Anda di halaman 1dari 5

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang Saat ini, industrialisasi dipilih sebagai jalur utama bagi pertumbuhan ekonomi sehingga banyak dibutuhkan bahan-bahan kimia yang beraneka ragam. Dalam memenuhi kebutuhan tersebut, Indonesia lebih banyak mengimpor dari negara luar. Usaha pemanfaatan sumber daya alam secara maksimal perlu dilakukan sehingga diharapkan dapat meningkatkan devisa negara dan dapat menyerap tenaga kerja (Kirk dan Othmer. 1954). Salah satu bentuk pemanfaatan sumber daya alam yaitu pemanfaatan enceng gondok yang ketersediaannya cukup melimpah dan kurang begitu termanfaatkan dalam industri kimia sebagai bahan baku pembuatan asam oksalat (Kirk dan Othmer. 1954). Asam oksalat merupakan salah satu anggota dari asam karboksilat yang mempunyai rumus molekul C2H2O4 tidak berbau, higroskopis, berwarna putih sampai tidak berwarna dan mempunyai berat molekul 90,04 gr/mol. Secara komersial asam oksalat dikenal dalam bentuk padatan dihidrat yang mempunyai rumus molekul C2H2O4.2H2O dan berat molekulnya 126,07 gr/mol. Kegunaan asam oksalat sangat banyak antara lain bahan pencampur zat warna dalam industri tekstil dan cat, menetralkan kelebihan alkali pada pencucian dan sebagai bleaching. Asam oksalat pada industri logam dipakai sebagai bahan pelapis yang melindungi logam dari kerak, sedangkan dalam pabrik polimer dipakai sebagai inisiator (Kirk dan Othmer. 1954). Asam oksalat pertama kali disintesis oleh Carl W.Scheele pada tahun 1776 dengan cara mengoksidasi gula dengan asan nitrat. Pada tahun 1784 telah dibuktikan asam oksalat terdapat pada tanaman sorrel. Pada tahun 1829, Gay Lussac menemukan bahwa asam oksalat dapat diproduksi dengan cara meleburkan serbuk gergaji dalam larutan alkali. Bahan - bahan yang mempunyai kandungan selulosa cukup besar dapat disintesis menjadi asam oksalat dengan meleburnya dalam larutan alkali. serbuk gergaji, sabut kelapa dan bahan-bahan

I-1

I-2

yang sangat baik untuk pembuatan asam oksalat. Saat ini terdapat 4 macam teknologi yang telah dikembangkan untuk sintesis asam oksalat secara komersial, yaitu peleburan selulosa oleh alkali, oksidasi karbohidrat dengan asam nitrat, fermentasi gula dan sintesis dari sodium format (Kirk dan Othmer. 1954). Asam oksalat terdistribusi secara luas dalam bentuk garam potassium dan kalsium yang diperoleh pada daun, akar dan rhizome dari berbagai macam tanaman. Asam oksalat juga terdapat pada air kencing manusia dan hewan dalam bentuk garam kalsium yang merupakan senyawa terbesar dalam ginjal. Makanan yang banyak mengandung asam oksalat adalah coklat, kopi, strawberry, kacang, bayam dan teh (Kirk dan Othmer. 1954). Saat ini, Indonesia masih mengimpor asam oksalat untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Untuk mengurangi ketergantungan tersebut, perlu didirikan pabrik asam oksalat dengan kapasitas yang memadai. Berikut ini adalah tabel yang menunjukkan data impor asam oksalat dari tahun 2006-2010. Kebutuhan asam oksalat di Indonesia semakin meningkat. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 1.1 Tabel 1.1 Kebutuhan Import Asam Oksalat di Indonesia No Tahun Kuantitas (ton) 1 2006 709,724 2 2007 88,789 3 2008 1 180,329 4 2009 1.440,093 5 2010 1.738,972 (Sumber : Biro Pusat Statistik (BPS), 2010) Berdasarkan Tabel 1.1 yang menunjukkan kebutuhan impor asam oksalat masih cukup tinggi, maka dapat dipastikan industri kimia asam oksalat mempunyai prospek yang cerah di masa yang akan datang.

1.1.

Perumusan Masalah Sehubungan dengan meningkatnya jumlah impor asam oksalat setiap

tahunnya, maka diperlukan suatu pembangunan pabrik asam oksalat dari enceng dan NaOH yang efisien, ekonomis, dan ramah lingkungan. Tugas akhir ini

I-3

memaparkan bagaimana Pra Rancangan Pabrik Asam Oksalat yang berdasarkan aspek ekonomi dan teknik.

