Anda di halaman 1dari 13

http://www.kotakmedis.

com/2011/11/astigmatisme-2/
November 5th, 2011 , Add a Comment
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Dewasa ini banyak sekali ditemukan berbagai macam kelainan yang terjadi pada indra
penglihatan kita yaitu mata. Hal ini disebabkan oleh tingkat kehidupan saat ini telah jauh berbeda
dengan zaman dahulu. Kebiasaan seperti terlalu banyak menghabiskan waktu di depan TV atau
komputer menyebabkan eIek yang kurang baik pada mata kita. Sehingga hal ini menyebabkan
gangguan kesehatan,seperti timbulnya kelainan reIraksi pada mata. Salah satu jenis kelianan
tersebut adalah astigmatisma.
Astigmatisma adalah kelainan reIraksi mata dimana didapatkan bermacam- macam derajat
reIraksi pada berbagai macam meridian sehingga sinar sejajar yang datang pada mata akan
diIokuskan pada berbagai macam Iokus pula. Setiap meridian mata memiliki titik Iokus
tersendiri yang mungkin letaknya teratur (pada astigmatisma regularis) ataupun tak teratur (pada
astigmatisma iregularis).
Berikut ini akan dilaporkan sebuah kasus dengan diagnosis astigmatisme miop compositus pada
pasien yang datang berobat ke Poliklinik Mata RSUD Kanjuruhan Kepanjen.
1.2 Rumusan Masalah
I.2.1 Bagaimana etiologi, patogenesis, diagnosis dan penatalaksanaan astigmatisme?
1.3 Tujuan
I.3.1 Mengetahui etiologi, patogenesis, diagnosis dan penatalaksanaan astigmatisme
1.4 Manfaat
1.4.1 Menambah wawasan mengenai penyakit mata khususnya astigmatisme
I.4.2 Sebagai proses pembelajaran bagi dokter muda yang sedang mengikuti kepaniteraan
klinik bagian ilmu penyakit mata

BAB II
$TATU$ PA$IEN

2.1 IDENTITA$ PA$IEN
Nama : Ny.TN
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 32 tahun
Alamat : Jl. Sukoharjo 2/2 Ketapang Kepanjen
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Buruh Konveksi
Status : Menikah
Suku Bangsa : Jawa
Tanggal Periksa : 28 Agustus 2011
No. RM : 260145

2.2 ANAMNE$I$
1. Keluhan Utama : Penglihatan kedua mata kabur
2. Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang dengan keluhan penglihatan kedua mata
kabur sejak 1 minggu. Pasien sering mengeluh mata cepat lelah, dan untuk melihat jauh
terasa kabur dan untuk melihat dekat juga tidak nyaman. Selain itu pasien juga mengeluh
sering keluar air mata dan pusing terutama kepala sebelah kanan. Kadang kadang juga
silau bila terkena sinar matahari. Dari keterangan pasien tidak didapatkan riwayat mata
merah dan riwayat trauma.
3. Riwayat Penyakit Dahulu :
Pasien belum mengalami sakit yang sama
Tidak ada riwayat memakai kacamata sebelumnya
Hipertensi (-), DM (-)
1. Riwayat Penyakit Keluarga :
Tidak ada keluarga dengan keluhan yang sama.
Terdapat riwayat keluarga dengan kacamata
Hipertensi (-), DM (-)
1. Riwayat Pengobatan : Belum pernah berobat
2. Riwayat Kebiasaan : pasien mengaku sering menggunakan sepeda motor kemana-
mana

2.3 $TATU$ GENERALI$
Kesadaran : compos mentis (GCS 456)
Vital sign :
Tensi : 120/80 mmHg
Nadi : 80x/mnt
PernaIasan : 20x/mnt
Suhu : dalam batas normal
2.4 $TATU$ OFTALMOLOGI$
Pemeriksaan OD O$
AV
Tanpa koreksi
Dengan koreksi
6/12
-
6/8,5
-
TIO N/P N/P
Kedudukan OrtoIoria OrtoIoria
Pergerakan
Palpebra
- edema
- hiperemi
- trikiasis
-
-
-
-
-
-
Konjungtiva
- injeksi konjungtiva
- injeksi silier
-
-
-
-
Kornea
- warna
- permukaan
- inIiltrate
Jernih
Cembung
-
Jernih
Cembung
-
Bilik mata depan
- kedalaman
- hiIema
- hipopion
Cukup
-
-
Cukup
-
-
Iris / pupil
- warna iris
- bentuk pupil
- Letak pupil
- reIlek cahaya
direk/indirek
Coklat
Round (3mm)
Sentral

