Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA

PASIEN GANGGUAN ELIMINASI URINE










OLEH :
I GUSTI AYU AGUNG SRI EFRIYANTHI
(1002105087)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2011
A Konsep Dasar Penyakit
1. Gangguan eliminasi urin : keadaan dimana seorang individu mengalami atau berisiko
mengalami disIungsi eliminasi urine.
2. Penyebab / Iaktor predisposisi
a. Pertumbuhan dan Perkembangan
Proses penuaan mengganggu proses eliminasi urin. Perubahan Iungsi ginjal dan
kandung kemih juga terjadi seiring dengan proses penuaan. Kecepatan Iiltrasi
glomerulus menurun disertai penurunan kemampuan ginjal untuk memekatkan
urin, sehingga lansia sering mengalami nokturia (urinasi berlebihan pada malam
hari)
b. Faktor Psikologis
Ansietas dan stress emosional dapat menimbulkan dorongan untuk berkemih dan
Irekuensi berkemih meningkat. Ansietas juga dapat membuat individu tidak
mampu berkemih sampai tuntas. Ketegangan emosional membuat relaksasi otot
abdomen dan otot perineum menjadi sulit. Apabila sIingter uretra eksterna tidak
berelaksasi secara total , buang air dapat menjadi tidak tuntas dan terdapat sisa
urin di dalam kandung kemih.
c. Tonus Otot
Lemahnya otot abdomen dan otot dasar panggul merusak kontraksi kandung
kemih dan kontrol sIingter uretra eksterna. Kontrol mikturisi yang buruk dapat
diakibatkan oleh otot yang tidak dipakai , yang merupakan akibat dari lamanya
imobilitas , peregangan otot selama melahirkan , atroIi otot setelah menopause,
dan kerusakan otot akibat trauma.
d. Kondisi Penyakit
Beberapa penyakit dapat mempengaruhi kemampuan untuk berkemih. Adanya
luka pada saraI periIer yang menuju ke kandung kemih menyebabkan hilangnya
tonus kandung kemih , berkurangnya sensasi penuh kandung kemih, dan individu
mengalami kesulitan untuk mengontrol urinasi. Misalnya diabetes mellitus dan
sklerosis multiple menyebabkan kondisi neuropatik yang mengubah Iungsi
kandung kemih.

e. Obat obatan
Diuretik mencegah rebsorpsi air dan elektrolit tertentu untuk meningkatkan
haluaran urin. Retensi urin dapat disebabkan oleh penggunaan obat antikolinergik
(mis. atropin), antihistamin (mis. sudaIed), antihipertensi (mis. aldomet), dan obat
penyekat beta adrenergic.
3. PatoIisiologi
Gangguan pada eliminasi sangat beragam seperti yang telah dijelaskan di atas.
Masing-masing gangguan tersebut disebabkan oleh etiologi yang berbeda. Pada
pasien dengan usia tua, trauma yang menyebabkan cedera medulla spinal, akan
menyebabkan gangguan dalam mengkontrol urine/inkontinensia urine. Cedera
medullaspinalis (CMS) merupakan salah satu penyebab gangguan Iungsi
saraI termasuk pada persyaraIan berkemih dan deIekasi.

Komplikasi cedera spinal dapat menyebabkan syok neurogenik dikaitkan dengan
cedera medulla spinalis yang umumnya dikaitkan sebagai syok spinal. Syok spinal
merupakan depresi tiba-tiba aktivitas reIlex pada medulla spinalis (areIlexia) di
bawah tingkat cedera pada komplikasi syok spinal terdapat tanda gangguan Iungsi
autonom berupa kulit kering karena tidak berkeringatdan hipotensi ortostatik serta
gangguan Iungsi kandung kemih dan gangguan deIekasi.

Proses berkemih melibatkan 2 proses yang berbeda yaitu pengisian dan penyimpanan
urine dan pengosongan kandung kemih. Hal ini saling berlawanan dan bergantian
secara normal. Aktivitas otot-otot kandung kemih dalam hal penyimpanan dan
pengeluaran urin dikontrol oleh sistem saraI otonom dan somatik. Selama Iase
pengisian, pengaruh sistem saraI simpatis terhadap kandung kemih menjadi
bertekanan rendah dengan meningkatkan resistensi saluran kemih. Penyimpanan urin
dikoordinasikan oleh hambatan sistem simpatis dari aktivitas kontraktil otot detrusor
yang dikaitkan dengan peningkatan tekanan otot dari leher kandung kemih dan
proksimal uretra.

