Anda di halaman 1dari 9

STRATEGI PENGENDALIAN NEMATODA PARASIT PADA TANAMAN NILAM

Ika Mustika dan Yang Nuryani


Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Jalan Tentara Pelajar No. 3, Bogor 16111

ABSTRAK
Nilam (Pogostemon cablin Benth.) merupakan salah satu komoditas ekspor penting di Indonesia. Salah satu kendala dalam peningkatan produktivitas tanaman nilam adalah serangan nematoda parasit seperti Meloidogyne spp., Pratylenchus brachyurus, dan Radopholus similis. Serangan nematoda tersebut dapat menurunkan hasil hingga 75%. Strategi pengendalian nematoda pada tanaman nilam di Indonesia dapat dilakukan secara terpadu dengan menggabungkan beberapa komponen pengendalian yang sudah ada, yaitu varietas toleran (Sidikalang, Lhokseumawe, dan Tapaktuan), teknik budi daya (pemupukan, bahan organik, mulsa, kapur pertanian), pestisida nabati (bungkil jarak, tepung mimba), musuh alami (bakteri Pasteuria penetrans, bakteri endofit), jamur penjerat nematoda (Arthrobotrys spp., Dactylella spp.), pengendalian kimiawi dengan nematisida, dan mencegah penyebaran nematoda dari daerah terinfeksi ke daerah yang belum terinfeksi. Kata kunci: Nilam, nematoda, musuh alami, pengendalian terpadu

ABSTRACT
Control strategy of parasitic nematodes on patchouli Patchouli (Pogostemon cablin Benth.) is an important export commodity in Indonesia. One of the problems in increasing patchouli productivity is plant parasitic nematodes namely Meloidogyne spp., Pratylenchus brachyurus, and Radopholus similis. These nematodes reduce patchouli production as high as 75%. Control strategy of nematodes on patchouli in Indonesia must be conducted integrately by combining available components such as tolerant varieties (Sidikalang, Lhokseumawe, and Tapaktuan), culture methods (fertilizers, organic matter, mulch, dolomite), botanical pesticides (castor meal, neem powder), natural enemies (Pasteuria penetrans, endophytic bacteria, Arthrobotrys spp., Dactylella spp.), chemical pesticides, and preventing nematodes spreading from infested to non-infested areas. Keywords: Pogostemon cablin, nematodes, natural enemy, integrated control

ilam (Pogostemon cablin Benth.) merupakan salah satu komoditas ekspor penting di Indonesia karena 90% kebutuhan dunia akan minyak nilam dipasok oleh Indonesia (Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat 1991; Mustofa 1991). Ekspor minyak nilam Indonesia sebesar 8001.500 ton senilai US$ 1853 juta. Minyak nilam atau dikenal dengan nama patchouli oil banyak digunakan sebagai bahan baku, bahan pencampur dan fiksatif (pengikat wangi-wangian) dalam industri parfum, farmasi dan kosmetik, serta industri makanan dan minuman. Daerah penghasil utama minyak nilam adalah Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dengan areal tanam sekitar 9.000 ha (Direktorat Jenderal Bina Produksi

Perkebunan 2004). Dari areal tersebut, 75% tersebar di NAD, 20% di Sumatera Utara, dan sisanya di Sumatera Barat, Bengkulu, dan daerah lainnya di Sumatera dan Jawa. Meskipun tanaman nilam mempunyai prospek yang cukup cerah untuk dikembangkan, dalam pembudidayaannya terdapat beberapa kendala di antaranya penyakit yang disebabkan oleh nematoda (Djiwanti dan Momota 1991; Mulyodihardjo 1991; Mustika et al. 1991). Serangan nematoda dijumpai hampir di seluruh pertanaman nilam di Jawa Barat, Sumatera Barat, dan NAD. Nematoda utama pada tanaman nilam adalah Pratylenchus brachyurus, Meloidogyne spp. (M. incognita dan M. javanica), dan Radopholus similis. Serangan nematoda secara tidak langsung

dapat mempengaruhi proses fotosintesis dan transpirasi serta status hara tanaman sehingga pertumbuhan tanaman terhambat, warna daun menjadi kuning klorosis dan akhirnya tanaman mati (Evans 1982; Melakeberhan et al. 1987). Serangan nematoda dapat menyebabkan kerugian hasil hingga 75% (Mustika 1996). Selama kurun waktu 60 tahun terakhir, pengendalian nematoda dengan menggunakan nematisida kimia (sintetis) masih memegang peranan penting karena cara-cara pengendalian lain belum mampu memberikan hasil yang memuaskan. Cara pengendalian nematoda dengan menggunakan nematisida kimiawi dapat menimbulkan dampak negatif berupa keracunan pada manusia dan hewan peliharaan, pencemaran air tanah, serta ter7

Jurnal Litbang Pertanian, 25(1), 2006

bunuhnya organisme bukan sasaran termasuk musuh alami nematoda seperti jamur dan bakteri. Pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT), seperti disebutkan dalam UU No. 12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman, PP No. 6 tahun 1995 tentang Perlindungan Tanaman, dan Kepmentan No. 887 tahun 1997 tentang Pedoman Pengendalian OPT, dilaksanakan dengan menerapkan pengendalian hama terpadu (PHT), yaitu suatu cara pengendalian yang memperhatikan kelestarian lingkungan hidup. Dalam PHT, pengendalian OPT dilaksanakan dengan memadukan satu atau lebih teknik pengendalian yang dikembangkan dalam satu kesatuan. Melalui PHT, berbagai cara pengendalian yang kompatibel diterapkan dengan pertimbangan secara teknis dapat dilaksanakan, secara ekonomi menguntungkan, secara sosialbudaya diterima masyarakat, dan secara ekologi dapat dipertanggungjawabkan. Sebagai bagian yang cukup penting dalam pengembangan PHT, pengendalian nematoda pada tanaman nilam harus berwawasan lingkungan. Oleh karena itu, strategi pengendalian nematoda harus didasarkan pada konsep pengendalian yang tepat berdasarkan pertimbangan kelayakan teknologi, ekologi, ekonomi, dan sosial-budaya. Beberapa komponen pengendalian nematoda pada tanaman nilam telah dihasilkan, antara lain teknik budi daya, agen hayati, pestisida nabati, varietas toleran, dan pengendalian kimiawi. Untuk memperoleh teknik pengendalian nematoda secara terpadu, beberapa komponen masih diperlukan antara lain pergiliran tanaman, baik dengan tanaman bukan inang nematoda maupun dengan varietas nilam tahan nematoda atau tanaman perangkap. Strategi pengendalian nematoda pada tanaman nilam akan efektif apabila dilaksanakan secara terpadu dengan menggabungkan beberapa komponen pengendalian, antara lain varietas tahan atau toleran, teknik budi daya (pergiliran tanaman, bahan organik, tanaman perangkap, pemberaan), pengendalian hayati termasuk pemanfaatan pestisida nabati, pengendalian kimiawi, dan mencegah penyebaran nematoda, termasuk peraturan karantina. Berikut ini adalah komponen-komponen pengendalian nematoda pada nilam yang perlu dipadukan satu dengan lainnya agar diperoleh cara pengendalian yang kompatibel. 8

