Anda di halaman 1dari 40

Pilih Obat Generik atau Kena Sanksi ?

Sabtu, 30 Januari 2010 | 20:38 WIB

kompas.com/Josephus Primus JAKARTA, KOMPAS.com - Fasilitas pelayanan kesehatan milik pemerintah kini wajib menggunakan obat generik. Untuk kebutuhan Puskesmas dan Unit Pelaksana Teknis (UPT), maka Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi dan Kabupaten/Kota wajib menyediakan obat esensial dengan nama generik sesuai kebutuhan. Ketentuan ini diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. HK.02.02/MENKES/068/I/2010 tanggal 14 Januari 2010. Kepala Pusat Komunikasi Publik Departemen Kesehatan dr Lily S Sulistyowati MM mengungkapkan, hal itu merupakan implementasi program 100 Hari Kementerian Kesehatan. Dalam 100 Hari terdapat 4 program di antaranya peningkatan kesehatan masyarakat untuk mempercepat pencapaian target MDGs (Millenium Development Goals). Salah satu rencana aksinya adalah Revitalisasi Permenkes tentang kewajiban menuliskan resep dan menggunakan obat generik di sarana pelayanan kesehatan pemerintah. Dalam Permenkes disebutkan, dokter (yang mencakup dokter, dokter gigi, dokter spesialis dan dokter gigi spesialis) yang bertugas di fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah wajib menulis resep obat generik bagi semua pasien sesuai indikasi medis. "Dokter dapat menulis resep untuk diambil di Apotek atau di luar fasilitas pelayanan kesehatan jika obat generik tidak tersedia di fasilitas pelayanan kesehatan," katanya dalam rilis yang dikirimkan kemarin. Dokter di RS atau Puskesmas dan UPT lainnya dapat menyetujui pergantian resep obat generik dengan obat generik bermerek/bermerek dagang jika obat generik tersebut belum tersedia. Apoteker dapat mengganti obat merek dagang/obat paten dengan obat generik yang sama komponen aktifnya atau obat merek dagang lain atas persetujuan dokter dan/atau pasien.

Instalasi farmasi rumah sakit wajib mengelola obat di rumah sakit secara berdaya guna dan berhasil guna. Juga wajib membuat prosedur perencanaan, pengadaan, penyimpanan, pendistribusian dan pemantauan obat yang digunakan fasilitas pelayanan kesehatan. Untuk pembinaan dan pengawasan, Pemprov dapat memberi peringatan lisan atau tertulis kepada dokter, tenaga kefarmasian dan pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan dalam Peraturan Menteri ini. ================================

Depkes Kembali Rasionalisasi Harga Obat Generik


Rabu, 10 Februari 2010 | 15:40 WIB

shutterstock KOMPAS.com - Departemen Kesehatan RI kembali melakukan penilaian dan rasionalisasi harga obat generik. Setiap pabrik obat atau pedagang besar farmasi dalam menyalurkan obat generik kepada pemerintah, rumah sakit, apotek dan saranan pelayanan kesehatan harus menggunakan harga netto apotek (HNA) ditambah PPN sebagai harga patokan tertinggi. Keputusan tersebut tertuang dalam keputusan Menteri Kesehatan No.HK.03.01/Menkes/146 /I/2010 tanggal 27 Januari 2010 tentang Harga Obat Generik. Jenis obat generik yang ditetapkan harganya dalam keputusan ini meliputi 453 item, antara lain mencakup penurunan harga terhadap 106 item, kenaikan harga terhadap 33 item, sisanya 314 item dengan harga tetap. Dalam melayani penyerahan obat generik, apotek rumah sakit dan sarana pelayanan kesehatan lain wajib menggunakan Harga Eceran Tertinggi (HET) sebagai harga patokan tertinggi. Misalnya Antimigren harga HNA+PPN Rp 10.280,- dan HET sebesar Rp 12.850,-. Selama ini telah terjadi kekosongan obat di unit pelayanan kesehatan di wilayah

Indonesia Timur dan Nangroe Aceh Darussalam. Sebagian besar obat generik yang tidak tersedia adalah obat yang bersifat "fast moving" dan "life saving". Dalam siaran persnya, Kepala Pusat Komunikasi Publik, Drg.Tritarayati, menyatakan obat generik yang tidak tersedia di pasar utamanya adalah obat dalam bentuk sediaan injeksi, sirup dan sediaan cairan infus yang membutuhkan biaya distribusi yang tinggi, khususnya ke wilayah Indonesia Tengah dan Timur. Karena itu, untuk menjamin ketersediaan dan pemerataan obat generik di seluruh wilayah Indonesia, pabrik obat atau pedagang besar farmasi boleh menambahkan biaya distribusi maksimum 5 % untuk regional II, 10 % untuk regional III dan 20 % untuk regional IV. Regional I meliputi Pulau Jawa, Bali, Lampung dan Banten, regional II meliputi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau dan Kepualauan Riau, Sumatera Selatan, Bangka Belitung dan Nusa Tenggara Barat. Regional II mencakup Provinsi NAD, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat dan Gorontalo. Regional IV meliputi Provinsi Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat. =======================

Obat Generik Diabaikan


Senin, 22 Februari 2010 | 10:06 WIB

shutterstock Jakarta, Kompas - Pemerintah menegaskan, dokter yang bertugas di fasilitas pelayanan pemerintah wajib menuliskan resep obat generik bagi semua pasien sesuai indikasi medis. Namun, kewajiban ini kerap tak dipatuhi. Obat generik yang kualitasnya sudah teruji dan harganya murah sering diabaikan.

Kewajiban ini tertuang secara tegas dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes /068/I/2010 tentang Kewajiban Menggunakan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah. Namun, dalam pemantauan Kompas di sejumlah puskesmas dan rumah sakit milik pemerintah pusat dan pemerintah daerah, kewajiban ini banyak dilanggar. Pasien kerap mendapatkan resep obat bernama dagang dari dokter. Karena harganya jauh lebih mahal, dengan sendirinya pasien dirugikan. Sebagai contoh, resep yang diberikan seorang dokter kepada seorang pasien yang berobat di rumah sakit umum daerah di Jakarta, Kamis (18/2). Untuk keluhan sinusitisnya, ada enam jenis obat yang harus dibeli di apotek dan dua obat di antaranya diresepkan dengan nama dagangnya. Untuk dua obat bermerek tersebut, yakni Opicef sirup (cefadroxil monohydrate) dan Mucera tablet (ambroxol), pasien itu harus membayar Rp 83.307. Padahal, jika menggunakan obat generik, yakni cefadroxil monohydrate dan ambroxol, ia mendapatkan harga 4,3 kali jauh lebih murah. Dengan menggunakan asumsi harga paling besar dari harga eceran tertinggi yang ditentukan pemerintah, ia mestinya hanya mengeluarkan biaya Rp 19.208 untuk mendapatkan obat serupa. Begitu juga pasien lainnya, Ny Mi, yang berobat ke rumah sakit yang sama dengan keluhan rematik. Dari empat jenis obat yang diresepkan, dua di antaranya vitamin (berupa vitamin B kompleks dan antioksidan yang juga diresepkan dengan nama dagang), satu obat generik, dan satu obat bermerek dagang. Franz Fale yang berobat di RSUD Abepura, Papua, juga mendapatkan resep dari dokter di rumah sakit tersebut dengan nama obat bermerek, yakni Colsancetine (chloramphenicol). Sejumlah pasien di berbagai fasilitas pelayanan pemerintah juga mendapat perlakuan yang sama. Sebagian pasien yang ditemui di rumah sakit mengaku tidak mengerti perbedaan tentang obat generik, bermerek, atau produk paten. Mereka juga tidak pernah bertanya mengenai jenis obat yang diresepkan atau kemungkinan harganya. Sebaliknya, para dokter dan petugas apotek juga tidak memberikan pilihan kepada pasien dan keluarganya. Saya percaya saja apa yang diresepkan dokter, kata Ny Mi. Jangankan pasien yang membayar dari kantungnya sendiri, pasien miskin yang dijamin pemerintah pun belum semuanya mendapatkan obat generik. Survei citizen report card (CRC) yang dilaksanakan Indonesia Corruption Watch selama November 2009 menunjukkan belum semua pasien Jamkesmas, pemegang kartu keluarga miskin, dan surat keterangan tidak mampu mendapatkan obat generik. Survei tersebut mengambil sampel 738 pasien miskin di 23 rumah sakit yang ada di lima daerah, yakni Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Berdasarkan survei tersebut, 22,1 persen pasien belum mendapatkan obat gratis. Dari persentase tersebut, sebesar 79,1 persen tidak mendapatkan resep obat generik.

Berbagai alasan Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia Prijo Sidipratomo mengatakan, peraturan menteri tentang kewajiban meresepkan obat generik baru akan ampuh jika diikuti insentif dan hukuman yang jelas. Namun, pengawasan penggunaan obat generik pun tidak akan mudah. Ia berpendapat, sulit hanya mengandalkan niat baik dokter untuk meresepkan obat generik. Menurutnya, diperlukan sebuah sistem yang dapat mengontrol dan menggiring peresepan obat ke arah generik. Di berbagai negara maju, harga obat terkontrol melalui sistem kesehatan berbasis asuransi sosial. Sepanjang tidak ada sistem tersebut, berbagai upaya yang dilakukan pemerintah hanya menyembuhkan gejala tanpa menyelesaikan permasalahan dasarnya. Masyarakat akan terus mengeluhkan harga obat, ujarnya. Di lapangan, sulitnya pemberian obat generik karena berbagai faktor. Di Papua, misalnya, Direktur RSUD Abepura Aloysius Giay mengatakan, persediaan obat generik selama ini lancar dan cukup untuk tiga bulan mendatang. Pasien selalu diutamakan menggunakan obat generik. Namun, kalau obat generik tidak tersedia atau stok habis di RSUD, dengan terpaksa pasien diminta membeli di luar apotek RSUD. Hal senada diungkapkan dokter kejiwaan di RSUD Wonosari Gunung Kidul, Ida Rochmawati. Ia menyatakan, banyak keluhan tentang penyakit pasien yang belum tersedia obat generiknya. Reaksi obat sangat individual. Keharusan menggunakan obat generik jangan menjadi harga mati karena bisa merugikan pasien. Tidak ada jaminan, obat generik lebih baik, ujarnya. Sejauh ini, yang sudah merasakan secara maksimal penggunaan obat generik dan biaya berobat lebih murah ialah pasien di puskesmas dan pasien yang mendapat jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas). Almi, pasien di Puskesmas Tanah Abang, misalnya, mendapatkan obat Amoksisilin dan puyer dari puskesmas itu. Ia hanya harus membayar biaya loket Rp 2.000. Kepala Puskesmas Sindangkasih, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Rais Arum mengatakan, sebulan sekali dinas kesehatan mengirim obat yang diajukan puskesmas yang merupakan obat generik. Pasien pun tidak perlu membayar obat tersebut ketika berobat ke puskesmas. Pasar turun Keengganan menggunakan obat generik menyebabkan omzet obat generik yang penggunaannya dicanangkan sejak tahun 1989 menurun.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, jika lima tahun terakhir pasar obat nasional naik, dari Rp 23,5 triliun (2005) menjadi Rp 32,9 triliun (2009), pasar obat generik sebaliknya malah menurun persentasenya. Pasar obat generik pada kurun yang sama hanya Rp 2,5 triliun dan kemudian Rp 3,3 triliun atau hanya berkisar 10 persen dari pasar obat nasional. Direktur Jenderal Bina Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Sri Indrawaty mengatakan, pemerintah serius ingin merevitalisasi penggunaan obat generik, antara lain lewat peraturan menteri yang baru. Penggunaan obat generik akan sangat menghemat biaya penanganan penyakit. Sejauh ini, biaya obat sekitar 60 persen dari total biaya pengobatan dan harusnya dapat lebih rendah. Sebanyak 453 obat generik yang harga eceran tertingginya dikontrol pemerintah sudah dapat mengatasi 70 persen penyakit yang ada. Untuk memaksimalkan penggunaan obat generik, masih diperlukan peningkatan pemahaman dan kepercayaan masyarakat. Selain itu, dibutuhkan kesediaan dokter untuk meresepkan obat generik. (INE/WKM/ADH/ICH/cok) =========================

