Anda di halaman 1dari 7

1

BAB II PEMBAHASAN 2.1. Klasifikasi Gigi Tiruan Sebagian Lepasan Klasifikasi gigi tiruan sebagian lepasan berdasarkan bahan 1. Gigi sebagian lepasan dengan kerangka logam GTSKL memiliki kualitas mekanik sangat baik dan memberikan kemungkinan desain denture yang mempertimbangkan kesehatan jaringan periodonsium gigi abutment, estetis dan kenyamanan pasien. Hasil ini dapat dicapai dengan membuat desain kerangka sesederhana mungkin, dengan basis dan konektor major dan minor yang didesain tidak berkontak dengan alveolar ridge atau palatum secara aproksimal 3 mm dari gigi, untuk mencegah atau mengurangi efek negatif dari oral hygiene yang buruk. 2. Gigi tiruan sebagian lepasan resin akrilik Gigi tiruan sebagian lepasan resin akrilik secara normal tidak digunakan untuk lebih dari beberapa bulan, karena gigi tiruan jenis ini memiliki kualitas mekanik yang buruk, lebih tidak nyaman digunakan, dan kondusif bagi oral hygiene yang buruk, namun gigi tiruan jenis ini banyak digunakan, khususnya pada prostodontik geriatri, karena relatif tidak mahal dan mudah dimodifikasi.Perawatan dengan gigi tiruan sebagian lepasan resin akrilik diindikasikan pada pasien lanjut usia dengan gigi yang jaringan periodonsiumnya relatif masih sehat, dalam bentuk gigi tiruan sementara.Penggunaan gigi tiruan sementara ini membantu pasien untuk beradaptasi dengan gigi tiruan penuh nantinya dan gigi tiruan sementara sering dapat dengan mudah ditansformasikan menjadi gigi tiruan penuh. Ketika perawatan dengan gigi tiruan sebagian lepasan dengan kerangka logam terhambat karena alasan keuangan, gigi tiruan sebagian lepasan resin akrilik sering menjadi alternatif yang lebih baik daripada gigi tiruan penuh jika pasien tidak memiliki masalah fungsional. Dilepas/tidak dapat dilepas a.removable partil denture= GTS Lepasan b.fixed denture/bridge= GTC Saat pemasangan a.convesional-dipasang setelah gigi hilang b.immediete-dipasang segera setelah gigi hilang / dicabut Jaringan pendukung a.tooth borne-didukung oleh gigi b.mucosa / tissue borne-didukung mukosa c.mucosa and tooth-didukung gigi&mukosa Letak daerah tak bergigi / sadel a.anterior tooth suported case b.all tooth suported case c.free and supotred case Memakai wing bagian bukal/labial atau tidak A. Open face : GTS yang dibuat tanpa gusi tiruan labial, gigi tiruan tsb dibuat apabila 1.keadaan prosessus aleolaris masih baik 2.biasa pada gigi anterior 3.pasien mempunyai lebar mulut terlalu lebar B. Close face : GTS yang dibuat gusi tiruan bagian labial, gigi tiruan tsb dibuat apabila 1.prosessus alveolaris telah mengalami absorbsi 2.perbaikan profil Indikasi Gigi Tiruan Sebagian Lepasan 1. Bila tidak memenuhi syarat untuk suatu gigi tiruan cekat : Usia : usia pasien masih muda, ruang pulpa masih besar, panjang mahkota klinis masih kurang. Pasien usia lanjut dengan kesehatan umum yang buruk, karena perawatannya memerlukan waktu yang lama Panjang daerah edentulous tida memenuhi syarat Hukum Ante Kehilangan tuang yang banyak pada daerah edentulous 2. tidak ada abutment gigi posterior pada ruang edentulous(free end saddle) 3. bila dukungan sisa gigi asli kurang sehat 4. bila dibutuhkan stabilisasi dari lengkung yang berseberangan 5. bila membutuhkan estetik yang lebih baik 6. bila dibutuhkan gigi segera setelah dicabut 7. keinginan pasien 2.2. Desain GTSL akrilik Desain : gambaran bentuk Mendesain : merencanakan gambaran dengan menggambar dan perincian data pendukung Guna : 1. sebagai penuntun dari gigi tiruan sebagaian lepasaan yang akan dibuat 2. sebagai sarana komunikasi antara dokter gigi dan tekniker gigi dalam hal pendelegasian