Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN Nama Umur Jenis kelamin Agama Bangsa/Suku Pekerjaan Alamat No.Reg Rumah Sakit Tanggal Pemeriksaan Dokter Pemeriksa : Tn. I : 33 thn : Laki-laki : Islam : Indonesia/Bugis : PNS : NHP blok F no.2 : 157687 : Wahidin Sudirohusodo : 25 November 2011 : Dr. F

II. ANAMNESIS Keluhan utama : Merah pada kedua mata

Anamnesis terpimpin : Dialami sejak 4 hari yang lalu sebelum datang ke poliklinik mata RS Wahidin Sudirohusodo. Mata kiri dirasakan lebih parah dari mata kanan disertai rasa gatal(+), rasa berpasir (+) dan rasa mengganjal (+). Perih (-), air mata berlebih (+), kotoran mata berlebih (+), kelopak mata terasa lengket pada pagi hari saat bangun tidur(+), bengkak pada kelopak mata (+), gatal (+), silau (-), penglihatan kabur (-). Riwayat trauma mekanis maupun kimia (-). Riwayat alergi (-). Riwayat menggunakan lensa kontak (-). Riwayat memakai kacamata (-). Riwayat kontak dengan penderita dengan penyakit yang sama (-). Riwayat memakai obat tetes mata (+), insto, tetapi tidak ada perbaikan. Riwayat tekanan darah tinggi (-), Riwayat kencing manis (-).
1

Foto Mata Pasien (Oculi Dextra et Sinistra)

III. PEMERIKSAAN OFTALMOLOGI A. INSPEKSI OD Palpebra Apparatus lakrimalis Silia Udem (+) Lakrimasi (+) Sekret (+) mukopurulen Konjungtiva Hiperemis (+), inj.konjungtiva (+), sekret (+) Bola mata Kornea Bilik mata depan Iris Pupil Lensa Mekanisme muscular Normal Jernih Normal Coklat, kripte (+) Bulat, sentral, RC (+) Jernih Ke segala arah OS Udem (+) Lakrimasi (+) Sekret (+) mukopurulen Hiperemis (+), inj.konjungtiva (+), sekret(+) Normal Jernih Normal Coklat, kripte (+) Bulat, sentral, RC (+) Jernih Ke segala arah

B. PALPASI Pemeriksaan Tensi okuler Nyeri tekan Massa tumor Glandula pre-aurikuler OD Tn (-) (-) Tidak ada pembesaran OS Tn (-) (-) Tdk ada pembesaran

C. VISUS VOD = 20/20 VOS = 20/20

D. PENYINARAN OBLIK Pemeriksaan Konjungtiva

: OD OS Hiperemis (+), injeksio konjungtiva (+) Jernih Normal Cokelat, kripte (+) Bulat, sentral, RC (+) Jernih

Hiperemis (+), injeksio konjungtiva (+)

Kornea Bilik Mata Depan Iris Pupil Lensa

Jernih Normal Cokelat, kripte (+) Bulat, sentral, RC (+) Jernih

E. SLIT LAMP SLODS : Konjungtiva hiperemis (+), injeksio konjungtiva (+), kornea jernih, fluoresen (-), BMD normal, iris cokelat, kripte (+), pupil bulat, sentral, RC (+), lensa jernih.

IV. RESUME Seorang laki-laki, umur 33 tahun, datang ke poliklinik mata RS. Wahidin Sudirohusodo dengan keluhan utama hiperemis oculi dextra et sinistra yang
3

dialami sejak sekitar 4 hari yang lalu. Oculi sinistra dirasakan lebih parah dari oculi dekstra disertai rasa gatal(+), rasa berpasir (+) dan rasa mengganjal (+). Lakrimasi(+), sekret (+), palpebra terasa lengket pada pagi hari saat bangun tidur(+), udem palpebra (+), gatal (+). Riwayat memakai obat tetes mata (+), insto, tetapi tidak ada perbaikan. Pada pemeriksaan oftalmologi, inspeksi didapatkan edema palpebra (+), lakrimasi (+), sekret (+) mukopurulen, konjungtiva hiperemis (+), injeksio konjungtiva (+) pada oculi dextra et sinistra. Pada pemeriksaan palpasi tidak ditemukan pembesaran kelenjar preaurikuler. Pada pemeriksaan visus didapatkan VOD: 20/20, VOS: 20/20. Pada pemeriksaan penyinaran oblik didapatkan ODS: konjungtiva hiperemis (+), injeksio konjungtiva (+). Pada pemeriksaan slit lamp didapatkan SLODS konjungtiva hiperemis (+), injeksio konjungtiva (+).