Obat Generik Tak Kalah Apik


Sabtu, 20 Februari 2010 | 17:23 WIB Konsumen memang masih sangat bergantung pada obat yang tertera dalam resep dokter. Selain itu, obat generik juga dianggap sebagai obat kelas dua dengan mutu rendah, padahal hampir 80 persen jenis obat generik sudah tersedia. Zat berkhasiat yang dikandung obat generik sama dengan obat bermerek, jadi jangan ragu untuk mengingatkan dokter anda agar menuliskan resep obat generik. ======================= LAYANAN KESEHATAN 18 Persen Obat Generik Tidak Tersedia Kamis, 11 Februari 2010 | 04:02 WIB Jakarta, Kompas - Sekitar 18 persen atau lebih dari 80 item obat generik tidak tersedia di pasar sehingga terjadi kekosongan obat di unit-unit pelayanan kesehatan, terutama di kawasan Indonesia Timur dan Nanggroe Aceh Darussalam. Kekosongan terjadi sejak setahun lalu. Hal itu terungkap dalam pengarahan pers mengenai rasionalisasi harga obat generik, Rabu (10/2). Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Sri Indrawaty mengatakan,

obat yang tidak tersedia itu sebagai besar merupakan obat yang paling dibutuhkan masyarakat (fast moving) dan obat untuk menyelamatkan nyawa (life saving), seperti antibiotik, cairan infus, serta obat sirup anak- anak. Kekosongan obat tersebut memengaruhi kualitas pelayanan kesehatan. Kendala penyediaan obat itu, antara lain, disebabkan biaya distribusi yang tinggi untuk wilayah Indonesia timur dan Indonesia tengah sehingga produsen enggan mendistribusikannya. Lebih dari 98 persen industri farmasi berada di Pulau Jawa dan beberapa di Sumatera. Rasionalisasi harga Untuk menjamin ketersediaan obat, Kementerian Kesehatan merasionalisasi harga obat. Pemerintah telah menetapkan harga 453 item obat generik lewat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.03.01/Menkes/146/I/2010 tanggal 27 Januari 2010 tentang harga obat generik. Setelah rasionalisasi ditetapkan, terjadi penurunan harga 106 item obat, kenaikan harga untuk 33 item, dan sisanya, 314 item dengan harga tetap. Pabrik obat atau pedagang besar farmasi dalam menyalurkan obat generik kepada rumah sakit pemerintah, apotek, dan sarana pelayanan kesehatan lainnya dapat memasukkan biaya distribusi 5-20 persen dari harga neto apotek (HNA) plus Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Harga patokan tertinggi selama ini menggunakan HNA plus PPN. Persentase tambahan biaya distribusi itu tergantung regional. Regional I, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Lampung, dan Banten, tidak diperkenankan menambah biaya distribusi. Adapun Regional IV, mencakup Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat, diberikan tambahan biaya distribusi hingga 20 persen. Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Ratna Rosita Hendardji mengatakan, pemerintah akan memantau harga dan ketersediaan obat setelah rasionalisasi. Kami mengupayakan keterjangkauan harga obat generik, ujarnya. Obat generik adalah obat dengan nama resmi International Non-Propieritary Names (zat berkhasiat yang dikandung). Adapun obat generik bermerek atau bernama dagang adalah obat generik dengan nama dagang produsen. (INE) ======================= Pemerintah Siapkan Skema Subsidi Obat Generik Jumat, 30 Januari 2009 | 19:16 WIB

Getty Images/Diamond Sky Images TERKAIT:


Cukup, Persediaan Obat Generik di Jayapura Bahan Baku Obat Generik Disubsidi Harga Obat Generik Akan Naik? Mau Hemat Tapi Cespleng? Pilih Obat Generik! Obat Generik Indonesia Tembus Eropa

JAKARTA, JUMAT Pemerintah sedang menyiapkan skema kebijakan subsidi obat generik yang rencananya mulai diterapkan bulan Maret mendatang. Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mengemukakan hal itu seusai menghadiri rapat koordinasi tingkat menteri tentang pelaksanaan program pemerintah Tahun Anggaran 2009 di kantor Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat Jakarta, Jumat. "Saya maunya ada subsidi untuk bahan baku, harga obat, harga beberapa obat akan turun. Lalu, ada insentif pasar untuk industri menengah ke bawah supaya mereka bisa bangkit. Untuk ini dananya mendekati Rp 4 triliun," katanya. Kendati demikian, dia belum bisa menjelaskan secara lebih rinci mengenai rancangan pokok kebijakan subsidi obat generik tersebut. "Itu nanti, masih digodok. Kami sedang kerja terus ini, sedang ngebut," katanya ketika ditanya tentang pihak-pihak yang akan mendapatkan subsidi bahan baku obat dan insentif pasar. Menteri Kesehatan hanya memberikan keterangan tambahan bahwa pihaknya antara lain akan menurunkan harga beberapa obat generik yang bersifat esensial dan pergerakannya di pasar cepat (fast moving), obat-obat program dan obat yang diperlukan untuk menyelamatkan nyawa (life saving). Penjualan obat generik bersubsidi tersebut, katanya, nanti akan diatur dan diawasi oleh Departemen Kesehatan.

Lebih lanjut dia menjelaskan, kebijakan itu dimaksudkan untuk menjamin ketersediaan, keterjangkauan, dan pemerataan obat dalam masyarakat. "Dan supaya industri farmasi menengah ke bawah bisa berdaya, bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri, juga demi kelestarian program Jamkesmas," katanya. Kebijakan itu diambil untuk mengantisipasi dampak krisis ekonomi global yang menurut dia cepat atau lambat akan terasa di Indonesia. "Karena mau tidak mau, cepat atau lambat, itu akan memengaruhi kita. Untuk itu harus diantisipasi, jangan sampai rakyat mendadak tidak bisa menjangkau dan mendapatkan obat. Ini antisipasi jauh-jauh hari," katanya. Sebelumnya dia mengatakan, sebagian besar industri farmasi dalam negeri hingga saat ini masih sangat tergantung pada pasokan obat dan bahan baku obat dari luar negeri. Hal ini membuat harga obat-obatan di dalam negeri sangat dipengaruhi oleh fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang sulit diprediksi selama setahun ke depan. ============================ Harga Obat Generik Akan Naik? Selasa, 21 Oktober 2008 | 10:17 WIB KOMPAS/ PRIYAMBODO Menteri Kesehatan Sita Fadilah Supari SURABAYA, SELASA Menkes Siti Fadilah Supari mengatakan, saat ini pemerintah sedang mengkaji ulang harga obat-obatan generik dan impor obat-obatan menyusul krisis finansial global. "Harga obat generik sudah saya tentukan dan karena adanya kenaikan dollar AS, tentu saja kalau memang selisihnya sangat besar kita akan membuat satu penyesuaian yang tentu tidak memperberat rakyat," kata Menkes di Surabaya, Selasa. Lebih lanjut, ia mengatakan, "Sekarang kita sedang hitung apakah perlu disesuaikan atau tidak. Kalau perlu, berapa banyak dan apakah dibebankan kepada rakyat atau harus kita susbsidi". Menurut Menkes, saat ini dampak krisis finansial belum tampak, tetapi mungkin sekian bulan lagi akan tampak. Selain harga obat generik, pemerintah juga berencana membatasi impor obat-obat paten perusahaan asing yang akan memperberat neraca keuangan negara.

"Menurut saya harus dipertimbangkan untuk kita kaji ulang. Kalau perlu tidak perlu ada impor obat-obat dan kita buat obat generik di sini, di mana generik bisa diproduksi oleh perusahaan dalam negeri dan harganya bisa diatur," katanya. Menkes juga berpendapat, obat-obatan yang tidak perlu diimpor sebaiknya dibatasi dengan cara mekanisme impor yang diwajibkan memakai jalur khusus. "Dalam dua Kepres menyangkut kesehatan disebutkan bahwa Menkes bisa mengatur hal itu dan yang penting adalah untuk kepentingan rakyat dan negara agar bisa bertahan dalam badai ekonomi ini," katanya. ============================== Mau Hemat Tapi Cespleng? Pilih Obat Generik! Rabu, 13 Agustus 2008 | 20:19 WIB

TPG IMAGES MEMILIH obat generik dalam upaya mengatasi penyakit berat seperti pembuluh darah dan jantung adalah hal bijaksana. Dengan memilih obat generik, pasien bisa sembuh dengan biaya lebih murah dan ekonomis. Seperti diungkapkan Prof. Dr. Harmani Kalim SpJP, ahli jantung RS Jantung Harapan Kita, pemilihan obat generik menjadi hal yang perlu dipertimbangkan pasien penderita penyakit pembuluh darah dan jantung mengingat biaya yang dikeluarkan akan terus berlanjut . Bahkan tak jarang, pasien harus menghentikan pengobatan akibat mahalnya biaya pengobatan. "Obat untuk penderita jantung, tekanan darah tinggi, kolesterol memang kebanyakan harus dikonsumsi selama sisa hidup. Apalagi efektivitasnya harus disertai dengan upaya perubahan gaya hidup," ungkapnya dalam Media Briefing Tinjauan Farmaekonomi : Paradigma Baru terapi Aterosklerosis di Jakarta, Rabu (13/8) . Pada pengobatan penyakit pembuluh darah dan jantung, pemilihan obat generik memang cukup menguntungkan. Ia mencontohkan, dari penggunaan jenis obat untuk terapi

aterosklerosis atau pengerasan pembuluh darah misalnya, penghematannya dapat mencapai 25 hingga 40 persen. "Perbedaan harga ini memang penting, tetapi yang lebih penting tentu adalah bahwa obat generiknya sudah melalui melalui uji kualitas yang baik," imbuhnya. Dalam terapi pengobatan, lanjut Prof Harmani, pasien tentu tak harus selalu membeli obat mahal. Tetapi dapat memilih obat generik yang terjangkau dan telah memenuhi syarat dan izin Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Sementara itu, Prof Dr Arini Setiawati PhD, dari Bagian Farmakologi dan Terapeutik FKUI, mengutarakan salah satu persyaratan BPOM untuk obat generik yang baik adalah harus melalui uji BA-BE (bioavailabilitas dan bioekivalen) yang baik . Bioavailabilitas adalah persentase zat berkhasiat suatu obat yang tersedia dalam sirkulasi sistemik dalam bentuk utuh setelah pemberian obat tersebut dan diukur kadarnya dalam darah terhadap waktu atau dari ekskresinya dalam urin. Sedangkan obat disebut bioekivalen jika mempunyai ekivalensi dalam jumlah dan bentuk sediaan sama dari khasiat serta pada pemberian dengan dosis sama akan menghasilkan bioavailabilitas yang sebanding. "Jadi jika BABE obat generik sudah sama dengan obat paten, maka efek terapeutiknya akan sama," ujar Prof Arini.. Ia menambahkan, clopidogrel adalah salah satu obat generik yang telah digunakan luas untuk terapi aterosklerosis. Obat ini kini juga telah diproduksi oleh PT. Dexa Medica dan dinyatakan lulus uji BABE. Clopidogrel adalah obat yang dibutuhkan penderita penyakit jantung, stroke, serta penyempitan pembuluh darah. Clopidogrel bekerja menghambat ikatan antara adnosin difosfat (ADP) dengan reseptornya, sehingga menghambat terjadinya agregasi platelet atau penggumpalan darah. =============================== Bahan Baku Obat Generik Disubsidi Selasa, 13 Januari 2009 | 08:13 WIB

Kompas/Lasti Kurnia TERKAIT:


PBF Dilarang Jual Obat Golongan G Secara Bebas ke Pasar Obat-obatan Inflasi, Kosmetika Deflasi Depkes Kirim Obat-obatan ke Palestina Kenaikan Harga Obat Sekitar 5-10 Persen Harga Obat Generik Akan Naik?

JAKARTA, KOMPAS Departemen Kesehatan akan memberi subsidi dan insentif pasar pada industri farmasi menengah ke bawah melalui program obat generik bersubsidi. Hal ini untuk menjamin ketersediaan, keterjangkauan, dan pemerataan obat di Indonesia sebagai antisipasi bila terjadi resesi ekonomi. Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari dalam jumpa pers, Senin (12/1) di Jakarta, mengatakan, harga obat-obatan di dalam negeri sangat dipengaruhi fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang sulit diprediksi setahun ke depan karena krisis keuangan global. Di sisi lain, mayoritas obat-obatan tergantung pasokan dari luar negeri dalam bentuk bahan baku maupun obat jadi. Bila harga obat-obatan itu melambung, masyarakat menengah ke bawah akan kesulitan mengakses obat-obatan yang dibutuhkan. Krisis keuangan global juga berimbas pada kelangsungan industri farmasi menengah ke bawah sehingga harus dibantu agar mampu memenuhi kebutuhan obat dalam negeri, ujarnya. Untuk itu, pemerintah akan meluncurkan program obat generik bersubsidi (OGS). Program itu untuk menjaga kestabilan harga obat-obatan generik dan obat generik bermerek selama setahun ke depan, memberdayakan kemampuan industri farmasi menengah ke bawah, serta menjamin ketersediaan, keterjangkauan, dan pemerataan obat di seluruh provinsi di Indonesia. Dalam program itu, obat-obatan yang dilindungi adalah obat-obatan paling dibutuhkan masyarakat (fast moving) dan obat-obatan untuk menyelamatkan nyawa (life saving).

