Anda di halaman 1dari 14

HAND OUT PELAYANAN KB

PEMBINAAN AKSEPTOR KB MELALUI KONSELING

Disusun Oleh : DEWI ANDARIYA NINGSIH, S.S.T

HAND OUT

Mata Kuliah Kode Mata Kuliah SKS Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan

: Pelayanan KB : BD.308 : 3 (T : 1, P : 2) : Pembinaan akseptor KB melalui konseling. : 1. Definisi konseling. 2. Tujuan konseling. 3. Teknik-teknik konseling. 4. Langkah-langkah konseling KB. 5. Konseling KB di klinik dan non klinik. 6. Faktor-faktor penunjang konseling. 7. Pembinaan akseptor KB melalui konseling. 8. Faktor-faktor pelaksanaan konseling. 9. Pembinaan akseptor KB.

Referensi : 1. http//www.program keluarga berencana.com. 2. BKKBN, Pedoman Pelaksanaan Pemberian Pengayoman Pesertya KB. 3. BKKBN, Rangkuman Materi KB Bagi PLKB. 4. BKKBN, Panduan KIE- MKEJ Bagi bidan. 5. BKKBN, Penuntun konseling KB untuk PPLKB dan PLKB 6. BKKBN, Panduan konseling kb untuk dokter. 7. BKKBN, Materi konseling KB bagi PPKB, SUB PPKBD, KADER. 8. BKKBN, Panduan konseling KB untuk petugas lapangan garekan KB nasional. 9. Saifuddin, dkk. 2003. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi.

I. Definisi Konseling. Konseling adalah proses yang berjalan dan menyatu dengan semua aspek pelayanan KB dan bukan hanya informasi yang diberikan dan dibicarakan pada suatu kesempatan yakni pada saat memberikan pelayanan. Konseling adalah suatu kegiatan profesional yang selalu dikaitkan dengan adanya pemecahan persoalan. Konseling kontrasepsi adalah komunikasi tatap muka dimana satu pihak membantu pihak lain untuk mengambil keputusan dan melaksanakan keputusan tersebut, berartiunsur yang terkandung didalamnya adalah memberikan informasi yang jelas, tepat dan benar serta kemampuan untuk memahami pihak lain itu sehingga dapat memberi bantuan yang tepat sesuai yang dibutuhkan agar akhirnya pihak lain/calon akseptor tersebut dapat membuat keputusan yang mantap mengenai metode yang akan digunakannya.Dasar dari konseling KB adalah pemberian informasi yang tujuan akhirnya adalah agar klien membuat keputusan yang mantap. II. Tujuan konseling 1. Memberikan informasi yang tepat, lengkap serta objektif mengenai berbagai metode kontrasepsi sehingga klien mengetahui manfaatnya bagi diri sendiri maupun keluarganya. 2. Mengidentifikasi dan menampung perasaan-perasaan negatif, misalnya keragu-raguan maupun ketakutan-ketakutan yang dialami klien sehubungan dengan pelayanan KB atau metode-metode kontrasepsi, sehingga konselor dapat membantu klien dalam hal penanggulangan. 3. Membantu klien untuk memilih metode kontrasepsi yang terbaik bagi mereka. Terbaik disini berarti metode yang aman bagi klien dan yang ingin digunakan klien. Dengan perkataan lain metode yang secara mantap dipilih oleh klien, 4. Membantu klien agar dapat menggunakan cara kontrasepsi yang mereka pilih secara aman dan efektif.

