Anda di halaman 1dari 6

BENZODIAZEPIN,

SI PENENANG YANG BISA MEMBUAT


KETERGANTUNGAN





DISUSUN OLEH:
LISSABERTI AMALIAH
04071001029

PENDIDIKAN DOKTER UMUM


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWI1AYA
2010


KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr wb.
Puji syukur ke hadirat ALLAH SWT, karena berkat dan rahmat-Nyalah
assignment yang berjudulkan 'BENZODIAZEPIN, SI PENENANG YANG BISA
MEMBUAT KETERGANTUNGAN` ini dapat terselesaikan. Salawat dan salam pun
dihaturkan kepada Nabi Muhammad Saw, yang telah membawa kita dari zaman
kegelapan ke zaman yang terang benderang seperti saat ini.
Adapun tujuan dari pembuatan assignment ini selain untuk memenuhi nilai
assignment blok XVI, juga untuk memberikan wawasan kepada kita semua bahwa
selain memiliki eIek menenangkan, benzodiazepine juga bisa menyebabkan eIek
ketergantungan. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Penjelasan tersebut akan dijelaskan
pada bagian isi.
Dalam assignment ini, penulis juga mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ayah, bunda dan keluarga penulis yang telah memberikan support baik moril maupun
materil.
2. Semua dosen blok XVI ysng telah mentransIer ilmu kedokteran jiwanya kepada
penulis
3. Teman-teman penulis dan semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

Demikianlah assignment ini di buat. Semoga dapat memberikan manIaat bagi
bidang kesehatan pada umumnya dan mahasiswa kedokteran pada khususnya. Akhir
kata penulis ucapkan,
abillahitaufiq wa lih dayya, assalammualaikum wr wb.


Palembang, Maret 2010

Penulis


DAFTAR ISI























I. PENDAHULUAN

$edatif adalah obat yang menurunkan ketegangan subjektiI dan menginduksi
ketenangan mental. Istilah 'sedatif sesungguhnya adalah sama dengan istilah
'ansiolitik, yaitu obat yang menurunkan kecemasan. Hipnotik adalah obat yang
digunakan untuk menginduksi tidur. Pembedaan antara ansiolitik dan sedatiI sebagai
obat di siang hari dan hipnotik sebagai obat di malam hari adalah tidak akurat. Jika
sedatiI dan ansiolitik diberikan dalam dosis tinggi, obat tersebut dapat menginduksi
tidur, seperti yang disebabkan oleh hipnotik. Sebaliknya, jika hipnotik diberikan
dalam dosis yang terlalu rendah , obat dapat menginduksi sedasi pada siang hari,
seperti yang disebabkan oleh sedatiI dan ansiolitik.
Suatu obat sedatiI yang eIektiI (ansiolitik) seharusnya dapat mengurangi ansietas
dan menimbulkan eIek menenangkan dengan sedikit atau tidak ada eIek pada Iungsi
motorik atau mental. Tingkat depresi susunan saraI pusat yang disebabkan oleh
sedatiI minimun harus konsisten dengan kemanjuran terapi. Obat hipnotik dapat
menimbulkan rasa mengantuk dan memperlama dan mempertahankan keadaan tidur
yang sedapat mungkin menyerupai keadaan tidur yang alamiah. EIek hipnotik lebih
bersiIat depresan terhadap susunan saraI pusat daripada sedasi dan ini dapat diperoleh
secara mudah pada kebanyakkan obat-obat sedatiI dengan jalan meningkatkan dosis.
Benzodiazepin adalah hipnotik-sedatiI yang paling penting. Penggunaan
benzodiazepine untuk tatalaksana gangguan cemas telah dikenal luas oleh para
praktisi baik di tingkat primer maupun sekunder. Reaksi yang cepat dan eIek
menenangkan yang diharapkan, telah menempatkan benzodiazepine sebagai terapi
yang paling disukai selama bertahun-tahun.
Benzodiazepine yang digunakan pun sangat beragam, dari yang mempunyai
waktu paruh yang panjang seperti diazepam, sampai yang pendek seperti alprazolam
dan lorazepam. Namun belakangan para ahli mengatakan bahwa benzodiazepine
seringkali menimbulkan masalah jika pemakaiannya tidak diawasi dan dalam jangka
waktu yang panjang.
Toleransi dan kekhawatiran akan ketergantungan adalah hal-hal yang paling
sering dihubungkan dengan penggunaan benzodiazepine dalam waktu panjang. Selain
dari itu sebenarnya, sindroma putus zat (withdrawal) juga merupakan salah satu
kendala dalam penggunaan benzodiazepine yang terkadang membuat penggunaannya
tidak diminati lagi oleh para ahli di luar negeri belakangan ini.

