Anda di halaman 1dari 19

Perbandingan Lembaga Pemberantasan Korupsi di Negara Singapura dan Indonesia

Di Susun oleh : 1. Baiq Dona Sofhia ladoni 2. L. Surya Anggara 3. Tian Hardi Septian 4. Pandem Guritno

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM


Fakultas Ilmu Sosial Dan Politik

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Masalah

Korupsi berasal dari bahasa latin, Corruptio-Corrumpere yang artinya busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik atau menyogok. Korupsi merupakan fenomena sosial yang hingga kini masih belum dapat diberantas oleh manusia secara maksimal. Pengertian korupsi berdasarkan ketentuan Undang-Undang no 31 tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi (pasal 2 ayat 1), adalah Setiap orang yang secara melawan hukum memperkaya diri sendiri atau orang lain, atau suatu korporasi, yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Dalam hal tentang pengertian yang merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, maka secara implicit, maupun eskplisit, terkandung pengertian tentang keuangan atau kekayaan milik pemerintah, atau swasta, maupun masyarakat, baik secara keseluruhan maupun sebagian, sebagai unsur pokok atau elemen yang tidak terpisahkan dari pengertian negara (state). Korupsi tumbuh seiring dengan berkembangnya peradaban manusia dan berada di berbagai belahan dunia, bahkan di negara maju sekali pun, seperti halnya Singapura. Korupsi ada di berbagai tingkatan dan tidak ada cara yang mudah untuk memberantasnya. Korupsi, tidak saja mengancam sistem kenegaraan kita, tetapi juga menghambat pembangunan dan menurunkan tingkat kesejahteraan jutaan orang dalam waktu yang tidak terlalu lama. Korupsi telah menciptakan pemerintahan irasional, pemerintahan yang didorong oleh keserakahan, bukan oleh tekad untuk mensejahterakan masyarakat. Mengutip Muhammad Zein, korupsi merupakan kejahatan luar biasa (extraordinary crime). Korupsi adalah produk dari sikap hidup satu kelompok masyarakat, yang memakai uang sebagai standar kebenaran dan sebagai kekuasaan mutlak. Sebagai akibat dari korupsi ketimpangan antara si miskin dan si kaya semakin kentara. Orang-orang kaya dan politisi korup bisa masuk kedalam golongan elit yang berkuasa dan sangat dihormati. Mereka juga memiliki status sosial yang tinggi. Tindak pidana korupsi dapat terjadi bila terdapat kesempatan serta kekuasaan yang dimiliki oleh seseorang yang memungkinkannya melakukan korupsi. Menurut Onghokham, ada dua dimensi di mana korupsi bekerja. Dimensi yang pertama terjadi di tingkat atas, di mana melibatkan penguasa atau pejabat tinggi korupsi yang terjadi di kalangan menengah dan bawah menghambat kepentingan kalangan menengah dan bawah itu sendiri. Korupsi adalah persoalan klasik yang telah lama ada. Sejarawan Onghokham menyebutkan bahwa korupsi ada ketika orang mulai melakukan pemisahan antara keuangan pribadi dan keuangan umum. Menurut Onghokham pemisahan keuangan tersebut tidak ada dalam konsep kekuasaan tradisional. Dengan kata lain korupsi mulai dikenal saat sistem politik modern dikenal. Selain itu, budaya local juga menjadi akar dari tumbuhnya korupsi. Budaya yang dianut dan diyakini masyarakat kita telah sedikit banyak menimbulkan dan membudayakan