Coklat
Round (3mm)
Sentral

Lensa
- warna
- Iris shadow
jernih
-
jernih
-
Vitreus Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Retina Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Koreksi :
OD : S -1,00 C-0,25 A 125 6/6
OS : S -0,50 C-0,25 A 60 6/6
PD 59

2.5 DIAGNO$I$
Working diagnosis : ODS Astigmatisme Miop Compositus
2.6 PENATALAK$ANAAN
Planning Diagnosis : Keratometer, Iunduskopi,
Planning Therapy :
O C. AsthenoI MD strip No I
S 4 dd gtt I ODS
O Oculex tab No V
S 1dd tab I
O Resep Kaca mata
4 OD : S -1,00 C-0,25 A 125 PD 59
4 OS : S -0,50 C-0,25 A 60 PD 59

2.7 PROGNO$I$
Ad vitam : ad bonam
Ad Functionam : dubia ad bonam
Ad Sanationam : dubia ad bonam
BAB III
TIN1AUAN PU$TAKA
3.1 Refraksi
ReIraksi adalah suatu Ienomena Iisika berupa penyerapan sinar yang melalui media transparan
yang berbeda. Sebagai suatu contoh proses reIraksi saat sebuah pensil diletakkan di dalam gelas
yang berisi air, maka akan tampak gambaran pensil di udara tidak lurus dengan yang tampak
pada air (Peary, 2005).
Hasil pembiasan sinar padamata ditentukan oleh media penglihatan yang terdiri atas kornea,
cairan mata, lensa, badan kaca, dan panjangnya bola mata. Pada orang normal susunan
pembiasan oleh media penglihatan dan panjangnya bola mata demikian seimbang sehingga
bayangan benda setelah melalui media penglihatan dibiaskan tepat di daerah makula lutea. Mata
yang normal disebut sebagai mata emetropia dan akan menempatkan bayangan benda tepat di
retinanya pada keadaan mata yang tidak melakukan akomodasi atau istirahat melihat jauh (Ilyas,
2004).
Analisis statistik distribusi anomali/ kelainan reIraksi yang terjadi di masyarakat dalam populasi
penelitian menunjukkan adanya korelasi yang signiIikan antara jari-jari kurvatura kornea,
kedalaman bilik mata depan, kekuatan reIraksi dari lensa, panjang sumbu bola mata dengan
anomali/ kelainan reIraksi (Vhaugan, 2009).
Dikenal beberapa titik di dalam bidang reIraksi, seperti Punctum Proksimum merupakan titik
terdekat di mana seseorang masih dapat melihat dengan jelas. Punctum Remotum adalah titik
terjauh di mana seseorang masih dapat melihat dengan jelas, titik ini merupakan titik dalam
ruang yang berhubungan dengan retina atau Ioveola bila mata istirahat (Ilyas, 2004).
3.1.1 Emetropia
Pada mata ini daya bias mata adalah normal, di mana sinar jauh diIokuskan sempurna di makula
lutea tanpa bantuan akomodasi. Bila sinar sejajar tidak diIokuskan pada makula lutea disebut
ametropia. Mata emetropia akan mempunyai penglihatan normal atau 6/6 atau 100. Bila media
penglihatan seperti kornea, lensa, dan badan kaca keruh maka sinar tidak dapat diteruskan di
makula lutea. Pada keadaan media penglihatan keruh maka penglihatan tidak akan 100 atau 6/6
(Ilyas, 2004).
Keseimbangan dalam pembiasan sebagian besar ditentukan oleh dataran depan dan
kelengkungan kornea dan panjangnya bola mata. Kornea mempunyai daya pembiasan sinar
terkuat dibanding bagian mata lainnya. Lensa memegang peranan membiaskan sinar terutama
pada saat melakukan akomodasi atau bila melihat benda yang dekat. Panjang bola mata
seseorang berbede-beda. Bila terdapat kelainan pembiasan sinar oleh kornea (mendatar,
mencembung) atau adanya perubahan panjang (lebih panjang, lebih pendek) bola mata maka
sinar normal tidak dapat jatuh ke makula. Keadaan ini disebut ametropia/ anomali reIraksi yang
dapat berupa miopia, hipermetropia, atau astigmatisma. Kelainan lain pada mata normal adalah
gangguan perubahan kencembungan lensa yang dapat berkurang akibat berkurangnya elastisitas
lensa sehingga erjadi gangguan akomodasi. Gangguan akomodasi dapat terlihat pada usia lanjut
sehingga terlihat keadaan yang disebut presbiopia (Ilyas, 2004).
3.1.2 Akomodasi
Pada keadaan normal cahaya tidak berhingga akan terIokus pada retina, demikian pula bila benda
jauh didekatkan, maka dengan adanya daya akomodasi benda dapat diIokuskan pada retina atau
makula lutea. Dengan berakomodasi, maka benda pada jarak yang berbeda-beda akan terIokus
pada retina. Akomodasi adalah kemampuan lensa untuk mencembung yang terjadi akibat
kontraksi otot siliar. Akibat akomodasi, daya pembiasan lensa bertambah kuat. Kekuatan
akomodasi akan meningkat sesuai dengan kebutuhan, makin dekat benda makin kuat mata harus
berakomodasi (mencembung). Kekuatan akomodasi diatur oleh reIleks akomodasi. ReIleks
akomodasi akan bangkit bila mata melihat kabur dan pada waktu konvergensi atau melihat dekat
(Ilyas, 2004)
Dikenal beberapa teori akomodasi, seperti:
