Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

FISIOLOGI HEWAN
'Tes Urin Diabetes
Oleh :

Kelompok : VII
Anggota :Yulia Sandri
Pradani Eka Putri
Hari Iitrah
Rahmatika putri
Marta Linda
Suci Frimanozi





LABORATORIUM FISIOLOGI HEWAN
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSTAS ANDALAS
PADANG,2011
I.PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang
Urin atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh
ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi.
Eksreksi urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah
yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan
tubuh(Hidayat,2006).
Dalam mempertahankan homeostasis tubuh peranan urin sangat penting,
karena sebagian pembuangan cairan oleh tubuh adalah melalui sekresi urin.
Selain urin juga terdapat mekanisme berkeringat dan juga rasa haus yang
kesemuanya bekerja sama dalam mempertahankan homeostasis ini. Kandungan
urine bergantung keadaan kesehatan daan makanan sehari-hari yang dikonsumsi
oleh masing-masing individu. Individu normal meempunyai pH antara 5 sampai
7. Banyak Iaktor yang memperngaruhi pH urine seseorang adalah makanan
sehari-hari, tempoh selepas pengutipan sampei, inIeksi saluran urinary dan
ketidakseimbangan hormonal(Poejdiaji,1994).
Fungsi utama urin adalah untuk membuang zat sisa seperti racun atau obat-
obatan dari dalam tubuh. Anggapan umum menganggap urin sebagai zat yang
'kotor. Hal ini berkaitan dengan kemungkinan urin tersebut berasal dari ginjal
atau saluran kencing yang terinIeksi, sehingga urinnyapun akan mengandung
bakteri. Namun jika urin berasal dari ginjal dan saluran kencing yang sehat,
secara medis urin sebenarnya cukup steril dan hampir tidak berbau ketika keluar
dari tubuh. Hanya saja, beberapa saat setelah meninggalkan tubuh, bakteri akan
mengkontaminasi urin dan mengubah zat-zat di dalam urin dan menghasilkan
bau yang khas, terutama bau amonia yang dihasilkan dari urea.
Urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme (seperti urea),
garam terlarut, dan materi organik. Cairan dan materi pembentuk urin berasal
dari darah atau cairan interstisial(Hidayat,2006).
Diabetes melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik
dengan karakteristik hiperglikemia (meningkatanya kadar gula darah) yang
terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya. Penyakit
diabetes bisa menimpa siapa saja. Bukan hanya yang memiliki keturunan
diabetes, penyakit ini, terutama golongan diabetes melitus tipe 2, juga dapat
menyerang orang yang bergaya hidup tidak sehat. Bagi penderita diabetes perlu
mengendalikan kadar gula darah agar bisa beraktivitas seperti biasa. Selain
mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang, terdapat sejumlah tes yang perlu
dijalani. Antara lain, tes urin dan tes darah. Caranya mudah, dan tidak perlu
proses yang berbelit. Saat ini di rumah-rumah sakit, penderita diabetes
diharuskan menyerahkan sampel darah setiap kali melakukan pemeriksaan. Hal
itu untuk melihat kondisi gula darah pasien. Kadar gula dalam darah bisa
dipengaruhi banyak hal, bisa makanan, obat-obatan, penyakit atau
stres(Poejdiaji,1994).

1.2Tujuan
Untuk mengetahui cara pengujian tes urin diabetes dan yang tidak diabetes,dan
untuk mengetahui sedimen-sedimen yang terdapat pada urin.

