Anda di halaman 1dari 2

Untaian Hikmah Matsnawi Rumi Judul Buku Penulis Penerbit Edisi Tebal : The Kingdom of Joy : Abdul Rahman

Azzam : Hikmah, Jakarta : Agustus 2007 : 219 hlm.

Jika ada ahli sufi yang saat ini paling banyak dibicarakan dan amat populer, baik di dunia Islam maupun Barat, dia tak lain adalah Jalaludin Rumi. Ia dipuja karena kehebatannya sebagai seorang penyair sufi, kemurnian pribadinya, kemampuannya yang langka dalam berempati dengan manusia, binatang, bahkan tumbuh-tumbuhan, dan terutama kemampuannya yang luar biasa dalam menunjukkan jalan spiritual menuju pada Sang Mutlak. Sekalipun kedalaman pengetahuan Islam dan kecerdasan pemikirannya sulit ditandingi pada masanya, bakat spiritual Rumi jauh lebih menonjol. Rumi meninggalkan kedudukan terhormat sebagai ulama besar Konya (Turki) beserta segala pujian dan cinta masayarakatnya, demi mencapai kepuasan ruhaniah dengan mendaki jalan spiritual di bawah bimbingan Syam Tabriz, seorang darwis yang memilih jalan kebersihan jiwa melalui cercaan dan hinaan orang. Inspirasi spiritual dari sang darwis itu pula yang membuat Rumi begitu menggandrungi musik dan sering tergerak menari berputar-putar hingga mencapai ekstase di tengah keramaian kota. Tindakan yang saat itu dianggap menyimpang dari agama hingga membuat gempar masyarakat Konya. Tarian spiritual Rumi itu sekarang dikenal sebagai sama yang menjadi ritual puncak tarekat Maulawi yang didirikan para pengikutnya. Tentang sama, Rumi pernah bersyair, Dunia aku remukkan di bawah tarian kemenangan. Konon pada usia 12 tahun, ketika singgah bersama keluarganya di Nisyapur (Iran) tahun 1219, Rumi bertemu Fariduddin Aththar, pujangga sufi termashyur yang menulis Musyawarah Para Burung, sebuah karya istimewa tentang kekuasaan dan pendakian spiritual. Saat itu Aththar telah meramalkan bahwa Rumi akan menjadi sufi besar yang menyalakan api di hati para pecinta spiritual. Rumi sendiri begitu mengagumi Aththar dan gaya sastranya menjadi model Rumi dalam menulis karya terbesarnya, Matsnawi. Ketika ditanya tentang Aththar, Rumi berkata Dia sudah melintasi tujuh kota Cinta, sementara aku masih berdiri di pojok sebuah jalan sempit. Namun ketika ditanya siapa yang lebih hebat di antara keduanya seorang sufi berkata Rumi membumbung ke puncak kesempurnaan bagai rajawali dalam sekejap mata sementara Aththar mencapai tempat itu dengan merayap seperti semut. Buku The Kingdom of Joy ini adalah untaian kisah menawan yang disarikan dari Matsnawi Rumi. Matsnawi berisi lebih dari 25.000 kuplet berbentuk fabel, legenda, prosa, dan puisi yang terbagi dalam enam jilid dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di antaranya Inggris, Perancis, Swedia, Ceko, Jerman, dan Italia. Tentang karyanya ini Rumi pernah berkata, Aku tak melantunkan Matsnawi untuk kau pegang atau kau ulang-ulang, tapi untuk kau taruh di kakimu agar kau dapat terbang melayang. Seluruh isi Matsnawi yang memesona memang hanya punya satu tujuan: hubungan yang erat dengan Ilahi. Pada kisahnya tentang burung kakaktua, Rumi menulis, Matilah sebelum kau mati. Hanya dengan melupakan keindahan sangkar burung dan rasa manisanlah aku bisa temukan jalan pulang (hlm. 26). Kematian pasti datang pada manusia kapanpun

