Anda di halaman 1dari 10

DAMPAK KOREAN WAVE DI INDONESIA

Konstruksi kecantikan atau Iashion sebagai 'mass deception


Pendahuluan
Korean wave mulai merambah dunia dan menjadi booming di pertengahan
tahun 1990-an (Korean Culture and InIormation Service, 2011). Sejak itu, Korea
Selatan menjadi semacam pusat industri budaya transnasional, yang mengeksport
produk-produk budaya. Sebenarnya budaya Korea banyak berkiblat pada Jepang
dan Jepang sendiri banyak berkiblat pada 'Barat. Karya-karya yang lahir di
Korea merupakan adaptasi dari budaya Jepang. Tapi, Korea punya cara sendiri
untuk mempopulerkan hasil karya mereka.
Korean wave adalah Ienomena yang diciptakan di negara Korea Selatan
terutama untuk industri budaya atau disebut juga dengan 'hallyu. Industri budaya
di Korea seperti Iilm, drama atau industri budaya lain sebenarnya mempunyai
eIek yang positiI tidak hanya menguntungkan dari segi ekonomi tapi juga untuk
'nations image` negara Korea sendiri. Intinya pemerintah Korea ingin
menunjukkan image atau citra yang bagus dari budaya populer yang ada di Korea
kepada dunia luar. Sebenarnya dari produksi-produksi Korea yang diekspor
seperti drama, musik, Iilm, dan makanan yang paling Ienomenal adalah drama.
Walaupun musik Pop Korea layak masuk di dalam daItar list untuk budaya
Korean pop yang diekspor, tapi masih kalah dibanding dengan Iilm atau drama.
Seiring berjalannya waktu muncul istilah K-pop untuk budaya Korea yang
dieksport, tetapi istilah K-pop lebih populer digunakan untuk dunia musik.
Indurtri budaya seperti drama mulai diperkenalkan di Indonesia pada awal
tahun 2003 lewat serial drama Glass Shoes. Drama di Korea bisa dikatakan telah
menginIeksi hampir di seluruh Asia. Begitu juga dengan Korean-Pop Music,
walaupun musik Korea sudah lama diperkenalkan di Indonesia, tapi mulai
membooming di tahun 2010. Jadi, sebenarnya Indonesia sudah telat. Awalnya,
hanya diperuntukkan untuk pasar-pasar di sekitar Asia, tetapi sekarang menyebar
di Amerika dan Eropa.
Dari penjelasan mengenai Korean Wave di atas, ada beberapa pertanyaan
yang dapat dirumuskan diantaranya mengapa Korean Pop (Korean Wave) sangat
Ienomenal? Dalam hal apa saja atau budaya apa saja yang menginIeksi dalam
masyarakat di Indonesia? Dan kira-kira sampai berapa lama Ienomena itu
bertahan?

Fashion Industry Korea
Fashion dalam bukunya Malcolm Barnard (1996: 7) dijelaskan 'the action
or process of making`, 'a particular shape or cut`, 'form`, through 'manner or
demeanour` to 'conventional usage in dress`. Fashion bukan hanya dilihat dari
bagaimana seseorang berpakaian, tapi juga dari sikap atau perilaku yang pas.
Karena itu Iashion sering disama artikan sebagai 'adornment, style and dress`
(Polhemus dan Proctor dalam Barnard, 1996: 7).
Hal tersebut dijelaskan lagi bahwa,'all fashion is adornment, not all
fashion is clothing`, 'all fashion is in style, not all fashion is in item of dress
fashion involves changing the colour or shape of the body` (Barnard, 1996: 8).
Dari pernyataan tersebut semakin jelas bahwa Iashion hanya suatu konstruksi
yang digunakan merubah penampilan supaya kelihatan lebih menarik. Dan
Iashion paling diminati bagi kalangan wanita terutama kawula muda, bagaimana
mereka tetap tampil menarik dan cantik.
Cantik di jaman modern seperti mulai digandrungi oleh wanita. Hal ini
dibuktikan dengan semakin banyaknya Iasilitas kecantikan dan inovasi yang
muncul untuk menunjang usaha wanita dalam mempercantik diri akibat
konstruksi sosial yang muncul terhadap deskripsi wanita cantik. Sehingga terlihat
bahwa wanita dijaman modern ini, memiliki banyak tuntutan terhadap dirinya dan
cenderung mengekploitasi diri dengan Iasilitas kecantikan yang menawarkan
berbagai macam produk baik yang dimulai dengan berteknologi tinggi dan
tradisional, baik yang dapat dipertanggung jawabkan maupun yang tidak dapat
dipertanggung jawabkan dari segi keamanan dan kenyamanannya. Terutama pada
wanita bekerja yang harus berhadapan dan berinteraksi dengan customer atau
rekan kerjanya, yang memberikan peluang lebih besar terhadap kebutuhan yang
kompleks sebagai simbol aktualisasi diri, pertahanan diri untuk meningkatkan
prestise sosial dan ekonomi.

