Anda di halaman 1dari 47

KomMTi Volume : 2, No.

: 6 / Desember 2008

REPRESENTASI KEKERASAN TERHADAP LAKI-LAKI DALAM BUKU LELAKI YANG MENANGIS Oleh : Kusnarto1 Abstract Based on the phenomenon these days, society need to know that male could be the victin of domestic violence the perpetrator is effen female, the wive the most common domestic violense that has been dene by the wife are physic and economical abuse. And it can be gvaranfecd that it will cost everyone in the house, including the children Keyword : the violence. 1. Latar Belakang Masalah Ketika kita membayangkan seorang laki-laki yang muncul adalah sifat-sifat maskulinitas seorang laki-laki seperti: jantan, kuat, tampan, berbadan kekar, tinggi. Secara tidak sadar kita akan mengasosiasikan bahwa laki-laki yang ideal adalah laki-laki yang memiliki sifat maskulin. Bila ada laki-laki yang mempunyai sifat feminin seperti : sensitif, emosional, lemah-lembut, tidak akan dianggap sebagai laki-laki maskulin, karena sifat tersebut sewajarnya dimiliki oleh wanita. Perbedaan peran, fungsi, dan tanggung jawab antara laki-laki dan wanita seperti ini telah melekat dalam benak masyarakat yang juga dikonstruksi berdasarkan pada kepercayaan, tradisi, bahkan budaya yang ada pada masyarakat. Peran maskulin dan feminin menurut Wijaya (1991 : 156 ) disebut juga stereotype gender. Selama ini memang banyak kekerasan yang dialami oleh wanita karena wanita dianggap sebagai kaum yang lemah. Tapi banyak juga kekerasan dalam rumah tangga yang dialami oleh laki-laki yang tidak terungkapkan karena ada rasa malu dan tidak etis apalagi dibicarakan dan diketahui oleh orang banyak, ini merupakan aib bagi laki-laki. Berdasarkan fenomena diatas membuktikan bahwa laki-laki juga bisa menjadi korban wanita. Karena sejak kecil ia sudah dididik
1

Penulis, Dosen Komunikasi FISIP Universitas Pembangunan Nasional Surabaya.

__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

185

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

untuk menjadi penakluk, tegar, jantan, kuat, tidak cengeng, dsb. Maka ketika mengalami kekerasan dalam rumah tangga ia tidak punya keberanian untuk melapor. Karena khawatir ditertawakan oleh orang banyak, sebenarnya ini merupakan haknya sebagai korban. Adanya perubahan fenomena yang terjadi pada saat ini sangat perlu untuk disampaikan pada masyarakat bahwa laki-laki juga bisa saja menjadi koban dari kekerasan dalam rumah tangga yang pelakunya tidak lain adalah wanita. Hal ini yang disebut dengan budaya matriarkhi. Budaya matriarkhi adalah budaya wanita sebagai pemimpin yang mendominasi. Sementara itu matriarkhat berasal dari dua kata yang lain, yaitu mater yang berarti "ibu" dan archein (bahasa Yunani) yang berarti "memerintah". Jadi, "matriarkhi" bererti "kekuasaan berada di tangan ibu atau pihak perempuan" (http://www.wikipedia. org/wiki/matrilineal diakses 09 Agustus 2007 19:38). Berdasarkan fenomena tersebut maka peneliti tertarik untuk melihat bagaimana penggambaran atau representasi kekerasan terhadap laki-laki dalam buku Lelaki yang Menangis. Unit analisis dalam penelitian ini adalah dari teks buku Lelaki yang Menangis yang menunjukkan adanya unsur kekerasan terhadap laki-laki, karena buku Lelaki yang Menangis merupakan buku kumpulan kisah nyata yang terdiri dari kurang lebih 10 kisah, maka peneliti akan memfokuskan penelitian pada Wanita Bukan Makhluk Yang Lemah Kisah tersebut dipilih oleh peneliti karena jalan cerita dari kisah tersebut menunjukkan lemahnya posisi laki-laki sebagai suami dihadapan istrinya. 2. Perumusan Masalah Berdasarkan permasalahan tersebut diatas maka rumusan masalahnya adalah sebagai berikut : Bagaimanakah representasi kekerasan terhadap lak-laki pada karakter tokoh Genting (Wanita Bukan Makhluk yang Lemah) dalam buku Lelaki yang Menangis? 3. Kajian Pustaka 3.1. Pengertian Semiotika Komunikasi

__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

186

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

Istilah semiotik sendiri berasal dari kata Yunani semeion yang berarti tanda. Tanda itu sendiri didefinisikan sebagai sesuatu atas dasar konvensi sosial yang terbangun sebelumnya, dapat dianggap mewakili sesuatu yang lain (Sobur, 2001 : 53). Dalam Sobur, semiotika adalah suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda. Memaknai berarti bahwa obyek-obyek tidak hanya membawa informasi, dalam hal tersebut obyek-obyek itu hendak berkomunikasi, tetapi juga mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda (Kurniawan, 2001 : 53). Kajian semiotika dibedakan menjadi dua jenis yaitu semiotika komunikasi dan semiotika signifikasi. Yang dimaksud dengan semiotika komunikasi dalam hal ini adalah menekankan pada teori produksi tanda yang salah satu diantaranya ada enam faktor dalam komunikasi yaitu pengirim, penerima kode (sistem tanda), pesan, saluran komunikasi dan acuan (hal yang dibicarakan) (Sobur, 2004 : 15). Sedangkan yang dimaksuud dengan semiotika signifikasi adalah semiotika yang mempelajari relasi elemen-elemen tanda di dalam suatu sistem, berdasarkan aturan main dan konvensi tertentu (Sobur, 2004 : viii). Batasan semiotika komunikasi menurut Ferdinand de Saussures adalah linguistik hendaknya menjadi bagian suatu ilmu pengetahan umum tentang tanda, yang disebutnya sebagai semiologi (Sobur, 2001 : 96). 3.2. Teori Semiotika Komunikasi Roland Barthes Roland Barthes adalah salah satu tokoh semotika komunikasi yang menganut aliran semiotika komunikasi strukturalisme Ferdinand de Saussures. Semiotika strukturalis Saussures lebih menekankan pada linguistik. Menurut Shklovsky Karya seni adalah karyakarya yang diciptakan melalui teknik-teknik khas yang dirancang sedemikian rupa sehingga menjadi karya yang seartistik mungkin (Budiman, 2003 : 11).
__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

187

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

Sedangkan pendekatan karya strukturalis memberikan perhatian terhadap kode-kode yang digunakan untuk menyusun makna. Strukturalisme merupakan suatu pendekatan yang secara khusus memperhatikan struktur karya sastra atau seni. Fenomena kesastraan dan estetika didekati sebagai sistem tanda-tanda (Budiman, 2003 : 11). Linguistik merupakan ilmu tentang bahasa yang sangat berkembang menyediakan metode dan peristilahan dasar yang dipakai oleh seorang semiotikus dalam mempelajari semua sistem tanda sosial lainnya. Semiologi adalah ilmu tentang bentuk, sebab ia mempelajari pemaknaan secara terpisah dari kandungannya (Kurniawan, 2001 : 156). Di dalam semiologi seseorang diberikan kebebasan di dalam memaknai sebuah tanda. Barthes dengan berdiri langsung di garis pemikiran Saussures menerima prinsip artikulasi ganda yang diperkenalkan Saussures. Prinsip itu membagi tanda ke dalam dua bagian yang saling berhimpit, seperti muka atas dan bawah (sisi recto dan verso) dari sehelai kertas. Bila salah satu sisi atau permukaan dipotong, berarti memotong pula sisi atau permukaan lainnya. Tanda linguistik Saussures memuat penanda (sisi ekspresi) dan petanda (sisi isi). Baik petanda maupun penanda memuat bentuk dan substansi (Kurniawan, 2001 : 55). Dalam pengkajian tekstual, Barthes menggunakan analisis naratif struktural (structural analisis of narrative) yang dikembangkannya (Kurniawan, 2001 : 88). Dengan menggunakan metode ini, Barthes menganalisis berbagai bentuk naskah, seperti novel Sarrasine karya Balzac, naskah karya Edgar Alan Poe, maupun ayat-ayat dari kitab injil. Menurut Barthes (Kurniawan, 2001 : 89), analisis naratif struktural secara metodologis berasal dari perkembangan awal atas apa yang disebut linguistik struktural sebagaimana pada perkembangan akhirnya dikenal sebagai semiologi teks atau semiotika. Jadi, secara sederhana analisis naratif struktural dapat disebut juga sebagai semiologi teks karena memfokuskan diri pada naskah. Intinya sama, yakni
__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

188

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

mencoba memahami makna suatu karya dengan menyusun kembali makna-makna yang tersebar dengan suatu cara tertentu. Signifiant (penanda) adalah bunyi yang bermakna atau coretan yang bermakna (aspek material), yakni apa yang dikatakan dan apa yang ditulis atau dibaca. Signified (petanda) adalah gambaran mental, yakni pikiran atau konsep (aspek mental) dari bahasa (Kurniawan, 2001 : 30). Semiologi Barthes tersusun atas tingkatantingkatan sistem bahasa. Umumnya Barthes membuatnya dalam dua tingkatan bahasa, bahasa pada tingkat pertama adalah bahasa sebagai obyak dan bahasa tingkat kedua yang disebutnya metabahasa. Bahasa ini merupakan suatu sistem tanda yang memuat penanda dan petanda. Sistem tanda kedua terbangun dengan menjadikan penanda dan petanda tingkat pertama sebagai petanda baru yang kemudian memiliki penanda baru sendiri dalam suatu sistem tanda baru pada taraf yang lebih tinggi. Sistem tanda pertama kadang disebutnya dengan istilah denotosi atau sistem terminologis, sedang sistem tanda tingkat kedua disebutnya sebagai konotasi atau sistem retoris atau mitologi. Fokus kajian Barthes terletak pada sistem tanda tingkat kedua atau metabahasa (Kurniawan, 2001 : 115). Konotasi dan metabahasa adalah cermin yang berlawanan satu sama lain. Metabahasa adalah operasioperasi yang membentuk mayoritas bahasa-bahasa ilmiah yang berperan untuk menerapkan sistem riil, dan dipahami sebagai petanda, di luar kesatuan penandapenanda asli, di luar alam deskriptif. Sedangkan konotasi meliputi bahasa-bahasa yang utamanya bersifat sosial dalam hal pesan literal memberi dukungan bagi makna kedua dari sebuah tatanan artificial atau ideologis secara umum (Kurniawan, 2001 : 68). Untuk memberi ruang atensi yang lebih lapang bagi diseminasi makna dan pluralitas teks, Roland Barthes mencoba memilah-milah penanda-penanda pada wacana naratif ke dalam serangkaian fragmen
__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

189

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

ringkas dan beruntun yang disebutnya sebagai leksialeksia (lexias), yaitu satuan-satuan pembacaan (unit of reading) dengan panjang pendek bervariasi. Sepotong bagian teks yang apabila diisolasikan akan berdampak atau memiliki fungsi yang khas bila dibandingkan dengan teks lain disekitarnya, adalah sebuah leksia. Akan tetapi sebuah leksia sesungguhnya bisa berupa apa saja, kadang hanya berupa satu-dua patah kata, kadang kelompok kata, kadang beberapa kalimat, bahkan sebuah paragraph, tergantung kepada ke-gampang-annya (convenience) saja (Budiman, 2003 : 53). Dimensinya tergantung kepada kepekatan (density) dari konotasi-konotasinya yang bervariasi sesuai dengan momen-momen teks. Dalam proses pembacaan teks, leksia-leksia tersebut dapat ditemukan baik pada tataran kontak pertama diantara pembaca dan teks maupun pada saat satuan-satuan itu dipilah-pilah sedemikian rupa sehingga diperoleh aneka fungsi pada tataran-tataran pengorganisasian yang lebih tinggi (Budiman, 2003 : 54). Dalam memaknai sebuah teks kita akan dihadapkan pada pilihan-pilihan pisau analisis mana yang bisa kita pakai dari sekian jumlah pendekatan yang begitu melimpah. Ketika kita sampai pada pilihan terentu semestinya setia dengan satu pilihan, namun bisa juga mencampuradukkan beberapa pilihan tersebut, tergantung kepentingan dari tujuan sang pembaca dalam membedah pembacaannya, bisa pula benarbenar hanya memfokuskan pada teks dan melupakan sang pengarang, pembaca kemudian dapat melakukan interpretasi terhadap suatu karya. Pada ruang yang lebih sempit, Barthes mengembangkan apa yang disebutnya sebagai analisa struktural atau analisa tekstual yang diterapkan untuk mengkaji naskah-naskah atau teks-teks. Suatu naskah, oleh Barthes dipotong-potong dan disusun kembali dalam suatu sistem baru dalam jumlah tak terbatas. Dengan metode ini peran pembaca begitu besar dalam menentukan sistem makna baru yang terbentuk. Bagi Roland Barthes di dalam teks setidaktidaknya beroperasi lima kode pokok (five major code)
__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

