Anda di halaman 1dari 15

EVALUASI FORMASI

TINJAUAN UMUM
Fraksi ataupun jumlah hidrokarbon dalam formasi dapat diketahui dengan tepat jika
water saturation (S
W
) diketahui. Sayangnya S
W
merupakan parameter yang tidak bisa
langsung diketahui kecuali melalui pendekatan parameter-parameter lain, terutama
resistivitas R dan porositas.
Resistivitas merupakan sifat kelistrikan suatu material yang diukur dalam ohm-meter
(m). Secara matematis nilai resistivitas berbandung terbalik dengan konduktivitas C.
Semakin tinggi konduktivitas atau hantaran listriknya, maka resistivitas akan semakin kecil.
Artinya semakin kecil resistivitas suatu material berarti semakin mudah menghantarkan
listrik, begitu pula sebalinya.
Dalam evaluasi formasi, berbagai pengukuran / perhitungan dilakukan untuk
mengetahui tipe resitivitas, diantaranya adalah resistivitas air formasi R
W
yang merupakan
fungsi dari salinitas dan temperatur. R
W
yang semakin rendah disebabkan oleh karena
salinitas dan temperatur yang semakin tinggi. Selain R
W
, resistivitas batuan jenuh air atau R
o

dan resistivitas formasi batuan yang sesungguhnya atau R
t
juga perlu diketahui dengan
tepat. Harga R
o
yang nilainya lebih besar dari harga R
W
, menunjukan nilai hantaran listrik
saat batuan dijenuhi oleh air (S
W
= 100%). Sedangkan R
t
menyatakan nilai hantaran listrik
sesungguhnya dari formasi batuan yang mengandung air, gas, minyak atau kombinasi dari
ketiganya. Dalam suatu formasi harga R
t
bisa lebih tinggi atau sama dengan harga R
o
tergantung fluida yang terkandung di dalam batuan tersebut.
Jika parameter-parameter di atas diketahui, maka akan didapatkan factor resistivitas
formasi (F) yaitu perbandingan antara resistensi spesifik dari formasi porous jenuh larutan
ionic R
o
dengan resitensi spesifik larutan ionik tersebut R
W
. Dalam evaluasi formasi , F
merupakan suatu faktor yang sangat penting, dan sifat itu didekati dengan pendekatan yang
berbeda untuk formasi bersih (tidak mengandung shale) dengan formasi yang mengandung
shale (shaly). Pendekatan F pada forrnasi shaly besifat lebih kompleks. Banyak peneliti
telah mencoba menerangkan hubungan methematis antara factor resistivitas formasi F
dengan porositas berdasarkan model pada formasi bersih. Diantara mereka adalah
Fricke (1924), Archie (1950), Winsauer et al. (1952), Maxwell (1954) dan lainnya.
Akhirnya semua itu itu dilakukan untu mengetahui harga water saturation S
W
dengan
tepat.



MACAM EVALUASI FORMASI
Dalam mengevaluasi suatu formasi, dilakukan dengan 2 macam evaluasi, yaitu:
a. Evaluasi Kualitatif
b. Evaluasi Kuantitatif
EvaIuasi KuaIitatif
Pada evaluasi kualitatif ini parameter-parameter yang dievaluasi antara lain :
1. Zona batuan reservoir
2. Jenis litologi
3. Jenis cairan pengisi formasi
4. Mobilitas hidrokarbon
1. Zona batuan reservoir
Batuan reservoir yang sarang dapat dibedakan dengan zona batuan kedap dengan
melihat bentuk-bentuk kurva log. Adapun perbedaan kenampakan antara lapisan
batuan kedap dengan lapisan batuan sarang pada log adalah :

Zona batuan kedap dicirikan oleh :
a. Harga kurva sinar gamma yang tinggi
b. Tidak terbentuk kerak lumpur pemboran, diameter lubang kadang membesar
(tidak selalu)
c. Adanya separasi negatif pada microlog
d. Harga tahanan jenis pada zona terusir (Rxo) hampir sama dengan harga
tahanan jenis formasi (Rt)
e. Harga porositas netron lebih tinggi daripada porositas densitas.

