Anda di halaman 1dari 21

Page

PAPER
8O8OLOG HUKUM

W
^anni B^ayen Lumintang
88

AKULTA8 LMU 8O8AL DAN LMU POLTK


UNVER8TA8 8AM RATULANG MANADO
2011

Page


DAFTAR ISI
BAB I............................................................................................................................. 3
BAB II........................................................................................................................... 5
BAB III.......................................................................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................... 21



















Page




BAB I
PENDAHULUAN
1.2 Latar Belakang
Yaitu timbulnya kebimbangan akan kebenaran dan keadilan (dalam arti kesebandingan) dari
hukum yang berlaku. Lagi pula timbul pendapat-pendapat yang berisikan ketidakpuasaan
terhadap hukum yang berlaku, oleh karena hukum tersebut tidak sesuai lagi dengan keadaan
mastyarakat yang diaturnya. Ketidakpuasaan tersebut dapat dikembalikan pada beberapa Iaktor,
antara lain ketegangan-ketegangan yang timbul antara kepercayaan (khususnya agama) dan
hukum yang sedang berlaku. Hal ini disebabkan karena tidak jarang peraturan-peraturan
kepercayaan atau agama yang dianut tidak sesuai dengan hukum yang berlaku,atau sebaliknya.
Dengan demikian, maka timbul usaha-usaha untuk mengatasi kepincangan yang ada dengan
jalan mencari pengertian-pengeratian tentang dasardasar hukum yang berlaku untuk disesuaikan
dengan dasar-dasar agama.
Timbul pula ketegangan antara hukum yang berlaku dengan IilsaIat, yang disebabkan karena
perbedaan antara dasar-dasar hukum yang berlaku ,dengan pemikiran orang di bidang IilsaIat,
kesangsian akan kebenaran serta keadilan (dalam arti kesebandinagan) dari hukum yang berlaku
timbul pula, terlepas dari sistem suatu agama maupun IilsaIat. Kesangsian terutama ditujukan
terhadap nilai peraturan-peraturan hukum yang berlaku. Artinya adalah isi dari peraturan-
peraturan yang berlaku tidak dianggap adil dan dianggap pula sebagai yang tak dapat digunakan
sebagai ukuran untuk menilai perilaku orang, dalam hal ini terdapat suatu ketegangan antara
peraturan-peraturan hukum yang berlaku di masyarakat dengan pendirian mengenai isi
peraturan-peraturan tersebut. Lagi pula perlu di catat bahwa setiap pemikiran sistematis terhadap
disiplin hukum senantiasa berhubungan dengan IilsaIat politik (Purnadi Purcaraka & Chidir
Ali,1980:1). Dengan demikian maka IilsaIat hukum terutama bertujuan untuk menjelaskan niali-
nilai dan dasar-dasar hukum sampai pada dasar-dasar IilsaIatnya, Hasil pemikiran para ahli
IilsaIat hukum tersebut terhimpun dalam berbagai mazhab atau aliran.

Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini antara lain :
Memahami hasil pemikiran para ahli IilsaIat hukum dalam berbagai mazhab/aliran
Memahami hukum apa saja yang dibuat oleh umat manusia

Page


Memahami hasil pemikiran para sosiolog antara lain
a.Aristoteles
b.Hobbes
c.Spinoza
d.Montesqueiu
e.sosiolog Indonesia
Untuk mengetahui Dinamika Masyarakat dan Kebudayaan.
Untuk mengetahui hukum dan dinamika masyarakat.
















Page





BAB II
2.1 ISI/PEMBAHASAN

Beberapa Tokoh-Tokoh / Aliran Yang Mempengaruhi Terbentuknya Sosiologi Hukum
Pengertian Sosiologi Hukum
Sosiologi hukum adalah merupakan suatu disiplin ilmu dalam ilmu hukum yang baru mulai
dikenal pada tahun 60-an. Kehadiran disiplin ilmu sosiologi hukum di Indonesia memberikan
suatu pemahaman baru bagi masyarakat mengenai hukum yang selama ini hanya dilihat sebagai
suatu sistem perundang-undangan atau yang biasanya disebut sebagai pemahaman hukum secara
normatiI. Lain halnya dengan pemahaman hukum secara normatiI, sosiologi hukum adalah
mengamati dan mencatat hukum dalam kenyataan kehidupan sehari-hari dan kemudian berusaha
untuk menjelaskannya. Sosiologi Hukum sebagai ilmu terapan menjadikan sosiologi sebagai
subyek seperti Iungsi sosiologi dalam penerapan hukum, pembangunan hukum, pembaharuan
hukum, perubahan masyarakat dan perubahan hukum, dampak dan eIektivitas hukum, kultur
hukum.|2|
Sosiologi hukum merupakan suatu ilmu pengetahuan yang secara teoritis analitis dan empiris
menyoroti pengaruh gejala sosial lain terhadap hukum dan sebaliknya.|3| Soerjono
Soekanto/Satjipto Rahardjo membuat rumusan yang sama tentang sosiologi hukum yakni
sosiologi hukum mempelajari hubungan timbal balik antar hukum dan masyarakat.
Sedangkan ProI. M. Abduh, kurang menyetujui pemakaian istilah; Hubungankarena hukum
bukan manusia yang mempunyai hubungan cinta. Akan lebih tepat jika dikatakan sosiologi
hukum adalah bias/reIleksi hukum dalam masyarakat dan sebaliknya bias/reIleksi masyarakat ke
dalam hukum.|4|
Sosiologi hukum memiliki kegunaan antara lain, memberikan kemampuan bagi pemahaman
terhadap hukum dalam konteks sosial; penguasaan konsep-konsep sosial hukum dapat
memberikan kemampuan untuk mengadakan analisa terhadap eIektiIitas hukum dalam
masyarakat baik sebagai sarana pengendalian sosial, sarana untuk mengubah masyarakat, sarana
mengatur interaksi sosial agar mencapai keadaan-keadaan sosial tertentu; sosiologi hukum
memberikan kemungkinan serta kemampuan untuk mengadakan evaluasi-evaluasi terhadap
eIektiIitas hukum dalam masyarakat.|5|

