Anda di halaman 1dari 1

Pola eliminasi fekal normal Sistem pencernaan dimulai dari mulut, esophagus, lambung, usus halus, usus besar

(sekum, kolon, rektum). Apabila feses bergerak ke rectum dan menyebabkan dindingnya berdistensi, maka proses defekasi dimulai. Proses ini melibatkan kontrol volunter dan involunter. Sfingter internal adalah otot polos yang dipersarafi oleh saraf otonom. Saat rektum mengalami distensi, saraf sensori distimulasi dan membawa impuls yang merelaksasi sfingter interna, memungkinkan lebih banyak fekal masuk ke rektum. Pada saat yang sama, impuls bergerak ke otak untuk menciptakan suatu kesadaran bahwa individu perlu defekasi (Sherwood, 2004) Saat sfingter internal relaksasi, sfingter eksternal juga relaksasi. Tekanan untuk mengeluarkan fekal dapat dilakukan dengan meningkatkan tekanan intraabdomen atau melakukan valsava manufer. Valsava manufer ialah kontraksi volunter otot-otot abdomen saat individu mengeluarkan napas secara paksa (mengedan) (Potter & Perry, 2006). Fekal terdiri dari bahan makanan yang tidak dicerna, materi anorganik, air, dan bakteri. Bahan fekal kira-kira 75% materi cair 2% materi padat. Sebagian besar massa fekal berasal dari sekresi saluran gastrointestinal. Warna coklat dari fekal berhubungan dengan pemecahan empedu oleh bakteri usus. Kimiawi dibentuk oleh bakteri usus (indol dan skatol) berperan dalam menimbulkan bau fekal (metan, sulfide hydrogen, amonia). Gas-gas ini didetoksifikasi oleh hepar atau dikeluarkan oleh rectum (Smeltzer, 2002).