Subsidi juga diberikan bagi obat esensial, obat program kesehatan, dan obat yang tak bernilai ekonomis tetapi sangat dibutuhkan dalam pelayanan kesehatan. Subsidi yang diberikan berasal dari APBN sebesar Rp 280 miliar dengan skema yang akan ditentukan Depkes, Fadilah menegaskan. Agar seluruh masyarakat dapat menikmati obat bersubsidi, apotek diwajibkan menyediakan OGS. Berkelanjutan Ketua Umum Pengurus Pusat Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia Anthony Ch Sunarjo menyambut positif program OGS. Yang perlu diperhatikan adalah keberlanjutan program subsidi bahan baku obat generik dan generik bermerek tersebut mengingat subsidi itu memberatkan anggaran pemerintah, ujarnya. Menurut Fadilah, industri farmasi yang memproduksi obat generik menggunakan bahan baku yang disubsidi pemerintah, harga obat jadinya harus sesuai dengan ketentuan Menkes tentang harga obat generik bersubsidi dan obat generik bersubsidi bermerek (OGSM). Harga OGSM maksimum tiga kali harga OGS. (EVY) ===================================== Obat-obatan Inflasi, Kosmetika Deflasi Senin, 5 Januari 2009 | 19:30 WIB JAKARTA, SENIN - Untuk kelompok kesehatan, Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat sub kelompok obat-obatan mengalami inflasi. Sedangkan sub kelompok jasa kesehatan dan kosmetika mengalami penurunan indeks atau deflasi. "Obat-obatan mengalami inflasi sebesar 0,05 persen, sedangkan sub kelompok kosmetika mengalami deflasi sebesar 0,02 persen," ungkap Kepala BPS DKI Jakarta, Djamal, dalam jumpa pers di Gedung BPS DKI Jakarta, Senin (5/1). Di samping kedua sub kelompok tersebut, masih ada dua sub kelompok lagi yang berada dalam kelompok pengeluaran ini. Namun dua sub kelompok tersebut, yakni sub kelompok jasa kesehatan dan sub kelompok jasa perawatan jasmani, tidak mengalami perubahan indeks. Indeks kelompok pengeluaran kesehatan pada Desember 2008 sebesar 108,06 atau mengalami peningkatan indeks sebesar 0,01 persen, karena pada bulan sebelumnya hanya sebesar 108,05. Komoditi pada kelompok ini yang memberikan sumbangan inflasi di antaranya, obat dengan resep dan sikat gigi masing-masing sebesar 0,0004 persen. Perumahan

Selama bulan Desember 2008 indeks kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar, tercatat dalam data BPS DKI Jakarta sebesar 115,88. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 1,28 persen, sebab pada bulan sebelumnya hanya tercatat sebesar 114,41. "Kelompok pengeluaran ini memberikan sumbangan inflasi sebesar 0,35 persen," terang Djamal. Dari empat sub kelompok ini, tiga sub kelompok mengalami kenaikan indeks di antaranya, sub kelompok biaya tempat tinggal sebesar 0,45 persen, sub kelompok bahan bakar, penerangan, dan air sebesar 4,31 persen, serta sub kelompok penyelenggaraan rumah tangga sebesar 0,14 persen. Sedangkan sub kelompok perlengkapan rumah tangga, mengalami penurunan indeks atau deflasi sebesar 0,23 persen. Sumbangan inflasi dari sub kelompok ini, berasal dari komoditi bahan bakar rumah tangga sebesar 0,2923 persen, pasir sebesar 0,0553 persen, cat tembok sebesar 0,0146 persen, semen sebesar 0,0054 persen, dan sabun cair atau sabun cuci piring sebesar 0,0018 persen. Sandang Anak Tetap Dari empat sub kelompok sandang, yang masuk dalam kelompok sandang, sub kelompok sandang anak-anak yang tidak mengalami inflasi. Sedangkan ketiga sub kelompok sandang lainnya mengalami kenaikan indeks. Tiga sub kelompok yang mengalami kenaikan indeks atau inflasi yaitu, sub kelompok sandang laki-laki sebesar 0,02 persen, sub kelompok sandang wanita sebesar 0,04 persen, dan sub kelompok barang pribadi juga sandang lainnya sebesar 1,53 persen. "Indeks kelompok sandang pada Desember 2008 sebesar 114,02 sedangkan pada bulan sebelumnya sebesar 113,17. Dengan demikian, kelompok ini mengalami inflasi sebesar 0,75 persen," ujar Djamal. Kelompok pengeluaran ini memberikan sumbangan inflasi sebesar 0,07 persen. Dengan komoditi yang memberikan sumbangan inflasi mencakup emas perhiasan sebesar 0,0710 persen, serta kemeja panjang katun dan pembalut wanita masing-masing sebesar 0,0008 persen. ======================================== Obat Generik Indonesia Tembus Eropa Senin, 21 Juli 2008 | 16:30 WIB

Dexa Medica CIKARANG, SENIN - PT Ferron Par Pharmaceuticals yang merupakan bagian dari Dexa Medica Group , Senin (21/7), melakukan ekspor perdana obat generik anti jamur Terbinafine ke Inggris. Ekspor ini memberi makna penting bagi industri farmasi Indonesia karena telah membuktikan bahwa produk obat generik tanah air mampu menembus pasar Eropa yang sangat ketat. "Dilihat nilai dan volumenya memang tak begitu besar. Tetapi bagi industri farmasi generik Indonesia, ini adalah suatu langkah luar biasa karena berhasil menembus pasar Inggris. Ekspor ke negara ini akan membuka jalan bagi ekspor ke negara uni Eropa lainnya," ungkap Managing Director PT Ferron Par Pharmaceuticals, Djoko Sujono, saat pelepasan ekspor perdana di Pabrik Ferron Kawasan Industri Jababeka, Cikarang. Djoko menjelaskan, sukses menembus pasar Inggris merupakan suatu pencapaian sendiri bagi industri farmasi tanah air mengingat ketatnya regulasi serta pasar yang sangat kompetitif di Eropa. Pengiriman perdana ke Eropa ini juga mengubah paradigma lama di kalangan industri farmasi lokal. "Selama ini, industri farmasi generik Indonesia terkungkung paradigma bahwa persyaratan regulasi di Eropa sophisticated dan jauh dari jangkauan kompetensi pabrik Indonesia. Selain itu, industri farmasi Indonesia dianggap tidak memiliki basis industri bahan baku dan tak mungkin mampu bersaing," jelasnya. Pada kenyataannya, kata Djoko, industri farmasi Indonesia memiliki potensi besar untuk bersaing dan memenuhi kualitas yang disyaratkan Eropa. Ini telah dibuktikan Ferron yang menembus pasar Inggris untuk pertamakalinya setelah mendapatkan sertifikasi GMP (Good Manufacturing Practices) dari Badan Pengawas Obat Inggris (United Kingdom-Medicine and Healthcare Products Regulatrory Agency/UK-MHRA) pada Maret lalu. Sertifikasi GMP diberikan kepada perusahaan farmasi yang telah melalui inspeksi ketat standar UK-GMP. Perusahaan farmasi yang telah mendapatkan sertifikasi dari UK-GMP, memenuhi syarat untuk memproduksi produk-produknya dan memasarkan serta

mendistribusikannya di wilayah Inggris (UK) dan negara-negara Persekutuan Eropa (EU). "Pengakuan dari MHRA sangat penting karena akan membuka pintu pasar ekspor ke negara-negara Uni Eropa lainnya. Kebetulan, Inggris memiliki arti strategis bagi bisnis generik di regulated market pada umumnya dan Eropa pada khususnya," tambah Doko. Terbitnya sertifikat ini merupakan buah kerja keras Ferron selama tiga tahun lebih untuk mamahami syarat-syarat yang diperlukan masuk pasar Eropa. Ke depan, PT Ferron Par Pharmaceuticals akan mengembangkan tiga produk obat generik lainnya yang juga ditujukan untuk pasar Eropa. Dengan langkah yang telah dirintis Ferron diharapkan industri farmasi Indonesia lainnya akan mengikuti dan membentuk kepercayaan internasional kepada industri farmasi di Indonesia. ============================== PBF Dilarang Jual Obat Golongan G Secara Bebas ke Pasar Kamis, 8 Januari 2009 | 19:13 WIB

Getty Images BALIKPAPAN, KAMIS - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Balikpapan akan memberikan sanksi hingga putus izin bagi perusahaan besar farmasi (PBF) yang menjual obat golongan G secara bebas ke pasar. "Ciri obat golongan G ini, pada kemasan obat terlihat lingkaran berwarna merah dengan garis tepi berwarna hitam, didalamnya tertera huruf K. Lingkaran ini menandakan bahwa obat yang kita beli adalah obat daftar G," kata Kepala Dinkes Kota Balikpapan Dyah Muryani di Balikpapan, Selasa. Dyah mengakui, pihaknya pernah menemukan PBF menjual obat golongan G ke perorangan, tanpa izin dari Dinkes setempat. "Tahun lalu, Dinkes telah mencabut izin PBF, karena menjual obat G tidak sesuai pada tempatnya," ujarnya.

Ia menegaskan, obat-obat yang termasuk daftar G merupakan obat yang berbahaya, agar tidak terjadi hal-hal yang merugikan bagi pengguna, pembelian obat ini harus dengan resep dokter. "Menjual obat golongan G kepada perorangan menyalahi aturan, sebab menurut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 02396/A/SK/VIII/1989 dinyatakan, bahwa obat daftar G adalah obat keras, yaitu semua obat yang pada bungkus luarnya dari pabrik pembuatannya disebutkan, bahwa obat hanya boleh diserahkan dengan resep dokter," jelas Dyah. Diharapkan, masyarakat melaporkan PBF yang menjual obat golongan G secara ilegal atau perorangan, tanpa resep dari dokter. Apabila ada laporan, PBF menjual obat G ke masyarakat, pihaknya melaporkan ke BPOM (Balai Pengawasan Obat dan Makanan) untuk ditindak lanjuti. ================================= THE PEOPLE UNITED WILL NEVER BE DEFEATED (RAKYAT BERSATU TAK BISA DIKALAHKAN)

Masih Banyak Salah Persepsi soal Obat Generik


Labels: Company, Consumerism, Economic, Education, Health, Medicine Jumat, 18 Desember 2009 | 16:12 WIB JAKARTA, KOMPAS.com - Masih terdapat kesalahan persepsi dalam masyarakat soal obat generik. Masyarakat masih ada yang mengira obat generik bermerek sebagai obat paten. Padahal, sebetulnya hanya merek dagang saja yang dipatenkan sedangkan zat aktif obat sudah lepas paten sehingga bisa dikopi atau dikenal dengan nama obat generik. "Adakalanya, dokter menyarankan pasien menggunakan obat paten agar lebih cepat sembuh ketimbang obat generik. Padahal, yang dimaksud obat paten oleh oknum dokter tersebut ialah obat generik bermerek. Kemauan dari dokter untuk memberikan resep obat generik masih sangat penting," ujar Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI) sekaligus anggota Tim Rasionalisasi Harga Obat Generik Nasional di Departemen Kesehatan, Marius Widjajarta, Jumat (18/12/2009). Padahal, dengan bahan serupa dan adanya standar-standar yang telah ditentukan dalam produksi obat, tidak ada perbedaan diantara obat generik, baik bermerek ataupun tidak. Pada dasarnya terdapat dua jenis obat yakni obat paten dan generik. Di Indonesia obat paten hanya sekitar 7-8 persen. Umumnya, berupa paten internasional seperti obat antiretroviral (HIV), kanker dan flu burung. Harga obat tersebut biasanya mahal karena

riset sehingga harga sepenuhnya ditentukan produsen. Selebihnya ialah obat generik yakni obat generik berlogo dan generik bermerek (yang menggunakan merek dagang). Harga eceran tertinggi tertinggi obat generik berlogo ditentukan pemerintah. "Permasalahannya ialah harga obat generik bermerek yang perbedaan harganya berkisar 20-200 kali berdasarkan survei empat tahun lalu dan tidak terlalu berubah hingga kini," ujar Marius. Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Huzna Gustiana Zahir, mengatakan, pasien punya hak memilih obat yang harganya sesuai kemampuan finansialnya. "Dulu pernah diwacanakan agar dokter meresepkan obat hanya dengan nama generik atau zat aktifnya sehingga pasien dapat memilih obat yang harganya lebih sesuai. Beberapa perusahaan obat terkadang menghasilkan obat yang persis sama dengan merek dan harga berbeda. Khasiat obat generik bermerek dan berlogo pun sama," ujarnya. Pasien mempunyai hak untuk mengetahui jenis dan peruntukan masing-masing obat yang diberikan. "Kalau menginginkan obat generik, pasien dapat meyampaikan kepada dokter," katanya. Huzna juga menyoroti ketersediaan obat generik berlogo yang relatif masih terbatas. Mengenai hal itu, Marius mengatakan, perhitungan harga eceran tertinggi obat generik berlogo telah memperhitungkan keuntungan produsen sekitar 40 persen dan distributor sekitar 10-20 persen. Perhitungan berdasarkan Harga Jual Pabrik atau yang sering disebut dengan COGS (Cost Of Goods Sales) yang telah memperhitungkan komponen mulai dari bahan baku sampai dengan transportasi hingga obat sampai ke tangan konsumen dengan patokan daerah terjauh di Indonesia. "Tim menentukan harga obat generik berlogo dua tahun lalu dengan nilai tukar 1 dollar sama dengan Rp 11.000. Dengan menguatnya rupiah, tidak ada alasan produksi tersendat dan barang menjadi langka karena biaya," tambah Huzna. ========================= Di Balik Kenaikan Obat Generik Oleh: Hamzah Pane
KENAIKAN harga obat generik yang diumumkan pemerintah melalui SK Menteri Kesehatan Nomor 1112/Menkes/SK/VII/2003 menuai berbagai tanggapan. Secara umum terkesan adanya penolakan atas kenaikan harga obat yang banyak dikonsumsi kalangan menengah ke bawah. Argumentasi pemerintah dan produsen atas keputusan dilematis menaikkan harga obat generik adalah terjadinya peningkatan berbagai elemen biaya dalam struktur biaya produksi, antara lain harga bahan baku, kemasan, biaya produksi, overhead, serta kenyataan sejak tahun 2001 harga obat generik tidak naik.

