Anda di halaman 1dari 13

C1 ge[ala serangan hama

LAPORAN DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN Gejala Serangan Hama


Tanaman
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Seperti kita ketahui bahwa tanaman adalah makhluk hidup ciptaan Tuhan yang memiliki manIaat
sangat besar terutama bagi kepentingan manusia. Sebagian besar produk/hasil tanaman tersebut
dimanIaatkan oleh manusia untuk kepentingan hidup dan kehidupannya. Namun sebaliknya,
produk/hasil tanaman tersebut juga diminati makhluk hidup lain yaitu hama. Fenomena inilah
yang menyebabkan manusia harus senantiasa berusaha agar produk/hasil tanaman yang
dibudidayakan tersebut terhindar dari gangguan organisme pengganggu tanaman. Dalam agro-
ekosistem, tanaman yang kita usahakan dinamakan produsen, sedangkan herbivora yang makan
tanaman dinamakan konsumen pertama, sedangkan karnivora yang makan konsumen pertama
adalah konsumen kedua. Herbivora yang berada pada tanaman tidak semuanya menimbulkan
kerusakan. Ada herbivora yang keberadaannya dikehendaki ada juga yang tidak. Herbivora yang
keberadaannya tidak dikehendaki karena dapat menimbulkan kerusakan pada tanaman yang
dibudidayakan disebut hama. Jadi selama keberadaannya ditanaman tidak menimbulkan
kerusakan secara ekonomis, maka herbivora tersebut belum berstatus hama.
Hama adalah semua herbivora yang dapat merugikan tanaman yang dibudidayakan manusia
secara ekonomis. Akibat serangan hama produktivitas tanaman menjadi menurun, baik kualitas
maupun kuantitasnya, bahkan tidak jarang terjadi kegagalan panen. Oleh karena itu kehadirannya
perlu dikendalikan, apabila populasinya di lahan telah melebihi batas Ambang Ekonomik. Dalam
kegiatan pengendalian hama, pengenalan terhadap jenis-jenis hama (nama umum, siklus hidup,
dan karakteristik) serta gejala kerusakan tanaman menjadi sangat penting agar tidak melakukan
kesalahan dalam mengambil langkah/tindakan pengendalian.
Penyakit tumbuhan dapat ditinjau dari dua sudut yaitu sudut biologi dan sudut ekonomi,
demikian juga penyakit tanamannya. Kerusakan yang ditimbulkan oleh penyakit tumbuhan dapat
menimbulkan kerugian yang sangat besar terhadap masyarakat. Kerusakan ini selain disebabkan
oleh karena hilangnya hasil ternyata juga dapat melalui cara lain yaitu menimbulkan gangguan
terhadap konsumen dengan adanya racun yang dihasilkan oleh jamur dalam hasil pertanian
tersebut.
Tumbuhan menjadi sakit apabila tumbuhan tersebut diserang oleh pathogen (parasit) atau
dipengaruhi oleh agensia abiotik (Iisiopath). Oleh karena itu, untuk terjadinya penyakit
tumbuhan, sedikitnya harus terjadi kontak dan terjadi interaksi antara dua komponen (tumbuhan
dan patogen). Interaksi ketiga komponen tersebut telah umum digambarkan sebagai suatu
segitiga, umumnya disebut segitiga penyakit (disease triangle).
Setiap sisi sebanding dengan total jumlah siIat-siIat tiap komponen yang memungkinkan
terjadinya penyakit. Sebagai contoh, jika tumbuhan bersiIat tahan, umumnya pada tingkat yang
tidak menguntungkan atau dengan jarak tanam yang lebar maka segitiga penyakit dan jumlah
penyakit akan kecil atau tidak ada, sedangkan jika tumbuhan rentan, pada tingkat pertumbuhan
yang rentan atau dengan jarak tanam rapat, maka sisi inangnya akan panjang dan jumlah
potensial penyakit akan bertambah besar. Dengan cara yang sama, patogen lebih virulen, dalam
jumlah berlimpah dan dalam keadaan aktiI, maka sisi patogen akan bertambah panjang dan
jumlah potensial penyakitnya lebih besar. Juga keadaan lebih menguntungkan yang membantu
patogen, sebagai contoh suhu, kelembaban dan angin yang dapat menurunkan tingkat ketahanan
inang, maka sisi lingkungan akan menjadi lebih panjang dan jumlah potensial penyakit lebih
besar.

1.2 Tujuan
Untuk dapat mengenal cirri-ciri perubahan morIologi bagian tanaman dan membedakan
penyebab perubahan tersebut.











BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Mengenal kerusakan pada tanaman yang disebabkan oleh berbagai pengganggu akan sangat
membantu dalam diagnosis. Diagnosis merupakan proses yang sangat penting. Hasil diagnosis
akan menentukan keberhasilan suatu pengelolaan penyakit tanaman. Kegagalan suatu diagnosis
akan menyebabkan kegagalan dalam tahap pengendalian. Sebagai contah klasik dikemukakan
oleh Fry (1982) pada pertanaman bit gula dipinggiran kota New York terjadi masalah kekerdilan
tanaman. Dugaan awal kekerdilan tersebut disebabkan oleh karena kekurangan hara. Namun
ternyata aplikasi pemupukan tidak menyelesaikan masalah. Konsultasi dengan ahli penyakit
tanaman menyimpulkan bahwa tanaman terserang oleh nematoda Heterodera schachtii. Dengan
demikian diagnosis yang baik harus memiliki eIektivitas yang tinggi. Disamping itu diagnosis
juga harus cepat. Keterlambatan hasil diagnosis karena berbagai hal dapat menyebabkan
penyakit sudah berkembang pesat, sehingga hasil tidak dapat diselamatkan. Disamping eIektiI
dan cepat, diagnosis juga harus murah. Biaya diagnosis yang mahal tidak akan terjangkau oleh
petani kecil, sehingga mereka enggan pergi ke klinik untuk memeriksakan tanaman.
Ganguan merupakan suatu proses interaksi anatara berbagai Iactor yang mempengaruhi. Hasil
proses interaksi tersebut dapat dilihat dengan adanya kerusakan pada tanaman, Karena tanaman
yang terganggu oleh pengganggu tertentu sering menunjukkan kerusakan akan tertentu pula.
Beberapa jenis hama tidak hanya memakan bagian tubuh tanaman tetapi juga mengeluarkan
substansi tertentu yang berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman. Beberapa jenis hama yang
lain akan meninggalkan bebas aktivitas yang khas.
Banyak macam patogen tumbuhan dan tidak sedikit diantaranya yang mempunyai arti ekonomi
penting. Setiap macam tanaman dapat diserang oleh banyak macam patogen tumbuhan, begitu
pula satu macam patogen ada kemungkinan dapat menyerang sampai berpuluh-puluh tanaman.
Sering pula terjadi, bahwa patogen tumbuhan tertentu dapat menyerang satu macam organ
tanaman atau ada pula yang menyerang berbagai macam organ tanaman. Sebagai akibat dari
reaksi tersebut maka suatu kerusakan tertentu akan tampak pada tanaman. Perkembangan
selanjutnya, bagian pathogen atau pathogen itu sendiri dapat menampakkan diri pada permukaan
tanaman inang yang abnormal. Abnormalitas atau perubahan-perubahan yang ditunjukkan oleh
tanaman sakit sebagai akibat adanya serangan agensia penyakit-penyakit (pathogen) tersebut
disebut gejala, sedangkan pengenal yang ditunjukkan oleh selain reaksi tanaman inang disebut
tanda. Contoh tanda penyakit misalnya miselium jamur, spora atau konidi jamur, badan buah
jamur, mildew, sklerosium, koloni baketri yang berupa lendir, dan sejenisnya.
Parasit yang menyebabkan penyakit pada tanaman pada umumnya membentuk bagian
vegetatiInya di dalam jaringan tanaman sehingga tidak tampak dari luar. Tetapi walaupun
demikian ia membentuk bagian reproduktiInya pada permukaan tanaman yang diserangnya atau
hanya sebagian tampak pada permukaan tersebut. Selan itu sering pula pembentukan propagul
dalam bentuk istirahat pada permukaan tanaman.
Pada beberapa kasus hampir seluruh bagian dari parasit termasuk, propagul vegetatiI dan
generatiI terdapat pada bagian luar tanaman sehingga dapat dilihat. Dalam hubungan ini untuk
penamaan penyakit dapat didasarkan pada struktur patogen yang terlihat:
Mildew
Merupakan penyakit tanaman dimana patogen terlihat sebagai pertumbuhan pada permukaan luar
dari bagian tanaman yang terserang. Biasanya tampak dalam bentuk yang berwarna keputih-
putihan pada daun, cabang atau buahnya.
Downy Mildew
Merupakan pertumbuhan yang ditandai dengan lapisan seperti bulu-bulu kapas.
Powdery Mildew
Merupakan bentuk yang terdapat pada permukaan tanaman yang tampak sebagai lapisan pupur.
Karat
Gejala pada permukaan tanaman seperti karat. Hal ini karena adanya kumpulan spora yang
keluar dari stomata dengan warna seperti karat (merah kecoklat-coklatan).
Smut (Gosong)
Gejala ini menyerupai tepung berwarna kehitam-hitaman dan terdapat pada organ perbungaan,
batang, daun dan sebagainya.
Kudis
Patogen (tubuh buah) yang muncul pada permukaan bagian yang terserang berbentuk agak kasar
seperti kudis.
Cacar
Bagian tanaman biasanya daun muda yang terserang mengelupuh (seperti cacar) dan pada bagian
yang menonjol terbentuk lapisaan tubuh buah.
Bercak ter (Tarspot)
Bagian yarig terserang agak menonjol dan berwarna hitam. Bagian yang hitam tersebut terdiri