190

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

yang didalamnya terdapat penanda tekstual (baca:leksia) dapat dikelompokkan. Setiap atau masingmasing leksia dapat dimasukkan ke dalam salah satu dari lima kode ini (Budiman, 2003 : 55). Lima kode yang ditinjau oleh Barthes adalah kode hermeneutik (kode teka-teki), kode semik (makna konotatif), kode simbolik, kode proaretik (logika tindakan), kode gnomik (kode kultural) (Sobur, 2004 : 65). Kode hermeneutik atau kode teka-teki berkisar pada harapan pembaca untuk mendapatkan kebenaran bagi pertanyaan yang muncul dalam teks. Kode teka-teki merupakan unsur terstruktur yang utama dalam narasi tradisional. Di dalam narasi ada suatu kesinambungan antara pemunculan suatu peristiwa teka-teki dan penyelesaian di dalam cerita (Sobur, 2004 : 65). Budiman dalam bukunya semiotika visual mengatakan bahwa pada dasarnya kode ini adalah sebuah kode penceritaan, yang dengannya sebuah narasi dapat mempertajam permasalahan, menciptakan ketegangan dan misteri, sebelum memberikan pemecahan atau jawaban. Kode semik (code of semes) atau kode konotatif adalah kode yang memanfaatkan isyarat, petunjuk, atau kilasan makna yang ditimbulkan oleh penandapenanda tertentu (Budiman, 2003 : 56). Kode semik menawarkan banyak sisi. Dalam proses pembacaan, pembaca menyusun tema suatu teks. Ia melihat bahwa konotasi kata atau frase tertentu dalam teks dapat dikelompokkan dengan konotasi kata atau frase yang mirip. Jika kita melihat kumpulan satuan konotasi melekat, kita menemukan suatu tema di dalam cerita. Jika sejumlah konotasi melekat suatu nama tertentu. Perlu dicatat bahwa Barthes menganggap denotasi sebagai konotasi yang paling kuat dan paling akhir (Sobur, 2004 : 65-66). Kode simbolik merupakan aspek pengkodean fiksi yang paling khas bersifat struktural, atau tepatnya menurut konsep Barthes, pascastruktural. Hal ini didasarkan pada gagasan bahwa makna berasal dari
__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

191

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

beberapa oposisi biner atau pembedaan baik dalam taraf bunyi menjadi fonem dalam proses produksi wicara, maupun taraf oposisi psikoseksual yang melalui proses (Sobur, 2004 : 66). Kode simbolik merupakan kode pengelompokan atau konfigurasi yang gampang dikenali karena kemunculannya yang berulang-ulang secara teratur melalui berbagai macam cara dan saran tekstual, misalnya berupa serangkaian anitesis: hidup dan mati, di luar dan di dalam, dingin atau panas (Budiman, 2003 : 56). Kode proaretik atau kode tindakan/ lakuan dianggapnya sebagai perlengkapan utama teks yang dibaca orang (Sobur, 2004 : 66). Mengimplikasi suatu logika perilaku manusia : tindakan-tindakan yang membuahkan dampak-dampak, dan masing-masing dampak memiliki nama generik tersendiri, semacam judul bagi sekuans yang bersangkutan (Budiman, 2003 : 56). Kode gnomik atau kode cultural banyak jumlahnya. Kode ini merupakan acuan teks ke bendabenda yang sudah diketahui dan dikodifikasi oleh budaya. Menurut Barthes, realisme tradisional didefinisi oleh acuan ke apa yang telah diketahui. Rumusan suatu budaya atau subbadaya adalah hal-hal kecil yang telah dikodifikasi yang diatasnya para penulis bertumpu (Sobur, 2004 : 66). Selanjutnya dalam Budiman, kode ini bisa berupa kode-kode pengetahuan atau kearifan (wisdom) yang terus-menerus dirujuk oleh teks, atau yang menyediakan semacam dasar autoritas moral dan ilmiah bagi suatu wacana. Dalam teori Barthes akrab dengan apa yang disebut dengan sistem pemaknaan tataran kedua, yang dibangun di atas sistem lain yang telah ada sebelumnya. Sastra merupakan contoh paling jelas sistem pemaknaan tataran kedua yang dibangun diatas bahasa sebagai sistem pertama. Sistem kedua ini oleh Barthes disebut dengan konotatif, yang di dalam mytologies-nya secara tegas ia bedakan dari denotatif atau sistem pemaknaan tataran pertama. Melanjutkan studi Hjeimslev, Barthes menciptakan peta tantang bagaimana tanda bekerja (Cobley dan Jansz, 1999) :
__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

192

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

1. Signifer 2. Signified (penanda) (petanda) 3. Denotative sign (tanda denotatif) 4. Connotative signifer 5. Connotative signifed (penanda konotatif) (petanda konotatif) 6. Connotative sign (tanda konotatif)

Peta Tanda Roland Barthes Sumber: Drs. Alex Sobur Msi, 2004, Komunikasi, Remaja Rosda Karya, hlmn 69. Semiotika

Dari peta Barthes di atas terlihat bahwa tanda denotatif (3) terdiri atas penanda (1) dan petanda (2). Akan tetapi, pada saat bersamaan, tanda denotatif adalah juga penanda konotatif (4). Dengan kata lain, hal tersebut merupakan unsur material : hanya jika anda mengenal tanda singa, barulah konotasi seperti harga diri, kegarangan, dan keberanian menjadi mungkin (Sobur, 2004 : 69). Jadi, dalam konsep Barthes, tanda konotatif tidak sekedar memiliki makna tambahan namun juga mengandung kedua bagian tanda denotatif yang melandasi keberadaannya (Sobur, 2004 : 69). 3.3. Bahasa Dalam Karya Sastra Bahasa dalam perspektif semiotika, hanyalah salah satu sistem tanda-tanda (system of sign). Bahasa adalah sebuah institusi sosial yang otonom, yang keberadaannya terlepas dari individu-individu pemakainya (Budiman, 2005 : 38). Menurut Roland Wardhaugh, seorang linguis barat, dalam Introduction to Linguistics memberikan definisi sebagai berikut : Bahasa ialah suatu sistem simbol-simbol bunyi yang arbiter yang digunakan untuk komunikasi manusia (a system of arbitery vocal symbols used for human communicaton) (Hidayat, 2006 : 22). Berdasarkan uraian diatas kita dapat memberi arti tentang simbol yaitu sebagai sesuatu yang
__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

193

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

menyatakan sesuatu yang lain (things that stand for other things). Pengertian ini berarti bahwa di sekeliling kita terdapat banyak simbol dan kita akan senantiasa dihadapkan pada berbagai simbol (Hidayat, 2006 : 23). Menurut Amindin ada delapan belas ciri bahasa manusia, yaitu : 1. Alat fisis yang digunakan bersifat tetap dan memiliki kriteris tertentu. 2. Organisme yang digunakan memiliki hubungan timbal balik. 3. Menggunakan kriteria pragmatik, berkaitan dengan bunyi-bunyi segmental. 4. Mengandung kriteria semantik atau fungsi semantik tertentu. 5. Memiliki krieria sintaksis, kata-kata yang digunakan untuk menjadi suatu kalimat harus disusun sesuai dengan pola kalimat yang telah disepakati. 6. Melibatkan unsur bunyi ataupun unsur audiovisual. 7. Memiliki kriteria kombinasi dan bersifat produktif. 8. Bersifat arbiter, mana suka. 9. Memiliki ciri prevarikasi. 10. Terbatas dan relatif tetap. 11. Mengandung kontinuitas dan mengandung diskontinuitas. 12. Bersifat hierarkis, yaitu pemakaian keberadaannya memiliki tataran yang berada dalam tingkat tertentu. 13. Bersifat sistematis dan stimultan. 14. Saling melengkapi dan mengisi, baik secara paradigmatic maupun sintagmatis. 15. Informasi kebahasaan dapat disegmentasi, dihubungkan, disatukan dan diabaikan. 16. Transmisi budaya. 17. Bahasa itu dapat dipelajari. 18. Bahasa itu dalam pemakaian bersifat bidimensional (Hidayat, 2006 : 25-26) Salah satu fungsi bahasa menurut P. W. J. Nababan, seorang linguistik Indonesia adalah sebagai fungsi kebudayaan, yaitu sebagai sarana perkembangan
__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

194

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

kebudayaan, jalur penerus kebudayaan dan inventaris ciri-ciri kebudayaan. Tanda-tanda kebahasaan, setidaknya memiliki dua buah karakteristik, yaitu bersifat linier dan arbiter. Karakteristik pertama, linearitas penanda (the linier natre of the signifier), berkaitan dengan dimensi kewaktuannya. Penanda-penanda kebahasaan harus diproduksi secara beruntun, satu demi satu, tidak mungkin secara sekaligus atau simultan. Karakteristik kedua, kearbiteran tanda (the arbitary nature of the sign), bersangkutan dengan relasi di antara penanda dan petanda yang semena-mena atau tanpa alasan, tak termotivasi (unmotivated). Relasi diantara penanda dan petanda adalah semata-mata berdasarkan konvensi (Budiman, 2005 : 38). 3.4. Teks sebagai Proses Komunikasi Massa Sastra menjadi bahasa untuk berkomunikasi dengan bidang-bidang lainnya yang berkembang sesuai dengan perubahan masyarakat dimana ia hidup (Sunardi, 2004 : 14). Karya sastra sebagai proses komunikasi menyediakan pemahaman yang sangat luas. Menurut Duncan, dalam karya seni terkandung bentuk-bentuk ideal komunikasi, sebab karya seni menyajikan pengalaman dalam kualitas antar hubungan (Ratna, 2003 : 142). Teks secara potensial mengemban informasi tentang kehidupan sosial masyarakat, seni, teknologi, dan ilmu pengetahuan. Sastrawan menggunakan bahasa dalam hal ini berupa teks sebagai senjata untuk membangun ideologi tandingan dengan penguasa. Tidak pernah ada garis pemisah antara teks sastra dan non sastra. Garis pemisah ini telah dihapuskan dimasa mendatang. Alasan penghapusan ini disebabkan oleh rumitnya struktur objek peneliti dan evaluasi yang selalu berubah terhadapnya (Segars, 2000 : 21). Ada fungsi teks yang berbeda yang merupakan faktor-faktor pembentuk komunikasi verbal yaitu
__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