Page



Menurut Aristoteles, Hobbes, Spinoza, Montesquieu
Aristoteles di jaman purba (385-322 SM) dan Montesquieu di jaman modern (1689-1755) adalah
yang hampir mendekati pada sosiologi hokum metodis. Aristoteles mengemukakan keseluruhan
masalah-masalahyang semestinya harus di pecahkan ; Montesquiue,yang di pengaruhi oleh
'Iisika socialdari Hobbes (1588-1677) telah menghilangkan prasangka-prasangka kesusilaan
pada telaahan berdasarkan kepada pengamatan empiris secara sistematis.
Dengan demikian,untuk memahami arti keadilan. Aristoteles terlebih dahulu menggambarkan
berbagai macam hukum positiI, dalam hubungannya dengan Nomos (tata tertib sosial yang
benar-benar eIesien) Philia (sociality atau solidaritas social) dan kelompok-kelompok tertentu
(Kainoniai), sedang negara hanya merupakan mahkotanya, dan untuk menemukan bentuk sebaik-
baiknya dari pemerintahan, Aristoteles memulai dengan menelaah semua tipe pemerintahan yang
benar-benar ada dalam hubungannya dengan struktur berbagai tipe masyarakat (bahkan ia
mengadakan penyelidikan perbandingan dari konstitusi-konstitusi di Yunani,yang di antaranya
hanya Iragmen mengenai konstitusi Athena yang sampai pada kita)
Menurut Aristoteles semua hukum, baik yang diselenggarakan oleh kemauan manusia maupun
diluar kemauan manusia (hingga boleh dikatkan 'kodrathanyalah semata-mata perumusan
rasional dari tuntutan-tuntutan Nomos (Ethica Nic. 1129 dan seterusnya).
Hukum menurut Aristoteles adalah tuntutan-tuntutan hukum yang ditetapkan dalam rumus-
rumus, adalah lebih abstrak, lebih statis dari Nomos yang konkret dan dinamis, dan dalam hal ini
hukum cenderung ketinggalan dan selalu harus menyesuaikan dirinya kepanya, suatu Iakta yang
secara jelas-jelas mensugesti masalah kenyataan social hokum. Tipe-tipe itu sendiri dapat di
selenggarakan sebagai Iungsi-Iungsi dri berbagai philia dan koinonia, karena kenyataan hukum
yang hidup dapat menegaskan dirinya sendiri dalam milieu social; sosial milieu ini tersusun dari
bentuk-bentuk ikatan social dan dri kelompok-kelompok khusus.
Antara Aristoteles dan Montesquieu terdapat perkembangan di jaman modern ini dari
ilmu-imu eksperimental, mekanisme Descartes, dan usaha untuk membentuk suatu 'Iisika social
hukum, yang khususnya dihubungkan denga nama-nama Hobbes dan Spinoza. Kita hanya
secara singkat dapat membicarakan ahli-ahli pikir ini, karena mereka tidak ada sangkut-pautnya
dengan sosiologi hukum, melainkan dengan suatu IilsaIat hukum masyarakat alami, yang
berdasarkan penggunaan ilmu pesawat terhadap Ienomena sosial.
Hobbes dan Spinoza memecah-belah dan membongkar masyarakat, yang dipersamakan dengan
Negara, sampai kepada unsur-unsur yang paling sederhana yang menurut mereka adalah
individu-individu yang terpencil yang ditempatkan ke dalam 'suatu Negara alam yang hipnotis.
Gerak-gerak mekanis atom-atom disamakan conatos sui tuendi et conservandi dari individu-
individu,yang ada bersama dengan 'hukum alamnya yang tidak dibedakan dari tenaga yang

Page


mereka miliki.Tetapi clach` yang dengan demikian terjadi yakni clachnya individu-individu
atom dan tenaga-tenaga mekanis bertentangan dengan kecendrungan mereka untuk
mempertahankan diri dari akal mereka: yakni bermuIakat untuk menggabungkan tenaga-tenaga
individualnya menjadi suatu kekuatan yang berkuasa,yakni kekuasaan umum,Negara,dan
sementara itu menciptakan suatu keseimbangan tenaga-tenaga dan menjamin ketertiban dan
perdamaian ,yang identik dengan hukum positiI.
Dalam bukunya Esprit de Lois(1748) yang termsyhur, Montesquieu mencoba
mempersatukan warisan yang maha besar dari Aristoteles (ia hanya mengambil bagian yang
mengenai kelompok politik) dengan metode Iisika sosial khususnya dalam bentuk yang
diberikan oleh Spinoza. Nama karyanya itu dua maknanya, yang berarti bahwa ia bermaksud:
(a) mencari ke bawah kulit peraturan-peraturan Iormal hukum untuk mendapatkan inspirasi serta
hubungannya dengan bentuk pemerintahan, dan selanjutnya dengan substuktur sosial yang dapat
berubah-ubah dari kelompok yang mendasarinya ;
(b) untuk menyelenggarakan hukum-hukum sebagai hal-hal yang selalu ada dengan sewajarnya
('hubungan-hubungan yang perlu yang berasal dari siIat-siIat hal-hal yang sewajarnya) yang
akan menerangkan terjadinya berbagai tipe-tipe poitik juridis karena siIat ketergantungan pada
Ienomena sosial lainnya (khususnya dengan ekologi sosial yang menyelidiki dan menelaah
volume suatu masyarakat, bentuk dan bangun tanahnya, siIat-siIat khas geograIisnya, dan lain-
lainnya, dalam hubungannya dengan padat penduduk.
Tiga bentuk pokok pemerintahan (Republic, Monarki, Despotism); akhirnya pertikaian-
pertikaian antara bentuk dan asas pemerintahan, Montesquieu membatasi lapangan penyelidikan
dengan cara yang betul-betul tidak dapat diterima. Tetapi karena petunjuk-petunjuk tidak
menyebabkan adanya perbedaan antara makna-makna moral, maka Montesquieu, dalam
usahanya membatasi objek sosiologi hukum terpaksa menyandarkan diri pada ukuran lainnya:
dalam karyanya itu, hukum muncul karena: diselenggarakan oleh pembuat undang-undang,
yang ditetapkan terlebih dahulu dari atas dalam rumusan-rumusan yang kaku pendeknya, dan
diperintahkan oleh Negara.
Dalam hal ini ia jauh lebih kurang dari Aristoteles : ketidaktahuan tentang masalah-masalah
mikro sosiologi, pemutusan perhatiannya kepada sosiologi hukum genetis yang semata-mata
dipakainya di lapangan politik , dan selain itu, semata-mata kepada struktur-struktur Negara
terorganisasi, jelek sekali akibatnya bagi hasil-hasil penyelidikannya. Montesquieu, ia tidak
menghindarkan dirinya dari pengejaran suatu tujuan yang praktis, yakni pembenaran liberalisme,
individualistis, Maka kita akan menyadari bahwa meskipun kemajuan methodologis yang
dicapainya, namun dengan tertibnya esprit des lois itu sama sekali tidak berarti bahwa telah
tersusun pula suatu sosiologi hukum.