SERANGAN NEMATODA PADA TANAMAN NILAM


Serangan nematoda pada tanaman nilam dilaporkan terdapat di Jawa Barat (Djiwanti dan Momota 1991), Sumatera Barat (Pupuk Iskandar Muda 1991), dan NAD (Sriwati 1999). Beberapa jenis nematoda parasit yang menyerang tanaman nilam adalah P. brachyurus, M. incognita, M. hapla, Scutellonema, Rotylenchulus, Helicotylenchus, Hemicriconemoide dan Xiphinema (Djiwanti dan Momota 1991) serta Radopholus similis (Mustika et al. 1991; Mustika dan Nuryani 1993). Di antara nematoda tersebut, P. brachyurus, M. incognita, dan R. similis adalah yang paling merusak dibandingkan dengan spesies lainnya. Pada umumnya pertanaman nilam tersebar pada tanah dengan pH 4,505,50 (Mustika dan Nurmansyah 1993). Kisaran kemasaman tersebut sangat sesuai bagi perkembangan nematoda parasit terutama Pratylenchus spp. (McLean dalam Wallace 1987). Tanaman nilam yang terserang nematoda pertumbuhannya terhambat, daun-daun menjadi kuning klorosis (mirip kekurangan unsur hara N, P, dan K) atau kemerahan (Gambar 1). Hal ini terjadi karena nematoda merusak perakaran tanaman sehingga penyerapan air dan unsur hara terganggu. Bila populasi Meloidogyne spp. dominan, gejala yang tampak adalah buncak akar (bengkak pada akar), sedangkan bila R. similis atau P. brachyurus yang dominan, gejala yang tampak adalah luka-luka nekrosis pada akar (Mustika dan Rachmat 1998; Mustika dan Nazarudin 1999). Kadang-kadang gejala tersebut muncul bersamaan. Pada serangan lanjut akar akan membusuk dan akhirnya tanaman mati. Gejala khas serangan nematoda pada tanaman nilam di lapang adalah penyebarannya sporadis atau berkelompok. Serangan nematoda

juga menyebabkan tanaman lebih mudah terserang patogen atau OPT lain seperti jamur, bakteri, dan virus. Serangan menurunkan produktivitas dan kualitas hasil. Pada skala rumah kaca, serangan nematoda dapat mengurangi bobot bagian atas tanaman (pucuk, daun, dan cabang) sekitar 3,2645,19%, bergantung pada jenis nematoda yang menyerang (Harni dan Mustika 2000). Serangan nematoda juga dapat menurunkan kandungan klorofil A dan B berturut-turut 5,8926,91% dan 12,47%, serta kadar minyak sebesar 5,3314,16% (Sriwati 1999). Di lapangan, serangan nematoda menurunkan produksi nilam hingga 75% (Mustika 1996). Kultivar Jawa (Girilaya) lebih toleran terhadap nematoda daripada kultivar Aceh (Sidikalang), Tapak Tuan dan Lhokseumawe (Mustika dan Nuryani 1993).

STRATEGI PENGENDALIAN
Nematoda parasit tanaman dapat dikendalikan dengan cara sanitasi, pergiliran tanaman, pemilihan waktu tanam, penggunaan tanaman resisten, bahan kimia, dan secara hayati dengan menggunakan agen biotik maupun abiotik (Sayre 1980a; 1980b). Di negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika Serikat, pengendalian nematoda dilakukan secara hayati terpadu antara lain dengan menggunakan musuh alami (agen hayati), bahan organik, tanaman antagonis, dan rotasi tanaman (Dickson et al. 1992a; Rodriguez-Kabana 1992; Madulu et al. 1994). Franco et al. (1992) telah menyusun strategi pengendalian nematoda secara terpadu menggunakan varietas tahan atau toleran, teknik budi daya, agen hayati, rekayasa genetik, fisik, kimia dan karantina. Keberhasilan pengendalian tersebut

Gambar 1.

Pertanaman nilam sehat (kiri) dan gejala tanaman nilam terserang nematoda (kanan).
Jurnal Litbang Pertanian, 25(1), 2006

didukung oleh transfer teknologi dan evaluasi di tingkat petani melalui pendidikan dan pelatihan. Berdasarkan komponen pengendalian nematoda pada tanaman nilam yang saat ini sudah ada maka strategi pengendalian nematoda di Indonesia akan lebih efektif bila dilaksanakan secara terpadu yang didukung oleh kegiatan penelitian, pendidikan dan pelatihan, serta transfer teknologi dan evaluasi di tingkat petani. Beberapa komponen pengendalian nematoda pada tanaman nilam yang dapat dipadukan menjadi satu kesatuan pengendalian adalah varietas tahan atau toleran, teknik budi daya (pemupukan, pergiliran tanaman, penggunaan bahan organik), pemanfaatan agen hayati, penggunaan pestisida (nabati dan kimia), serta mencegah penyebaran.

Varietas Tahan atau Toleran


Cara yang paling efektif untuk mengendalikan penyakit tanaman termasuk yang disebabkan oleh nematoda adalah dengan menggunakan varietas tahan atau toleran (McKenry dan Roberts 1985; Franco et al. 1992). Di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) telah tersedia 28 nomor nilam Aceh hasil eksplorasi plasma nutfah nilam di berbagai daerah sentra produksi. Kadar minyak nomor-nomor tersebut bervariasi antara 1,603,59% (Nuryani et al. 1999). Untuk mengetahui tingkat ketahanannya ter-

hadap nematoda R. similis, P. brachyurus, dan M. incognita, telah dilakukan pengujian di rumah kaca dan lapangan pada beberapa nomor nilam Aceh dan satu nomor nilam Jawa. Hasil pengujian menunjukkan bahwa, kecuali nomor 0022 (nilam Jawa), tidak ada nomor nilam yang tahan terhadap ketiga spesies nematoda tersebut. Meskipun demikian, tiga nomor (0003, 0013, dan 0024) termasuk agak rentan (toleran) terhadap R. similis, tiga nomor (0003, 0004, dan 0013) toleran terhadap M. incognita, dan enam nomor (0003, 0004, 0007, 0008, 0009, dan 0013) toleran terhadap P. brachyurus (Tabel 1). Dalam upaya mengurangi kerugian hasil akibat serangan nematoda, ada beberapa alternatif penggunaan varietas nilam toleran disesuaikan dengan kondisi lahan, yaitu: 1) pada lahan yang tanahnya terinfeksi M. incognita, nilam yang sesuai adalah nomor 0003, 0004, atau 0013, 2) pada lahan yang tanahnya terinfeksi R. similis, varietas nilam yang dapat ditanam adalah nomor 0003, 0013 atau 0024, 3) pada lahan yang terinfeksi P. brachyurus, varietas yang sesuai adalah nomor 0003, 0004, 0007, 0008, 0009 atau 0013, dan 4) pada lahan yang terinfeksi M. incognita, R. similis, dan P. brachyurus, nilam yang ditanam sebaiknya nomor 0003 atau 0013. Tiga nomor nilam toleran terhadap nematoda, yaitu nomor 0013 (Sidikalang), nomor 0007 (Lhokseumawe), dan nomor 0012 (Tapak Tuan), telah dilepas berturutturut melalui SK Mentan No.319/Kpts/ SR.120/8/2005; No.320/Kpts/SR.120/8/

