Anda di halaman 1dari 8

Hormon Kortisol

Terdapatnya 2 (dua) organ endokrin dalam kelenjar adrenal yaitu Medulla pada bagian dalam dan
Korteks pada bagian luar
2,3,4
. Korteks adrenal. gonad, dan plasenta berbagi kemampuan untuk
mensintesis hormon steroid. Ini berasal dari asetat atau kolesterol dan dibangun oleh kerja enzim yang
khas. Semua jaringan penghasil steroid dapat membuat androgen dan estrogen, tetapi hanya korteks
adrenal yang memiliki enzim yang diperlukan bagi pembentukan kortisol.
1
Kortrisol sebagai produk
dari glukokortioid korteks adrenal yang disintesa pada zona Iasikulata dapat mempengaruhi
metabolisme protein, karbohidrat, dan lipid serta berbagai Iungsi Iisiologis lainnya.1Kelenjar adrenal
terdiri dari korteks adrenal disebelah luar dan medulla adrenal dibagian dalam.
Korteks adrenal terdiri dari 3 (tiga) zona yaitu :
1. Zona glomerulosa; suatu lapisan luar yang tipis menghasilkan mineralikortikoid terutama
aldosteron.
2. Zona fasikulata; suatu zona luas yang terdiri dari jaras-jaras radial yang menghasilkan
glukokortikoid terutama kortisol
3. Zona retikularis; suatu bagian berupa jala-jala yang membatasi medulla, dan membentuk
kortisol, androgen, dan estrogen.

A.$truktur

B. $intesis
Zona-zona dan stereidogenesis

Karena perbedaan enzimatik antara glomerulosa dan zona-zona bagian dalam, maka Iungsi korteks
adrenal merupakan 2 unit yang terpisah dengan perbedaan pada pengaturannya dan produk sekresi
produk sekresi. Jadi, zona glomerulosa yang menghasilkan aldosteron, kekurangan aktiIitas 17 u
hidroksilase dan tidak dapat mensintesis 17 u hidroksi pregnenolon dan 17 u hidroksi progesteron
yang merupakan prekusor dari kortisol dan androgen adrenal. Sintesis aldosteron oleh zona ini
terutama diatur oleh sistem renin-angiotensin dan juga kalium.
Zona Iasikulata dan retikularis menghasilkan kortisol, androgen, dan sejumlah kecil estrogen. Zona ini
terutama dipengaruhi oleh oleh ACTH, tidak mengandung enzim p450aldo (aldosteron sintetase,
p450cmo) dan karenanya tidak dapat mengubah 11-deoksikortison menjadi aldosteron.
Ambilan dan $intesis Kolestrol
Sintesis kortisol dari androgen pada zona Iasikulata dan retikularis dimulai dengan adanya kolesterol
sebagaimana juga pada sintesis semua hormon steroid. Lipoprotein plasma merupakan sumber utama
kolesterol adrenal, walaupun sintesis didalam kelenjar dari asetat juga terjadi. Dari akibat adanya
sejumlah kecil kolesterol bebas dalam adrenal dapat digunakan untuk mempercepat sintesis steroid
bila terjadi rangsangan pada adrenal. Jika terjadi rangsangan, terjadi juga peningkatan hidrolisa dari
cadangan ester kolesteril menjadi kolesterol bebas, penggunaan lipoprotein plasma yang meningkat,
dan sintesis kolesterol dalam kelenjar juga meningkat.
Sintesis steroid adrenal bermula dari asetat atau kolesterol dan bergerak melalui beragam
langkah-langkah enzimik ke pembentukan glukokortikoid. Jalan reaksi menyangkut sintesis
permulaan kolesterol yang setelah terjadi pembelahan dan oksidasi serangkaian rantai samping,
diubah menjadi A
5
-pregnenolon.
2,3,4
Kortek adrenal mengandung relatiI banyak kolesterol,
sebagian besar sebagai ester kolesteril yang berasal dari sintesis de novo dan sumber-sumber
ekstraadrenal. Perubahan esterkolesteril menjadi kolesterol merupakan langkah yang perlu dalam
sintesis steroid dan diatur oleh ACTH, dalam hal ini ACTH melakukannya dengan meningkatkan
cAMP, yang mengaktiIkan protein kinase, selanjutnya mengaktiIkan protein-protein melalui
IosIorilasi untuk mengkatalisis hidrolisis kolesteril ester. Kinase ini awalnya juga meningkatkan
20-hidroksilasi kolesterol. Hasil akhir reaksi ini adalah C-27 steroid 20u,22-dihidroksikolesterol
dan 17u,20u-dihidroksikolesterol. Senyawa ini diubah langsung menjadi pregnenolon atau 17u-
pregnenolon dengan kehilangan bagian isokaproat aldehida yang terdapat pada rantai
samping.
1,2,3,4
AMBAR HAL 130 LAN DAN 404 NDOKRINOLOI DAN PNYRAPAN
KOL$%ROL DAN LAN HAL 133