dari tubuh buah cendawan.
Perubahan yang ditunjukkan suatu penyakit dapat hanya setempat atau menyeluruh.
Abnormalitas yang timbul hanya setempat atau hanya terbatas pada daerah tertentu saja di bagian
tubuh tanaman disebut abnormalitas lesional atau local, sedangkan abnormalitas yang timbul
pada seluruh tubuh tanaman disebut abnormalitas sistemik. Abnormalitas yang tampak
sebenarnya disebabkan oleh adanya perubahan sel-sel bagian tanaman yang bersangkutan.
Penyakit dapat dikenal dengan mata telanjang dari gejalanya atau simptomnya. Penyakit
tumbuhan dialam yang belum ada campur tangan manusia adalah hasil interaksi antara pathogen,
inang dan lingkungan. Sedangkan penyakit tanaman yang terjadi setelah campur tangan manusia
adalah hasil interaksi antara pathogen, inang, lingkungan dan manusia.
Tanaman individual dapat menunjukkan gejala: perubahan warna, perubahan bentuk, kelayuan,
dan pertanaman dapat menunjukkan kelompok gejala yang membentuk gambaran penyakit atau
sindrom. Dari gambaran penyakit ini orang menentukan penyebabnya atau mengadakan
diagnosis. Untuk diagnosis biasanya dilakukan dilapangan atau di laboratorium. Penyakit
disebabkan oleh penyebab abiotik dan biotik. Penyebab penyakit abiotik disebut Iisiopath,
sedang penyebab penyakit yang biotic disebut pathogen. Gejala morIologi penyakit tumbuhan
dibedakan atas tiga pokok yaitu : nekrosis (matinya sel, jaringan atau seluruh organ), hipoplasia
(terjadinya hambatan pertumbuhan), dan hyperplasia (terjadinya pertumbuhan yang luar biasa).
1. gejala nekrosis
Yaitu tipe kerusakan yang disebabkan karena adanya kerusakan pada sel atau kerusakan bagian
sel atau matinya sel. Terdapat berbagai bentuk gejala nekrotik yang disebabkan oleh berbagai
patogen yang berbeda pada bagian tanaman yang, diserangnya:
Bercak. Sel-sel yang rnati hanya terjadi pada luasan terbatas dan biasanya bewarna kecoklat-
coklatan. Sebelum terjadi di kematian sel warnanya agak kekuning-kuningan. Bagian jaringan
yang mati seringkali sobek dan terpisah dari jaringan yang ada sekitarnya yang. masih sehat.
Gejala tersebut disebut shot-hole atau tembus peluru. Bentuk, lesio dari bercak ini dapat bundar,
segi empat bersudut, atau tidak teratur. Sisi bercak berwarna jingga, coklat, dan sebagainya
seringkali pada bercak tersebut terlihat adanya tubuh buah.
Streak dan shipe. bagian yang nekrotik memanjang masing-masing sepanjang tulang daun dan di
antara tulang daun
Kanker. Terjadi kematian sel kulit batang terutama pada tanaman berkayu. Permukaan
bercaknya agak tertekan kebawah atau bagian kulitnya pecah sehingga terlibat bagian kayunya.
Pada bagian yang pecah tersebut dapat terlihat adanya tubuh buah cendawan.
Blight. Menyerupai bentuk yang terbakar. Gejala ini terjadi jika sel-sel organ tanaman mati
secara cepat (daun, bunga, ranting dan sebagainya). Bagian tanaman tersebut menjadi coklat atau
hitam.
Damping - oII (lodoh). Keadaan di mana batang tanaman diserang permukaan tanah. Bagian
tanaman yang terserang disekitar permukaan tanah tertekan sehingea tidak mampu untuk
menahan beban yang berat dari bagian atas tanaman.
Terbakar, scald atau scorch. Bagian tanaman yang sukulen mati atau berwarna coklat akibat
temperatur tinggi.
Busuk. Bagian yang terserang mati, terurai dan berwarna coklat. Hal ini disebabkan oleh
serangan cendawan dan bakteri yang menguraikan ikatan antara dinding sel oleh berbagai
enzym. Tergantung dari bagian tanaman yang, terserang maka terdapat berbagai gejala busuk
seperti busuk akar, busuk batang, busuk- pucuk, busuk buah. Tergantung pada tipe pembusukan
maka terdapat busuk basah, busuk lunak, busuk kering.
Layu. EIek dari gejala layu ini daunnya kehilangan ketegarannya dan layu. Gejala ini
diakibatkan oleh kerusakan bagian perakaran, penyumbatan saluran air atau oleh senyawa yang
beracun yang dikeluarkan oleh patogen yang terbawa oleh aliran air kebagian atas tanaman.
Die-back. Terjadi kematian ranting atau cabang dari bagian ujung atasnya dan meluas kebagian
sebelah bawahnya.
Gugur daun, bunga, buah sebelum waktunya. Hal ini disebabkan oleh gangguan Iisiologi atau
sebagai akibat tidak langsung oleh gangguan patogen.
Perubahan organ tanaman (transportasi) dari organ tanaman jadi bentuk lain. Bagian tanaman
diganti oleh struktur cendawan, seperti bunga yang baru terbuka mengandung kumpulan. spora
(smut) atau perbungaan yang seharusnya dibentuk dirubah menjadi bentuk daun (Iilodi).
Klorosis karena rusaknya kloroIil.

