Anda di halaman 1dari 7

MAKALAH PBL BLOK 1 MODUL 2 SEMESTER 1 ANALISIS MASALAH KOMUNIKASI DOKTER-PASIEN

Oleh Anesty Claresta 102011223 / Kelompok E5 a_resta21@yahoo.com

Fakultas Kedokteran Universitas Krida Wacana DKI Jakarta 2011

PENDAHULUAN
I. Latar Belakang
Di dalam praktik kedokteran terdapat interaksi antara dokter dan pasien, interaksi inilah yang disebut dengan komunikasi. Komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih dengan cara yang tepat sehingga pesan tersebut dapat dipahami (KBBI). Komunikasi dalam dunia kedokteran sangatlah penting. Komunikasi diperlukan untuk mendapat informasi tentang pasien agar dokter dapat membuat diagnonis.a Komunikasi juga dapat membantu kerja sama dokter dan pasien dalam proses penyembuhan atau yang disebut komunikasi terapeutik. Namun, proses komunikasi antara dokter dan pasien tidaklah selalu berjalan lancar. Banyak rintangan-rintangan yang bahkan dapat menyebabkan kesalahpahaman. Kepercayaan pasien terhadap dokter juga bisa berkurang karena ketidaklancaran komunikasi ini. Untuk mencegah ketidaklancaran komunikasi ini, dibutuhkanlah komunikasi yang efektif antara dokter dan pasien. Dalam mengatasi masalah ini, penulis menganalisis masalah komunikasi dari sisi komunikasi-empati, kepribadian, dan analisis transaksional

II. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah : 1. Mengetahui pengaruh empati, kepribadian, dan analisis transaksional dalam komunikasi dokter-pasien 2. Mengetahui cara mengatasi masalah komunikasi (skenario PBL)

III. Manfaat
Manfaat dari penulisan makalah mengenai analisis masalah komunikasi ini adalah pembaca diharapkan dapat memahami faktor yang menyebabkan masalah komunikasi di skenario PBL. Setelah memahami faktor penyebab tersebut, para pembaca diharapkan dapat menentukan cara untuk mengatasi masalah komunikasi tersebut sehingga untuk kejadian yang sebenarnya atau kejadian selanjutnya pembaca sudah dapat menangani masalah komunikasi tersebut dan komunikasi dokter-pasien pun dapat berjalan dengan lancar.

ISI
Skenario Seorang perempuan 45 tahun datang berobat ke dokter dengan banyak keluhan sering pusing, sering sakit perut, sering lemas. Dokter kesal karena pasien banyak keluhan dan mengemukakan keluhan tersebut secara kekanak-kanakan. Hipotesis Di dalam skenario, perbuatan dokter tidak etis karena kesal terhadap pasien. Seorang dokter harus sabar dalam menangani pasiennya. Hal ini dapat disebabkan dokter tidak dapat menentukan ego yang sedang berlangsung. Analisis Masalah Komunikasi dan Empati Komunikasi dengan pasien adalah salah satu kunci sukses seorang dokter. Dokter dengan kemampuan komunikasi yang baik pasti akan dicari oleh pasien. Komunikasi antara pasien-dokter sangat mempengaruhi hubungan dokter-pasien dan juga kepercayaan pasien terhadap dokter. Komunikasi dokter-pasien adalah momen yang sangat penting dalam proses pemeriksaan. Dalam komunikasi dokter-pasien, karena keahliannya, dokter dianggap memiliki derajat yang lebih tinggi dari pasien. Pasien memberikan kepercayaan kepada dokter untuk memeriksa dan menentukan pengobatan untuk dirinya seperti contoh kasus di skenario.4 Dalam proses anamnesis, terjadi komunikasi antara pasien dan dokter. Komunikasi yang terjadi dalam hal ini adalah komunikasi interpersonal. Komunikasi ini terjadi dalam 3 tahap : pasien bercerita, dokter mendengarkan dan memperhatikan, lalu tanya jawab. Dalam proses anamnesis ini, terdapat 3 tipe komunikasi : 1. Patient Centered Anamnesis : Pasien lebih banyak bercerita, dokter mendengarkan lalu langsung tanya jawab 2. Doctor Centered Anamnesis : Dokter lebih banyak bertanya, pasien sekadar menjawab 3. Kombinasi keduanya.3