Keputusan menaikkan harga obat generik di tengah kondisi perekonomian rakyat Indonesia yang masih belum membaik adalah keputusan yang tidak populer. Wajar muncul penilaian, pemerintah lebih berpihak kepada keuntungan produsen daripada kepentingan masyarakat. Apalagi produsen sepertinya "merajuk". Jika harga tidak dinaikkan, mereka akan rugi sehingga lebih baik menghentikan produksi berbagai jenis obat generik. TULISAN ini mencoba menganalisis, mengapa kenaikan harga obat generik senantiasa mendapat tantangan keras dari masyarakat; faktor apa saja yang potensial memberi kontribusi mutlak terhadap struktur harga obat generik; bagaimana pasar obat generik di Indonesia saat ini; benarkah produsen rugi jika harga obat generik tidak naik; benarkah pemerintah saat ini tidak memberi subsidi kepada obat generik; dan sejauh mana pemerintah melakukan pengaturan harga obat di Indonesia. Pertama, saat kenaikan harga obat generik awal tahun 2001, sebelum menaikkan harga, produsen berkonsultasi dengan Komisi VII DPR. Setelah dibahas berbagai faktor obyektif yang tidak dapat ditahan lagi, disepakati adanya kenaikan 10 hingga 20 persen. Ada argumentasi, mengapa pengusulan kenaikan harga obat generik harus melalui mekanisme konsultasi dengan DPR. Sebagai produk yang dikonsumsi orang sakit, dimensi sosial obat generik amat kental. Keputusan menaikkan harga akan langsung menyentuh rasa keadilan masyarakat. Hampir sama dengan produk dan jasa lain yang dimanfaatkan masyarakat banyak, seperti listrik, telepon, dan jalan tol, keputusan menaikkan tarif selalu didahului konsultasi antara penyedia jasa dan DPR, baru kemudian menteri terkait memutuskan. Kenaikan harga obat generik pada tahun 2003 tidak melalui konsultasi dan pengkajian mendalam atas struktur harga dengan DPR. Produsen langsung mengusulkan kenaikan harga kepada pemerintah. Rentang kenaikan 2,33-50,62 persen (lebih tepatnya 61,12 persen) memicu protes keras masyarakat karena yang lebih menyolok telinga dari berita itu adalah harga obat generik naik lebih dari 50 persen ketimbang penjelasan teoretis produsen dan pemerintah yang mengatakan, kenaikan "tertimbang" keseluruhan obat generik hanya empat persen. Kedua, untuk negara dengan karakter industri farmasi seperti Indonesia yang bahan bakunya 90 persen impor, hanya ada dua faktor yang memberikan kontribusi mutlak dalam fluktuasi harga obat. Nilai tukar mata uang dan inflasi. Kita ingat saat krisis moneter menggila di Indonesia tahun 1997 hingga 1998. Harga obat non- generik naik sampai empat kali lipat. Pemerintah melakukan intervensi dengan melakukan subsidi nilai tukar rupiah untuk pembelian bahan baku sehingga harga obat generik relatif tidak naik. Komponen biaya produksi lain seperti TDL, BBM, gaji, dan kemasan hanya memberikan kontribusi sekitar 5 hingga 10 persen dalam keseluruhan harga pokok produksi (cost of goods sold). Artinya, kenaikan TDL, BBM, gaji, dan kemasan sebenarnya tidak signifikan dalam memicu kenaikan harga. Ironisnya, sampai hari ini produsen obat generik tetap mampu memberikan diskon sebesar 10 hingga 20 persen untuk pembelian oleh apotek dan pembelian partai besar dalam tender pemerintah. Lalu, untuk apa mengusulkan kenaikan harga "tertimbang" hanya sebesar empat persen? Bukankah lebih baik menghilangkan unsur diskon sehingga diperoleh harga nyata (real price) yang dapat menyebabkan harga obat generik lebih murah. Ketiga, pada saat era sentralisasi, pengadaan obat generik yang masuk dalam Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) dan obat program pemerintah untuk keperluan Gudang Farmasi Kabupaten/Kotamadya (GFK) dilakukan melalui polling nasional. Artinya, sebagian besar pasar obat generik terkonsentrasi di tangan Departemen Kesehatan yang kemudian menyalurkannya ke pemerintah kabupaten dan kota. Biaya transaksi, distribusi, dan inventori menjadi sangat efisien. Pemerintah daerah juga secara konsisten mengikuti standar pengadaan obat yang

ditetapkan Departemen Kesehatan. Saat ini, pemerintah kabupaten dan kota mempunyai kewenangan penuh memutuskan pengadaan obat kebutuhannya sendiri. Pemerintah pusat hanya berperan dalam menentukan batasan harga untuk obat generik yang masuk dalam DOEN dan pengadaan obat dana kompensasi BBM. Akibatnya, pasar obat generik terfragmentasi sedemikian rupa. Produsen obat generik harus melakukan transaksi dengan sekitar 350 pemerintah kabupaten dan kota di seluruh Indonesia dengan rentang waktu pengadaan yang tidak bersamaan. Melambunglah biaya transaksi, distribusi, dan inventori. Keempat, jika dikaitkan dengan nilai pasar obat generik Indonesia tahun 2003 sebesar Rp 1,7 triliun, kontribusi kenaikan "tertimbang" sebesar empat persen terhadap penjualan obat generik hanya sebesar Rp 68 miliar. Jika keuntungan bersih dari penjualan berkisar lima persen, kenaikan harga obat generik saat ini hanya berpotensi menambah keuntungan produsen sebesar Rp 3,4 miliar. Jumlah sekecil ini sebenarnya bisa dikompensasikan dengan melakukan berbagai efisiensi daripada menaikkan harga. Kelima, sering kali kalangan produsen obat generik, khususnya BUMN farmasi, berkilah bahwa kenaikan harga saat ini disebabkan pemerintah tidak lagi memberikan subsidi. Argumentasi ini tidak benar. Pada saat krisis moneter, pemerintah memberikan subsidi terhadap nilai tukar rupiah dalam pengadaan bahan baku (raw material procurement). Tujuannya, agar harga obat tetap terjangkau bagi kalangan miskin dan kurang mampu. SAAT ini pemerintah memberikan subsidi pembelian obat jadi (product requirement) yang dibiayai dari dana kompensasi subsidi BBM yang jumlahnya berkisar Rp 135 miliar per tahun dan obatnya disalurkan secara gratis kepada masyarakat miskin. Artinya, subsidi tetap dilakukan. Jika dahulu diberikan kepada produsen obat generik, saat ini diberikan kepada masyarakat miskin. Namun, produsen obat generik, khususnya BUMN farmasi, tetap mendapatkan kemudahan dari pemerintah. Pengadaan obat ini dilakukan melalui tender eksklusif di Departemen Kesehatan dan dimenangkan secara bergiliran oleh BUMN farmasi. Belum lagi pengadaan obat untuk pemberantasan penyakit menular yang didanai oleh global fund yang jumlahnya puluhan miliar, yang pengadaannya juga diserahkan kepada BUMN farmasi. Segala kemudahan ini adalah bentuk lain dari subsidi yang terus dinikmati BUMN farmasi. Dari dulu pemerintah sudah mendukung penggunaan obat generik dengan mengeluarkan Permenkes Nomor 85 Tahun 1987, yang mewajibkan seluruh sarana pelayanan kesehatan milik pemerintah harus menggunakan obat generik. Namun, sayangnya, kebijakan ini tidak disambut oleh BUMN farmasi dengan mempromosikan dan menyosialisasikan keunggulan, kualitas, dan harga obat generik secara gencar kepada masyarakat. Itu sebabnya dalam rentang waktu dua tahun terakhir ini terjadi kecenderungan penurunan penggunaan obat generik di Indonesia. Sampai tahun 2000, nilai pasar obat generik Indonesia mencapai 14 persen dari keseluruhan nilai pasar obat yang beredar. Saat ini turun menjadi sekitar 10 persen. Dalam konteks ini sangat tepat dikatakan bahwa kemampuan produsen obat generik, khususnya BUMN farmasi, hanya seperti "tukang" yang bisa membuat obat namun tidak mampu mempromosikannya. Tidak berlebihan jika dikatakan BUMN farmasi Indonesia sangat manja dan kurang memiliki kemampuan entrepreneurship dalam memasarkan obat generik. Keenam, kewenangan pemerintah dalam pengaturan harga obat sebenarnya sangat kecil. Dibandingkan dengan ribuan jenis obat yang beredar, pemerintah hanya mempunyai

kewenangan mengatur harga obat yang masuk dalam kategori DOEN yang diperbarui setiap dua tahun sekali. Dari 232 jenis obat generik yang ada di Indonesia, yang masuk dalam DOEN hanya 153 jenis. Sisanya tidak termasuk dalam kategori obat esensial sehingga harganya ditentukan mekanisme pasar bersama dengan obat bebas, obat branded generic, dan obat paten. Namun, ironisnya, setiap kenaikan harga obat generik di Indonesia sangat potensial memicu dan sekaligus menjadi pembenaran bagi kenaikan harga dengan persentase yang sama untuk obat lain. Kondisi inilah yang sebenarnya dikhawatirkan masyarakat yang sebagian besar pembelian obatnya masih menggunakan uang dari kantong sendiri (out of pocket), khususnya pekerja informal dan masyarakat kurang mampu. Artinya, kenaikan harga obat generik sekecil apa pun, karena dibeli saat sedang sakit, tetap saja dirasakan berat. Jika produsen obat generik dan pemerintah menyadari realitas ini, keputusan menaikkan harga obat generik sebaiknya harus melalui mekanisme yang benar, argumentasi yang kuat, pertimbangan yang matang, dan waktu yang tepat. Jika tidak, masyarakat yang akan menanggung beban. Amir Hamzah Pane Staf Ahli Komisi VII DPR

URL Source: http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0310/06/opini/602974.htm ================================

Siklus Hidup Produksi Obat; Susahnya Masuk Dalam Industri Farmasi


Oleh Asta Qauliyah | July 8th, 2006

Pola kerja untuk memproduksi obat di industri farmasi dapat dibagi menjadi dua periode. Periode pertama adalah penelitian dasar dan pengembangan di laboratorium serta masyarakat. Periode kedua adalah setelah peluncuran obat di masyarakat. Periode pertama merupakan investasi yang mempunyai risiko tinggi berupa kegagalan secara ilmiah. Sementara itu periode kedua mempunyai risiko pula dalam penjualan. Pada periode kedua, undang-undang paten melindungi industri farmasi dari pesaing. Apabila masa paten selesai, maka pabrik obat lain boleh memproduksi dalam bentuk obat generik sehingga pendapatan akan turun. Setelah menemukan obat baru dan mempunyai hak paten, maka perusahaan farmasi dapat membuat tarif untuk produk baru secara maksimal untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Karena perlindungan paten bersifat monopoli, tarif dapat ditentukan setinggi-tingginya tanpa khawatir ada persaingan. Sebagai hasilnya adalah keuntungan luar biasa dapat diperoleh. Dapat disebutkan bahwa penelitian pengembangan obat baru merupakan informasi yang selalu dicari oleh para investor. Clarkson (1996) menunjukkan bahwa industri farmasi merupakan salahsatu industri yang paling menguntungkan. Keuntungan industri farmasi berada di rangking keempat setelah

industri software, perminyakan, dan makanan. Dibanding rata-rata industri, keuntungan perusahaan farmasi lebih besar yaitu 13.27% dibanding dengan rata-rata 10.19%. Mekanisme mendapat keuntungan ini dipengaruhi berbagai sifat khas industri farmasi yang tidak dijumpai di industri lain. Salahsatu sifat tersebut adalah adanya hambatan untuk masuk ke industri farmasi, yang akan mempengaruhi harga obat. Hambatan untuk masuk ke industri farmasi dilakukan dalam berbagai bentuk: (1) regulasi obat; (2) hak paten; dan (3) sistem distribusi. Hambatan pertama untuk masuk di industri farmasi adalah aspek regulasi dalam industri farmasi yang sangat ketat. Di Amerika Serikat regulator utama adalah Food and Drug Administration (FDA), sedang di Indonesia dipegang oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Proses pengujian obat di Amerika Serikat (termasuk dalam periode 1) berlangsung sangat lama, bisa terjadi sampai 15 tahun dengan proses yang sangat kompleks. Setelah menemukan formula kimia baru untuk menangani suatu penyakit, perusahaan obat harus melakukan uji coba pada binatang untuk mengetahui daya racun jangka pendek dan keselamatan obat. Selanjutnya FDA akan memberikan persetujuan untuk melakukan uji klinik yang tersusun atas tiga tahap. Tahap I dimulai dengan sekelompok kecil orang sehat dan berfokus pada dosis dan keamanan obat. Tahap II akan diberikan ke sejumlah orang yang lebih banyak (sampai ratusan) yang mempunyai penyakit untuk menguji efikasi obat (kemanjurannya). Tahap III akan dilakukan ke ribuan pasien dengan berbagai latar belakang berbeda untuk menguji efikasi dan keselamatannya secara lebih terinci. Dapat dibayangkan betapa berat dan mahalnya proses ini. Faktor penghambat kedua adalah hak paten yang diberikan oleh pemerintah untuk industri farmasi yang berhasil menemukan obat baru. Contoh yang paling hangat adalah hak paten untuk obat Viagra yang sangat menguntungkan karena pembelinya sangat banyak dan harga sangat tinggi. Dengan adanya kebijakan paten maka perusahaan farmasi baru harus mempunyai obat baru yang membutuhkan biaya riset tinggi atau memproduksi obat-obat generik yang sudah tidak ada patennya lagi dengan risiko banyak pesaing. Setelah sebuah obat habis waktu hak patennya, perusahaan-perusahaan lain dapat memproduksi obat serupa. Oleh karena itu hambatan untuk masuk menjadi lebih rendah, dan harga dapat turun. Obat-obat ini disebut generik yang dampak terapinya sama dengan obat bermerek. Secara logika, paten memang ditujukan untuk merangsang penelitian ilmiah untuk menemukan obat-obatan baru. Dalam siklus hidup ini terlihat bahwa ada masa dimana industri farmasi menikmati masa monopoli, dimana hanya sebuah pabrik obat yang mempunyai hak menjual dan memproduksi obat karena paten. Hak paten berlaku dengan masa 17 tahun, bahkan sampai 25 tahun. Hak paten memang mencerminkan sistem kapitalis untuk menjaga agar modal tetap berkembang dan mampu untuk melakukan kegiatan-kegiatan berikutnya, termasuk melakukan penelitian lebih lanjutnya. Akibatnya apabila waktu paten hampir habis untuk suatu obat yang sangat laku, maka harga saham dapat menjai turun seperti yang dialami oleh Bristol-Meyers (Harris 2002). Bristol-Meyers mempunyai obat menurunkan cholesterol Plavix. Masalahnya adalah paten obat ini akan berakhir pada tahun 2003 yang dapat menurunkan pendapatan perusahaan.