O Vteori akomodasi Hemholtz: di mana zonula Zinn kendor akibat konteaksi otot siliar
sirkuler, mengakibatkan lensa yang elastis menjadi cembung dan diameter menjadi kecil
O Vteori akomodasi Thsernig: dasarnya adalah bahwa nukleus lensa tidak dapat berubah
bentuk sedang yang dapat berubah bentuka adalah bagian lensa yang superIisial atau
korteks lensa. Pada waktu akomodasi terjadi tegangan pada zonula Zinn sehingga nukleus
lensa terjepit dan bagian depan nukleus akan mencembung (Ilyas, 2004).
Mata akan berakomodasi bila bayangan diIokuskan di belakang retina. Bila sinar jauh tidak
diIokuskan pada retina seperti pada mata dengan kelainan reIraksi hipermetropia maka mata
tersebut akan berakomodasi terus menerus walaupun letak bendanya jauh, dan pada keadaan ini
diperlukan akomodasi yang baik (Ilyas, 2004).
Anak-anak dapat berakomodasi dengan kuat sekali sehingga memberikan kesukaran pada
pemeriksaan kelainan reIraksi. Daya akomodasi kuat pada anak-anak dapat mencapai12.00
sampai 18.00 D. Akibatnya pada anak-anak yang sedang dilakukan pemeriksaan kelainan
reIraksinya untuk melihat jauh mungkin terjadi koreksi miopia yang lebih tinggi akibat
akomodasi sehingga mata tersebut memerlukan lensa negatiI yang berlebihan (koreksi lebih).
Untuk pemeriksaan kelainan reIraksi anak sebaiknya diberikan sikloplegik untuk melumpuhkan
otot akomodasi sehingga pemeriksaan kelainannya murni, dilakukan pada mata yang beristirahat.
Biasanya untuk ini diberikan sikloplegik atau sulIat atropin bersiIat parasimpatolitik, yang selain
bekerja untuk melumpuhkan otot siliar juga melumpuhkanotot sIingter pupil (Ilyas, 2004).
Dengan bertambahnya usia, maka akan berkurang pula daya akomodasi akibat berkurangnya
elastisitas lensa sehingga lensa sukar mencembung. Keadaan berkurangnya daya akomodasi pada
usia lanjut disebut presbiopia (Ilyas, 2004).
3.1.3 Ametropia
Keseimbangan dalam pembiasan sebagian besar ditentukan oleh dataran depan dan
kelengkungan kornea dan panjangnya bola mata. Kornea mempunyai daya pembiasan sinar
terkuat dibanding bagian mata lainnya. Lensa memegang peranan membiaskan sinar terutama
pada saat melakukan akomodasi atau bila melihat benda dekat (Ilyas, 2004).
Panjang bola mata seseorang berbeda-beda. Bila terdapat kelainan pembiasan sinar oleh kornea
(mendatar atau mencembung) atau adanya perubahan panjang (lebih panjang atau lebih pendek)
bola mata maka sinar normal tidak akan terIokus pada makula. Keadaan ini disebut ametropia
(anomali reIraksi) yang dapat berupa miopia, hipermetropia, atau astigmatisme. Kelainan system
reIraksi (pembiasan cahaya) pada mata, menyebabkan sinar-sinar sejajar yang masuk ke dalam
mata tidak diIokuskan pada retina saat mata tersebut dalam keadaan istirahat (Ilyas, 2004).
3.2 Pengertian Astigmatisma
Astigmatisma adalah kelainan reIraksi yang mencegah berkas cahaya jatuh sebagai suatu Iokus-
titik di retina karena perbedaan derajat reIraksi di berbagai meridian kornea atau lensa kristalina.
Astigmatisme merupakan kelainan reIraksi dimana pembiasan pada meridian yang berbeda tidak
sama. Dalam keadaan istirahat (tanpa akomodasi) sinar sejajar yang masuk ke mata diIokuskan
pada lebih dari satu titik sengga menghasilkan suatu bayangan dengan titik atau garis Iokus
multipel (Vaughan, 2009).
Pada astigmatisma berkas sinar tidak diIokuskan pada satu titik dengan tajam pada retina akan
tetapi pada 2 garis titik api yang saling tegak lurus yang terjadi akibat kelainan kelengkungan di
kornea Pada mata dengan astigmatisme lengkungan jari-jari pada satu meridian kornea lebih
panjang daripada jari-jari meridian yang tegak lurus padanya (Ilyas, 2009).
Kornea adalah selaput bening mata, bagian selaput mata yang tembus cahaya, merupakan
jaringan yang menutup bola mata sebelah depan dan terdiri atas 5 lapis, yaitu :
1. pitel
2. Membran Bowman
3. Stroma
4. Membran Descement
5. ndotel
Kornea dipersaraIi oleh banyak saraI sensoris terutama berasal dari sarI siliar longus, saraI
nasosiliar, saraI ke V saraI siliar longus berjalan suprakoroid, masuk ke dalam stroma kornea,
menembus membran Bowman melepaskan selubung Schwannya. Seluruh lapis epitel dipersaraIi
sampai pada kedua lapis terdepan tanpa ada akhir saraI.
Kornea merupakan bagian mata yang tembus cahaya dan menutup bola mata di sebelah depan.
Pembiasan sinar terkuat dilakukan oleh kornea, dimana 40 dioptri dari 50 dioptri pembiasan sinar
masuk kornea dilakukan oleh kornea (Ilyas, 2009).