Di dalam skenario PBL dikatakan bahwa dokter kesal karena pasien banyak mengeluh. Jadi, kemungkinan proses anamnesis yang terjadi saat itu adalah Patient Centered Anamnesis dimana pasien bercerita terlalu banyak sehingga membuat dokter kesal. Di dalam berkomunikasi dibutuhkan kemampuan untuk mendengar aktif, ketrampilan berdialog, mengendalikan emosi dan empati. Mendengar aktif merupakan dasar untuk mengumpulkan data informasi secara akurat. Dokter harus berkonsentrasi mendengarkan saat pasien bercerita dan dokter harus memberikan respon terhadap cerita pasien. Saat pasien sedang bercerita, tentu saja akan muncul sebuah emosi tersendiri bagi cerita tersebut. Emosi tersebut bisa negatif bisa positif. Dokter yang baik harus bisa mengendalikan emosi tersebut. Dokter juga harus bersabar apabila pasien bercerita banyak karena sebagai pendengar aktif dokter seharusnya membantu pasien mengungkapkan perasaan-perasaannya.4,8 Seorang dokter juga harus bisa memahami perasaan pasiennya agar komunikasi dokter-pasien berjalan dengan lancar. Hal inilah yang disebut empati. Empati adalah kemampuan (seolah-olah) menjadi diri orang lain. Empati berarti kita mampu memahami perasaan orang lain tanpa terhanyut di dalamnya. Berempati berarti kita berusaha melakukan adaptasi terhadap orang lain. Dalam dunia kedokteran, empati ini sangatlah penting. Dengan mamahami perasaan pasiennya, dokter dapat menjalin hubungan dan komunikasi yang baik dengan pasien sehingga terjadi kerjasama yang baik antara pasien dan dokter dalam proses pemeriksaan dan pengobatan.5 Kepribadian Dalam memahami masalah komunikasi dari contoh kasus PBL ini, dapat juga kita analisis dari segi kepribadian. Kepribadian dokter belum tentu sama dengan kepribadian pasien. Seringkali kepribadian dokter dan kepribadian pasien bertentangan sehingga komunikasi menjadi tidak lancar. Menurut M.A.W Bouwer, kepribadian adalah corak tingkah laku sosial yang meliputi corak kekuatan, dorongan, keinginan, opini dan sikapsikap seseorang. Menurut skenario sikap pasien yang banyak mengeluh dan kekanak-kanakan adalah bukti bahwa pasien memiliki kepribadian yang belum dewasa. Umur pasien sudah 45 tahun, tetapi dengan sikapnya yang seperti itu, bisa juga dikatakan bahwa pasien memiliki kelainan perilaku hipokondriasis dimana seseorang terus menerus mengeluh karena