2005; dan No.321/Kpts/SR.120/8/2005. Ketiga varietas tersebut toleran terhadap nematoda serta potensi produksi dan kadar minyaknya tinggi (Tabel 1). Pengujian lebih lanjut di rumah kaca menunjukkan bahwa nomor 0013 dan 0022 (Pogostemon heyneanus) selain toleran terhadap R. similis, juga toleran terhadap penyakit layu bakteri yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum (Nasrun et al. 2003). Oleh karena itu, nomor 0013 paling ideal untuk dikembangkan lebih lanjut, karena selain toleran terhadap tiga spesies nematoda, juga toleran terhadap bakteri R. solanacearum. Di Indonesia terdapat tiga jenis nilam yaitu nilam Aceh (Pogostemom cablin Benth.), nilam Jawa P. heyneanus Benth.), dan nilam sabun (P. hostensis) (Guenther 1952). Nilam yang umum dibudidayakan di Indonesia adalah nilam Aceh karena kadar minyak dan kualitas minyaknya tinggi (Nuryani dan Hadipoentyanti 1994), tetapi peka terhadap serangan nematoda (Nuryani et al. 2001). Nilam Jawa kadar minyaknya rendah tetapi toleran terhadap serangan nematoda. Ketahanan tanaman terhadap nematoda terjadi melalui beberapa mekanisme, antara lain melalui prapembentukan molekul beracun, adanya penghalang fisik, reaksi hipersensitif, dan terbentuknya senyawa antimikroba atau fitoaleksin (Giebel 1982; Dropkin 1989). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan fenol dan lignin pada akar nilam Jawa lebih tinggi daripada nilam Aceh. Terdapat

Tabel 1. Ketahanan beberapa nomor nilam terhadap nematoda, produksi terna kering, produksi minyak, kadar minyak, dan kadar patchouli alkohol (p.a).
No. 0002 0003 0004 0007 0008 0009 0012 0013 0022 0024 R. similis Rentan Agak rentan (toleran) Rentan Rentan Tidak diuji Sangat rentan Rentan Agak rentan (toleran) Tahan Agak rentan (toleran) M. incognita Tahan Agak rentan (toleran) Agak rentan (toleran) Rentan Rentan Rentan Sangat rentan Agak rentan (toleran) Tahan Tidak diuji P. brachyurus Produksi terna (t/ha) 9,49 11,09 13,28 10,90 12,18 Produksi minyak (kg/ha) 291,30 355,89 375,76 315,06 Kadar minyak (%) 2,65 3,07 2,31 3,21 2,84 2,83 2,89 1,64 p.a. (%) 32,67 32,63 33,31 32,95 32,85 -

Rentan Agak rentan (toleran) Agak rentan (toleran) Agak rentan (toleran) Agak rentan (toleran) Agak rentan (toleran) Sangat rentan Agak rentan (toleran) Tahan Tidak diuji

Nomor 0022 = nilam Jawa (P. heyneanus). Nomor-nomor lainnya = nilam Aceh (P. cablin): Nomor 0007 (Lhokseumawe), 0012 (Tapak Tuan), dan 0013 (Sidiakalang) sudah dilepas. Sumber: Nuryani dan Hadipoentyanti (1994); Nuryani et al. (1999); Nuryani et al. (2004).

Jurnal Litbang Pertanian, 25(1), 2006

indikasi bahwa ketahanan nilam Jawa terhadap nematoda disebabkan oleh tingginya kandungan fenol dan lignin pada akar (Mustika et al. 2001), seperti yang terjadi pada ketahanan tanaman pisang terhadap nematoda R. similis (Fogain dan Gowen 1996; Volette et al. 1998). Untuk memperoleh varietas nilam tahan nematoda dan berkadar minyak tinggi, telah dilakukan fusi protoplas antara nilam Aceh (kadar minyak tinggi, rentan terhadap nematoda) dengan nilam Jawa (toleran terhadap nematoda). Dari 30 genotipe hasil fusi, 12 nomor mengandung fenol dan lignin tinggi yang merupakan indikasi toleran terhadap nematoda (Nuryani et al. 2001). Nomor-nomor hasil fusi dengan kandungan fenol dan lignin tinggi dikelompokkan sebagai berikut: 1. Kelompok dengan kandungan fenol lebih tinggi dari nilam Jawa yaitu nomor 9 II 33. 2. Kelompok dengan kandungan lignin lebih tinggi dari nilam Jawa, yaitu nomor 9 IV 14-0.1 dan 9 II 34-0.1. 3. Kelompok dengan kandungan lignin hampir sama dengan nilam Jawa, yaitu nomor-nomor 2 IV 1-0.6, 9 II 3-0.1, 9 II 8-1.2, 9 I1 6-0.1, 9 II 20-0.4, 9 IV 2-0.2, 9 IV 6-0.1, 9 IV 13-0.1, dan 9 IV 14-0.1. Genotipe-genotipe tersebut memiliki kandungan fenol atau lignin lebih tinggi dari tetuanya nilam Jawa yang tahan terhadap nematoda sehingga nomor-nomor harapan tersebut kemungkinan toleran atau tahan terhadap nematoda. Namun, ketahanan genotipe-genotipe tersebut perlu diuji lebih lanjut baik di rumah kaca maupun di lapangan.

matoda dalam tanah (Dropkin 1980; Rodriguez-Kabana 1992). Jenis tanaman yang digunakan dalam pola pergiliran tanaman sebaiknya bukan merupakan inang nematoda yang menyerang nilam serta mempunyai nilai ekonomi. Cabai, kacang-kacangan, dan akar wangi dapat digunakan dalam pola rotasi tanaman nilam karena bukan merupakan inang nematoda yang menyerang tanaman nilam, khususnya R. similis dan P. brachyurus. Pengendalian M. incognita dengan pergiliran tanaman sangat sulit karena nematoda tersebut mempunyai kisaran inang sangat luas (RodriguezKabana 1992). Meskipun demikian, beberapa jenis tanaman antagonis sangat efektif untuk mengendalikan Meloidogyne spp., antara lain jarak (Ricinus communis), wijen (Sesamum indicum), partridge pea (Cassia fasciculata), marigold (Tagetes spp.), Crotalaria spectabilis dan Crotalaria sp. Tanamantanaman tersebut menghasilkan senyawa yang bersifat antihelmintik atau nematostatik (Gommers dan Bakker, 1998 dalam Rodriguez-Kabana 1992). Nilam Jawa tahan terhadap nematoda (M. incognita, P. brachyurus, dan R. similis) sehingga dapat digunakan dalam pola pergiliran tanaman dengan nilam Aceh. Saat ini pola pergiliran tanaman nilam dilakukan dengan penanaman 12 siklus dengan tanaman lain seperti legum dan palawija. Pergiliran tanaman bertujuan untuk mempertahankan kesuburan tanah, menghindari efek alelopati, serta memutus siklus hama dan penyakit (Emmyzar dan Ferry 2004).