Page 8






HASIL PEMIKIRAN PARA AHLI FILSAFAT HUKUM DAN ILMU HUKUM
Hasil pemikiran para ahli IilsaIat hukum tersebut terhimpun dalam berbagai mazhab atau aliran,
antara lain sebagai berikut:
Mazhab Formalistis
Beberapa ahli IilsaIat hukum menekankan, betapa pentingnya hubungan antara hukum dengan
prinsip-prinsip moral (yaitu etika dalam arti sempit) yang berlaku umum. Salah seorang tokoh
terkemuka dari mazhab iini adalah ahli IilsaIat hukum dari inggris john Austin (1790-1859).
Austin terkenal dengan pahamnya yang menyatakan, Bahwa hukum merupakan perintah dari
mereka yang memegang kekuasaan tertinggi atau dari yang memegang kedaulatan. Menurut
Austin, hukum adalah perintah yang di bebankan untuk mengatur makhluk berpikir yang
memegan dan mempunyai kekuasaan. Austin menganggap hukum sebagai suatu sistem yang
logis, tetap dan bersiIat tertutup, dan oleh karena itu ajarannya dinamakan abalytical
furisfrudence.
Jadi hukum secara tegas dipisahkan dari keadilan (dalam arti kesebandingan) dan hukum tidak
didasarkan pada nilai-nilai yang baik atau buruk, melainkan di dasarkan pada kekuasaan dari
penguasa. Menurut austiin, hukum-hukum di bagi dalam dua bagian, yaitu hukum yang di buat
oleh Tuhan dan hukum yang disusun oleh umat Manusia. Hukum yang dibuat manusia dapat di
bedakan dalam:
Hukum Yang Sebenarnya
Hukum Yang Tidak Sebenarnya
Hukum yang sebenarnya terdiri atas hukum yang dibuat oleh penguasa bagi pengikut-
pengikutnya dan hukum yang disusun oleh individu-individu guna melaksanakan hak-hak yang
diberikan kepadanya.
Austin beranggapan bahwa hukum yang sebenarnya mengandung 4 unsur, yaitu:
Perintah, Sanksi, Kewajiban dan Kedaulatan. Hukum merupakan hasil dari perintah-perintah
yang artinya adalah bahwa ada satu pihak yang menghendaki bahwa pihak lain melakukan
sesuatu, atau tidak melakukan sesuatu.

Page 9


Kelemahan-kelemahan ajaran analitikal jurisprudence tersebut diatas adalah antara lain
bahwa suatu sistem hukum tidak mungkin untuk sepenuhnya bersiIat tertutup. Sistem yang
tertutup secara mutlak akan menyulitkan dan menghalang-halangi penyesuaian kaidah-kaidah
hukum terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat, perubahan-perubahan
tersebut disebabkan oleh timbulnya kebutuhan-kebutuhan baru.
Seorang tokoh dari mazhab Iormalitas adalah ans Kelsen yang terkenal dengan teori
murni tentang hukum (pure secery oI law) Hans Kelsen (1934:474-535), kelsen mengganggap
suatu sistem hukum sebagai suatu sistem pertanggapan dari kaidah-kaidah dimana suatu kaidah
hukum yang lebih tinggi derajatnya. Jadi, menurut kelsen setiap sistem hukum merupakan
stufenbau dari pada kaidah-kaidah.
Kelemahan utama dari teori kelsen tersebut terletak pada kaidah-kaidah dasar apakah
yang menjadi dasar sah nya kaidah dasar tersebut. Kelsen menganggap persoalan tadi tidak
penting karena pertanyaan tadi bersiIat meta yuridis. Secara priori dia menganggap bahwa
kaidah dasar adalah sah.

Mazhab Sejarah dan kebudayaan

Mazhab sejarah dan kebudayaan, mempunyai pendirian yang sangat berlawanan dengan mazhab
Iormalitas. Mazhab ini justru menjelaskan bahwa hukum hanya dapat di mengerti dengan cara
menelaah kerangka sejarah dan kebudayaan dimana hukum tersebut timbul. Seorang tokoh
terkemuka dari mazhab ini adalah Friendrich Karl Jon Savigny (1779-1861) yang dianggap
sebagai permukaan ilmu sejarah hokum. Von Savigny berpendapat, bahwa hukum merupakan
perwujudan dan kesadaran hukum masyarakat (volksgeist). Dia berpendapat, bahwa semua
hukum berasal adri adat istiadat dan kepercayaan, bukan berasal dari pembentuk undang-undang
Jon Savigny, seorang jerman, waktu itu menentang kodiIikasi hukum jerman. Keputusan-
keputusan badan legislative dapat membahayakan masyarakat karena tidak selalu sesuai dengan
kesadaran hukum masyarakat.

Von Savigny selannjutnya mengemukakan, betapa pentingnya untuk meneliti hubungan antara
hokum dengan struktur masyarakat beserta system nilai-nilainya.
Kelemahan pokok dari teori von savigny terletak pada konsepnya mengenai kesadaran hukum
yang sangat abstrak.

Page



Seorang tokoh lain dari mazhab ini adalah Sir enry Maine (1822-1888) yang terkenal sebagai
penulis buku ancient law. Teori yang terkenal adalah perihal perkembangan hukum dari status ke
kontrak yang sejalan dengan perkembangan masyarakat yang sederhana ke masyarakat yang
modern and kompleks. Menurut maine, hubungan-hubungan hokum yang didasarkan pada status
warga masyarakat yang masih sederhana, berangsur-angsur akan hilang apabila masyarakat tadi
berkembang menjadi masyarakat modern dan kompleks. Pembedaan antara masyarakat
sederhana dengan yang modern dan kompleks adalah sejalan dengan pembedaan yang di lakukan
oleh para sosiologi atas masyarakat sederhana yang secara relative bersiIat statis dan homogeny,
dengan masyarakat yang kompleks, dinamis dan heterogen.

