Anda di halaman 1dari 24

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penyusunan laporan ini berdasarkan kasus berikut : Donny 14 tahun 2 bulan, datang ke klinik integrasi RSGMP FKG UI dengan keluhan ingin meratakan giginya. Ibunya sangat memperhatikan kondisi gigi Donny yang menurut dokter gigi yang memeriksanya tidak memiliki benih gigi geraham tetap sebelah kanan atas dan bawah. Gigi geligi Donny di bagian depan berjejal dan terlihat adanya gigitan silang. Ibu Donny berharap agar gigi Donny dapat diratakan dan tempat giginya yang tidak tumbuh dapat dicarikan jalan keluar dengan sebaik-baiknya. Rina mahasiswi yang memeriksanya berusaha sebaik mungkin untuk menentukan masalah yang dialami Donny, termasuk mempertimbangkan keuntungan dan kerugian serta hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan untuk menentukan apa yang terbaik bagi Donny. Rina berencana untuk segera memutuskan keadaan Donny secara menyeluruh, dimulai dengan mengumpulkan semua daa-data secara lengkap sesuai prosedur yang diperlukan untuk dapat menentukan kesimpulan atas keadaan pasien tersebut. Donny 14 tahun 2 bulan didiagnosis mengalami maloklusi kelas 1 tipe 3 dengan crossbite pada gigi insisif kedua Rencana perawatan untuk kasus donny yaitu 1. Perawatan ortodontik preventif untuk mempertahankan ruang yang pada gigi yang tidak berbenih 2. Perawatan ortodontik interseptif untuk gigi crossbite bagian anterior Prognosis untuk kasus ini baik, karena donny masih dalam masa pertumbuhan 1.2 Tujuan Penulisan Tujuan penulisan laporan ini, yaitu: a. Agar peserta didik mampu mengidentifikasi kelainan/gangguan dentofasial (maloklusi dental/skeletal/muscular) 1

b. Agar peserta didik mampu menjelaskan berbagai pemeriksaan yang diperlukan untuk menegakkan diagnosis dan menetapkan prognosis kasus maloklusi c. Agar peserta didik mampu menegakkan diagnosis serta menetapkan prognosis pada kasus-kasus maloklusi

1.3 Rumusan Masalah a. Apa dampak dari tidak adanya benih gigi teteap? b. Apakah tidak adanya benih gigi tetap merupakan suatu kelainan? Jika iya, apa? c. Bagaimana pengaruh gigi atas yang berantakan terhadap ruangan untuk gigi geraham atas kanan yang tersedia? d. Bagaimana tahapan diagnosis untuk kasus tersebut? e. Bagaimana prognosis dari kasus tersebut? f. Apa saja hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam menegakkan diagnosis dan rencana perawatan? g. Apa hasil perawatan yang diharapkan oleh pasien?

1.4 Hipotesis a. Tidak adanya benih gigi tetap, adanya gigi yang berjejal, dan adanya gigitan silang dapat menyebabkan kelainan oklusi pada gigi Donny. b. Rina harus melakukan pemeriksaan yang menyeluruh dengan

mempertimbangkan keuntungan dan kerugian, serta tujuan yang ingin didapat dalam perawatan.

1.5 Sasaran Belajar 1. Kelainan dentofacial 2

a. Definisi b. Etiologi c. Klasifikasi 2. Pemeriksaan a. Subjektif anamnesis, keluhan utama b. Objektifintraoral dan ekstraoral 3. Diagnosis, rencana peraawatan prognosi dan tujuan perawatan

BAB II PEMBAHASAN 1. MALOKLUSI 1.1. Definisi Maloklusi adalah oklusi yang menyimpang dari normal dan dapat bersifat sementara atau menetap. Maloklusi sementara dapat hilang sendiri dengan pertumbuhan yang baik dari dentofasial, sedangkan maloklusi tetap akan tumbuh menjadi suatu kelainan dentofasial. 1.2. Etiologi 1. Hereditas Perubahan dari gen asal dapat terlihat saat prenatal atau tidak 2. Kelainan Kongenital 3. Defek perkembangan yang asalnya tidak diketahui

Defek berasal dari kegagalan diferensiasi saat periode kritis pada perkembangan embrio. Contoh: oligodontia, anodontia, micrognathia, facial cleft