edia Industry
Budaya populer adalah budaya yang berkembang dan semakin
menyebar/meluas dan biasanya ada unsur eksploitasinya. Di Indonesia, budaya
populer yang sekaligus menjadi media dalam penyampaian inIormasi adalah
digitalisasi. Kata-kata digitalisasi mungkin sudah tidak awam lagi di telinga kita.
Menurut Hesmondhalgh (2007: 241), '...when all the variety of conflicting
definitions are put to one side is digitalisation`. Digitalisasi adalah suatu alat
mentrasIer data atau inIormasi lewat sarana elektronik, bisa lewat televisi, radio,
dan internet yaitu Youtube. Tujuan dari industri media ini selain dari segi
ekonomi yang tujuannya untuk mendapatkan proIit atau keuntungan juga dari segi
ideologi. Dari segi ekonomi, artis dikomodiIikasikan, seorang artis bukan
miliknya sendiri tetapi milik orang banyak, jadi tidak boleh sembarangan
menggunakan barang yang diperjualbelikan. Dari segi ideologi, adanya legitimasi
kekuasaan dari kelompok yang dominan dalam masyarkat.
Lewat digitalisasi inIormasi apapun lebih mudah untuk diakses, kapanpun
dan dimanapun. Digitalisasi merubah cara hidup dari tradisional ke ranah modern
dalam mencapai kesenangan atau hiburan, walaupun tidak semuanya teknologi itu
berdampak positiI, bisa juga berdampak negatiI. Lewat digitalisasi secara
langsung kita dapat menikmati siaran di televisi, atau mencari inIormasi di
internet, misal mencari inIormasi baru seputar musik Korea dan artis-artinya
langsung lewat Youtube, mulai dari musik, lirik, sampai dengan Iashion mereka.