5. Memberi informasi tentang cara mendapatkan bantuan bantuan dan tempat pelayanan KB. . Secara singkat tujuan konseling disini adalah agar klien mampu membuat pilihan mantap tentang kontrsepsi yang akan digunakannya, memiliki pemahaman yang tepat dan jelas mengenai praktek dan penjelasan KB, sehingga mereka tidak ragu-ragu dalam menjalani program keluarga berencana tersebut puas dengan pilihannya sendiri. Dengan harapan, keadaan semacam ini akan menyebabkan klien dapat bertindak sebagai model bagi calon akseptor lainnya dan secara tidak langsung menunjang suksesnya program keluarga berencana. Nasional. III. Teknik-teknik konseling yang baik. 1.Memperlakukan klien dengan baik. Petugas bersikap sabar, memperlihatkan sikap menghargai setiap klien dan menciptakan suatu rasa percaya diri sehingga klien dapat berbicara secara terbuka dalam segala hal termasuk masalah-masalah pribadi sekalipun. Petugas meyakinkan klien bahwa ia tidak akn mendiskusikan rahasia klien kepada orang lain. 2. Interaksi antara petugas dan klien. Petugas harus mendengarkan, mempelajari dan menanggapi keadaan klien karena setiap klien mempunyai kebutuhan dan tujuan reproduksi berbeda. Bantuan terbaik seorang petugas adalah dengan cara memahami bahwa klien adalah manusia yang membutuhkan perhatian dan bantuan. Oleh karena itu, petugas harus mendorong klien berani berbicara dan bertanya. 3. Memberikan informasi yang baik kepada klien. Dengan mendengarkan apa yang disampaikan klien berarti petugas belajar mendengarkan informasi apa saja yang dibutuhkan oleh setiap klien. Sebagai contoh pasangan muda yang baru menikah mungkin menginginkan lebih lebih banyak informasi mengenai masalah penjarangan kelahiran. Bagi wanita dengan usia dan jumlah anak cukup

mungkin lebih menghendaki informasi mengenai informasi mengenai metode operasi (tubektomi atau vasektomi). Sedangkan bagi pasangan muda yang belum menikah mungkin dikehendaki adalah informasi mengenai infeksi menular seksual(IMS). Dalam memberikan informasi petugas harus menggunakan bahasa yang mudah dimengerti klien. 4. Menghindari pemberian informasi yang berlebihan. Klien membutuhkan penjelasan untuk menentukan pilihan (informed choice). Namun tidak semua klien dapat menangkap semua informasi tentang berbagai jenis kontrasepsi. Terlalu banyak informasi yang diberikan akan menyebabkan kesulitan bagi klien dalam mengingat informasi yang penting. Hal ini disebut kelebihan informasi. Pada waktu memberikan informasi petugas harus memberikan wakti klien untuk berdiskusi, bertanya, dan mengajukan pendapat. 5. Tersedianya metode yang diinginkan klien Petugas membantu klien membuat keputusan mengenai pilihannya, dan harus tanggap terhadap pilihan klien meskipun klien menolak memutuskan atau menangguhkan penggunaan kontarsepsi. Didalam melakukan konseling petugas mengkaji apakah klien sudah mengerti mengenai jenis kontrasepsi, termasuk keuntungan dan kerugian serta bagaimana cara penggunaannya, Koonseling mengenai kontrasepsi yang dimulai dengan mengenalkan berbagai jenis kontrasepsi dalam program Keluarga Berencana. Petugas mendorong klien untuk berpikir melihat persamaan yang ada dan membandingkan antar jenis kontrasepsi tersebut. Dengan cara ini petugas membant\u klien untuk membuat suatu keputusan(informed choice). Jika tidak ada dalam bidang kesehatan sebaiknya klien mempunyai pilihan kontrasepsi sesuai dengan pilihannya. Bila memperoleh pelayanan kontasepsi sesuai dengan yang dipilihnya, klien akan menggunakan kontrasepsi tersebut lebih lama dan lebih efektif.