V. DIAGNOSIS ODS Kojungtivitis Akut e.c Susp Bakteri

VI. TERAPI R/: Alletrol ED 4x1 gtt ODS C. Lyteers EDMD 4x1 gtt ODS Cefadroxyl 2x500mg Becom C 1x1 Natrium Diklofenak 2x50mg

VII. DISKUSI Pasien ini didiagnosa dengan ODS Konjungtivitis Akut e.c Susp. Bakteri berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisis oftalmologi dan pemeriksaan penunjang. Dari anamnesis didapatkan keluhan utama hiperemis pada oculi dextra dan sinistra yang dialami sejak sekitar 4 hari yang lalu.

Pada pemeriksaan fisis oftalmologi ODS, selain didapatkan konjungtiva hiperemis, didapatkan pula edema palpebra, lakrimasi, injeksio konjungtiva, sekret dan gatal. Sedangkan bilik mata depan, tekanan intraokuler, pupil, kornea dan visus normal. Hal di atas sesuai dengan tanda konjungtivitis pada umumnya. Adanya hiperemia berat, injeksio konjungtiva, sekret yang mukopurulen, lakrimasi pada oculi dextra dan sinistra serta tidak ditemukannya pembesaran kelenjar preaurikuler menunjukkan gejala klinik dari konjungtivitis bakteri. Pengobatan konjungtivitis bakteri pada umumnya adalah dengan mengobati kausal dan tidak dibedah. Penatalaksanaan pada pasien ini adalah pemberian Alletrol ED 4 kali sehari masing-masing 1tetes pada mata kiri dan mata kanan. Alletrol sendiri berisi obat kombinasi steroid dan antiinfeksi. Tiap ml Alletrol Compositum Tetes mata mengandung Dexamethasone Sodium Phosphate 1 mg Neomycin Sulphate setara dengan Neomycin base 3.5 mg Polymixin B Sulphate 6000 IU Dexamethasone merupakan kortikosteroid sintetik yang berkhasiat sebagai anti inflamasi (anti radang) yang ditimbulkan oleh mikroorganisme, zat kimia, iritasi termis, trauma, maupun allergen. Peradangan dapat ditekan dengan cara menghambat kerja zat-zat seperti prostaglandin yang merupakan mediator inflamasi. Sebagai anti infeksi, kandungan Neomycin Sulphate dan Polymixin B Sulphate secara bersama-sama aktif terhadap organisma patogen pada mata antara lain : Staphilococcus aureus, Eschericia coli, Haemophylus influenzas, Klebsiella/Enterobacter sp, Neisseria sp,dan Pseudomonas aeruginosa. Lyteers diberikan 4 kali satu tetes sehari untuk kedua mata berguna sebagai emolien/pelembut & pengganti air mata untuk pasien yang sering merasakan matanya kering setelah beraktivitas. Hal ini dapat mengurangi iritasi pada kedua mata. Lyteers berisi ion natrium dan kalium dengan Benzalkonium Cl.

Sedangkan untuk sistemiknya dapat diberikan antibiotic spectrum luas seperti golongan sefalosporin, yaitu cefadroxyl. Antibiotik disini digunakan untuk eradikasi bakteri, karena kemungkinan konjungtivitis pada kasus ini disebabkan oleh bakteri. Dan pemberian natrium diklofenak 2 kali 50mg sehari dimaksudkan untuk mengurangi gejala inflamasi, dimana natrium diklofenak bekerja sebagai obat antiinflamasi non steroid. Jika pengobatan diberikan dengan tepat maka prognosis penyakit ini baik. Untuk mencegah penyebaran penyakit ini, pasien dan keluarga diminta memperhatikan higiene pribadi dan menghindari kontak erat dengan individu yang terinfeksi. Pasien disarankan untuk sering cuci tangan dan menghindari penggunaan handuk, saputangan, pakaian, kacamata dan make-up secara bersama-sama untuk mencegah penularan.