Kiranya telah jelas, betapa pentingnya hasil hasil pemikiran tokoh-tokoh mazhab sejarah dan
kebudayaan tersebut, bagi perkembangan sosiologi hukum. Hal ini pun di akui oleh tokoh-tokoh
teori sosiologi seperti Emile Durkheim dan Max Weber yang menyadari betapa pentingnya
aspek-aspek kebudayaan sejarah untuk memahami gejala hokum dan masyarakat.



Aliran Utilitarianism

Jeremy Bentham (1748-1832) dapat di anggap sebagai salah seorang tokoh yang terkemuka dari
aliran ini. Bentham adalah seorang ahli IilsaIat hukum yang sangat menekankan pada apa yang
harus dilakukan oleh suatu sistem hukum. Dalam teori tentang hukum, Bentham
mempergunakan salah satu prinsip dari aliran utilitarianism, bahwa manusia bertindah untuk
memperbanyak kebahagiaan dan mengurangi penderitaan.

Tokoh lain dari aliran ini adalah Rudolph Jon Lhering (1818-1892) yang ajarannya biasanya
disebut sebagai social utilitarianism. Von lhering menganggap bahwa hukum merupakan suatu
alat bagi masyarakat untuk mencapai tujuannya.Dia menganggap hukum sebagai sarana untuk
mengendalikan individu, agar tujuannya sesuai dengan tujuan masyarakat dimana mereka
menjadi wargannya.Bagi lhering, hukum juga merupakan suatu alat yang dapat dipergunakan
untuk melakukan perubahan perubahan sosial. Ajaran ajaran lhering banyak memperngaruhi
jalan pikiran para sarjana sosiologi hukum Amerika, antara lain Roscoe Pound.

Page







Aliran Sociological Jurisprudence

Seorang ahli hukum dari Austria yaitu Eugen Ehrlich dianggap sebagai pelopor dari aliran
sociological jurisprudence berdasarkan hasil karyanya yang berjudul fundamental principles of
the sociologi of law.

Ajaran-ajaran aliran sociological jurisprudence berkembang dan menjadi popular di Amerika
Serikat terutama atas jasa Roscoe (1870-1964). Roscoe pound berpendapat bahwa hukum harus
dilihat atau dipandang sebagai suatu lembaga kemasyarakatan yang berIunsi untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhan sosial dan tugas dari ilmu hukum untuk mengembangkan suatu kerangka
yang mana kebutuhan-kebutuhan social dapat terpenuhi secara maksimal.
Selanjutnya, Pound menganjurkan untuk mempelajari hukum sebagai suatu proses (law in
action) yang dibedakannya dengan hokum tertulis (law in the book). Perbedaan ini dapat
dibedakan pada seluruh bidang hukum, baik hukum substantiIe maupun hukum ajektiI.

Aliran sociological juris Irudence telah meninggalkan pengaruh yang mendalam, terutama pada
pemikiran hukum Amerika Serikat. Walaupun aliran tersebut belum sepenuhnya dapat
dinamakan sosiologi hukum, karena usahanya untuk menetapkan kerangka normatiIe bagi
ketertiban hukum belum tercapai, akan tetapi aliran tersebut memperkenalkan teori-teori dan
metode sosiologi pada ilmu hukum.

Aliran Realisme Hukum

Aliran realism hokum diprakarsai oleh Karl Llewellyn (1893-1962), Jerome frank (1889-1957),
dan Justice Oliver Wendelll olmes(1841-1935) ketiga-tiganya orang Amerika.

Page



Ahli-ahli pemikir dari aliran ini menaruh perhatian yang sangat besar terhadap keadilan,
walaupun mereka berpendapat bahwa secara ilmiah tidak dapat ditentukan apa yang dinamakan
hukum yang adil.






B. HASIL-HASIL PEMIKIRAN PARA SOSIOLOG

Emile Durkheim (1858-1917)

Emile Durkheim dari perancis adalah seorang tokoh penting yang mengembangkan sosiologi
dengan ajaran-ajaran yang klasik. Didalam masyarakat dapat ditemukan dua macam kaidah
hukum, yaitu RepresiI dan RestitutiI.

Didalam masyarakat dapat dijumpai kaidah-kaidah hukum yang sangksinya mendatangkan
penderitaan bagi mereka yang melanggar kaidah-kaidah hukum yang bersangkutan. Sanksi
kaidah hukum tersebut menyangkut hari depan dan kehormatan seorang warga masyarakat atau
bahkan merampas kemerdekaan dan kenikmatan hidupnya. Kaidah-kaidah hukum tersebut
merupakan kaidah-kaidah hukum yang reIresiI yang merupakan hukum pidana. Dijumpai pula
kaidah-kaidah hukum yang bersiIat sanksi berbeda dengan kaidah-kaidah hukum yang reIresiI.
Tujuan utama dari sanksi-sanksi kaidah hukum jenis yang kedua ini tidak perlu semata-mata
mendatangkan penderitaan bagi mereka yang melanggarnya. Tujuan utama kaidah-kaidah hukum
ini adalah untuk mengembalikan kaidah pada situasi semula, sebelum terjadi kegoncangan sebagi
akibat dilanggarnya suatu kaidah hukum, kaidah tersebut adalah kaidah yang restitutiI. Kaidah
tersebut antara lain mencakup hukum perdata, hukum dagang, hukum acara, hukum administrasi,
dan hukum tata Negara setelah dikurangi dengan unsur-unsur pidananya.