Pengeluaran urine secara normal timbul akibat dari kontraksi yang simultan otot
detrusor dan relaksasi saluran kemih. Hal ini dipengaruhi oleh sistem saraI
parasimpatis yang mempunyai neurotransmiter utama yaitu asetilkholin, suatu agen
kolinergik. Selama Iase pengisian, impuls aIIerent ditransmisikan ke saraI sensoris
pada ujung ganglion dorsal spinal sakralsegmen 2-4 dan inIormasikan ke batang
otak. Impuls saraI dari batang otak menghambat aliran parasimpatis dari pusat kemih
sakral spinal. Selama Iase pengosongan kandung kemih, hambatan pada aliran
parasimpatis sacral dihentikan dan timbul kontraksi otot detrusor.

Hambatan aliran simpatis pada kandung kemih menimbulkan relaksasi pada otot
uretra trigonal dan proksimal. Impuls berjalan sepanjang nervus pudendus untuk
merelaksasikan otot halus dan skelet dari sphincter eksterna.Hasilnya keluarnya urine
dengan resistensi saluran yang minimal. Pasien post operasi dan post partum
merupakan bagian yang terbanyak menyebabkan retensi urine akut. Fenomena ini
terjadi akibat dari trauma kandung kemih danedema sekunder akibat tindakan
pembedahan atau obstetri, epidural anestesi,obat-obat narkotik, peregangan atau
trauma saraI pelvik, hematoma pelvik,nyeri insisi episiotomi atau abdominal,
khususnya pada pasien yangmengosongkan kandung kemihnya dengan manuver
Valsalva. Retensi urine pos operasi biasanya membaik sejalan dengan waktu dan
drainase kandungkemih yang adekuat
4. KlasiIikasi
a. Retensi Urine
Retensi urine adalah akumulasi urine yang nyata di dalam kandung kemih
akibat ketidakmampuan mengosongkan kandung kemih. Urine terus
berkumpul di kandung kemih , merenggangkan dindingnya sehingga timbul
perasaan tegang , tidak nyaman , nyeri tekan pada simIisis pubis , gelisah , dan
terjadi diaphoresis (berkeringat). Tanda tanda retensi urine akut ialah tidak
adanya haluaran urine selama beberapa jam dan terdapat distensi kandung
kemih. Pada retensi urine yang berat , kandung kemih dapat menahan 2000
3000 ml urine . Retensi terjadi terjadi akibat obstruksi uretra , trauma bedah ,
perubahan stimulasi saraI sensorik dan motorik kandung kemih , eIek samping
obat dan ansietas.
b. InIeksi Saluran Kemih Bawah
InIeksi saluran kemih adalah inIeksi yang didapat di rumah sakit . Penyebab
paling sering inIeksi ini ialah dimasukkannya suatu alat ke dalam saluran
perkemihan. Misalnya pemasukkan kateter melalui uretra akan menyediakan
rute langsung masuknya mikroorganisme. Kebersihan perineum yang buruk
merupakan penyebab umum ISK pada wanita. Faktor predisposisi terjadinya
inIeksi pada wanita diantaranya adalah praktik cuci tangan yang tidak adekuat
, kebiasaan mengelap perineum yang salah yaitu dari arah belakang ke depan
setelah berkemih atau deIekasi. Klien yang mengalami ISK bagian bawah
mengalami nyeri atau rasa terbakar selama berkemih (disuria).
c. Inkontinensia Urine
Inkontinensia urine ialah kehilangan kontrol berkemih. Klien tidak lagi dapat
mengontrol sIingter uretra eksterna. Lima tipe inkontinensia adalah
inkontinensia Iungsional, inkontinensia reIleks, Inkontinensia stress,
inkontinensia urge, dan inkontinensia total. Inkontinensia yang berkelanjutan
memungkinkan terjadinya kerusakan pada kulit, siIat urine yang asam
mengiritasi kulit. Klien yang tidak dapat melakukan mobilisasi dan sering
mengalami inkontinensia terutama berisiko terkena luka dekubitus.
5. Gejala klinis
a. Urgensi : merasakan kebutuhan untuk berkemih
b. Disuria : merasa nyeri atau sulit berkemih
c. Frekuensi : berkemih dengan sering
d. Poliuria : mengeluarkan urine yang banyak
e. Oliguria : haluaran urine yang menurun dibandingkan dengan yang masuk
I. Nokturia : berkemih yang sering pada malam hari
g. Hematuria : terdapat darah dalam urine
h. Retensi : akumulasi urine di kandung kemih disertai ketidakmampuan
mengosongkan kandung kemih
i. Residu urine : volume urine yang tersisa setelah berkemih
. Pemeriksaan Iisik
a. Inspeksi
- Perawat mengkaji kondisi turgor kulit untuk mengkaji status hidrasi
klien
- Perawat dapat melihat adanya pembengkakan atau lekukan konveks
pada abdomen bagian bawah.
- Perawat mengkaji meatus urinarius untuk melihat adanya rabas,
peradangan dan luka
b. Palpasi
- Perawat dapat mengkaji adanya nyeri tekan di daerah pinggul pada
awal penyakit pada saat memperkusi sudut kostovertebra (sudut
yang dibentuk oleh tulang belakang dan tulang rusuk ke 12)
- Perawat yang memiliki keterampilan tinggi belajar mempalpasi
ginjal selama proses pemeriksaan abdomen sehingga dapat
mengungkapkan adanya masalah seperti tumor.
- Perawat mempalpasi abdomen bagian bawah , kandung kemih dalam
keadaan normal teraba lunak dan bundar.
c. Perkusi
- Perawat memperkusi sudut kostovertebra, peradangan menimbulkan
nyeri selama perkusi dilakukan.
d. Auskultasi
- Perawat melakukan auskultasi untuk mendeteksi adanya bunyi bruit
di arteri ginjal (bunyi yang dihasilkan dari perputaran aliran darah
yang melalui arteri yang sempit)
- Perkusi pada kandung kemih yang penuh menimbulkan bunyi
perkusi yang tumpul