1.2. Tujuan Pra Rancangan Pabrik Tujuan rancangan pabrik asam oksalat dari enceng gondok dan NaOH melalui peleburan alkali selulosa adalah untuk mengaplikasikan displin ilmu teknik kimia yang meliputi neraca massa, neraca energi, spesifikasi peralatan, operasi teknik kimia, utilitas, dan bagian ilmu teknik kimia lainnya serta untuk mengetahui aspek ekonomi dalam pembiayaan pabrik sehingga akan memberikan gambaran kelayakan pra-rancangan pabrik asam oksalat dari enceng gondok dan NaOH melalui peleburan alkali selulosa.

1.4. Penentuan Kapasitas Produksi Tujuan pendirian pabrik ini adalah untuk mendapatkan produk asam oksalat yang mampu bersaing di pasaran. Oleh karena itu, salah satu faktor yang harus diperhatikan adalah kapasitas pabrik. Hal ini berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan pasar terhadap asam oksalat. Pabrik ini akan mulai berproduksi pada tahun 2013 (tahun 2011 mulai dirintis dengan 2 tahun masa pendirian). Konsumsi asam oksalat di Indonesia sama dengan jumlah impor dan produksi dalam negeri dikurangi jumlah ekspor. Diharapkan pada masa mendatang jumlah impor bisa dikurangi dan jumlah ekspor dapat ditingkatkan. Tabel 1.2 Perhitungan Pertumbuhan Impor Asam Oksalat di Indonesia Berat bersih (ton) % pertumbuhan 709,724 88,789 0,2410 1 180,329 0.3400 1.440,093 0.2200 1.738,972 0.2075 JUMLAH 1,0085 Rata rata pertumbuhan impor = 1,0085 / 4 = 0.25 Untuk menghitung ramalan impor pada tahun 2011 digunakan rumus : F= P (i + 1)n Tahun 2006 2007 2008 2009 2010

I-4

Dimana :

F = jumlah import pada tahun 2013 P = jumlah import pada tahun 2011 i = rata-rata pertumbuhan import n = selisih antara tahun 2013 dengan 2011

Ramalan impor pada tahun 2013

= 1.738,972 (0.25+1)(2013-2011) = 2.717,14 ton

Berikut data kegiatan ekspor, impor, konsumsi, serta produksi asam oksalat di beberapa negara yang dapat dilihat pada tabel 1.3. Tabel 1.3 Keseimbangan penawaran dan permintaan asam oksalat dunia tahun 1990 No. Negara Kapasitas produksi (ton) Produksi (ton) 0,0 0,0 0,0 5,0 0,0 5,0 8,5 8,0 16,5 8,0 64,0 12,4 4,5 4,8 5,5 91,2 123,7 Konsumsi (ton) 9,0 0,9 9,9 1,0 0,1 1,1 7,0 5,0 12,0 10,0 50,0 9,9 2,5 2,2 9,5 75,7 123,7 Ekspor (ton) 0,0 0,0 0,0 4,0 0,0 4,0 1,5 4,0 5,5 3,0 14,0 4,8 2,0 2,5 0,0 23,4 36,9 Impor (ton) 9,0 0,9 9,9 0,0 0,1 0,1 0,0 1,0 1,0 5,0 0 2,3 0,0 0,0 4,0 7,9 36,9

1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 3. 4. 5.

Amerika utara Amerika serikat 0,0 Kanada 0,0 Total 0,0 Amerika Selatan Brazil 7,0 Venezuela 0,0 Total 7,0 Eropa barat Spanyol 10,0 Perancis 8,0 Total 18,0 Eropa Timur 13,0 Asia China 100,0 Jepang 18,0 Korea 4,8 Taiwan 4,9 India 6,5 Total 134,2 Total Dunia 176,2 (Sumber : Ulmann. 2002)

Seiring dengan meningkatnya kebutuhan impor dari negara-negara lain, maka kapasitas pabrik ini direncanakan sebanyak 10.000 ton/tahun. 1.5. Manfaat Rancangan

I-5

Adapun manfaat yang diperoleh dari Pra rancangan Pabrik asam oksalat dari enceng gondok dan NaOH melalui peleburan alkali selulosa.ini adalah : 1. Meningkatkan kesehatan masyarakat 2. Menciptakan lapangan kerja 3. Menambah pendapatan anggaran daerah 4. Meningkatkan nilai guna enceng gondok selain sebagai bahan pakan ternak dan bahan baku pembuatan pulp.