6. Membantu klien untuk mengerti dan mengingat. Petugas memberi contoh alat kontrasepsi dan menjelaskan pada klien agar memahaminya dengan memperlihatkan bagaimana cara-cara penggunaannya. Petugas juga memperlihatkan dan menjelaskan dengan flip charts, poster, pamflet, atau halaman bergambar. Petugas juga perlu melakukan penilaian bahwa klien telah mengerti. Jika memungkinkan klien dapat membawa bahan-bahan tersebut kerumah. Ini akan membantu klien mengingat apa yang harus dilakukan juga dapat memberitahi kepada orang lain. IV. LANGKAH- LANGKAH KONSELING KB. Dalam memberikan konseling, khususnya bagi calon klien KB yang baru, hendaknya dapat diterapkan enam langkah yang sudah dikenal dengan kata kunci SATU TUJU. Penerapan SATU TUJU tersebut tidak perlu dilakukan secara berurutan karena petugas harus menyesuaikan diri dengan kebutuhan klien. Beberapa klien membutuhkan lebih banyak perhatian pada langkah yang satu dibanding dengan langkah yang lainnya. Kata kunci SATU TUJU adalah sebagai berikut : SA :Sapa dan salam kepada klien secara terbuka dan sopan. Berikan perhatian sepenuhnya kepada mereka dan berbicara di tempat yang nyaman perlu T serta terjamin serta privasinya. Yakinkan apa klien yang untuk dapat membangun rasa percaya diri. Tanyakan kepada klien apa yang dibantu jelaskan pelayanan diperolehnya. : Tanyakan pada klien informasi tentang dirinya. Bantu klien untuk berbicara mengenai pengalaman Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi, tujuan, kepentingan, harapan serta keadaan kesehatan dan kehidupan keluarganya. Tanyakan kontrasepsi yang diinginkan oleh klien. Berikan perhatian kepada klien apa yang disampaikan oleh klien sesuai dengan kata-kata, gerak isyarat dan caranya. Coba tempatkan diri kita di dalam hati klien. Perlihatkan

bahwa U

kita

memahami.

Dengan

memahami

pengetahuan,

kebutuhan dan keinginan klien, kita dapat membantunya. :Uraikan kepada klien mengenai pilihannya dan beri tahu apa pilihan reproduksi klien pada jenis kontrasepsi yang paling dia inginkan. Serta jelaskan pula jenis-jenis kontrasepsi lain yang ada. Juga jelaskan alternatif kontrasepsi lain yang mungkin diinginkan oleh klien. TU :Bantulah klien menentukan pilihannya. Bantulah klien berpikir mengenai apa yang paling sesuai klien dengan untuk keadaan dan kebutuhahnnya. Doronglah menunjukkan

keinginannya dan mengajurkan pertanyaan. Tanggapilah secara terbuka. Petugas membantu klien mempertimbangkan kriteria dan keinginan klien terhadap setiap jenis kontrasepsi. Tanyakan juga apakah pasangannya akan memberikan dukungan dengan pilihan tersebut. Jika memungkinkan diskusi mengenai pilihan tersebut kepada pasangannya. Pada akhirnya yakinkan bahwa klien telah membuat suatu keputusan yang tepat. Petugas dapat menanyakan : Apakah anda sudah memutuskan pilihan jenis kontrasepsi ? atau apa jenis kontrasepsi terpilih yang akan digunakan ? J :Jelaskan secara lengkap bagaimana menggunakan kontrasepsi pilihannya. Setelah klien memilih jenis kontrasepsinya, jika diperlukan, perlihatkan alat/ obat kontrasepsinya. Jelaskan bagaimana alat/ obat kontrasepsi tersebut digunakan dan bagaimana cara penggunaannya. Sekali lagi doronglah klien untuk bertanya dan petugas menjawab secara jelas dan terbuka. Beri penjelasan juga tentang manfaat ganda metode kontrasepsi, misalnya kondom yang dapat mencegah infeksi menular seksual (IMS). Cek pengetahuan klien tentang penggunaan kontrasepsi pilihannya dan puji klien apabila dapat menjawab dengan benar.