KONJUNGTIVITIS BAKTERI
A. Pendahuluan Radang konjungtiva (konjungtivitis) merupakan penyakit mata paling umum di dunia. Konjungtivitis merupakan suatu keadaan dimana konjungtiva mengalami suatu inflamasi yang mengakibatkan dilatasi pembuluh darah konjungtiva sehingga mata tampak merah. Gejala penting konjungtivitis adalah sensasi benda asing, yaitu sensasi tergores atau panas, sensasi penuh disekitar mata, gatal, dan fotofobia. Tanda penting konjungtivitis adalah hiperemia, air mata berlebih, eksudasi, pseudoptosis, hipertropi papiler, kemosis, folikel, pseudomembran, granuloma, dan adenopati preaurikuler. Penyebanya umumnya eksogen, namun dapat endogen. Ada tiga tipe utama, yakni konjungtivitis infeksi, alergi, dan kimia.1,2 Konjungtivitis infeksi biasanya disebabkan oleh virus dan bakteri. Konjungtivitis bakteri merupakan infeksi bakteri yang melibatkan membran mukosa pada permukaan mata. Kondisi ini biasanya mengalami remisi sendiri (self-limiting illness) pada kasus yang ringan, namun kadang-kadang dapat menjadi berat atau mendasari terjadinya penyakit sistemik.2

B. Anatomi Fisiologi Konjungtiva adalah membran mukosa yang tipis dan trasparan yang menutupi permukaan posterior kelopak mata (konjungtiva palpebralis) dan permukaan anterior sclera (konjungtiva bulbaris). Konjungtiva mengandung epitel squamous non keratinosit dengan sejumlah sel goblet dan subtansia propria yang tipis, kaya pembuluh darah, dan mengandung pembuluh limfe, sel plasma, makrofag, dan sel mast. Konjungtiva bersambungan dengan kulit pada tepi kelopak (mucocutaneus junction) dan dengan epitel kornea di limbus. Konjungtiva mengandung kelenjar musin yang dihasilkan oleh sel Goblet.
7

Musin bersifat membasahi bola mata terutama kornea. Di bawah konjungtiva bulbi terdapat episklera dan sklera.3,4,5,6

Gambar 1.Anatomi mata dan kelopak mata4

Konjungtiva terdiri atas 3 bagian, yaitu: konjungtiva palpebralis, konjungtiva bulbi, dan konjungtiva forniks. Konjungtiva palpebralis melapisi permukaan posterior kelopak mata dan melekat erat pada tarsus. Di tepi superior dan inferior tarsus, konjungtiva melipat ke posterior (pada forniks superior dan inferior) dan menutupi jaringan episklera dan menjadi konjungtiva bulbaris. Konjungtiva forniks, merupakan tempat peralihan konjungtiva palpebralis dengan konjungtiva bulbi. Konjungtiva bulbi dan forniks berhubungan sangat longgar dengan jaringan di bawahnya sehingga bola mata mudah bergerak.3,5,6 Konjungtiva bulbi, melekat longgar ke septum orbitale di forniks dan melipat berkali-kali. Lipatan ini memungkinkan bola mata bergerak dan memperbesar permukaan konjungtiva sekretorik. Duktus-duktus kelenjar
8

lakrimalis bermuara ke forniks temporal superior. Kecuali di limbus (tempat kapsul Tenon dan konjungtiva menyatu sejauh 3 mm), konjungtiva bulbaris melekat longgar ke kapsul tenon dan sklera di bawahnya. Konjungtiva bulbaris yang lunak, mudah bergerak dan tebal (plika semiulnaris) terletak di canthus medial. Struktur epidermoid yang kecil semacam daging (karunkula) menempel superfisial ke bagian dalam plika semiulnaris dan merupakan zona transisi yang mengandung elemen kulit dan membran mukosa.3