3.3 Pembagian Astigmatisma
Pembagian astigmatisma menurut Ilyas (2009) :
1. Astigmatisma lazim (stigmatisma with the rule), yang berarti kelengkungan kornea pada
bidang vertikal bertambah atau lebih kuat atau jari-jarinya lebih pendek dibanding jari-
jari kelengkungan kornea di bidang horizontal. Pada keadaan astigmatisma lazim ini
diperlukan lensa silinder negatiI dengan sumbu 180 derajat untuk memperbaiki kelainan
reIraksi yang terjadi.

Gambar 1 Astigmatisme with the rule
1. Astigmatisma tidak lazim (stigmatisma againts the rule), suatu keadaan kelainan
reIraksi astigmatisma dimana koreksi dengan silinder negatiI dilakukan dengan sumbu
tegak lurus (60-120 derajat) atau dengan silinder positiI sumbu horizontal (30-150
derajat). Keadaan ini terjadi akibat kelengkungan kornea pada meridian horizontal lebih
kuat dibandingkan kelengkungan kornea vertikal.
Gambar 2 Astigmatisme against the rule

3.4 Bentuk Astigmatisma
Bentuk astigmatisma menurut Ilyas (2009) dibagi menjadi 2, yaitu :
1. Astigmatisma Regular
Astigmatisme dikategorikan regular jika meredian meredian utamanya (meredian di mana
terdapat daya bias terkuat dan terlemah di sistem optis bolamata), mempunyai arah yang saling
tegak lurus
1. Astigmatisma Iregular
Pada bentuk ini didapatkan titik Iokusyang tidak beraturan/tidak saling tegak lurus. Penyebab
tersering adalah kelainan kornea seperti sikatrik kornea, keratokonus. Bisa juga disebabkan
kelainan lensa seperti katarak imatur. Kelainan reIraksi ini tidak bisa dikoreksi dengan lensa
silinder (Vaughan, 2009).
3.5 Patofisiologi Astigmatisma
Pada mata normal, permukaan kornea yang melengkung teratur akan memIokuskan sinar pada
satu titik. Pada astigmatisma, pembiasan sinar tidak diIokuskan pada satu titik. Sinar pada
astigmatisma dibiaskan tidak sama pada semua arah sehingga pada retina tidak didapatkan satu
titik Iokus pembiasan. Sebagian sinar dapat terIokus pada bagian depan retina sedang sebagian
sinar lain diIokuskan di belakang retina.