tanpa terduga. Tapi hanya orang yang berani melepas ikatan kesenangannya dengan dunia yang siap menyambut kematian itu sebagai jalan mencapai tujuan hakiki hidupnya, yakni bertemu Sang Pencipta. Pada kisah Sang Sultan dan Puteranya yang Pandir, Rumi bercerita tentang seorang sultan yang mengundang semua ilmuwan terpandai di negerinya untuk mengajari puteranya yang pandir. Setelah bertahun-tahun diajari semua bidang ilmu, tibalah saatnya sang putera diuji. Sultan membalikkan badan dan mencopot cincin zamrud hijaunya untuk digenggam lalu bertanya pada puteranya apa yang ada di genggamannya. Ayahanda sedang menggenggam sesuatu berbentuk bulat dan hijau. Dengan gembira sultan melanjutkan, Kau telah menyebutkan ciri-cirinya dengan benar, sekarang sebutkan benda apa itu? Itu pastilah sebuah semangka, jawab sang putera. Sultan pun menjerit kaget. Kau bisa mengenali dengan baik semua ciri, bagaimana satu hal kecil ini tidak kau sadari: bahwa sebuah semangka tidak bisa digenggam? (hlm.77). Melalui kisah ini Rumi menjelaskan bahwa para ulama terhebat mungkin telah mempelajari semua cabang ilmu pengetahuan dan memahami semua urusan besar maupun kecil dengan baik, tapi justru satu hal yang paling dekat dibanding apapun jarang diperhatikan, yakni hatiya. Apakah hatinya sudah mencintai Tuhannya. Ketika ditanya tentang kesucian hati, maka seluruh buku yang dipelajari tidak akan bisa membantu menjawabnya. Tapi kisah pertama dalam Matsnawi berjudul Nyanyian Alang-Alang barangkali adalah yang paling terkenal. Sayang penulis buku ini tidak menyertakan kisah itu dan hanya mengomentarinya sepintas. Kisah itu bercerita tentang seruling yang terpisah dari kebun alang-alang tempat biasanya ia didendangkan. Ia tersedu sedan merindukan rumahnya itu, namun dengan melakukan itu sang seruling justru mengungkapkan rahasia cinta abadi. Cinta adalah jalan yang ditempuh Rumi. Tuhan menciptakan semesta beserta isinya dengan cinta. Karena cinta pula alam semesta ini bekerja. Dan, karena cinta jua jiwa mendambakan perjumpaan dengan Sang Kekasih. Syair-syair cinta Rumi mampu membangkitkan kebahagiaan luar biasa bahkan dari hal-hal sederhana seperti menarik nafas, mendengar desau angin, atau sekedar melihat binatang. Rumi bahkan begitu mudah mengalami ektase relijius hanya dengan mendengar bunyi dentingan benda. Dimanapun ia berada tampaknya wajah Sang Kekasih selalu ada di sana. Tak diragukan lagi jalan cinta yang ditempuh Rumi menjadikannya harmonis dengan semesta. Harmoni yang paling indah terjadi pada hari kematian Rumi. Masyarakat Konya dari berbagai kalangan, kaum Muslim, Kristen, Yahudi, Yunani, Arab, Persia, perempuan dan laki-laki, orang dewasa maupun anak-anak, bahkan pernah disebut kucing kesayangannya, mengantar Rumi ke peristirahatan terakhirnya. Tidak ada penghormatan yang lebih indah akan unsur-unsur universal Rumi daripada saat pemakamannya itu. Bukanlah suatu yang mengherankan jika Jalaluddin Rumi terus disebut dan karya-karyanya maupun karya orang lain tentangnya terus dibaca hingga kini. Rumi dengan kidung cintanya yang universal itu memang sanggup menyentuh bahkan menyirami jiwa manusia modern yang acapkali mengalami kekeringan spiritual tanpa melihat latar belakang agama ataupun bangsa. Muhammad Syafiq