7. Pemeriksaan diagnostik / penunjang
Sistem perkemihan ialah salah satu dari beberapa system organ yang pemeriksaan
diagnostiknya dapat akurat dan dan dapat dipertanggung jawabkan melalui beberapa
teknik radiograIik
a. Pemeriksaan Laboratorium
- Urinalisis
- Kultur urine
b. Radiologi
Rontgenogram Abdomen
Pielogram intravena
Pemindaian (scan ginjal)
Computerized axial Tomography
Ultrasound ginjal
Sistoskopi
Biopsi ginjal
angiograIi
8. Therapy
1. Penggunaan obat-obatan
Terapi obat-obatan yang diberikan secara tersendiri atau yang bersamaan dengan
terapi lain dapat membantu masalah inkontinesia dan retensi. Terdapat 3 tipe
obat-obatan. Satu obat merelaksasi kandung kemih yang mengalami ketegangan
atau spasme sehingga meningkatkan kapasitas kandung kemih. Satu obat
menstimulasi kontraksi kandung kemih sehingga meningkatkan pengosongan
kandung kemih. Dan satu obat lainya menyebabkan relaksasi otot polos prostat,
mengurangi obstruksi pada aliran uretra.
2. Kateterisasi
Kateterisasi kandung kemih dilakukan dengan memasukan selang plastic atau
karet melalui uretra kedalam kandung kemih. Kateter memungkinkan
mengalirnya urine yang berkelanjutan pada klien yang tidak mampu mengontrol
perkemihan atau klien yang mengalami obstruksi. Kateter juga menjadi alat yang
digunakan untuk mengukur haluan urine per jam pada klien yang status
hemodinamiknya tidak stabil.
3. Pencegahan inIeksi
Klien yang dikateterisasi dapat mengalami inIeksi melalui berbagai cara.
Mempertahankan drainase urine tertutup, merupakan tindakan yang penting untuk
mengotrol inIeksi. System yang rusak dapat menyebabkan masuknya organism.
Daerah yang memiliki resiko ini, adalah daerah insersi kateter, kantung drainase,
clap, dan sambungan antara selang dan kantung. Irigasi dan instilasi kateter
diperlukan untuk mempertahankan kepatenan urine menetap, kadang-kadang
perlu untuk mengirigasi atau membilas kateter.