kesehatannya yang buruk. Hal ini seharusnya sudah diantisipasi oleh dokter. Seharunya, dokter mamaklumi sikap pasien tersebut dan menanggapinya dengan tindakan yang sesuai.5,6 Namun yang terjadi malah sebaliknya. Dokter kesal terhadap perbuatan pasien. Hal ini juga dapat disebabkan oleh kepribadian dokter. Kepribadian tentu saja mempengaruhi emosi seseorang. Seorang dokter harus memiliki kemampuan dalam mengelola emosi. Mengelola emosi adalah kemampuan mengangani perasaan diri sendiri agar terungkap secara tepat, dan mampu mengatasi perasaan hati yang tidak wajar. Tidak hanya mengelola emosi diri sendiri, seorang dokter juga harus dapat mengenali emosi pasiennya.1,4,5 Analisis Transaksional Analisis transaksional merupakan suatu pendekatan untuk mensistematisasi, menganalisis, dan mengubah saling pengaruh diantara manusia, yang menekankan interaksi keduanya (antara diri dan manusia lain) dan kesadaran internal (regulasi diri dan ekspresi diri)-Eric Berne (1910-1970). Analisa transaksional juga dapat disebut sebagai proses analisa transaksi/komunikasi dalam hubungan sosial antar dua atau lebih individu yang berbeda.7 Terdapat empat macam bentuk interaksi yang dapat dianalisis : 1. Struktural Analisis : analisa kepribadian seseorang, cara berpikir dan bertindaknya. 2. Transaksional Analisis : menentukan ego (anutan) yang dominan yang sedang berlangsung. (Dewasa, Orang tua, Anak-anak). Ada stimulus dan respon yang berlangsung 3. Game Analisis : menganalisis apa yang tersembunyi dari interaksi yang dilakukan 4. Script Analisis : menganalisa peran dalam interaksi (karakter,dialog,acting,dll.).7

Umur tidak mempengaruhi oknum apa yang akan dipakai saat berinteraksi. Tidaklah mengherankan apabila ada pasien yang sudah berumur 45 tahun, tetapi masih bersifat kekanak-kanakan. Hal itu disebabkan pasien menganut oknum anak-anak saat berinteraksi dengan pasien. Dokter tidak menyukai hal tersebut, sehingga dokter kesal. Hal ini menyebabkan ketidaklancaran dalam komunikasi karena terjadi keadaan ASAS (Aku Senang Aman Sentosa) Anda tidak SAS antara pasien dan dokter. Terjadi respon yang

tidak sesuai dalam transaksi ini. Seharusnya, jika pasien kekanak-kanakan, dokter mengangkat peran pasien sesuai dengan peran yang seharusnya.7

PENUTUP
Kesimpulan : Ketidaklancaran komunikasi dalam kasus PBL dapat disebabkan oleh beberapa hal. Dari segi komunikasi dan empati terjadi tipe anamnesis patient centered anamnesis. Namun, karena pasien berbicara terlalu banyak dan banyak mengeluh maka dokterpun menjadi kesal. Dari segi kepribadian, terdapat pertentangan antara dokter dan pasien. Pasien yang kekanakkanakan dan dokter yang sulit mengendalikan emosi. Dari segi Analisis Transaksional, dokter tidak menganalisis oknum Anak dari pasien, sehingga dokter tidak dapat menyesuaikan diri dengan keadaan pasien dan dokterpun menjadi kesal.

DAFTAR PUSTAKA
1. Doleman, Daniel. 2007. Emotional Intelligence : Mengapa EI Lebih Penting dari IQ. Jakarta :SUN. Hal: 57-59 2. Hall, Calvin S.,dkk. 2009. Psikologi Kepribadian 1 : Teori-Teori Psikodinamik (Klinis). Yogyakarta : Kanisius. Hal: 90 3. Hardjodisastro, Daldiyono. 2006. Menuju Seni Ilmu Kedokteran : Bagaimana Dokter Berpikir dan Bekerja. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. Hal 217. 4. Soetjiningsih, dkk. 2007. Modul Komunikasi Pasien-Dokter : Suatu Pendekatan Holistik. Jakarta : EGC. Hal 6-7. 5. Sumartono. 2004. Komunikasi Kasih Sayang. Jakarta : Elex Media Komputindo. Hal 118. 6. Supratiknya, A. 1995. Mengenal Perilaku Abnormal. Yogyakarta : Kanisius. Hal 4447.

7. Roberts, A.R., dkk. 2008. Buku Pintar Pekerja Sosial : Social Workers Desk Reference. Jakarta : BPK Gunung Mulia. Hal : 264-272. 8. Willms, J.L, dkk. 2005. Evaluasi Diagnosis & Fungsi Bangsal. Jakarta :EGC. Hal 557.