pembuatan gigi di laboratorium Prinsip dasar desain GTSL: Memelihara/mempertahankan kesehatan jaringan pendukung gigi tiruan sebagian lepsan dengan memperhatikan: 1. distribusi tekanan yang luas(melalui cengekram) 2. mepersamakan tekanan (keseimbangan kiri dan kanan) 3. phisiologic basing(tekanan phisiologis pada mukosa di bawah basis) Faktor-faktor yang berpengaruh dalam menentukan desain GTSL 1. anatomi dan fisiologi jaringan yang terlibat dalam penempatan GTSL dalam rongga mulut(gigi, mukosa, tulang) 2. letak gigi yang hilang dan yang kaan diganti 3. besarnya beban kunyah: bila gigi hilang gigi belakang, dimana beban kunyah besar, sedangkan gigi penjangkarannya kurang kuat untuk mensupport beban kunyah yang besar tersebut, sebiknya dibuatkan GTS gingival 4. macam gigi tiruan: GTS paradental:cengkeram yang dipakai adalah cengkeran paradental.gigi penjangkaran sedapat mungkin dekat gigi yang hilang, kecuali bila mengganggu estetis. Basis tidak perlu terlalu luas. GTS gingival:cengkeram yang dipakai adalah gingival,gigi penjangkaran sedapat mungkin dekat gigi yang hilang, basis dibuat seluas mungkin GTS kombinasi paradental-gingival: Cengkeram yang dipakai adalah pada sisi paradental menggunakan paradental, pada sisi gingival menggunakan cengkeram gingival. Pada satu sisi tidak boleh ada cengkeram paradental dan gingival bersama-sama

2
Basis pada sisi paradental tidak luas, pada sisi gingival luas 5. pertimbangan biomekanik jaringan penyangga GTSL adalah jaringan hidup. Karena itu keseimbangan tekanan oleh adanya beban kunyah harus diperhatikan. 6. garis fulcrum:adalah garis imaginer yang ditarik melalui dua gigi penjangkaran yang dapat merupakan sumbu berputarnya atau terungkitnya gigi tiruan 7. estetika letak cengkeram harus lebih diperhatikan 8. kenyamanan gigi tiruan harus dapat dipakai dengan nyaman 9. penyakit untuk pasien DM dibuat desain gingival mengingat keadaan dari sisa gigi yang ada sering goyang Bagian-bagian gigi tiruan sebagian lepasan Gigi tiruan sebagian lepasan terdiri dari komponenkomponen: 1. Basis disebut juga plat protesa adalah bagian dari gigi tiruan yang menutupi mukosa mulut di daerah palatum labial, bukal, lingual. Bahan dasar basis:akrilik, logam Beda basis akrilik dengan logam: No akrilik logam 1 Proses pembuatan mudah Sukar 2 Kekuatan Kurang Kuat 3 Penghantar panas Kurang Baik 4 Menyerap air Dapat Tidak dapat 5 Perubahan warna Dapat Tidak dapat 6 Luas basis Luas/lebar Tak luas 7 biaya murah mahal Fungsi basis: untuk meneruskan tekanan kunyah ke mukosa dan tulang alveolar di bawahnya untuk memberi retensi dari protesa, karena adanya gaya adhesif antara basis dengan mukosa yang dibatasi dengan media air ludah tempat melekatnya cengkeram menggantikan jaringan yang hilang serta memberikan dukungan kepada bibir dan pipi(estetik) 2. Sadel adalah bagian dari gigi tiruan yang menutupi mukosa di atas prosesus alveolaris dan mendukung elemen gigi tiruan bila sadel letaknya: antara gigi asli diseut bounded saddle posterior dari gigi asli disebut free end saddle 3. Elemen gigi tiruan adalah bagian dari gigi tiruan yang merupakan bentuk gigi tiruan dari gigi asli yang hilang Bahan dasar gigi tiruan dapat bermacam-macam, yaitu:resin akrilik, porselen,logam Elemen gigi tiruan resin akrilik o mudah aus, terutama pada penderita yang mempunyai kekuatan kunyah yang kuat o perlekatannya dengan basis merupakan persenyawaaan kimia, karena bahannya sama o dapat berubah warna o mudah tergores o mudah dibentuk/diperkecil sesuai dengan ruangan o lebih ringan dibanding gigi tiruan yang dari porselen dan logam o dapat diasah dan dipoles o karena sifat mudah aus, baik