Pada awal tahun 2002 sebuah perusahaan obat generik Apotex Inc. sudah mengisi permintaan ke FDA untuk membuat versi generik dari Plavix. Disamping itu ada perusahaan obat India (dr Reedys Laboratories Ltd) yang juga mengajukan permintaan serupa ke FDA. Dengan berdasarkan pertimbangan bio-teknologi Bristol-Meyer berusaha memperpanjang waktu patennya sampai tahun 2011dan akan menuntut perusahaanperushaan versi generiknya. Kasus ini sudah sampai di pengadilan negeri di New York. Dapat dilihat bahwa perusahaan-perusahaan farmasi sangat berkepentingan dengan waktu paten, karena pasar saham yang menilai apakah suatu perusahaan membaik atau memburuk. Perlindungan hak-cipta internasional (TRIP) merupakan forum untuk melindungi hak paten ini. Hambatan ketiga untuk masuk adalah sistem jaringan distribusi dan pemasaran industri farmasi yang sangat kompleks. Jaringan sistem distribusi dan pemasaran mempunyai ciri menarik yaitu menggunakan konsep detailing dimana perusahaan farmasi melalui jaringan distributor melakukan pendekatan tatap muka dengan dokter yang berpraktek di rumahsakit ataupun praktek pribadi. Kegiatan detailing ini melibatkan banyak pihak dan mempunyai berbagai nuansa termasuk adanya komunikasi untuk mendapatkan situasi saling menguntungkan antara dokter dengan industri farmasi. Dalam komunikasi ini terbuka kemungkinan terjadi suatu bentuk kolusi antara dokter dengan industri farmasi. Dengan bentuk pemasaran seperti ini, akan sulit bagi pemain baru untuk masuk dalam industri farmasi. Berbagai hambatan tersebut secara bersama dapat membuat harga obat menjadi mahal. Eisenberg (2001) menyatakan bahwa sistem regulasi untuk melindungi pasien dan hak paten merupakan faktor-faktor yang membikin harga obat menjadi mahal. Dengan sistem regulasi untuk mengatur pengembangan obat baru menyebabkan biaya produksi obat sangat tinggi. Setelah perusahaan farmasi menemukan obat baru, maka hak paten dipergunakan untuk memaksimalkan keuntungan untuk periode waktu tertentu. Kebijakan untuk memperpendek waktu paten, atau memberi lisensi kepada pabrik obat di negara sedang berkembang untuk memproduksi obat secara murah ditentang keras oleh perusahaan obat. Logika yang dipergunakan adalah apabila kebijakan ini berjalan maka motivasi untuk penelitian obat baru akan rendah. Dengan logika ini diperkirakan bahwa di dunia tidak akan ada penelitian baru mengenai obat, kecuali yang disponsori pemerintah, tanpa ada hak paten yang optimal. Pertanyaan menarik, apakah dengan adanya obat-obatan generik, maka obat-obat bermerek akan lebih murah, dan kurang diresepkan oleh dokter? Kebijakan obat generik ternyata tidak mampu menekan biaya obat secara signifikan. Menon (2001) melaporkan bahwa pembiayaan obat di Kanada tidak bisa turun walaupun pemerintah Kanada melakukan berbagai macam kebijakan, termasuk penggunaan obat generik. Graboswski dan Vernon (1992) melaporkan bahwa walaupun ada obat generik yang murah, produsen obat generik tetap menaikkan harga. Dalam hal ini terdapat loyalitas dokter terhadap merek-merek obat yang bukan generik. Hellerstein (1998) melaporkan bahwa hanya 29% resep ditulis dengan obat generik di Amerika Serikat. Di Bali seorang direktur rumahsakit pemerintah mengeluh karena para dokter enggan menuliskan obat paten.

Keadaan ini terjadi karena adanya teori dokter sebagai agen pasien dalam memilih obat dan informasi. Dalam teori agensi, para dokter tidak mendapat manfaat ekonomi dari penghematan harga obat. Sementara itu dari aspek informasi, para dokter tidak menerima informasi cukup mengenai efektifitas dan harga obat generik. Seperti yang diduga, dokter yang berada dalam sistem managed care lebih cenderung menulis obat generik. Hal ini disebabkan oleh tekanan dari sistem managed care dengan daftar formularium dan sistem insentif/disinsentif untuk para dokter. Dalam konsep perdagangan, semakin besar harga suatu barang maka besar keuntungan secara asbolut dari penjualan barang tersebut akan meningkat. Rumahsakit sebagai lembaga usaha mempunyai insentif untuk menggunakan obat-obat yang mahal. Semakin mahal harga obat akan membuat keuntungan dari obat semakin meningkat. Dapat dikatakan bahwa pengaruh industri obat terhadap rumahsakit, dokter, dan peneliti kedokteran dapat menjadi besar (Angell 2000, Martin dan Kasper 2000, Bodenheimer 2000). Pengaruh industri farmasi terhadap rumahsakit dan dokter dilakukan dengan pendekatan pemasaran yang canggih, seperti menggunakan konsep detailling tatap muka dan berbagai hal lain termasuk mensponsori pertemuan-pertemuan ilmiah, jurnal, bahkan penelitian-penelitian ilmiah. Dilaporkan pula bahwa tenaga pemasaran perusahaan farmasi mengirimkan hadiahhadiah untuk mahasiswa kedokteran dan residen yang sedang bekerja di rumahsakit pendidikan. Angell dan Relman (2001) melaporkan bahwa pada tahun 2000 perusahaan farmasi menghabiskan 8 miliar dollar untuk menyenangkan dokter dengan memperkerjakan 83,000 tenaga pemasaran di Amerika Serikat. Disamping itu perusahaan farmasi memberikan 8 miliar dollar untuk obat-obatan sampel di ruang praktek dokter. Di Indonesia, belum ada data seperti yang ada di Amerika Serikat. Akan tetapi secara pengamatan dapat dilihat bahwa kehidupan dokter dan sektor rumahsakit dipengaruhi oleh industri farmasi dengan memberikan berbagai hal yang menyenangkan. Semua kegiatan ini tentunya dimasukkan dalam proses penetapan harga obat. Dalam pertemuan perhimpunan ahli, seminar-seminar ilmiah, pertemuan manajemen rumahsakit, dan berbagai penelitian klinik didanai oleh perusahaan farmasi. Dalam hal ini memang menjadi pertanyaan besar, apakah perilaku dokter dipengaruhi oleh industri farmasi. Walaupun ada berbagai pengamatan, termasuk laporan investigasi oleh majalah Tempo, akan tetapi belum ada penelitian serius mengenai hubungan dokter dengan industri farmasi di Indonesia. Dapat dinyatakan secara prinsip sifat ekonomi sektor teknologi kedokteran dan obat bukan diperuntukkan untuk kegiatan sosial dan amal. Obat diproduksi, alat kedokteran dikembangkan untuk mendapatkan keuntungan materi di perusahaan farmasi ataupun para penelitinya. Tindakan untuk sosial dan amal hanya dapat berjalan kalau ada sumber biaya yang membelikan untuk mereka yang miskin. Dapat dirumuskan bahwa teknologi kedokteran yang dipergunakan oleh rumahsakit dan yang berada di pusat-pusat pendidikan dokter adalah teknologi yang membutuhkan biaya besar. Disamping itu sektor yang menggunakan teknologi kedokteran bersifat kapitalistik seperti industri-industri lain. Sektor yang bersifat kapitalistik ini mempunyai komponen yang sama dengan sektor lain. Ada istilah riset dasar, pabrik, distributor, tenaga pemasar, sampai ke iklan. Sifat berbasis pada materi ini dapat mempengaruhi perilaku rumahsakit dan tenaga kesehatan

karena obat dan peralatan medik merupakan obyek kegiatan yang sehari-hari dipergunakan. =======================================

Kapitalisme di Dunia Kedokteran


Oleh Asta Qauliyah | March 16th, 2007

Terminologi dokter memberikan sejumlah predikat, tanggung jawab, dan peranperan eksistensial lainnya. Tanpa melupakan sisi dominan proses pembelajaran dan pengembangan intelektual, seorang dokter juga pada prinsipnya diamanahkan untuk menjalankan tugas-tugas antropososial dan merealisasikan tanggung jawab individual kekhalifaan, mewujudkan kebenaran dan keadilan, yang tentunya tidak akan terlepas pada konteks dan realitas dimana dia berada. Dengan tetap mengindahkan tanggung jawab dispilin keilmuan, maka entitas dokter haruslah mampu mempertemukan konsepsi dunia kedokterannya dengan realitas masyarakat hari ini. Untuk dapat melakukan perubahan dan pembaharuan, maka adalah penting memahami secara benar konsepsi dan melakukan pembacaan terhadap realitas yang terjadi didepan mata kita. Jika kita bawa pada paradigma kedokteran, maka konsepsi dunia kedokteran -humanisasi, sosialisme, penghargaan atas setiap nyawa , pembelajaran dan peningkatan kualitas hidup, keseimbangan hak dan kewajiban tenaga medis dengan pasien dan sebagainya- seyogyanya harus sepadan dengan realitas yang terjadi pada masyarakat kita dewasa ini, sehingga dari sini nantinya bukan mustahil akan bermunculan sejumlah pertanyaan-pertanyaan yang menggelitik idealisme kemanusiaan kita untuk dapat berbuat sesuatu; memperbaiki keadaan, atau minimal tidak memperkeruh dan menambah masalah yang sudah ada, demi mempertemukan batas demarkasi konsep (teks) dan konteks, demi sebuah kebenaran; karena pada dasarnya perubahan yang akan kita lakukan tak lain hanyalah untuk mewujudkan kebenaran pada konteks kita berada. Sebagai kaum intelektual, yang setiap saat mengkonsumsi pengetahuan akan kehidupan sains, sosial, keadilan, kebenaran dan fungsi-fungsi peradaban maka profesi dokter memiliki tanggung jawab intelektual yang tidak boleh dinafikkan, selain karena profesi ini telah menjelma menjadi bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat, juga karena intelektualitas merupakan salah satu parameter pencerahan kehidupan yang didalamnya terkandung rahmat sekaligus amanah bagi yang memilikinya. Keterusikan jiwa akan tanggung jawab intelektual ini untuk merealisasikannya merupakan indikasi berfaedahnya pengetahuan dan munculnya kesadaran atas amanah yang diemban; mewujudkan kehidupan yang lebih baik, sesuai dengan kemampuan dan kapabilitas keilmuan yang dimiliki, sehingga predikat dokter masih tetap dapat diterjemahkan kontekstualisasinya, baik secara individu maupun antropososialnya.