Page



Menurut Durkheim dapat di bedakan dua macam solidaritas positiI yang dapat di tandai oleh ciri-
ciri berikut:
Pada solidaritas pertama, seorang warga masyarakat secara langsung terikat kepada masyarakat.
Didalam hal solidaritas yang kedua, seorang warga masyarakat tergantung kepada masyarakat,
karena dia tergantung pada bagian-bagian masyarakat yang bersangkutan.
Dalam hal solidaritas kedua tersebut, masyarakat tidak dilihat dari aspek yang sama. Dalam hal
pertama, masyarakat merupakan kesatuan kolektiI dimana terdapat kepercayaan dan perasaan
yang sama. Sebaliknya, pada hal kedua masyarakat merupakan suatu sistem yang terdiri dari
bermacam-macam Iungsi yang merupakan hubungan-hubungan yang tetap, sebetulnya keduanya
merupakan suatu gabungan, akan tetapi dilihat dari sudut-sudut yang berbeda.
Dari kedua perbedaan tersebut timbullah perbedaan yang lain dapat menentukan karakteristik
dan nama dua macam solidaritas di atas.

Max Weber (1864-1920)

Ajaran-ajaran Max Weber (seorang jerman yang mempunyai latar belakang pendidikan dibidang
hukum) yang memberi saham dalam perkembangan ilmu sosiologi sangat banyak dan bersiIat
klasik khususnya tentang sosiologi hukum, dibahasnya dengan luas terutama dalam bab7 dari
buku wirtschaft and gesellschaft yang merupakan pembukuan kembali dari karangan tentang
ekonomi dan masyarakat.

Praktikus hukum maupun yang dinamakannya para honoratioren. Para honoratioren adalah
orang-orang yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

Oleh karena kedudukan ekonominya, orang-orang yang bersangkutan secara langsung berhasil
menduduki posisi kepemimpinan tanpa ganti rugi atau hanya dengan ganti rugi secara nominal.
Mereka menempati kedudukan social terpandang yang sedemikian rupa sehingga hal tersebut
akhirnya menjadi suatu tradisi (M. Rheinstein 1967:52)
Maka suatu alat pemaksa menentukan bagi adanya hukum. Alat pemaksa tersebut tidak perlu
berbentuk badan peradilan sebagaimana yang dikenal di dalam masyarakat yang modern dan
komplek. Alat tersebut dapt berwujud suatu keluarga. Konvensi sebagai mana dijelaskan diatas,
juga meliputi kewajiban-kewajiban akan tetapi tanpa suatu alat pemaksa. Konvensi-konvensi

Page



tersebut harus dibedakan dari Usage ( Kebiasaan) merupakan kemungkinan-kemungkinan
adanya uniIornitas di dalam orientasi suatu aksi sosial, sedangkan Custom ( Adap Istiadat),
terjadi apabila suatu perbuatan telah menjadi kebiasaan. Usage merupakan suatu bentuk
perbuatan, sedangkan Custom adalah perbuatan yang diulang-ulang didalam bentuk yang sama.
Baik usage maupun custom tidak bersiIat memaksa dan orang tidak wajib untuk mengikutinya.
Menurut Julien Freund, bentuk-bentuk yang di kemukakan oleh Max Weber tersebut merupakan
bentuk-bentuk ideal (J.Freund 1969:248)
Selanjutnya didalam teori Max Weber tentang hukum dikemukakan empat type
ideal dari hukum, yaitu masing-masing sebagai berikut :
Hukum irrasional dan materiil yaitu dimana pembentuk undang-undang dan hakim mendasarkan
keputusannya semata-mata pada nilai emosional tanpa menunjuk pada suatu kaidah pun.
Hukum irrasional dan Iormil yaitu dimana pembentuk undang-undang dan hakim berpedoman
pada kaidah-kaidah diluar akal, oleh karena didasarkan pada wahyu atau ramalan.

Hukum rasional dan materiil yaitu dimana keputusan-keputusan para pembentuk uundang-
undang dan hakim menunjuk pada suatu kitab suci, kebijaksanaan penguasa atau ideology.
Hukum rasional dan Iormil yaitu dimana hukum dibentuk semata-mata atas dasar konsep-konsep
abstrak dari ilmu hukum.
Dengan demikian, hukum Iormal cenderung untuk menyusun sistematika kaidah-kaidah hukum,
sedangkan hukum material lebih bersiIat empiris. Namun demikian, kedua macam hukum
tersebut dapat di rasionalisasikan yaitu pada hukum Iormal di dasarkan pada logika murni,
sedangkan hukum material pada kegunaannya.Walaupun demikian, mungkin masih dapat di
temukan unsur yang irasional, seperti adanya lembaga sumpah. Juga lembaga juri di Negara-
negara anglo saxon yang merupakan unsur irasional dalam hukum.
C. Dinamika Masyarakat dan Kebudayaan.
Dinamika masyarakat berasal dari kata dinamika dan masyarakat. Dinamika berati interaksi atau
interdependensi antara masyarakat satu dengan yang lain, sedangkan masyarakat adalah
kumpulan individu yang saling berinteraksi dan bersosialisasi serta mempunyai tujuan bersama.
Maka Dinamika Masyarakat merupakan suatu kehidupan masyarakat yang terdiri dari dua atau
lebih individu dalam suatu wilayah yang memiliki hubungan psikologis secara jelas antara
masyarakat yanI satu dengan yang lain dan berlangsung dalam situasi yang dialami.
Untuk menganalisa secara ilmiah tentang gejala-gejala dan kejadian sosial dan budaya di
masyarakat sebagai proses-proses yang sedang berjalan atau bergeser diperlukan beberapa

Page



konsep. Konsep-konsep tersebut sangat perlu untuk menganalisa proses pergeseran masyarakat
dan kebudayaan serta dalam sebuah penelitian antropologi dan sosiologi yang disebut dinamika
sosial (social dynamic). Konsep-konsep penting tersebut antara lain sebagai berikut :
1. Internalisasi (internalization).
Proses Belajar Kebudayaan Sendiri disebut Proses Internalisasi. Manusia mempunyai bakat
tersendiri dalam gen-nya untuk mengembangkan berbagai macam perasaan, hasrat, naIsu, serta
emosi kepribadiannya. Tetapi wujud dari kepribadiannya itu sangat dipengaruhi oleh berbagai
macam pengaruh yang ada di sekitar alam dan lingkungan sosial dan budayanya. Maka proses
internalisasi yang dimaksud adalah proses panjang sejak seorang individu dilahirkan sampai ia
hampir meninggal, dimana ia belajar menanamkan dalam kepribadiannya segala hasrat,
perasaan, naIsu, serta emosi yang diperlukan sepanjang hidupnya.