2. Gejala Hipoplasia
Yaitu type kerusakan yang disebabkan karena adanya ambatan atau terhentinya pertumbuhan
(underdevelopment) sel atau bagian sel. Terdapat berbagai bentuk gejala hipoplastik yang
disebabkan oleh berbagai patogen yang berbeda pada bagian tanaman yang, diserangnya:

Etiolasi : tumbuhan menjadi pucat, tumbuh memanjang dan mempunyai daun-daun yang sempit
karena mengalami kekurangan cahaya.
Kerdil (atrophy) : gejala habital yang disebabkan karena terhambatnya pertumbuhan sehingga
ukurannya menjadi lebih kecil daripada biasanya.
Klorosis : terjadinya penghambatan pembentukan kloroIil sehingga bagian yang seharusnya
berwarna hijau menjadi berwarna kuning atau pucat. Bila pada daun hanya bagian sekitar tulang
daun yang berwarna hijaumaka disebut voin banding. Sebaliknnya jika bagian-bagian daun di
sekitar tulang daun yang menguning disebut voin clearing.
Perubahan simetri : hambatan pertumbuhan pada bagian tertentu yang tidak disertai dengan
hambatan pada bagian di depannya, sehingga menyebabkan terjadinya penyimpangan bentuk.
Roset : hambatan pertumbuhan ruas-ruas (internodia) batang tetapi pembentukan daun-
daunnya tidak terhambat, sebagai akibatnya daun-daun berdesak-desakan membentuk suatu
karangan.
Klorosis karena terhambatnya pembentukan kloroIil.