Histologis Lapisan epitel konjungtiva terdiri dari dua hingga lima lapisan sel epitel silinder bertingkat, superfisisal, dan basal. Lapisan epitel konjungtiva di dekat limbus, di atas karunkula, dan di dekat persambungan mukokutan pada tepi kelopak mata terdiri dari sel-sel epitel skuamosa.Sel-sel epitel superfisial mengandung sel-sel goblet bulat atau oval yang mensekresi mukus. Mukus mendorong inti sel goblet ke tepi dan diperlukan untuk dispersi lapisan air mata secara merata di seluruh prekornea. Sel-sel epitel basal berwarna lebih pekat dari pada sel-sel superfisial dan di dekat limbus dapat mengandung pigmen.3 Stroma konjungtiva dibagi menjadi satu lapisan adenoid (superfisial) dan satu lapisan fibrosa (profundus). Lapisan adenoid mengandung jaringan limfoid dan di beberapa tempat dapat mengandung struktur semacam folikel tanpa sentrum germinativum. Lapisan fibrosa tersusun dari jaringan penyambung yang melekat pada lempeng tarsus. Hal ini menjelaskan gambaran reaksi papiler pada radang konjungtiva. Lapisan fibrosa tersusun longgar pada bola mata.3 Kelenjar air mata asesori (kelenjar Krause dan Wolfring), yang struktur dan fungsinya mirip kelenjar lakrimal, terletak di dalam stroma. Sebagian besar kelenjar krause berada di forniks superior, dan sedikit ada di forniks inferior. Kelenjar Wolfring terletak di tepi atas tarsus superior.3

Suplai Darah, Limfe, dan Persarafan Arteri-arteri konjungtiva berasal dari arteri siliaris anterior dan arteri palpebralis. Kedua arteri ini beranastomosis bebas dan bersama dengan banyak vena konjungtiva yang umumnya mengikuti pola arterinya-membentuk jaringanjaringan vaskuler konjungtiva yang banyak sekali. Pembuluh limfe konjungtiva tersusun dalam lapisan superfisisal dan lapisan profundus dan bersambung dengan pembuluh limfe kelopak mata hingga membentuk pleksus limfatikus. Konjungtiva menerima persarafan dari percabangan pertama nervus V (nervus oftalmikus). Saraf ini hanya sedikit mempunyai serat nyeri.3

C. Etiologi Bentuk konjungtivitis bakterial di kelompokkan menjadi konjungtivitis hiperakutdan subakut, akut catarrhal, dan menahun. Penyebab paling sering dari konjungtivitis hiperakut adalah N. Gonorrhoeae dan Neisseria meningitidis. Konjungtivitis subakut disebabkan oleh Haemophilus influenzae, sedangkan konjungtivitis kataralis akut biasanya disebabkan oleh Streptococcus

pneumoniae, Staphylococcus aureus, Haemophilus aegyptus. Konjungtivitis bakterial kronik disebabkan oleh Staphylococcus aureus, Moraxella lacunata, Pseudomonas, Enterobacteriaceae dan Proteus spp. Dari kesemuanya, tiga patogen yang paling umum menyebabkan konjungtivitis bakteri adalah Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, dan Staphylococcus aureus.1,4,7,8

D. Patofisiologi Mata mempunyai mekanisme petahanan terhadap invasi bakteri. Mekanisme pertahanan primer terhadap infeksi berupa lapisan epitel yang menutupi konjungtiva dan pertahanan sekunder melibatkan mekanisme imun hematologik yang dibawa oleh pembuluh darah konjungtiva, lisozim bakteriostatik, immunoglobulin pada tear film, kedipan mata, dan bakteri non patogenik yang
10