4. Lingkungan 5. Anomali jumlah, bentuk, dan ukuran gigi 6. Abnormalitas labial frenum Abnormalitas labial frenum RA seringkali berkaitan dengan spacing midline. 7. Kehilangan Gigi Sulung Dini Kehilangan prematur gigi sulung dapat menyebabkan migrasi gigi di dekatnya untuk mengisi ruang kosong dan mencegah erupsi gigi permanen. 8. Retensi Gigi Sulung Gigi sulung yang gagal resorpsi akan mencegah eruspi normal gigi permanen penggantinya. 9. Erupsi gigi permanen yang terlambat Beberapa alasan yang dapat memperlambat erupsi gigi permanen adalah: Congenital absence gigi permanen, kehadiran supernumerary teeth, adanya barrier mucosal berat, kehilangan prematur gigi sulung, dll. 10. Jalur Erupsi abnormal Jalur erupsi yang abnormal dapat disebabkan oleh kurangnya panjang lengkung rahang, adanya supernumerary teeth, dan sisa fragmen akar. 11. Ankilosis Ankilosis adalah keadaan dimana sebagian atau seluruh permukaan akar secara langsung berfusi pada tulang tanpa adanya membran periodontal. 12. Karies Gigi Karies dapat menyebabkan kehilangan prematur gigi sulung atau gigi permanen sehingga mengakibatkan migrasi gigi di sebelahnya, inklinasi aksial abnormal dan supraerupsi gigi lawannya. 13. Restorasi gigi yang tidak tepat Restorasi oklusal yang overcontoured menyebabkan kontak prrematur sehingga terjadi functional shift pada mandibula selama penutupan rahang. 14. Predisposing Metabolic Climate and Disease a. Endocrine Imbalance Kelainan endokrin yang dapat menyebabkan maloklusi: b. Metabolic disturbance 4

Penyakit demam akut dipercaya dapat memperlambat kecepatan pertumbuhan dan perkembangan, yaitu dapat menyebabkan gangguan erupsi dan tanggalnya gigi sehingga meningkatkan risiko maloklusi. 15. Malnutrisi Malnutrisi lebih berpengaruh kepada kualitas pembentukan jaringan dan tingkat kalsifikasi dibandingkan dengan ukurannya. 16. Postur: Kebiasaan postur yang buruk dapat menyebabkan maloklusi. 17. Kecelakaan dan Trauma 1.3. 1. a. akar. b. c. pada RA d. pipi. e. gigi lainnya. f. gigi lainnya. g. atas: 1) Mesiolingual/Distolabial, yaitu aspek mesial gigi berinklinasi ke arah lingual atau aspek distal mahkota terletak lebih labial dibandingkan aspek mesial. 2) Distolingual/Mesiolabial, yaitu aspek distal gigi berinklinasi ke arah lingual atau aspek mesial mahkota terletak lebih labial dibandingkan aspek distal. 3) Transposisi, yaitu dua gigi bertukar tempat 2. Malrelasi Lengkung Gigi Maloklusi ini ditandai oleh adanya suatu hubungan abnormal antara gigi geligi dalam satu lengkung rahang dengan lengkung lainnya. a. Maloklusi Bidang Sagital 5 Rotasi: Pergerakan gigi mengitari sumbu panjang gigi. Rotasi terbagi Supra-Oklusi: Gigi berada lebih di atas bidang oklusal dibandingkan Infra-Oklusi: Gigi berada lebih di bawah bidang oklusal dibandingkan Inklinasi Bukal/Labial: Gigi berinklinasi abnormal menghadap bibir/ Inklinasi Distal: Gigi miring ke distal, mahkota lebih distal dari akar. Inklinasi Lingual: Gigi miring abnormal menghadap lidah/palatum Klasifikasi Maloklusi dapat dibagi menjadi 3 tipe, yaitu : Malposisi Gigi (Intra-arch Malocclusions) Inklinasi Mesial: Gigi miring ke mesial, mahkota lebih mesial dari

1) depan posisi normal 2)