1.3Tinjauan Pustaka
Urin atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh
ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses
urinasi. Kandungan urine bergantung keadaan kesehatan daan makanan sehari-
hari yang dikonsumsi oleh masing-masing individu. Individu normal
meempunyai pH antara 5 sampai 7. Analisis urin secara Iisik meliputi
pengamatan warna urin, berat jenis cairan urin dan pH serta suhu urin.
Sedangkan analisis kimiawi dapat meliputi analisis glukosa, analisis protein dan
analisis pigmen empedu(Hidayat,2006).
Urine terbentuk setelah melalui proses penyaringan darah di ginjal.Darah
masuk ginjal melalui pembuluh nadi ginjal. Ketika berada di dalam membrane
glomenulus, zat-zat yang terdapat dalam darah (air, gula, asam amino dan urea)
merembes keluar dari pembuluh darah kemudian masuk kedalam simpai/kapsul
bowman dan menjadi urine primer. Proses ini disebut Iiltrasi.Urine primer dari
kapsul bowman mengalir melalui saluran-saluran halus (tubulus kontortokus
proksimal). Di saluran-saluran ini zat-zat yang masih berguna, misalnya gula,
akan diserap kembali oleh darah melalui pembuluh darah yang mengelilingi
saluran tersebut sehingga terbentuk urine sekunder. Proses ini disebut reabsorpsi.
Urine sekunder yang terbentuk kemudian masuk tubulus kotortokus distal dan
mengalami penambahan zat sisa metabolism maupun zat yang tidak mampu
disimpan dan akhirnya terbentuklah urnine sesungguhnya yang dialirkan ke
kandung kemih melalui ureter. Proses ini disebut augmentasi. Apabila kandung
kemih telah penuh dengan urne, tekanan urine pada dinding kandung kamih akan
menimbulkan rasa ingin buang air kecil atau kencing(Hidayat,2006).
Urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme (seperti
urea), garam terlarut, dan materi organik. Cairan dan materi pembentuk urin
berasal dari darah atau cairan interstisial. Komposisi urin berubah sepanjang
proses reabsorpsi ketika molekul yang penting bagi tubuh, misal glukosa, diserap
kembali ke dalam tubuh melalui molekul pembawa. Cairan yang tersisa
mengandung urea dalam kadar yang tinggi dan berbagai senyawa yang berlebih
atau berpotensi racun yang akan dibuang keluar tubuh(Poejdiaji,1994).
Materi yang terkandung di dalam urin dapat diketahui melalui urinalisis. Urea
yang dikandung oleh urin dapat menjadi sumber nitrogen yang baik untuk
tumbuhan dan dapat digunakan untuk mempercepat pembentukan kompos.
Diabetes adalah suatu penyakit yang dapat dideteksi melalui urin. Urin seorang
penderita diabetes akan mengandung gula yang tidak akan ditemukan dalam urin
orang yang sehat.
Kencing manis (diabetes mellitus) adalah kondisi di mana tubuh tidak dapat
mengatur kandungan gula dalam darah sehingga glukosa atau gula yang biasanya
diangkut menuju sel-sel tubuh sebagai sumber energi justru tercecer dalam aliran
darah, bahkan ikut terbuang dalam air seni. Pengaturan gula darah oleh tubuh
dilakukan dengan bantuan hormon insulin yang berasal dari pancreas(Team
Fisiologi hewan,2011).



II.PELAKSANAAN PRAKTIKUM

2.1 Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 22 November 2011 pukul 09.00-
12.00 WIB di Laboratorium Teaching I,Jurusan biologi, Fakultas metematika dan
ilmu pengetahuan alam, Universitas andalas.

2.1 Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan adalah tabung reaksi, tabung sapel reaksi urinn, pipet tetes,
penangas air, tang krus, Kertas Label,tissue,sentriIus, sentriIus urin, mikroskop,objek
glass,cover glass, bahan yang digunakan adalah urin penderita diabetes,urin normal,
dan benedict.
2.3 Cara Kerja
a.Pengujian Kadar Glukosa dengan benedict
Pertama sediakan dua tabung reaksi kosong dan beri label masing-masing tabung
reaksi untuk urin normal dan urin diabetes, kemudian masukkan reagen beedict
sebanyak 2,5 ml ke dalam masing-masing tabung,panaskan penangas air selama 10
menit pada masing tabung diteteskan pada tabung I diteteskan urin normal sebanyak
4 tetes dan tabung II diteteskan urin diabetes sebanyak 4 tetes kemudian panaskan
kembali penangas selama 15 menit dan amati perubahan warna pada kedua tabung
tersebut.

b.Pengujian kadar glukosa dan protein dengan kit sensitest
Pertama masukkan sampel urin normal dan urin diabetes pada dua tabung reaksi
yang berbeda,celupkan sensitest kedalam sampel urin lalu bandingkan warna dengan
warna standar pada kemasan sensitest,tentukan kadar glukosa dan protein sesuai
standar.
c.Analisis Sedimen urin
Pertama kocok urin sampai homogen dan masukkan tabung ke sentriIus dan lakukan
sentriIugasi dengan kecepatan 2000 rpm.kemudian buang bagian atas dari urin
tersebut sehingga yang tertinggal hanya endapannya saja, ambil endapa terseut dan
letakkan pada objek glass dan tutup dengan cover glass amati dibawah mikroskop
dan catat sedimen-sedimen apa saja yang terdapat pada kedua urin tersebut.
















III.HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Uji kadar glukosa dengan benedict
Dari praktikumyang telah dilaksanakan didapatkan hasil bahwa urin normal tidak
terjadi perubahan warna sedangkan pada urin diabetes terjadi perubahan warna yang
disebabkan oleh adanya kandungan glukosa didalam urin sehingga menyebabkan
perubahan warna pada benedict seperti yang terlihat pada Gambar.2 :







Gambar.2
Uji benedict adalah uji kimia untuk mengetahuikandungan gula (karbohidrat)
pereduksi. Gula pereduksi meliputi semua jenismonosakarida dan beberapa
disakarida seperti laktosa dan maltosa. Uji benedict dapat dilakukan pada urine untuk
mengetahui kandungan glukosa. Urine yang mengandung glukosa dapat menjadi
tanda adanya penyakitdiabetes mellitus.Sekali urine diketahui mengandung gula
pereduksi, tes yang lebih jauh mesti dilakukan untuk memastikan jenis gula
pereduksi apa yangterdapat dalam urine. Hanya glukosa yang mengindikasikan
penyakit diabetes mellitus(Poejdiaji,1994).

3.2 Pengujian kadar Glukosa dengan sensitest
Pada praktikum yang telah dilaksanakan didapatkan hasil bahwa urin yang
mengandung glukosa akan mengalami perubahan warna pada indikator untuk
mengetahui urin sementara pada urin yang tidak mengandung glukosa atau bias
disebut sebagai urin normal tidak terjadi perubahan warna dapat dilihat pada
Gambar.1.