terjadinya korupsi. Dalam budaya Patron-Klien, diyakini bahwa Patron memiliki kebesaran hak dan kekuasaan, sedangkan klien terbatas pada kekecilan hak dan kebesaran kewajiban terhadap patron. Klien selalu berupaya meniru apa yang dilakukan patron, serta membenarkan setiap tindakan patronnya. Hal tersebut didasari karena adanya pandangan bahwa semua yang berasal dari patron dianggap memiliki nilai budaya luhur. Patron tidak dapat menolak tindakan tersebut, termasuk tindakan yang tidak terpuji, anti-manusiawi, merugikan orang lain yang kemudian disebut dengan korupsi. Umunya klien sering memberikan barang-barag tertentu kepada patronnya, dengan harapan mereka akan diberikan pekerjaan ataupun upah lebih tinggi. Klien juga memberikan penghormatan yang berlebihan kepada patronnya. Korupsi kecil tersebut lambat laun meluas kepada kelompok-kelompok masyarakat yang lain. Proses penyebaran korupsi tersebut disebut dengan continous imitation (peniruan korupsi berkelanjutan). Proses ini bisa terjadi tanpa disadari oleh masyarakat. Dalam keluarga misalnya, seringkali orang tua tanpa sengaja telah mengajarkan perilaku korupsi kepada anaknya. Meskipun sebenarnya orang tua tidak bermaksud demikian, namun kita tidak boleh lupa bahwa anak adalah peniru terbaik, mereka meniru apapun yang dilakukan oleh orangorang dewasa disekitarnya. Di negara Singapura, yang sudah maju, juga terjadi tindak korupsi, meski pun jumlahnya tidak terlalu banyak. Singapura memiliki Indeks Persepsi Korupsi (IPK) sebesar 9,3, yakni ukuran persepsi yang merupakan refleksi pandangan dari pengusaha, masyarakat baik dari dalam negeri maupun luar negeri (responden survei) terhadap penggunaan kekuasaan publik untuk keuntungan pribadi/golongan (korupsi) di pejabat publik. Indeks ini dikeluarkan oleh lembaga Transparency International. Semakin besar angka indeksnya artinya semakin sedikit korupsi. Berdasarkan IPK tersebut, Singapura menduduki peringkat kebersihan dari korupsi nomor 5 di dunia. Sementara itu, China memiliki IPK sebesar 3,3 pada tahun 2006 dan menduduki peringkat 8 untuk wilayah Asia. Sedangkan Indonesia, berada pada posisi yang cukup memperihatinkan di mana IPK 2,4 dan menduduki peringkat 111 di dunia. Sedangkan dari survey yang dilakukan oleh Transparency International, mengenai peringkat kebersihan korupsi negara-negara di Asia Singapura menempati peringkat pertama sebagai negara terbersih selama 4 tahun sedangkan Cina pada tahun 2006 menempati peringkat 8 dan Indonesia menempati peringkat 16. 1.2. Perumusan Masalah 1. Bagaimana peran dan fungsi lembaga pemberantas korupsi di negara Singapura?

2. Bagaimana peran dan fungsi lembaga pemberantas korupsi di negara Indonesia?


3. Apa perbedaan yang dimiliki oleh kedua lembaga pemberantas korupsi di negara-

negara tersebut?
4. Apa saja faktor yang memengaruhi kinerja kedua lembaga pemberantas korupsi di

negara-negara tersebut?

1.3. Pembatasan Masalah Pembatasan dari maslah yang dianggkat penulis adalah penulis hanya akan membahas lembaga ad hoc utama yang dimiliki Indonesia, dan Singapura. Selain itu pembatasan hanya difokuskan pada pemberantasan korupsi di sektor publik. 1.3. Tujuan Penulisan 1. Mengetahui peran dan fungsi lembaga pemberantas korupsi di negara Singapura
2. mengetahui peran dan fungsi lembaga pemberantas korupsi di negara Indonesia 3. Mengetahui perbedaan di antara kedua lembaga pemberantas korupsi di negara-

negara tersebut
4. Mengetahui faktor yang memengaruhi kinerja kedua lembaga pemberantas

korupsi di negara-negara tersebut

1.4. Sistematika Penulisan Sistematika penulisan makalah ini, yakni pada Bab 1 Pendahuluan terdiri atas latar belakang masalah, perumusan masalah,dan sistematika penulisan. Bab 2 Kerangka Teori Bab 3 Pembahasan terdiri atas konsep. Sedangkan pada Bab 4 merupakan penutup yang terdiri atas simpulan dan saran.