Pemupukan
Agar tanaman tahan terhadap serangan nematoda, pemenuhan akan hara yang berimbang sangat diperlukan. Umumnya tanaman akan mudah terserang nematoda bila kekurangan hara. Setelah terserang nematoda, tanaman menjadi lemah, dan luka pada akar akibat serangan nematoda dapat menjadi tempat masuknya patogen lain seperti jamur, bakteri, dan virus (Mc Kenry dan Roberts 1985). Pada tanah podsolik merah kecokelatan dengan pH 6, takaran pupuk untuk tanaman nilam adalah N 120 kg, P2O5 80 kg, dan K2O 100 kg/ha. Pada tanah latosol cokelat, tanaman nilam perlu dipupuk urea 250 kg, TSP 70 kg, dan KCl 140 kg/ha (Tasma dan Wahid 1988). Pada tanah

Teknik Budi Daya Pergiliran tanaman


Pada umumnya nilam dibudidayakan secara polikultur di lahan bukaan baru dengan sistem perladangan berpindah, tanpa pengolahan tanah dan pemupukan (Djazuli dan Emmyzar 1998). Pola tanam demikian akan memacu perkembangan berbagai hama dan penyakit, karena dalam pola tersebut terdapat berbagai tanaman yang mungkin merupakan inang dari hama atau patogen tertentu termasuk nematoda. Pergiliran tanaman merupakan cara yang efektif untuk mengurangi populasi ne10

podzolik merah kuning, pupuk yang diperlukan adalah N 120 kg (266,70 kg urea), P2O5 80 kg (177,80 kg TSP), dan K2O 100 kg/ha (166,70 kg KCl/ha) (Yudarsif et al. 1994). Penggunaan bahan organik (kotoran ayam, sapi, kambing, sekam padi, serbuk gergaji atau tepung biji mimba) dapat mengurangi populasi nematoda M. incognita dan P. brachyurus pada nilam, dan efektivitasnya hampir sama dengan nematisida karbofuran 3%. Menurut Sayre (1980a), penggunaan bahan organik merupakan dasar dalam pengendalian nematoda secara hayati, karena bahan organik dapat memacu perkembangan mikroorganisme antagonis dalam tanah seperti jamur, bakteri, dan nematoda predator. Tasma dan Wahid (1988) menggunakan mulsa lalang atau belukar sebagai sumber bahan organik. Penggunaan pupuk NPK, dolomit, dan mulsa daun akar wangi pada lahan yang terinfeksi nematoda di Jawa Barat mampu menghasilkan terna basah (bagian daun dan ranting) sekitar 11,44 t/ ha, sedangkan bila tanpa mulsa hasilnya hanya 9,75 t/ha (Mustika et al. 1995). Selain berfungsi sebagai bahan organik, mulsa juga berperan dalam mempertahankan kelembapan tanah. Hasil pelapukan bahan organik bersifat racun terhadap nematoda serta mampu memacu perkembangbiakan dan aktivitas mikroorganisme antagonis yang merupakan musuh alami nematoda seperti jamur, bakteri, dan antagonis lainnya (Sayre 1980a). Pada umumnya pertanaman nilam tersebar pada tanah dengan kemasaman (pH) 4,505,50 (Mustika dan Nurmansyah 1993). Menurut McLean dalam Wallace (1973), kisaran kemasaman tersebut sangat sesuai bagi perkembangan nematoda parasit, terutama Pratylenchus spp. Oleh karena itu, penambahan kapur pertanian atau dolomit sangat diperlukan untuk menekan perkembangan nematoda. Pemberian dolomit 500 kg/ha meningkatkan pH tanah dari 5,15 menjadi 6,04, menekan populasi nematoda Pratylenchus dan Meloidogyne sekitar 55%, serta meningkatkan produksi daun basah sebesar 121% (Mustika et al. 1995). Beberapa jenis tanaman diketahui mengandung bahan aktif yang dapat membunuh nematoda (Alam dan Jairajpuri 1990). Tanaman tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati dan diaplikasikan dalam bentuk cair, tepung atau butiran. Selain itu, tanaman tersebut
Jurnal Litbang Pertanian, 25(1), 2006

dapat dimanfaatkan sebagai tanaman perangkap (trap crop) yang diusahakan dalam bentuk pola tanam seperti pergiliran tanaman atau tumpang sari. Di Amerika, tanaman jarak dan wijen digunakan dalam pola pergiliran tanaman kacang tanah, kedelai, dan kapas untuk mengendalikan nematoda buncak akar (Meloidogyne spp.). Tanaman jarak dan wijen sangat efektif menekan populasi Meloidogyne spp. serta mampu meningkatkan hasil kacang tanah dan kedelai (RodriguezKabana. 1992). Pola pergiliran tanaman dengan menggunakan wijen atau jarak disebut sebagai pola pergiliran tanaman aktif karena kedua tanaman tersebut mengeluarkan eksudat akar yang toksik terhadap Meloidogyne spp.

Pengendalian Hayati
Nematoda mempunyai banyak musuh alami termasuk jamur, bakteri, dan nematoda predator (Sayre 1980a; McKenry dan Roberts 1985). Musuh alami dari golongan jamur antara lain adalah Arthrobotrys oligospora, Dactylaria brochopaga, Dactylella spp., Paecilomyces lilacinus, Catenaria spp., dan Nematophthora gynophila, dari golongan bakteri adalah Pasteuria penetrans dan dari golongan nematoda predator di antaranya adalah Mononchus sp., Seinura sp., dan Discolaimus sp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bakteri P. penetrans serta jamur Arthrobotrys spp., Dactylaria spp., dan Dactylella spp. cukup efektif untuk menekan populasi nematoda Meloidogyne spp. pada tanaman nilam. P. penetrans adalah bakteri obligat yang dapat memarasit sekitar 205 spesies nematoda parasit tanaman, termasuk 96 genus dan 10 ordo yang tersebar di seluruh dunia (Sturhan 1988). Nematoda parasit tanaman yang dapat terinfeksi oleh P. penetrans antara lain adalah M. incognita, M. arenaria, M. javanica, Pratylenchus scribneri, P. brachyurus, Helicotylenchus, Xiphinema diversicaudatum, dan R. similis. Bakteri tersebut menyebabkan nematoda betina tidak dapat berkembang lebih lanjut, reproduksinya terhambat dan akhirnya mati (Sayre 1980a; 1980b; Stirling 1987; Cho et al. 2003). Bakteri P. penetrans merupakan agen hayati yang cukup potensial untuk digunakan sebagai pengendali nematoda. Spora bakteri menempel pada tubuh nemaJurnal Litbang Pertanian, 25(1), 2006