sekali dipakai untuk prosesus alvolaris yang datar Elemen gigi tiruan porselen: o tidak mudah aus/tergores o perlekatannya dengan basis secara mekanis, sehingga elemen gigi tiruan harus mempunyai retensi untuk pelekatnya terhadap basis bentuk retensi gigi tiruan porselen:undercur,pin,alur o tidak berubah warna o tidak dapat diasah o lebih berat daripada akrilik o tidak baik dipakai untuk prosesus alveoalris yang datar(resorbsi) Elemen gigi tiruan logam: o biasanya dibuat sendiri sesuai dengan ruang protesa yang ada, terutama untuk gigi posterior yang ruang protesanya sempit o estetis kurang baik o tahan terhadap daya kunyah yang besar/kuat 4. Cengkeram disebut juga klammer Cengekram adalah bagian dari gigi tiruan lepas yang berbentuk bulat/gepeng. Terbuat dari kawat stainless steel/ logam tuang, yang melingkari/ memegang gigi penjangakaran Fungsi cengkeram o untuk retensi o untuk stabilisasi o untuk meneruskan beban kunyah ke gigi penjangkaran Syarat umum gigi penjangkaran 1. gigi vital atau non vital yang telah dilakukan PSA dengan sempurna 2. bentuk anatomis dan besarnya noraml 3. tidak ada kerusakan/kelainan.Misalnya:tambalan yang besar, karies, hypoplasia, konus 4. posisi dalam lengkung gigi normal 5. keadaan akar gigi: bentuk ukurannya normal tertanam dalam tulang alveolar dengan perbandingan mahkota akar 2:3 jaringan periodonta sehat tidak ada kelainan periapikal 6. sedapat mungkin tidak goyang Cengkeram kawat Bagian-bagian dari cengkeram kawat: 1. lengan cengekeram 2. jari cengkeram 3. bahu cengkeram 4. badan cengkeram 5. oklusal rest 6. retensi dalam akrilik Bagian-bagian dari cengkeram kawat: 1. lengan yaitu bagian dari cengkeram kawat yang terletak/melingkari bagian bukal/lingual gigi penjangkaran sifat:agak lentur fungsi:retensi dan stabilisasi 2. jari bagian dari lengan yang terletakdi bawah lingkaran terbesar gigi sifat:lentur/fleksibel fungsi/retensi

3
3. bahu bagian dari lengan yang terleta di atas lingkaran terbesar dari gigi sifat:kaku fungsi:stabilisasi yaitu menahan gaya-gaya buccolingual 4. badan/body bagian yang cengekaram kawat yang terletak di atas titik kontak gigi di daerah aproksimal sifat:kaku fungsi:stabilisasi yaitu menaha gaya-gaya anteroposterior 5. oklusal rest yaitu bagian dari cengekaram kawat yang terletak di bagaian oklusal gigi sifat:kaku, panjang 1/3 lebar mesio-distal gigi fungsi:meneruskan beban kunyah ke gigi penjangkaran 6. retensi dalam akrilik bagian dari cengkeram kawat yang tertanam dalam basis akrilik Syarat-syarat cengkeram kawat yang melingkari gigi: 1. harus kontak garis 2. tidak boleh menekan/harus pasif 3. ujung jari tidak boleh menyinggung gigi tetangga dan tidak boleh tajam/harus dibulatkan 4. tidak ada lekukan bekas tang(luka)pada lengan cengkeram 5. bagian cengkeram yang melalui oklusal gigi tidak boleh mengganggu oklusi/artikulasi 6. jarak bagian jari ke servikal gigi: cengkeram paradental:1/2-1 mm cengekeram gingival:1 -2 mm 7. bagian retensi dalam akrilik harus dibengkokkan Macam-macam desain cengkeram Desain cengkeram menurut fungsinya dibagi dalam dua bagian: 1. Cengkeram paradental yaitu cengkeram yang fungsinya selain dari retensi dan stabilisasi protesa, juga sebagai alat untuk meneruskan beban kunyah yang diterima gigi tiruan ke gigi penjangkarannya Jadi,cengkeram paradental harus mempunyai bagian yang melalui bagian oklusal gigi penjangkaran atau melalui titik kontak antara gigi penjangkaran dengan gigi tetangganya 2. Cengkeram gingival yaitu cengkeram yang fungsinya hanya untuk retensi dan stabilisasi protesa. Jadi, karena tidak berfungsi untuk meneruskan beban kunyah yang diterima protesa ke