Oklusi Prenormal, yaitu lengkung gigi RB berada lebih

posterior saat oklusi sentris. Gigi-geligi RB bertemu dengan gigi-geligi RA di Oklusi Postnormal, yaitu lengkung gigi RB berada lebih

distal saat oklusi sentris. Gigi-geligi RB bertemu dengan gigi-geligi rahang atas di belakang posisi normal b. 1) 2) c. Maloklusi Bidang Vertikal Deep Bite: Terdapat tumpang tindih vertikal antara gigi geligi Open Bite: Tidak terdapat tumpang tindih, ada jarak/gap Maloklusi Bidang Transversal Termasuk diantaranya adalah beberapa tipe cross bites. Pada umumnya gigi geligi rahang atas terletak di sebelah labial/bukal gigi geligi RB. 3. Maloklusi Skeletal Maloklusi ini disebabkan oleh adanya defek pada skeletal. Defek dapat berupa abnormalitas ukuran, posisi, atau hubungan antar tulang rahang. Beberapa klasifikasi maloklusi dikemukakan oleh para peneliti: Klasifikasi Maloklusi Angle Maloklusi kelas I: Mesiobukal cusp dari M1 maksila berkontak dengan bukal groove dari mandibula M1, mesiolingual cusp dari M1 maksila berkontak dengan oklusal fossa dari mandibula M1 Maloklusi kelas II: Lengkung gigi mandibula berada pada distal dari lengkung maksila, mesiobukal cusp dari M1 maksila berkontak dengan space diantara mesiobukal cusp dari M1 mandibula dan bagian distal dari P2 mandibula, mesiolingual cusp dari M1 maksila berkontak dengan bagian mesialmesiolingual cusp M1 mandibula Dibagi menjadi 2 divisi berdasarkan angulasi labiolingual insisif maksila : o Kelas II Divisi I: gabungan dari keadaan maloklusi kelas II, ditambah dengan keadaan maksila insisor yang labioversion o Kelas II Divisi II: gabungan dari keadaan maloklusi kelas II, maksila insisor secara umum labioversion namun lateral insisor miring ke arah labial/mesial 6 rahang atas dan rahang bawah yang melebihi normal. antara gigi geligi rahang atas dan rahang bawah saat pasien dalam oklusi sentris.

o Kelas II Subdivisi: keadaan maloklusi kelas II yang terjadi hanya pada salah satu sisi dalam lengkung gigi saja. Maloklusi kelas III: lengkung gigi mandibula berada pada mesial dari lengkung maksila, mesiobukal cusp M1 maksila berkontak pada space interdental diantara aspek distal cusp M1 mandibula dan aspek mesial cusp M2 mandibula. Dibagi menjadi : o Pseudo kelas III Maloklusi: bukan Maloklusi kelas III yang sebenarnya. Dalam keadaan ini, mandibula bergeser ke anterior pada glenoid fossa karena terdapat premature kontak o Kelas III Subdivision: Dikatakan demikian karena kriteria maloklusi kelas III hanya terjadi pada salah satu sisi saja Modifikasi Dewey dari klasifikasi Angle Modifikasi Angle kelas I

o Tipe 1: Angle kelas I disertai dengan crowding pada bagian anterior o Tipe 2: Angle kelas I disertai dengan maksila insisor yang mengalami labioversion o Tipe 3: Angle kelas I disertai dengan maksila insisor yang mengalami linguoversion dari mandibula insisor (cross bite anterior) o Tipe 4: Molar dan premolar mengalami bukal/linguoversion namun insisor dan caninus berada pada posisi normal (crossbite posterior) o Tipe 5: Molar mengalami mesioversion karena gigi sebelah mesialnya hilang (kehilangan gigi premature dari gigi molar sulung atau P2) Modifikasi Angle kelas II berada pada posisi yang benar walaupun pada saat oklusi gigi anteriornya edge to edge o Tipe 2: Insisor mandibula mengalami crowding dan berada lebih lingual dari maksila insisor o Tipe 3: Lengkung maksila tidak berkembang secara sempurna sehingga terjadi crowding dan cross bite pada insisor, sedangkan lengkung mandibulanya berkembang sempurna dan aligmentnya benar 7 o Tipe 1: Keadaan dimana secara individual, posisi rahang atas dan bawah