. %ransportasi


Kortisol dalam jumlah yang cukup besar lebih kurang 75 terikat pada u - globulin yang disebut
traskortin atau globulin pengikat kortikostroid (corticosteroid binding globulin). Sebanyak 15
lainnya terikat lebih lemah pada albumin, dan 10 sisanya yang aktiI secara matabolik beredar
dalam bentuk bebas. Kortisol dan androgen adrenal pada sirkulasi dengan protein plasma. Waktu
paruh kortisol adalah 70-90 menit
1,2,3,4
. Hal ini ditentukan oleh banyaknya pengikatan dalam
plasma dan oleh cepatnya inaktivasi metabolik. Dikarenakan irama sirkadian yang ditampilkan
oleh sekresi kortisol, maka nilai normalnya beragam menurut waktu dalam sehari. Nilai normal
pada pukul 9.00 pagi untuk kortisol ( 11 hidroksi-kortikosteroid ) adalah 170-720 nmol/l (6-26
g/100ml) sedangkan kadar tengah malam ( 24:00) kurang dari 220 nmol/l ( 8g/100ml)
1,4
.
Kortisol yang terikat tampaknya secara Iisiologis tidak aktiI, sedangkan Iraksi yang aktiI adalah
dalam keadaan yang tidak terikat dalam sirkulasi. Karena terikat dengan protein, maka dalam urin
relatiI sedikit terdapat kortisol bebas dan kortikosteron.
Kortisol yang terikat mungkin berIungsi sebagai cadangan hormon dalam sirkulasi yang
mempertahankan suplai kortisol bebas ke jaringan, jadi mencegah Iluktuasi yang hebat dari kadar
kortisol yang bebas selama episode sekresi dari kelenjar.
Kadar kortisol bebas dalam plasma berjumlah kira-kira 1 /dl. CBG dalam plasma mempunyai
kapasitas daya ikat kortisol kira-kira 25g/dl. Bila kadar kortisol total dalam plasma meningkat
lebih daripada nilai tersebut diatas, maka konsentrasi kortisol yang bebas dengan cepat akan
meningkat melewati batas Iraksi biasa 10 dari total kortisol. Steroid endogen yang lain tidak
mempunyai eIek cukup besar terhadap daya ikat kortisol dengan CBG dalam keadaan biasa,
kecuali pada kehamilan. CBG di sintesis di hati dan pembentukannya diperbesar oleh estrogen.
Kadar CBG meningkat pada waktu kehamilan, pemberian estrogen, pil anti hamil dan menurun
pada sirhosis, neIrosis, multiple mieloma. Bila kadar CBG meningkat, lebih banyak kortisol yang
terikat dan mula-mulanya terdapat penurunan kadar kortisol bebas, penurunan ini merangsang
sekresi ACTH dan lebih banyak kortisol disekresi sampai keseimbangan yang baru dicapai
dimana kadar kortisol kembali ke normal.
Kadar kortisol yang terikat tetap meningkat, tetapi sekresi ACTH kembali normal. Perubahan
dengan arah yang berlawanan terjadi bila kadar CBG berkurang. Hal ini menjelaskan mengapa
pada wanita hamil mempunyai kadar 17-hidroksikortikoid total yang tinggi tanpa gejala-gejala
kelebihan glikokortikoid dan sebaliknya juga menjelaskan mengapa pada beberapa penderita
dengan neIrosis mempunyai kadar 17-hidroksikortikoid plasma yang rendah tanpa insuIisiensi
adrenal.
2,4,6