gigi penjangkaran, maka cengkeram ini tidak mempunyai bagian yang melalui bagian oklusal gigi penjangkaran, bisa diatas permukaan oklusal. Macam-macam cengkeram paradental 1. Cengkeram 3 jari terdiri dari: lengan bukal dan lingual body bahu oklusal rest bagian retensi dalam akrilik indikasi:gigi molar dan premolar 2. Cengkeram jackson Disain cengkeram ini mulai dari palatal/lingual, terus ke oklusal di atas titik kontak, turun ke bukal melalui di bawah lingkaran terbesar, naik lagi ke oklusal di atas titik kontak, turun ke lingual masuk retensi akrilik. Indikasi: Gigi molar,premolar yang mempunyai kontak yang baik di bagian mesial dan distalnya Bila gigi penjangkaran terlalu cembung, seringkali cengkeram ini sulit masuk pada waktu pemasangan protesa. 3. Cengkeram jackson paradental Disainnya mulai dari bukal terus ke oklusal di atas titik kontak, turun ke lingual dan terus ke retensi akrilik Indikasi: gigi molar dan premolar gigi terlalu cembung sehingga cengkeram jackson sulit melaluinya ada titik kontak yang baik di anatar 2 gigi 4. Cengkeram S Disain cengkeram ini mulai dari bukal terus ke oklusal/insisal di atas titik kontak, turun ke lingual melalu atas cingulum, kemudian turun ke bawah masuk ke dalam akrilik Indikasi: Untuk kaninus rahang atas perlu diperhatikan agar letak cengkeram tidak mengganggu oklusi 5. Cengkeram Kippmeider Tidak mempunyai lengan, yang ada hanya rest di atas cingulum Indikasi: Hanya untuk kaninus Bentuk cingulum harus baik Fungsi:hanya untuk menerusan beban kunyah dan stabilisasi 6. Cengkeram rush angker Disainnya mulai dari oklusal di aproksimal(daerah mesial/distal)terus ke arah lingual ke bawah, masuk dalam akrilik Indikasi:molar, premolar yang mempunyai titik kontak yang baik Fungsi:hanya untuk meneruskan beban kunyah protesa ke gigi penjangkaran dan sebagai retensi pada pembuatan splin 7. Cengkeram roach Disainnya mulai dari oklusal di daerah titik kontak aproksimal, turun ke bukal dan lingual terus ke aproksimal di daerah diastema, masuk dalam akrilik Indiksai:gigi molar dan premolar yang mempunyai konta yang baik Macam-macam cengkeram gingival 1. Cengkeram 2 jari Disainnya sama dengan cengkeram 3 jari, hanya tidak mempunyai rest Indikasi:gigi molar dan premolar 2. Cengkeram 2 jari panjang Disainnya seperti cengkeram 2 jari, hanya disini melingkari 2 gigi berdekatan Iindikasi:gigi molar,premolar, dimana gigi yang deat diastema urang kuat(goyang 10 ) 3. Cengkeram jacson hampir sama dengan cengkeram jacson paradental bedanya cengkeram ini melalui bagian proksimal dekat diastema dan di bagian lingual lurus ke bawah,

4
tetap di tepi lingual indikasi:gigi molar,premolar dan kaninus 4. Cengkeram vestibular finger cengkeram ini berjalan mulai dari sayap bukal protesa ke arah undercut di vestibulum bagian labial, ujungnya ditutupi akrilik indikasi: gigi sisa hanya gigi anterior yangtidak dapat dilingkari cengkeram, dan bagian vestibulum labial harus mempunyai undercut yang cukup fungsi: untuk tambahan retensi, tetapi kurang efektif 2.3.Tahapan Perawatan 2.3.1 Pemeriksaan Utama a. Pemeriksaan subjektif Anamnsesis yaitu pemeriksaan yang dilakukan dengan tanya jawab. Cara ini umumnya dilakukan untuk mencari riwayat penyakit dan data pribadi pasien dan keluarga. Beberapa hal yang ditanyai dalam anamnesis antara lain: 1. daftar pribadi (nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan,dll) 2. Data kesehatan umum - Penyakit sistemik, misalnya hipertensi diabetes mellitus. - obat yang digunakan. - kebiasaan pasien untuk mengontrol kesehatannya. 