berkolonisasi pada mata dan berkompetisi dengan organisme yang mencoba menginvasi. Apabila salah satu dari mekanisme pertahanan ini terganggu, maka infeksi bakteri patogen dapat terjadi.2,9 Infeksi bakteri dan eksotoksin yang mereka produksi akan dikenali sebagai antigen. Hal ini akan menginduksi reaksi antigen-antibodi dan menyebabkan terjadinya inflamasi. Pada orang yang sehat, mata akan berusaha untuk kembali ke kondisi homeostasis, dan bakterinya akan dieradikasi. Namun, invasi bakteri yang berat bisa menjadi sangat sulit untuk di lawan, dan menyebabkan terjadinya infeksi konjungtiva dan yang selanjutnya dapat meluas ke kornea dan bagian mata lainnya.9 Konjungtivitis bakteri terjadi akibat pertumbuhan berlebihan dan infiltrasi bakteri pada lapisan epitel konjungtiva dan kadang-kadang pada substansia propria. Sumber infeksinya adalah kontak langsung dengan sekret individu yang terinfeksi, biasanya melalui kontak mata-tangan (eye-hand contact) atau penyebaran infeksi dari organisme yang berkoloni pada mukosa nasal dan sinus pasien sendiri. Pada orang dewasa dengan konjungtivitis bakteri unilateral, sistem nasolakrimal sebaiknya diperiksa karena obstruksi duktus nasolakrimalis, dakriosistitis, dan kanalikulitis dapat menyebabkan konjungtivitis bakteri unilateral.7

E. Gejala Klinik Secara umum, gejala yang biasa timbul pada konjungtivitis bakteri antara lain: Mata merah akibat dilatasi pembuluh darah konjungtiva Injeksi konjungtiva Sekret konjungtiva mukopurulen sampai purulen Edema kelopak mata Rasa tidak nyaman; perih, panas, sensasi benda asing, rasa berpasir. Nyeri tidak ada atau minimal
11

Epifora (air mata berlebih) Fotofobia biasanya tidak ada atau ringan. Kelopak mata sulit dibuka saat bangun tidur, melengket satu sama lain karena adanya sekret (glue eye)

Penglihatan biasanya normal. Penglihatan kabur dapat disebabkan adanya discharge (sekret) atau debris pada tear film.

Biasanya bilateral. Mulai pada satu mata kemudian dapat menyebar dengan mudah ke mata sebelah.5,8,11,12

Gambar 2. Konjungtivitis Bakteri9

1. Konjungtivitis Bakterial Hiperakut (dan subakut) Konjungtivitis bakteri hiperakut merupakan suatu keadaan infeksi yang berat dan membutuhkan penanganan optalmik yang cepat. Onsetnya tiba-tiba (12-24 jam) dan ditandai dengan adanya sekret purulen kuning kehijauan yang berlebihan disertai edema kelopak mata, hiperemia, chemosis (utamanya di limbus), dan sering terdapat limfadenopati preaurikuler. Dapat juga terjadi perkembangan menjadi keratitis yang ditandai dengan fotofobia, penurunan visus, dan fluorescein uptake. Penyebabnya adalah N. Gonorrhoeae dan N. Meningitidis, dimana causa oleh N. Gonorrhoeae lebih sering terjadi. Infeksi dari kedua jenis ini mempunyai gejala yang mirip, dan hanya dapat dibedakan melalui pemeriksaan mikrobiologi.1,4,10

12

Infeksi okuler gonokokkal biasanya dialami oleh neonatus (ophtalmia neonatorum) dan pada dewasa muda. Pada bayi, penyakit ini umunya ditandai dengan adanya discharge bilateral tiga sampai empat hari setelah di lahirkan (gambar 3). Penularannya biasanya terjadi dari ibu ke bayi saat persalinan. Pada dewasa,penularannya biasanya dari genitalia ke tangan kemudian ke mata (berkaitan dengan penyakit menular seksual).4 Konjungtivitis bakterial subakut yang biasanya disebabkan oleh H. Influenzae ditandai dengan adanya eksudat berair, tipis, atau berawan.4

Gambar 3. Konjungtivitis hiperakut neonatal yang di sebabkan oleh N. Gonorrhoeae4

2. Konjungtivitis Bakterial Kataralis Akut

Gambar 4. Konjungtivitis bakterial akut yang disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae4