Zona batuan reservoir yang sarang dicirikan oleh :
a. Harga kurva sinar gamma yang rendah
b. Harga kurva SP menjauhi garis dasar serpih
c. Terbentuknya kerak lumpur pemboran
d. Adanya separasi positif pada microlog
e. Mempunyai harga porositas menengah sampai tinggi







1. Jenis IitoIogi
. Jenis litologi zona reservoir dapat ditentukan berdasarkan kenampakan defleksi log
tmpa melakukan perhitungan. Adapun kenampakan beberapa jenis litologi batuan
reservoir adalah sebagai berikut :
Batupasir pada log dicirikan oleh :
a. Defleksi sinar gamma endah
b. Terjadi separasi positif pada kurva tahanan jenis mikro (harga tahanan jenis
yang dicatat log micronormal 2 " daripada yang dicatat oleh mikro inverse 1x1")
c. Kadang-kadang mempunyai diameter lubang bor yang relatif lebih kecil karena
cenderung untuk membentuk kerak lumpur yang tebal.

Batugamping pada log dicirikan oleh :
a. Defleksi kurva sinar gamma rendah
b. Harga b lebih tinggi (lebih tinggi daripada batupasir)
c. Terjadi separasi positif pada kurva tahanan jenis mikro apabila batugamping
tersebut porous, clan terjadi separasi negatif bila tidak porous.
d. Kurva log netron berhimpit dengan kurva log densitas
e. Lubang bor kadang-kadang membesar

3. Jenis cairan pengisi formasi
Untuk membedakan jenis cairan yang terdapat di dalam formasi, apakah air, minyak
atau gas, dapat ditentukan dengan melihat log tahanan jenis dan gabungan log
neutron-densitas. Zona hidrokarbon ditunjukan oleh adanya separasi antara harga
tahanan jenis zona terusir (Rxo) dengan harga tahanan jenis formasi (Rt). Separasi
tersebut dapat positif atau negatif tergantung pada harga Rmf/Rw > 1, harga
perbandingan Rxo dengan Rt akan maksimum dan hampir sama dengan harga
Rmf/Rw di dalam zona air. Nilai Rxo/Rt yang lebih rendah dari harga maksimum
tersebut menunjukan adanya hidrokarbon dalam formasi. Pada lubang bor dimana
harga Rmf lebih kecil daripada Rw (Rmf/Rw kecil), zona hidrokarbon ditunjukan harga
Rxo/Rt lebih kecil dari satu.
Untuk membedakan gas atau minyak yang terdapat di dalam formasi dapat dilihat
pada gabungan log neutron-densitas. Zona gas oleh harga porositas neutron yang
jauh lebih kecil dari harga porositas densitas, sehingga akan ditunjukan oleh separasi
kurva log neuton ddensitas yang lebih besar.
Dalam zona minyak kurva neutron dan kurva densitas membentuk separasi positif
yang lebih sempit daripada zona gas (dalam formasi bersih). Pada zona lempungan
kurva neutron dan densitas berhimpit atau membentuk separatif negatif (harga
porositas netron lebih besar daripada harga porositas densitas). Zona ditunjukan oleh
separasi kurva neutron dan densitas yang sempit dan berhimpit. Zona air dibedakan
dengan zona minyak akan menunjukan harga tahanan jenis formasi (Rt) yang lebih
tinggi daripada zona air.