3. Data jenis kesehatan gigi mulut - jenis penyakit yang ada atau sedang diderita - riwayat hilangnya gigi - Kebiasaan jelek,misalnya mengunyah satu sisi atau bruksism - Apakah pernah memakai gigi tiruan, jika pernah bagaimana keluhan- keluhan gigi tiruan yang lama. - frekuensi kunjungan ke dokter gigi - keinginan khusus tentang gigi tiruannya. - perawatan yang ada atau yang sedang diterimanya. b.Pemeriksaan objektif Terbagi dua: 1. Pemeriksaan ekstraoral 2. Pemeriksaan intraoral Pada pemeriksaan objektif ini pemeriksaan dapat dilakukan dengan : a. Melihat b. Palpasi c. Perkusi d. Sonde e. Termis f. Roentgen foto Pemeriksaan ekstraoral Pemeriksaan ekstraoral meliputi pemeriksaan terhadap: 1. Bentuk muka/wajah a. Dilihat dari arah depan: -Oval/ovoid -Persegi/square -Lonjong/tapering b. Dilihat dari arah samping -cembung -lurus -cekung 2. Bentuk bibir - Panjang, pendek - Normal - Tebal,tipis - Flabby 3. Sendi Rahang - Menggeletuk - Krepitasi - Sakit Pemeriksaan intraoral Pemeriksaan intraoral meliputi pemeriksaan terhadap gigi, antara lain: 1. Gigi yang hilang 2. Keadaan gigi yang tinggal: - Gigi yang mudah terkena karies - Banyaknya tambalan pada gigi - Mobilitas gigi - Elongasi - Malposisi - Atrisi Jika dijumpai adanya kelainan gigi yang mengganggu pada pembuatan gigi tiruan, maka sebaiknya gigi-gigi tersebut dicabut. 3. Oklusi: diperhatikan hubungan oklusi gigi atas dengan gigi bawah yang ada, apakah hubungan Angle Kelas I, II, III. 4. Adanya overclosedocclusion pada gigi depan dapat disebabkan antara lain karena: - Erupsi yang tidak teratur. - Kehilangan gigi posterior dalam waktu yang lama. - Atrisi gigi geligi Overclosed occlusion dapat menyebabkan: 1. Angular cheilosis 2. Disfungsi TMJ 3. Spasme otot kunyah 5. Warna gigi Warna gigi pasien harus dicatat sewaktu akan membuat gigi tiruan sebagian lepasan, terutama pada pembuatan gigi tiruan di daerah anterior untuk kepentingan estetis. 6. Oral Hygiene - adanya karang gigi - adanya akar gigi tertinggal - adanya gigi yang karies - adanya peradangan pada jaringan lunak, misalnya gingivitis. 7. Resesi gingival Terutama pada gigi tiruan sebagian lepasan yang dilihat untuk gigi penyangga dari gigi tiruan tersebut. - Pemeriksaan terhadap mukosa/ jaringan lunak yang menutupi tulang alveolar,seperti: 1. Inflamasi 2. Keras/ lunak. - Pemeriksaan terhadap bentuk tulang alveolar; bentuk U atau V, datar, sempit, luas - Pemeriksaan ruang antar rahang 1. Besar , dapat disebabkan karena pencabutan yang terlalu lama. 2. Kecil, dapat disebabkan karena elongasi 3. Cukup, minimal jaraknya 5 mm -Pemeriksaan torus: 1. Pada palatum, disebut torus paltina 2. Pada mandibula disebut torus mandibula Torus ini bila mengganggu pada pembuatan gigi tiruan harus dibuang. -Pemeriksaan jaringan pendukung gigi Pemeriksaan terhadap frenulum, apakah perlekatannya tinggi atau rendah sampai puncak tulang alveolar.3

5
2.3.2 Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Radiograf Berfungsi sebagai informasi tambahan bagi pemeriksan klinis. Dapat diketahui adanya: 1. Kualitas tulang pendukungdari gigi penyangga 2. Gigi yang terpendam, sisa-sisa akar 3. Kista 4. Kelainan periapikal 5. Resorpsi tulang 6. Sklerosis Pemeriksaan Laboratorium 1. Penyakit tulang Tingkat kalsium dan fofsor dalam serum darah dan urin dan serum enzim da alkalin fosfat melibatkan penyakit tulang. a. Normal kalsium dalam darah 8,9-10,1 mg/dl dan diseimbangkan oleh beberapa faktor. Hormon paratiroid (PTH) mempengaruhi keseimbangan kalsium dalam ginjal, tulang, intestinal, dan kelenjar laktasid mammary. Jika sirkulasi PTH secara abnormal tinggi, maka resiko terhadap osteoporosis. c. Normal Fosfor dalam darah 2,5-2,4 mg/dl. Tingginya fosfor diasosiasikan dengan hiperparatyroidisme dan juga bisa dikaitkan dengan penyebab kanker. 