3. gejala hiperplasia
Yaitu tipe kerusakan yang disebabkan karena adanya pertumbuhan sel atau bagian sel atau
bagian sel yang melebihi (overdevelopment) dari pada pertumbuhan biasa. Terdapat berbagai
bentuk gejala hipoplastik yang disebabkan oleh berbagai patogen yang berbeda pada bagian
tanaman yang, diserangnya:
Erinosa : terbentuknya banyak trikom (trichomata) yang luar biasa sehingga pada permukaan
alat itu (biasanya daun) terdapat bagian yang seperti beledu.
Fasiasi (Fasciasi, Fasciation) : suatu organ yang seharusnya bulat dan lurus berubah menjadi
pipih, lebar dan membelok, bahkan ada yang membentuk seperti spiral.
Intumesensia (intumesoensia) : sekumpulan sel pada daerah yang agak luas pada daun atau
batang memanjang sehingga bagian itu nampak membengkak, karena itu gejala ini disebut gejala
busung (cedema).
Kudis (scab) : bercak atau noda kasar, terbatas dan agak menonjol. Kadang-kadang pecah-
pecah. Di bagian tersebut terdapat sel-sel yang berubah menjadi sel-sel gabus. Gejala ini dapat
dijumpai pada daun, batang, buah atau umbi.
Menggulung atau mengeriting : gejala ini disebabkan karena pertumbuhan yang tidak
seimbang dari bagian-bagian daun. Gejala menggulung terjadi apabila salah satu sisi
pertumbuhannya selalu lebih cepat dari yang lain, sedang gejala mengeriting terjadi apabila sisi
yang pertumbuhannya lebih cepat bergantian.
Pembentukan alat yang luar biasa terdiri atas Antolisis (antholysis) : perubahan dari bunga
menjadi daun-daun kecil dan Enasi : pembentukan anak daun yang sangat kecil pada sisi bawah
tulang daun.
Perubahan Warna : perubahan yang dimaksud di sini adalah perubahan yang bukan klorosis
yang terjadi pada suatu organ (alat tanam).
Prolepsis : berkembangnya tunas-tunas tidur atau istirahat (dormant) yang berada dekat di
bawah bagian yang sakit, berkembang menjadi ranting-ranting segar yang tumbuh vertikal
dengan cepat yang juga dikenal dengan tunas air.
Rontoknya alat-alat : rontoknya daun, bunga atau buah yang terjadi sebelum waktunya dan
dalam jumlah yang lebih besar dari biasanya. Rontoknya alat tersebut karena terbentuknya
lapisan pemisah (abcission layar) yang terdiri dari sel-sel yang berbentuk bulat dan satu sama
lain terlepas.
Sapu (witches broom) : berkembangnya tunas-tunas ketiak atau samping yang biasanya tidur
(latent) menjadi seberkas ranting-ranting rapat. Gejala ini umumnya disertai dengan
terhambatnya perkembangan ruas-ruas (internodia) batang, daun pada tunas baru.
Sesidia (cecidia) atau tumor : pembenkakan setempat pada jaringan tumbuhan sehingga
terbentuk bintil-bintil atau bisul-bisul. Bintil ini dapat terdiri dari jaringan tanaman dengan atau
tanpa koloni patogennya.
Klorosis karena pigmen maupun kloroIil yang berlebihan.

4. gejala Injury
Yaitu tipe kerusakan yang disebabkan karena adanya aktivitas hama tertentu atau setiap bentuk
penyimpangan Iisiologis tanaman sebagai akibat aktivitas atau serangan OPT.























BAB III
METODOLOGI
1.1 Alat dan Bahan Praktikum
1.1.1 Alat
Loup
1.1.2 Bahan
Tanaman/ bagian tanaman yang tidak normal.

1.2 Cara kerja
1. Memperhatikan dengan teliti dan menggambar skematis tanaman atau bagian tanaman sampel
yang tersedia, terutama pada bagian yang mengalami kerusakan.
2. Mencatat apa saja yang berubah jika dibandingkan dengan yang normal
3. Mengamati dan menggambar ada tidaknya tanda penyakit atau keberadaan binatang hama
serta menuliskan cirri-ciri yang membedakan dari kerusakan lainnya.
4. Menjelaskan bagaimana mekanisme terjadinya kerusakan tersebut.
















BAB IV
HASIL dan PEMBAHASAN
4.1 Hasil
01. Daun Berlobang









Nama inang : Kedelai
Jenis Hama : Belalang
Gejala serangan : terdapat bercak-bercak yang khas berwarna coklat muda atau kelabu, dan
terdapat juga lobang-lobang besar memanjang pada daun.

02. Bulir Kepipis








Nama inang : Padi
Jenis Hama :
Gejala serangan : bulir padi kempes/layu dan berubah warna menjadi agak kecoklatan..

03. Buah Berlobang








Nama inang : Buah coklat
Jenis Hama :
Gejala serangan : terdapat lubang-lubang pada permukaan buah berwarna hitam. kerusakan
terjadi akibat adanya aktivitas hama tertentu.
04. Daun Keperakan






Nama inang : Daun Beringin
Jenis Hama : Thrips
Gejala Serangan : daun-daun bawah mempunyai bercak-bercak, dan menggulung. Gejala ini
banyak disebabkan oleh beberapa jenis hama.
05. Batang Digerek






Nama inang : Ubi kayu
Jenis Hama :
Gejala Serangan : Pada batang ubi menjadi berwarna hitam pada bagian tengah batang.

06. Gall pada Umbi







Nama inang : Kentang
Jenis Hama :
Gejala Serangan : Terdapat tonjolan-tonjolan kecil pada bagian permukaan buah. Kerusakan ini
disebabkan oleh nemathoda.

07. Gall pada Akar







Nama inang :
Jenis Hama :
Gejala kerusakan : Terdapat bintil-bintil pda bagian akar. Kerusakan ini disebabkan oleh
nemathoda.