ulture Industry
Dalam tulisannya Adorno dan Horkheimer (Douglas dan Durham, 2006)
dijelaskan bahwa 'Teori sosiologis bersama datangnya teknologi menyebabkan
kekacauan budaya, karena budaya saat itu mengesankan cap yang sama.
Bagaimana tidak produksi-produksi budaya seperti Iilm, musik, radio, dan
majalah membuat sebuah sistem yang seragam secara keseluruhan dan di setiap
bagian. Intinya industri budaya saat ini belum berkembang maksimal dan semakin
banyaknya jumlah konsumen mengakibatkan jumlah produksi yang bertambah
pula sehingga konsumen harus merasa puas dengan barang-barang identik yang
diperlukan.
Di bawah monopoli semua budaya massa adalah identik, Orang-orang
yang berkuasa demi memenuhi kepuasan mereka, melegalkan bahkan
menghalalkan kekerasan, dalam sebuah istilah yang kuat adalah pemenang.
Mereka hanya menjadikan sebuah bisnis yang terbuat dari ideologi untuk
membenarkan omong kosong yang sengaja mereka hasilkan.
Pihak yang berkepentingan menjelaskan industri budaya dalam teknologi.
Dimana banyak pihak yang ikut berpartisipasi di dalamnya, dengan proses
reproduksi tertentu mereka harus memproduksi dan memuaskan konsumen
walaupun dengan barang yang identik/sama dalam jumlah yang besar. Hal ini
membuat teknologi dalam industri budaya tidak lebih hanya untuk mencapai batas
standar dan produksi massa/besar-besaran, dan mengorbankan apa yang menjadi
perbedaan antara logika kerja dari sistem sosial atau masyarakat. Dampaknya,
masyarakat merasa terbodohi serta seharusnya tidak menjadi pelengkap hukum
teknologi sendiri, tetapi menjadi Iungsi dalam ekonomi saat itu. Dengan keadaan
seperti ini juga membuat seorang ahli menjadi pasiI atau vakum dalam
berekspresi. Intinya tidak ada perkembangan dan tidak ada kebebasan dalam
berkarya sehingga dunia terasa membosankan. Sikap publik yang berpura-pura
menikmati sistem industri budaya merupakan bagian dari sistem.
Contohnya dalam produksi musik, dimana semua dibedakan bersadarkan
klasiIikasi, organisasi dan diberi label oleh konsumen. Secara kualitas memang
terpenuhi sampai ke publik, tapi untuk menuju kuantitas harus lebih lengkap.
Kenyataannya sebenarnya aliran musik mereka tawarkan sama, tapi industri yang
mengharuskan mereka harus bersaing dengan yang lain dalam pemenuhan selera
konsumen. Semua orang bersikap spontan memilih kategori produk massal sesuai
tipenya. Konsumen menjadi aktiI dan muncul sebagai statistik dan graIik
organisasi penelitian, yang dibagi menurut kelompok pendapatan menjadi merah,
hijau, dan daerah biru, teknik ini yang digunakan untuk semua jenis propaganda.
Seluruh dunia dibuat untuk melewati Iilter dari industri budaya. Industri
budaya terus-menerus menipu konsumen dengan mengobral janji. Janji yang
berupa ilusi itu hanya semata-mata sebuah hiburan yang menyenangkan. Hiburan
sendiri jika dibebaskan, akan menjadi sebuah tontonan yang ekstrim, yang
disalahgunakan hanya demi untuk mendatangkan bintang. Konsumen ditipu
dengan hiburan-hiburan yang melibatkan klise ideologi budaya menjadi runtuh.
Dalam budaya massa, prinsip individualitas selalu penuh kontradiksi dan
biasanya tidak benar-benar sukses. Satu-satunya alasan mengapa industri budaya
dapat menangani prinsip individualitas adalah karena kerapuhan dari masyarakat.
Masyarakat sendiri yang tidak mempunyai prinsip, dan hanya menjadi konsumen
atau ekor dalam keberlangsungan industri budaya.
Industri budaya memang membuat banyak perubahan. Sebagai contohnya
adalah televisi, televisi telah memainkan peran yang besar sebagai pusat inIormasi
dan hiburan dalam kehidupan manusia. Industri budaya telah mempengaruhi kita
dalam memahami dunia, karena industri budaya terlibat dalam pembuatan dan
sirkulasi produk (Hesmondhalgh, 2006). Seperti teks (kalimat) berupa inIormasi
yang biasanya terdapat pada surat kabar, berita, buku, Iilm dokumenter atau yang
berhubungan dengan dunia hiburan memberikan gambaran kepada kita tentang
keadaan dunia saat ini, yang bertindak seperti pelaporan, sehingga ada sisi positiI
bagi kita sebagai konsumen, bahwa untuk mengetahui dunia luar saat ini kita tidak
perlu berkeliling dunia.
Sistem kapitalis seperti ini umumnya pihak penguasa akan mendapat
keuntungan yang besar. Sebagian alasan sederhana adalah untuk kepentingan
ekonomi, dimana perusahaan budaya harus bersaing satu sama lain, dengan
melakukan bisnis mereka bersaing untuk memuaskan konsumen. Cara mengatur
industri budaya dan mengedarkan kreativitas simbolik mencerminkan adanya
ketidakadilan yang ekstrim dalam masyarakat kapitalis kontemporer. Ada
kesenjangan besar dalam akses ke industri budaya. Kegagalan jauh lebih banyak
daripada sukses.
Di sisi lain, perusahaan industri budaya mengalami kesulitan juga. Mereka
harus menemukan konsumen besar untuk produk yang mereka hasilkan, karena
kelompok orang yang berbeda cenderung memiliki selera yang berbeda pula,
sehingga banyak pekerjaan perusahaan industri budaya untuk mencocokkan teks
ke konsumen, untuk menemukan cara yang tepat beredarnya teks ke konsumen
dan membuat konsumen menyadari keberadaan teks. Untuk itu perlu adanya
kreativitas simbolis untuk merubah kontinuitas dalam industri budaya. Selain itu,
semakin signiIikan kekayaan dan lapangan kerja di bidang ekonomi, semakin
penting adanya perubahan dan kontinuitas dalam industri budaya.