2. Hematology Pemeriksaan ini berfungsi untuk: - kapisitas daya angkut oksigen - identifikasi elemen selular - analisis mekanisme pembekuan darah penjelasan beberapa komponen dalam darah: a. Hemoglobin Normal laki-laki 14-17 g/dl Normal perempuan 12-15 g/dl b. Hematokrit Normal laki-laki 42-54 % Normal perempuan 38-46 % c. Eritrosit Normal laki-laki 4,5-6,2 million/mm3 Normal perempuan 4,2-5,4 million/mm3 d. leukosit normal 4100-10900/mm3 e. glukosa dalam darah normal 70-100mmg/dl (puasa) jika terjadi peningktan maka terjadi DM atau penyakit lever kronik 3. Urinalisis Yang dianalisis : a. warna normal urin berwarna kuning bersih. Jika berwarna merah, coklat, atau hitam menunjukkan adanya konsistensi darah pada beberapa tahap fisiologis abnormal pada urine. b. PH Normal PH 4,8-8,0 c. Gravity spesifik normal 1003-1026. kapasitas fungsional ginjal ditentukan oleh kemampuannya untuk mecairkan atau konsentrasi urin. Temuan mikroskopik : a. gula normalnya tidak ada gula dalam urin. Jika ada maka pasien menderita DM. b. Keton Memproduksi metabolisme lemak. Ada dalam urin pasien yang menderita busung lapar, dehidrasi, atau acidosis saat mengalami DM. c. Protein ` tidak biasa terdapat dalam urin, tapi normal ada pada saat sedang hamil. 4. Pemeriksaan dan tes lainnya a. Tes serology Untuk konfirmasi penyakit kelamin, seperti sifilis. b. Tes patch (kulit) Biasanya digunakan untuk mengetahui atau membuktikan adanya alergi dalam pemakaian basis material. Kontak lokal dermatitis biasanya terjadi antara 24-48 jam setelah aplikasi material.4 2.3.3 Mencetak Macam-macam sendok cetak 1. Stock tray:sendok cetak yang sudah dibuat oleh pabrik bahan:metal/aluminium,plastik ukuran:nomor 1,2,3 huruf S,M,L fungsi:untuk rahang bergigi,bentuk dasar bersudut untuk rahang tak bergigi,bentuk dasar agak membulat Syarat-syarat sendok cetak yang sesuai: lebar bucco-lingual: jarak tepi sendok cetak ke arah bukal gigi/ lingual gigi=1/2 cm panjang ke distal: rahang bawah:sampai retromolar pad rahang atas:tuber maksila dan batas palatum molle harus ada retensi untuk bahan cetak. Tinggi sendok cetak sesuai dengan tinggi gigi dalam kedalaman vestibulum Indikasi stock tray Untuk mendapatkan model studi Untuk mendapatkan model kerja pada kasus kelas II dan kelas IV Kennedy dengan sadel yang pendek Untuk mendapatkan model pendahuluan untuk membuat sendok cetak perseorangan 2. Custom tray:sendok cetak yang dibuat sendiri sesuai dengan ukuran rahang pasien Bahan yang dipakai:akrilik, shellac, compound Tujuan:untuk mendapatkan hasil cetakan yang akurat, terutama pada daerah tepi sendok cetak(daerah vestibulum, frenulum, dan retromylohyoid dari rahang) Cara membuat custom tray cetak rahang dengan sendok cetak anatomis gambar batas sendok cetak pada model tutup gigi pada model dan bagian labial/bukal model yang mempunyai undercut dengan wax setebal 2mm sehingga tidak ada undercut lapisi permukaan model dengan bahan separasi siapkan bahan sendok cetak, tempelkan selapis tipis(1-2mm)diseluruh permukaan model sampai batas yang sudah digambar buat pegangan sendok cetak cobakan ke mulut pasien, bila ukuran sudah sesuai dilubangi untuk retensi bahan cetak batas-batas custom tray daerah posterior: rahang atas:sampai batas palatum durum dan palatum molle serta menutupi daerah tuber maxilae rahang bawah:sampai menutupi retromolar pad daerah bukal/labial:sampai batas mukosa bergerak dan tidak bergerak tidak boleh menutupi frenulum

6