195

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

ADDRESSER (pengirim) mengirimkan suatu pesan atau MESSAGE kepada seseorang ADDRESEE (yang dikirimi) agar operatif, pesan tersebut memerlukan CONTEXT, sehingga dipahami oleh yang dikirimi dan dapat diverbalisasikan : suatu CODE secara penuh atau paling tidak sebagian, umum bagi pengirim dan yang dikirimi : dan akhirnya suatu CONTACT yaitu suatu saluran fisik dan hubungan psikologis antara pengirim dan yang dikirimi, memungkinkan keduanya memasuki dan berada dalam komunikasi (Segars, 2000 : 21). Sastra menjadi bahasa untuk berkomunikasi dengan bidang-bidang lainnya yang berkembang sesuai dengan perubahan masyarakat dimana ia hidup (Sunardi, 2004 : 14). Dalam suatu karya sastra, hubungan antara pengarang dan pembaca harus dipahami sebagai hubungan yang bermakna. Sebagai pola-pola hubungan yang terbuka dan produktif dengan implikasi sosial, bukan sebagai kausalitas yang tunggal. Pengarang menciptakan bentuk-bentuk yang memungkinkan untuk mengadakan komunikasi timbal balik. Pengarang menulusuri secara terus menerus signifikasi fungsifungsi sosial anteraksi simbolis dalam aktivitas kehidupan manusia. Dipihak lain, sesuai dengan hakikat rekaan, pengarang menghubungkannya dengan kualitas imajinatif dan kreatif, yang dengan sendirinya berfungsi untuk menopang kehidupan sastra secara keseluruhan. Komunikasi sastra merupakan komunikasi tertinggi, sebab mekanisme unsur-unsur yang paling luas. Schmidt misalnya, menjelaskan bahwa komunikasi sastra melibatkan proses total yang meliputi : a) Produksi teks, yaitu aktivitas pengarang dalam menghasilkan teks tertentu; b) Teks itu sendiri dengan berbagai problematikanya; c) Transmisi teks, yaitu melalui editor, penerbit, toko-toko buku, dan pembaca; dan d) Penerima teks, yaitu melalui aktivitas pembaca (Ratna, 2003 : 136). Karya sastra, sebagai salah satu bentuk kreativitas kultural, sebagai representasi superstruktur ideologis, dipandang sebagai gejala-gejala sosial yang
__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

196

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

terdiri dari sistem informasi yang sangat rumit (Ratna, 2003 : 137). Disatu pihak karya sastra merupakan respon-respon interaksi sosial, yaitu gejala sosial sebagai akibat antara hubungan dengan masyarakat. Dipihak lain, karya sastra menyediakan dunia rekaan yang pembacanya, dalam pengertian yang terakhir inilah terletak gagasan-gagasan mengenai komunikasi sastra. Hubungan karya sastra dengan masyarakat tidak bermaksud untuk menjelaskan hubungan-hubungan individu, melainkan hubungan kelompok yang didalamnya indvidu terlibat secara aktif. Kompleksitas hubungan ini mengandaikan aktivitas komponen komunikasi yang terjadi terus-menerus, yaitu dalam kerangka proses komunikasi. 3.5. Buku Sebagai Media Massa Cetak Buku merupakan salah satu bentuk dari media massa cetak. Adapun syarat-syarat yang telah mampu dipenuhi oleh buku dalam kajian sebagai media massa cetak adalah melalui proses percetakan, memiliki cover/ sampul, mengangkat suatu isu (gender, politik, agama, budaya dan lainnya), adanya awalan dan akhiran pada cerita yang diangkat dan dipublikasikan. Buku dapat dikatakan sebagai media massa tertua sebelum ditemukannya film, radio, dan televisi. Dengan kelebihannya yang mampu menyampaikan pesan secara lebih lengkap dan mendalam, bisa dibawa kemanamana, terdokumentasi permanen sehingga mudah diperoleh bila diperlukan, namun hanya bisa dinikmati oleh mereka yang melek huruf (Cangara, 2005 : 128). Buku sebagai media massa juga merupakan transmisi warisan sosial dari satu generasi ke generasi berikutnya. Media cetak seperti buku mampu memberi pemahaman yang lebih kepada pembacanya. Melalui sebuah buku, penulis atau penyusunnya bisa berbagi banyak hal, seperti ilmu pengetahuan, pengalaman, bahkan imajinasi kepada pembacanya, sehingga buku banyak digunakan untuk keperluan studi, pengetahuan, hobi atau media hiburan dengan penyajian mendalam. 3.6. Representasi
__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

197

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

Representasi menunjuk baik pada proses maupun produk dari pemaknaan suatu tanda. Representasi juga bisa berarti proses perubahan konsep-konsep ideologi yang abstrak dalam bentukbentuk yang kongkret. Representasi adalah konsep yang digunakan dalam proses sosial pemaknaan melalui sistem penandaan yang tersedia: dialog, tulisan, video, film, fotografi, dsb. Secara ringkas, representasi adalah produksi makna melalui bahasa (http://kunci.or.id/esai/nws/04/representasi.htm). Menurut Stuart Hall (1997), representasi adalah salah satu praktek penting yang memprduksi kebudayaan. Kebudayaan merupakan konsep yang sangat luas, kebudayaan menyangkut pengalaman berbagi. Seseorang dikatakan berasal dari kebudayaan yang sama jika manusia-manusia yang ada disitu membagi pengalaman yang sama, membagi kode-kode kebudayaan yang sama, berbicara dalam bahasa yang sama, dan saling berbagi konsep-konsep yang sama (http://kunci.or.id/esai/nws/04/representasi.htm). Menurut Stuart Hall, ada dua proses representasi. Pertama, representasi mental. Yaitu konsep tentang sesuatu yang ada di kepala kita masing-masing (peta konseptual). Representasi mental ini masih berbentuk sesuatu yang abstrak. Kedua, bahasa, yang berperan penting dalam proses konstruksi makna. Konsep abstrak yang ada dalam kepala kita harus diterjemahkan dalam bahasa yang lazim, supaya kita dapat menghubungkan konsep dan ide-ide kita tentang sesuatu dengan tanda dan simbol-simbol tertentu. Proses pertama memungkinkan kita untuk memaknai dunia dengan mengkonstruksi seperangkat rantai korespondensi antara sesuatu dengan sistem peta konseptual kita. Dalam proses kedua, dengan bahasa atau simbol yang berfungsi mempresentasikan konsep-konsep kita tentang sesuatu. Relasi antara sesuatu, peta konseptual, dan bahasa/ simbol adalah jantng dari produsi makna lewat bahasa. Proses yang menghubungkan ketiga elemen ini secara bersamasama itulah yang kita namakan representasi.
__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

198

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

Konsep representasi bisa berubah-ubah. Selalu ada pemaknaan baru dan pandangan baru dalam konsep representasi yang sudah pernah ada. Intinya adalah: makna tidak inheren dalam sesatu di dunia ini, ia selalu dikostruksikan, diprodksi, lewat proses representasi. Ia adalah hasil dari prakek penandaan. Praktek yang membuat sesuatu hal bermakna sesuatu (http://kunci.or.id/esai/nws/04/representasi.htm). Teks merupakan sarana sekaligus media dimana satu kelompok mengunggulkan diri sendiri dan memarjinalkan kelompok lain. Pada titik inilah representasi penting untuk dibicarakan. Representasi sendiri merujuk pada bagaimana seseorang, satu kelompok, gagasan atau pendapat tertentu ditampilkan. Pertama, apakah seseorang, satu kelompok, atau gagasan atau pendapat tertentuditampilkan sebagaimana mestinya. Kata semestinya ini mengacu pada apakah seseorang atau kelompok itu diberitakan apa adanya, ataukah diburukkan. Penggambaran yang tampil bisa jadi adalah penggambaran yang buruk, bahkan cenderung memarjinalkan satu kelompok tertentu. Kedua, bagaimana representasi tersebut ditampilkan. Dengan kata, kalimat, aksentuasi, dan bantuan foto macam apa seseorang, kelompok, ata gagasan tersebut ditampilkan dalam pemberitaan kepada khalayak (Eriyanto, 2001 : 113). Persoalan utama dalam representasi adalah bagaimana realitas atau objek tersebut ditampilkan? Menurut Joh Fiske, saat menampilkan objek, peristiwa, gagasan, kelompok, atau seseorang paling tidak ada tiga proses. Level pertama, peristiwa yang ditandakan (encode) sebagai realitas, yaitu bagaimana peristiwa itu dikonstruksikan sebagai realitas. Disini realitas selalu siap ditandakan, ketika kita menganggap dan mengkonstruksi peristiwa tersebut sebagai sebuah realitas.
__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

199

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

Level kedua, ketika memandang sesuatu sebagai realitas, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana realitas itu digambarkan. Disini menggunakan perangkat secara teknis. Dalam bahasa tulis yang disebut alat teknis adalah kata, kalimat, atau proposisi, grafik, dan sebagainya. Pemakaian kata, kalimat, atau proposisi tertentu, misalnya membawa makna tertentu ketika diterima oleh khalayak. Level ketiga, bagaimana kode-kode representasi dihubungkan dan diorganisasikan kedalam koherensi sosial seperti kelas sosial, atau kepercayaan dominan yang ada dalam masyarakat. Menurut Fiske ketika kita melakukan representasi tidak bisa dihindari kemungkinan menggunakan ideologi tersebut (Eriyanto, 2001 : 14). 3.7. Ideologi Matriarkhi Ideologi matriarkhi pertama kali ditemukan oleh Johann Jacob Bachofen dengan karya terbesarnya yaitu penemuannya atas Hak Ibu (Mother Right). Analisisnya terhadap mitos-mitos dan simbol-simbol bangsa Romawi, Yunani, dan Mesir, membuatnya berkesimpulan bahwa struktur patriarkal dalam masyarakat yang kita kenal melalui sejarah peradaban dunia, adalah relatif baru sekarang ini, dan itu didahului sebelumnya oleh status kultural yang menempatkan sosok ibu dalam peran yang sangat penting; seperti kepala keluarga, kepala pemerintahan dalam keluarga, kepala pemerintahan dalam masyarakat, dan Dewi Agung. Lebih jauh, dia juga berasumsi bahwa sebelum dikenal adanya struktur matriarkhi (terutama dalam sejarah awal manusia), adalah bentuk masyarakat yang masih kasar, kurang beradab (hetaerisme), kehidupan sepenuhnya bersandar pada produktivitas alamiah perempuan, tanpa adanya pernikahan, hukum, prinsip-prinsip ataupun aturan-aturan yang kita kenal sekarang (Fromm, 2007 : 4). Matriarkhi adalah suatu bentuk masyarakat dimana ibu adalah pemimpin dan bertindak sebagai garis keturunan perempuan. Secara ideologis matriakhi mengasumsikan bahwa kekuatan energi maternal dan
__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

200

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

cinta ibu merupakan kekuatan yang kohesif secara sosial. Evelyn Reed menyatakan bahwa matriakhi lebih dulu ada daripada patriarkhi. Dengan menggunakan karya Engel Origin of the Family (1884), Reed mendeskripsikan superioritas perempuan. Reed mengadopsi secara mendasar perspektif evolusionis yang mengasumsikan bahwa patriarkhi tidak hanya terjadi dalam perkembangan pertanian. Helen Diner, Merlyn Stone dan Elizabeth Fisher tidak menempatkan matriarkhi sebagai lawan dari patriarkhi namun sebagai sistem yang didasarkan pada prinsip-prinsip yang sangat berbeda dari sistem yang didominasi oleh laki-laki. Matriarkhi adalah masyarakat di mana perempuan menentukan kondisi-kondisi keibuan dan lingkungan dari generasi berikutnya, pengasuhan anak menciptakan kepercayaan, semua hubungan didasarkan pada hubungan pengasuhan antara ibu dan anak. Para feminis telah menafsirkan ulang bukti-bukti arkeologis dan bukti lisan dalam mitos-mitos Yunani Kuno untuk membuktikan eksistensi dari matriarkhi (http://www.sekitarkita.com/glossary.php diakses 31 Juli 16:36). Matrilineal adalah suatu adat masyarakat yang mengatur alur keturunan berasal dari pihak ibu kata ini seringkali disamakan dengan matriarkhat atau matriarkhi, meskipun pada dasarnya artinya berbeda. Matrilineal berasal dari dua kata, yaitu mater (bahasa latin) yang berarti "ibu", dan linea (bahasa Latin) yang berarti "garis". Jadi, "matrilineal" berarti mengikuti "garis keturunan yang diambil dari pihak ibu" (http://www.wikipedia.org/ wiki/matrilineal diakses 09 Agustus 2007 19:38). Sementara itu matriarkhat berasal dari dua kata yang lain, yaitu mater yang berarti "ibu" dan archein (bahasa Yunani) yang berarti "memerintah". Jadi, "matriarkhi" berarti "kekuasaan berada di tangan ibu atau pihak perempuan" (http://www.wikipedia.org/ wiki/matrilineal diakses 09 Agustus 2007 19:38). Menurut Prof. Dr. Soerjono Soekanto dalam kamus sosiologi (1993 : 295) ada dua pengertian matriarkhi, yaitu (1) pemerintahan oleh golongan wanita,
__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