2. PEMERIKSAAN 2.1. 2.1.1 Pemeriksaan Subjektif Status Pasien Nama untuk tujuan komunikasi, identifikasi, sentuhan personal Umur kronologis & tanggal lahir membantu diagnosis, rencana perawatan, prediksi pertumbuhan dan penggunaan prosedur perawatan tertentu Jenis kelamin membantu dalam rencana perawatan, waktu & dorongan pertumbuhan, erupsi gigi, pubertas, reaksi psikologis Alamat & pekerjaan untuk komunikasi, penilaian status sosio-ekonomi, jenis perawatan 2.1.2. Anamnesa Riwayat kasus, yaitu informasi yang diperoleh dari pasien dan/atau orang tua dan/atau wali yang berguna untuk diagnosis keseluruhan dari kasus tersebut untuk membina hubungan yang baik dengan pasien & memperoleh keluhan yang akurat dari pasien Keluhan utama: dicatat dengan bahasa pasien sendiri & mencakup kondisi yang dideritanya untuk membantu identifikasi prioritas & keinginan pasien, menentukan tujuan perawatan dan memuaskan keluarga secara umum Riwayat medis misalnya pasien dengan demam rematik/kelainan jantung butuh antibiotic Riwayat dental mencakup informasi umur erupsi dan eksfoliasi gigi sulung & permanent, alasan eksfoliasi untuk mengetahui sikap & kemampuan pasien dalam menjaga OH Riwayat prenatal terfokus pada kondisi ibu selama hamil (kondisi nutrisi, infeksi, penggunaan obat-obatan) & cara melahirkan (penggunaan forcep mengakibatkan injuri pada TMJ) Riwayat pascanatal meliputi cara memberi makan, adanya kebiasaan buruk terutama digit/thumb sucking dan fase pertumbuhan normal Riwayat keluarga maloklusi skeletal terutama kelas III & kondisi congenital seperti cleft lip dan palatum 8

2.2.

Pemeriksaan Objektif

2.2.1. Pemeriksaan Ekstraoral 1) Pemeriksaan kepala dan wajah Bentuk dari kepala dan dievaluasi berdasarkan cephalic index yang diformulasikan oleh Martin dan Seller (1975), yaitu:
I = lebartengk orakmaksim um tinggiteng korakmaksi mum

Mesocephalic (rata-rata) 76,0-80,9, Brachycephalic (tengkorak lebar dan pendek) 81,0-85,4, Dolicocephalic (tengkorak panjang dan sempit) x 75,9

2) Penilaian simetris wajah Asimetris dengan derajat tertentu pada sisi kanan dan kiri wajah dapat ditemukan di kebanyakan individu. Wajah harus diperiksa dalam bidang transversal dan vertikal untuk menentukan apakah derajat asimetris masih termasuk normal.

3) Profil Wajah Profil diperiksa dengan mengambil foto wajah pasien dari jarak tertentu dengan bidang FH paralel terhadap lantai. Profil diperoleh dengan menghubungkan dua garis referensi yaitu garis yang menghubungkan dahi dengan titik A jaringan lunak, dan garis yang menghubungkan Titik A dan pogonion jaringan lunak.

4) Facial Divergence Wajah bagian bawah dapat berupa lurus atau terinklinasi secara anterior atau posterior relatif terhadap dahi. Sebuah garis ditarik dari dahi menuju ke dagu untuk menentukan apakah wajah termasuk ke dalam kategori: anterior divergent(garis terinklinasi ke anterior), posterior divergent(garis terinklinasi ke posterior), straight/orthognathic,(garis lurus, tidak terlihat kemiringan.)

5) Penilaian Hubungan Anteroposterior Rahang Gambaran yang baik dari hubungan skeletal secara sagital dapat diperoleh dengan menempatkan jari telunjuk dan jari tengah terhadap kurang lebih titik A dan B setelah retraksi bibir. Idealnya, maksila berada 2-3 mm lebih anterior dibandingkan mandibula saat oklusi sentris.

6) Penilaian Hubungan Vertikal Skeletal Hubungan vertikal yang normal adalah saat jarak antara glabella dan subnasale sama dengan jarak antara subnasale dengan bagian bawah dagu. Tinggi wajah bagian bawah yang kurang deep bite sedangkan apabila lebih besar dari normal menunukkan adanya anterior open bites.