. Metabolisme dan eksresi kortisol
Pada metabolisme steroid terjadi perubahan menjadi bentuk yang tidak aktiI dan daya larut dala
air meningkat, seperti pada persenyawaan dengan gugusan glukuronida atau sulIat. Senyawa
metabolit yang tidak aktiI ini telah siap untuk diekskresi melewati ginjal.
Konversi dan konjugasi dalam Hepar
Kortisol dimetabolisme dalam hati yang merupakan tempat utama katabolisme glukokortikoid,
sebagian besar kortisol direduksi menjadi dihidrokortisol yang selanjutnya menjadi
tetrahidrokortisol yang dikonjugasikan dengan asam glukuronat sehingga mudah larut, dan karena
glukuronida ini tidak terikat oleh protein maka senyawa tersebut mudah dieksresi oleh ginjal
bersama urin.
2,3,4,6,7

Konversi renal
Kortisol juga diinaktivasi pada ginjal dengan perubahan menjadi kortison melalui kerja 11
hidroksisteroid dehidrogenase Kira-kira 5-10 kortisol dipecah menjadi 11-hidroksi-
17ketosteroid dan selanjutnya menjadi 11-ketoetiokolanolon dan 11-beta-hidroksiandrosteron.
2,3,4

Eksresi kortisol bebas hanya sebesar 10 jumlahnya dalam darah, dan hanya 10 jumlah yang
diIiltrasi lalu dikeluarkan bersama urin, karena telah terlebih dahulu direabsorbsi di tubuli ginjal. Pada
orang dewasa normal dalam urin 24 jam ditemukan kortisol tidak lebih dari 80g, kortison 50 g,
tetrahodrokortisol 3 mg, tetrahidrokortison 5 mg, dan 11-hidroksi-17ketosteroid 1 mg.
2,3,4
Kecepatan
clearance metabolik kortisol adalah 6512 ml/menit/m2, kecepatan pembersihan metabolik yang
rendah menyebabkan waktu paruh memanjang. Ini perlu diperhatikan pada pengobatan dengan
kortikosteroid, karena eIek sampingnya menjadi lebih besar.
4


.Aksi
Tempat reseptor didalam sel sasaran
Mekanisme kerja pengaktiIan gen spesiIik untuk menghasilkan protein baru yang menghasilkan
eIek.
ambar lange hal 139 dan endokrinologi hal 409
Proses pasca reseptor : hormon lipoIilik (hormon steroid dan tiroid) menimbulkan eIek mereka disel
sasaran dengan meningkatkan sintesis protein struktural atau enzimatik tertentu. EIek hormon-hormon
ini timbul akibat stimulasi gen-gen sel sebagai berikut:
a. Hormon lipoIilik bebas (hormon yang tidak terikat ke protein plasma pembawa) berdiIusi
menembus membran plasma sel sasaran dan berikatan dengan reseptor spesiIiknya didala inti
sel.
b. Setiap reseptor memiliki regio spesiIik untuk mengikat hormon dan regio lain untuk mengikat
DNA. Setelah berikatan dengan reseptor, kompleks hormon-reseptor berikatan dengan DNA
ditempat perlekatan spesiIik di DNA yang dikenal sebagai hormone response Element
(HRE). Berbagai hormon steroid dan tiroid setelah berikatan dengan setiap reseptor, melekat
ke HRE yang berbeda-beda di DNA. Sebagai contoh, kompleks estrogen reseptor berikatan
dielemen estrogen-response DNA.
c. Pengikatan kompleks hormon-reseptor dengan DNA akhirnya 'menyalakan gen-gen spesiIik
didalam sel sasaran.
d. Gen yang diaktiIkan memerintahkan sintesis protein sel baru dengan menghasilkan mRNA
komplementer, yang masuk keplasma dan berikatan dengan ribosom, 'meja kerja yang
memperentarai penyusunan protein baru
e. Protein baru menghasilkan respon Iisiologis sel sasaran terhadap hormon.
Secara umum, hormon lipoIilik yang bekerja dengan meningkatkan sintesis protein, memerlukan
waktu lebih lama untuk menimbulkan eIek dibandingkan dengan hormon hidroIilik yang hanya perlu
mengaktiIkan enzim yang sudah ada. Setelah diaktiIkan , suatu enzim tidak lagi memerlukan
keberadaan hormon. Akibatnya eIek hormon biasanya tetap ada setelah hormon tersebut menghilang.
H.Abnormal
ambar lange hal 130
DeIisiensi enzim dalam suatu sintesis dari glukokortikoids, mineralkortikoid, dan androgen dapat
menyebabkan masalah yang serius. Enzim kunci menyebabkan sintesis hormon steroid dan hasil dari
deIisiensi mereka digambarkan dalam tabel berikut.

