Anda di halaman 1dari 18

FLAVONOID

Makalah
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kimia Bahan Alam









Kelompok 8
Putri Utami (109096000001)
Dhonny Fadliansyah Wahyu (109096000004)
Chitta Putri Noviani (109096000007)

PROGRAM STUDI KIMIA
1URUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI 1AKARTA
2011 M / 1433 H


KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penulisan makalah ini tepat pada waktunya.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Kimia Bahan Alam di bawah
bimbingan dosen kami, Drs.Dede Sukandar,M.Si dan Hilyatuzzahra, M.Si. Selain itu,
makalah ini juga disusun agar kami dan teman mahasiswa prodi Kimia 2009 Fakultas Sains
dan Teknologi, UIN SyariI Hidayatullah Jakarta dapat lebih memahami mengenai senyawa
bahan alam Flavonoid.
Makalah ini memuat senyawa bahan alam Flavonoid. Yang dibahas pada makalah ini
adalah mengenai pengertian, klasiIikasi, ciri struktur, siIat, asal-usul biogenetik dan
biosintetik, reaksi, isolasi dan identiIikasi.
Kami menyadari bahwa sebagai manusia yang memiliki keterbatasan, tentu hasil
karya ini tidak mungkin luput dari kekurangan. Dengan upaya dan semangat peningkatan
pemahaman Islam, kami senantiasa mengharapkan kontribusi pemikiran Anda, baik berupa
saran, maupun kritik demi penyempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat
bermanIaat bagi kita semua. Amin.

Ciputat, November 2011


Penulis






A. PENGERTIAN FLAVONOID
Flavonoid adalah senyawa yang terdiri dari dari 15 atom karbon yang umumnya tersebar di
dunia tumbuhan. Senyawa Ilavanoid merupakan suatu kelompok senyawa Ienol yang terbesar
yang ditemukan di alam. Senyawa-senyawa ini merupakan zat warna merah, ungu, dan biru
serta sebagai zat warna kuning yang ditemukan dalam tumbuh-tumbuhan.

Pada tumbuhan tinggi, Ilavonoid terdapat baik dalam bagian vegetative maupun dalam
bunga. Senyawa ini berperan penting dalam menentukan warna, rasa, bau, serta kualitas
nutrisi makanan. Tumbuhan umumnya hanya menghasilkan senyawa Ilavonoid tertentu.
Keberadaan Ilavonoid pada tingkat spesies, genus atau Iamilia menunjukkan proses evolusi
yang terjadi sepanjang sejarah hidupnya. Bagi tumbuhan, senyawa Ilavonoid berperan dalam
pertahanan diri terhadap hama, penyakit, herbivori, kompetisi, interaksi dengan mikrobia,
dormansi biji, pelindung terhadap radiasi sinar UV, molekul sinyal pada berbagai jalur
transduksi, serta molekul sinyal pada polinasi dan Iertilitas jantan.

Flavanoid mempunyai kerangka dasar karbon yang terdiri dari 15 atom karbon, dimana dua
cincin benzene (C
6
) terikat pada suatu rantai propane (C
3
) sehingga membentuk suatu
susunan C
6
-C
3
-C
6
.

. KLASIFIKASI FLAVANOID
Jika dilihat dari struktur dasarnya Ilavonoid terdiri dari dua cincin benzen yang terikat dengan
3 atom carbon (propana). Dari kerangka ini Ilavonoid dapat dibagi menjadi 3 struktur dasar
yaitu Flavonoid atau 1,3-diarilpropana, isoIlavonoid atau 1,2-diarilpropana, dan neoIlaIonoid
atau 1,1-diarilpropana.

Nama Ilavonoid sendiri berasal dari kata Flavon yang merupakan senyawa Ienol yang banyak
terdapat di alam. Senyawa Ilavon ini memiliki struktur yang mirip dengan struktur dasar
Ilavonoid tetapi pada jembatan propana terdapat oksigen yang membentuk siklik sehingga
memiliki 3 cincin heterosiklik.

Senyawa-senyawa Ilavon ini mempunyai kerangka 2-Ienilkroman, dimana posisi orto dari
cincin A dan atom karbon yang terikat pada cincin B dari 1,3-diarilpropana dihubungkan oleh
jembatan oksigen sehingga membentuk cincin heterosiklik yang baru (Cincin C).