13

Konjungtivitis ini sering terdapat dalam bentuk epidemic atau disebut mata merah oleh orang awam. Penyakit ini ditandai dengan timbulnya hiperemia konjungtiva secara akut, dan jumlah eksudat mukopurulen sedang. Gejala lainnya adalah rasa terbakar, iritasi, dan air mata keluar. Pasien sering mengeluhkan kedua kelopak matanya melengket saat bangun dari tidur. Pembengkakan konjungtiva dan edema kelopak mata ringan dapat timbul. Gejala dari konjungtivitis akut ini lebih ringan, dan progresifitasnya lebih rendah dibandingkan dengan konjungtivitis hiperakut.1,4 3. Konjungtivitis Bakterial Kronik Konjungtivitis ini biasanya terjadi pada pasien dengan obstruksi duktus nasolakrimalis dan dakriosistitis menahun, yang biasanya unilateral. Infeksi ini juga dapat menyertai blefaritis bacterial menahun atau disfungsi kelenjar meibom. Pada beberapa kasus, konjungtivitis bakterial kronik juga berhubungan dengan seboroik facial.1,4

F. Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasarkan : Anamnesis : gejala yang dialami pasien, penyakit pasien yang lain, pekerjaan, riwayat alergi, terekspos zat kimia, perjalanan penyakit, riwayat keluarga. Pemeriksaan fisik: a. Injeksi konjungtiva dapat muncul secara segmental atau difus, sekret yang muncul lebih purulen, kelopak mata sering melengket satu sama lain terutama saat bangun tidur. Pembesaran nodus limfatikus preaurikuler jarang ditemukan pada konjungtivitis bakteri, namun biasanya ditemukan pada konjungtivitis bakteri yang berat. Dapat terjadi pembengkakan kelopak mata yang ringan, refleks pupil normal.2,10 b. Dengan menggunakan slit lamp, inflamasi dari konjungtiva dapat terlihat berbentuk follikular atau papilar. Pola follikular pembuluh darahnya
14

tampak disekitar dasar dari lesi kecil yang timbul, dimana hal ini biasanya nampak pada infeksi viral. Pada infeksi bakteri, polanya adalah papilar dimana pembuluh darah berada pada pusat lesi kecil yang timbul.2 Pemeriksaan laboratorium: pemeriksaan mikroskopik kerokan konjungtiva dengan pewarnaan Gram atau Giemsa: banyak netrofil polimorfonuklear, kultur dari sekret konjungtiva. Pewarnaan gram dan kultur konjungtiva tidak diperlukan pada kasus ringan (uncomplicated), tetapi harus dilakukan pada situasi berikut: Host yang memiliki kerentanan yang tinggi, seperti

neonatus,individudengan immunocompromised. Kasus konjungtivitis purulen berat, untuk membedakannya dari konjungtivitis hiperpurulen, yang pada umumnya membutuhkan terapi sistemik. Kasus-kasus yang tidak berespon terhadap terapi awal.7,8

Pemeriksaan radiologi: pemeriksaan radiologi tidak biasa dilakukan pada konjungtivitis bakteri, kecuali dicurigai adanya sinusitis dapat di lakukan pemeriksaan CT-Scan dan MRI. CT scan orbita diindikasikan untuk menyingkirkan kemungkinan abses orbital atau pansinusitis, atau jika konjungtivitis berkaitan dengan selulitis orbitalis.2

G. Diagnosis Differensial Adapun diagnosis differensial konjungtivitis bakteri ini antara lain:4,5,6 Konjungtivitis Virus Konjungtivitis Alergi Konjungtivitis Klamidial Keratitis Uveitis Episkleritis
15

Skleritis Blefaritis Glaukoma

Berikut algoritma yang dapat dipakai untuk membantu menegakkan diagnosis dengan keluhan mata merah, termasuk konjungtivitis bakteri:4 Algoritma diferensial diagnosis untuk mendiagnosis penyakit optalmik dengan keluhan mata merah4