10

7)

Evaluasi proporsi wajah. Wajah yang proporsional dapat dibagi menjadi 3 bagian vertikal sama besar

8) Penilaian bibir. Jarak, lebar, dan kurvatur bibir harus dinilai. Pada wajah yang seimbang jara bibir atas sepertiga dan bibir bawah duapertiga dari tinggi wajah bagian bawah. Tepi gigi insisal yang terlihat saat bibir atas pada posisi istirahat normalnya adalah 2 mm. Bibir dapat diklasifkasikan menjadi: a. b. c. d. Competent lips: bibir berkontak saat otot relaks. Incompetent lips: secara anatomis bibir pendek, tidak terdapat kontak saat otot relaks, Potentialy incompetent lips: bibir saat ingin berkontak terhambat oleh Insisiv RA yang protrusi. Perkembangan bibir normal. Everted lips: bibir yang hipertrofi dengan jaringan bibir yang berlebihan tetapi tonusitas otot yang lemah.

9)

Penilaian Hidung.

11

Ukuran, bentuk dan posisi hidung menentukan penampakan estetik dari wajah dan oleh karena itu penting dalam prognosis kasus 10) Penilaian dagu Bentuk dari dagu ditentukan tidak hanya oleh struktur tulang, tetapi juga oleh ketebalan dan tonusitas dari otot mentalis. 2.2.2. Pemeriksaan Intraoral a) Kebersihan Mulut : baik / cukup / jelek b) Keadaan lidah: normal / macroglossia / microglossia c) Palatum : normal / tinggi / rendah serta normal / lebar / sempit d) Jaringan Periodonsium lakukan pemeriksaan dengan periodontal probe. Gingiva: Normal / hypertophy / hypotropy Sulkus gingiva Mobilitas gigi

e) Mukosa normal / inflamasi / kelainan lainnya f) Frenulum Pemeriksaan frenulum dilakukan untuk mengetahui posisi perlekatannya (insersio) pada marginal gingiva serta ketebalannya, apakah akan mengganggu pengucapan kata-kata tertentu dan apakah akan mengganggu pemakaian plat ortodontik yang akan dipasang. g) Tonsil Dilakukan pemeriksaan dengan menekan lidah pasien dengan kaca mulut, jika dicurigai adanya kelaianan yang serius pasien dikonsulkan ke dokter ahli THT Bentuk Lengkung Gigi Rahang Atas dan Bawah : Parabola / Setengah elips / Trapeziod / Uform / V-form / Setengah lingkaran h) Pemeriksaan Gigi Geligi 2.3. Pemeriksaan Penunjang 2.3.1. Radiograf Kegunaan sefalogram a. Membantu diagnosis ortodontik melalui studi struktur skeletal, dental, dan jaringan lunak pada regio kraniofasial

12

b. Membantu menentukan klasifikasi abnormalitas skeletal dan dental, serta membantu menentukan tipe fasial. c. Membantu dalam rencana dan evaluasi hasil perawatan d. Sebagai alat bantu penelitian yang berhubungan dengan regio dentokraniofasial Landmark Sefalometri o Landmarks yang digunakan dalam sefalometri harus memenuhi beberapa persyaratan, yaitu harus mudah terlihat pada suatu radiograf, outline harus tegas, harus reproducible, dan harus memungkinkan pengukuran kuantitatif yang valid pada garis dan sudut yang diproyeksikan * Mandibular plane o menurut Tweed: bersinggungan dengan batas bawah mandibula o menurut Steiner: garis yang menghubungkan gonion-gnathion o menurut Downs: garis yang menghubungkan gonion-menton DOWNS ANALYSIS Analisis Down terdiri dari 10 parameter (5 skeletal dan 5 dental). a. Facial Angle o Sudut yang dibentuk antara nasion-pogonion dengan FHP yang menunjukkan posisi antero-posterior mandibula terhadap wajah bagian atas. b. Angle of convexity o Sudut yang dibentuk antara nasion-point A dan point A-pogonion yang menunjukkan konveks dan konkafnya profil skeletal. c. A-B plane angle o Sudut yang dibentuk antara point A-point B dengan nasion-pogonion (facial plane) yang menunjukkan hubungan maksila-mandibula terhadap bidang fasial. d. Mandibular plane angle o Sudut yang dibentuk antara perpotongan mandibular plane dengan FHP. o Y - axis (growth axis) Sudut yang dibentuk antara sella-gnathion dengan FHP yang menunujkkan pola pertumbuhan seseorang. Parameter Dental 13 Parameter Skeletal

a. FHP. b. RB. c. d. e.

