Anda di halaman 1dari 3

Surat Perjanjian Penerbitan (SPP) adalah kontrak kerjasama antara penulis dengan penerbit saat

naskah penulis lolos untuk diterbitkan. Pada saat SPP ini sudah disepakati dan ditandatangani
oleh kedua belah pihak, maka naskah akan melalui proses penerbitan menjadi buku (lama
prosesnya berbeda-beda tergantung setiap penerbit). Berbeda kalau SPP belum disepakati, maka
proses penerbitan tentu saja akan mengalami hambatan, karena SPP ini adalah kunci seluruh
proses. Kalau tidak ada kesepakatan mengenai isi SPP, naskah pun akan batal terbit.

Sebenarnya, apa saja sih yang ada dalam klausul SPP ini? Masing-masing penerbit memiliki
Iormat kontrak tersendiri. Ada yang sangat detil, ada pula yang mencantumkan poin-poin intinya
saja. Hanya saja, hal-hal yang biasanya tercantum dalam SPP biasanya seperti ini :

O Kepemilikan naskah,
Dalam klausul ini berisi pernyataan bahwa Penulis adalah benar-benar yang memiliki (menulis)
naskah tersebut, dan menyerahkan naskah kepada Penerbit untuk diterbitkan dalam bentuk Buku
Cetak, Buku Eletronik, Digital Book, Mobile Content, dll. Termasuk hak untuk menerjemahkan
kalau perlu.
O Hak Cipta
Pernyataan bahwa naskah tersebut tidak melanggar hak cipta atau dapat menyinggung pihak lain.
Apabila terbukti melakukan pelanggaran, maka Penulis membebaskan Penerbit dari segala
tuntutan yang terjadi. Dalam klausul ini biasanya disebutkan pula kalau Penulis tidak akan
memberikan izin kepada pihak lain untuk menerbitkan naskah ini dalam bentuk apapun,
termasuk publishing di internet, dijadikan sinetron, Iilm, dll. Tanpa seijin penerbit.
O adwal terbit
Klausul ini akan menyatakan tentang jadwal terbit naskah yang akan dilaksanakan selambat-
lambatnya pada periode tertentu. Misalnya, selambat-lambatnya 12 bulan dari tanggal
ditandatangani SPP. Apabila lewat dari periode tersebut naskah belum juga diterbitkan, maka
Penulis berhak untuk menarik kembali naskahnya, atau merundingkan jadwal penerbita ulang
dengan penerbit.
O Cek ProoI
Apabila diminta oleh Penerbit, Penulis bersedia untuk memeriksa cetak coba (prooI) atas naskah
yang sudah siap cetak. Penulis pun memberikan hak kepada Penerbit untuk mengedit naskah,
mengatur segala rupa, bentuk, harga, dan sistem penjualan buku yang dicetak kepada Penerbit.
O Cetakan Pertama
Klausul ini menyebutkan jumlah eksemplar yang akan menjadi cetakan pertama (Misalnya 3.000
eksemplar), dan jumah eksemplar tambahan yang akan digunakan untuk keperluan promosi.
Biasanya cetak tambahan ini tidak lebih dari 10 dari jumlah cetakan pertama.
O Royalti
Dalam klausul ini akan mencantumkan prosentasi royalti yang akan diterima oleh Penulis,
beserta cara perhitungan dan pengenaan PPh Ps. 23 yang akan dikenakan terhadap royalti.
Biasanya akan disebutkan pula jadwal periode pembayaran royalti tersebut (per triwulan, per
kwartal, atau per semester).
O angka Waktu Perjanjian
Ada dua jenis jangka waktu perjanjian yang saya ketahui, yaitu dihitung berdasarkan tahun dan
dihitung berdasarkan jumlah cetakan. Untuk perhitungan tahun, misalnya jangka waktu
perjanjian adalah 5 tahun. Maka, setelah 5 tahun terlampaui, hak naskah kembali ke penulis.
Untuk perhitungan berdasarkan jumlah cetakan, misalnya sampai cetakan 100.000 eks.
O Bukti Terbit
Penulis mendapatkan hak berupa bukti terbit pada saat naskahnya sudah selesai cetak atau cetak
ulang. Setiap penerbit memberikan aturan berbeda-beda mengenai jumlah eksemplar yang
diberikan kepada penulis. Umumnya, Penulis mendapatkan 10 eks pada cetakan pertama dan 5
eks untuk cetakan berikutnya.
Dalam klausul ini disampaikan pula prosentasi rabat/diskon yang diperoleh apabila Penulis
membeli langsung bukunya dari Penerbit.
O Pemeriksaan melalui Akuntan Publik
Apbila Penulis merasa tidak yakin mengenai kerjasama yang berlangsung, Penulis berhak untuk
meminta penegasan dari Akuntan Publik mengenai jumlah buku yang dicetak, yang terjual,
royalti yang dibayarkan dan lain-lain oleh Penerbit. Biaya yang dikeluarkan untuk menyewa
Akuntan Publik menjadi kewajiban Penulis.
O Cetak ulang
Sebelum cetak ulang, biasanya Penerbit akan menyampaikan pemberitahuan kepada Penulis.
Apabila untuk cetakan berikutnya ternyata diperlukan adanya revisi naskah, maka Penulis
bersedia untuk melakukan revisi tersebut. Apabila Penulis berhalangan, maka Penerbit akan
menunjuk orang lain untuk melakukan revisi tersebut.
O Ketentuan lelang
Sebuah buku akan masuk dalam daItar lelang apabila penjualannya ternyata tidak
menggembirakan setelah melewati evaluasi dalam periode tertentu. Apabila buku kita masuk ke
dalam daItar lelang ini, maka penerbit berhak untuk menjual bukunya dengan harga diskon.
Karena itu, perhitungan royalti Penulis pun akan dihitung berdasarkan harga lelang tersebut.
O Hak Waris
Selama kontrak masih berjalan, Penulis yang meninggal dunia masih akan menerima hak
royaltinya dan diserahkan kepada ahli waris yang berhak.
O Kondisi Force Majeur
Kondisi yang tidak memungkinkan kerjasama berjalan dengan lancar, misalnya bencana alam,
dan lain-lain, sehingga segala proses harus terhenti sementara.
O Musyawarah
Segala sesuatu yang tidak tercantum dalam SPP ini bisa dibicarakan antara kedua belah pihak
dengan cara musyawarah. Begitu pula kalau ada perbedaan penaIsiran mengenai pasal-pasal
dalam SPP ini. Kalau tidak tercapai kata muIakat, akan ditunjuk lembaga pengadilan untuk
penyelesaian masalah.

SPP ini ditandatangan di atas bermeterai 6000 oleh kedua belah pihak, dan dinyatakan sah kalau
kedua belah pihak sudah menandatanganinya.

Demikian poin-poin penting yang biasanya tercantum dalam sebuah Surat Perjanjian Penerbitan
sebuah buku. Ada yang kurang? Atau ada yang mau menambahkan?