. MobiIitas Hidrokarbon
Mobilitas hidrokarbon dapat ditentukan secara kualitatif dengan menggunakan log di-
overley-kan. Dalam zona yang mengandung hidrokarbon yang dapat bergerak (move-
able Hydrokarbon) akan ditunjukkan adanya separasi antara kurva tahanan jenis
dalam (mengukur Rt), kurva tahanan jenis zona terusir (mengukur Rxo) dan kurva F.
Dalam zona ini harga tahanan jenis formasi (Rt) lebih besar dari tahanan jenis zona
terusir (Rxo) dan lebih besar daripada harga kurva F (Rt > Rxo > kurva F). Dalam
zona hidrokarbon yang tidak dapat bergerak ditunjukan oleh harga Rt yang hampir
sama dengan harga Rxo dan lebih besar daripada harga kurva F.

ambar 4.16. Separasi menunjukkan zona prospek

EvaIuasi Kuantitatif
Dalam melakukan evaluasi kuantitatif parameter-parameter yang harus
diidentifikasikan adalah :
1. Litologi
2. Tahanan jenis air formasi (Rw)
3. Tahanan jenis cairan lumpur (Rmf)
4. Porositas
5. Tahanan jenis formasi (Rt)
6. Kejenuhan air pada zona terusir (Sxo) 7. Kejenuhan air formasi (Sw)
** Prosedur evaluasi kuantitatif terlihat pada gambar 5 dan 6
1. LitoIogi
Untuk menentukan litologi suatu formasi yang menarik digunakan log sonic, log
densitas dan log netron. Untuk mengidentifikasikan litologi dapat digunakan dua
metode, yaitu :
a. Plot M N
b. Plot MD
a. PIot M - N
Metode Plot M N menggunakan log sonic, log neutron dan log densitas. Log-
log tersebut digunakan untuk menghitung harga variable M dan Nn yang berguna
untuk menentukan matrik dan formasi.

















ambar 4.17. Diagram alir evaluasi formasi berdasarkan data log yang menunjukan
tujuan utama dari evaluasi formasi yaitu menunjukan kejenuhan
hidrokarbon yang dapat bergerak (Krygowski, 1986)



















ambar 4.18. Sketsa log yang menunjukkan tipe formasi
dan jenis cairan yang terdapat di dalamnya

Harga M dan NM dihitung dengan menggunakan persamaan Schlumberger, 1972,
yaitu :
t19
M = x 0,01
pbpf

N1N
N =
pbpf

Dimana :
t1 = interval waktu lewat dari cairan (189 untuk Lumpur tawar dan 185 untuk
lumpur garam)
9 = interval waktu lewat zona yang menarik (dibaca dari log sonic)
pf = densitas cairan (1,0 untuk Lumpur tawar dan 1,2 untuk Lumpur garam)
pb = densitas bulk zona yang menarik (dibaca dari log neutron)
N = porositas neutron zona yang menarik (dibaca dari log neutron)
N1 = porositas neutron cairan (1,0)

Harga M dan N tersebut kemudian dimasukan kedalam suatu chart (CP - 8) dan akan
didapatkan komposisi mineral matriks batuan.
b. PIot MID
Seperti Plot, M - N, metode ini juga menggunakan gabungan log sonic, log
neutron dan log densitas.
Adapun prosedur identifikasi litologi dengan plot MD adalah sebagai berikut :
1. Melakukan cross plot antara log neutron dengan log densitas untuk
mendapatkan harga porositas total semu (ts
1
) dengan menggunakan
chart CP-i (schlumberger, 1985).
2. Melakukan cross plot antara log sonic dengan log neutron untuk
mendapatkan harga porositas total semu (ts
2
) dengan menggunakan
chart CP-2 (Schlumberger, 1985).
3. Dengan menggunakan chart CP - 14 dilakukan cross plot harga pb (dibaca
dari log densitas) dengan harga porositas semu (ts
1
) dan cross plot
antara harga interval waktu lewat (dibaca dari log sonic) dengan harga
porositas total semu (ts
2
) untuk mendapatkan harga pmax (densitas
matriks semu) dan harga t max (interval waktu lewat matriks semu)
4. Melakukan .ross plot antara pmax dengan harga t max untuk
mengidentifikasikan matriks batuan dengan menggunakan chart CP - 15
(Schlumberger, 1985)
. Tahanan jenis air formasi (Rw)
Tahanan jenis air formasi merupakan tahanan jenis air yang terdapat dalam formasi
sebelum formasi tersebut ditembus oleh bit pemboran. Air yang terdapat didalam
formasi sebelum ditembus oleh bit pemboran ini sering disebut .onnate water.