$$ / PEMB$
'Korean Wave' istilah (Hallyu di Korea) diciptakan oleh pers Cina sedikit
lebih dari satu dekade lalu untuk merujuk pada popularitas budaya pop Korea di
Cina (Korean Culture and InIormation Service, 2011). Ledakan budaya Korea
dimulai dengan ekspor drama televisi Korea (mini seri), dan sejak itu Korea
Selatan telah muncul sebagai pusat baru untuk produksi budaya pop transnasional,
mengekspor berbagai produk budaya untuk negara-negara Asia tetangga, tanpa
terkecuali Indonesia.
allyu dalam K-pop sendiri itu Ienomenal dan unik, karena merupakan
suatu invasi kebudayaan yang dibangun dengan proses yang membutuhkan waktu
yang cukup lama (sekitar 5-10 tahun) dan bertahap, bagaimana tidak, "korban"
invasi kebudayaan korea ini tidak mengenal ras, suku, negara atau golongan
semua larut dalam euphoria Korea (Selatan).
Selain mini seri drama, Korean Pop Music juga cukup Ienomenal, salah
contohnya SNSD So Nyeo Shi Dae) atau yang biasa disebut Girl Generation.
Girl band wanita yang menjadi ikon di Korea. Dari mulai suara dan dance serta
wajah yang memikat hati karena secara Iisik mereka terlihat cantik, kemudian
makanan sampai Iashion banyak menjadi kiblat bagi anak muda, tidak hanya para
remaja, anak-anak bahkan orang dewasapun ikut terhipnotis oleh aura grup band
ini.

Girl band yang terdiri dari 9 cewek cantik ini mulai orbit sejak tahun
2007. Dengan personilnya yang terdiri dari Yoona, TiIIany, Yuri, Hyoyeon,
Sooyoung, Seohyun, Taeyeon, Jessica, dan Sunny (). Girl band Korea ini menjadi
kiblat bagi girl band di Indonesia diantaranya 7-icon dan Cherry Belle.
Kepopuleran mereka tidak berhenti di grup band saja. Para Ians yang Ianatik
membuat klub penggemar resmi Girls' Generation bernama SNE () yang
diambil dari judul lagu dalam album pertama mereka.
Kenapa dampak Korea di Indonesia sangat terasa? Fans inilah yang
mempopulerkan Iashion dari para SNSD. Mereka membuat kegiatan di blog, di
Iacebook dan Youtube sebagai incaran para remaja guna mencari video yang
terkait idola mereka. Yang menarik lagi bukan hanya video dalam arti musik dan
tari yang dinikmati, tetapi tokohnya juga ikut dinikmati, tidak hanya bentuk
badannya yang bagus, parasnya yang cantik menjadi konsumsi sendiri, karakter
tiap tokoh yang menjadi Iantasi dan yang diidam-idamkan tiap orang, sampai
dengan style, bahkan Iashion yang mereka kenakan.

