Anda di halaman 1dari 7

TRANSIENT TACHYPNEA OF NEWBORN

Latar Belakang
Gawat naIas (Respiratory distress merupakan salah satu kompleks gejala yang sering terjadi
pada bayi baru lahir atau neonatus. Hal ini disebabkan baik oleh gangguan kardiopulmonal
ataupun non-kardiopulmonal. Penyebab tersering gawat naIas akibat gangguan kardiopulmonal
pada bayi cukup bulan adalah transient tachypnea, sindroma aspirasi, dan pneumonia
kongenital.
1,2


angguan Non-kardiopulmonal angguan Kardiopulmonal
Hipothermia/ hyperthermia Penyakit jantung bawaan
Hipoglikemia Sindroma gawat naIas tipe 1
(Hyaline Membrane Disease
Intoksikasi obat Sindroma gawat naIas tipe 2
(Transient Tachypnea
Asidosis metabolik Sindroma Aspirasi Mekonium
Penyakit Neuromuskular Pneumonia
%abel 1. Penyebab Gawat Nafas pada Bayi Baru Lahir atau Neonatus
1


efinisi
%ransient tachypnea of newborn (TTN atau wet lung syndrome, juga dikenal sebagai sindroma
gawat naIas tipe 2, merupakan keadaan gawat naIas yang umumnya terjadi saat lahir.
1
Biasanya
terjadi pada bayi cukup bulan atau hampir cukup bulan (near-term/ late pre-term, non-asIiksia,
dan lahir dengan proses kelahiran yang cepat atau dengan seksio sesaria.
1,3
TTN umumnya
merupakan penyakit yang ringan dan dapat sembuh dengan sendirinya (self-limited.
4

Epidemiologi
rekuensi
Sekitar 1 bayi di Amerika Serikat mengalami gawat naIas non-inIeksi. Dari 1 tersebut,
sekitar 33-50 mengalami TTN.
5

ortalitas/ orbiditas
TTN secara umum merupakan gangguan yang menghilang dengan sendirinya (self-limited tanpa
morbiditas yang signiIikan. TTN biasanya menghilang dalam periode waktu 24-72 jam.
3,5


Ras
Tidak ada predileksi rasial yang dilaporkan.
5

Jenis kelamin
Resiko mengalami TTN sama pada laki-laki maupun perempuan.
5

Usia
Secara klinis, TTN biasanya terjadi pada bayi cukup bulan atau hampir cukup bulan (near-term/
late pre-term.
1,3,4,5


Etiologi
O Persalinan secara seksio sesaria
1,3,4,5

O Maternal asthma dan merokok
5

O Pengunaan obat sedasi berlebihan
4,5

O enis kelamin laki-laki
4,5

O Makrosomia
4,5


Patogenesis/ Patofisiologi
TTN merupakan akibat dari keterlambatan pembersihan (clearance cairan paru janin. Epitel
paru mensekresi Cl
-
selama masa gestasi tapi memiliki kemampuan mereabsorpsi Na

selama
akhir gestasi. Pada saat lahir, paru-paru matur mengganti sekresi aktiI Cl
-
menjadi absorpsi Na


sebagai respons terhadap katekolamin yang beredar dalam darah. Penelitian menunjukkan
glukokortikoid juga berperan dalam proses ini. Perubahan tekanan O
2
meningkatkan kemampuan
transpor Na

epithelium dan meningkatkan ekspresi gen untuk kanal Na

epitel (eNaC.
Ketidakmampuan paru janin imatur untuk mengganti dari sekresi cairan menjadi absorpsi cairan
terjadi, sebagian besar akibat imaturitas dari ekspresi ENaC, yang dapat distimulasi oleh
glukokortikoid. Glukokortikoid menyebabkan reabsorpsi Na

melalui kanal ENaC pada epitel
alveolar paru pada usia kehamilan akhir.
5
Bayi yang lahir dengan seksio sesaria memiliki resiko mengalami retensi cairan paru
sebagai akibat tidak mengalami semua stadium kelahiran (dengan proses melahirkan
pervaginam dan sebagai akibat kurangnya katekolamin.
5

