Anda di halaman 1dari 8

STUDI KASUS

PERTAMINA VS. KARAHA BODAS COMPANY



Tugas ini dibuat untuk memenuhi komponen nilai tugas pada mata kuliah Hukum
Perdata Internasional

Disusun OIeh :
KeIompok 10
Sothys MundiaIika Putri 110110080132
Saskia Wahyu Riani 110110080135
MuIyana 110110080138

Dosen :
Muhamad AmiruIIoh, S.H., M.H.







FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG
2011
BAB I
PENDAHULUAN
Latar BeIakang
Hukum Perdata nternasional adalah termasuk dalam kelompok hukum privat. Karena
menyangkut hukum privat, maka Hukum Perdata nternasional tersebut juga mengatur
hubungan hukum antar pihak, dalam suatu kontrak yang timbul dari hukum perikatan. Hukum
Perdata nternasional memiliki pengertian yang lebih luas dari sekedar yurisdiksi dalam suatu
negara.
Menurut Sudargo Gautama, Hukum Perdata nternasional adalah hukum perdata
untuk hubungan-hubungan nternasional. Unsur nternasionalnya adalah hubungan-
hubungannya, sedangkan kaidah-kaidahnya adalah hukum perdata nasional. Hukum kontrak,
sebagai bagian dari hukum perdata memiliki beberapa asas yang bersifat universal, seperti
asas kebebasan berkontrak, kontrak mengikat sebagai undang-undang bagi para pihak yang
membuatnya, serta asas sepakat. Para pihak yang terlibat dalam kontrak atau perjanjian
dimana isi yang diperjanjikan melewati batas satu negara, dalam hal timbul suatu sengketa
perlu menetapkan terlebih dahulu cara-cara untuk menyelesaikan sengketa tersebut. Salah
satu upaya untuk menyelesaikan sengketa adalah dengan arbitrase.
Menurut Undang-Undang Nomor 30 tahun 1999 tentang arbitrase dan alternatif
penyelesaian sengketa umum, yang dimaksud dengan arbitrase adalah cara penyelesaian
suatu sengketa perdata di luar peradilan umum, yang didasarkan pada perjanjian arbitrase
yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa. Adapun perjanjian arbitrase
diartikan sebagai suatu kesepakatan berupa klausul arbitrase yang tercantum dalam suatu
perjanjian tertulis yang dibuat para pihak sebelum timbul sengketa, atau suatu perjanjian
arbitrase tersendiri yang dibuat para pihak setelah timbul sengketa. Kesepakatan atau aturan
main yang perlu disepakati dalam arbitrase tersebut adalah menyangkut pilihan hukum
(choice of law, pilihan forum (choice of forum dan pilihan domisili (choice of domicile.
Namun, sekalipun telah ada penyepakatan atas cara-cara penyelesaian sengketa
tersebut, dalam implementasinya tidaklah mudah. Masalah yang muncul terutama dari pihak
yang tidak menerima hasil arbitrase antara lain adalah menyangkut kompetensi para pihak,
kompetensi pengadilan, prosedur beracara, materi yang dipersengketakan, sampai kepada
daya eksekusi dari putusan arbitrase tersebut.
Oleh karena itu, kami akan membahas mengenai kasus Pertamina melawan Karaha
Bodas Company yang menarik untuk dibahas karena Kasus ini menarik untuk diangkat,
selain adanya perlawanan dari pihak yang dikalahkan oleh Pengadilan arbitrase, juga karena
timbulnya kasus tersebut tidak terlepas dari kebijakan yang diambil oleh Pemerintah
ndonesia, yang sebenarnya bukan merupakan pihak dalam perjanjian, tetapi dampak
kebijakan tersebut mempengaruhi kemampuan pemenuhan isi Kontrak.


