II. ISI
Di tahun 1964 Badan Kesehatan Dunia menyatakan bahwa istilah 'adiksi tidak
lagi menjadi istilah ilmiah dan menganjurkan menggantinya dengan istilah
'ketergantungan obat. Ketergantungan obat oleh WHO (1969) dideIinisikan sebagai
berikut: suatu keadaan yang bersiIat psikis kadang-kadang jga Iisik, akibat adanya
interaksi antara organisme hidup dan obat, terciri dengan respon perilaku dan respon
lain yang selalu menyertakan tindakan kompulsiI untuk menggunakan obat terus
menerus secara periodik supaya mengalami eIek psikis dan kadang-kadang untuk
meniadakan rasa tidak enak dengan tidak adanya obat tersebut dalam tubuhnya. Oleh
Laurence ketergantungan obat dideIinisikan sebagai keadaan yang timbul oleh karena
penggunaan suatu obat yang periodik dan terus-menerus sehingga merusak diri
pengguna dan kadang-kadang masyarakat sekelilingnya.
Berdasarkan DSM-IV, kriteria diagnostik untuk ketergantungan zat antara lain:
Suatu pola pemakaian zat maladaptiI, yang menyebabkan gangguan atau penderitaan
yang bermakna secara klinis, seperti yang dimaniIestasikan oleh tiga (atau lebih) hal
berikut, terjadi pada tiap saat dalam periode 12 bulan sama.
(1)Toleransi, seperti yang dideIinisikan berikut:
(a) Kebutuhan untuk meningkatkan jumlah zat secara jelas untuk mencapai
intoksikasi atau eIek yang diinginkan
(b)Penurunan eIek yang bermakna pada pemakaian berlanjut dengan jumlah zat
yang sama
(2)Putus, seperti yang dimaniIestasikan berikut
(a) Sindrom putus yang karakteristik bagi zat (lihat kriteria A dan B dari
kumpulan kriteria untuk putus dari zat spesiIik)
(b)Zat yang sama (atau yang berhubungan erat) digunakan untuk menghilangkan
atau menghindari gejala putus
(3)Zat sering kali digunakan dalam jumlah yang besar atau selama periode yang
lebih lama dari yang diinginkan
(4)Terdapat keinginan yang terus-menerus atau usaha yang gagal untuk
menghentikan atau mengendalikan penggunaan zat
(5)Dihabiskan banyak waktu dalam aktivitas untuk mendapatkan zat (misalnya,
mengunjungi banyak dokter atau pergi jarak jauh), menggunakan zat (misalnya,
chain-smoking), atau pulih dari eIeknya
(6)Aktivitas sosial, pekerjaan, tau rekreasional yang penting dihentikkan atau
dikurangi karena penggunaan zat
(7)Pemakaian zat dilanjutkan walaupun mengetahui memiliki masalah Iisik dan
psikologis yang menetap atau rekuren yang kemungkinan telah disebabkan atau
dieksaserbasi oleh zat (misalnya, baru saja menggunakan kokain walaupun
menyadari adanya depresi akibat kokain, atau terus minum walaupun mengetahui
bahwa ulkus memburuk oleh konsumsi alkohol)
Sebutkan jika:
Dengan ketergantungan Iisiologis: tanda-tanda toleransi atau putus (yaitu,
terdapat butir 1 maupun 2)
Tanpa ketergantungan Iisiologis: tidak ada tanda-tanda toleransi atau putus
(yaitu, tidak terdapat butir 1 maupun 2)
Penentuan perjalanan:
Remisi penuh awal
Remisi parsial awal
Remisi penuh bertahan
Remisi parsial bertahan
Pada terapi agonis
Dalam lingkungan terkendali