toda kemudian berkecambah dan menembus kutikula nematoda. Selanjutnya perkembangbiakan nematoda terhambat dan akhirnya mati (Gambar 2). Pada tanaman nilam, penggunaan P. penetrans yang dikombinasikan dengan bahan organik (kotoran sapi) dapat menekan populasi nematoda (Meloidogyne spp. dan P. brachyurus) sehingga produksi terna meningkat 70,95% (Mustika et al. 2000). Agen hayati lain yang cukup potensial dikembangkan sebagai pengendali nematoda pada tanaman nilam adalah jamur Arthrobotrys sp., Dactylaria sp. (Mustika 1998), serta bakteri endofit Bacillus subtilis dan Pseudomonas flourescens (Harni et al. 2005). Nematoda yang terserang jamur Arthrobotrys atau Dactylaria terperangkap atau terjerat dalam jaringan hifa jamur tersebut sehingga aktivitas dan perkembangbiakan nematoda berkurang (Sayre 1980a; Jatala 1985; Mustika 1998). Penggunaan jamur Arthrobotrys sp. dikombinasikan dengan kotoran sapi dapat menekan populasi nematoda (Meloidogyne spp. dan P. brachyurus) sehingga produksi terna meningkat 31,32% (Mustika et al. 2000). Bakteri endofit dapat menghambat perkembangan nematoda melalui antibiotik dan enzim pendegradasi yang dihasilkan oleh bakteri tersebut (Hallmann et al. 2001). Bakteri P. penetrans serta jamur Arthrobotrys sp., Dactylaria, dan Dactylella sp. efektif untuk mengendalikan nematoda pada tanaman nilam. Penggunaan P. penetrans dapat mengurangi populasi Meloidogyne sebesar 88% dan P. brachyurus 90%, serta meningkatkan produksi terna 4771% (Mustika et al. 2000). Aplikasi Arthrobotrys sp. dapat mengurangi populasi nematoda Meloidogyne spp. dan P. brachyurus pada akar nilam

berturut-turut sebesar 86% dan 20% sehingga produksi terna meningkat 31,32%. Efektivitas jamur Arthrobotrys tersebut hampir sama dengan karbofuran (Mustika et al. 2000). Penggunaan bakteri endofit masih pada tahap percobaan di rumah kaca.

Pestisida Nabati
Berbagai jenis tanaman diketahui mengandung senyawa toksik terhadap nematoda. Grainge dan Achmed (1988) mengemukakan bahwa sekitar 2.400 jenis tanaman mengandung racun yang dapat mematikan hama tanaman, 147 jenis di antaranya dapat mematikan nematoda. Mustika (1999) menyatakan bahwa beberapa tanaman penting yang berfungsi sebagai nematisida nabati dan sudah banyak diteliti di Indonesia adalah mimba (Azadirachta indica), tagetes (T. erecta, T. minuta), srikaya (Annona squamosa, A. glabra, A. montana, A. reticulata), jarak (R. communis), serai wangi (Cymbopogon nardus), serai dapur (C. citratus), lempuyang pahit (Zingiber americans), lempuyang wangi (Z. aromaticum), dan lempuyang gajah (Z. zerumbet). Di antara tanaman-tanaman tersebut, mimba, jarak, tagetes, dan srikaya paling banyak digunakan. Kandungan bahan aktif mimba terutama adalah azadirachtin. Bungkil jarak mengandung senyawa aktif ricin yang sangat beracun bagi nematoda. Kandungan bahan aktif dalam srikaya yang bersifat nematisidal adalah asimisin dan anonin, sedangkan kandungan bahan aktif dalam tagetes adalah senyawa tiopenik (Gommers 1973). Jarak, mimba, serai dapur, Crotalaria mucronata, dan Ocimum sanctum dapat membunuh nematoda karena bagianbagian tanaman tersebut mengandung senyawa racun terhadap nematoda antara lain alkaloid dan tanin (Grainge dan Achmed 1988). Jarak mengeluarkan senyawa antihelmintik (nematostatik) sehingga dapat digunakan sebagai tanaman antagonis untuk mengendalikan nematoda (Rodriguez-Kabana 1992). Senyawa ricin dalam bungkil jarak dapat membunuh beberapa spesies nematoda, seperti Trichodorus christiei, Xiphinema americanum, Helicotylenchus erithrinae, Globodera rostochiensis, Heterodera schachtii, Hoplolaimus indicus, M. incognita, M. arenaria, dan M. javanica (Grainge dan Achmed 1988). Ekstrak 11

Gambar 2.

Nematoda terinfeksi oleh spora bakteri P. penetrans.

sederhana daun jarak 10% mampu membunuh P. brachyurus hingga 100% pada empat hari setelah perlakuan (Harni dan Mustika 1998). Hasil penelitian di rumah kaca menunjukkan bahwa pemberian bungkil jarak 10 g/2 kg tanah mampu menekan populasi nematoda P. brachyurus pada tanaman nilam hingga 61% (Mustika et al. 2000). Ekstrak daun jarak (Harni dan Mustika 1998) atau bungkil jarak (Mustika 1999) juga mampu menekan populasi P. brachyurus pada tanaman nilam. Menurut Grainge dan Achmed (1988), semua bagian tanaman jarak mengandung senyawa yang bersifat nematisidal antara lain ricinin. Oleh karena itu, jarak sangat potensial digunakan sebagai pestisida nabati, khususnya untuk mengendalikan nematoda Mimba merupakan salah satu tanaman yang banyak kegunaannya, yang sangat penting adalah sebagai pestisida nabati (Schmuterrer 1995). Mimba mengandung senyawa yang bersifat pestisidal seperti nimbidin, thiomenon, azadirachtin, nimbin, nimbidic acid, kaemferol, quercetin, meliantriol, dan salanin (Alam dan Jairajpuri 1990). Mimba efektif mengendalikan nematoda seperti Aphelenchus avenae, Helicotylenchus erythrinae, Hoplolaimus indicus, M. arenaria, M. incognita, M. javanica, P. brachyurus, P. delattrei, dan Rotylenchulus reniformis (Grainge dan Achmed 1988). Hasil penelitian in vitro menunjukkan bahwa ekstrak sederhana daun mimba dengan konsentrasi 1,50; 1; dan 0,50 kg daun segar/l air mampu membunuh P. brachyurus setelah 3 hari perlakuan (Harni dan Mustika 1998).

digunakan untuk tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan, yaitu dazomet 98%, karbofuran 3% (empat nama dagang), fenamifos 10%, natrium metam (tiga nama dagang), etoprofos 10%, kadusafos 10%, dan oksamil 100,60 g/l (Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Hortikultura 1996). Pengendalian secara kimiawi umumnya dilakukan menggunakan nematisida yang bersifat fumigan dan nonfumigan. Penggunaan nematisida nonfumigan bertujuan untuk melindungi tanaman agar tetap berproduksi meskipun nematoda tidak tereradikasi. Nematisida nonfumigan digunakan sebelum, pada saat, atau setelah tanam. Di luar negeri, beberapa jenis nematisida nonfumigan yang umum digunakan untuk mengendalikan nematoda adalah karbamat, aldikarb, dan oksamil.

brachyurus, dan 4) pemberdayaan penangkar benih, baik yang diusahakan oleh pemerintah maupun swasta.