Tahanan jenis air formasi (Rw) dapat ditentukan dengan berbagai cara :
a. Metode Rwa
Dalam suatu zona yang bersih berlaku :
Rtx4e
m

Rw = Rwa (min) =
d
Dimana : Rw = tahanan jenis air formasi

Rt = tahanan formasi yang sesungguhnya
d = factor perbandingan
(0,81 untuk batuan lunak dan 1 untuk batuan keras)
m = factor sementasi (=2)

b. Metode SP
Dalam suatu zona bersih yang basah berlaku :
Rmfe
Sp = - K log
Rwe
Dimana : SP = harga kurva SP dari formasi
K = suhu (factor dasar)
Rmfe = ekuivalen tahanan jenis cairan Lumpur
Rwe = ekuivalen tahanan jenis air formasi

Adapun prosedur penentuan harga Rw dengan metode SP adalah sebagai
berikut :
Memilih suatu zona yang bersih lempung, basah (ditunjukan oleh harga Rt
yang sama atau hampir sama dengan harga Rxo) dan bersifat sarang.
Melakukan pembacaan nilai kurva SP pada kedalaman dimana terjadi
defleksi maksimum dari zona yang telah dipilih.
Menentukan suhu formasi pada kedalaman dimana terjadi deflekai
maksimum kurva SP drengan menggunakan chart Schlumberger en - 6
(lihat gambar).

Atau dengan persamaan :
(T max- Ts)
Tf = Ts + Df
(Dmax)

Dimana : Tf = suhu formasi
Ts = suhu permukaan
Df = kedalaman formasi
Dmax = kedalaman maksimum pemboran
Tmax = suhu maksimum
Melakukan konversi harga Rmf dari suhu permukaan kedalam suhu formasi
dengan menggunakan chart Schlumberger en - 9 atau dengan
persamaan :

(Tt + 6,67)
Rmf = Rt
(Tmax+6,67)

Dimana : Rmf = tahanan jenis filtrat lumpur yang diketahui
Rt = tahanan jenis,pada suhu tertentu
yang harganya sudah diketahui
Tmax = suhu formasi / kedalaman yang dicari
Tt = suhu tertentu yang sudah diketahui

Melakukan konversi harga Rmf pada suhu formasi kedalam harga Rmfeq.
Dalam konversi ini berlaku ketentuan :
1. Jika Rmf pada suhu 75
o
F > 0,1 ohm - m, berlaku Rmefq = 0,85 Rmf
2. Jika harga Rmf pada suhu 75 lebih kecil atau sama dengan 0,1 ohm-
m, langsung digunakan chart SWS SP - 1 akan didapatkan harga
Rweq.
Dengan menggunakan harga SP, suhu formasi dan Rmefq, yaitu dengan
memasukan harga-harag tersebut kedalam chart SWS SP - 1 akan
didapatkan harga Rweq.
Mengkorvesikan harga Rweq ke dalam harga Rw denagan menggunakan
chart SWS SP - 2
Dengan menggunakan chart en - 9 atau dengan persamaan sperti diatas
akan didapatkan harga Rw pada suhu yang dikehendaki.

c. Rw dari test produksi
Pada metode ini harga Rw ditentukan dengan cara mengukur secara langsung
tahanan jenis air formasi.

d. Rw ditentukan dari harga yang sudah diketahui
Pada metode ini harga tahanan jenis air formasi dari suatu sumur ditentukan
dengan melihat harga tahanan jenis air dari sumur yang berdekatan yang telah
diketahui harga tahanan jenis air formasi.

3. Tahanan Jenis Cairan Lumpur (Rmf)
Secara langsung pada cairan lumpur dari contoh lumpur yang akan
disirkulasikan. Hasil pengukuran tersebut dituliskan pada kepala log.