4.2 Pembahasan
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa mekanisme terjadinya
kerusakan penyakit pada tanaman dapat terjadi oleh beberapa penyebab pathogen dan hama.
Pada tanaman kedelai salah satu penyakit yang timbul adalah bercak-bercak. Penyakit ini
disebabkan oleh jamur Cercospora sojina Hara yang juga disebut sebagai C. daizu Miura.
C.sojina bertahan pada daun dan batang maupun biji. Hama pada tanaman kedelai yang
mengakibatkan daun berlobang ini memiliki tipe alat mulut penggigit pengunyah, contohnya
pada belalang. Konidium dipencarkan oleh angin, khusunya pada saat tanaman mulai masak.
Gejala-gejala yang timbul pada tanaman yang sakit adalah terdapat bercak-bercak yang khas
berwarna coklat muda atau kelabu pada daun, dengan tepi coklat ungu atau coklat kemerahan. Di
sekitar bercak tedapat jaringan klorotik, dan terdapat juga lobang-lobang besar memanjang pada
daun.
Hama yang terdapat pada tanaman padi adalah Walang sangit (Leptocorixa acuta) walang sangit
sering sekali menjadi penyebab utama rusaknya bulir padi, sehingga bulir pada jadi hampa dan
kempes. Walang sangit memiliki cirri-ciri yaitu : mempunyai dua pasang sayap, sepasang tebal
dan sepasang lagi seperti selaput, memiliki tipe alat mulut menusuk mengisap, dan
metamorIosisnya tidak sempurna. Penyebab kerusakannya adalah Leptocorixa acuta, aktiInya
pagi hari, warna serangga hijau kekuning-kuningan sesuai dengan warna bulir padi yang
disenanginya. Telur diletakkan dalam kelompok pada permukaan daun, bentuknya seperti biji
gulma. Gejala serangan : Butir padi stadium matang susu menjadi hampa atau setengah hampa
karena cairannya dihisap oleh hama ini, terdapat lubang bekas tusukan berwarna abu-abu
kekuning-kuningan. Kadang-kadang di sekeliling lubang berubah menjadi coklat karena adanya
serangan cendawan Helmintosperium oryzae. Serangga ini berbau tidak enak bila dipegang.
Pada buah coklat hama yang menyebabkan terjadinya kerusakan adalah hama dengan tipe alat
mulut pencucuk pengisap. Gejala serangan dengan cara membuat liang gerakan pada bagian
yang diserang, larva memakan dan merusak jaringan keping batang sehingga bagian yang
terserang tampak berwarna hitam/kecoklatan. Serangan yang berat mengakibatkan jaringan kulit
terputus, batang menjadi layu dan mengering, karena akar tidak berIungsi normal untuk
menghisap air dan unsure hara dari dalam tanah.
Pada hama thrips dengan tipe alat mulut pemarur-penghisap, gejala serangan yang ditimbulkan
yaitu Daun-daun baru yang akan membuka menjadi tergulung dan tumbuh tegak. Hama ini
berukuran sangat kecil dan lembut. Ketika muda berwarna kuning dan dewasa kecokelatan
dengan kepala hitam. Didaun terdapat titik-titik putih keperakan bekas tusukan, kemudian
berubah menjadi kecokelatan. Daun yang cairannya diisap menjadi keriput dan melengkung ke
atas. Thrips sering bersarang di bunga, ia juga menjadi perantara penyebaran virus. sebaiknya
dihindari penanaman cabai dalam skala luas dapat satu hamparan. Dengan pergiliran tanaman
adalah langkah awal memutus perkembangan Thrips. Pengendalian jenis serangga ini dengan
memasang perangkap kertas kuning IATP (Insect Adhesive Trap Paper), dengan cara digulung
dan digantung setinggi 15 Cm dari pucuk tanaman. Gunakan pengendalian dengan insektisida
secara bijaksana.
Pada batang yang digerek oleh hama akan memiliki tanda pada daun tanaman yang terserang
terdapat bercak-bercak putih bekas gerekan yang tidak teratur. Bercak putih ini menembus kulit
luar daun. Gejala serangan pada batang ubi ditandai adanya lobang gerek pada permukaan
batang. Apabila ruas-ruas batang tersebut dibelah membujur maka akan terlihat lorong-lorong
gerek yang memanjang. Gerekan ini kadang-kadang menyebabkan titik tumbuh mati, daun muda