Transfer Teknologi dan Evaluasi di Tingkat Petani


Transfer teknologi dan evaluasi di tingkat petani dapat dilakukan melalui on farm research yang melibatkan petani andalan. Untuk itu, semua komponen pengendalian nematoda nilam yang sudah ada perlu dikaji di tingkat petani melalui kerja sama Balittro dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, disesuaikan dengan varietas nilam dan spesies nematoda yang dominan di sentra produksi dan daerah pengembangan. Dalam pengkajian ini, komponen-komponen pengendalian diaplikasikan secara terpadu. Agar petani dapat mengadopsi teknologi, perlu dilakukan pelatihan dan pendidikan para petugas melalui Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT).

Mencegah Penyebaran
Salah satu cara pengendalian nematoda parasit adalah dengan mencegah penyebarannya dari suatu daerah ke daerah lain yang diketahui masih bebas dari nematoda parasit tertentu. Meskipun secara ekonomi mencegah penyebaran nematoda secara langsung tidak menguntungkan, pada keadaan tertentu, apabila cara tersebut dilakukan secara terintegrasi dengan cara-cara lainnya akan mampu menekan populasi nematoda. Nematoda parasit bergerak sangat lambat. Untuk dapat menyebar, nematoda memerlukan media pembawa seperti tanah, tanaman, dan manusia. Penyebaran dapat juga melalui angin, air, dan binatang. Stadia aktif hampir semua nematoda sangat rentan terhadap kekeringan. Untuk penyebaran jarak jauh, beberapa nematoda mempunyai stadia tahan atau stadia istirahat yang tahan terhadap kekeringan. Pada keadaan lingkungan yang sesuai, nematoda pada stadia tahan atau stadia istirahat tersebut akan berkembang biak dan membentuk suatu populasi. Mencegah penyebaran atau masuknya nematoda ke daerah lain dapat dilakukan dengan: 1) sanitasi benih dengan mencuci atau membersihkan benih menggunakan nematisida dan desinfektan yang tidak mempengaruhi daya tumbuh benih, serta sanitasi alat transportasi dan lainlain, 2) tidak menggunakan benih dari daerah yang terserang nematoda, 3) sertifikasi benih nilam bebas nematoda (Meloidogyne spp., R. similis, dan P.

Pengendalian secara Terpadu


Pengendalian secara terpadu dilakukan dengan menggabungkan beberapa komponen pengendalian yang sudah ada seperti varietas tahan atau toleran, teknik budi daya (pergiliran tanaman, bahan organik, tanaman perangkap, pemberaan), pengendalian hayati termasuk pemanfaatan pestisida nabati, pengendalian kimiawi, dan mencegah penyebaran. Saat ini pengendalian terpadu nematoda pada tanaman nilam meliputi varietas toleran (Sidikalang), agen hayati (bakteri P. penetrans), kapur pertanian, mulsa dan pestisida nabati (bungkil jarak atau tepung biji mimba). Penerapan pengendalian tersebut dapat meningkatkan produksi terna hingga 75% (Mustika et al. 2000). Pengendalian dengan menggabungkan komponen pengendalian penyakit dan teknik budi daya lainnya masih perlu diteliti.

Pengendalian Kimiawi
Pengendalian secara kimiawi menggunakan nematisida harus merupakan alternatif terakhir apabila teknik pengendalian yang lain dinilai tidak berhasil, dan harus dilakukan secara bijaksana. Yang dimaksud dengan penggunaan nematisida secara bijaksana adalah: 1) nematisida yang digunakan adalah jenis yang terdaftar dan atau diizinkan oleh Menteri Pertanian, 2) memenuhi kriteria 6 tepat, yaitu tepat jenis, mutu, waktu, sasaran (nematoda dan tanamannya), dosis dan konsentrasinya, serta cara dan alat aplikasinya, dan 3) tidak membahayakan manusia dan lingkungan.Terdapat 12 formulasi nematisida yang diizinkan 12

KESIMPULAN DAN SARAN


Salah satu masalah dalam budi daya nilam di Indonesia adalah serangan nematoda parasit P. brachyurus, R. similis, dan Meloidogyne spp. Komponen pengendalian nematoda tersebut telah diperoleh,
Jurnal Litbang Pertanian, 25(1), 2006

antara lain varietas toleran, teknik budi daya, pestisida nabati, agen hayati dan pestisida kimia. Strategi pengendalian nematoda pada tanaman nilam dapat dilakukan dengan memadukan komponen pengendalian yang sudah ada, yaitu teknik budi daya (pupuk organik dan anorganik, pergiliran tanaman, penggunaan mulsa), varietas toleran (antara lain varietas Sidikalang, Tapak Tuan dan Lhokseumawe),

pestisida nabati (tepung mimba, bungkil jarak), agen hayati (bakteri P. penetrans, bakteri endofit, jamur penjerat nematoda), pestisida kimiawi secara terbatas, dan mencegah penyebaran nematoda dari daerah terinfeksi ke daerah yang belum terinfeksi nematoda. Penelitian untuk memperoleh varietas nilam tahan terhadap nematoda masih perlu dilakukan secara berkesinam-

bungan, dan genom-genom baru yang berindikasi tahan terhadap nematoda diuji di lapang. Untuk mendukung implementasi strategi pengendalian nematoda pada tanaman nilam secara terpadu, perlu adanya transfer teknologi ke petani. Untuk itu perlu dibangun pemberdayaan dan koordinasi berbagai pihak terkait, baik instansi pemerintah, swasta maupun petani.