Cant of occlusal plane: sudut yang dibentuk antara occlusal plane dengan Inter-incisal angle: sudut yang dibentuk antara sumbu panjang gigi I RA dan Incisor occlusal plane angle: sudut yang dibentuk dari perpotongan antara Incisor mandibular plane angle: sudut yang dibentuk antara perpotongan Upper incisor to A Pog line: pengukuran linear antara incisal edge I RA ke

sumbu panjang I RB dan occlusa plane sumbu panjang gigi I RB dengan mandibular plane. garis yang menghubungkan point A-pogonion. STEINER ANALYSIS Dibagi menjadi 3 bagian:. Analisis Skeletal S.N.A. angle, S.N.B. angle, A.N.B. angle, Mandibular plane angle, Occlusal plane angle Analisis Dental Upper incisor to N-A (angle), Upper incisor to N-A (linear), Lower incisor to N-B (angle), Lower incisor to N-B (linear), Inter-incisor angle Analisis Jaringan Lunak Menurut Steiner, pada wajah yang seimbang, bibir harus menyentuh garis yang memanjang dari kontur jaringan lunak dagu ke tengah sebuah S yang dibentuk oleh batas bawah hidung. ANALISIS TWEED Analisis Tweed memakai 3 bidang yang membentuk suatu segitiga diagnostik: Frankfort mandibular plane angle (FMPA) Incisor mandibular plane angle (IMPA) Frankfort mandibular incisor angle (FMIA) 2.3.2. Foto Fasial - Foto ekstraoral (dilakukan sebelum dan setelah perawatan) Fungsi o Evaluasi hubungan & proporsi kraniofasial sebelum dan setelah perawatan o Penilaian profil jaringan lunak 14

o Kebutuhan analisis perhitungan ruang o Monitor progress perawatan o Deteksi & pencatatan ketidakseimbangan otot dan asimetri fasial o Identifikasi pasien Jenis o Foto frontal wajah dengan bibir relaksasi o Foto profil wajah dengan bibir relaksasi o Pandangan bagian sambil tersenyum atau frontal wajah sambil tersenyum Syarat: Posisi kepala pasien normal, tanpa background, telinga harus terlihat untuk tujuan orientasi, tidak menggunakan kacamata 2.3.2. Model Studi Model studi merupakan diagnostic records yang membantu mempelajari oklusi dan gigigeligi dari semua dimensi. Model ini merupakan reproduksi plaster akurat dari gigi dan jaringan lunak di sekitarnya. Syarat-syarat model studi yang ideal: a. Model dengan akurat mereproduksi gigi dan jaringan lunak sekitarnya b. Model harus ditrim agar simetris dan dental oklusi dapat terlihat c. Model harus memiliki permukaan yang bersih, halus, dan dengan sudut yang tajam. Urgensi model studi: a. Model studi memiliki pandangan tiga-dimensi dari gigi-geligi pasien, sehingga sangat penting dalam rencana perawatan. b. Oklusi dapat dilihat dari aspek lingual c. Model memberikan permanent record dari hubungan intermaksila dan oklusi pada awal perawatan d. Merupakan visual aid untuk dokter gigi saat memonitor perubahan e. Membantu memotivasi pasien dengan menunjukkan perkembangan perawatan. f. Dibutuhkan untuk perbandingan tujuan pada akhir perawatan.

15

Fungsi model studi, yaitu mendirikan dan mendata anatomi dental dan interkuspasi, memperkirakan dan mendata bentuk lengkung rahang dan kurva oklusi, mengevaluasi oklusi dengan bantuan articulator, mengukur perkembangan selama perawatan, dan menghitung analisa ruang. Analisis model studi: o Metode Moyers Metode Moyers digunakan pada periode gigi bercampur Tujuan dari analisa moyers adalah : untuk mengevaluasi besar ruang yang tersedia untuk menampung gigi geligi tetap yang akan erupsi Terdapat hubungan antara ukuran gigi geliligi insisif bawah dengan ukuran gigi caninus dan premolar. Metode analisisnya adalah sbb : Berikan tanda pada midline, mesial M1 dan tanda oklusi pada model studi RA dan RB Dengan menggunakan plastik transparan, plastik tersebut diberikan tanda midline, tanda RA&RB, serta kiri dan kanan Tandai tanda oklusi di RA&RB pada plastik. Hasilnya, bila dilipat, tanda oklusi RA &RB akan berhimpit Tandai mesial M1 RA dan RB pada plastic Buat lengkung gigi (LG) di plastik. Untuk LG Awal rahang atas, jajaki insisal anterior dan sentral fossa posterior; sedangkan pada RB, jajaki insisal anterior dan tonjul cusp bukal posterior Buatlah LG baru di RA&RB dengan memperhatikan keluhan utama, foto profil dan cephalogram, perlu/tidaknya perbaikan hub molar, overjet dan midline Ukur lebar M-D gigi 32, 31, 41, 42, kemudian dijumlahkan Dari akumulasi tersebut akan diperoleh probabilitas untuk gigi 3 4 5 Ukur jarak distal I2 sampai mesial M1 di tiap regio RA &RB. Jarak ini merupakan available space. Probabilitas untuk gigi 3,4,5 dilihat pada baris 75% dari Tabel Moyers untuk RA & RB. Hasilnya disebut Required space Untuk menentukan kelebihan atau kekurangan ruang = selisih dari available space dan required space tiap kuadran 16