201

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

dan (2) kombinasi garis keturunan matrilineal pola kediaman matrilokal dan matripotestalitas. Penganut adat matrilineal adalah suku Indian, Apache Barat, suku Navajo, sebagian besar suku Pueblo, suku Crow yang kesemuanya adalah penduduk asli Amerika Serikat, suku Khasi di Meghalaya, India Timur Laut, suku Nakhi di wilayah Sichuan dan Yunnan, China, dan beberapa suku kecil di kepulauan Asia Pasifik. Di Indonesia satu-satunya penganut adat matrilineal adalah suku Minangkabau, Sumatera Barat. Lawan dari matrilineal adalah patrilineal yaitu suatu adat masyarakat yang menyatakan alur keturunan berasal dari pihak ayah. Penganut adat patrilineal di Indonesia sebagai contoh adalah suku Batak (http://www.wikipedia.org/wiki/matrilineal diakses 09 Agustus 2007 19:38). Sistem nilai dari budaya matriarkhal selaras dengan penyerahan pasif terhadap ibu, alam, dan bumi serta juga terhadap peran sentral mereka. Hanya sesuatu yang alami dan biologis yang bermanfaat. Sementara yang bersifat spiritual, kultural, dan rasional tidak berharga. Bachofen mengembangkan jalur pemikiran ini dengan sangat jelas dan lengkap dalam konsep keadilannya. Bertolak belakang dengan hukum alam borjuis, di mana alam merupakan masyarakat patriarkal yang berubah menjadi suatu yang absolut, hukum alam matriarkal dikarakterisasikan oleh dominasi insting, alamiah, dan berdasarkan darah. Dalam hukum matriarkal, tidak ada kelogisan, keseimbangan rasional dari kesalahan dan penebusan dosa; ia didominasi oleh prinsip alami dari hukum qishosh (pembalasan), mengacu pada prinsip yang serupa dibalas dengan yang serupa. Bagi hukum matriarkal, hanya ada satu kejahatan yaitu kekerasan pada ikatan darah (Fromm, 2007 : 29-30). Dalam masyarakat matriarkhi menurut Bachofen dapat ditemukan sifat-sifat kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan sebagai prinsip-prinsip pengaturannya, dan bukan kecemasan atau kepatuhan, melainkan cinta dan belas kasih. Menurut Bachofen, masyarakat mariarkal merupakan demokrasi paling awal di mana
__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

202

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

seksualitas bebas dari penyimpangan, di mana cinta dan belas kasih maternal merupakan prinsip-prinsip moral yang dominan, di mana perbuatan tidak adil terhadap rekan sesama manusia adalah dosa yang paling berat, dan di mana kepemilikan pribadi belum ada (Fromm, 2007 : 35&43). 3.8. Konsep Kekerasan Menurut Johan Galtung, kekerasan terjadi apabila manusia dipengaruhi sedemikian rupa sehingga jasmani dan mental aktualnya berada di bawah realisasi potensialnya. Kata-kata kunci yang perlu diterangkan yaitu aktual (nyata) dan potensial (mungkin), dibiarkan serta dibatasi tanpa disingkirkan. Dalam kamus umum bahasa Indonesia, kekerasan diartikan sebagai sifat atau hal yang keras; kekuatan dan paksaan. Sedangkan paksaan berarti tekanan; desakan yang keras. Jadi kekerasan berarti membawa kekuatan, paksaan dan tekanan (Poerwadarminta, 1999 : 102). Sedangkan dalam bahasa Inggris, kekerasan (violence) berarti sebagai suatu serangan atau invasi fisik ataupun integritas mental psikologis seseorang (Englander dalam saraswati, 2006 : 13). Pengertian kekerasan menurut pasal 1 UndangUndang Nomor 23 Tahun 2004 tetang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga menyebutkan bahwa (Fokusmedia, 2004 : 2) : Kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis dan/ atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. Lingkup rumah tangga diperjelas dalam pasal 2 Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tetang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga (Fokusmedia, 2004 : 3-4), meliputi : a. Suami, istri, dan anak;
__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

203

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

b. Orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga karena hubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan, dan perwalian, yang menetap dalam rumah tangga; dan/ atau c. Orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga tersebut. Ada dua jenis kekerasan menurut Kompas (1993) dalam penelitian Paul Joseph I.R. (1996 : 37) yaitu kekerasan verbal dan non verbal. Kekerasan verbal adalah kekerasan yang berbentuk kata-kata, kategori kekerasan verbal meliputi: umpatan, olok-olok, hinaan, dan segala perkataan yang menyebabkan lawan bicara tersinggung, emosi, dan marah. Sedangkan, kekerasan non verbal adalah kekerasan melalui bahasa tubuh, tindakan, intonasi, dan kecepatan suara. Menurut pasal 5 Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan dibagi menjadi beberapa jenis yaitu (Fokusmedia, 2004 : 5-6): 1. Kekerasan Fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat. 2. Kekerasan Psikis adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, malu, tersinggung, dan/ atau penderitaan psikis berat pada seseorang. 3. Kekerasan Seksual adalah segala tindakan yang muncul dalam bentuk paksaan atau mengancam untuk melakukan hubungan seksual, melakukan penyiksaan atau bertindak sadis. 4. Kekerasan Ekonomi adalah setiap perbuatan yang mengakibatkan kerugian dan penghinaan secara ekonomi, terlantarnya anggota keluarga dan atau menciptakan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan/ atau melarang mereka untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah sehingga korban berada di bawah kendali orang tersebut. 3.9. Kekerasan Dalam Rumah Tangga
__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

204

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

Kekerasan terhadap sesama manusia memiliki sumber ataupun alasan yang bermacam-macam, seperti politik, keyakinan agama, rasisme, dan ideologi gender. Salah satu penyebab timbulnya kekerasan adalah karena adanya ideologi gender. kekerasan yang disebabkan oleh bias gender disebut juga dengan gender-related violence (Saraswati, 200 : 16) Untuk memahami ideologi atau keyakinan gender, terlebih dahulu harus dipahami pengertian gender dengan kata sex (jenis kelamin). Secara bahasa, kata gender berasal dari bahasa Inggris yang berarti jenis kelamin. Dalam Womens Studies Encyclopedia, dikutip oleh Mufidah Ch (2004 : 4), dijelaskan bahwa gender adalah satu konsep cultural, berupaya membuat pembedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat. Hilary M. Lips, mengartikan gender sebagai harapanharapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan. Pengertian lain tentang gender menurut Mansour Fakih (1999 : 9) adalah suatu ciri-ciri dan sifat yang dilekatkan pada laki-laki dan wanita yang dikonstruksikan secara sosial maupun kultural. Misalnya : bahwa wanita dikenal lemah-lembut, cantik, emosional, dan keibuan. Sementara laki-laki dianggap kuat, rasional, jantan dan perkasa. Ciri-ciri dan sifat tersebut merupakan sifat-sifat yang dapat dipertukarkan dan mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Jadi, ada laki-laki yang emosional, lemah-lembut dan keibuan, sementara itu ada juga wanita yang kuat, rasional dan perkasa. Perubahan ciri dari sifat-sifat tersebut dapat terjadi dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat yang lain. Sedangkan sex (jenis kelamin) merupakan pembagian dua jenis kelamin manusia yang ditentukan secara biologis yang melekat pada jenis kelamin tertentu. Alat-alat tersebut secara biologis melekat pada manusia jenis laki-laki dan perempuan secara permanen tanpa bisa dipertukarkan atau bisa dikatakan sebagai kodrat (ketentuan Tuhan) (Fakih, 1999 : 8 ).

__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

205

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

Organ biologis antara laki-laki dan perempuan berbeda. Perempuan dengan organ tubuh yang dimiliki dikonstruksikan oleh budaya untuk memiliki sifat yang halus, penyabar, penyayang, lemah lembut dan sejenisnya. Sifat inilah yang sering disebut dengan feminim. Sementara laki-laki dengan perangkat fisiknya diberi atribut sifat yang maskulin yaitu sifat kuat, perkasa, jantan bahkan kasar. Dengan demikian gender merupakan konsep sosial yang harus diperankan oleh kaum laki-laki atau perempuan sesuai dengan ekspektasi-ekspektasi sosio-kultural yang hidup dan berkembang ditengah-tengah masyarakat yang kemudian melahirkan peran-peran sosial laki-laki dan perempuan sebagai peran gender (Ridwan, 2006 : 1719). Sejarah perbedaan gender (gender difference) antara manusia jenis kelamin laki-laki dan perempuan terjadi melalui proses yang sangat panjang. Oleh karena itu, terbentuknya perbedaan-perbedaan gender disebabkan banyak hal, di antaranya dibentuk, disosialisasi, diperkuat, bahkan dikonstruksi secara sosial dan kultural, baik melalui ajaran keagamaan maupun negara. Melalui proses panjang, sosialisasi gender tersebut akhirnya dianggap ketentuan Tuhan seolah-olah bersifat biologis yang tidak bisa diubah lagi sehingga perbedaan gender dianggap dan dipahami sebagai kodrat laki-laki dan kodrat perempuan (Fakih, 1999 : 9 ). Perbedaan gender prinsip dasarnya adalah sesuatu yang wajar dan merupakan sunnatullah sebagai sebuah fenomena kebudayaan. Perbedaan gender tidak menjadi masalah selama tidak menimbulkan ketidakadilan gender (gender inequalities). Namun, yang menjadi persoalan ternyata perbedaan gender telah melahirkan berbagai ketidakadilan, baik bagi kaum lakilaki maupun terutama terhadap kaum perempuan. Ketidakadilan gender terwujud dalam berbagai bentuk ketidakadilan, seperti marginalisasi atau proses pemiskinan ekonomi, subordinasi atau anggapan tidak penting dalam keputusan politik, pembentukan stereotipe atau pelabelan negatif, kekerasan (violence), beban
__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

206

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

kerja lebih panjang dan lebih banyak (burden) (Fakih, 1999 : 12). Kekerasan apapun yang terjadi dalam masyarakat, sesungguhnya berangkat dari satu ideologi tertentu yang mengesahkan penindasan disatu pihak baik perseorangan maupun kelompok terhadap pihak lain yang disebabkan oleh anggapan ketidaksetaraan yang ada dalam masyarakat. Pihak yang tertidas disudutkan pada posisi yang membuat mereka berada dalam ketakutan melalui cara penampakkan kekuatan secara periodik (College dalam Ridwan, 2006 : 49). Kekerasan dalam rumah tangga (domestic violence) adalah bentuk penganiayaan (abuse) oleh suami terhadap istri atau sebaliknya baik secara fisik (patah tulang, memar, kulit tersayat) maupun emosional/ psikologis (rasa cemas, depresi, dan perasaan rendah diri). Dalam rumusan yang lain, kekerasan dalam rumah tangga didefinisikan setiap perbuatan yang dilakukan oleh seseorang secara sendiri atau bersama-sama terhadap seorang perempuan atau terhadap pihak yang tersubordinasi lainnya dalam lingkup rumah tangga yang mengakibatkan kesengsaraan secara fisik, seksual, ekonomi, ancaman psikologis termasuk perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang (Ridwan, 2006 : 49). Kekerasan dalam rumah tangga, dalam prakteknya sulit diungkap karena beberapa sebab (Ridwan, 2006 : 50) : 1. Kekerasan dalam rumah tangga terjadi dalam lingkup kehidupan rumah tangga yang dipahami sebagai urusan yang bersifat privasi, orang lain tidak boleh ikut campur (intervensi). 2. Pada umumnya korban adalah pihak yang secara struktural lemah dan mempunyai ketergantungan khususnya secara ekonomi dengan pelaku. Dalam posisi ini, korban pada umumnya selalu mengambil sikap diam atau bahkan menutup-nutupi tindak kekerasan tersebut. Karena dengan membuka kasus
__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