DAFTAR PUSTAKA
Alam, M.M. and M.S. Jairajpuri. 1990. Nematode control strategies. Principles and practices. In M.S. Jairajpuri, M.M. Alam, and I. Ahmad (Eds.). Nematode Biocontrol (Aspects and Prospects). CBS Publishers & Distributors PVT Ltd. Delhi-11032, India. p. 515. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. 1991. Perkembangan dan permasalahan usaha tani nilam dan tanaman atsiri lain di Aceh. Prosiding Forum Komunikasi Ilmiah Pengembangan Atsiri di Sumatera, Bukittinggi, 31 Agustus 1991. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor. hlm. 3637. Cho, M.R., H.Y. Yeong, and Y.M. Choi. 2003. Research on potential of Pasteuria penetrans for biological control of root-knot nematodes in Korea. Home.rda.go.kr/eng/ new/Myoung%20Rae%20chos% 20. paper doc. 11 pp. Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan. 2004. Nilam. Statistik Perkebunan Indonesia 20012003. Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan, Jakarta. 22 hlm. Dickson, D.W., Oostendorp, and D.J. Mitchel. 1992a. Development of Pasteuria penetrans on Meloidogyne arenaria race-I in the field. In F.J. Gommers and P.W.Th. Maas (Eds.). Nematology from Molecule to Ecosystem. European Society of Nematologist. Inc. Invergrowie, Dundee, Scotland. p. 213218. Dickson, D.W., M. Oostendorp, and D.J. Mitchel. 1992b. Development of Pasteuria penetrans on Meloidogyne incognita and spores of the obligate hyperparasite Pasteuria penetrans. Nematologica 39: 5364. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Hortikultura. 1996. Kebijaksanaan Pengelolaan Nematoda pada Tanaman Pangan dan Hortikultura. Makalah pada Seminar Perhimpunan Nematologi Indonesia. Jember, 2324 Juli 1996. 12 hlm. Djazuli, M. dan Emmyzar. 1998. Pola tanam. Monograf Nilam. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor. hlm. 7074. Djiwanti, R.S. and Momota. 1991. Parasitic nematodes associated with patchouli disease in West Java. Indust. Crops Res. J. 3(2): 3134. Dropkin, V.H. 1980. Introduction to Plant Nematology. A Wiley-Interscience Publication, John Wiley & Sons, New York, Chichester, Brisbane. Toronto. 293 pp. Emmyzar dan Y. Ferry. 2004. Pola budi daya untuk peningkatan produktivitas dan mutu minyak nilam (Pogostemon cablin Benth.). Teknologi Pengembangan Minyak Nilam Aceh. Perkembangan Teknologi Tanaman Rempah dan Obat XVI(2): 5261. Evans, K. 1982. Water use, calcium uptake and tolerance of cyst nematode attack in potatoes. Potato Res. 25: 7188. Franco, J., R. Montecinos, and N. Ortuno. 1992. Management strategies of Nacobbus aberrans. In F.J. Gommers and P.W.Th. Maas (Eds.). Nematology from Molecule to Ecosystem. Proceedings of the Second International Nematology Congress, 11 17 August 1990, Veldhoven, The Netherlands. p. 240248. Fogain, R. and S.R. Gowen. 1996. Investigations on possible mechanisms of resistance to nematodes in Musa euphytica. Kluwer Academic Publishers. Printed in the Netherlands. 92: 375381. Giebel, J. 1982. Mechanisms of resistance to plant nematodes. Ann. Rev. Phytopathol. 20: 257279. Gommers, F.j. 1973. Nematicidal Principles in Compositae. Disertation. Wageningan Agric. Univ. the Netherlands. 73 pp. Grainge, M. and S. Achmed. 1988. Hand Book of Plant With Pest Control Properties. John Willey & Sons, NY. 470 pp. Guenther, E. 1952. The Essential Oils. 2nd Ed. D. van Nostrand Co. Inc., New York. p. 552574. Hallmann, J., Quadt-Hallman, R. RodriguezKabana, and J.W. Kloepper. 2001. Interaction between Meloidogyne incognita and endophytic bacteria in cotton and cucumber. Soil Biol. Biochem. 30(7): 925937. Harni, R. dan I. Mustika. 1998. Pengaruh ekstrak daun jambu mente, kayu manis, pepaya, dan jarak terhadap Pratylenchus brachyurus pada nilam. Prosiding Seminar Nasional. Seminar IV PFI Komda Jateng dan DIY, Surakarta, 5 Desember 1998. hlm. 8590. Harni, R. dan I. Mustika. 2000. Potensi jamur penjerat nematoda untuk mengendalikan nematoda parasit tanaman. Dalam Pemanfaatan Mikroba dan Parasitoid dalam Agro Industri Tanaman Rempah dan Obat. Perkembangan Teknologi Tanaman Rempah dan Obat XII(1): 5258. Harni, R. dan I. Mustika. 2002. Pengendalian nematoda parasit tanaman lada berwawasan lingkungan. Teknologi Budi daya Organik Tanaman Rempah dan Obat. Perkembangan Teknologi Tanaman Rempah dan Obat XIV (1): 1726. Harni, R., A. Munif, Supramana, and I. Mustika. 2005. Isolation and physiological characterization of endophytic bacteria from patchouli to control Pratylenchus brachyurus. International Conference of Crops Security, Malang, 2224 September 2005. Abstract. Hewlett, T.E., D.W. Dickson, and M. Serracin. 1997. Biocontrol of Nematodes by Pasteuria spp. Methods for studying Pasteuria spp. for biological control of nematode. http://www.cpes.peachnet.edu/nemabc/ pasteuria.htm. 6 pp. [15 November 2002] Jatala, P. 1985. Biological control of plant parasitic nematodes. Ann. Rev. Phytopathol. 24: 453489. Johnson, A.W. 1992. Nematode management on vegetable crops. In F.J. Gommers and P. W.Th. Maas (Eds.). Nematology from Molecule to Ecosystem. Proceedings of the Second International Nematology Congress, 1117 August 1990, Veldhoven, The Netherlands. p. 234239.

Jurnal Litbang Pertanian, 25(1), 2006

13

Madulu, J.D., D.L. Trudgil, and M.S. Philips. 1994. Rotational management of Meloidogyne javanica and effects on Pasteuria penetrans and tomato and tobacco yields. Nematologica 40: 438455. Melakeberhan, H., J.W. Webster, R.C. Brook, J.M. DAuria, and M. Cacckette. 1987. Effect of Meloidogyne incognita on plant nutrient concentration and its influence on plant physiology of bean. J. Nematol. 19: 324330. McKenry, M.V. and P.A. Roberts. 1985. Phytonematology Study Guide. Cooperative Extension Univ. of California. Division of Agriculture and Natural Resources. Publication 4045. 56 pp. Mustika, I., Y. Nuryani, dan O. Rostiana. 1991. Nematoda parasit pada beberapa kultivar nilam di Jawa Barat. Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat 4(1): 914. Mustika, I. and O. Rostiana. 1992. The growth of four patchouli cultivars infected with Pratylenchus brachyurus. J. Spice and Medicinal Crops 1(2): 1118. Mustika, I. dan Nurmansyah. 1993. Nematoda parasit pada tanaman nilam di Sumatera Barat. Laporan Survai. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor. 13 hlm. Mustika, I. and Y. Nuryani. 1993. Screening for resistance of four patchouli cultivars to Radopholus similis. J. Spice and Medicinal Crops 1(2): 1117. Mustika, I. 1995. Serangan nematoda pada tanaman rempah dan obat. Media Komunikasi Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri 15: 2833. Mustika, I., A.S. Rahmat, dan Suyanto. 1995. Pengaruh pupuk, pestisida dan bahan organik terhadap pH tanah, populasi nematoda dan produksi nilam. Media Komunikasi Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri. 15: 7074. Mustika, I. 1996. Prospek pengendalian nematoda parasit tanaman secara hayati. Makalah pada Kongres Nasional II dan Seminar Ilmiah Perhimpunan Nematologi Indonesia. Jember, 2324 Juli 1996. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, Jember. 8 hlm. Mustika, I. 1998. Pemanfaatan bakteri Pasteuria penetrans untuk pengendalian nematoda Meloidogyne incognita dan Radopholus similis. Laporan RUT. Dewan Riset Nasional, Jakarta. 82 hlm. Mustika, I. dan A. Rachmat. 1998. Nilam (Pogostemon cablin Benth.). Dalam D. Sitepu, N. Indrarto, E. Karmawati, E.S. Mulyani, I. Mustika, Supriadi, dan T. Subagyo. Pedoman Pengendalian Hama Terpadu Tanaman Perkebunan. Pusat Penelitian dan Pengambangan Tanaman Industri, Bogor. hlm. 108110. Mustika, I. dan S.B. Nazarudin. 1999. Nematoda pada tanaman nilam. Monograf Tanaman