2. Sosialisasi (socialization).
Proses sosialisasi. Proses ini bersangkutan dengan proses belajar kebudayaan dalam hubungan
dengan sistem sosial. Dalam proses itu seorang individu dari masa anak-anak hingga masa
tuanya belajar pola-pola tindakan dalam interaksi dengan segala macam individu di sekililingnya
yag menduduki beraneka macam peranan sosial yang mungkin ada dalam kehidupan sehari-hari.
3. Enkulturasi (enculturation).
Proses Enkulturasi. Dalam proses ini seorang individu mempelajari dan menyesuaikan alam
pikiran serta sikapnya dengan adat-istiadat, sistem norma, serta peraturan-peraturan yang hidup
dalam kebudayaannya. Kata enkulturasi dalam bahas Indonesia juga berarti 'pembudayaan.
Sorang individu dalam hidupnya juga sering meniru dan membudayakan berbagai macam
tindakan setelah perasaan dan nilai budaya yang memberi motivasi akan tindakan meniru itu
telah diinternalisasi dalam kepribadiannya.
4. Evolusi kebudayaan (cultural evolution).
Proses evolusi Sosial. yang mengamati perkembangan kebudayaan manusia dari bentuk yang
sederhana hingga bentuk yang semakin lama semakin kompleks. Proses ini mengenai suatu
aktivitas dalam sebuah lingkungan atau suatu adat dimana aktivitas yang dilakukan terus
berulang. Dan aktivitas yang dimaksud biasanya aktivitas yang menyimpang atau diluar
kehendak prilaku. Namun pada suatu ketika dan sering terjadi aktivitas tersebut selalu berulang
(recurent) dalam kehidupan sehari-hari disetiap masyarakat. Sampai akhirnya masyarakat tidak
bisa mempertahankan adatnya lagi, karena terbiasa dengan penyimpangan-penyimpangan
tersebut. Maka masyarakat terpaksa memberi konsesinya dan adat serta aturan diubah sesuai
dengan keperluan baru dari individu-individu didalam masyarakat. Proses Mengarah dalam
Evolusi Kebudayaan. Dengan mengambil jangka waktu yang panjang maka akan terlihat

Page



perubahan-perubahan besar yang seolah bersiIat menentukan arah (dirctional) dari sejarah
perkembangan masyarakat dan kebudayaan yang bersangkutan.

5. DiIusi (diIIusion).
Proses diIusi yaiu penyebaran kebudayaan secara geograIi, terbawa oleh perpindahan bangsa-
bangsa di muka bumi. Proses DiIusi dapat dikatakan Penyebaran Manusia. Ilmu
Paleoantropologi memperkirakan bahwa manusia terjadi di daerah Sabana tropikal di AIrika
Timur, dan sekarang makhluk itu sudah menduduki hampir seluruh permukaan bumi ini. Hal ini
dapat diterangkan dengan dengan adanya proses pembiakan dan gerakan penyebaran atau
migrasi-migrasi yang disertai dengan proses adapatasi Iisik dan sosial budaya.
6. Proses belajar unsur-unsur kebudayaan asing.
Penyebaran Unsur-Unsur Kebudayaan. Bersamaan dengan penyebaran dan migrasi kelompok-
kelompok manusia di muka bumi, turut pula tersebar unsur-unsur kebudayaan dan sejarah dari
proses penyebaran unsur penyebaran kebudayaan seluruh penjuru dunia yang disebut proses
diIusi (diIIusion). Salah satu bentuk diIusi dibawa oleh kelompok-kelompok yang bermigrasi.
Namun bisa juga tanpa adanaya migrasi, tetapi karena ada individu-individu yang membawa
unsur-unsur kebudayaan itu, dan mereka adalah para pedagang dan pelaut.
Proses ini dilakukan oleh warga suatu masyarakat, melalui proses akulturasi (acculturation) dan
asimilasi (assimilation). Akulturasi yaitu Proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia
dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing,
sehingga unsur-unsur kebudayaan asing tersebut lambat laun diterima dan diolah kedalam
kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri.
Sedangkan Asimilasi. Merupakan Proses sosial yang timbul bila ada golongan-golongan manusia
dengan latar kebudayaan yang berbeda-beda. Kemudian saling bergaul langsung secara intensiI
untuk waktu yang lama, sehingga kebudayaan golongan-golongan tersebut masing-masing
berubah siIatnya yang khas, dan juga unsur-unsurnya masing-masing berubah wujudnya menjadi
unsur-unsur kebudayaan yang campuran.
7. Proses pembaharuan atau inovasi (innovation). yang berhubungan erat dengan penemuan baru
(discovery dan invention).
Pembaruan atau Inovasi adalah suatu proses pembaruan dari penggunaan sumber-sumber alam,
energi dan modal, pengaturan baru dari tenaga kerja dan penggunaan teknologi baru yang semua
akan menyebabkan adanya sistem produksi, dan dibuatnya produk-produk baru. Proses inovasi
sangat erat kaitannya dengan teknologi dan ekonomi. Dalam suatu penemuan baru biasanya
membutuhkan proses sosial yang panjang dan melalui dua tahap khusus yaitu discovery dan
invention.