BAB II
KASUS PERTAMINA v.s KARAHA BODAS COMPANY
A. Kasus Posisi
O Pihak yang bersengketa adalah Pertamina dengan Karaha Bodas Company (KBC
O Persengketaan yang terjadi adalah mengenai perjanjian sehubungan dengan
pemutusan kontrak atas perjanjian kedua belah pihak
O Sengketa antara Pertamina melawan Karaha Bodas Corporation (KBC bermula
dengan ditandatanganinya perjanjian Joint Operation Contract (JOC pada tanggal 28
November 1994. Pada tanggal yang sama PT Perusahaan Listrik Negara (PLN di
satu pihak dan Pertamina serta KBC pada pihak lain menandatangani perjanjian
Energy Supply Contract (ESC.
O Persengketaan ini terjadi dikarenakan dalam perjalanan ternyata proyek kelistrikan
dihentikan dan ditangguhkan oleh Pemerintah berdasarkan Keputusan Presiden
No.39 tahun 1997 tertanggal 20 September 1997 dan menyebabkan adalah
kerjasama Pertamina dengan KBC tidak dapat dilanjutkan.
O KBC pada tanggal 30 April 1998 memasukkan gugatan ganti rugi ke Arbitrase Jenewa
sesuai dengan tempat penyelesaian sengketa yang dipilih oleh para pihak dalam
JOC. Pada tanggal 18 Desember 2000 Arbitrase Jenewa membuat putusan agar
Pertamina dan PLN membayar ganti rugi kepada KBC, kurang lebih sebesar US$
261.000.000. Atas putusan arbitrase Jenewa, Pertamina tidak bersedia secara
sukarela melaksanakannya.
O Pertamina melakukan upaya hukum dengan meminta pengadilan di Swiss untuk
membatalkan putusan arbitrase. Hanya saja upaya ini tidak dilanjutkan (dismiss
karena tidak dibayarnya uang deposit sebagaimana dipersyaratkan oleh Swiss
Federal Supreme Court.
O Sementara itu, KBC telah melakukan upaya hukum berupa permohonan untuk
pelaksanaan Putusan Arbitrase Jenewa di pengadilan beberapa negara di mana
asset dan barang Pertamina berada, kecuali di ndonesia. Pada tanggal 21 Pebruari
2001, KBC mengajukan permohonan pada US District Court for the Southern District
of Texas untuk melaksanakan Putusan Arbitrase Jenewa. Lalu, KBC mengajukan
permohonan yang sama pada pengadilan Singapura dan Hong Kong.
O Pertamina melakukan upaya hukum berupa penolakan pelaksanaan di pengadilan-
pengadilan yang diminta oleh KBC untuk melakukan eksekusi. Pertamina melanjutkan
upaya hukum pembatalan putusan arbitrase Jenewa di pengadilan ndonesia. Pada
tanggal 14 Maret 2002 Pertamina secara resmi mengajukan gugatan pembatalan
Putusan Arbitrase Jenewa kepada PN Jakarta Pusat. Gugatan pembatalan tersebut
didasarkan pada ketentuan pasal 70 UU No. 30 tahun 1999 tentang syarat-syarat
pembatalan putusan Arbitrase nternasional yang berbunyi : Permohonan pembatalan
hanya dapat diajukan terhadap putusan arbitrase yang sudah didaftarkan di
pengadilan.
O Alasan-alasan permohonan pembatalan yang disebut dalam pasal ini harus
dibuktikan dengan putusan pengadilan. Apabila pengadilan menyatakan bahwa
alasan-alasan tersebut terbukti atau tidak terbukti, maka putusan pengadilan ini dapat
digunakan sebagai dasar pertimbangan bagi hakim untuk mengabulkan atau menolak
permohonan.
O Dalam putusannya nomor 86/PN/Jkt.Pst/2002 tanggal 9 September 2002 , pengadilan
Negeri Jakarta Pusat akhirnya mengabulkan gugatan Pertamina dengan
membatalkan putusan arbitrase internasional, UNCTRAL, di Jenewa, Swiss.
O Adapun beberapa alasannya antara lain pengangkatan arbiter tidak dilakukan seperti
yang telah diperjanjikan dan tidak diangkat arbiter yang telah dikehendaki oleh para
pihak berdasarkan perjanjian, sementara Pertamina tidak diberikan proper notice
mengenai arbitrase ini dan tidak diberi kesempatan untuk membela diri. Majelis
arbitrase telah salah menafsirkan force majeure, sehingga mestinya Pertamina tidak
dapat dimintakan pertanggungjawab atas sesuatu yang di luar kemampuannya. Di
samping itu, Majelis Arbitrase dianggap telah melampaui wewenangnya karena tidak
menggunakan hukum ndonesia, pada hal hukum ndonesia adalah yang harus
dipakai menurut kesepakatan para pihak, Majelis arbitrase hanya menggunakan hati
nuraninya sendiri berdasarkan pertimbangan ex aequeo et bono.