Berdasarkan tinjauan historisnya, dunia kedokteran (pengobatan) pada awalnya dipandang sebagai sebuah profesi yang sangat mulia, sehingga dengan asumsi tersebut, maka orang-orang yang terlibat dalam proses hidup dan berlangsungnya dunia kedokteran kemudian dinisbahkan sebagai orang-orang yang juga memiliki kemuliaan; baik pada kata, sikap maupun tabiat yang dimilikinya. Dengan memandang profesi kedokteran sebagai pekerjaan yang senantiasa bergelut untuk menutup pintu kematian dan membuka lebar-lebar kesempatan untuk dapat mempertahankan dan meneruskan hidup seseorang, maka berkembanglah kesepakatan sosial (social aggrement) akan urgensi dari ilmu kedokteran sebagai salah satu prasyarat utama untuk dapat mempertahankan hidup. Pada akhirnya, lambat namun pasti, profesi kedokteran seakan menjadi ilmu pengetahuan utama (master of science), dimana setiap dokter dipandang sebagai seorang jenius dan tahu segalanya dan semua orang akan berusaha menjadi dan memegang peran besar dalam pekerjaan terhormat ini. Sejak semula, profesi kedokteran dianggap sebagai sebuah seni (art) dalam kehidupan, karenanya tidak setiap orang dapat dengan mudah mendapatkan kecakapan akan tindakan-tindakan medis, walaupun itu hanya tindakan medis sederhana yang dapat dimiliki oleh setiap orang saat ini. Maka jadilah kedokteran sebagai salah satu entitas sacral dalam kehidupan, dimana orang-orang didalamnya kemudian dianggap sebagai tokoh suci wakil Dewa Kehidupan, yang setiap kata-katanya adalah benar dan tidak dapat terbantahkan oleh siapa pun, bahkan oleh teman sejawat yang masih lebih muda darinya. Keberadaan tokoh legendaris Yunani, Hippocrates yang terkenal dengan Sumpah Hippocrates-nya, membuat dunia kedokteran semakin memperkokoh diri sebagai sebuah imperium pengetahuan yang memiliki eksklusifitas antropologis. Sehingga pada zaman itu dijumpai bahwa kewajiban untuk mereproduksi pengetahuan kedokteran sebagian besar hanya dilakukan pada lingkungan keluarga sang dokter, dengan menitikberatkan pada sistem leluri (turun-temurun), dan menganggap bahwa ilmu yang dimilikinya adalah wasiat Dewa yang tidak boleh punah, namun tidak boleh diberikan pada sembarang orang. Seiring dengan perkembangan zaman, profesi kedokteran telah menjadi bagian integral dari sistem kehidupan manusia, dan karena grafik kebutuhan yang semakin meningkat yang tidak dibarengi oleh ketersediaan tenaga-tenaga medis profesional, maka profesi dokter terdesak menjadi sebuah lahan komersialisasi, apalagi dengan mulai munculnya pahaman kapitalisme, maka pekerjaan ini adalah lahan strategis meraup keuntungan material sebanyak mungkin. Praktik ini berlangsung secara berkelanjutan dan bahkan kemudian dipandang sebagai sebuah keniscayaan profesi. Dengan semakin bertambahnya kompleksitas kehidupan manusia, maka ragam lingkup ilmu pengobatan (kedokteran) menjadi terdesak untuk melakukan pengembangan dan peningkatan kualitas, sesuai dengan kompleksitas objek pengobatan yang dijumpai dalam realitas. Peluang ini yang kemudian sedikit banyak dimanfaatkan oleh kaum kapitalis untuk mulai menanamkan akar ideologinya; merasuki dunia kedokteran menjadi sebuah

lahan bisnis yang menggiurkan semua orang, meskipun pada sisi lain, jargon idealisme keilmuan turut mendasari proses pengembangan yang dilakukan. Maka mulailah terjadi proses desakralisasi ilmu kedokteran (pengobatan), dimana setiap orang memiliki kesempatan untuk dapat memahami dan memilikinya, tentunya setelah menyanggupi syarat-syarat yang diajukan, melalui proses pendidikan yang lebih sistematik. Pada aras yang lain, pengembangan ilmu pengobatan yang sudah ada sebelumnya menjadi bagian yang tak terpisahkan, mulailah dilakukan penelitianpenelitian (medical research) dengan menggunakan teknologi modern, untuk menyempurnakan pengetahuan pengobatan yang telah ada. Selaras dengan berkembangannya pendidikan dan penelitian kedokteran, maka mulailah didirikan perusahaan-perusahaan farmasi dan diperkenalkannya jenis obat-obatan modern hasil industri farmasi, agar lebih mengefektifkan pengobatan terhadap pasien. Akhirnya, pola pengobatan yang dipraktekkan kemudian terjebak pada sasaran utama; memberikan resep obat, bahkan semakin ekstrim, setiap penyakit harus diberikan obat dari hasil industri farmasi, ujung-ujungnya adalah biaya. Ada sebuah sistem yang terbangun kuat antara praktisi medis dengan industriawan farmasi, melekat kuat seiring dengan semakin berkembangnya ruang lingkup ilmu kedokteran, dengan sebuah tujuan ekonomis; meraup keuntungan dengan dalih sebagai konsekuensi bayaran jasa dan biaya proses pengobatan modern yang dijalani pasien. Dengan semakin meningkatnya daya tarik untuk bergelut dalam dunia kedokteran dan kesehatan pada umumnya, maka proses pendidikan pun mulai dilirik sebagai ajang bisnis yang cukup menjanjikan, terutama karena perminatan untuk disiplin ilmu kedokteran/kesehatan terbilang sangat besar, apalagi ditengah merebaknya ideologi kapitalis pada hampir semua strata masyarakat. Maka mulailah didirikan institusi-istitusi pendidikan kedokteran yang lebih modern, bonafide, dan serba lengkap, mulai dari kurikulum hingga pada sarana dan prasarana pendukung pendidikan sebagai seorang calon dokter, dan tentunya dibarengi dengan prasyarat pembiayaan yang jumlahnya juga bonafide, tiada lain untuk memperoleh asupan dana besar untuk kepentingan materialisme, sehingga jadilah akhirnya dunia pendidikan kedokteran sebagai sebuah industri tempat memproduksi manusia-manusia yang relatif berpola pikir seragam; anamnese, observasi, eksperimen, diagnosa dan akhirnya resep obat. Sistem ini berkembang secara pesat, yang mendorong tumbuhnya kreatifitas dunia industri dan aktor-aktor kapitalisme dunia medis untuk kembali merumuskan konsep baru pengembangan industri kedokteran. Berbagai cara kemudian ditempuh dan berbagai metodologi diaplikasikan, sehingga mulailah ditemukan instrumen-instrumen kedokteran untuk melengkapi proses pemeriksaan, diagnosa, pengobatan dan evaluasi terhadap penyakit. Perkembangan era komputerisasi dan fisika magnetik menjadi salah satu cikal bakal ditemukannya alat-alat pemeriksaan medis, seperti Roentgen, CT Scan, USG, MRI dan sejumlah instrumen canggih lainnya. Instrumen-instrumen ini yang kemudian kembali mendorong secara reversible berkembangnya lingkup ilmu kedokteran, jauh

berbeda ketika pertama kalinya diangkat sebagai sebuah kepercayaan mistical oleh ilmuwan-ilmuwan Yunani Kuno. Dari sisi psikologis, penemuan-penemuan terbaru dalam hal instrumen dan metodologi pengobatan kedokteran menjadi kegelisahan tersendiri bagi golongan pasien dan orangorang yang tidak mampu secara ekonomis tetapi sedang mengidap resiko tertular penyakit, sebab kesemuanya akan menambah akumulasi pembayaran jasa peralatan medik, disamping pembayaran jasa dokter dan pembelian resep obat yang diberikan pada setiap selesai berobat, sementara akan sangat sulit untuk mendapatkan pengobatan yang murah tanpa harus menggunakan teknologi dan instrumen medik yang canggih, sekalipun itu hanya penyakit superficial saja yang bahkan diketahui secara awam tidak akan mengakibatkan dampak sistemik terhadap proses metabolisme dan fisiologis tubuh manusia. Hingga dewasa ini, dunia kedokteran masih tetap tergambarkan sebagai dunia yang sarat dengan praktik-praktik kapitalisme, yang keberadaannya relatif telah banyak mendehumanisasikan manusia (memandang manusia sebagai entitas parsialistik, bukan sebagai keseluruhan, dan mengekstrimkan perbedaan jasmani-rohani, dengan asumsi bahwa tubuh manusia adalah mesin kehidupan yang dapat direkonstruksi dan dimodifikasi sedemikian rupa), dan sebahagian besar menempatkan kepentingan materialisme sebagai landasan sekaligus pola pikir para praktisi kedokteran, bahkan pihak birokrasi yang melingkupi sistem ini. Eksistensi institusi pendidikan lebih menunjukkan peran mekanistik; memproduksi tenaga-tenaga medis untuk melanjutkan tradisi kapitalisme dalam industri kedokteran/kesehatan, melalui serangkaian pembajakan moral dan pemerkosaan karakter kemanusiaan peserta didik, yang dikemas dalam kebijakan-kebijakan birokrasi hingga penerapan kurikulum yang tidak proporsional. Ruang-ruang pembangunan kesadaran komunal sebagai entitas sosial bagi mahasiswa-peserta didik- dalam penyelenggaraan pendidikan menjadi tersisih adanya, tergantikan oleh ketatnya penilaian atas kemampuan kognitif (academik), yang realnya ternyata tidak selalu dibarengi dengan penilaian kemampuan affektif (sikap dan moral dalam menghadapi realitas) maupun psikomotoriknya (emosional-andragogic). Pada akhirnya, proyek kapitalisme besar ini, yang mempertahankan relasi simbiosis mutualisme antara triumvirat kapitalis medik; institusi pendidikan-pelayanan kesehatan dan praktisinya-industri farmasi dan instrumen-instrumen medik, terus berlangsung siklik tasalsul, dan menyingkapkan tirai kemanusiaan dan mengaburkan kemuliaan profesi, dengan cara yang sangat tidak mulia dan tidak berperikemanusiaan, apalagi dengan kehadiran sektor birokrasi pemerintahan yang selalu mengalami ambiguitas dan keoportunisan. =====================================

Makassar dan Agenda Siklik Infeksi Tropik


Oleh Asta Qauliyah | December 26th, 2006

Jika tak dilecehkan lagi oleh musim, kota Makassar akan kedatangan bencana banjir seperti yang terjadi tahun-tahun sebelumnya. Pergiliran musim dari kemarau ke musim penghujan (pancaroba), menyisakan berbagai kendala di masyarakat, mulai dari relatif terganggunya rutinitas sehari-hari hingga penurunan daya tahan tubuh yang dapat berujung pada kesakitan. Sebagai daerah tropis, Makassar sebagaimana daerah lain di Indonesia, mengalami musim pancaroba minimal sekali dalam setahun. Tenggang waktu pergiliran musim ini, banyak berpengaruh pada kondisi lingkungan sekitar. Musim penghujan yang hadir pada penghujung tahun dan sekitar awal tahun baru di daerah ini, kerap kali menitipkan bencana banjir berkepanjangan akibat minimnya daerah resapan air dan terbatasnya kapasitas drainase kota. Pada daerah-daerah dataran rendah, genangan air banjir bisa bertahan hingga beberapa pekan lamanya, mengakibatkan kerugian materi maupun non materi yang cukup berarti. Buruknya status lingkungan di kota ini, kian digenapkan oleh kesan semrawut tata kota yang tak jelas wawasan kesehatannya. Permukiman-permukiman yang banyak menutupi daerah resapan air, menumpuknya sampah rumah tangga di kanal-kanal dalam kota serta tinggi-rendahnya aliran drainase kota adalah beberapa penyebab rutinitas banjir. Dalam perspektif kesehatan, kondisi lingkungan yang tidak bersahabat seperti itu, merupakan setting yang sangat kondusif bagi perkembangan penyakit-penyakit infeksi. Secara bersamaan, imunitas tubuh akan menurun akibat labilnya cuaca dan suhu sekitar yang lebih diperparah jika kita tidak menjaga kesehatan dengan cara yang benar. Kondisi seperti ini memungkinkan penyakit diare, ISPA, demam berdarah, dan malaria terjadi dalam skala massif bahkan tidak mustahil menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB). Perang Melawan DBD Tahun lalu, kota Makassar diperangah oleh Kejadian Luar Biasa (KLB) demam berdarah (DHF/Dengue Haemorragic Fever) yang meminta ratusan korban. Karena banyak menyerang anak-anak, sebagian besar bangsal perawatan anak rumah sakit di kota ini penuh terisi anak-anak DBD. Ironisnya, sebagian besar kasus terjadi pada keluarga miskin yang bermukim di kawasan kumuh padat penduduk di dalam kota. Selain itu, insiden penyakit diare seakan tak mau ketinggalan. Tak berlebih jika mengatakan bahwa insiden penyakit dan orang yang sakit berbanding lurus dengan tingkat banjir dan daerah lokasi banjir. Lain lagi dengan penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) yang banyak menyerang anak-anak dan usia tua. Tingginya tingkat infektif penyakit ini menyebabkan

prevalensinya cukup besar terlebih dalam kondisi lingkungan yang lembab akibat hujan dan banjir. Karena terlanjur, Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Kesehatan, akhirnya tak dapat berbuat banyak, apalagi untuk mencegah perjangkitan saat itu. Program pengobatan dan perawatan menjadi pilihan satu-satunya. Padahal, masukan dan saran dari berbagai pihak, telah disuarakan jauh sebelum musim pancaroba tiba. Karena terlanjur, Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Kesehatan, akhirnya tak dapat berbuat banyak, apalagi untuk mencegah perjangkitan saat itu. Program pengobatan dan perawatan menjadi pilihan satu-satunya. Padahal, masukan dan saran dari berbagai pihak, telah disuarakan jauh sebelum musim pancaroba tiba. Berbagai dalih dikeluarkan, sekadar memperkuat alasan untuk hanya berkutat mengobati dan menanggulangi bencana yang ada. Banyaknya korban dan atas desakan dari berbagai pihak, komitmen untuk memperbaiki program promosi dan preventif (pencegahan) pada masa mendatang, akhirnya muncul juga dari dinas kesehatan kota. Beberapa bulan sebelum memasuki pancaroba tahun 2006 ini, pihak dinas kesehatan kota menggelar program pemberantasan demam berdarah. Perang melawan demam berdarah didengungkan melalui upaya penyemprotan rumah-rumah penduduk (fogging), abatesasi (pemberian bubuk abate di setiap penampungan air dalam rumah) maupun pemusnahan jentik-jentik nyamuk. Sekian dana dianggarkan untuk tekad membebaskan Makassar dari demam berdarah pada tahun 2004. Bahkan, KKN Profesi Kesehatan Unhas pun diturunkan ke dalam kota untuk membantu pihak pemerintah kota berperang melawan DBD, khususnya untuk memberantas jentik-jentik nyamuk Aedes aegypty-penyebab tunggal demam berdarah (DHF). Infeksi Masih Berulang Saat ini kita kembali memasuki pancaroba, menuju musim penghujan-musim kebanjiran. Riuh-rendah perang melawan demam berdarah, akhirnya menuai hasil. Kita belum berhasil, kalau tak mau disebut: gagal. Bangsal-bangsal anak rumah sakit di kota ini, kembali harus disiapkan menampung pasien DBD, diare, dan ISPA. Tidak nampak signifikan hasil perang melawan DBD pada bulan-bulan sebelumnya. Padahal, kita telah mengeluarkan begitu banyak uang rakyat. Kredibelitas pemerintah kota, dalam hal ini dinas kesehatan, kembali dipertanyakan. Betapa tidak, klaim-klaim bahwa upaya pencegahan telah optimal dilakukan ternyata tidak terbukti di lapangan. Pun jika ada, relatif sudah terlambat. Rumah-rumah penduduk yang bersticker bebas jentik, hampir semuanya masih menjadi sarang nyamuk demam berdarah. Konyolnya, tidak sedikit rumah yang tak berpenghuni justru bertuliskan bebas jentik. Ternyata, sebagian besar rumah penduduk bahkan tidak

