Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN DATA PEMBANGKIT ENERGI LISTRIK PLTA UPPER CISOKAN PUMPED STORAGE 1040 MW

Nama No. Registrasi

: Doli Muhammad : 5115 08 0254

TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA 2011

A. TUJUAN Tugas laporan ini disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Pembangkit Energi Listrik yang mana merupakan penilaian dalam tugas individu. Laporan disusun sesuai dengan pengamatan yang diamati dalam acara PAMERAN ELECTRIC, POWER AND RENEWABLE ENERGY INDONESIA 2011 yang diadakan di JIEXPO PRJ KEMAYORAN pada tanggal 21-24 September 2011. Laporan ini disusun untuk mengetahui energy apa saja yang dapat diperbaharui atau mengetahui energy apa saja yang dapat dihasilkan (konsep) untuk kelangsungan hidup di muka bumi ini. Dalam mata kuliah Pembangkit Energi Listrik, setiap mahasiswa di wajibkan membuat laporan data konsen teknologi yang berkaitan pembangkit (renewable or non renewable). Dapat dilihat dalam pengamatan kemarin, perdagangan bebas berperan penting dalam terlaksananya ENERGY INDONESIA 2011. PAMERAN ELECTRIC, POWER AND RENEWABLE Dalam pameran tersebut, setiap Negara

memperkenalkan alat maupun bahan untuk menciptakan energy baru, seperti yang dapat dilihat dalam pemeran tersebut adalah generator, turbin dan lainlainnya. Disini, saya mendatangi stand dalam negeri, yaitu PT. PLN (Persero). PT. PLN memperkenalakan Pembangkit Listrik Tenaga Listrik Upper Cisokan Pumped Storage yang dapat menghasilkan energy listrik sebesar 1040 MW. PLTA ini merupakan konsep atau rancangan yang akan dilaksanakan sebagai solusi untuk menambah pasokan energy listrik pada saat beban puncak dan juga sebagai fasilitas pembangkit cadangan (stand-by) jika terjadi penurunan kapasitas pada jaringan dan membantu mengatur frekuensi yang ada di Pulau Jawa sejalan dengan kelangsungan hidup di muka bumi ini. Dari stand PT.PLN tersebut, terdapat konsep atau miniatur PLTA tersebut yang akan dibangun. Dapat diamati, PLTA tersebut menggunakan 2 bendungan untuk proses menghasilkan energy listrik. 2 bendungan tersebut digunakan untuk membendung air pada 2 sumber air yang berbeda, yaitu membendung Sungai Cisokan dan Sungai Cirumamis. Menurut sumber yang diperoleh, terutama dari stand PT.PLN berkata saat beban rendah pada tengah malam atau tengah hari, air dari reservoir bawah dipompa ke reservoir yang terletak di atas dengan memanfaatkan sisa energy thermal yang diambil dari system interkoneksi Jawa-Bali dan pada saat beban puncak antara pukul 17.00 s/d 22.00 air dialirkan menuju powerhouse

yang terletak di bawah tanah untuk mengatasi beban puncak itu sendiri. Kapasitas energy yang dihasilkan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik pada saat beban puncak selama 6.5 jam. Dapat dilihat pada miniatur tersebut, terdapat 4 turbin untuk mengubah energy potensial menjadi energy mekanik dengan memanfaatkan perputaran turbin untuk dihubungkan langsung ke generator. Setiap turbin dapat menghasilkan energy listrik sebesar 260 MW, dan dapat ditotal dari 4 turbin tersebut dapat dihasilkan 1040 MW energy listrik yang dihasilkan dari PLTA Upper Cisokan Pumped Storage.

B. LAPORAN DATA KONSEP Dalam rangka meningkatkan pasokan tenaga listrik di Pulau Jawa. Pemerintah dalam hal ini PT PLN (Persero), berencana untuk membangun pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Cisokan Hulu (upper Cisokan Pumped Storage HEPP) yang terletak di Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Cianjur. PLTA ini memilki kapasitas terpasang 1040MW. PLTA ini akan merupakan PLTA dengan system pumped storage di indonesia. Rencana pembangunan PLTA Cisokan (pumped storage) ditujukan untuk mengatasi kekurangan daya akibat peningkatan kebutuhan energy listrik saat beban puncak pada system jaringan kelistrikan Jawa-Bali, sehingga keandalan (reliabillity) system kelistrikan Jawa-Bali dapat ditingkatkan. PLTA Cisokan diharapkan dapat menambah pasokan energy pada saat beban puncak, sebagai fasilitas pembangkitan cadangan (stand-by) jika terjadi penurunan kapasitas pada jaringan dan membantu mengatur frekuensi sistem keseluruhan antara 49 dan 51 Hz. PLTA upper pumped storage (UCPS) memiki 2 buah reservoir di bagian bawah dan atas, dengan cara membendung sungai Cisokan menggunakan dam beton tipe RCC (rolled compacted concrete atau beton yang dipadatkan) 98 meter, dan dam yang membendung sungai Cirumamis setinggi 75 meter dengan tipe RCC, maka akan terjadi dua genangan air di dua reservoir yang memiliki selisih ketinggian 300 meter. Air dari reservoir bawah di pompa ke reservoir yang terletak di atas dengan memanfaatkan sisa energy thermal (base load) yang diambil dari sitem interkoneksi Jawa-Bali saat beban rendah pada tengah malam atau pagi hari. Kemudian pada saat beban puncak (peak load) anatara pukul 17.00-22.00, air dialirkan melalui 2 buah terowongan (headrace tunnel) dan pipa pesat (penstock) menuju powerhouse yang terletak di bawah tanah dengan