o Metode Kesling Metode Kesling menggambarkan kebutuhan ruang pada periode gigi permanen Metode: Berikan tanda pada midline, mesial M1 dan tanda oklusi pada model studi RA dan RB Dengan menggunakan plastik transparan, plastik tersebut diberikan tanda midline, tanda RA&RB, serta kiri dan kanan Tandai tanda oklusi di RA&RB pada plastik. Hasilnya, bila dilipat, tanda oklusi RA &RB akan berhimpit Tandai mesial M1 RA dan RB pada plastic Buat lengkung gigi (LG) di plastik. Untuk LG Awal rahang atas, jajaki insisal anterior dan sentral fossa posterior; sedangkan pada RB, jajaki insisal anterior dan tonjul cusp bukal posterior Buatlah LG baru di RA&RB dengan memperhatikan keluhan utama, foto profil dan cephalogram, perlu/tidaknya perbaikan hub molar, overjet dan midline Ukur jarak M-D dari gigi I1 sampai distal P2. Lalu pindahkan jarak tersebut ke lengkung gigi baru Lihat kebutuhan ruang yang ada

3. RENCANA PERAWATAN 3.1. Tujuan Perawatan Ideal Goal ideal yang dimaksud meliputi kesehatan mulut, fungsi, dan kosmetik Perawatan Kompromis Beberapa kasus tidak dapat dirawat secara ideal. 3.2. Perawatan Simptomatik / Paliatif Rencana Perawatan pada Primary Dentition

Ada tiga jenis tujuan (goal) perawatan ortodonsi, yakni:

Alasan Perawatan Untuk menghilangkan halangan dari pertumbuhan normal wajah dan gigi, serta untuk mempertahankan atau mengembalikan fungsi normal. 17

Kondisi yang harus dirawat Crossbites anterior dan posterior Kasus dimana gigi susu telah hilang dan dapat menghasilkan kehilangan ruang dalam lengkung Tertahannya erupsi incisive primer (tidak sesuai dengan erupsi normalnya) Gigi-gigi malposisi yang menyebabkab ketidaksesuaian fungsi oklusi Semua kebiasaan atau malfungsi yang dapat merubah atau mengganggu pertumbuhan Tidak ada jaminan bahwa hasilnya dapat bertahan Hasil yang lebih baik dapat diperoleh dengan usaha yang lebih ringan di lain waktu Ketidakdewasaan sosial dari anak yang menyebabkan perawatan impractical. Rencana Perawatan pada Transitional/Mixed Dentition

Kontraindikasi perawatan pada primary dentition 3.3.

Periode mixed dentition merupakan kesempatan terbaik untuk occlusal guidance dan pencegahan maloklusi. Alasan Perawatan Perawatan tidak menghalangi pertumbuhan normal dari gigi geligi Maloklusi tidak dapat dirawat lebih efisien pada saat densisi permanen Kehilangan gigi sulung yang membahayakan available space di lengkung rahang Penutupan space yang disebabkan premature loss dari gigi sulung; space yang hilang harus diperoleh kembali Malposisi gigi geligi yang tidak sesuai dengan perkembangan fungsi oklusi normal, yang menyebabkan pola erupsi maupun mandibular closure yang buruk, atau membahayakan kesehatan gigi. Supernumerary teeth yang memungkinkan terjadinya maloklusi Crossbite gigi permanen Maloklusi yang disebabkan oleh bad habit. Oligodonsia, jika penutupan ruang akan dibuatkan protesis Spacing antara gigi I1 Atas Neutroklusi dengan labioversi ekstrim dari gigi anterior atas (Maxillary dental protraction) 18

Kondisi yang harus dirawat

3.4.