Enzim dan relevansi Fungsi Iisiologi EIek dari deIisiensi
1-Hdroxylase
Jumlah 95 dari genetik
abnormal pada sintesis hormon
steroid adrenal
Mengubah progesteron ke 11-
deoksikortikosteron dan 17u-
hidoksiprogesteron menjadi 11-
deoksikortisol
Peningkatan kortisol dan
aldosteron .
Kehilangan sodium karena
deIisiensi mineralkortikoid.
Virilisasi karena produksi
androgen berlebih.
11-Hdroxylase
Frekuensi abnormal tersering
kedua pada sintesis hormon
steroid adrenal
Mengubah 11-
deoksikortikosteron menjadi
kortikosteron
11-deoksikortisol menjadi
kortisol
11-deoksikortikosteron dan 11-
deoksikortisol berlebih.
AktiviIas mineralkortikoid
meningkat.
Retensi air dan garam.
11-Hdroxysteroid
dehydrogenase tipe

Dicegah oleh asam
glisirrhetinik, sebuah senyawa
dari likorise
Metabolit aktiI dari
glukokortikoid menjadi bentuk
inaktiI yang mempunyai aIinitas
yang rendah kepada reseptor
mineralkortikoid.
Peningkatkan glukokortikoid
inaktiIasi pada mineral
kortikoid-sensitiI sel.
AktiIitas mineralkortikoid
meningkat.

I. Mekanisme umpan balik/ regulasi
Sekresi kortisol oleh korteks adrenal diatur oleh sistem umpan balik negtaiI lengkung panjang yang
melibatkan hipotalmus
Sekresi ACTH diatur secara umpan balik oleh steroid yang beredar, pada manusia kortisol adalah
regulator yang paling penting. Kortisol bebas di dalam darah memiliki umpan balik negatiI terhadap
pelepasan hormon pelepas kortikotropin ( corticotropin releasing hormone atau CRH) dari
hipotalamus dan terhadap kortikotroI hipoIisis. CRH turun melalui vena-vena sistem portal hipoIisis
ke hipoIisis anterior dan memicu sekresi ACTH. Respon CRH terhadap umpan balik negatiI
mengikuti irama diurnal, sehingga pada pagi hari ACTH dan kortisol dalam jumlah yang lebih besar
dan lebih kecil pada malam hari, namun dalam keadan stress baik Iisik maupun Iisik seperti nyeri,
ketakutan, operasi, inIeksi, latihan Iisik, trauma, hipoglikemia atau tumor otak dan obat-obatan seperti
kortikosteroid, hipnotik, irama sirkadian ini dapat berubah.

$ekresi kortisol sangat erat hubungannya dengan pengaturan AC%H, dan kadar plasma
kortisol paralel dengan kadar AC%H. Didapat 3 mekanisme kontrol neuroendokrin:
1) Irama sirkadian
Irama sirkadian yang didahului oleh sekresi episode ini adalah hasil kerja susunan saraI pusat
yang mengatur jumlah dan banyaknya sekresi episodik dari CRF dan ACTH. Sekresi kortisol
pada petang hari rendah dan terus menurun selama beberapa jam pertama/waktu tidur, dimana
pada waktu itu kadar kortisol plasma dapat tidak terdeteksi. Selama jam ketiga dan kelima
waktu tidur. Sekitar setengah dari keluaran kortisol harian disekresikan pada saat ini. Sekresi
kemudian menurun selama siang hari, dengan episode sekretori lebih jarang dan jumlahnya
berkurang, namun ada peningkatan sekresi kortisol sebagai respon terhadap makanan dan
latihan. Waktu ini adalah pola umum terus menerus, namun ada variabilitas intra indivindu
dan interindivindu dan irama sirkadian dapat berubah oleh perubahan pola tidur, pajanan
cahaya agak gelap, dan waktu pemberian makan. Irama ini juga diubah oleh stres Iisik seperi
penyakit berat,pembedahan,trauma atau kelaparan, stress psikologis,kelainan susunan saraI
pusat dan hipoIis, sindroma cushing, penyakit hati dan kondisi lain yang mempengaruhi
kortisol, gagal ginjal, dan alkoholisme.
2) Respon terhadap stres
Respon terhadap stres ACTH dan kortisol dihilangkan dengan pemberian glukokortikoid
dosis tinggi sebelumnya.