16

Tabel1 .Differensial Diagnosis Mata Merah dengan Visus Normal ataupun Turun6

Gejala

Konjungtivitis

Keratitis / Ulkus Kornea

Uveitis (Iritis) Akut Siliar Presipitat -

Glaukoma Akut Episkleral Edema +++

Injeksio Kornea Kekeruhan kornea Fotofobia Halo Tajam Penglihatan

Konjungtiva Jernih -

Siliar Fluoresein +/+++

- / Ringan Normal, atau suram ringan karena sekret

+++ Menurun

+++ Menurun

+ ++ Menurun

Sekret Rasa nyeri Gatal Fler Bilik mata depan Tekanan intraokuler Pupil

+ +/Normal

++ +/Normal

++ ++ Normal

++/+++ +/Dangkal

Normal

Normal

Rendah

Tinggi

Normal

Normal/Miosis

Miosis ireguler

Midriasis nonreaktif Episkleral

Vaskularisasi

a.konjungtiva posterior

Siliar

Pleksus siliar

Pengobatan

Antibiotik/antiviral

Antibiotik, sikloplegik

Steroid, sikloplegik

+ Miotika diamox +

17

Tabel 2. Differensial Diagnosis Konjungtivitis1,5,6 Temuan Klinik dan Sitologi Hiperemia Gatal Lakrimasi Hemoragik Konjungtivitis Bakteri Umum (berat) Minimal Sedang + Konjungtivitis Virus Konjungtivitis Klamidial Konjungtivitis Alergi Umum (sedang) Hebat Sedang Minimal (serous Banyak Eksudasi (mukopurulen sampai purulen) Minimal (serous) Banyak (mukoid sampai mukopurulen) sampai mukoid, putih, berserabut, lengket) Kemosis Papil Folikel ++ +/+/Pseudomembran (Streptococcus, C.diphterica) Panus + Hanya sering Adenopati Preaurikuler Jarang Sering pada konjungtivitis inklusi Pewarnaan kerokan dan eksudat Disertai sakit tenggorokan dan demam Kadang-kadang Kadang-kadang Tidak pernah Tidak pernah Bakteri, PMN Monosit PMN, plasma sel badan inklusi Eosinofil Tidak ada +/+/+ +/+/++ ++ + +

Umum (sedang) Umum (sedang) Minimal Banyak + Minimal Sedang -

18

H. Terapi Kebanyakan kasus konjungtivitis akut dapat ditangani dengan terapi antibiotik empirik. Terapi awal konjungtivitis bakteri akut ringan sedang meliputi antibiotiktopikal seperti tetes mata polymixin combination drops, aminoglikosida, atau fluoroquinolone (ciprofloxacin, ofloxacin, levofloxacin, moxifloxacin, atau gatifloxacin) drops, atau salep bacitracin atau ciprofloxacin. Terapi spesifik terhadap konjungtivitis bakterial tergantung temuan agen mikrobiologiknya. Sambil menunggu hasil laboratorium, dokter dapat mulai dengan terapi antimikroba spektrum luas. Pada setiap konjungtivitis purulen, harus dipilih antibiotika yang cocok untuk mengobati infeksi Neisseria gonorrhoeae dan N. Meningitidis. Terapi sistemik dan topikal harus segera dilaksanakan setelah bahan (sampel) untuk pemeriksaan laboratorium telah diperoleh.1,2,5,7,10 Pada konjungtivitis purulen dan mukopurulen akut, saccus conjungtivae harus dibilas dengan larutan garam fisiologis agar dapat menghilangkan sekret konjungtiva. Untuk mencegah penyebaran penyakit ini, pasien dan keluarga diminta memperhatikan higiene pribadi dan menghindari kontak erat dengan individu yang terinfeksi. Individu yang telah terinfeksi sebaiknya sering cuci tangan dan menghindari penggunaan handuk, linen, sapu tangan, pakaian, kacamata atau make-up secara bersama-sama untuk mencegah penularan.1,2,12 Bila pengobatan tidak memberikan hasil dengan antibiotic setelah 3-5 hari maka pengobatan dihentikan dan ditunggu hasil pemeriksaan mikrobiologik. Apabila tidak ditemukan kuman pada sediaan langsung, maka diberikan antibiotic spektrum luas dalam bentuk tetes mata tiap jam atau salep mata 4 sampai 5 kali sehari. Apabila dipakai tetes mata, sebaiknya sebelum tidur diberi salep mata (sulfasetamid 10-15% atau kloramfenikol). Apabila tidak sembuh dalam satu minggu bila mungkin dilakukan pemeriksaan resistensi,

kemungkinan defisiensi air mata, atau kemungkinan obstruksi duktus nasolakrimalis.6


19

I.