pernah diperiksa kondisi penampungan dan jentik-jentiknya, lalu dengan serta-merta dipasangi sticker bebas jentik. Tak banyak yang berubah, malah mungkin lebih buruk dari sebelumnya. Musim penghujan belum seberapa lama, genangan air di sana-sini mulai bermunculan. Prevalensi diare, seakan tetap tidak mau kalah, meningkat drastis-membawa banyak korban. ISPA apalagi. Kota ini nyaris menjadi kota yang sedang menuju sakit. Pemerintah kota agaknya masih menunggu terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD dan diare untuk dapat memastikan, bahwa siklus infeksi tropik, kembali berulang. Sementara rumah sakit selalu terjaga menerima pasien demam dengue (Dengue Fever/DF)-predileksi demam berdarah (Dengue Haemmorragic Fever/DHF), ISPA, dan diare. Kita memang terbukti kalah perang, juga rugi uang. Jika dikaji, secara tidak langsung dinas kesehatan kota tengah merakit bom waktu. Sejumlah anggaran pemberantasan demam berdarah menjadi layak untuk dipertanyakan pemanfaatan dan hasil yang didapatkan. Pemasangan sticker bebas jentik di rumah-rumah penduduk yang ternyata menjadi rumah pasien DBD, kian menguatkan kesan bahwa dinas kesehatan kota telah melakukan kebohongan publikbahkan tindak penipuan terhadap masyarakat. Program pemberantasan jentik pada bulan-bulan yang lalu, terbukti gagal. Jentik nyamuk yang dulu coba diperangi, kini telah dewasa dan setelah meminta korban, kembali akan melahirkan jentik-jentik baru untuk korban berikutnya di waktu mendatang. Dari perspektif hukum, pemerintah kota harus mempertanggungjawabkan hal ini. Jika saja kedewasaan hukum telah berkembang begitu baik di negara kitaseperti halnya di luar negeri, tidak mustahil dapat dilakukan semacam class action dari masyarakat, untuk menuntut pemerintah kota atas tindakan yang telah dilakukannya. Secara moral politis, kepercayaan masyarakat atas stakeholder kesehatan kota praktis menurun, jika tak hilang sama sekali. Momentum siklik infeksi tropik saat ini, layak menjadi bahan refleksi bagi kita semua, untuk segera bercermin betapa masih buruknya sistem kesehatan di kota ini. Sekadar mengingatkan, insiden penyakit infeksi seperti DBD, ISPA, dan diare, hanya bagian kecil dari problem kesehatan kita saat ini. Karena kredibelitas terbangun melalui kinerja yang dihasilkan, maka dengan demikian, dinas kesehatan kota Makassar kembali menanggung beban ganda; menyelesaikan pengobatan dan perawatan pasien DBD, ISPA, dan diare saat ini, sekaligus mempersiapkan program pencegahan untuk masa mendatang. Pertanyaannya, setelah perang melawan DBD pasca musim ini, masihkah kita harus mengulang episode endemik sporadis DBD, diare, dan ISPA, seperti sekarang?

============================

Kemiripan Penyakit Demam Berdarah (DBD) dengan penyakit lainnya


Oleh Asta Qauliyah | January 25th, 2007

Ayah seorang penderita yang baru saja meninggal karena keganasan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) sempat bingung. Sebelum meninggal sudah 3 kali anaknya dibawa ke dokter dan 3 kali itu juga mendapat diagnosis yang berbeda. Hari pertama didiagnosis infeksi tenggorokan, pada hari ke III setelah cek darah diagnosis berubah menjadi tifus dan akhirnya pada hari ke V divonis DBD sebagai penyebab kematiannya. Peristiwa ini sering dialami oleh penderita DBD, karena gejala awal DBD awalnya mirip dengan banyak penyakit lainnya. Masyarakat dituntut mempunyai pengetahuan yang baik dan kecermatan yang tinggi untuk membedakan DBD dengan penyakit lainnya. Sedangkan seorang klinisi atau dokter dituntut kejelian pemahaman tentang perjalanan penyakit infeksi virus dengue, proses terjadinya penyakit, ketajaman pengamatan klinis dan interpretasi laboratorium yang benar. Dengan pemeriksaan klinis yang baik dan lengkap, serta pemeriksaan penunjang (laboratorium) dapat membantu terutama bila gejala klinis kurang memadai. Keterlambatan diagnosis berakibat keterlambatan penanganan yang berpotensi meningkatkan resiko kematian. Manifestasi Klinis DBD yang Bervariasi Peristiwa pitfall diagnosis atau kesalahan diagnosis penyakit DBD yang paling sering terjadi adalah demam tifoid, faringitis akut (infeksi tenggorok), ensefalitis (infeksi otak), campak, flu atau infeksi saluran napas lainnya yang disebabkan karena virus. Bahkan belakangan ini terdapat beberapa kasus yang awalnya dicurigai flu burung tetapi ternyata mengalami penyakit DBD. Hal ini terjadi karena infeksi virus dengue yang menyebabkan DBD sangat bervariasi. Mulai dengan gejala yang bersifat asimtomatik atau tidak jelas gejalanya hingga gejala klinis yang berat.

Gejala Umum Penyakit Demam Berdarah (DBD) Penderita DBD dapat menunjukkan gejala batuk, pilek, muntah, mual, nyeri tenggorok, nyeri perut, nyeri otot atau tulang, nyeri kepala, diare, kejang atau kesadaran menurun. Gejala ini juga dijumpai pada berbagai penyakit infeksi virus atau infeksi bakteri lainnya yang menyerang tubuh. Menurut kriteria WHO (World Health Organization) diagnosis DBD hanya dibuat berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan laboratorium trombosit dan hematokrit. Gejala pada penyakit demam berdarah diawali dengan demam tinggi yang mendadak 2-7 hari (38C 40C) disertai manifestasi pendarahan berupa bintik perdarahan di kulit, pendarahan selaput putih mata, mimisan atau berak darah. Penyakit ini ditandai oleh pembesaran hati, syok atau tekanan nadi menurun menjadi 20 mmHg atau kurang, tekanan sistolik sampai 80 mmHg atau lebih rendah. Pemeriksaan laboratorium didapatkan penurunan trombosit sampai kurang dari 100.000 /mm pada hari ke III-V dan meningkatnya nilai hematokrit (>40%). Bila klinisi cermat dalam ketajaman klinisnya, maka pemeriksaan laboratorium lain untuk konfirmasi diagnosis secara umum mungkin tidak diperlukan bila tanda dan gejala di atas sudah cukup jelas. Pemeriksaan dengue blot IgG dan IgM, isolasi virus dan pemeriksaan serologi mungkin hanya diperlukan dalam bidang penelitian atau kasus yang sulit. Karena pemeriksaan tersebut sangat mahal dan khususnya pemeriksaan dengue blot sensitifitasnya tidak terlalu tinggi. Pitfall Diagnosis Penyakit Tifus Sering dijumpai penderita DBD juga mengalami pitfall diagnosis sebagai penyakit tifus. Kesalahan lain, sering dianggap bahwa demam disebabkan karena penyakit DBD dan tifus secara bersamaan. Kesalahan ini sering terjadi karena pemahaman yang kurang baik tentang dasar diagnosis penyakit, perjalanan penyakit dan interpretasi laboratorium.

Pola demam pada DBD biasanya mendadak tinggi, terus menerus tidak pernah turun dalam 2 hari pertama, menurun pada hari ke III dan meningkat lagi hari ke IV-V. Demam pada penyakit tifus biasanya tinggi terutama malam hari. Pada penderita DBD sering ditemukan juga peningkatan hasil Widal. Pemeriksaan Widal adalah identifikasi antibodi tubuh terhadap penyakit tifus. Kejadian seperti inilah yang menimbulkan kerancuan diagnosis DBD. Padahal pada penyakit tifus pada minggu awal panas biasanya malah tidak terdeteksi peningkatan titer Widal tersebut. Bila hasil pemeriksaan widal meningkat tinggi pada awal minggu pertama, tidak harus dicurigai sebagai penyakit tifus. Pada beberapa penelitian menunjukkan, gangguan mekanisme pertahanan tubuh pada penderita hipersensitif atau alergi sering menimbulkan hasil widal false positif. Artinya, hasilnya positif tetapi belum tentu benar mengalami penyakit tifus. Hal lain yang harus diketahui, antibodi widal dapat bertahan terus pada penderita selama 6 bulan hingga 2 tahun meskipun penyakit tifusnya sudah membaik. Sebaiknya, pemeriksaan Widal dilakukan menjelang akhir minggu pertama panas atau awal minggu ke dua panas. Sejauh ini akurasi tes widal sebagai diagnosis penyakit tifus masih banyak terdapat kelemahannya. Diagnosis pasti penyakit tifus adalah dengan pemeriksaan kultur darah, bukan dengan pemeriksaan widal. Penulis telah mengadakan pengamatan terhadap 24 penderita DBD yang disertai pemeriksaan widal yang positip. Ternyata dalam evaluasi lebih lanjut, didapatkan hasil kultur darah kuman tifus negatif. Artinya, bukan penyakit tifus meskipun hasil widal positip. Penyakit Campak dan ISPA Manifestasi yang tidak biasa pada penderita DBD adalah timbul rash atau bercak kemerahan yang mirip dengan penyakit campak. Hal ini sering terjadi pada penderita yang sebelumnya sering mengalami riwayat hipersensitif atau alergi pada kulit. Pada penyakit campak, bercak merah timbul biasanya pada demam hari ke III-V, kemudian akan berkurang pada minggu keII dan menimbulkan bekas terkelupas dan bercak kehitaman. Penyakit campak harus diawali dengan keluhan pilek dan batuk mulai demam pada hari pertama. Pada penderita DBD, biasanya bercak ini timbul saat hari ke II-III, hari ke IV-V menghilang dan tidak diikuti proses terkelupas dan bercak kehitaman pada kulit. Pada awal perjalanan penyakit, DBD sangat sulit dibedakan dengan Infeksi Saluran Napas Akut (ISPA) seperti flu, infeksi tenggorok atau infeksi lainnya yang disebabkan karena virus.

