibuatnya suatu produk hukum. Satu hal yang menurut penulis tidak kalah penting adalah, wajibnya ditentukan persyaratan untuk duduk di lembaga legislatif pusat maupun daerah, seseorang tersebut haruslah memenuhi kualifikasi dan standar

15

profesional tersendiri, seperti pendidikan minimal S.1 dan harus melalui fit and proper test. Karena lembaga legislatif merupakan perwakilan suara rakyat Indonesia, maka sudah seharusnya seseorang yang duduk di lembaga legislatif tersebut adalah seseorang yang benar-benar mengerti tentang apa yang seharusnya ia kerjakan selama ia berada di lembaga legislatif tersebut. Sudah saatnya hukum menjadi rel pengatur bagi politik di Indonesia, sehingga tercipta suatu sistem politik hukum di Indonesia yang benar-benar memihak kepada seluruh rakyat Indonesia. Kenyataan yang selama ini terjadi bahwa hukum merupakan produk politik dari penguasa/pemerintah yang tidak memihak kepada kepentingan rakyat, harus diperbaiki. Walaupun penulis menyadari bahwa hal itu sangat sulit untuk dilaksanakan, terutama pada saat sekarang di mana penguasa/pemerintah dan partai politik di Indonesia, masing-masing sudah tidak perduli lagi dengan kepentingan seluruh rakyat Indonesia, namun penulis tetap yakin bahwa apabila kita mau kembali kepada Pancasila dan UUD 1945 dan secara sungguh-sungguh melaksanakannya, maka bangsa Indonesia ini akan menjadi bangsa yang dapat dibanggakan rakyatnya. Untuk itu, penulis sangat mengharapkan, terlepas dari kenyataan yang ada pada sistem politik di Indonesia di masa lampau dan masa kini, hendaknya kita sebagai calon ahli hukum, mendapat pengajaran dan doktrin positif untuk terwujudnya hukum yang ideal di negara Indonesia yang kita cintai ini.

16