207

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

kekerasan dalam rumah tangga ke publik berarti membuka aib keluarga. 3. Kurangnya pengetahuan dan kesadaran hukum masyarakat terhadap hak-hak hukum yang dimiliki. 4. Adanya stigma sosial bahwa kekerasan yang dilakukan oleh suami dipahami oleh masyarakat sebagai hal yang mungkin dianggap wajar dalam kerangka pendidikan yang dilakukan oleh pihak yang memang mempunyai otoritas untuk melakukannya. Pada posisi ini, korban sering enggan melaporkan kepada aparat penegak hukum karena khawatir justeru akan dipersalahkan. Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dapat diposisikan sebagai akibat dari sebuah sistem sosial yang bias gender. KDRT bisa terjadi pada semua lapisan masyarakat laki-laki atau perempuan, dari kelompok masyarkat kaya sampai miskin atau dari kelompok tidak terdidik sampai yang terdidik. KDRT bisa saja dilakukan oleh seseorang dengan penuh kesadaran bahwa apa yang ia lakukan adalah kekerasan, namun bisa saja pelaku menganggap perilaku kekerasannya merupakan bagian dari hak yang ia miliki yang dijustifikasi dengan otoritas yuridis ataupun dalil agama (Ridwan, 2006 : 51). 3.10. Hak dan Kewajiban Suami-Istri Rumah tangga merupakan tempat berlindung bagi seluruh anggota keluarga. Untuk menciptakan dan menjaga keharmonisan hubungan dalam keluarga maka setiap anggota keluarga harus bisa menghormati hak dan kewajiban masing-masing anggota keluarga terutama dalam hubungan suami dan istri, karena suami istri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah tangga yang menjadi sendi dasar dari susunan masyarakat. Hal ini sesuai dengan Pasal 1 UndangUndang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan disebutkan bahwa : Dasar perkawinan adalah adanya ikatan lahir batin aantara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami-istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

208

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

Dalam pasal 31 Undang-Undang Perkawinan, suami-istri mempunyai hak dan kedudukan yang seimbang dalam kehidupan berumahtangga dan pergaulan hidup di dalam masyarakat serta berhak untuk melakukan perbuatan hukum. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menjelaskan hak dan kewajiban suamiistri, yaitu (Subekti dan Tjitrosudibio, 1996 : 26-27) : a. Suami dan istri, mereka harus setia-mensetiai, tolong menolong dan bahu-membahu. b. Suami dan istri, dengan mengikat diri dalam suatu perkawinan, dan hanya karena itu pun, terikatlah mereka dalam suatu perjanjian bertimbalbalik, akan memelihara dan mendidik sekalian anak mereka. c.Setiap suami adalah kepala dalam persatuan suami-istri. d. Setiap istri harus tunduk patuh kepada suaminya. 3.11. Motif Istri Melakukan Kekerasan Terdapat persepsi dari istilah causa kejahatan, yaitu orang yang melakukan kejahatan adalah penjahat. Bila seseorang yang melakukan suatu kejahatan, maka dapat dipersoalkan apakah yang menyebabkan orang tersebut menjadi jahat. Karena bila dipakai dalam pendekatan secara yuridis, maka dapat ditafsirkan bahwa seseorang yang telah melakukan perbuatan pidana adalah merupakan kejahatan (Wardodo, 2007 : 25). Istri yang melakukan kejahatan (kekerasan) diikuti dengan berbagai faktor atau motif untuk melakukan kekerasan terhadap suaminya. Faktor-faktor itu hanya sebagai alasan untuk menutupi kesalahankesalahan yang dilakukan terhadap suaminya. Secara psikologis istri sadar berbuat salah, karena terdapat niat dalam dirinya untuk menyulut pertengkaran dalam rumah tangga. Dengan kata lain terdapat alasan-alasan tersembunyi (Wardodo, 2007 : 26) diantaranya : Suami yang berpenghasilan rendah, dengan kata lain keadaan ekonomi dibawah garis kemiskinan.
__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

209

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

Pria lain yang berada ditengah-tengah keluarga dapat dijadikan motif seorang isttri melakukan kekerasan. Pertengkaran demi pertengkaran ditimbulkan oleh istri untuk membuat suami merasa jenuh (bosan), sehingga terjadi pertengkaran dan mengakibatkan suami mengalami kekerasan. Karena didalam rumah tangga tidak terdapat keharmonisan dan kevakuman antara kedua belah pihak yang disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya mementingkan egonya masing-masing sehingga istri meminta cerai. Namun suami yang tidak mengabulkan keinginannya tersebut, istri mengambil tindakan yaitu melakukan kekerasan terhadap suami (menghina suami atas penghasilan yang rendah). Kekerasan yang dilakukan oleh istri terhadap suami dapat mengakibatkan dampak buruk bagi rumah tangga yang dibinanya. Perceraian sebagai akibat dari kekerasan yang dilakukan oleh istri. Suami yang tidak tahan terhadap istri yang sering melakukan kekerasan, membuat suami memilih jalan perceraian, padahal perceraian bukan jalan penyelesaian yang terbaik. Terganggunya psikis juga sebagai akibat dari kekerasan yang dialami oleh suami. Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh istri secara terus-menerus dan berkelanjutan secara tidak langsung dapat mengakibatkan suami menjadi cepat emosional. Atau bahkan suami yang seperti tersebut melakukan perselingkuhan dalam rumah tangganya dengan berbagai alasan (Wardodo, 2007 : 27). Kekerasan yang terjadi terhadap suami oleh istri dalam lingkup rumah tangga akan berdampak negatif bagi semua pihak dalam rumah tangga. Semua pihak keluarga akan turut merasakan dampak buruk dari suatu perbuatan yang dilarang. Keutuhan dan kerukunan rumah tangga dapat terganggu jika kualitas dan pengendalian diri tidak dapat dikontrol, sehingga pada akhirnya dapat terjadi kekerasan dalam rumah tangga sehingga timbul ketidakamanan atau ketidakadilan terhadap orang yang berada dalam lingkup rumah
__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

210

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

tangga, yang termasuk didalamnya adalah (http://www.drirene.com/abused husband.htm).

suami

Kekerasan psikis secara kasat mata nyata-nyata tidak terlihat. Hanya orang yang mengalami dan merasakannya saja yang mengetahui apakah dia mengalami kekerasan secara psikis. Suami yang tidak tahan akan perilaku atau perbuatan istri, membuat dia akan melarikan diri dari semua masalah-masalahnya. Perlakuan kejam dan kekerasan adalah sikap yang dilakukan seorang wanita untuk menyebabkan luka fisik, seksual, atau emosional serta rasa cemas dan ketakutan. Terganggunya psikologis anak juga turut diakibatkan oleh kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan istri. Keharmonisan dalam rumah tangga oleh suami dan istri mempengaruhi tumbuh kembangnya psikologi anak (Wardodo, 2007 : 29). 4. Metodologi 4.1. Kerangka Konseptual Pada dasarnya penelitian ini dilakukan untuk memahami berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan metode analisis tekstual, metode tekstual yang dipilih adalah semiotika. Analisis semiotika digunakan untuk melihat bagaimana representasi kekerasan terhadap laki-laki pada karakter Genting dalam buku Lelaki yang Menangis karya Rini Nurul Badariah pada kisah 1 (pertama). 4.2. Unit Analisis Penelitian ini menggunakan leksia dari Barthes sebagai unit analisis. Leksia merupakan satuan bacaan tertentu. Leksia ini dapat berupa satu kata, beberapa kata, satu kalimat, beberapa kalimat, satu paragraph, atau beberapa paragraph dari teks buku Lelaki yang Menangis karya Rini Nurul Badariah yang menunjukkan adanya unsur-unsur kekerasan terhadap laki-laki. Untuk lebih mudah menganalisis teks, peneliti ini menggunakan
__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

211

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

analisis naratif struktural yang Barthes. 5. Hasil dan Pembahasan 5.1. Hasil Analisis Data.

ditawarkan

Roland

a. Berikut ini adalah kolom yang menjelaskan penggolongan leksia dalam kode pembacaan menurut Roland Barthes, berikut juga kalimat mana dalam leksia yang menenunjukkan salah satu kode pembacaan, yaitu :
Wanita Bukan Makhluk yang Lemah yang diceritakan oleh Genting

KODE PEMBACAAN

LEKSIA

KALIMAT YANG MENUNJUKKAN KODE PEMBACAAN PADA LEKSIA Ia tidak bertanya apakah saya bersedia hadir, apakah saya letih, atau apakah saya mempunyai acara lain pada hari tersebut .Padahal datang ke undangan seperti ini kan perlu juga, biarpun harus saya seretseret Memendam kekecewaan dan kekesalan dalam batin, kadangkadang terbawa dalam mimpi, sekaligus menahan bibir agar tetap terkunci sesuai kehendak istri saya. Kalau sedang marah, Ibu membanting gelas dan piring seraya berteriak-teriak tanpa dapat Ayah hentikan .agar istri saya tidak membongkar isi dapur rumah tangga kami kepada kerabat, teman, atau anggota keluarga yang lain Senyum masam dan lirikan saya kurang ampuh untuk membuat istri saya merendahkan volume suaranya pemikiran yang susah payah saya suntikan dalam otak dan hati itu luntur dalam sekejap

1. Leksia 2

2. Leksia 5 KODE HERMENEUTIK 3.Leksia 10

4.Leksia 11

5. Leksia 1

KODE SEMIK 6. Leksia 6

7. Leksia 7

__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

212

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

KODE SEMIK

8. Leksia 9 9. Leksia 3

KODE SIMBOLIK 10. Leksia 8

KODE PROARETIK

11. Leksia 4

KODE GNOMIK

12.Leksia 12

.Bila saya membuka diskusi seputar perkuliahan dengan istri, ia menganggapnya angin lalu Istri saya menarik tangan saya kesana-kemari Istri saya seperti tak mau tahu jungkir balik suaminya Kalau sampai istri tahu bahwa saya bosan dan datang ke acara itu dengan setengah hati, ia tidak segan melotot atau mencubit lengan saya keraskeras Yang terpenting bagi seorang laki-laki, yang telah berstatus suami, ialah tanggung jawab dan komitmen. Istri saya adalah pilihan saya sendiri, maka saya akan terima semua konsekuensi atas keputusan itu

b. Berikut ini adalah kolom yang menjelaskan kalimat dalam leksia yang menenunjukkan adanya perilaku kekerasan terhadap laki-laki, yaitu :
Wanita Bukan Makhluk yang Lemah yang diceritakan oleh Genting
KALIMAT YANG MENUNJUKKAN ADANYA PERILAKU KEKERASAN TERHADAP LAKI-LAKI Bahkan lidah saya kelu setiap kali bermaksud mencetuskan keinginan agar istri saya tidak membongkar isi dapur rumah tangga kami kepada kerabat, teman, atau anggota keluarga yang lain... Lusa kita pergi ke pernikahan saudaraku, ya. Kan malu kalau nggak datang demikian salah satu instruksi istri, saat saya baru pulang kerja di akhir pekan. Istri saya menarik tangan saya kesana-kemari ia tidak segan melotot atau mencubit lengan saya keraskeras. Suami saya ini senangnya di rumah terus, kayak anak perempuan lagi dipingit Senyum masam dan lirikan saya kurang ampuh untuk membuat istri saya merendahkan volume suaranya....