Jatuhnya Iokus sinar dapat dibagi menjadi 5, yaitu :
1. stigmaticus miopicus compositus, dimana 2 titik jatuh di depan retina


Gambar 3 Pembentukan bayangan pada
Astigmatisme
2. stigmaticus hipermetropicus compositus, dimana 2 titik jatuh di belakang retina
3. stigmaticus miopicus simpex, dimana 2 titik masing-masing jatuh di depan retina dan
satunya tepat pada retina
4. stigmaticus hipermetropicus simpex, dimana 2 titik masing-masing jatuh di belakang
retina dan satunya tepat pada retina
5. stigmaticus mixtus, dimana 2 titik masing-masing jatuh di depan retina dan belakang
retina
Mata dengan astigmatisma dapat dibandingkan dengan melihat melalui gelas dengan air yang
bening. Bayangan yang terlihat dapat menjadi terlalu besar, kurus, atau terlalu lebar dan kabur
(Ilyas et al, 2003).

3.6 Penyebab Astigmatisma
Penyebab tersering dari astigmatism adalah kelainan bentuk kornea. Pada sebagian kecil dapat
pula disebabkan kelainan lensa.Pada umumnya astigmatisme bersiIat menurun, beberapa orang
dilahirkan dengan kelainan bentuk anatomi kornea yang menyebabkan gangguan penglihatan
dapat memburuk seiring bertambahnya waktu. Namun astigmatisme juga dapat disebabkan
karena trauma pada mata sebelumnya yang menimbulkan jaringan parut pada kornea, daat juga
jaringan parut bekas operasi pada mata sebelumnya atau dapat pula disebabkan oleh keratokonus
(Vaughan, 2009).
Astigmatisma juga sering disebabkan oleh adanya selaput bening yang tidak teratur dan
lengkung kornea yang terlalu besar pada salah satu bidangnya (Guyton et al, 1997). Permukaan
lensa yang berbentuk bulat telur pada sisi datangnya cahaya, merupakan contoh dari lensa
astigmatis. Derajat kelengkungan bidang yang melalui sumbu panjang telur tidak sama dengan
derajat kelengkungan pada bidang yang melalui sumbu pendek. Karena lengkung lensa
astigmatis pada suatu bidang lebih kecil daripada lengkung pada bidang yang lain, cahaya yang
mengenai bagian periIer lensa pada suatu sisi tidak dibelokkan sama kuatnya dengan cahaya
yang mengenai bagian periIer pada bidang yang lain (Ilyas, 2003) Astigmatisma pasca operasi
katarak dapat terjadi bila jahitan terlalu erat (James et al, 2003).
Selain itu daya akomodasi mata tidak dapat mengkompensasi kelainan astigmatisma karena pada
akomodasi, lengkung lensa mata tidak berubah sama kuatnya di semua bidang. Dengan kata lain,
kedua bidang memerlukan koreksi derajat akomodasi yang berbeda, sehingga tidak dapat
dikoreksi pada saat bersamaan tanpa dibantu kacamata (Ilyas, 2003).

3.7 Tanda dan Gejala Astigmatisma
Pada nilai koreksi astigmatisma kecil, hanya terasa pandangan kabur. Tapi terkadang pada
astigmatisma yang tidak dikoreksi, menyebabkan sakit kepala atau kelelahan mata, dan
mengaburkan pandangan ke segala arah.
Pada anak-anak, keadaan ini sebagian besar tidak diketahui, oleh karena mereka tidak menyadari
dan tidak mau mengeluh tentang kaburnya pandangan mereka (Williams, 1997).