Dalam bukunya Hesmondhalgh (2007: 14) 'Fashion is a fascinating
hybrid of a cultural industry`. Fashion tidak bisa lepas dari industri budaya.







Yang menarik dari pemerintah Korea Selatan terkait musik, pemerintah
Korea Selatan akhirnya membuat sebuah kebijakan Performance Act
Amandement, yang kabarnya akan melarang penyanyi Korea Selatan melakukan
lipsync dalam setiap pertunjukan (Sabatini, 2011). Peraturan ini akan memaksa
para penyanyi untuk bernyanyi secara live atau bila terpaksa melakukan lipsync,
penyanyi harus memberitahukan kepada penonton sebelum tampil. Pemerintah
pun memberikan sanksi bila ketahuan lipsync, yaitu denda maksimal 10 juta won
yang setara dengan Rp 78 juta atau penjara maksimal 1 tahun.
The Korean Wavea recreation in Korean style oI culture accepted Irom
abroadis not just 'Korean, but a by product oI clashing and communication
among several diIIerent cultures. Another goal oI the book is to promote an
understanding oI the Korean Wave that allows it to serve as a vehicle Ior
communication between diverse cultures.
Dampak Korea tidak hanya dari Iashion pakaian saja, tapi juga dari
dandanan 'adorment` dan `style`. Hanya demi pemenuhan kepuasan, para Ians
sampai rela ikut kursus bahasa Korea, membeli asesori atau pakaian seperti idola
mereka dan ikut berakting seperti gaya idola mereka. Fenomena ini mirip dengan
Ienomena beberapa tahun yang lalu ketika J-Pop masuk ke Indonesia. Jepang
dengan gaya Harajukunya sempat membuat trend di Indonesia, walaupun
sekarang masih ada, tapi mulai bias dengan datangnya K-Pop.

Popularitas budaya pop Korea mengerahkan pengaruh positiI pada
penjualan luar negeri dari produk-produk buatan lokal. Korea International Trade
Association (KITA) mengatakan survei yang dilakukan pada 1.173 orang dari
Jepang, Cina, Taiwan dan Vietnam, mengungkapkan bahwa 80 persen responden
mengatakan bahwa Korea Wave telah mempengaruhi mereka membeli barang-
barang Korea Selatan (). KITA menambahkan bahwa tiga dari empat konsumen
asing mengatakan bahwa mereka membeli produk Korea setelah mereka terkena
Hallyu.
Mulai dari sinilah industri budaya semakin membooming. "Dari mereka
yang membeli produk, 23,5 persen dan 22,5 persen membeli makanan olahan
buatan lokal dan kosmetik, dengan angka untuk aksesori pakaian dan Iashion
mencapai 17,0 persen dan 9,9 persen masing-masing," kata asosiasi. Organisasi
yang mewakili perusahaan perdagangan mengatakan bahwa temuan terbaru
menunjukkan Hallyu dapat digunakan untuk mempromosikan pertumbuhan
ekspor.
"Dengan mengukur tingkat popularitas di setiap negara, perusahaan lokal dapat
membuat lebih baik menggunakan isi budaya Korea untuk masuk dan memperluas
kehadiran pasar yang ada," katanya.
Pada harga untuk produk, asosiasi tersebut mengatakan bahwa akan lebih baik
jika produk lokal ditargetkan pasar premium karena Hallyu telah meningkatkan
citra keseluruhan Korea Selatan di luar negeri.
"Dalam rangka untuk mendapatkan lebih banyak untuk produk, penekanan harus
ditempatkan pada kualitas, desain dan lainnya non-harga Iaktor-Iaktor terkait,"

Anda mungkin juga menyukai