BAB 2 KERANGKA TEORI Pengertian korupsi dalam arti modern baru terjadi kalau ada konsepsi dan pengaturan pemisahan keuangan pribadi dan sebagain pejabat sangat penting, sebab seorang raja tradisional tidak dianggap sebagai koruptor jika menggunakan uang negara, karena raja adalah negara itu sendiri. Namun secara tidak sadar sebenarnya konsepsi tentang anti korupsi sudah ada sejak lama, bahkan sebelum pemisahan kekuasaan politik secara modern dikenal. Justru dimana tidak adanya pemisahan antara keuangan dari raja/pejabat negara dengan negara itulah yang memunculkan konsepsi anti korupsi. Dengan demikian korupsi dapat didefiniskan sebagai suatu tindak penyalahgunaan kekayaan negara (dalam konsep modern), yang melayani kepentingan umum, untuk kepentingan pribadi atau perorangan. Akan tetapi praktek korupsi sendiri, seperti suap atau sogok, kerap ditemui di tengah masyarakat tanpa harus melibatkan hubungan negara. Istilah korupsi dapat pula mengacu pada pemakaian dana pemerintah untuk tujuan pribadi. Definisi ini tidak hanya menyangkut korupsi moneter yang konvensional, akan tetapi menyangkut pula korupsi politik dan administratif. Seorang administrator yang memanfaatkan kedudukannya untuk menguras pembayaran tidak resmi dari para investor (domestik maupun asing), memakai sumber pemerintah, kedudukan, martabat, status, atau kewenangannnya yang resmi, untuk keuntungan pribadi dapat pula dikategorikan melakukan tindak korupsi. Definisi ini hampir sama artinya dengan definisi yang dilontarkan oleh pemerintah Indonesia baru-baru ini. Dalam siaran pers yang dikeluarkan oleh Menko Wasbang tentang menghapus KKN dari perekonomian nasional, tanggal 15 Juni 1999, pengertian KKN didefinisikan sebagai praktek kolusi dan nepotisme antara pejabat dengan swasta yang mengandung unsur korupsi atau perlakuan istimewa. Sementara itu batasan operasional KKN didefinisikan sebagai pemberian fasilitas atau perlakuan istimewa oleh pejabat pemerintah/BUMN/BUMD kepada suatu unit ekonomi/badan hukum yang dimiliki pejabat terkait, kerabat atau konconya. Bentuk fasilitas istimewa tersebut meliputi: 1. Pelaksanaan pelelangan yang tidak wajar dan tidak taat azas dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah atau dalam rangka kerjasama pemerintah/BUMN/BUMD dengan swasta. 2. Fasilitas kredit, pajak, bea masuk dan cukai yang menyimpang dari ketentuan yang berlaku atau membuat aturan/keputusan untuk itu secara eksklusif.

3. Penetapan harga penjualan atau ruislag. Sebab-Sebab Korupsi Penyebab adanya tindakan korupsi sebenarnya bervariasi dan beraneka ragam. Akan tetapi, secara umum dapatlah dirumuskan, sesuai dengan pengertian korupsi diatas yaitu bertujuan untuk mendapatkan keuntungan pribadi /kelompok /keluarga/ golongannya sendiri. Faktorfaktor secara umum yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan korupsi antara lain yaitu :

Ketiadaan atau kelemahan kepemimpinan dalam posisi-posisi kunci yang mampu memberi ilham dan mempengaruhi tingkah laku yang menjinakkan korupsi. Kelemahan pengajaran-pengajaran agama dan etika. Kolonialisme, suatu pemerintahan asing tidaklah menggugah kesetiaan dan kepatuhan yang diperlukan untuk membendung korupsi. Kurangnya pendidikan. Adanya banyak kemiskinan. Tidak adanya tindakan hukum yang tegas. Kelangkaan lingkungan yang subur untuk perilaku anti korupsi. Struktur pemerintahan. Perubahan radikal, suatu sistem nilai yang mengalami perubahan radikal, korupsi muncul sebagai penyakit transisional. Keadaan masyarakat yang semakin majemuk.