:Perlunya dilakukan kunjungan ulang. Bicarakan dan perjanjian kapan klien akan kembali untuk pemeriksaan lanjutan atau permintaan kontrasepsi jika dibutuhkan. Perlu juga selalu klien untuk kembali apabila terjadi suatu masalah.

buatlah melakukan

mengingatkan

Ada rumusan yang sangat memudahkan untuk memudahkan langkah-langkah konseling KB. Rumusan ini dihasilkan oleh population information program, the John Hopkins University, Baltmore, Amerika. Rumusan tersebut mengemukakan 6 langkah konseling KB yang dituangkan dalam kata kunci GATHER: G Great A - Ask T - Tell H- Help E - Explain R-Return sambut tanya ceritakan/uraikan. tolong/bantu jelaskan kembali/kunjungan ulang, kemudian juga diartikan Repeat = ulangi. V. KONSELING KB DI KLINIK DAN NON KLINIK Kenyataan yang ada di lapangan adalah tidak semua sarana kesehatan dapat dijangkau oleh klien. Oleh karena itu tempat pelayanan konseling untuk melayani masyarakat yang membutuhkannya dapat dilakukan pada 2 (dua) jenis tempat pelayanan konseling, yaitu : Konseling KB di lapangan (nonklinik) Dilaksanakan oleh para petugas di lapangan yaitu PPLKB, PLKB, PKB, PPKBD, Sub PPKBD, dan kader yang sudah mendapatkan pelatihan konseling yang standar. Tugas utama perseorangan. Adapun informasi yang diberikan mencakup : o o Pengertian manfaat perencanaan keluarga. Proses terjadinya kehamilan/ reproduksi sehat.

Informasi berbagai kontrasepsi yang benar dan lengkap

(cara kerja, manfaat, kemungkinan efek samping, komplikasi, kegagalan, kontra indikasi, tempat kontrasepsi bisa diperoleh, rujukan, serta biaya). Konseling KB di klinik Dilaksanakan oleh petugas medis dan paramedis terlatih di klinik yaitu dokter, bidan perawat, serta bidan di desa. Pelayanan konseling yang dilakukan di klinik diupayakan agar diberikan secara perseorangan di ruangan khusus. Pelayanan konseling di klinik dilakukan untuk melengkapi dan sebagai pemantapan hasil konseling di lapangan, mencakup hal-hal berikut : o o o o Memberikan informasi yang lebih rinci sesuai dengan Memastikan bahwa kontrasepsi pilihan klien telah Membantu klien memilih kontrasepsi lain seandainya Merujuk klien seandainya kontrasepsi yang dipilih kebutuhan klien. sesuai dengan kondisi kesehatannya. yang dipilih ternyata tidak sesuai dengan kondisi kesehatannya. tidak tersedia di klinik atau jika klien membutuhkan bantuan medis dari ahli seandainya dalam pemeriksaan ditemui masalah kesehatan lain. o memastikan Memberikan konseling pada kunjungan ulang untuk bahwa klien tidak mengalami keluhan dalam

penggunaan kontrasepsi pilihannya VI. Faktor Penunjang Konseling Faktor yang menunjang konseling meliputi : a. Ruang Konseling Ruangan khusus (pribadi) yang dapat menimbulkan rasa aman dan nyaman kepada calon akseptor sehingga dapat mengemukakan perasaan secara bebas.