layu atau kering. Biasanya dalam satu batang terdapat lebih dari satu ulat penggerek. Telur
penggerek batang diletakkan pada permukaan atas maupun bawah daun. Biasanya dalam
kumpulan yang terdiri dari 7 30 telur yang tersusun seperti genting, dalam 2 3 baris atau 3
5 baris. Larva yang baru menetas panjangnya 2,5 mm, dan berwarna kelabu. Semakin tua umur
larva, warna badan berubah menjadi kuning coklat dan kemudian kuning putih, disamping itu
warna garis-garis hitam membujur pada permukaan abdomen sebelah atas juga semakin jelas.
Larva muda yang baru menetas hidup dan menggerek jaringan dalam pupus daun yang masih
menggulung, sehingga apabila gulungan daun ini nantinya membuka maka akan terlihat luka-
luka berupa lobang grekan yang tidak teratur pada permukaan daun. Setelah beberapa hari hidup
dalam pupus daun, larva kemudian akan keluar dan menuju ke bawah serta menggerek pelepah
daun hingga menembus masuk ke dalam ruas batang. Selanjutnya larva hidup dalam ruas-ruas
batang tebu. Di sebelah luar ruas-ruas muda yang digerek akan didapati tepung gerek. Apabila
ruas terserang dibelah secara membujur, maka terlihat lorong-lorong gerek yang lebar dan
jalannya tidak teratur. Pada satu ruas dapat ditemukan lebih dari satu ekor larva. Kepompong
penggerek batang agak keras dan berwarna coklat kehitaman. Kepompong betina biasanya
mempunyai badan lebih besar daripada yang jantan. Imago mempunyai sayap dan dada berwarna
kecoklatan. Abdomen imago betina biasanya juga lebih besar daripada yang jantan.
Pengendalian penggerek batang pada ubi dapat dilakukan dengan cara yaitu:
1. Memilih bibit, bagal, rayungan yang bebas penggerek.
2. Menanam varietas tahan, yakni M 442-51, F 156, Nco 376, Ps 46, Ps 56 s/d 58, dan Ps 61.
3. Menjaga kebersihan kebun dari tanaman glagah dan rumput-rumputan.
4. Pergiliran tanaman (apabila dimungkinkan).
Puru akar/umbi (gall)
Ada dua teori mengenai terbentuknya puru akar:
1. Terjadi akibat bergabungnya beberapa sel menjadi satu, kemudian dindingnya larut.
2. Terjadi sebagai akibat adanya pembelahan sel yang giat tetapi tidak diikuti oleh terbentuknya
dinding pemisah, sehingga dalam satu sel .
Pada tanaman yang kita teliti dari praktikum ini yaitu:
Tanaman kentang yang mengalami puru pada umbi dengan adanya bintil-bintil yang timbul di
permukaan umbi kentang, dan tanaman yang mengalami puru pada akar dengan adanya bintil-
bintil yang timbul pada akar tanaman.
Puru akar (root knot) akibat adanya nematoda endoparasit yg masuk ke dalam akar tanaman,
sehingga akar bereaksi membentuk puru/gall (Meloidogyne sp.). Tumbuhan yg terinIeksi
nematoda puru akar, luka akar, akar bercabang lebih lebat, ujung akar rusak, busuk akar, diikuti
gejala tanpa ciri-ciri khas di atas permukaan tanah. EIek inIeksi nematoda yg paling menonjol
mengurangi pertumbuhan. Tanda utama serangan nematoda adanya tanaman dg pertumbuhan
jelek pd tempat tertentu di antara tanaman yg sehat.
PENGENDALIAN NEMATODA PARASITIK TUMBUHAN
A. Sanitasi:
1. Karantina tanaman mencegah penyebaran nematoda ke tanaman/daerah lain.
2. DisinIeksi tanaman mencelupkan bibit tanaman ke dalam air panas yg mengandung
nematisida.
3. Mencegah penyebaran nematoda oleh air irigasi menahan air yg mengandung/tertular
nematoda di dalam bak penampungan sampai nematoda mengendap.
B. Kultur Teknis:
1. Pergiliran tanaman ketidaksesuaian nematoda dg tanaman inang
2. Pemberoan
3. Penggenangan
4. Pengaturan waktu tanam
5. Penanaman tanaman perangkap
6. Penanaman tanaman tahan nematoda
7. Penggunaan bibit bebas nematoda
C. Fisik:
1. Pembakaran
2. Penguapan panas
3. Pencelupan ke dalam air panas
D. Hayati:
1. Parasit Artrobotrys oligospora, Meria conoispora, Bacillus penetrans
2. . Predator Mononchus sp.
3. Tanaman yg mengeluarkan zat nematisidal Tagetes sp., Crotalaria sp., Asparagus sp.

