Dalam teori yang dikemukakan oleh Jack Bologne atau sering disebut GONE Theory, bahwa faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya korupsi meliputi :

Greeds (keserakahan) : berkaitan dengan adanya perilaku serakah yang secara potensial ada di dalam diri setiap orang. Opportunities (kesempatan) : berkaitan dengankeadaan organisasi atau instansi atau masyarakat yang sedemikian rupa, sehingga terbuka kesempatan bagi seseorang untuk melakukan kecurangan. Needs (kebutuhan) : berkaitan dengan faktor-faktor yamg dibutuhkan oleh individuindividu untuk menunjang hidupnya yang wajar. Exposures (pengungkapan) : berkaitan dengan tindakan atau konsekuensi yang dihadapi oleh pelaku kecurangan apabila pelaku diketemukan melakukan kecurangan.

Macam-Macam Korupsi Berdasarkan pasal-pasal UU No 31 Tahun 1999 jo UU No 20 Tahun 2001, terdapat 33 jenis tindakan yang dapat dikategorikan sebagai korupsi. 33 tindakan tersebut dikategorikan ke dalam 7 kelompok yakni : 1. Korupsi yang terkait dengan merugikan keuangan Negara 2. Korupsi yang terkait dengan suap-menyuap 3. Korupsi yang terkait dengan penggelapan dalam jabatan 4. Korupsi yang terkait dengan pemerasan 5. Korupsi yang terkait dengan perbuatan curang 6. Korupsi yang terkait dengan benturan kepentingan dalam pengadaan 7. Korupsi yang terkait dengan gratifikasi Menurut Aditjandra dari definisi tersebut digabungkan dan dapat diturunkan menjadi dihasilkan tiga macam model korupsi (2002: 22-23) yaitu : Model korupsi lapis pertama Berada dalam bentuk suap (bribery), yakni dimana prakarsa datang dari pengusaha atau warga yang membutuhkan jasa dari birokrat atau petugas pelayanan publik atau pembatalan kewajiban membayar denda ke kas negara, pemerasan (extortion) dimana prakarsa untuk meminta balas jasa datang dari birokrat atau petugas pelayan publik lainnya. Model korupsi lapis kedua Jarring-jaring korupsi (cabal) antar birokrat, politisi, aparat penegakan hukum, dan perusahaan yang mendapatkan kedudukan istimewa. Menurut Aditjandra, pada korupsi dalam bentuk ini biasanya terdapat ikatan-ikatan yang nepotis antara beberapa anggota jaring-jaring korupsi, dan lingkupnya bisa mencapai level nasional. Model korupsi lapis ketiga Korupsi dalam model ini berlangsung dalam lingkup internasional dimana kedudukan aparat penegak hukum dalam model korupsi lapis kedua digantikan oleh lembaga-lembaga internasional yang mempunyai otoritas di bidang usaha maskapai-maskapai mancanegara yang produknya terlebih oleh pimpinan rezim yang menjadi anggota jarring-jaring korupsi internasional korupsi tersebut.