LEKSIA

JENIS-JENIS PERILAKU KEKERASAN

1. Leksia 1

Psikis

2. Leksia 2 3. Leksia 3 4. Leksia 4

Psikis Psikis dan Fisik Psikis dan Fisik Psikis

5. Leksia 5

6. Leksia 6

Psikis

__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

213

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

7. Leksia 7 8. Leksia 8 9. Leksia 9 10. 10 11. 11 12. 12 Leksia

....Seperti biasa, argumen saya ditolak mentah-mentah oleh istri. .Dukungan di segi moril, lebih saya harapkan, diberikannya Mau tidak mau batin ini juga Saya tak berkutik. Sayalah lemah, bukan istri. yang tidak lelah yang

Psikis Psikis Psikis Psikis

Leksia

saya menyaksikan Ibu melempari Ayah dengan perabot rumah tangga.. Ayah tak pernah melawan, tak pernah membalas rumah tangganya langgeng hingga kini.

Psikis dan Fisik Psikis

Leksia

5.2. Analisis Data Berikut ini adalah analisis data terhadap leksia-leksia yang telah dipaparkan diatas, yaitu: a. Kode Hermeneutik Leksia 2 (halaman 3) Lusa kita pergi ke pernikahan saudaraku, ya. Kan malu kalau nggak datang demikian salah satu instruksi istri, saat saya baru pulang kerja di akhir pekan. Malu, katanya senantiasa. Ia tidak bertanya apakah saya bersedia hadir, apakah saya letih, atau apakah saya mempunyai acara lain pada hari tersebut. Segala ketentuan berada ditangannya. Leksia diatas digolongkan dalam kode pembacaan hermeneutik, hal ini dikarenakan melalui kalimat tersebut terdapat suatu kesinambungan antara pemunculan suatu teka-teki yaitu kalimat Lusa kita pergi ke pernikahan saudaraku, ya. dan kalimat ia tidak bertanya apakah saya bersedia hadir, apakah saya letih, atau apakah saya mempunyai acara lain pada hari tersebut dan penyelesaian dalam suatu cerita yaitu kalimat Kan malu kalau nggak datang dan kalimat Segala ketentuan berada ditangannya

__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

214

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

Dari leksia tersebut dapat diartikan bahwa terdapat perilaku kekerasan yaitu kekerasan psikis. Karena dalam leksia tersebut menunjukkan adanya perilaku kekerasan yang dapat menyebabkan hilangnya rasa percaya diri dan hilangnya kemampuan untuk bertindak atau tidak berdaya yaitu, tindakan istrinya yang membuat Genting tidak berdaya atau tidak mampu bertindak, sehingga ia menuruti kata-kata istrinya. Dari leksia diatas peneliti melihat bahwa istri Genting lebih mendominasi atau lebih berkuasa, karena ia sama sekali tidak peduli dengan pendapat Genting. Pada saat membicarakan acara pernikahan saudaranya beberapa hari lagi, istrinya sudah menginstruksikan Genting untuk wajib datang. Meskipun saat itu Genting baru saja pulang kerja, seharusnya istrinya membicarakan masalah itu nanti saja setelah Genting melepas lelah. Ia tidak peduli apakah Genting bersedia hadir, kecapekan atau punya acara lain, yang ia pedulikan hanya dirinya sendiri dan pendapat orang lain. Ia tidak mau terlihat tidak peduli dengan kepentingan keluarga, tapi ia malah tidak peduli dengan pendapat dan perasaan suami sendiri. Semua keputusan berada ditangannya, apa yang dia inginkan dan kehendaki harus dituruti oleh Genting. Leksia 5 (halaman 4) Suami saya ini senangnya di rumah terus, kayak anak perempuan lagi dipingit, ceracaunya kepada orang-orang itu, yang kontan memandang saya dengan sorot mata keheranan. Padahal datang ke undangan seperti ini kan perlu juga, biarpun harus saya seret-seret. Pokoknya supaya nggak kuper! Leksia diatas digolongkan dalam kode pembacaan hermeneutik, karena melalui kalimat tersebut dapat mempertajam masalah yaitu, ucapan istrinya yang menunjukkan bahwa dia sama sekali tidak menghormati dan menghargai Genting bahkan ia tidak segan-segan untuk mempermalukan suaminya didepan umum. Dari kalimat Suami saya ini senangnya di rumah terus, kayak anak perempuan lagi dipingit dapat
__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

215

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

diartikan bahwa terdapat perilaku kekerasan yaitu kekerasan psikis. Karena leksia tersebut menunjukkan perilaku kekerasan yang dapat menyebabkan hilangnya rasa percaya diri dan hilangnya kemampuan untuk bertindak/ tidak berdaya yaitu, perkataan yang diucapkan oleh istrinya didepan orang banyak membuat Genting malu, tidak berdaya atau tidak mampu bertindak. Dari kalimat ceracaunya kepada orang-orang itu, yang kontan memandang saya dengan sorot mata keheranan terlihat bahwa perilaku kekerasan tersebut dilakukan oleh istri Genting didepan umum atau orang banyak. Istri Genting tidak segan-segan untuk mempermalukan Genting meskipun didepan orang banyak, bahkan ia tidak perduli betapa malunya Genting saat orang-orang diruangan tersebut memandang Genting dengan sorot mata keheranan. Pada kalimat tersebut peneliti melihat bahwa istri Genting mengucapkan kata-kata yang seharusnya tidak pantas diucapkan oleh seorang istri pada suami, apalagi dilakukan didepan umum. Peneliti melihat bahwa istri Genting sama sekali tidak menghormati dan menghargai suaminya. Sebenarnya sebagai seorang istri ia wajib untuk menghormati dan menghargai suaminya sebagai kepala rumah tangga. Dari kalimat yang diucapkan oleh istri Genting Padahal datang ke undangan seperti ini kan perlu juga, biarpun harus saya seret-seret. Pokoknya supaya nggak kuper!... dapat diartikan bahwa Genting sangat sulit untuk diajak ke acara-acara seperti itu, dan istrinya sampai harus memaksa Genting untuk datang. Hal ini dilakukan agar Genting tidak kuper (kurang pergaulan) dan bisa berinteraksi atau bergaul. Sebenarnya maksud istrinya untuk memperkenalkan dan membiasakan Genting bergaul agar Genting mudah berinteraksi dengan orang lain sangat baik. Tapi yang salah adalah istrinya membicarakan hal tersebut dihadapan orang banyak sehingga malah meremehkan dan mempermalukan Genting. Leksia 10 (halaman 7) Saya tak berkutik. Sayalah yang lemah, bukan istri. Yang mampu saya lakukan tak lain dari berdiam diri.
__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

216

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

Memendam kekecewaan dan kekesalan dalam batin, kadang-kadang terbawa dalam mimpi, sekaligus menahan bibir agar tetap terkunci sesuai kehendak istri saya. Leksia diatas digolongkan dalam kode pembacaan hermeneutik, karena dalam kalimat yang disampaikan oleh Genting tersebut kita bisa melihat bahwa ini adalah klimaks dari kisah yang diceritakan oleh Genting. Genting merasa benar-benar lemah dihadapan istrinya. Ia hanya bisa memendam kekecewaan dan kekesalan dalam hati, sampai-sampai kekecewaan dan kekesalan tersebut terbawa dalam mimpi. Dari kalimat Saya tak berkutik. Sayalah yang lemah, bukan istri dapat diartikan bahwa terdapat perilaku kekerasan yaitu kekerasan psikis. Karena dalam leksia tersebut menunjukkan adanya perilaku kekerasan yang menyebabkan hilangnya rasa percaya diri atau hilangnya kemampuan untuk bertindak yaitu, tindakan yang telah dilakukan oleh istri Genting selama ini membuat Genting tidak berkutik, yang hanya bisa ia lakukan adalah memendam kekecewaan dan kekesalan dalam hati. Dari leksia diatas peneliti melihat bahwa meskipun Genting mendapatkan perilaku yang tidak sepantasnya dari istrinya, yang bisa ia lakukan hanya diam sesuai dengan keinginan istrinya, ia tidak bisa melakukan apa-apa. Dari kalimat tersebut terlihat bahwa istri Genting mempunyai kekuatan yang lebih dari suaminya dalam rumah tangga dan Genting hanya bisa memendam kekecewaan dan kekesalan pada perilaku istrinya dalam hati. Karena seringnya memendam kemarahan, kadang-kadang kemarahannya tersebut sampai terbawa dalam mimpi. Peneliti melihat bahwa Genting adalah seseorang yang mempunyai karakteristik yang sabar. Meskipun demikian Genting tidak begitu saja melupakan tindakan-tindakan istrinya yang sudah dilakukan padanya. Walaupun ia berusaha untuk memendam kekecewaan dan kemarahan pada istrinya, tetapi alam bawah sadarnya tidak bisa membohongi
__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

217

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

perasaannya, sampai terkadang hal-hal tersebut terbawa dalam mimpi. Leksia 11 (halaman 8) Usia saya belum genap lima tahun saat itu. Namun hampir setiap hari saya menyaksikan Ibu melempari Ayah dengan perabot rumah tangga. Kalau sedang marah, Ibu membanting gelas dan piring seraya berteriak-teriak tanpa dapat Ayah hentikan. Suara barang pecah sudah sangat akrab di telinga saya. Leksia diatas digolongkan dalam kode pembacaan hermeneutik, karena dalam leksia tersebut terdapat kalimat yang menunjukkan ketegangan situasi pada saat itu. Dari kalimat inilah bisa dilihat bahwa pada saat masih kecil ia sering sekali melihat ibunya melakukan tindakan kekerasan pada ayahnya. Dari leksia tersebut dapat diartikan bahwa terdapat perilaku kekerasan yaitu kekerasan fisik dan psikis. Karena dalam leksia tersebut menunjukkan adanya perilaku kekerasan yang dapat menyebabkan luka, rasa sakit, hilangnya rasa percaya diri atau hilangnya kemampuan untuk bertindak yaitu, tindakan yang telah dilakukan oleh ibu Genting pada ayahnya saat ia masih kecil menyebabkan rasa sakit dan menyebabkan ketakutan, tidak berdaya atau tidak mampu bertindak. Dari leksia tersebut peneliti melihat bahwa kekerasan yang terjadi terhadap suami oleh istri dalam lingkup rumah tangga akan berdampak negatif bagi semua pihak dalam rumah tangga. Semua pihak keluarga akan turut merasakan dampak buruk dari suatu perbuatan yang dilarang. Sehingga timbul ketidakamanan atau ketidakadilan terhadap orang yang berada dalam lingkup rumah tangga, yang termasuk didalamnya adalah suami. Terganggunya psikologis anak juga turut diakibatkan oleh kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan istri. Keharmonisan dalam rumah tangga oleh suami dan istri mempengaruhi tumbuh kembangnya psikologi anak. Bahkan hal ini juga bisa terbawa sampai
__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

218

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

ia dewasa nanti. Anak akan menjad pribadi yang tertutup, tidak mudah bergaul dengan orang lain, pendiam dan tidak berani mengungkapkan pendapatnya.