Perjalanan dan Prognosis Konjungtivitis bakterial akut hampir selalu sembuh sendiri. Tanpa diobati, infeksi dapat berlangsung selama 10-14 hari, jika diobati dengan memadai, 1-3 hari, kecuali konjungtivitis Staphylococcus(yang dapat berlanjut menjadi blefarokonjungtivitis dan memasuki tahap menahun) dan konjungtivitis gonokokkus (yang bila tidak diobati berakibat ulkus kornea, abses kornea, perforasi kornea, dan endoftalmitis). Konjungtivitis bakterial menahun mungkin tidak dapat sembuh sendiri dan menjadi masalah pengobatan yang menyulitkan.1,11,12

20

DAFTAR PUSTAKA
1. Garcia-Ferrer, Francisco J.; Schwab, Ivan R.; Shetlar, Debra J. Conjunctiva. In: Riordan-Eva, Paul; Whitcher, John P., Eds. Vaughan & Asbury's General Ophthalmology, 16th Edition. 2004. London: McGraw-Hill; p.101-5. 2. Marlin, David S. Bacterial Conjunctivitis. Hampton Roy Sr, ed. Available in: http://emedicine.medscape.com/article/1191730-overview#showall. Updated: Jun 7, 2011. Accessed on October 26, 2011. 3. Riordan-Eva, Paul. Anatomy & Embryology of the Eye. In: Riordan-Eva, Paul; Whitcher, John P., Eds. Vaughan & Asbury's General Ophthalmology, 16th Edition. 2004. London: McGraw-Hill; p.3-7. 4. Morrow, Gary L.; Abbott, Richard L. Conjunctivitis. In: American Family Physician. February 15, 1998. Published by American Academy of Family Physicians. Available in: www.aafp.org/afp/980251/morrow.html. Accessed on October 26, 2011. 5. Lang, Gerhard K.; Lang, Gabriele E. Conjunctiva. In: Gerhard K.Lang, Ed. Ophthalmology: A Pocket Textbook Atlas, 2nd Edition. 2006. New York: Thieme; p.67-83. 6. Ilyas, Sidarta. Ilmu Penyakit Mata. Edisi 3. 2008. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. hal.109-28. 7. Skuta, Gregory L.; Cantor, Louis B.; Weiss, Jayne S. Basic and Cliniccal Science Cources : External Disease dan Cornea, Section 8, 2008-2009. 2008. Singapore : American Academy of Ophthalmology; p.169-71. 8. Wood, Mark. Conjunctivitis: Diagnosis and Management. In: Journal of Community Eye Health, Vol.12 (30), 1999. Available in:

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1706007/ . Accessed on October 26, 2011. 9. Anonymous. Acute Bacterial Conjungtivitis. Available in:

www.cms.revoptom.com/handbook/sect2c.htm. Accessed on October 26, 2011.


21

10. Singer, Michael S.; Pavan-Langston, Deborah; Levy, Bruce D. Conjunctivitis (Rad Eye). Available in:

http://www.bhchp.org/BHCHP%20Manual/pdf_files/Part1_PDF/Conjunctivitis. pdf . Accessed on October 26, 2011. 11. Anonymous. Bacterial Conjungtivitis. Last Updated: January 27, 2011. Available in: http://www.patient.co.uk/doctor/Bacterial-Conjunctivitis.htm . Accessed on October 26, 2011. 12. Anonymous. Environmental Conjungtivitis. American College of Occupational and in:

Medicine.

Available

http://www.mdguidelines.com/conjunctivitis . Accessed on October 26, 2011.

22