Page



Discovery adalah suatu penemuan dari suatu unsur kebudayaan yang baru, baik berupa suatu alat
baru, ide baru, yang diciptakan oleh individu atau suatu rangkaian dari beberapa individu dalam
masyarakat yang bersangkutan. Discovery baru menjadi invention apabila masyarakat sudah
mengakui, menerima, dan menerapkan penemuan baru itu. Pendorong Penemuan Baru.
B. Hukum dan Dinamika Masyarakat.
Setelah beberapa konsep pergeseran pola prilaku masyarakat dalam dinamika sosial yang telah
dijelaskan dalam pembahasan sebelumnya terlihat jelas bahwa banyak Iaktor yang dapat
mempengaruhi kehidupan masyarakat dan kebudayaan masyarakat. Maka dituntulah suatu
hukum yang dapat mengarahkan masyarakat kepada aturan dalam berkehidupan bermasyarakat
dan bernegara.
Hukum yang berupa perundang-undangan atau peraturan pada umumnya dirancang berdasarkan
asumsi-asumsi tertentu. Desain pengadilan menjadi begini atau begitu, misalnya didasarkan pada
perkiraan rata-rata jumlah perkara yang masuk. Berangkat dari situ ditentukan jumlah hakim,
panitera, ruang-ruang sidang Iasilitas Iisik lainnya.
Akan tetapi, keadaan tidak selalu sesuai dengan perkiraan, sehingga dapat muncul keadaan luar-
biasa yang tidak diduga sama sekali. Situasi seperti ini pernah terjadi di Amerika Serikat,
menyusul produksi obil yang menyebabkan banjir kendaraan di jalan-jalan. Pada gilirannya
terjadi banyak kecelakaan yang akhirnya berujung di pengadilan. Desain pengadilan yang tidak
siap menghadapi arus perkara yang masuk, akhirnya harus menyiapkan ketentuan-ketentuan
khusus atau menghadapi risiko ambruk (collapse).
Dalam sejarah dijumpai munculnya bentuk-bentuk kejahatan baru yang tidak siap dihadapi oleh
perundang-undangan yang ada. Perkembangan mutakhir adalah maraknya penggunaan komputer
dan internet yang kecuali memperkenalkan praksis baru didunia perdagangan, juga menyebabkab
terjadi kejahatan di dunia maya (cybercrime)
Hal dan kejadian yang diuraikan di atas menunjukkan bahwa sewaktu-waktu hukum memang
dihadapkan kepada situasi luar biasa. Apapun juga yang terjadi dan dihadapi, hukum tidak dapat
berhenti dan menolak untuk bekerja, semata-mata berdasarkan alasan, bahwa ia tidak
dipersiapkan untuk itu. Dalam situasi seperti itu, mau tidak mau kita akan memasuki ranah cara
berhukum yang luar-biasa. Apabila cara-cara biasa atau normal disebut 'rule making, maka cara
luar-biasa ini disebut 'rule breaking atau mematahkan dan menerobos hukum yang ada.
Sekali lagi, kita melihat dan mengalami, betapa perjalanan hukum itu tidak selalu lurus-lurus
saja, melainkan berkelok-kelok dan di sana-sini berupa patahan-patahan. Oleh patahan tersebut,
perjalanan hukum menjadi terputus, untuk kemudian dilanjutkan lagi. Ilmu dan teknologi
sekarang sudah semakin menjadi dewasa, dalam arti tidak lagi berpikir secara hitam putih,
melainkan mengakui komplektisitas, ketidakpastian dan relativitas.

Page
8


Para ahli yang mengatakan bahwa hukum itu sungguh otonom dan sama sekali tidak terpengaruh
oleh keadaan di luar hukum, berpendapat bahwa apa pun yang terjadi di luar yang menentukan
apa yang akan dilakukan oleh hukum adalah lawyers sendiri. Hukum itu adalah 'law oI the
lawyers. Maka sekalipun terjadi perubahan perubahan besar di dunia, sebelum para lawyers
mengatakan bahwa hukum harus diubah, perubahan pun tidak akan terjadi dan bisnis hukum
akan berjalan seperti biasa.
Di lain pihak, para strukturalis seperti Nonet dan Selznick, mengintegrasikan dunia di luar
hukum dengan hukum itu sendiri. Perubahan-perubahan di luar secara generik akan berpengaruh
kepada hukum. Ini dilakukan oleh kedua orang tersebut dengan developmental modelnya.
Selama ini (ditulis tahun 70-an), hukum dan lingkungan sosial terpisah secara tajam. Hukum
bekerja menurut apa yang dianggapnya betul, tanpa menengok keluar, kepada penyelesaian yang
dilakukan oleh ilmu-ilmu sosial. Pengadilan dijalankan menurut logika hukum. Dengan demikian
hukum menjadi mandul, demikian Nonet dan Selznick. Karena itu, mereka menyarankan agar
hukum juga memanIaatkan apa yang mereka namakan 'social science strategy
Dewasa ini bangsa indonesia sedang menghadapi masalah-masalah besar seperti korupsi,
perkembangan ekonomi yang lamban, kerusakan dan kemerosotan lingkungan, bangkitnya
rakyat dalam berdemokrasi dan sejumlah masalah besar lainnya. Hanya mengandalkan hukum
yang bekerja konvensional dan tetap bekerja menurut cara dan irama biasa, melakukan 'business
as usual ternyata tidak menolong banyak.
Fokus kepada Masalah Korupsi yang sekarang sudah semakin meruyak itu, adalah contoh dari
keadaan luar-biasa yang terjadi di negara ini. Maka masalah korupsi pun harus mendapat
penanganan secara luar biasa pula, dari kejadian kecil-kecilan di tahun 50-an, sekarang sudah
berkembang menjadi extraordinary crime. Saat indonesia mengalami keadaan seperti itu, yang
disebut keadaan luar-biasa (extraordinary).pada tahun tersebut, Dibentuklah Tim Gabungan
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (TGPTPK) tahun 1999 yang merupakan cara-cara luar-
biasa (extra-ordinary meansures) untuk menghadapi masalah korupsi tersebut. Bahkan Tim
tersebut pernah menyarankan kepada pemerintah agar menyatakan indonesia dalam 'keadaan
darurat perang melawan korupsi. Tetapi harapan untuk menyambut langkah progresiI tersebut
berakhir disebabkan TGPTPK dibubarkan oleh Mahkamah Agung pada waktu itu. Dengan
alasan pembentukan TGPTPK tersebut cacat yuridis dan prosedural.
Tetapi apa pun yang terjadi kita tidak dapat terus-menerus membiarkan penyelesaian terhadap
masalah-masalah besar di negeri kita begitu saja, seolah-olah tidak ada masalah besar tanpa
melakukan perombakan dalam cara kerja hukum di negeri ini. Dengan perubahan besar kepada
beberapa institusi hukum dan jajaran-jajaran pemerintahan.
Perubahan besar tersebut pun tidak mungkin terjadi mana kala orang waktu itu tetap berpikir
biasa-biasa saja dalam menyelesaikan masalah-masalah besar tersebut yang berarti meneruskan
praktik yang sesungguhnya sudah dirasakan ketidakadilan dan ketidakbenarannya. Belajar dari