Imaturitas paru juga diajukan sebagai Iaktor kausatiI. Level IosIatidilgliserol (indikator
kematangan paru ditemukan negatiI pada beberapa bayi baru lahir. Selain itu, deIisiensi
surIaktan ringan diduga merupakan Iaktor kausatiI lainnya.
4,5

anifestasi Klinis
Riwayat Penyakit
1,3,4,5

O Bayi lahir cukup bulan atau hampir cukup bulan (near-term/ late pre-term
O Riwayat maternal pada TTN meliputi persalinan secara seksio sesaria, maternal asthma,
merokok, penggunaan obat sedasi berlebihan, dan Iaktor penyebab lainnya
O Tanda gawat naIas (seperti takipnea, naIas cuping hidung, merintih/ mendengkur
terutama saat ekspirasi (grunting, retraksi dinding dada, dan sianosis pada kasus ekstrim
langsung tampak sesaat setelah lahir.
O Kelainannya bersiIat sementara, dengan perbaikan biasanya dalam 24-72 jam setelah
lahir.

Pemeriksaan isik
3,4,5

Pada pemeriksaan Iisik dapat ditemukan:
O Takipnea disertai dengan merintih/ mendengkur terutama saat ekspirasi (grunting, naIas
cuping hidung, ataupun retraksi dinding dada
O Sianosis (pada beberapa kasus ekstrim
O Pada auskultasi, umumnya suara naIas vesikular tanpa ronki atau ronki basah halus
ataupun kasar.

Pemeriksaan Penunfang
4,5

Pemeriksaan penunjang yang diindikasikan dalam TTN adalah sebagai berikut:
O Analisa Gas Darah (AGD
4 Penilaian gas darah penting dilakukan untuk menilai derajat pertukaran gas dan
keseimbangan asam-basa.
4 Biasanya terjadi hipoksemia ringan-sedang, hiperkapnia, hingga asidosis
respiratorik
4 ika Iraksi oksigen yang diinspirasi bayi lebih dari 40, gunakan kateter
intrarterial, seperti kateter arteri umbilikalis.
4 Hipoventilasi sangat tidak jarang terjadi dan tekanan parsial karbondioksida
biasanya normal oleh karena takipnea. Namun begitu, tekanan karbondioksida
yang meningkat pada bayi dengan takipnea mungkin merupakan tanda kelelahan
naIas dan terancam mengalami gagal naIas atau komplikasi seperti pneumothorax.
O Pulse Oxymetry
4 Pantau kadar oksigen secara berkelanjutan dengan pulse oxymetry.
4 Dengan pulse oxymetry, klinisi dapat menyesuaikan kadar oksigen tambahan yang
diperlukan untuk mempertahakan saturasi yang tepat.
O Pencitraan (RadiograIi dada
4 RadiograIi dada merupakan standar diagnosis untuk TTN
4 Karakteristik temuan pada radiograIi dada meliputi:
Garis-garis perihilar (perihilar streaking yang berkaitan dengan pelebaran
saluran limIatik akibat retensi cairan paru
isura interlobar tampak melebar atau terisi cairan
EIusi pleura ringan
Patchy infiltrate (gambaran perselubungan yang kasar akibat edema
alveolar.
DiaIragma datar
4 RadiograIi dada lanjutan mungkin penting diperlukan jika pada riwayat klinis
terdapat sindroma aspirasi mekonium atau pneumonia, atau jika status respiratori
memburuk.


Gambar 1. Radiografi dada (AP) pada %%N (%ampak adanya gambaran retikular dengan
kardiomegali ringan dan cairan interstisial yang felas)
5


iagnosis
Diagnosis TTN ditegakkan dengan:
4
O Anamnesis riwayat penyakit
O Pemeriksaan Iisik
O Pemeriksaan penunjang
4 Analisis gas darah
4 RadiograIi dada