daerah lingual:sampai batas dasar mulut di lingual/retromylohyoid macam-macam bahan cetak proses pengerasannya ada 2 macam secara reaksi kimia.Contohnya:Plaster of Paris, Zinc oxide eugenol pasta, irreversible hydrocolloid, mercaptan rubber base dan silicone secara pemanasan(termoplastik). Contohnya: Modelling compound, reversible hydrocolloid, wax. Bahan ini memerlukan pemanasan untuk melunakkan dan pendinginan untuk mengeras. 1. Impression plaster Digunakan untuk membuat cetakan akhir guna mendapatkan model kerja dengan tekanan minimal. Sifat bahan ini tidak elastis, jadi tidak dapat digunakan bila ada ceruk. Diperlukan sendok cetak khusus dengan dibuat ruangan antara sendok cetak dengan jaringan penyangganya. Ini bertujuan agar ketebalan bahan cetaknya cukup. 2. Zinc oxide eugenol pasta Digunakan untuk membuat cetakan akhir guna mendapatkan model kerja. Bahan ini dapat mencatat detail jaringan dengan baik, karena sifatnya yang mudah mengalir sebelum mengeras dan dalam keadaan tidak elastis waktu mengeras. Keuntungan lain dari bahan ini, sendok cetak perseorangan yang dibuat, berkontak langsung dengan mukosa pendukung. 3. Bahan cetak elastomer Digunakan untuk membuat cetakan akhir sama mendapatkan model kerja. Bahan ini dapat mencatat detail jaringan dengan baik. Oleh karena sifatnya elastis, dapat digunakan bila ada ceruk. Jaringan mulut perlu dikeringkan sebelum dicetak dengan bahan ini. 4. Tissue conditioning material Tissue conditioning material dapat didefinisikan sebagai bahan yang lunak yang diletakkan untuk sementara pada permukaan cetakan gigi tiruan, bertujuan agar distribusi beban menjadi lebih sama, jadi membiarkan jaringan mukosa untuk embali ke bentuk yang normal. 5. Irrevesible hydrocolloid Bahan ini dapat mencatat detail yang baik, tetapi sangat dipengaruhi oleh cairan saliva. Hasil cetakan harus segera dituang dengan stone gips karena bahan ini dipengaruhi oleh kelembaban. 6. Reversible hydrocolloid Diperlukan pemanasan untuk mencairkan bahan ini.Proses pengerasannya:dari gel ke sol ke gel.Bahan ini dapat memberikan detail yang baik untuk cetakan, tetapi ia mempunyai beberapa kekurangan. Diperlukan sendok cetak khusus yang ada saluran air di tepinya untuk mendinginkan bahan cetak.Umumnya digunakan untuk cetakan permulaan. 7. Malam cetak Diperlukan pemansan untuk mencairkan bahan ini. Umumnya digunakan untuk koreksi pada cetakan akhir yang menggunakan bahan lain seperti plaster atau zinc oxide eugenol pasta/ 8. Modelling compound/impression compound Sifatnya termoplastik, menjadi lunak bila dipanaskan pada temperatur 55-700 C.Viskositas yang tinggi dari bahan ini, dan kenyataannya menjadi keras bila didinginkan, serta dapat dilunakkan kembali, merupakan keuntungan tersendiri. Teknik mencetak 1. Secara mukostatisuntuk tahanan jaringan rendah 2. Secara mukokompresi/mukofungsionaluntuk tahanan jaringan yang tinggi Penjelasan: Pada tahanan jaringan tinggi, keadaan mukosa bila tertekan bergerak, bila dicetak secara muko statis, akan didapat model dengan bentuk mukosa yang pasif/tidak tertekan secara fungsional. Pada kasus GTSL, bila mencetak dengan tekanan fungsional, akan menghasilkan protesa yang stabil waktu berfungsi. Dalam keadaan istirahat, protesa tersebut tetap akan stabil/tak bergerak, karena ada cengkeram yang menahan sebagai retensi protesa. Hasil cetakan yang baik bahan cetak tidak terlepas dari sendok cetak pada hasil cetakan boleh terdapat gelembung udara, sobek dan lipatan bagian-bagian sendok cetak tidak boleh terlihat gigi-gigi, mukosa, frenulum, vestibulum, batas mukosa bergerak dan tidak bergerak, teromolar pad, tubermaxila batas palatum durum dan palatum molle, batas gingiva dengan gigi, perlekatan otot-otot, harus terlihat dengan jelas cara memelihara hasil