Page
9


pengalaman bangsa lain tersebut dan dari sejumlah pengalaman kita sendiri, kita dapat
mengatakan bahwa kesediaan dan keberanian untuk berpikir luar-biasa sangat dibutuhkan
sebelum melangkah kepada tindakan konkret.
Sekarang kita sudah sampai pada satu titik dalam peradaban manusia, dimana hukum harus
sejalan dengan perkembangan masyarakat. Jika diasumsikan, perkembangan masyarakat saat ini
tidak lagi berjalan seperti yang biasanya tetapi melesat bagai mobil dengan kecepatan tinggi.
Artinya dengan arus modern dan globalisasi saat ini yang secara tidak langsung berpengaruh
kepada perkembangan kehidupan masyarakat, maka dari itu keadaan tersebut tentu harus di
tunjang dengan hukum lebih responsiI menanggapi hal tersebut, jika perkembangan masyarakat
yang melesat bagai mobil, harusnya didukung oleh hukum yang lebih maju kedepan, melesat
bagai pesawat terbang, yang berarti dinamis mengikuti perkembangan masyarakat.
Hukum yang kita gunakan sekarang ini adalah sebuah karya manusia yang dibuat dengan sengaja
(purposeIul). Hukum itu berubah dari masa ke masa. Sejarah hukum modern sekarang ini
dimulai mundur untuk kurun waktu ribuan tahun yang lalu. Tidak hanya hukum modern yang
muncul tetapi juga sejumlah konsep, asas, konstruksi, doktrin yang menyertainya dan yang
berIungsi untuk memelihara dan menjalankan hukum modern tersebut. Kumpulan dari sekalian
hal tersebut membentuk citra 'hukum yang normal. Hukum ingin dicitrakan sebagai produsen
ketertiban dan oleh karena itu harus dijaga dengan berbagai cara, termasuk ide kepastian hukum.
Para proIesional hukum akan mengatakan bahwa mereka tidak bisa mulai bekerja kalau kita
tidak mematok kepastian hukum kepatuhan hukum dan lain-lain. Harusnya proIesional hukum
tersebut harus bekerja karena kepedulian mereka adalah kepada kebenaran dan bukan kepada
proIesi. Namun demikian dalam menghadapi persoalan-persoalan bangsa yang besar sekarang
ini, termasuk pemberantasan korupsi dan masalah-masalah hukum lainnya diperlukan Hukum
yang merupakan karya manusia yang berupa noma-norma, berisikan petunjuk-petunjuk tingkah
laku. Hukum merupakan pencerminan dari kehendak manusia tentang bagaimana seharusnya
masyarakat itu dibina dan kemana harus diarahkan. Oleh karena itu hukum harus mengandung
rekaman dari ide-ide yang dipilih oleh masyarakat tempat hukum itu diciptakan. Ide-ide ini
adalah ide mengenai suatu keadilan.
Hukum selalu berhubungan dengan masyarakat dan perilaku-perilakunya dalam konteks
interaksi sosial, oleh karena itu permasalahan hukum selalu menjadi wacana yang sangat
menarik. Mengapa hukum selalu menjadi perhatian yang sangat menarik pada saat ini, karena
perilaku-perilaku dari masyarakat dalam interaksi sosial sangat bertalian dengan masalah
keadilan. Kaitan yang erat antara hukum dan nilai-nilai sosial budaya masyarakat itu ternyata
bahwa hukum yang baik tak lain adalah hukum yang mencerminkan nilai-nilai yang hidup
dimasyarakat.
Dengan demikian setiap membicarakan hukum tidak terlepas dari konteks persoalan keadilan,
Kita tidak dapat membicarakan hukum dari wujud Iormalnya saja, tetapi harus dilihat juga dari
ekspresi cita-cita keadilan masyarakat.

Page



BAB III
3.1 PENUTUP
3.2 Kesimpulan
Emile Durkheim dari perancis adalah seorang tokoh penting yang mengembangkan sosiologi
dengan ajaran-ajaran yang klasik. Didalam masyarakat dapat ditemukan dua macam kaidah
hukum, yaitu RepresiI dan RestitutiI. Tujuan utama kaidah-kaidah hukum ini adalah untuk
mengembalikan kaidah pada situasi semula, sebelum terjadi kegoncangan sebagi akibat
dilanggarnya suatu kaidah hukum, kaidah tersebut adalah kaidah yang restitutiI. Kaidah tersebut
antara lain mencakup hukum perdata, hukum dagang, hukum acara, hukum administrasi, dan
hukum tata Negara setelah dikurangi dengan unsur-unsur pidananya.
Sosiologi hukum timbul dalam pemikiran-pemikiran sejarah dan, etnograIi yang berkenaan
dengan hukum, dan juga dalam penyelidikan-penyelidikan di lapangan hukum yaitu mencari
maksud-maksud lainnya seperti menciptakan suasana idaman sosial atau berupa IilsaIat teknis
mengenai sumber-sumber, hukum adalah tuntunan-tuntunan hukum yang ditetapkan dalam
rumus-rumus adalah lebih abstrak lebih statis dan dinamis.
Sosiologi hukum adalah ilmu yang mempelajari Ienomena hukum dengan mencoba keluar dari
batas-batas peraturan hukum dan mengamati hukum sebagaimana dijalankan oleh orang-orang
dalam bermasyarakat dan sosiologi hukum itu berkembang berdasarkan suatu proses hukum
yang berlangsung dalam suatu sistem sosial yang dinamakan masyarakat, dan hukum muncul
karena di selenggarakan oleh pembuat undang-undang.
3.3 Saran
Dengan mempelajari Sosiologi Hukum Diharapkan agar kita dapat memahami secara
mendalam, menelaah Beberapa Tokoh-Tokoh Yang Mempengaruhi Terbentuknya Sosiologi
Hukum dalam konteks yang benar. Sehingga kita bisa memahaminya dengan mudah.






Page



DaItar Pustaka
Soekanto, ProI, Dr. Soerjono, S.H, M.A. 1980. Pokok-Pokok Sosiologi Hukum. Jakarta : PT
RajagraIindo Persada
Berry David. 2003. Pokok-Pokok Pikiran dalam Sosiologi. Jakarta : PT RajaGraIindo Persada
www.google.co.id