b. Edukasi (KIE) Yang Digunakan

Alat

Komunikasi,

Informasi,

dan

Penggunaan alat bantu sangat menolong, untuk menjelaskan tertentu kepada klien, misalnya poster, gambar anatomib tubuh manusia, dan lainlain sehingga calon akseptor akan mendapat gambaran jelas tentang benda asing/ alat kontrasepsi yang akan diletakkan dalam tubuhnya. c. Suasana Konseling Konselor (bidan) harus bisa menciptakan suasana aman untuk berbicara. Ruang pribadi memang mendukung terciptanya suasana aman dan konseling tetapi konselor juga harus mampu menciptakan atmosfer yang d. mendukung suasana konseling yaitu dimana konselor mendengarkan, menerima dan menghargai calon akseptor. Hubungan Rapport Adalah istilah yang digunakan bila antara konselor dengan klien tercipta hubungan yang dilandasi saling percaya. Konselor percaya bahwa klien mampu untuk memutuskan alat kontrasepsi yang akan dipakainya dan klien percaya bahwa konselor memang menghargainya sebagai pribadi. Hubungan rapport yang baik akan memudahkan terciptanya suasana konseling yang baik dan merupakan salah satu unsur yang akan menunjang keberhasilan e. e. Sikap Konselor Untuk menunjang terbentuknya suasana konseling dan Rapport. Konselor harus mempunyai sikap dasar yang menunjang, konselor harus mampu menunjukkan bahwa ia menaruh perhatian kepada kliennya. Dari sikapnya ia harus dapat menyampaikan pada kliennya bahwa ia memang menyediakan diri dan waktu untuk menerima keadaan klien dengan segala keadaannya. f. f. Penampilan Konselor

Mampu menempatkan dan menampilkan diri sesuai dengan keadaan yang dihadapinya. Misalnya cara berpakaian harus menampilkan citra bersih dan netral sehingga dapat diterima oleh masyarakat VII. Pembinaan Akseptor KB Melalui Konseling Konseling Keluarga Berencana Pelayanan keluarga berencana mencakup pelayanan alat kontrasepsi, penganggulangan efek samping, dan komplikasi alat kontrasepsi. Pada pelayanan tersebut terjadi keterlibatan secara utuh, baik dari tenaga pelayanan maupun klien yang menjadi sasaran. Pendekatan pelayanan yang digunakan adalah pendekatan secara medik dan konseling. Kegiatan pelayanan keluarga berencana mencakup : Perluasan jangkauan program Pelayanan perluasan jaringan program memberi gambaran untuk memperoleh akseptor baru atau peserta KB baru yang akan menggunakan alat kontrasepsi. Kegiatan utama yang dilaksanakan adalah pemberian penerangan dan motivasi serta konseling yang ditujukan untuk perubahan perilaku klien dari yang belum mengenal KB sampai menjadi akseptor KB. Proses konseling menggunakan teknik tidak langsung, dalam hal ini konseli diberi kesempatan untuk memimpin wawancara dan tanggung jawab atas pemecahan masalah dan pengambilan keputusan untuk menggunakan alat kontrasepsi. Pelestarian Kegiatan untuk mencapai pelestarian penggunaan kontrasepsi dimasudkan agar klien terus menerus menggunakan alat kontrasepsi minimal lima tahun dan selama itu tidak hamil, maka klien tersebut dinamakan akseptor lestari. Dapat juga kegiatan itu ditujukan untuk mengalihkan penggunaan alat kontrasepsi yang kurang mantap menjadi pengguna alat kontrasepsi yang mantap, misalnya dari alat kontrasepsi pil menjadi IUD.

Pelaksanaan pelayanan konseling pada tahap ini menggunakan penggabungan antara pendekatan langsung dengan tidak langsung. Konselor secara aktif memberikan pembinaan kepada akseptor sehingga memunculkan satu pemahaman konseli atau akseptor bahwa keluarga berencana merupakan kebutuhan dan bagian dari hidupnya dan mewujudkannya adanya akseptor motivator. Pelembagaan Pelayanan keluarga berencana dalam upaya pelembagaan merupakan suatu bentuk kegiatan untuk mengondisikan masyarakat bahwa KB merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang mendasari dalam penyusunan perencanaan keluarga yang dihubungkan dengan kondisi perkembangan politik, sosial, ekonomi, dan budaya serta terwujudnya norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera di masyarakat. Pelaksanaan kegiatan dengan menggabungkan pendekatan edukatif dan konseling tidak langsung dan langsung dengan upaya kegiatna mendasar yang mendukung yaitu konseling kelompok, berbagai pengalaman, dan perasaan kelompok sebaya, pemilihan jalan keluar, dan pengambilan keputusan oleh akseptor itu sendiri atau konseli, sedangkan konselor sebagai fasilitator. VIII. Faktor Pelaksanaan Konseling Faktor Utama Dalam pelaksanaan konseling perlu diperhatian faktor utama : a. Menyampaikan Informasi Yang Jelas, Tepat dan Benar Pada penerapan konseling KB, bidan sebagai konselor akan memberikan informasi mengenai bermacam-macam alat kontrasepsi yang mungkin merupakan hal baru bagi klien. Pada akhirnya, klien sendiri yang harus membuat keputusan untuk memilih kontrasepsi yang paling cepat bagi dirinya atau pasangannya. Maka dalam membekali berbagai pengetahuan tentang kontrasepsi, bidan harus memperhatikan hal berikut :