Gejala batuk, pilek, demam hampir sama. Mungkin yang sedikit dapat menjadi perhatian adalah bila pada penyakit flu biasanya diawali dengan batuk dan pilek pada saat demam hari pertama, akan menghilang secara bertahap setelah 7-14 hari. Sedangkan pada penyakit DBD, biasanya timbul batuk dan pilek saat demam hari ke IIIV, dan setelah hari ke VI batuk drastis menghilang. Penderita DBD yang mengalami keluhan batuk atau pilek, biasanya mempunyai riwayat hipersensitif pada saluran napas atas yang sering mengalami pilek, batuk berulang, lama atau asma. Cara Menyikapinya Kesalahan Diagnosis Demam Berdarah Kesalahan diagnosis dapat mengakibatkan keterlambatan diagnosis yang berujung pada keterlambatan penanganan dan berpotensi meningkatkan resiko kematian. Diperlukan pemahaman yang baik tentang perjalanan penyakit infeksi virus dengue dan proses terjadinya penyakit, ketajaman pengamatan klinis serta interpretasi hasil laboratorium yang benar. Hasil pemeriksaan laboratorium tertentu bukan satu-satunya konfirmasi diagnosis, harus diikuti ketajaman pengamatan klinis dan interpretasi yang benar. Penanganan suatu penyakit yang ideal bukan hanya sekedar mengobati hasil laboratorium tetapi memberikan terapi yang benar berdasarkan tanda dan gejala penyakit yang ada pada penderita. Dalam keadaan kasus penyakit DBD yang meningkat seperti sekarang ini, bila didapatkan tanda dan gejala DBD tetapi disertai penetapan diagnosis penyakit lain maka sebaiknya fokus utama penatalaksanaan pada kecurigaan penyakit DBD. Dalam keadaan tertentu mungkin lebih baik terjadi overdiagnosis DBD, dibandingkan underdiagnosis DBD. Karena, keterlambatan penanganan penyakit DBD, lebih fatal dibandingkan penyakit lainnya. Tetapi bukan berarti setiap demam harus dicurigai DBD, memang sulit khan? Tulisan Dr Widodo Judarwanto SpA ===========================

Kapitalisme di Dunia Kedokteran


Oleh Asta Qauliyah | March 16th, 2007

Terminologi dokter memberikan sejumlah predikat, tanggung jawab, dan peranperan eksistensial lainnya. Tanpa melupakan sisi dominan proses pembelajaran dan pengembangan intelektual, seorang dokter juga pada prinsipnya diamanahkan untuk menjalankan tugas-tugas antropososial dan merealisasikan tanggung jawab individual kekhalifaan, mewujudkan kebenaran dan keadilan, yang tentunya tidak akan terlepas

pada konteks dan realitas dimana dia berada. Dengan tetap mengindahkan tanggung jawab dispilin keilmuan, maka entitas dokter haruslah mampu mempertemukan konsepsi dunia kedokterannya dengan realitas masyarakat hari ini. Untuk dapat melakukan perubahan dan pembaharuan, maka adalah penting memahami secara benar konsepsi dan melakukan pembacaan terhadap realitas yang terjadi didepan mata kita. Jika kita bawa pada paradigma kedokteran, maka konsepsi dunia kedokteran -humanisasi, sosialisme, penghargaan atas setiap nyawa , pembelajaran dan peningkatan kualitas hidup, keseimbangan hak dan kewajiban tenaga medis dengan pasien dan sebagainya- seyogyanya harus sepadan dengan realitas yang terjadi pada masyarakat kita dewasa ini, sehingga dari sini nantinya bukan mustahil akan bermunculan sejumlah pertanyaan-pertanyaan yang menggelitik idealisme kemanusiaan kita untuk dapat berbuat sesuatu; memperbaiki keadaan, atau minimal tidak memperkeruh dan menambah masalah yang sudah ada, demi mempertemukan batas demarkasi konsep (teks) dan konteks, demi sebuah kebenaran; karena pada dasarnya perubahan yang akan kita lakukan tak lain hanyalah untuk mewujudkan kebenaran pada konteks kita berada. Sebagai kaum intelektual, yang setiap saat mengkonsumsi pengetahuan akan kehidupan sains, sosial, keadilan, kebenaran dan fungsi-fungsi peradaban maka profesi dokter memiliki tanggung jawab intelektual yang tidak boleh dinafikkan, selain karena profesi ini telah menjelma menjadi bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat, juga karena intelektualitas merupakan salah satu parameter pencerahan kehidupan yang didalamnya terkandung rahmat sekaligus amanah bagi yang memilikinya. Keterusikan jiwa akan tanggung jawab intelektual ini untuk merealisasikannya merupakan indikasi berfaedahnya pengetahuan dan munculnya kesadaran atas amanah yang diemban; mewujudkan kehidupan yang lebih baik, sesuai dengan kemampuan dan kapabilitas keilmuan yang dimiliki, sehingga predikat dokter masih tetap dapat diterjemahkan kontekstualisasinya, baik secara individu maupun antropososialnya. Berdasarkan tinjauan historisnya, dunia kedokteran (pengobatan) pada awalnya dipandang sebagai sebuah profesi yang sangat mulia, sehingga dengan asumsi tersebut, maka orang-orang yang terlibat dalam proses hidup dan berlangsungnya dunia kedokteran kemudian dinisbahkan sebagai orang-orang yang juga memiliki kemuliaan; baik pada kata, sikap maupun tabiat yang dimilikinya. Dengan memandang profesi kedokteran sebagai pekerjaan yang senantiasa bergelut untuk menutup pintu kematian dan membuka lebar-lebar kesempatan untuk dapat mempertahankan dan meneruskan hidup seseorang, maka berkembanglah kesepakatan sosial (social aggrement) akan urgensi dari ilmu kedokteran sebagai salah satu prasyarat utama untuk dapat mempertahankan hidup. Pada akhirnya, lambat namun pasti, profesi kedokteran seakan menjadi ilmu pengetahuan utama (master of science), dimana setiap dokter dipandang sebagai seorang jenius dan tahu segalanya dan semua orang akan berusaha menjadi dan memegang peran besar dalam pekerjaan terhormat ini.

Sejak semula, profesi kedokteran dianggap sebagai sebuah seni (art) dalam kehidupan, karenanya tidak setiap orang dapat dengan mudah mendapatkan kecakapan akan tindakan-tindakan medis, walaupun itu hanya tindakan medis sederhana yang dapat dimiliki oleh setiap orang saat ini. Maka jadilah kedokteran sebagai salah satu entitas sacral dalam kehidupan, dimana orang-orang didalamnya kemudian dianggap sebagai tokoh suci wakil Dewa Kehidupan, yang setiap kata-katanya adalah benar dan tidak dapat terbantahkan oleh siapa pun, bahkan oleh teman sejawat yang masih lebih muda darinya. Keberadaan tokoh legendaris Yunani, Hippocrates yang terkenal dengan Sumpah Hippocrates-nya, membuat dunia kedokteran semakin memperkokoh diri sebagai sebuah imperium pengetahuan yang memiliki eksklusifitas antropologis. Sehingga pada zaman itu dijumpai bahwa kewajiban untuk mereproduksi pengetahuan kedokteran sebagian besar hanya dilakukan pada lingkungan keluarga sang dokter, dengan menitikberatkan pada sistem leluri (turun-temurun), dan menganggap bahwa ilmu yang dimilikinya adalah wasiat Dewa yang tidak boleh punah, namun tidak boleh diberikan pada sembarang orang. Seiring dengan perkembangan zaman, profesi kedokteran telah menjadi bagian integral dari sistem kehidupan manusia, dan karena grafik kebutuhan yang semakin meningkat yang tidak dibarengi oleh ketersediaan tenaga-tenaga medis profesional, maka profesi dokter terdesak menjadi sebuah lahan komersialisasi, apalagi dengan mulai munculnya pahaman kapitalisme, maka pekerjaan ini adalah lahan strategis meraup keuntungan material sebanyak mungkin. Praktik ini berlangsung secara berkelanjutan dan bahkan kemudian dipandang sebagai sebuah keniscayaan profesi. Dengan semakin bertambahnya kompleksitas kehidupan manusia, maka ragam lingkup ilmu pengobatan (kedokteran) menjadi terdesak untuk melakukan pengembangan dan peningkatan kualitas, sesuai dengan kompleksitas objek pengobatan yang dijumpai dalam realitas. Peluang ini yang kemudian sedikit banyak dimanfaatkan oleh kaum kapitalis untuk mulai menanamkan akar ideologinya; merasuki dunia kedokteran menjadi sebuah lahan bisnis yang menggiurkan semua orang, meskipun pada sisi lain, jargon idealisme keilmuan turut mendasari proses pengembangan yang dilakukan. Maka mulailah terjadi proses desakralisasi ilmu kedokteran (pengobatan), dimana setiap orang memiliki kesempatan untuk dapat memahami dan memilikinya, tentunya setelah menyanggupi syarat-syarat yang diajukan, melalui proses pendidikan yang lebih sistematik. Pada aras yang lain, pengembangan ilmu pengobatan yang sudah ada sebelumnya menjadi bagian yang tak terpisahkan, mulailah dilakukan penelitianpenelitian (medical research) dengan menggunakan teknologi modern, untuk menyempurnakan pengetahuan pengobatan yang telah ada. Selaras dengan berkembangannya pendidikan dan penelitian kedokteran, maka mulailah didirikan perusahaan-perusahaan farmasi dan diperkenalkannya jenis obat-obatan modern hasil industri farmasi, agar lebih mengefektifkan pengobatan terhadap pasien. Akhirnya, pola pengobatan yang dipraktekkan kemudian terjebak pada sasaran utama; memberikan

resep obat, bahkan semakin ekstrim, setiap penyakit harus diberikan obat dari hasil industri farmasi, ujung-ujungnya adalah biaya. Ada sebuah sistem yang terbangun kuat antara praktisi medis dengan industriawan farmasi, melekat kuat seiring dengan semakin berkembangnya ruang lingkup ilmu kedokteran, dengan sebuah tujuan ekonomis; meraup keuntungan dengan dalih sebagai konsekuensi bayaran jasa dan biaya proses pengobatan modern yang dijalani pasien. Dengan semakin meningkatnya daya tarik untuk bergelut dalam dunia kedokteran dan kesehatan pada umumnya, maka proses pendidikan pun mulai dilirik sebagai ajang bisnis yang cukup menjanjikan, terutama karena perminatan untuk disiplin ilmu kedokteran/kesehatan terbilang sangat besar, apalagi ditengah merebaknya ideologi kapitalis pada hampir semua strata masyarakat. Maka mulailah didirikan institusi-istitusi pendidikan kedokteran yang lebih modern, bonafide, dan serba lengkap, mulai dari kurikulum hingga pada sarana dan prasarana pendukung pendidikan sebagai seorang calon dokter, dan tentunya dibarengi dengan prasyarat pembiayaan yang jumlahnya juga bonafide, tiada lain untuk memperoleh asupan dana besar untuk kepentingan materialisme, sehingga jadilah akhirnya dunia pendidikan kedokteran sebagai sebuah industri tempat memproduksi manusia-manusia yang relatif berpola pikir seragam; anamnese, observasi, eksperimen, diagnosa dan akhirnya resep obat. Sistem ini berkembang secara pesat, yang mendorong tumbuhnya kreatifitas dunia industri dan aktor-aktor kapitalisme dunia medis untuk kembali merumuskan konsep baru pengembangan industri kedokteran. Berbagai cara kemudian ditempuh dan berbagai metodologi diaplikasikan, sehingga mulailah ditemukan instrumen-instrumen kedokteran untuk melengkapi proses pemeriksaan, diagnosa, pengobatan dan evaluasi terhadap penyakit. Perkembangan era komputerisasi dan fisika magnetik menjadi salah satu cikal bakal ditemukannya alat-alat pemeriksaan medis, seperti Roentgen, CT Scan, USG, MRI dan sejumlah instrumen canggih lainnya. Instrumen-instrumen ini yang kemudian kembali mendorong secara reversible berkembangnya lingkup ilmu kedokteran, jauh berbeda ketika pertama kalinya diangkat sebagai sebuah kepercayaan mistical oleh ilmuwan-ilmuwan Yunani Kuno. Dari sisi psikologis, penemuan-penemuan terbaru dalam hal instrumen dan metodologi pengobatan kedokteran menjadi kegelisahan tersendiri bagi golongan pasien dan orangorang yang tidak mampu secara ekonomis tetapi sedang mengidap resiko tertular penyakit, sebab kesemuanya akan menambah akumulasi pembayaran jasa peralatan medik, disamping pembayaran jasa dokter dan pembelian resep obat yang diberikan pada setiap selesai berobat, sementara akan sangat sulit untuk mendapatkan pengobatan yang murah tanpa harus menggunakan teknologi dan instrumen medik yang canggih, sekalipun itu hanya penyakit superficial saja yang bahkan diketahui secara awam tidak akan mengakibatkan dampak sistemik terhadap proses metabolisme dan fisiologis tubuh manusia.

Hingga dewasa ini, dunia kedokteran masih tetap tergambarkan sebagai dunia yang sarat dengan praktik-praktik kapitalisme, yang keberadaannya relatif telah banyak mendehumanisasikan manusia (memandang manusia sebagai entitas parsialistik, bukan sebagai keseluruhan, dan mengekstrimkan perbedaan jasmani-rohani, dengan asumsi bahwa tubuh manusia adalah mesin kehidupan yang dapat direkonstruksi dan dimodifikasi sedemikian rupa), dan sebahagian besar menempatkan kepentingan materialisme sebagai landasan sekaligus pola pikir para praktisi kedokteran, bahkan pihak birokrasi yang melingkupi sistem ini. Eksistensi institusi pendidikan lebih menunjukkan peran mekanistik; memproduksi tenaga-tenaga medis untuk melanjutkan tradisi kapitalisme dalam industri kedokteran/kesehatan, melalui serangkaian pembajakan moral dan pemerkosaan karakter kemanusiaan peserta didik, yang dikemas dalam kebijakan-kebijakan birokrasi hingga penerapan kurikulum yang tidak proporsional. Ruang-ruang pembangunan kesadaran komunal sebagai entitas sosial bagi mahasiswa-peserta didik- dalam penyelenggaraan pendidikan menjadi tersisih adanya, tergantikan oleh ketatnya penilaian atas kemampuan kognitif (academik), yang realnya ternyata tidak selalu dibarengi dengan penilaian kemampuan affektif (sikap dan moral dalam menghadapi realitas) maupun psikomotoriknya (emosional-andragogic). Pada akhirnya, proyek kapitalisme besar ini, yang mempertahankan relasi simbiosis mutualisme antara triumvirat kapitalis medik; institusi pendidikan-pelayanan kesehatan dan praktisinya-industri farmasi dan instrumen-instrumen medik, terus berlangsung siklik tasalsul, dan menyingkapkan tirai kemanusiaan dan mengaburkan kemuliaan profesi, dengan cara yang sangat tidak mulia dan tidak berperikemanusiaan, apalagi dengan kehadiran sektor birokrasi pemerintahan yang selalu mengalami ambiguitas dan keoportunisan. ==================