3.7 Pemeriksaan Astigmatisma
1. a. Refraksi $ubyektif
Alat :
O Kartu Snellen.
O Bingkai percobaan.
O Sebuah set lensa coba.
O Kipas astigmat.
Prosedur :
Astigmat bisa diperiksa dengan cara pengaburan 1ogging technique o1 re1raction) yang
menggunakan kartu snellen, bingkai percobaan, sebuah set lensa coba, dan kipas astigmat.
Pemeriksaan astigmat ini menggunakan teknik sebagai berikut yaitu:
1. Pasien duduk menghadap kartu Snellen pada jarak 6 meter,
2. Pada mata dipasang bingkai percobaan,
3. Satu mata ditutup,
4. Dengan mata yang terbuka pada pasien dilakukan terlebih dahulu pemeriksaan dengan
lensa () atau (-) sampai tercapai ketajaman penglihatan terbaik,
5. Pada mata tersebut dipasang lensa () yang cukup besar (misal S 3.00) untuk membuat
pasien mempunyai kelainan reIreksi astigmat miopikus,
6. Pasien diminta melihat kartu kipas astigmat,
7. Pasien ditanya tentang garis pada kipas yang paling jelas terlihat,
8. Bila belum terlihat perbedaan tebal garis kipas astigmat maka lensa S( 3.00)
diperlemah sedikit demi sedikit hingga pasien dapat menentukan garis mana yang
terjelas dan terkabur,
9. Lensa silinder (-) diperkuat sedikit demi sedikit dengan sumbu tersebut hingga tampak
garis yang tadi mula-mula terkabur menjadi sama jelasnya dengan garis yang terjelas
sebelumnya,
1. Bila sudah dapat melihat garis-garis pada kipas astigmat dengan jelas,lakukan tes
dengan kartu Snellen,
2. Bila penglihatan belum 6/6 sesuai kartu Snellen, maka mungkin lensa () yang
diberikan terlalu berat,sehingga perlu mengurangi lensa () atau menambah lensa
(-),
3. Pasien diminta membaca kartu Snellen pada saat lensa (-) ditambah perlahan-
lahan hingga ketajaman penglihatan menjadi 6/6 (Ilyas, 2003)
Sedangkan nilainya : Derajat astigmat sama dengan ukuran lensa silinder (-) yang dipakai
sehingga gambar kipas astigmat tampak sama jelas (Ilyas, 2003).
1. b. Refraksi Obyektif
Karena sebagian besar astigmatisma disebabkan oleh kornea, maka dengan mempergunakan
keratometer, derajat astigmatisma dapat diketahui. Cara obyektiI semua kelainan reIraksi,
termasuk astigmatisma dapat ditentukan dengan skiaskopi, retinoskopi garis (streak retinoscopy),
dan reIraktometri (Ilyas et al, 2003).

2.8 Penatalaksanaan Astigmatisma
Astigmatism reguler, diberikan kacamata sesuai kelainan yang didapatkan, yaitu dikoreksi
dengan lensa silinder negatiI atau positiI dengan atau tanpa kombinasi lensa sIeris. Astigmatism
ireguler, bila ringan bisa dikoreksi dengan lensa kontak keras, tetapi bila berat bisa dilakukan
tranplantasi kornea (Ilyas, et al., 2003).

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Dari hasil anamnesa dan pemeriksaan Iisik pasien didiagnosa ODS astigmatisme miop
compositus dan penatalaksanaannya adalah dengan pemberian kaca mata sveris silinder negatiI
dan obat-obatan sebagai suplemen.
Astigmatisma adalah kelainan reIraksi mata dimana didapatkan bermacam- macam derajat
reIraksi pada berbagai macam meridian sehingga sinar sejajar yang datang pada mata akan
diIokuskan pada berbagai macam Iokus pula. Terdapat berbagai macam astigmatisma, antara lain
simple astigmatisma, mixed astigmatisma dan compound astigmatisma. Terdapat 2 etiologi,
yaitu kelainan pada lensa dan kelainan pada kornea. Koreksi dengan lensa silinder akan
memperbaiki visus pasien.

4.2 $aran
Pemberian KI kepada masyarakat mengenai kelainan reIraksi, penanganan serta pencegahan
perlu dilakukan.

DAFTAR PU$TAKA
1. Guyton,N Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: GC.hal 786-790.
2. Ilyas, Sidarta, 2003. lmu Penyakit Mata. Jakarta: Bagian Ilmu Penyakit Mata Fakultas
Ilmu Kedokteran Universitas Indonesia
3. Ilyas, S., 2009. Ilmu Penyakit Mata. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
4. James,Bruce., Chew, Chris., Brown, Anthony., 2003. Lecture Notes OItalmologi. disi
kesembilan. Jakarta: rlangga.hal 34-36.
5. Peary, Robert , 2005. %he North Pole. ts Discovery in 1909, 1910. New York:
Frederick A. Stokes Co.U.S. Naval Observatory, Nautical Almanac OIIice. ir lmanac,.
Department oI the Navy.
6. Vaughan, D.G.,Asbury, T., Riordan-va, P., 2004 Kesalahan ReIraksi dalam OItalmologi
Umum, 14th ed. Penerbit Widya Medika, Jakarta.
7. Williams W. Corneal and ReIractive Anomali. Dalam: Wright K, Head MD, editor.
Textbook OI Ophthalomology. Waverly company. London, 1997: 767-