cetakan: hasil cetakan yang baik, dicuci sampai bersih bila diletakkan di atas meja kerja harus ditopang di bawahnya agar bagian posterior tidak menyentuh meja. Tujuannya: untuk menghindari terlepasnya bahan cetak bagian posterior dan sendok cetak 2.3.4. Perawatan preprostetik: Perawatan periodontal Perawatan bedah Konservasi gigi Rekonturing (mahkota tiruan, pengasahan gigi miring, pengasahan gigi ekstrud) Persiapan tempat cengkeram Macam cetakan RA & RB (mukostatis, mukokompresi/mukofungsional/selective pressure Faktor pertimbangan Dalam Rencana Perawatan 1. Faktor Personal Yang perlu diperhatikan pada pasien : - keinginan atau ketidakpuasan terhadap protesa - kesehatan dan pola hidup pasien - kondisi dan kesehatan jaringan oral dan perioral - tidak adekuatnya protesa yang digunakan. Selain itu, faktor personal yang perlu dipertimbangkan adalah: - faktor sosial ekonomi memperhatikan biaya pembuatan dan pemeliharaan - faktor umur restorasi protesa dapat direkonstruksi pada pasien dengan semua umur. - faktor pengalaman faktor pengalaman hidup sehari-hari dapat mengubah rencana terbaik untuk perawatan dan sering tidak bisa dihindari, seperti : pekerjaan profesi status sosial lingkungan 2. Faktor Fisik - Tulang Faktor klinis yang berhubungan dengan resorpsi tulang bervariasi. Kategori menurut Atwood adalah : b. faktor anatomi ukuran, bentuk dan densitas ridge karakteristik dan ketebalan mukosa penutup hubungan ridge jumlah dan kedalaman alveolar c. faktor metabolik segala faktor nutrisi, hormonal dan metabolik lainnya

7
yang mempengaruhi aktivitas relative selular pembentuk tulang (osteoblas) dan peresorpsi tulang (osteoklas). d. faktor fungsional frekuensi, intensitas, durasi, serta direksi pengalikasian tekanan pada tulang yang mempengaruhi densitas (resorpsi dan deposisi) pada tulang. e. faktor protesa banyaknya teknik, material, prinsip, konsep, dan praktek termasuk ke faktor protesa. - Faktor kontrol Tiga hal yang termasuk ke bagian faktor kontrol adalah : a. genetik b. sistemik c. lokal yang termasuk bagian ini yaitu : faktor biomekanika faktor neurotropik vascular enzim dan PH potensial bioelektrik tekanan udara suhu(temperatur) persarafan reflek neuromuscular - Faktor prostetik Perkembangan dan pemeliharaan prosesus alveolar secara langsung berkaitan dengan erupsi dan hadirnya gigi geligi. Dua konsep yang diperhatikan mengenai hilangnya residual bone yang tidak dapat dihindari: Satu pendapat bahwa saat gigi hilang akan adanya variasi perkembangan hialngnya residual bone. Satu pendapat lainnya mengatakan bahwa hilangnya resdual bone belum tentu akibat hilangnya gigi geligi. - Gigi Harus dievaluasi secara seksama terlebih dahulu: Jumlah gigi Lokasi gigi di dalam lengkung Posisi individual gigi Mobilitas dan vitalitas Rasio mahkota akar Ukuran dan bentuk akar Kerentanan adanya karies Keterlibatan patologis Kondisi bidang oklusal gigi yang tersisa Morfologi yang mempengaruhi perawatan dan tipe protesa yang digunakan. - Jaringan Lunak Karakteristik dan respon perlu dipertimbangkan untuk retensi, persepsi, stabilitas dari protesa yang akan digunakan. Sedangkan pola sensori pada jaringan pendukung khususnya penting dalam pemakaian gigi tiruan.4 2.3.5. Relasi Rahang Oklusi gigi pada kasus GTSL ada kemungkinan: 1. oklusi ada, dan fixed(mantap/stabil) minimal ada 3 gigi pada 3 regio kiri, kanan dan anterior yang beroklusi dengan benar. 2. oklusi ada tapi tidak fixed(tidak mantap/tidak stabil) hanya ada 2 regio dari gigi yang berkontak dengan oklusi yang benar(kiri+kanan, atau kiri+anterior,atau kanan+anterior) 3. oklusi tidak ada tidak ada gig yang beroklusi dengan benar