Kasus kelas II (Distoklusi), tipe fungsional, dental, dan skeletal. Rencana Perawatan pada Permanent Dentition Terapi ortodonsi dapat dilakukan pada orang dewasa yang sehat, namun strategi dan

taktik berubah secara radikal ketika terdapat penyakit periodontal dan atau kehilangan gigi.

3.5.

Macam Perawatan

3.5.1. Preventif Orthodontik Preventive orthodontics digunakan sebagai antisipasi sebelum timbul suatu masalah.

Prosedur dalam preventive orthodontics: 1. Edukasi kepada orang tua 2. Kontrol karies 3. Perawatan terhadap gigi sulung Menggunakan topical flouride dan pit fissure sealent. 4. Ekstraksi gigi supernumerary Kehadiran gigi supernumerary bisa menghalangi erupsi gigi permanen. 5. Eliminasi gangguan oklusal Gangguan oklusal dapat dilihat menggunakan articulating paper.. 6. Maintenance of tooth shedding time table 7. Space Maintenance 8. Removable Space Maintenance 9. Fixed space maintenance 3.5.2. Interseptif Ortodontik Interseptif Orthodontic: Prosedur yang dilakukan ketika telah terjadi maloklusi. Tujuannya untuk mencegah maloklusi berkembang menjadi lebih parah. Macam: 1) Serial Ekstraksi

19

Prosedur ini dilakukan pada awal mixed dentition, ketika disadari bahwa akan terjadi maloklusi. Prosedur ini mengekstraski gigi sulung dan gigi permanen tertentu. Prinsip Dasar: 1. Panjang Lengkung Rahang 2. Pergerakan Gigi Fisiologis Indikasi Maloklusi kelas I. Defisiensi panjang lengkung rahang Profil wajah straight (lurus).

Kontra Indikasi Maloklusi kelas II dan III. Gigi jarang-jarang. Anodontia / Oligodontia. Openbite / Deepbite. Midline diastema. Maloklusi kelas I dengan defisiensi ruang lengkung rahang yang sedikit. Malformasi gigi yang belum erupsi. Karies tinggi atau tumpatan yang banyak.

Keuntungan Pergerakan gigi fisiologis karena pada awal mixed dentition. Mengurangi kemungkinan memakai band instrument. Mengurangi resiko terjadinya karies, sehingga OH lebih baik.

Kerugian Perawatan yang lama (2-3 tahun).

20

Membutuhkan jadwal yang pasti untuk ekstraksi, dan control yang rutin. Pasien harus kooperatif. Resiko tongue thrusting tinggi. Dapat terdapat ruang antara P2 dan C.

Prosedur Metode Dewel a. Ekstraksi c anak I dewasa yang crowding menjadi lebih baik oklusinya. Pada usia 8-9 tahun. b. Satu tahun kemudian, ekstraksi m1 anak P1 dewasa tumbuh. c. Ekstraksi P1 dewasa untuk tempat tumbuh C dewasa. Metode Tweed dan Metode Nance a. Ekstraksi m1 anak (8 tahun). b. Ekstraki P1 dewasa dan c anak. 2) Koreksi Cross Bite yang Berkembang 3) Kontrol Kebiasaan Buruk 4) Space Regainer Dilakukan ketika m2 sulung mengalami premature loss dan terjadi kehilangan ruang dikarenakan pergerakan mesial dari M1 dewasa yang telah erupsi. 5) Latihan Otot Latihan otot masetter Latihan otot circum-oral (bibir) Latihan lidah

6) Pembuangan Jaringan Lunak dan Keras (Tulang) yang Menghalangi Tumbuhnya Gigi Permanen 21

22

BAB III PENUTUP Kesimpulan

Daftar Pustaka Proffit WR, Fields HW, Ackerman JL et al. Contemporary Orthodontic.,3rd ed.st.Louis : Mosby Robert E. Moyers, D.D.S., Ph.D.Handbook of Orthodontics third edition,year book medical publishers 1975 Bhalajhi SI. Orthodontics.The Arts and Science. Arya (MEDI) Pub House. New Delhi 2006

23

24