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
-Data Pasien / biodata
- Riwayat Keperawatan
O Pola berkemih
O Gejala dari perubahan berkemih
O Factor yang mempengaruhi berkemih
-Intake dan output cairan
O Kaji intake dan output cairan dalam sehari
O Kaji karakteristik urine (warna , kejernihan, bau)
O Kaji perubahan volume urine untuk mengetahui ketidakseimbangan cairan
2. Diagnosa Keperawatan yang kemungkinan muncul
O Retensi urine berhubungan dengan penurunan reabsorpsi cairan ditandai dengan
distensi kandung kemih
O Inkontinensia urinarius reIlex berhubungan dengan gangguan neurologis
ditandai dengan tidak adanya dorongan untuk berkemih
O Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan penurunan kemampuan
mobilitas ditandai dengan retensi


Diagnosa Tujuan dan Kriteria
hasil
Intervensi Rasional Evaluasi
Retensi urine
berhubungan
dengan penurunan
reabsorpsi cairan
ditandai dengan
distensi kandung
kemih

Setelah diberikan
asuhan keperawatan
selama ..x24 jam
diharapkan retensi
urine pada klien
berkurang dengan
criteria hasil :
1. Pola eliminasi
urine klien
pada skala 5
(tidak ada
gangguan/
kembali seperti
semula)
2. Pengosongan
kandung kemih
tidak ada
gangguan
(skala5)
Urinary Elimination
Management
1. Monitor
eliminasi
urine meliputi
Irekuensi,
konsistensi,
bau, volume,
dan warna

2. Monitor tanda
dan gejala
dari retensi
urine


3. Catat waktu
terakhir
berkemih




1. Untuk
mengetahui
ada atau
tidaknya
ketidaknorm
alan dari
berkemih
klien
2. Agar
mengetahui
tanda dan
gejala pasti
dari retensi
urine klien
3. Agar
mengetahui
interval
perkiraan
berkemih
selanjutnya
S : klien
mengatakan perut
bagian bawah
sudah tidak terasa
penuh lagi
O : intake dan
output cairan
sudah normal dan
seimbang (1cc/kg
BB/jam)
A: intervensi
tercapai
sepenuhnya
P: pertahankan
kondisi klien
Inkontinensia
urinarius reIlex
berhubungan
dengan gangguan
neurologis ditandai
dengan tidak
adanya sensasi
Setelah diberikan
asuhan keperawatan
selama ..x24 jam
diharapkan
inkontinensia pada
klien berkurang
dengan criteria hasil :
Urinary
Catheterization
1. elaskan
prosedur dan
rasional dari
pemasangan
kateter


1. Agar klien
mengetahui
kegunaan
dan tujuan
dari
S : klien
mengatakan sudah
lebih bisa
mengontrol
eliminasi urinnya
O : Irekuensi
berkemih yang
penuh pada
kandung kemih

1. Nokturia pada
klien
berkurang
2. Frekuensi
urine normal
3. Warna urine
klien normal
(skala 5)
4. Pengosongan
kandung kemih
normal (skala
5)



2. Monitor
intake dan
output cairan
(jumlah,
warna,
Irekuensi)

pemasangan
kateter
2. Agar
perawat
mengetahui
intake dan
output
cairan klien
sering pada klien
mulai berkurang
A : Intervensi
tercapai sebagian
P : lanjutkan
intervensi
Gangguan
eliminasi urine
berhubungan
dengan gangguan
sensorik ditandai
dengan
inkontinensia,
retensi

Setelah diberikan
asuhan keperawatan
selama ..x24 jam
diharapkan gangguan
eliminasi urine pada
klien berkurang
dengan criteria hasil :
1. Mempertahank
an pola
berkemih pada
skala 5
2. Mengenal
keinginan
untuk
berkemih pada
skala 5

Urinary Elimination
Management
1. Monitor
eliminasi
urine meliputi
Irekuensi,
konsistensi,
bau, volume,
dan warna

2. Monitor tanda
dan gejala
dari retensi
urine


3. Catat waktu
terakhir


1. Untuk
mengetahui
ada atau
tidaknya
ketidaknorm
alan dari
berkemih
klien
2. Agar
mengetahui
tanda dan
gejala pasti
dari retensi
urine klien
3. Agar
mengetahui
S : klien
mengatakan sudah
bisa mengontrol
pola eliminasi
urinnya
O : output dan
intake cairan sudah
normal dan
seimbang (1cc/kg
BB/jam), Irekuensi
berkemih yang
sering pada klien
mulai berkurang
A : intervensi
tercapai sebagian
P : lanjutkan
intervensi

berkemih



Urinary
Catheterization
1. elaskan
prosedur dan
rasional dari
pemasangan
kateter


2. Monitor
intake dan
output cairan
(jumlah,
warna,
Irekuensi)

interval
perkiraan
berkemih
selanjutny


1. Agar klien
mengetahui
kegunaan
dan tujuan
dari
pemasangan
kateter
2. Agar
perawat
mengetahui
intake dan
output
cairan klien