Senyawasenyawa Ilavonoid terdiri dari beberapa jenis, bergantung pada tingkat oksidasi
dari rantai propane dari system 1,3-diarilpropana. Berdasarkan tingkat oksidasinya, Ilavan
adalah yang terendah dan digunakan sebagai induk tatanama Ilavon.

Senyawa Ilavon ini dapat dioksidasi sehingga memiliki bentuk yang bervariasi bergantung
pada tingkat oksidasinya. Senyawa dasar Ilavon yang tidak teroksidasi disebut Ilavan. Berikut
contoh dari Ilavon yang teroksidasi membentuk gugus OH.









O
1
2
3
A
B
4
C
2-feniIkroman
O
fIavan
O
OH
katecin
(fIavan-3-oI)
O
OH
OH
Ieukoantosianidin
(fIavan-3,4-dioI)
O
dihidrocaIkon
O
caIkon






Dari berbagai jenis Flavonoid tersebut, Ilavon, Ilavanol dan antosianidin adalah jenis yang
paling banyak ditemukan di alam, sehingga sering kali dinyatakan sebagai Ilavonoid utama.
Sedangkan jenis-jenis Ilavonoid yang ditemukan di alam dan jumlahnya terbatas adalah
calcon, auron, katecin, Ilavonon, leukoantosianidin.
Banyaknya senyawa Flavanoid ini, bukanlah disebabkan oleh banyaknya variasi struktur,
melainkan oleh berbagai tingkat hidroksilasi, alkoksilasi, atau glikosilasi dari struktur
tersebut.
Senyawa-senyawa isoIlavonoid dan neoIlavonoid hanya ditemukan dalam beberapa jenis
tumbuhan, terutama suku Leguminosae. Jenis-jenis senyawa yang termasuk senyawa
isoIlavonoid ialah isoIlavon, rotenoid, pterokarpan, dan kumestan. Sedangkan, neoIlavonoid
meliputi jenis-jenis 4-arilkumarin dan berbagai dalbergion
O #agam isoIlavonoid:







O
O
fIavanon
O
O
OH
fIavanonoI
O
O
fIavon
O
O
OH
fIavonoI
O
garam fIaviIium
+
O
OH
antosianidin
+
O
O
C
H
auron
O
O O H
R
OH
isofIavon
R = H daidzein
R = OH genistein
O
O MeO
O
pterokarpan
pterokarpin
O
O
R
O
R
O
OMe
OMe
kumestan
R = H rotenon
R = OH amorfigenin
O
O R2
R1
O
OH
R3
rotenoid
R1=R3=H R2=OH kumestrol
R1=R3=OH R2=OMe medelolakton
O #agam neoIlavonoid:








. IRI STRUKTUR FLAVONOID
Masing-masing jenis Flavonoid mempunyai struktur dasar tertentu. Di samping itu,
Flavonoid mempunyai beberapa ciri struktur yang lain. Pada umumnya cincin A dari struktur
Ilavonoid mempunyai pola oksigenasi yang berselang-seling, yakni pada posisi 2`, 4` dan 6`
dari struktur terbuka calkon. Cincin B Ilavonoid mempunyai 1 gugus Iungsi oksigen pada
posisi para atau 2 pada posisi para dan meta atau 3 pada posisi 1 di para dan 2 di meta.