3) Inhibisi umpan balik
Pengaruh inhibisi umpan balik dari glukokortikoid terjadi pada tingkat hipoIisis dan
hipotalamus dan mempengaruhi dua mekanisme yang berbeda-pengaruh inhibisi umpan balik
yang cepat dan lambat.
Inhibisi umpan balik negatif cepat dari sekresi ACTH sebanding dengan kecepatan
glukokortikoid dan bukan oleh dosis yang diberikan. Fase ini cepat, sekresi basal dan
stimulasi sekresi ACTH mengurang dalam waktu beberapa menit setelah kadar
glukokortikoid dalam plasma meningkat. Pengaruh eIek inhibisi umpan balik ini hanya
sementara dan berlangsung kurang dari 10 menit, sangat mungkin eIek ini tidak melewati
reseptor sitosol glukokortikoid, tetapi lebih dapat diterima bekerja melalui membran sel.
Inhibisi umpan balik negatif lambat setelah pengaruh awal cepat dari eIek glukokortikoid
selanjutnya terjadi penekanan sekresi CRH dan ACTH dengan mekanisme yang tergantung
pada wktu dan dosis. Jadi, dengan pemberian glukokortikoid terus menerus kadar ACTH
terus menurun dan tidak memberikan respon terhadap stimulasi. EIek terakhir dari pemberian
glukokortikoid jangka panjang adalah supresi pelepasan CRH dan ACTH dan atroIi dari zona
Iasikulata dan zona retikularis sebagai akibat kekurangan ACTH. Aksis hipotalamus-hipoIisis
adrenal yang inhibisi umpan balik yang lambat ternyata bekerja melalui reseptor klasik
glukokortikoid, jadi mempengaruhi sintesis messenger RNA untuk pro-opiomelanokortin
sebagai prekusor pembentukan ACTH.

1. ungsi dan efek
Banyak senyawa telah dihasilkan oleh korteks adrenal ( lebih kurang 40 macam) akan tetapi
hanya sebagian yang dijumpai dalam darah vena adrenal. Kerja Iisiologis utama dari hormon-
hormon adrenal khususnya glukokortikoid adalah sebagai berikut :
1. Mempengaruhi metabolisme karbohidrat, lemak dan protein, yaitu memacu glikogeolisis,
ketogenesis, dan katabolisme protein.
2. Memiliki kerja anti insulin, dimana glukokortikoid menaikkan glukosa, asam-asam lemak dan
asam asam amino dalam sirkulasi. Dalam jaringan periIer seperti otot, adipose dan jaringan
limIoid, steroid adalah katabolik dan cenderung menghemat glukosa, pengambilan glukosa dan
glikolisis ditekan.
3. Terhadap pembuluh darah meningkatkan respon terhadap katekolamin.
4. Terhadap jantung memacu kekuatan kontraksi ( inotropik positiI)
5. Terhadap saluran cerna meningkatkan sekresi asam lambung dan absorbsi lemak,
menyebabkan erosi selaput lendir.
6. Terhadap tulang menyebabkan terjadinya osteoporosis, oleh karena menghambat aktiIitas
osteoblast dan absorbsi kalsium di usus.
7. Meningkatkan aliran darah ginjal dan memacu eksresi air oleh ginjal.
8. Pada dosis Iarmakologis menurunkan intensitas reaksi peradangan, dimana pada konsentrasi
tinggi glukokortikoid menurunkan reaksi pertahanan seluler dan khususnya memperlambat
migrasi leukosit ke dalam daerah trauma.
Glukokortikoid menambah pembentukan surIaktan dalam paru-paru dan telah digunakan untuk
mencegah sindroma respiratory distress pada bayi prematur