BAB V
KESIMPULAN

Dari penelitian dan pengamatan yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan bahwa:
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa mekanisme terjadinya
kerusakan penyakit pada tanaman dapat terjadi oleh beberapa penyebab pathogen dan hama.
Ganguan merupakan suattu proses interaksi anatara berbagai Iactor yang mempengaruhi.
Abnormalitas atau perubahan-perubahan yang ditunjukkan oleh tanaman sakit sebagai akibat
adanya serangan agensia penyakit-penyakit (pathogen) tersebut disebut gejala, sedangkan
pengenal yang ditunjukkan oleh selain reaksi tanaman inang disebut tanda.
Gejala nekrotik yaitu tipe kerusakan yang disebabkan karena adanya kerusakan pada sel atau
kerusakan bagian sel atau matinya sel. Contoh: bercak (nekrose), hawar (bligh), busuk (rot),
mato ujung (die back), klorosis karena rusaknya kloroIil.
Gejala Hipoplastik yaitu type kerusakan yang disebabkan karena adanya ambatan atau
terhentinya pertumbuhan (underdevelopment) sel atau bagian sel. Contoh: kerdil, roset, atropi,
klorosis karena terhambatnya pembentukan kloroIil.
Gejala hiperplastik yaitu tipe kerusakan yang disebabkan karena adanya pertumbuhan sel atau
bagian sel atau bagian sel yang melebihi (overdevelopment) dari pada pertumbuhan biasa.
Contoh : sapu (withes broom), tunas air (proplepsis), tumor, erinose, keriting (curling), Iasiasi,
kudis (scab), klorosis karena pigmen maupun kloroIil yang berlebihan.
Gejala yaitu tipe kerusakan yang disebabkan karena adanya aktivitas hama tertentu atau setiap
bentuk penyimpangan Iisiologis tanaman sebagai akibat aktivitas atau serangan OPT.
Babarapa gejala serangan hama pada tanaman yang diteliti pada praktikum ini, yaitu:
1. Daun berlobang, disebabkan oleh hama belalang yang memiliki tipe alat mulut penggigit
pengunyah. Gejala kerusakannya daun menjadi berlobang.
2. Bulir padi kepipis, disebabkan oleh hama walang sangit yang memiliki tipe alat mulut
pencucuk pengisap. Gejala kerusakannya bulir padi menjadi hampa/tidak berisi dan kempes.
3. Buah berlobang, disebabakan oleh hama dengan tipe alat mulut pencucuk pengisap. Gejala
kerusakannya buah berlobang dan berwarna hitam/kecoklatan.
4. Daun keperakan, disebabkan oleh hama thrips dengan tipe alat mulut pemarut penghisap.
Gejala kerusakannya adanya daun-daun baru yang akan membuka menjadi tergulung dan
tumbuh tegak, dan terdapat titik-titik putih keperakan bekas tusukan.
5. Batang digerek, disebabkan oleh hama penggerek batang yang memiliki tipe alat mulut
penggerek. Gejala kerusakannya terdapat lobang gerek pada permukaan batang dan bagian
tengah batang akan terdapat warna hitam memanjang.
6. Gall pada buah dan akar, disebabkan oleh nemathoda. Gejala kerusakannya adanya bintil-
bintil yang timbul di permukaan umbi dan adanya bintil-bintil yang timbul pada akar tanaman.






















BAB VI
DAFTAR PUSTAKA

ArieI, ariIin. 1994. Perlindungan Tanaman Hama Penyakit dan Gulma. Usaha Nasional.
Surabaya.
Hari. 2008. Capung Langka.
http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/index/assoc/HASHa300.dir/doc.pdI//hansamunahito.
multiply.com/journal/item/1/CapungeLangka
Purnomo,B. 2009. Penuntun Praktikum Daslintan. Ps agroekotek. Faperta Unib; Bengkulu
Sudarmo, subiyakto. 1995. Pengendalian Hama dan Gulma Pada Tanaman Perkebunan.
Kanius.Yogyakarta.
Triharso. 2004. Dasar-dasar Perlindungan Tanaman. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta
Wagiman, F.X. 2003. Hama Tanaman : Cemiri MorIologi, Biologi dan Gejala Serangan. Jurusan
Hama Dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Yogayakarta.
Wiyono, Suryo. 2007. Perubahan Iklim dan Ledakan Hama dan Penyakit Tanaman. IPB;
http://disbunjatim.co.cc/hamatanaman/penggerekbatang.htm
Posted by Robi Ari