O
OH O H
OH
OH
floretin
O
O O H
OH
OH
apigenin
O
O O H
OH
OH
OH
kaemferol
O O H
OH
OH
OH
OH
epikatecin
O O H
OH
OH
OH
pelargonidin
+
O
O H
O
C
H
OH
OH
sulfuretin
4-ariIkumarin
R1=R2=H dalbergin
R1=OH R2=OMe melanein
daIbergion
4-metoksidalbergion
O
O H
MeO O
R1
R1
O MeO
O
D. ASAL-USUL IOGENETIK DAN IOSINTETIK
Spekulasi mengenai biosintesa Ilavanoid bermula dari analisa berbagai struktur senyawa yang
termasuk golongan ini. Pada tahun 1936 #obinson mengajukan pendapat bahwa kerangka
C6-C3-C6 dari Ilavonoid berkaitan dengan kerangka C6-C3 dari Ienilpropanoid yang
mempunyai gugus Iungsi oksigen pada posisi para, para dan meta, atau 2 meta dan 1 para dari
cincin aromatic. Akan tetapi, senyawa-senyawa Ienilpropanoid, seperti asam-asam amino
Ienilalanin dan tirosin, bukannya dianggap sebagai senyawa yang menurunkan Ilavonoid
melainkan hanya sebagai senyawa yang bertalian belaka.
Pola biosintesa Ilavonoid pertama kali disarankan oleh Birch. Menururut Birch, pada tahap-
tahap pertama dari biosintesa Ilavonoid suatu unit C6-C3 berkombinasi dengan 3 unit C2
menghasilkan unit C6-C3-(C2C2C2). kerangka C15 yang dihasilkan dari kombinasi unit
mengandung gugus-gugus Iungsi oksigen pada posisi-posisi yang diperlukan.
Adapun cincin A dari struktur Ilavonoid berasal dari jalur poliketida, yakni kondensasi dari
tiga unit asetat atau malonat, sedangkan cincin B dan tiga atom karbon dari rantai propan
berasal dari jalur Ienilpropanoid (jalur sikimat).
Jalur Poliketida


Jalur Fenilpropanoid (Jalur Sikimat)
Dengan demikian, kerangka dasar karbon dari Ilavonoid dihasilkan dari kombinasi antara dua
jalur biosintesa yang utama untuk cincin aromatik, yakni jalur sikimat dan jalur asetat-
malonat.
Selanjutnya, sebagai akibat dari berbagai perubahan yang disebabkan oleh enzim, ketiga
atom karbon dari rantai propan dapat menghasilkan berbagai gugus Iungsi, seperti ikatan
rangkap, gugus hidroksil, gugus karbonil, dan sebagainya.
Menurut biosintesa ini, pembentukan Ilavonoid dimulai dengan memperpanjang unit
Ienilpropanoid (C6-C3) yang berasal dari turunan sinamat seperti asam p-kumarat. Kadang-
kadang asam kaIeat, asam Iuralat, atau asam sinapat. Percobaan-percobaan juga
menunjukkan bahwa calkon dan isomer Ilavon yang sebanding juga berperan sebagai
senyawa antara dalam biosintesis berbagai jenis Ilavonoid lainnya. Adapun hubungan
biogenetik antara berbagai jenis Ilavonoid,





Kalkon sintase adalah enzim yang diteliti secara luas dalam penentu laju biosintesis
Ilavonoid. Enzim ini terkait dengan reticulum endoplasma dan bekerja sama dengan
reduktase membuat kalkon. Kalkon merupakan zat-antara langsung auron. Proses saling ubah
kalkon-Ilavanon dikatalisis oleh enzim chalcone isomerase (CHI). Karena saling ubah atau
irreversible kalkon dan Ilavanon mudah sekali, sukar untuk mengetahui apakah senyawa-
antara (prazat) antara kalkon dan golongan Ilavonoid lain selalu Ilavanon. Isomerasi dari
Ilavanon menghasilkan isoIlavonoid dengan enzim isoIlavon sintase (IFS) dengan zat-antara
2-HydroksiisoIlavanonyang dikatalis menjadi isoIlavonoid dengan 2-hidroksiisoIlavanon
dehidratase (IFD). Flavanon merupakan point penting dalam metabolism Ilavonoid karena
menghasilkan Ilavon dan dihidroIlavonol atau sering disebut Ilavanonol. Percobaan secara
enzimatik menunjukkan bahwa dihidroIlavonol (Ilavanonol) bertindak sebagai zat-antara
beberapa golongan Ilavonoid. Dehidrogenasi secara enzimatik Ilavanon menjadi Ilavon oleh
enzim Ilavon sintase (FNS) dan Ilavanonol menjadi Ilavonol oleh enzim Ilavonol sintase
(FLS) telah dibuktikan. Ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa Ilavononol zat-antara
untuk antosianidin melalui leukoantosianidin dan juga katekin.
E. REAKSI FLAVON DAN FLAVONOL
Sebagaimana telah dikemukakan, Ilavon dan Ilavonol adalah dua jenis Ilavonoid yang banyak
ditemukan di alam. Flavon memunyai struktur dari 2-Ienilbenzopiran-4-on, sedangkan
Ilavonol dapat dianggap sebagai 3-hidroksiIlavon.