b. Kode Semik Leksia 1 (halaman 3) Sebagai laki-laki, saya kerap merasa tidak berdaya. Tidak punya kekuatan apa-apa. Bahkan lidah saya kelu setiap kali bermaksud mencetuskan keinginan agar istri saya tidak membongkar isi dapur rumah tangga kami kepada kerabat, teman, atau anggota keluarga yang lain. Leksia diatas digolongkan dalam kode pembacaan semik, hal ini dikarenakan terdapat kata-kata konotasi yang melekat pada satu nama tertentu, yaitu isi dapur. Kata-kata tersebut biasanya digunakan pada suatu benda, tetapi dalam buku ini kata-kata tersebut digunakan untuk menyatakan rahasia atau masalah rumah tangga. Pada umumnya kata isi dapur biasa kita gunakan untuk menyebutkan benda-benda yang ada dalam rumah tepatnya di dapur yang bisa digunakan untuk memasak, dan setiap rumah memiliki isi dapur yang berbeda-beda. Tapi, dalam leksia ini yang dimaksud dengan isi dapur adalah rahasia atau masalah rumah tangga yang dimiliki oleh suami-istri. Dari kalimat Sebagai laki-laki, saya kerap merasa tidak berdaya. Tidak punya kekuatan apa-apa dapat diartikan bahwa terdapat perilaku kekerasan yaitu kekerasan psikis. Karena dalam leksia tersebut menunjukkan adanya perilaku kekerasan yang dapat menyebabkan hilangnya rasa percaya diri atau hilangnya kemampuan untuk bertindak yaitu, tindakan istrinya yang membongkar rahasia rumah tangganya pada orang lain tidak dapat dicegah oleh Genting. Dari leksia tersebut diatas peneliti bisa melihat bahwa tokoh utama yaitu Genting sering kali terlihat
__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

219

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

lemah dan tidak berdaya dihadapan istrinya. Ia tidak mempunyai kekuatan dan tidak bisa melakukan apa-apa ketika istrinya menceritakan rahasia rumah tangganya dihadapan orang banyak. Dari kalimat Bahkan lidah saya kelu setiap kali bermaksud mencetuskan keinginan agar istri saya tidak membongkar isi dapur rumah tangga kami dapat diartikan bahwa Genting benarbenar tidak bisa mencegah atau berbuat apa-apa agar istrinya tidak menceritakan rahasia rumah tangganya. Padahal suatu rahasia rumah tangga tidak baik untuk diceritakan pada orang lain. Seharusnya suami-istri bisa menjaga apa yang menjadi rahasia dalam rumah tangganya. Leksia 6 (halaman 4) Masya Allah. Senyum masam dan lirikan saya kurang ampuh untuk membuat istri saya merendahkan volume suaranya. Ia tak sedikitpun menghargai pengorbanan saya. Leksia diatas digolongkan dalam kode pembacaan semik, hal ini dikarenakan terdapat kata-kata konotasi yang melekat pada satu nama tertentu, yaitu senyum masam. Kata-kata tersebut biasanya digunakan pada suatu benda, tetapi dalam buku ini katakata tersebut digunakan untuk menyatakan kekecewaan atau kesedihan terhadap tindakan seseorang. Pada umumnya kata masam gunakan untuk menggambarkan suatu rasa tertentu ketika kita menikmati makanan. Dalam leksa ini kata masam diikuti dengan kata senyum. Sehingga yang dimaksud dengan kata masam disini berarti senyum terpaksa yang tidak enak dilihat, yang menunjukkan kekecewaan atau kesedihan terhadap tindakan seseorang. Dari kalimat Senyum masam dan lirikan saya kurang ampuh untuk membuat istri saya merendahkan volume suaranya dapat diartikan bahwa terdapat perilaku kekerasan yaitu kekerasan psikis. Karena dalam leksia tersebut menunjukkan adanya perilaku kekerasan yang dapat menyebabkan hilangnya rasa percaya diri atau hilangnya kemampuan untuk bertindak yaitu tindakan yang sudah dilakukan oleh istrinya didepan
__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

220

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

banyak orang membuat Genting malu, tidak berdaya atau tidak mampu bertindak. Dari leksia tersebut kita bisa melihat bahwa apa yang sudah dilakukan oleh Genting sedikitpun tidak dihargai oleh istrinya. Walaupun ia sudah menuruti keinginan istrinya untuk datang ke acara tersebut, tetap saja istrinya tidak menghargai dan menghormati pengorbanan yang sudah Genting lakukan. Meskipun Genting sudah menunjukkan senyum masam atau senyum dengan terpaksa tapi tidak mampu membuat istrinya merendahkan volume suaranya. Istrinya tetap menghina dan meremehkan Genting didepan umum dengan suara yang tinggi, sehingga kata-kata istrinya bisa didengar oleh orang banyak. Leksia 7 (halaman 5) Akan tetapi pemikiran yang susah payah saya suntikan dalam otak dan hati itu luntur dalam sekejap tatkala melihat kartu nama yang khusus dipesankan istri untuk kami berdua. Disana tercetak jelas gelar kebangsawanan istri (kebetulan memang ia berdarah biru) dan titel kesarjanaan kami masing-masing. Tidakkah perbuatan istri saya akan membuat orangorang yang membacanya mencibir atau malah tertawa, selain tersinggung dan menilai kami angkuh. Seperti biasa, argumen saya ditolak mentah-mentah oleh istri. Leksia diatas digolongkan dalam kode pembacaan semik, hal ini dikarenakan terdapat sejumlah konotasi yang melekat pada satu nama tertentu, yaitu susah payah saya suntikan dalam otak dan hati itu luntur.. Kata-kata tersebut biasanya digunakan pada suatu benda, tetapi dalam buku ini kata-kata tersebut digunakan untuk menyatakan kekecewaan. Pada umumnya yang dimaksud dengan kata suntikan adalah memasukkan cairan kedalam tubuh atau benda. Sedangkan kata luntur adalah hilang atau pudarnya warna tertentu pada suatu benda. Tapi, yang dimaksud dengan leksia tersebut dalam buku ini yaitu, pemikiran positif yang sudah dimasukkan dan tertanam dalam hati dan otak Genting terhadap sikap istrinya yang
__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

221

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

berusaha memberi hadiah uang dalam jumlah yang memadai hilang setelah ia melihat gelar dan titel pada kartu nama yang sudah dipesankan oleh istrinya. Dari kalimat Seperti biasa, argumen saya ditolak mentah-mentah oleh istri dapat diartikan bahwa terdapat perilaku kekerasan yaitu kekerasan psikis. Karena dalam leksia tersebut menunjukkan adanya perilaku kekerasan yang dapat menyebabkan hilangnya rasa percaya diri atau hilangnya kemampuan untuk bertindak yaitu, tindakan istrinya yang terlalu menunjukkan gelar dan titel pada orang membuat Genting malu, tidak berdaya atau tidak mampu bertindak. Dari leksia tersebut peneliti melihat bahwa pemikiran positif yang sudah tertanam dalam benak Genting tentang istrinya yang berusaha memberi hadiah uang dalam jumlah yang memadai, hilang setelah ia melihat gelar dan titel mereka berdua pada kartu nama yang sudah dipesankan oleh istrinya. Karena ternyata istrinya memberi hadiah tersebut adalah untuk menunjukkan atau memamerkan pada orang-orang tentang gelar kebangsawanan istrinya dan titel kesarjanaan mereka berdua. Dan ini juga yang menjadi alasan kenapa istrinya memberi hadiah dalam jumlah yang besar, karena jika ia memberi hadiah dalam jumlah kecil ia akan merasa malu. Dalam leksia tersebut terlihat bahwa Genting sudah berusaha untuk memberi nasehat pada istrinya agar tidak pamer, karena Genting takut kalau tindakan istrinya tersebut malah ditertawakan orang atau menilai mereka angkuh. Tetapi, pendapat yang disampaikan oleh Genting ditolak mentah-mentah oleh istrinya. Seharusnya sebagai seorang istri ia harus menuruti apa yang dikatakan oleh suaminya. Meskipun pendapat tersebut tidak sesuai dengan pendapat istri, tetapi seorang istri seharusnya dapat menolak pendapat tersebut dengan halus. Leksia 9 (halaman 7) Mau tak mau batin ini lelah juga. Bila saya membuka diskusi seputar perkuliahan dengan istri, ia
__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

222

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

menganggapnya angin lalu. Lain halnya jka ia sedang ingin berkeluh kesah tentang rekan kerja, anggota keluarga (baik keluarga saya maupun keluarganya sendiri), atau tetangga. Saya harus siap membuka mata dan telinga. Mulut tak diperlukan. Kalau saya menguap, ia akan sangat marah. Leksia diatas digolongkan dalam kode pembacaan semik, hal ini dikarenakan terdapat kata-kata konotasi yang melekat pada satu nama tertentu, yaitu angin lalu. Kata-kata tersebut biasanya digunakan untuk menunjukkan situasi alam, tetapi dalam buku ini yang dimaksud dengan kata-kata tersebut adalah apa yang dibicarakan atau diceritakan oleh genting tidak pernah dianggap oleh istrinya. Dari kalimat Mau tak mau batin ini lelah juga. Bila saya membuka diskusi seputar perkuliahan dengan istri, ia menganggapnya angin lalu. dapat diartikan bahwa terdapat perilaku kekerasan yatu kekerasan psikis. Karena dalam leksia tersebut menunjukkan adanya perilaku kekerasan yang dapat menyebabkan hilangnya rasa percaya diri atau hilangnya kemampuan untuk bertindak yaitu, sikap istrinya yang tidak pernah mau menghiraukan apa yang sedang dirasakan oleh Genting. Dari leksia tersebut peneliti melihat bahwa meskipun Genting berusaha terus sabar dan menuruti keinginan istrinya, sebagai manusia biasa lama-lama Genting juga bisa merasa capek dan lelah dengan sikap istrinya tersebut. Apa yang ingin disampaikan oleh Genting tidak pernah dihiraukan atau dianggap oleh istrinya, padahal saat itu Genting ingin berbagi atau berdiskusi tentang masalah kuliahnya pada istrinya. Lain halnya jika istrinya yang ingin berkeluh kesah, Genting harus siap membuka mata dan telinga. Pendapat Genting tidak diperlukan. Dan jika Genting terlihat capek, istrinya akan sangat marah. Padahal yang diceritakan oleh istrinya tersebut adalah tentang rekan kerja, anggota keluarga (baik keluarga saya maupun keluarganya sendiri), atau tetangga. Sebenarnya ceritacerita tersebut tidak terlalu penting untuk hubungan mereka berdua, malah ungkapan hati dan cerita-cerita
__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

223

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

Genting tidak dihiraukan. Padahal yang mendorong Genting agar melanjutkan pendidikan S2 adalah istrinya. c. Kode Simbolik Leksia 3 (halaman 4) Kadang-kadang saya memaksakan diri kendati tidak mengenal tamu-tamu lainnya. Istri saya menarik tangan saya kesana-kemari, memperkenalkan dengan para tamu undangan dan mengajak basabasi namun yang saya lakukan hanya tersenyum atau mengangguk-angguk. Leksia diatas digolongkan dalam kode pembacaan simbolik, hal ini dikarenakan terdapat katakata yang diulang-ulang yang mempunyai pembedaan dalam taraf bunyi, yaitu kesana-kemari. Dari kalimat Istri saya menarik tangan saya kesana-kemari dapat diartikan bahwa terdapat perilaku kekerasan yaitu kekerasan fisik dan psikis. karena dalam leksia tersebut menunjukkan adanya perilaku kekerasan yang berbentuk fisik atau melibatkan fisik selain itu tindakan istrinya tersebut dapat menyebabkan rasa malu, tidak mampu bertindak atau tidak berdaya yaitu, tindakan yang dilakukan oleh istrinya yang memaksa dan mengajak Genting kesana-kemari untuk berkenalan dan berbasa-basi dengan tamu membuat Genting tidak berdaya dan hanya bisa tersenyum atau mengangguk-angguk. Leksia diatas bisa diartikan bahwa Genting dipaksa oleh istrinya untuk memperkenalkan diri pada para tamu. Bahkan, istrinya memperkenalkan Genting pada seluruh tamu yang ada diruangan tersebut dan mengajak mereka basa-basi. Disini peneliti melihat bahwa walaupun dengan sedikit memaksakan diri untuk mengenal para tamu di acara tersebut, tetapi Genting berusaha untuk selalu tersenyum dan menganggukangguk. Ini dilakukan untuk menghormati keinginan istrinya dan agar istrinya tidak marah dan membuatnya malu didepan umum. Leksia 8 (halaman 6)
__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