. Kesarangan (porositas)
Kesaranan didefinisikan sebagai volume pori-pori persatuan volume dari suatu
formasi. Nilai kesarangan dari suatu formasi dapat ditentukan dari log neutron,
densitas, dan sonic.

Adapun perhitungan mencari harga kesarangan adalah sebagai berikut.
a. Dengan menggunakan Iog densitas
Untuk formasi yang bersih berlaku persamaan :


Untuk formasi lempungan berlaku persamaan :

Dimana : D : kesarangan dari log densitas
pma : densitas matrik batuan
2.65 untuk batupasir
2.71 untuk batugamping
2.87 untuk dolomit
pf : densitas cairan lumpur
1,0 untuk lumpur tawar
1,1 untuk lumpur garam
pb : densitas bulk formasi
DLP : Porositas densitas formasi lempung
Vlp : Volume lempung dalan formasi

b. Dengan menggunakan Iog neutron
Untuk formasi bersih lempung harga porositas dapat dibaca dari log kemudian
dikoreksi terhadap jenis litologi. Untuk formasi lempungan harga tersebut diatas
harus dikoreksi dengan persamaan :

Nc = NN Vlp)
Dimana : Nc = porositas netron terkoreksi
Np = porositas netron zona lempungan
VP = volume lempung


c. Dengan menggunakan Iog sonic
Untuk formasi bersih, harga menggunakan persamaan dari wylline atau Hunt-
Raymer

(Wyllie vida Krygowki, 1986)

(Hunt - Raymer vide Krygowski, 1986)

Untuk formasi lempungan harga tersebut diatas harus dikoreksi terhadap
volume dengan persamaan :

S
C
= S - (Slp - Vp)
Dimana :S = porositas sonic zona yang diteliti
t = waktu tempuh gelombang suara dalam matriks batuan
tma = waktu tempuh gelombang suara dalam matriks batuan
51,5 - 55,5 (batupasir)
49,0 (batugamping)
13,5 (dolomit)
Bcp = koreksi kompaksi = Aserpih/100
S
c
= porositas sonik terkoreksi
Slp = porositas sonic dari zona lempung
Vp = volume lempung

d. Tahanan jenis formasi (Rt)
Tahanan jenis formasi (Rt), merupakan harga tahanan jenis dari formasi yang
cukup jauh dari lubang bor dan tidak terpengaruh oleh pemboran atau invasi,
sehingga tahanan jenis tersebut merupakan harga yang actual.
Harga tahanan jenis ini dapat iangsung dibaca pada log tahanan jenis dengan
alat yang dalam (LLD/Laterolog deep) atau dari log induksi (LD/nduction Log
Deep)

e. Tahanan jenis zona terusir (Rxo)
Harga tahanan jenis dari zona terusir (Rxo) ini dapat dibaca pada log MSFL
(Mikrosphericaly Focused Log) atau dari Log MLL (Mikro Laterolog)


f. Kejenuhan Air Zona Terusir (Sxo)
Kejenuhan air pada zona terusir dapat ditentukan dengan menggunakan
Persamaan sebagai berikut :





Dimana : Sxo = kejenuhan air zona terusir
Rxo = tahanan jenis air formasi
= porositas batuan rata-rata setelah telah dikoreksi lempung
terhadap zona lempung



Rmf = tahanan jenis cairan lumpur
a = factor pembanding
a = 1 untuk batugamping
a = 0,8 untuk batupasir

atau dengan persamaan :




(persamaan modifikasi Simandoux, 1986)
Dimana :
a = factor perbandungan
a = 0,81 untuk batuan lunak
a = 1 untuk batuan keras
e = porositas efektif dari formasi
e = Dc = D - (Dp x Vlp)
e = Nc = N (Nlp x Vlp)
m= factor sedimentasi
m = 2, untuk batuan keras dan lunak


g. Kejenuhan air formasi (Sw)
Harga kejenuhan air formasi dapat ditentukan dengan menggunakan
persamaan Dari Schlumberger (1972) atau dari persamaan Modifikasi
Simandoux (1986), seperti berikut :




