Anda di halaman 1dari 3

Tia nuryani,2011

SEFTRIAKSON
1. SeItriakson
SeItriakson merupakan antibiotik 44nan seIalosporin generasi ketiga. Sebagai
antibiotik betalaktam, seIalosporin memiliki kelebihan daripada penisilin, yaitu
spektrum antibakteri lebih luas dan kebal terhadap penisilinase pada staIilokoki (Tjay
& Rahardja, 2007).
a. SiIat
SeIalosporin berasal f Iungus 05a4854rium acr0m4nium. Inti dasar
seIalosporin C ialah asam 7-amino-seIalosporanat (7-ACA: 7-
amin4c05a4854ranic acid) yang merupakan kompleks cincin dihidrotiazin dan
cincin betalaktam. SeIalosporin C resisten terhadap penilisilinase, tetapi dirusak
oleh seIalosporinase. Hidrolisis asam seIalosporin C menghasilkan 7-ACA yang
kemudian dapat dikembangkan menjadi berbagai macam antibiotik
seIalosporin. ModiIikasi R
1
pada posisi cincin betalaktam dihubungkan dengan
aktivitas antimikroba. Substitusi R
2
pada posisi 3 cincin hidrotiazin
mempengaruhi metabolisme dan Iarmakokinetiknya (Istiantoro & Gan, 2009).


Gambar 2.3. Struktur SeIalosporin (Rollins & Joseph, 2000)

b. Iek antimikroba
Tia nuryani,2011
SeIalosporin memiliki spektrum kerja yang luas dan bersiIat bakterisida dalam
Iase pertumbuhan kuman, SeItriakson umumnya lebih aktiI pada bakteri gram
positiI daripada gram negatiI, namun tidak seaktiI seIalosporin generasi pertama.
SeItriakson jauh lebih aktiI terhadap Ent0r4-act0ric0a0 dan strain penghasil
penisilinase (Istiantoro & Gan, 2009).
c. armakokinetik
a) Absorbsi
SeItriakson merupakan golongan seIalosporin generasi ketiga yang
diberikan secara parenteral. Sediaan seItriakson yaitu berupa injeksi intravena
atau intramuskular (Brookside Associates, 2001). SeItriakson tersedia dalam
bentuk bubuk obat suntik 0,25, 0,5 dan 1 g (Istiantoro & Gan, 2009).
b) istribusi
SeItriakson berikatan dengan protein plasma sebanyak 83-93, dengan
waktu paruh 8 jam (Istiantoro & Gan, 2009). SeItriakson mencapai kadar
yang tinggi dalam cairan serebrospinal, sehingga bermanIaat untuk
pengobatan meningitis purulenta (epkes RI. itjen POM, 2000). Selain itu,
seItriakson dapat melewati sawar plasenta, mencapai kadar tinggi dalam
cairan sinovial dan cairan perikardium. Pada pemberian sistemik, kadar
seItriakson dalam cairan mata relatiI tinggi, tapi tidak mencapai vitreus.
Kadar seItriakson dalam empedu umumnya tinggi. Garam kalsium seItriakson
kadang kadang menimbulkan presipitasi di kandung empedu, tapi biasanya
menghilang bila obat dihentikan (epkes RI. itjen POM, 2000; Istiantoro &
Gan, 2009).
Tia nuryani,2011
c) Metabolisme
SeItriakson mengalami metabolisme di hepar. Suatu langkah metabolisme
yang penting adalah deasetilasi. Turunan deasetilnya mempunyai aktivitas
setengah sampai sepersepuluh aktivitas senyawa asalnya (Mutschler, 1991).
d) kskresi
SeItriakson diekskresi 60-80 ke urin sehingga dosis harus disesuaikan
pada pasien gangguan Iungsi ginjal (epkes RI. itjen POM, 2000; Istiantoro
& Gan, 2009).

d. armakodinamik
SeItriakson sebagai antibiotik betalaktam bekerja dengan tiga (3) prinsip.
Pertama, obat berikatan dengan 50niciin--indin 5r4t0in (PBP) pada kuman.
Kedua, menghambat reaksi transpeptidase tahap ketiga antar rantai peptidoglikan
dalam rangkaian pembentukan dinding sel bakteri. Ketiga, obat mengaktivasi
enzim autolisis pada dinding sel bakteri tersebut (Sunthornsaj 0t a., 2004;
Istiantoro & Gan, 2009).
e. Penggunaan klinik pada demam tiIoid
SeItriakson digunakan sebagai alternatiI terapi MR pada demam tiIoid akibat
$am4n0a ty5i. osis pada orang dewasa yaitu 1-4 g/24 jam dengan dosis
maksimum 4g pada inIeksi berat, dan dosis pada anak 50-100 mg/kg/hari dalam 2
dosis. SeItriakson diberikan satu kali sehari untuk inIeksi biasa dan dua kali sehari
untuk meningitis (Istiantoro & Gan, 2009). osis pada bayi yaitu 50-70 mg/kbBB
(Sunthornsaj 0t a., 2004).