B. AnaIisis
1) Forum yang berwenang
Forum yang berwenang adalah arbitrase Jenewa dikarenakan kedua belah pihak
telah bersepakat untuk menyelesaikan sengketa kedua belah pihak di Arbitrase Jenewa
berdasarkan perjanjian Joint Operation Contract.
2) HPI atau bukan
Suatu kasus akan menjadi kasus HP apabila ada keterlibatan unsur asing (foreign
elements didalamnya. Walaupun kecil, HP pada prinsipnya hanya sebagai kaidah penunjuk
yaitu berkaitan dengan kaidah mana yang akan berlaku dalam suatu kasus (choice of law dan
juga pengadilan mana yang berhak untuk mengadili (choice of forum. Jadi, HP menjawab
choice of law dan choice of forum.
Unsur-unsur asing tersebut diantaranya :
1. Subjek
2. Tempat perbuatan dilakukan
3. Bendera kapal
4. choice of law ( dalam kontrak, dll
Jadi kasus ini merupakan HP dikarenakan terkandung choice of law dimana
penyelesaian sengketa sesuai perjanjian diselesaikan di Arbitrase Jenewa.
3) KIasifikasi
Kasus ini termasuk dalam klasifikasi hukum kontrak/perjanjian sebab terjadinya kasus
ini dikarenakan pemutusan kontrak secara sepihak oleh Pertamina atas perjanjian perjanjian
Joint Operation Contract (JOC dengan pihak Karaha Bodas Company pada tanggal 28
November 1994.
4) Hukum yang digunakan
Kualifikasi adalah penggolongan peristiwa atau hubungan hukum ke dalam
kaidah-kaidah HP dan hukum materiil. Macam-macam kualifikasi :
O Kualifikasi menurut lex fori.
Yaitu kualifikasi yang didasarkan pada hukum material Hakim.
O Kualifikasi menurut lex cause.
Yaitu kualifikasi yang dilakukan sesuai dengan sistem dan aturan-aturan sesuai sistem
hukum yang bersangkutan.
O Kualifikasi secara otonom.
Yaitu kualifikasi yang didasarkan pada suatu perbandingan hukum.
O Kualifikasi secara bertahap.
Yaitu kualifikasi yang dilakukan melalui beberapa tingkatan, yaitu :
O Qualification erstern Grades; berdasarkan lex fori
O Qualification zwetten Grades; berdasarkan lex cause
Jadi Hukum yang digunakan adalah Hukum Swiss karena pelaksanakan atau
forum yang berwenang adalah arbitrase Jenewa. Namun, seharusnya persengketaan
ini dilaksanakan dengan menggunakan hukum nasional atau hukum ndonesia karena
adanya unsur domisili dari kedua belah pihak. Memperhatikan tujuan HP yang
ditinjau dari latar belakang kepentingan HP, yaitu: keadilan, ketertiban, kepastian
hukum, dan kelancaran pergaulan internasional. Berdasarkan hal tersebut maka,
kasus ini termasuk dalam kualifikasi lex fori karena didasarkan pada hukum material
Hakim.
5) Bagaimanakah Iex cause mengatur haI tersebut bagaimanakah peIaksanaan haI
tersebut
Menentukan Hukum yang berlaku (lex cause bagi kontrak, meliputi :
1. Pilihan hukum (Choice of law.
2. Hukum yang berlaku menurut lex loci contractus.
3. Hukum yang berlaku menurut lex loci solutionis.
4. Hukum yang berlaku menurut the proper law of the contract.
5. The most characteristic connection.
Berdasarkan lex cause dalam kasus ini adalah choice of law, karena pengaruh
daripada diterimanya secara umum bahwa bentuk formal dari kontrak




BAB III
PENUTUP
KesimpuIan
Pendapat Sudargo Gautama yang memandang kontrak internasional sebagai bagian
dari sistem kontrak nasional telah diakui sebagai doktrin. Dalam kontrak-kontrak
berdimensiinternasional, penentuan pilihan hukum (choice of law adalah sangat penting
untuk menghindarkan terjadinya conflict of law, mengingat para pihak yang terlibat, tempat
transaksi dan sistem hukum yang terkait berbeda-beda dan bahkan mungkin bertentangan
atau berkebalikan antar satu jurisdiksi hukum dengan jurisdiksi hukum lainnya. Bahkan
sekalipun choice of law telah ditetapkan dalam suatu kontrak atau perjanjian, hukum perdata
internasional tetap menyisakan persoalan-persoalan mendasar dalam proceedings suatu
perkara. Hal ini berakar dari perbedaan kualifikasi antara berbagai sistem hukum perdata
internasional di dunia.
Kasus ini merupakan persengketaan antara Pertamina dengan Karaha Bodas
Company (KBC yang dimana persengketaan ini merupakan persengketaan kontrak karena
adanya pemutusan kontrak secara sepihak. sesuai perjanjian, forum yang berwenang adalah
Arbitrase Jenewa . kasus ini memiliki unsur asing dimana penyelesaian sengketanya terdapat
di Arbitrase Jenewa, Swiss sehingga kasus ini merupakan hukum perdata internasional.
Kualifikasi kasus ini adalah lex fori sedangkan hukum yang digunakan adalah hukum Swiss.
Namun demikian, dikarenakan domisili kedua belah pihak, seharusnya hukum yang
digunakan adalah hukum ndonesia dan sehubungan dengan kasus yang merupakan hukum
kontrak atau perjanjian dan berdasarkan dengan perjanjian yang telah dibuat, maka dalam
kasus ini hukum yang berlaku (lex cause nya yaitu berdasarkan pilihan hukum (choice of
law yang telah disepakati dalam perjanjian Joint Operation Contract (JOC antara Pertamina
dengan Karaha Bodas Company.