Flavon : # H
Flavonol : # OH

Oleh karena Ilavon adalah juga benzopiranon, maka Ilavon dan Ilavonol dengan asam
mineral menghasilkan garam benzopirilium yang berwarna, yang disebut juga garam
Ilavilium. Garam ini bila diperlakukan dengan basa menghasilkan kembali senyawa Ilavon
semula.
Dengan adanya gugus hidroksil (atau metoksil) pada posisi 5, 7, atau 4` yang mampu
menampung muatan positiI pada posisi-posisi ini, maka struktur yang terlibat dalam
resonansi dari garam Ilavilium akan bertambah. Dengan kata lain, dengan adanya gugus
O
O
R
hidroksil (atau metoksil) pada posisi-posisi tersebut, maka ion Ilavilium akan menjadi stabil,
yang berarti pula bahwa kebasaan Ilavon tersebut akan bertambah. #eaksi pembentukannya
adalah sebagai berikut ;






Bila Ilavon (atau Ilavonol) direduksi menjadi senyawa 4-hidroksi yang sebanding, dan
selanjutnya diperlakukan dengan asam mineral, dihasilkan garam Ilavilium atau antosianidin.






Flavon yang mengandung gugus metoksil (atau hidroksil) pada posisi 5, bila dipanaskan
dengan asam iodide akan mengalami demetilasi, diikuti oleh penataan ulang sebagai akibat
terbukanya cincin Ilavon dan resiklisasi. Proses ini disebut penataan ulang Wessley-Moser.
Selanjutnya bila cincin B dari Ilavon mengandung gugus metoksil (atau hidroksil) pada posisi
2`, maka penataan ulang wessley-moser dari senyawa Ilavon ini akan menghasilkan suatu
Ilavon, dimana cincin B dari Ilavon semula berubah menjadi cincin A dari Ilavon yang baru
terbentuk. #eaksi penataan ulang ini secara umum adalah sebagai berikut:




O
O
OH
R
R= H flavon
R=OH flavonol
HCl
NaOH
OH
O
OH
R
+
Cl
-
1
2
3
5
4
6
7
8
2'
3'
4'
5'
6'
O
O
OH
R
R= H flavon
R=OH flavonol
O
OH
R
+
Cl
-
1
2
3
5
4
6
7
8
2'
3'
4'
5'
6'
1. LiAlH
4
2. HCl









F. SIFAT FLAVONOID
Flavonoid merupakan golongan IiliIenol sehingga memiliki siIat kimia senyawa Ienol, yaitu
1. BersiIat asam sehingga dapat larut dalam basa.
2. Merupakan senyawa polar karena memiliki sejumlah gugus hidroksil.
3. Sebagai antibakteri karena Ilavonoid sebagai derivat dari Ienol dapat menyebabkan
rusaknya susunan dan perubahan mekanisme permeabilitas dari dinding sel bakteri.
4. Sebagai antioksidan yaitu kemampuan Ilavonoid untuk menjalankan Iungsi
antioksidan, bergantung pada struktur molekkulnya, posisi gugus hidroksil memiliki
peranan dalam Iungsi antioksidan dan aktivitas menyingkirkan radikal bebas.

G. IDENTIFIKASI (secara umum)
Senyawa senyawa Ilavonoid terdapat dalam semua bagian tumbuahan tinggi, seperti bunga,
daun, ranting, bauh, kayu, kulit kayu, dan akar. Akan tetapi, senyawa Ilavonoid tertentu
seringkali terkonsentrasi dalam suatu jaringan tertentu, misalnya antosianidin adalah zat
warna dari bunga, buah, dan daun.

Sebagian besar dari Ilavonoid alam ditemukan dalam bentuk glikosida, dimana unit Ilavonoid
terkait pada suatu gula. Suatu glikosida adalah kombinasi antara suatu gula dan suatu alcohol
yang saling berikatan melalui ikatan glikosida.