224

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

Dukungan di segi moril, yang lebih saya harapkan, tidak diberikannya. Istri saya seperti tak mau tahu jungkir balik suaminya merampungkan tugas-tugas di kantor sekaligus menyelesaikan studi dengan nilai memuaskan. Leksia diatas digolongkan dalam kode pembacaan simbolik, hal ini dikarenakan terdapat katakata yang diulang-ulang yang mempunyai pembedaan dalam taraf bunyi, yaitu jungkir balik. Leksia diatas bisa diartikan bahwa istri Genting hanya mendukung dari segi materi, sedangkan dukungan dari segi moril yang lebih diharapkan oleh Genting tidak diberikan. Bahkan istrinya seperti tidak mau tahu kerja keras Genting untuk merampungkan tugas-tugas di kantor sekaligus menyelesaikan studi dengan nilai memuaskan. Dari kalimat Dukungan di segi moril, yang lebih saya harapkan, tidak diberikannya dapat diartikan bahwa terdapat perilaku kekerasan yaitu kekerasan psikis. Karena dalam leksia tersebut menunjukkan adanya perilaku kekerasan yang dapat menyebabkan hilangnya rasa percaya diri atau hilangnya kemampuan untuk bertindak yaitu, dukungan yang lebih diharapkan oleh Genting tidak diberikan oleh istrinya, sehingga membuat Genting kecewa. Dari leksia tersebut bisa dilihat bahwa sebenarnya Genting kecewa pada istrinya. Karena istrinya tidak mau tahu kerja keras dan pengorbanan yang sudah dilakukan oleh Genting selama ini yaitu merampungkan tugas-tugas di kantor sekaligus menyelesaikan studi dengan nilai yang memuaskan. Yang dipikirkan oleh istrinya adalah bagaimana Genting bisa melanjutkan kuliah S2 meski istrinya harus merelakan sebagian besar tabungannya dengan maksud tertentu yaitu unsur gengsi. Selama ini yang diberikan oleh istrinya adalah dukungan dari segi materi saja, padahal yang lebih diharapkan Genting dari istrinya adalah dukungan moril tetapi ini tidak diberikan oleh istrinya. Peneliti melihat bahwa karena karier istri Genting yang lebih bagus dan penghasilannya lebih
__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

225

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

besar untuk membiayai Genting, maka istrinya merasa berkuasa dan seenaknya pada suami sehingga tidak perlu lagi memberikan dukungan moril. Hal ini terjadi karena istri Genting merasa mempunyai kuasa atas Genting. Kekerasan sering dilakukan oleh orang-orang yang dianggap lebih kuat, atau yang lebih dominan dan memiliki otoritas tertentu. Mereka yang memiliki wewenang lebih itu cenderung akan melakukan kekerasan bila merasa wewenang mereka ada yang melanggar, tidak dipatuhi. d. Kode Proaretik Leksia 4 (halaman 4) Kalau sampai istri tahu bahwa saya bosan dan datang ke acara itu dengan setengah hati, ia tidak segan melotot atau mencubit lengan saya keraskeras. Sakitnya mampu saya tahan. Tapi malunya tak terkira, karena ia lakukan itu di depan orang banyak. Leksia diatas digolongkan dalam kode pembacaan proaretik, hal ini dikarenakan terdapat tindakan-tindakan yang membuahkan dampak-dampak. Dari leksia tersebut kita bisa melihat bahwa jika sampai istrinya tahu kalau ia bosan dan datang ke acara tersebut dengan setengah hati. Istrinya tidak akan segan-segan untuk melotot atau mencubit lengannya keras-keras. Dari kalimat ia tidak segan melotot atau mencubit lengan saya keras-keras. dapat diartikan bahwa terdapat perilaku kekerasan yaitu kekerasan fisik dan psikis. Karena dalam leksia tersebut menunjukkan adanya perilaku kekerasan yang dapat menyebabkan luka, rasa sakit dan juga hilangnya rasa percaya diri atau hilangnya kemampuan untuk bertindak yaitu, tindakan istrinya melotot dan mencubit lengan Genting keraskeras dapat menyebabkan rasa sakit dan mengakibatkan rasa malu karena hal itu dilakukan didepan orang banyak.

__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

226

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

Dari leksia tersebut diatas peneliti melihat bahwa Genting berusaha untuk menutupi apa yang dirasakan di depan istrinya dan tamu undangan. Dia berusaha agar tidak terlihat bosan meskipun datang ke acara tersebut dengan setengah hati. Hal ini dilakukan karena jangan sampai istrinya tahu apa yang Genting rasakan, jika sampai istrinya tahu kalau ia bosan datang ke acara tersebut, istrinya tidak akan segan untuk melotot atau bahkan mencubit lengan Genting keras-keras. Yang dimaksud dengan setengah hati disini adalah sebenarnya Genting senang jika diundang dan bisa datang ke acara-acara seperti itu, tapi tindakantindakan istrinyalah yang kadang membuat dia malu dan tidak berdaya dihadapan orang banyak. Misalnya seperti tindakan istrinya yang tidak malu-malu untuk mencubit lengan Genting keras-keras. Genting tidak mampu untuk mengungkapkan kemarahannya meskipun apa yang dilakukan istrinya tersebut membuat Genting kesakitan. Sakit yang dirasakan akibat cubitan itu bisa ditahan, tapi rasa malunya tidak bisa ditahan karena istrinya melakukannya didepan orang banyak. e. Kode Gnomik Leksia 12 (halaman 8) Ayah tak pernah melawan, tak pernah membalas rumah tangganya langgeng hingga kini. Yang terpenting bagi seorang laki-laki, yang telah berstatus suami, ialah tanggung jawab dan komitmen. Istri saya adalah pilihan saya sendiri, maka saya akan terima semua konsekuensi atas keputusan itu. Leksia diatas digolongkan dalam kode pembacaan gnomik, dimana kode pembacaan ini berisi tentang pengetahuan maupun kearifan (wisdom). Hal ini dapat dilihat dari sifat tokoh Genting yang ia peroleh sejak masih kanak-kanak dari orang tuanya. Suatu sifat yang sudah tertanam dalam benaknya yang tanpa disadari ia contoh dari ayahnya, yaitu suatu ajaran bahwa yang terpenting bagi seorang suami adalah tanggung jawab dan komitmen.

__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

227

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

Dari kalimat Ayah tak pernah melawan, tak pernah membalas rumah tangganya langgeng hingga kini. dapat diartikan bahwa terdapat perilaku kekerasan yaitu kekerasan psikis. Karena dalam leksia tersebut menunjukkan adanya perilaku kekerasan yang dapat menyebabkan hilangnya rasa percaya diri atau hilangnya kemampuan untuk bertindak yaitu, tindakan kekerasan yang dilakukan oleh ibunya kepada ayahnya dulu membuat ayahnya tidak berdaya dan tidak mampu bertindak. Dari leksia tersebut peneliti melihat bahwa secara tidak langsung Genting mencontoh tindakan yang dilakukan oleh orang tuanya dulu saat ia masih kecil. Dulu ia sering sekali melihat kekerasan yang dilakukan oleh ibunya pada ayahnya, saat itu ia masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang terjadi. Yang ia tahu dari pertengkaran tersebut ayahnya selalu tidak pernah melawan atau membalas apa yang sudah ibunya lakukan pada ayahnya. Dan sifat seperti inilah yang sampai sekarang dicontoh oleh Genting. Ia lebih baik diam dan mengalah apabila terjadi perdebatan atau pertengkaran dengan istri, sifat ini yang membuat ia lemah dihadapan istrinya. Menurut Genting yang paling penting adalah ia bisa memenuhi tanggung jawab dan komitmen sebagai suami yaitu setia pada pasangan dan bekerja untuk menafkahi istrinya meskipun penghasilannya tidak lebih besar dari istrinya. Dari leksia tersebut kita bisa melihat bahwa ketidak harmonisan atau kekerasan dalam rumah tangga mempunyai efek yang negatif, baik untuk korban dari kekerasan tersebut yang mengakibatkan kesengsaraan secara fisik, seksual, ekonomi, ancaman psikologis termasuk perampasan kemerdekaan secara sewenangwenang. Dan juga terganggunya psikologis anak juga turut diakibatkan oleh kekerasan dalam rumah tangga. Keharmonisan dalam rumah tangga oleh suami dan istri mempengaruhi tumbuh kembangnya psikologi anak.

6.

Kesimpulan dan Saran a. Kesimpulan


__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

228

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

Kekerasan yang dilakukan wanita terhadap lakilaki dalam buku Lelaki yang Menangis karya Rini Nurul Badariah dalam kisah Wanita Bukan Makhluk yang Lemah adalah kekerasan fisik dan psikis.

b. Saran Kekerasan yang dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan yang terjadi dalam lingkup rumah tangga akan berdampak negatif bagi semua pihak dalam rumah tangga, terutama berpengaruh terhadap psikologis anak. Daftar Pustaka Badariah, Rini Nurul, 2007. Lelaki yang Menangis. Jakarta : Akar Media. Budiman, Kris, 2003. Semiotika Visual. Yogyakarta : Buku Baik. , 2005. Ikonisitas Semiotika Sastra dan Seni Visiual. Yogyakarta : Buku Baik. Cangara, Hafid, 2005. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. Eriyanto, 2001. Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta : LKiS. Fakih, Mansour, 1996. Analisis Gender Dan Transformasi Sosial. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Fiske, John, 2004. Cultural and Communication Studies Sebuah Pengantar Paling Komprehensif. Bandung : Jala Sutra. Fokusmedia, 2004. Himpunan Peraturan PerUndang-Undangan tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Bandung : Fokusmedia. Fromm, Erich, 2007. Cinta, Seksualitas, dan Matriarkhi: Kajian Komprehensif tentang Gender. Yogyakarta & Bandung : Jalasutra. Hidayat, Asep Ahmad, 2006. Filsafat Bahasa. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. Kurniawan, 2001. Semiologi Roland Barthes. Jakarta : Yayasan Indonesiatera. Maleong, Lexy J, 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. McQuail, Denis, 1987. Teori Komunikasi Massa : Suatu Pengantar. Jakarta : Erlangga.
__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

229

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

Mosse,

Julia Cleves, 1996. Gender & Pembangunan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Mufidah Ch., M. Ag., 2004. Paradigma Gender. Malang : Banyu Media Publishing. Pateda, Mansoer, Prof. 2001. Semantik Leksikal. Jakarta : Rineka Cipta. Poerwadarminta, WJS, 1999. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Departemen Pendidikan. Purwanto, Andrik, 2003. Komunikasi Multikultural. Surakarta : Muhammadiyah University Press. Putranto, Hendar, dan Sutrisno, Mudji, 2005. Teori-Teori Kebudayaan. Yogyakarta : Kanisius. Ratna, K. Nyoman, 2003. Paradigma sosiologi Sastra. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Ridwan, M. Ag., 2006. Kekerasan Berbasis Gender. Purwokerto : Pusat Studi Gender (PSG). Saputra, Lyndon, 2003. Masa Depan Media. Batam Centre : Lucky Publishers. Saraswati, Rika, 2006. Perempuan dan Penyelesaian Kekerasan dalam Rumah Tangga. Bandung : PT. Citra Sditya Bakti Sobur, Alex, 2001. Analisis Teks Media. Bandung : Remaja Rosda Karya. , 2004. Semiotika Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung : Remaja Rosda Karya. Soekanto, Soerjono, Prof., Dr., SH., MA., 1993. Kamus Sosiologi. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. Subekti, R., dan Tjitrosudibio, R., 1996. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Jakarta : PT. Pradnya Paramita. Sunardi, St, 2002. Semiotika Negativa. Yogyakarta : Buku Baik. Segars, Rien T., 2000. Evaluasi Teks Sastra. Yogyakarta : Adicita Karya Nusa. INTERNET : http://www.drirene.com/abused husband.htm http://www.kunci.or.id/esai/nws/04/representasi.htm http://www.mtoomey.com/verbalabusers.html http://www.sekitarkita.com/glossary.php http://www.wikipedia.org/wiki/matrilineal.htm
__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

230

KomMTi Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

231