ketinggian atuh rata-rata (rated net head) sekitar 276 meter. Kapasitas efektif masing-masing reservoir sekitar 10 juta meter kubik yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik pada saat beban puncak selama 6.5 jam. Pembangunan upper pumped storage project HEPP terdiri dari: 1. Pembangunan jalan hantar (access road). 2. Pembangunan upper dan lower dam, power house dan saluran air. 3. Pembangunan switch yard dan jalur transmisi 500 KV. Salah satu fungsi utama perlu dibangunnya jalan hantar (acces road) adalah untuk mengangkut material batuan dari quarry ke lokasi bendungan sepanjang 34 km, dari quarry melewati jalan yang sudah ada (existing road) 6.7 km, dan jalan baru (new road yang akan dibangun dari Dusun Cipari atau Desa Cijambu sampai ke lokasi lower dam dan lokasi upper dam sepanjang 27.3 km. Untuk menyalurkan listrik yang dihasilkan perlu dibangun interconeksi ke jaringan transmisi Jawa-Bali. Interconeksi yang akan dibangun adalah Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 KV. Jaringan tersebut akan dibangun 2 jalur SUTET kearah utara yang terhubung dengan jalur SUTET CibinongSaguling (jarak masing-masing 15.5 km dan 15.9 km), diperlukan sebanyak 82 tower, tinggi tower minimal adalah 30.5 meter. PLTA upper Cisokan diperkirakan akan menggunakan lahan di Kabupaten Bandung Barat seluas 624.99 ha, dan menggunakan lahan di Kabupaten Cianjur seluas 216.36 ha. Dampak terhadap aspek social yang diperkirakan akan terjadi antara lain: 1. Tahap pra kontruksi. a. Pembebasan lahan. Persyaratan administrasi hak atas lahan yang tidak lengkap dan

munculnya para spekulan lahan. Nilai ganti rugi lahan, bangunan dan tanaman. Pengurangan pemilikan lahan.

b. Pemindahan penduduk.

Warga terkena proyek (WTP) yang dipindahkan khawatir tingkat

kehidupannya menurun. 2. Tahap konstruksi. a. Mobilitas tenaga kerja. Terbukanya lapangan kerja dan meningkatnya pendapatan. Adanya peluang konflik antara warga sekitar dan pekerja

pendatang. b. Mobilitas alat berat dan material. Gangguan kesehatan masyarakat akibat penurunan kualitas udara,

debu dan kebisingan oleh mobilisasi alat berat dan peledakan quarry, serta mobilisasi material menuju wilayah upper dan lower dam. Peningkatan kepadatan lalu lintas, akan berpotensi untuk terjadinya

kecelakaan lalu lintas. Terbukanya akses jalan baru terhadap daerah yang terisolir akan

meningkatkan perekonomian daerah tersebut.

3. Tahap operasi. a. Semakin mudahnya sarana transportasi yang dapat meningkatkan taraf ekonomi masyarakat. b. Dapat menimbulkan kecelakaan tenggelam dengan adanya genangan reservoir akibat permukaan air pasang surut (fluktuasi). Manfaat dan keuntungan PLTA pumped storage: 1. Menyediakan listrik pada saat beban puncak. 2. Mengontrol frekuensi. 3. Mempunyai kemampuan respon yang dinamis. 4. Berfungsi sebagai fasilitas pembangkitan stand by.

5. Mampu menyalakan system (Black Start) apabila system mengalami padam total (Black Out). Upaya pencegahan dampak: 1. Dilakukan sosialisasi langsung dan monitoring terhadap warga terkena proyek. 2. Membekukan transaksi asset untuk menghindari spekulan tanah setelah adanya ijin lokasi dari gubernur (SP2LP). 3. Panitia pembebasan tanah (P2T) dan tim independent appraisal akan menentukan harga ganti rugi tanah, bangunan dan tanaman. 4. Prioritas tenaga kerja akan diberikan pada masyarakat sekitar proyek berdasarkan kemampuan dan kualifikasi. 5. Dilakukan pengelolaan dampak debu dengan penyiraman air dan

penanaman pohon. 6. Pengelolaan kebisingan dilakukan melalui pengaturan mesin. 7. Pencegahan kecelakaan lalu lintas dengan pemasangan rambu-rambu dan penempatan personil pengaman. Aktivitas proyek yang mempunyai potensi dampak terhadap aspek social: 1. Tahap pra-konstruksi a. Pembebasan lahan. b. Pemindahan penduduk. 2. Tahap konstruksi a. Mobilisasi tenaga kerja. b. Mobilisasi alat berat dan material. 3. Tahap operasi a. Pengoperasian dan pemeliharann PLTA.

Terdapat beberapa sarana dan prasarana umum yang terkena proyek, seperti kantor desa, masjid atau mushola, pesantren, makam, sumber air atau mata air, sekolah dan sebagainya.

Aspirasi kepindahan penduduk yang terkena proyek: 1. Ingin pindah dekat dengan lokasi tempat tinggal pada lokasi dekat dengan desa mereka sebelumnya. 2. Mayoritas warga ingin pindah sendiri secara swakarsa. 3. Mereka akan tetap pada mata pencaharian sebelumnya. Aspirasi penduduk mengenai ganti rugi: 1. Masyarakat menginginkan dibayar langsung tanpa melalui perantara. 2. Harga ganti rugi ditentukan secara musyawarah antara masyarakat dan pemerintah atau PLN. 3. Pembayaran langsung secara tunai atau melalui bank.