O
O
OH
R
OMe
OMe
1
2
3
5
4
6
7
2'
3'
4'
5'
6'
H
O
OH
R
OH
OH O
OH
- MeOH
O
OH
R
OH
OH O
O H
5
5
H
O
O
OH
R
OH
O H
O KromatograIi Lapis Tipis dan Uap Amonia
Biasanya jaringan tumbuhan dapat diuji adanya Ilavon dan Ilavonol denga diuapi uap
ammonia. Warna kuning menunjukkan adanya senyawa ini. Kalkon dan auron berubah dari
kuning menjadi merah pada uji ini. Jika ekstrak pigmen dalam air dibasakan, berbagai
perubahan warna dapat terlihat, meskipun perubahan pada pigmen yang satu menutupi
perubahan pada pigmen lain:
Antosianin : lembayung biru
Flavon, Ilavonol, xanton : kuning
Flavanon : tak berwarna menjadi merah jingga (terutama jika dipanaskan)
Kalkon dan auron : segera lembayung-merah
Flavanonol : coklat-jingga

Geissman memberikan garis besar tata kerja untuk memeriksa kromatogram kertas Ilavonoid.
Tata kerja ini berlaku juga untuk lapisan tipis:
1. Perhatikan bercak yang kelihatan (antosianin, kalkon, auron)
2. Periksa dibawah sinar UV dengan panjang gelombang 365nm beberapa senyawa
berIluoresensi (Ilavonol, kalkon) yang lain menyerap sinar dan tampak sebagai bercak
gelapdengan latar belakang berIluoresensi (glikosida Ilavono, antosianin, Ilavon)
3. Uapi dengan uap ammonia sambil diperiksa di bawah sinar UV glikosida Ilavon
dan Ilavonol berIluoresensi kuning, Ilavanon kelihatan kuning pucat, katekin biru
pucat.
4. Periksa lagi di bawah cahaya biasa sambil diuapi uap ammonia Ilavon kelihatan
kuning, antosianin kelabu-biru, kalkon dan auron merah jingga.

O SpektroIotometri UV-Vis
Sebagian besar peneliti mengidentiIikasi dengan menggabungkan cara spektroIotometri
dengan kromatograIi. Semua Ilavonoid mamiliki pita serapan yang kurang lebih kuat pada
sekitar 220-270 nm dan pita kuat lain pada panjang gelombang lebih tinggi. Mungkin juga
terdapat pita lebih lemah tambahan. Letak kira-kira pita serapan maksimum pada panjang
gelombang tinggi berbagai Ilavonoid sebagai berikut:
Antosianin : 500-530 nm
Flavon dan Ilavonol : 330-375 nm
Kalkon dan auron : 370-410 nm
Flavanon : 250-300 nm
Leukoantosianidin dan katekin : 280 nm
IsoIlavon : 310-330 nm
(penyajian spectrum ini dapat dijumpai dalam beberapa buku acuan umum dan tinjauan
Geissman)

H. ISOLASI FLAVONOID
Isolasi dan identiIikasi Ilavonoid didasarkan pada jurnal 'ISOLASI DAN IDENTIFIKASI
FLAVONOID PADA DAUN KATU (Sauropus androgynus (L.) Merr) oleh Sri Harsodjo
Wijono S. Dalam jurnal ini, isolasi Ilavonoid dapat dilakukan dengan metode Charaux-Paris.
Berikut adalah tahapannya:
1. Maserasi
Ekstraksi dilakukan secara maserasi bertingkat dengan menggunakan pelarut mula-mula n-
heksana kemudian etanol 95. Sejumlah 1 kg serbuk kering daun katu pertama-tama
diekstrasi dengan n-heksana berkali-kali sampai Iiltrat jernih. Ampas dikeringkan kemudian
diekstraksi dengan etanol 95 berkali-kali hingga Iiltrat jernih. Masing-masing ekstrak
dipekatkan dengan penguap putar vakum sehingga diperoleh ekstrak kental. Pada penelitian
ini yang digunakan adalah ekstrak etanol.