Gambar.1
Urin Kandungan glukosa Kandungan Protein
Normal 2000 mg/dl 30 mg/dl
Dibetes - -
Pada tabel yang ada dapat dilihat bahwa orang yang memiliki penyakit
diabetes pada urinnya akan mengandung Glukosa dan protein dalam jumlah
besar.Menurut Urine yang terlalu banyak mengandung glukosa dapat
menimbulkan penyakit diabetes mellitus. Penyakit diabetes mellitus (DM) yang juga
dikenalsebagai penyakit kencing manis atau penyakit gula darah adalah
golongan penyakit kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar gula dalam darah
sebagaiakibat adanya gangguan sistem metabolisme dalam tubuh, dimana organ
pankreastidak mampu memproduksi hormon insulin sesuai kebutuhan tubuh. Insulin
adalah salah satu hormon yang diproduksi oleh pankreas yang bertanggung
jawabuntuk mengontrol jumlah/kadar gula dalam darah dan insulin dibutuhkan
untuk merubah (memproses) karbohidrat, lemak, dan protein menjadi energi
yangdiperlukan tubuh manusia. Hormon insulin berIungsi menurunkan kadar
guladalam darah.Tanda awal yang dapat diketahui bahwa seseorang menderita DM
ataukencing manis yaitu dilihat langsung dari eIek peningkatan kadar gula
darah,dimana peningkatan kadar gula dalam darah mencapai nilai 160 - 180 mg/dL
danair seni (urine) penderita kencing manis yang mengandung gula (glukosa)
(Hidayat,2006).
3.3 Analisis sedimen urin
Pada praktikumyang dilaksanakan didaptkan hasil :
Sedimen Urin diabetes Urin Normal
Hialin 1 -
Urat armorI 15 -
Serat tumbuhan 6 2
Leukosit 15 -
Kristal 1 -
Epitel gepeng 1 -
Benang Lendir 1 -

Dari table diatas dapat dilihat bahwa urin diabetes mengandung banyak
sedimen dibandingkan dengan urin normal.berikut gambar-gambar sedimen yang
didapatkan :



Urat ArmorI Silinder Serat tumbuhan



Benang Lendir Epitel gepeng

Sel Epitel gepeng ini berinti satu, ukurannya lebih besar dari leukosit, bentuk
gepeng,tidak beraturan, inti kecil, sitoplasma besar, bentuknya berbeda
menuruttempat asalnya. Sel epitel skuamosa adalah sel epitel terbesar yang
terlihatpada spesimen urin normal. Sel epitel gepeng (skuameus) lebih banyakdilihat
dalam urin wanita daripada dalam urin pria dan berasal dari vulvaatau dari urethra
bagian distal. Sel epitel skuameus mempunyai bentuk yangberbeda-beda, besarnya
sering dua sampai tiga kali leukosit sedangkansitoplasma biasanya tanpa
struktur tertentu. Sel-sel epitel hampir selalu ada,apalagi yg skuameus dan berasal
dari kandung kencing, urethra dan vagina(Hidayat,2006).
Silinder hialin atau silinder protein terutama terdiri dari mucoprotein
(protein Tamm-HorsIall) yang dikeluarkan oleh sel-sel tubulus. Silinder
ini homogen(tanpa struktur), tekstur halus, jernih, sisi-sisinya parallel, dan ujung-
ujungnya membulat. Sekresi protein Tamm-HorsIall membentuk sebuahsilinder
hialin di saluran pengumpul.Silinder hialin tidak selalu menunjukkan penyakit klinis.
Silinder hialin dapatdilihat bahkan pada pasien yang sehat. Sedimen urin normal
mungkin berisi0 1 silinder hialin per LPL. Jumlah yang lebih besar dapat dikaitkan
denganproteinuria ginjal (misalnya, penyakit glomerular) atau ekstra-
ginjal(misalnya, overIlow proteinuria seperti dalam myeloma).Silinder protein
dengan panjang, ekor tipis terbentuk di persimpanganlengkung Henle's dan tubulus
distal yang rumit disebut silindroid(Hidayat,2006).














IV.KESIMPULAN

4.1 Kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa :
1.Benedict yang dicampurkan dengan urin yang mengandung glukosa akan
mengalami perubahan warna.
2.sensitest kit akan mengalami perubahan warna sesuai indikator kemasan jika
dicelupkan ke urin yang mengandung glukosa dan protein.
3.Pada urin

DAFTAR PUSTAKA
Hidayat, dkk. 2006. $edimen Pada Urin: Andi Yogyakarta.
Lehninger, Albert L. 1990. Diabetes. Jakarta: Erlangga.
Pratiwi,D.A. 2004. Diabetes Melitus. Jakarta : Bina Aksara.
Poedjiadi, A. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta: Universitas Indonesia.
Team Fisiologi Hewan.Prosedur Kerfa Praktikum Fisiologi Hewan Tahun Afaran
2011/2012.Padang:Universitas Andalas.