Nilam. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor. Mustika, I. 1999. Pestisida nabati untuk mengendalikan nematoda parasit tanaman. Dalam Pemanfaatan Pestisida Nabati. Perkembangan Teknologi Tanaman Rempah dan Obat XI(2): 4757. Mustika, I., R.S. Djiwanti, dan R. Harni. 2000. Pengaruh agensia hayati, bahan organik dan pestisida nabati terhadap nematoda tanaman nilam. Laporan Bagian Proyek Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Tahun 1999/2000. hlm. 8592. Mustika, I. dan R. Harni. 2001. Pengaruh ekstrak jarak (Ricinus communis) dan mimba (Azadirachta indica) terhadap Pratylenchus brachyurus pada tanaman nilam. Prosiding Kongres Nasional XVI dan Seminar Ilmiah Perhimpunan Fitopatologi Indonesia, Bogor, 2224 Agustus 2001. hlm. 433437. Mustika, I., R.S. Djiwanti, dan R. Harni. 2001. Peningkatan produktivitas tanaman nilam melalui pengendalian penyakit. Laporan Penelitian. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor. hlm. 18. Mustika, I., Y. Nuryani, dan R. Harni. 2002. Pengaruh suhu terhadap pertumbuhan nilam (Pogostemon spp.) dan kemungkinan ketahanannya terhadap Pratylenchus brachyurus. Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat XIII(1): 110. Mulyodihardjo, S. 1991. Program Pengembangan penanaman atsiri di Sumatera. Prosiding Forum Komunikasi Ilmiah Tanaman Atsiri di Sumatera. Bukittinggi, 31 Agustus 1991. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor. Mustofa, A. 1991. Pola agroindustri atsiri di pedesaan. Prosiding Forum Komunikasi Ilmiah Tanaman Atsiri di Sumatera. Bukittinggi, 31 Agustus 1991. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor. Nasrun, Y. Nuryani, Hobir, dan Repianyo. 2003. Seleksi ketahanan varietas nilam terhadap penyakit layu bakteri (Ralstonia solanacearum). Laporan Penelitian. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor. 15 hlm. Nuryani, Y. dan E. Hadipoentyanti. 1994. Koleksi, konservasi, karakterisasi dan evaluasi plasma nutfah tanaman atsiri. Review Hasil dan Program Penelitian Plasma Nutfah Pertanian. Badan Litbang Pertanian, Jakarta. hlm. 209219. Nuryani, Y., Hobir, C. Syukur, dan I. Mariska. 1997. Peningkatan kadar minyak nilam (Pogostemon cablin Benth.) melalui perbaikan varietas. Makalah pada Simposium dan Kongres PERIP. Bandung, 2425 September. 8 hlm. Nuryani, Y., C. Syukur, R. Harni, Yelnititis, Repianyo, dan I. Mustika. 1999. Tanggap

beberapa klon nilam (Pogostemon cablin Benth.) terhadap nematoda pelubang akar (Radopholus similis Cobb.). Jurnal Penelitian Tanaman Industri 5(3): 103-106. Nuryani, Y., I. Mustika, dan C. Syukur. 2001. Kandungan fenol dan lignin tanaman nilam hibrida (Pogostemon sp.) hasil fusi protoplas. Jurnal Penelitian Tanaman Industri 7(4): 104108. Nuryani, Y., Hobir, C. Syukur, dan I. Mustika. 2004. Usulan pelepasan varietas nilam. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor. 28 hlm. Nuryani, Y., C. Syukur, dan R. Harni. 2004. Evaluasi ketahanan nilam hasil fusi terhadap nematoda (Pratylenchus brachyurus). Laporan Penelitian. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor. 12 hlm. Pupuk Iskandar Muda. 1991. Perkembangan dan permasalahan usaha tani nilam dan tanaman atsiri lain di Aceh. Prosiding Forum Komunikasi Ilmiah Pengembangan Atsiri di Sumatera. Bukittinggi, 31 Agustus 1991. hlm. 3647. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor. Rodriguez- Kabana, R. 1992. Cropping systems for the management of phytonematodes. Nematology from Molecule to Ecosystem. In F.J. Gommers and P.W.Th. Maas (Eds.). Proceedings of the Second International Nematology Congress, 1117 August 1990, Veldhoven, The Netherlands. p. 219233. Sasser, J.N. and C.C. Carter. 1985. Overview of the International Meloidogyne Project. In J.N. Sasser and C.C. Carter (Eds.). An Advanced Treatise on Meloidogyne. Vol. I. Biology and Control. p. 1924. International Meloidogyne Project. Printed by North Caroline State Univ. Graphics. Sayre, R.M. 1980a. Promising organism for biological control of nematodes. Plant Dis. 64: 527532. Sayre, R.M. 1980b. Biocontrol: Bacillus penetrans related parasites of nematodes. J. Nematol. 12: 260270. Schmuterrer. 1995. The Neem Tree Azadirachta indica A. Juss. and Other Meliaceous Olants. VCH Verlagsgesllschat mbH, D69451Weinheim (Budesrepublik Deutschland). 696 pp. Sriwati, R. 1999. Ketahanan beberapa kultivar nilam (Pogostemon cablin Benth.) terhadap Pratylenchus brachyurus (Godfrey) Filipjev & Stekhoven. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. 42 hlm. Stirling, G.R. 1987. Host specificity of Pasteuria penetrans within genus Meloidogyne. Nematologica 31: 203209. Sturhan, D. 1988. New host and geographycal records of nematode parasitic bacteria. Nematologica 331: 350356. Tasma, I.M. dan P. Wahid. 1988. Pengaruh mulsa dan pemupukan terhadap pertum-

14

Jurnal Litbang Pertanian, 25(1), 2006

buhan dan hasil nilam. Jurnal Penelitian Tanaman Industri XVI(3): 3134. Volette, C., C. Andary, J.P. Geiger, J.L. Sarah, and M. Nicole. 1998. Histochemical and cytochemical investigation of phenols in roots of banana infected by burrowing nematode Radopholus similis. The American Phytopathological Society.

Wallace, H.R. 1973. Effects of nematode parasites on photosynthesis. Vistas on Nematology. A commemoration of the Twentyfifth Anniversary. Society of Nematology. p. 253259. Yudarsif, A. Faisal, dan A. Denian. 1994. Pengaruh pupuk dan jarak tanam terhadap

produksi tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth.) pada tanah Podzolik Merah Kuning. Prosiding Seminar Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. Sub-Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Solok. hlm. 714.

Jurnal Litbang Pertanian, 25(1), 2006

15