2. Metode Charaux-Paris
Ekstrak pekat etanol dilarutkan dalam air panas, disaring kemudian diekstraksi dengan n-
heksana, Iraksi n-heksana dikumpulkan dan di pekatkan, diperoleh Iraksi n-heksana pekat.
Fraksi air diekstraksi dengan kloroIorm, Iraksi kloroIorm dikumpulkan dan dipekatkan
diperoleh Iraksi kloroIorm pekat. Fraksi air diekstrasi lagi dengan etil asetat, Iraksi etil asetat
dikumpulkan dan dipekatkan, diperoleh Iraksi etil asetat pekat. Kemudian Iraksi air
diekstraksi dengan n-butanol, Iraksi n-butanol dikumpulkan dan dipekatkan, sehingga
diperoleh Iraksi n-butanol pekat. Ekstraksi dengan n-butanol dilakukan 3 kali, setiap kali
dengan pelarut n-butanol yang baru, sehingga diperoleh Iraksi n-butanol I, Iraksi n-butanol II
dan Iraksi n-butanol III.

IdentiIikasinya dilakukan dengan cara:
1. KromatograIi
Untuk melihat proIil kromatograIi dari setiap Iraksi. digunakan cara kromatograIi kertas.
Masing-masing Iraksi ditotolkan pada kertas Wathman no. 1, dielusi menggunakan cairan
pengembang n-butanol - asam asetat air (60 : 22: 1,2 ). Setelah diketahui bahwa Iraksi yang
mengandung jenis Ilavonoid terbanyak adalah Iraksi n-butanol I, maka dilakukan isolasi
senyawa Ilavonoid dengan cara kromatograIi kertas preparatiI.
- Cairan pengembang yang digunakan : n-butanolasam asetatair (4:1:5)
- Jarak rambat : 40 cm
- Teknik pengembangan : Menurun.
- Penotolan : Bentuk pita.
- Pendeteksi : Sinar UV 254/ 366

Masing-masing pita kromatogram dipisahkan, dipotong kecil-kecil dan diekstraksi dengan
metanol. Untuk pemurnian isolat dilakukan pengembangan kedua secara kromatograIi kertas
preparatiI.
- Cairan pengembang : Asam asetat 2 dalam air
- Jarak rambat : 20 cm
- Teknik pengembangan : Menurun
- Penotolan : Bentuk pita
- Pendeteksi : Sinar UV 254/366
Setiap pita kromatogram yang diperoleh kemudian diekstraksi dengan metanol, sehingga
diperoleh beberapa isolat dari senyawa Ilavonoid.

2. SpektroIotometri UV-Vis
Kemudian dengan menggunakan spektroIotometer ultraviolet dilihat geseran batokromik
setelah setiap isolat dalam larutan metanol diberikan pereaksi geser natrium hidroksida,
aluminium klorida, asam klorida, natrium asetat, dan asam borat secara bergantian. Dengan
melihat geseran batokromik tersebut dapat diidentiIikasi jenis Ilavonoid.







I. KESIMPULAN
1. Flavonoid adalah senyawa yang terdiri dari dari 15 atom karbon.
2. Flavonoid dapat dibagi menjadi 3 struktur dasar yaitu Flavonoid, isoIlavonoid,
dan neoIlaIonoid.
3. Flavonoid merupakan golongan IiliIenol sehingga memiliki siIat kimia senyawa
Ienol.
4. Cincin A dari struktur Ilavonoid berasal dari jalur poliketida sedangkan cincin B
berasal dari jalur Ienilpropanoid (jalur sikimat).
5. IdentiIikasi Ilavonoid dapat dilakukan dengan kromatograIi dan spektroIotometri
UV-Vis.



















DAFTAR PUSTAKA
Achmad, Sjamsul AriIin. 1986. Kimia Organik Bahan Alam. Jakarta: Penerbit Karunika.
Dwi AriI Sulistiono. Flavonoid. Universitas Mataram, h. 2, 5-7
#obinson, Trevor. 1995. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Bandung: Penerbit ITB.
#odney Croteau, Toni M. Kutchan, dan Norman G. Lewis. 2000. Biochemistry & Molecular
Biology of Plants, h.57-58

Sovia Lenny. 2006. SENYAWA FLAJONOIDA, FENILPROPANOIDA DAN ALKALOIDA.
Medan. h.14-18

Sri Harsodjo Wijono S. 2003. ISOLASI DAN IDENTIFIKASI FLAJONOID
PADA DAUN KATU (Sauropus androgynus (L.) Merr). Jakarta, Makara, sains, Vol 7, No 2,
h.2-6