Dimana :
Rt : tahanan jenis formasi
: kesarangan yang sesungguhnya
Rw : tahanan jenis air formasi
a : factor jenis air formasi
0,8 untuk batupasir dan 1 untuk batugamping

adapun cara untuk mencari harga kesarangan sesungguhnya dengan
menggunakan persamaan :
= - .
Dimana : = 0,10 Shr
Shr = 1 - Sxo


Jadi : = - .
= . (1 - )
= . (1 - 0,10 Shr )
Dimana :
: kesarangan sesungguhnya
: kesarangan rata-rata dari log neutron dan log densitas



: harga sesungguhnya
Shr : harga kejenuhan hidrokarbon sisa

Selain menggunakan persamaan Schlumberger (1972), untuk menentukan
harga kejenuhan air formasi dapat juga dengan menggunakan persamaan
modifikasi Simandoux (Krygowski, 1986)
seperti berikut :









Dimana :
a : factor pernbandingan
a = 0,81 untuk batuan lunak
a = 1,00 untuk batuan keras
e : porositas efektif



m : factor sedimentasi, m = 2

Dengan mendapatkan harga Sw dan Sxo, maka akan dapat ditentukan
parameter-parameter indeks mobilitas hidrokarbon, kejenuhan hidrokarbon dan
volume hidrokarbon yang dapat bergerak.
h. Indeks mobiIitas hidrokarbon
Harga indeks mobilitas hidrokarbon yang terakumulasi dalam suatu formasi
dapat ditentukan dari harga Sw clan Sxo, yaitu merupakan harga perbandingan
dari Sw per Sxo. Jika didapatkan
Sw/Sxo = 1, maka minyak yang terdapat di dalam batuan reservoir termasuk
minyak yang tidak dapat bergerak.
Sw/Sxo < 1, maka termasuk hidrokarbon yang dapat bergerak (moveable
hidrokarbon), dan suatu akumulasi hidrokarbon akan komersial jika Sw/Sxo < 0,
7
Konsep hidrokarbon bergerak (moved hidrokarbon) ini lebih baik digunakan
untuk reservoir-reservoir minyak daripada reservoir-reservoir gas
(Schlumberger, 1985 -1986 hal 2 - 11)

i. Kejenuhan hidrokarbon yang dapat bergerak
Dalam suatu sumur hidrokarbon, seluruh cadangan hidrokarbon didalam
reservoir-reservoir tidak dapat dikeluarkan semua, ada hidrokarbon yang tersisa
didalam formasi. Kejenuhan hidrokarbon sisa pada pada terusir dirumuskan
sebagai :
Sh = 1 Shr

Kejenuhan hidrokarbon yang dapat bergerak adalah sebesar : kejenuhan
hidrokarbon (Sh) dari formasi dikurangi harga kejenuhan sisa (Shr) atau sama
dengan harga kejenuhan air pada zona terusir (Sxo) dikurangi harga kejenuhan
formasi (Sw).

j. VoIume hidrokarbon yang dapat bergerak
Dengan mengetahui harga kejenuhan hidrokarbon yang dapat bergerak, akan
dapat ditentukan juga besarnya volume hidrokarbon yang dapat naik ke
permukaan.

Volume hidrokarbon yang dapat naik kepermukaan dirumuskan :

V = (Sh - Shr)
= (1 - Sw) - (1 - Sxo)
= (Sxo - Sw)
Dimana :
V = volume hidrokarbon yang dapat bergerak
= porositas sesungguhnya
Sxo = kejenuhan air pada zona tertembus
Sw = kejenuhan air formasi
Sh = kejenuhan hidrokarbon
Shr = kejenuhan hidrokarbon sisa

Dengan mengetahui prosentase volume hidrokarbon yang dapat bergerak ini,
akan dapat diketahui ekonomis tidaknya suatu cadangan hidrokarbon dalam
reservoir.