Singkat, memilih informasi paling penting yang perlu diketahui oleh klien dan menekankan hal-hal yang harus diingat. Terorganisasi, informasi diberikan dengan cara pengelompokkan kedalam kategori tertentu agar mudah diingat. Bila dapat, dikelompokkan dalam kata memori (kata yang setiap hurufnya mengandung asosiasi dengan suatu keadaan/ penjelasan tertentu dan keseluruhan kata memori itu menjelaskan suatu keadaan) sehingga mudah diingat klien.

Yang pertama adalah yang utama, informasi yang pertama diberikan adalah yang paling mudah diingat. Karena itu, bidan harus memberikan informasi yang paling penting terlebih dahulu, yaitu hal yang harus dilakukan klien supaya dapat menggunakan metode dengan efektif.

Sederhana, menggunakan kata-kata pendek dan kata-kata sederhana yang mudah dipahami oleh klien. Hindari kata-kata teknis dan penjelasan ilmiah yang tidak dimengerti oleh klien.

Pengulangan, ulangi informasi yang paling penting, sesuatu yang diulangi akan lebih mudah untuk diingat. Kata terakhir yang diucapkan bidan bisa berupa peringatan mengenai hal terpenting yang harus dilakukan klien, misalnya Ingat, pil harus diminum setiap malam !

Spesifik, informasi akan lebih mudah diingat dan diikuti bila sifatnya konkret spesifik dan tidak abstrak atau kabur sehingga jelas langkah yang harus dilakukan oleh klien.

b. Menunjukkan Bahwa Bidan Memperhatikan dan Memberi Respek Mendengar aktif (Memahami) Bidan menerima klien seperti apa adanya (bersikap akseptan) dan menerima bahwa klien mempunyai pendapat, perasaan, dan kebutuhan yang kemungkinan tidak sama dengan bidan. Bidan menerima bahwa adalah hak klien untuk berbeda pendapat. Dengan sikap akseptan, bidan akan mampu bersikap

empati dan mampu merasakan apa yang dirasakan atau dialami oleh klien. Pemahaman bidan sebagai konselor terhadap apa yang diusahakan klien harus disampaikan oleh bidan (konselor) kepada kliennya melalui refleksi. Respek Bidan menghormati perasaan dan sikap klien. Menyadari bahwa ketakutan, kecemasan, pikiran tak logis yang dipunyai klien adalah sesuatu yang nyata bagi klien, bukan yang dicemoohkan/ ditertawakan. Walau bidan/ konselor memiliki pengetahuan lebih, bukan berarti klien adalah individu yang kurang. Kejujuran Konselor jujur dalam menanggapi kecemasan klien, tidak menyembunyikan informasi yang ingin diketahui klien. IX. Pembinaan Akseptor KB Adalah peserta KB baru atau lama yang mendapat pelayanan KB sesuai dengan standart yang ditentukan oleh unit Depkes maupun unit swasta pada suatu periode tahun kalender. Tujuan Pembinaan Akseptor : 1. Agar klien terus menerus menggunakan alat kontrasepsi. 2. Mengalihkan penggunaan dari alat kontrasepsi kurang mantap menjadi alat kontrasepsi yang lebih mantap. 3. Tidak terjadi komplikasi.