iagnosis diferensial
4,5

O Pneumonia
O Sindroma aspirasi mekonium
O Sepsis
O yaline embrane Disease

Tatalaksana
Tatalaksana TTN adalah dengan terapi suportiI. Saat cairan paru yang tertahan dalam paru
diabsorpsi oleh sistem limIatik, status pulmonal akan membaik. Terapi suportiI meliputi
pemberian cairan intravena dan pemberian makanan secara parenteral hingga laju naIas telah
cukup berkurang hingga memungkinkan untuk diberikan makanan secara peroral. Terapi penting
lainnya adalah supplemental oksigen (biasanya hanya memerlukan suplemen oksigen minimal,
yaitu 25-50 O
2
untuk mempertahankan saturasi oksigen yang adekuat, mempertahakankan
thermoneutralitas, dan lingkungan dengan stimulasi minimal. Penilaian gas darah secara periodik
dilakukan, terutama jika kondisi bayi memburuk. Begitu juga dengan radiograIi dada, harus
diulang jika tampak terjadi dekompensasi secara klinis. Perbaikan dari TTN ditandai dengan
perbaikan takipnea (berkurangnya laju pernaIasan, kebutuhan oksigen berkurang, dan pada
radiograIi dada tampak resolusi garis-garis perihilar (perihilar streaking.
4,5

ManiIestasi TTN dapat berlangsung selama beberapa jam hingga beberapa hari. arang
terjadi, bayi mengalami gawat naIas yang memburuk setelah beberapa hari. Pada kasus seperti
ini, bayi memerlukan terapi suportiI yang lebih agresiI meliputi pengunaan Continuous Positive
Airway Pressure (CPAP atau ventilasi mekanik.
5

Penggunaan obat-obatan pada TTN sangatlah minimal. Antibiotik empiris sering kali
digunakan selama 48 jam setelah lahir sampai kemungkinan sepsis telah dieliminasi. Penggunaan
diuretik dalam TTN terbukti tidak bermanIaat.
5
Konsultasi dengan neonatology perlu dilakukan, terutama jika Iraksi oksigen yang
diinspirasi lebih dari 40, terdapat asidosis respiratorik atau metabolic, bayi memerlukan CPAP
atau ventilasi mekanik, bayi mulai menunjukkan kelelahan (naIas periodik atau apnea, atau jika
bayi gagal menunjukkan perbaikan dalam 48-72 jam.
5

Komplikasi
O Pada beberapa bayi terjadi hipoksia, kelelahan naIas, dan asidosis. Terkadang, kebocoran
udara (seperti pneumotoraks kecil atau pneumomediastinum dapat terlihat pada bayi
dengan usaha naIas yang bertambah. Oleh karena itu, bayi yang tidak mengikuti perjalan
penyakit TTN yang tipikal dan terdapat gejala-gejala yang mengkhawatirkan harus
direevaluasi.
5

O Bayi yang lahir dengan seksio sesaria sebelum masa gestasi 39 minggu dapat mengalami
hipertensi pulmonal dan membutuhkan xtracorporeal embrane Oxygenation
(EMCO.
5

O Beberapa penelitian melaporkan bahwa TTN merupakan Iaktor resiko terjadinya
whee:ing syndrome pada masa kanak-kanak dan tidak bersiIat sementara seperti
sebelumnya. Liem et al memberikan hipotesis bahwa interaksi genetik dan lingkungan
secara sinergis menjadikan anak-anak ini rentan terhadap sindroma ini di kemudian hari,
namun penelitian prospektiI dibutuhkan untuk mendeIinisikan hal ini lebih baik.
5


Prognosis
TTN merupakan penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya (self-limited dalam 24-72 jam
dengan prognosis sangat baik.
1,3,4,5
Namun begitu, TTN berkaitan dengan morbiditas respiratori
lanjutan dengan meningkatnya resiko whee:ing disorder secara signiIikan pada masa kanak-
kanak


AFTAR PUSTAKA
1. Hay W, Levin M, Sondheimer , Deterding R. Current Diagnosis and Treatment:
Pediatrics. 20
th
edition. United States oI America: The McGraw-Hill Companies, Inc;
2011.
2. Kliegman R, Marcdante K, enson H, Behrman R. Nelson Essentials oI Pediatrics. 5
th
edition. Philadelphia: Elsevier, Inc; 2006.
3. Kliegman R, Behrman R, enson H, Stanton B. Nelson Textbook oI Pediatrics. 18
th

edition. Philadelphia: Elsevier, Inc; 2007.
4. Garna H, Nataprawira S, editors. Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak.
3
rd
edition. Bandung: Bagian Ilmu Kesehatan Anak akultas Kedokteran Universitas
Padjajaran dan Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung.
5. Subramanian K. Transient Tachypnea oI the Newborn. |Updated 2010 anuari 13; cited
2011 November 20|. Available Irom: http://emedicine.medscape.com/article/976914.