BAB 3 PEMBAHASAN

3.1. Singapura 3.1.1. Gambaran Umum dan Sejarah Pemberantasan Korupsi di Singapura Singapura memiliki sebuah pasar ekonomi yang maju dan terbuka, dengan PDB per kapita kelima tertinggi di dunia. Bidang ekspor, perindustrian dan jasa merupakan hal yang penting dalam ekonomi Singapura. Untuk mendukung kesuksesan Singapura dalam bidang ekonomi, juga dibutuhkan adanya suatu sistem pemberantasan korupsi yang baik. Korupsi merupakan sebuah penyakit yang ada di hampir seluruh pemerintahan di dunia. Korupsi harus diberantas agar sebuah negara dapat membentuk pemerintahan yang bersih dan efektif. Salah satu negara yang dapat dikatakan berhasil memberantas korupsi adalah Singapura. Menurut sebuah survey yang dilakukan oleh sebuah perusahaan konsultan yang bermarkas di Hongkong, Political and Economic Risk Consultancy (PERC), Singapura menduduki peringkat kelima dunia negara terbersih dari korupsi. Peringkat yang didapat oleh Singapura ini tidak terlepas dari keberhasilan pemberantasan korupsi. Pemberantasan korupsi di Singapura sendiri memiliki sejarah yang panjang. Pemberantasan korupsi di Singapura berawal dari kegagalan Bagian Antikorupsi Kepolisian Singapura. Apalagi, setelah seorang pejabat senior kepolisian ditangkap sebab menerima suap dari pedagang opium. CPIB yang semula menjadi bagian kepolisian pun dijadikan lembaga mandiri. Gerakan-gerakan pemberantasan korupsi ini kemudian menguat begitu People's Action Party di bawah pimpinan Lee Kwan Yew yang berkuasa pada tahun 1959. Lee Kwan Yew memproklamirkan 'perang terhadap korupsi'. Beliau menegaskan: 'no one, not even top government officials are immuned from investigation and punishment for corruption'. 'Tidak seorang pun, meskipun pejabat tinggi negara yang kebal dari penyelidikan dan hukuman dari tindak korupsi'. Tekad Lee Kwan Yew ini didukung dengan disahkannya Undang-Undang Pencegahan Korupsi (The Prevention of Corruption Act/ PCA) yang diperbaharui pada tahun 1989 dengan nama The Corruption (Confiscation of Benefit) Act. Tindak lanjut dari undangundang ini adalah dibentuknya lembaga antikorupsi yang independen di negara tersebut, yang diberi nama 'The Corrupt Practices Investigation Bureau (CPIB).

3.1.2. Lembaga Pemberantasan Korupsi

CPIB didirikan pada tahun 1952 sebagai sebuah organisasi yang terpisah dari polisi, bertugas untuk menginvestigasi seluruh kasus korupsi sebagai sebuah lembaga yang independen. Lembaga ini beranggotakan investigator sipil dan anggota polisi senior. CPIB bergerak berdasarkan Prevention of Corruption Act (PCA). Undang-undang ini memberi kekuasaan pada CPIB untuk menginvestigasi dan menangkap para koruptor. Lembaga inilah yang bertugas melakukan pemberantasan korupsi di Singapura. Kepada lembaga ini diberikan wewenang untuk menggunakan semua otoritas dalam memberantas korupsi. Namun, bukan berarti Kepolisian Singapura, sebagai penegak hukum di Singapura, kehilangan kewenangan untuk menyelidiki dan menyidik kasus korupsi. Mereka tetap memiliki kewenangan itu. Namun, setiap kali penyelidikan dan penyidikan itu mengarah pada korupsi, Kepolisian Singapura menyerahkannya pada CPIB. Bahkan, untuk pemeriksaan internal anggota polisi, jika terindikasi korupsi, akan diserahkan ke CPIB pula. CPIB sebagai organisasi pemerintah juga melakukan kegiatannya di sektor privat. Biro ini diketuai oleh seorang direktur yang bertanggung jawab langsung pada perdana mentri. CPIB bertugas untuk : - Menjaga intergritas dari public service dan memastikan ada nya transaksi yang bebas korupsi di sektor publik. Biro ini juga memastikan tidak adanya mal praktek yang dilakukan aparat publik dan apabila terjadi mal praktek, biro ini harus melaporkannya pada departemen pemerintah yang bersangkutan dan kepada masyarakat. Hal ini dilakukan sebagai aksi mendisiplinkan aparat. Walaupun tugas utama dari biro ini adalah melakukkan investigasi korupsi, biro ini juga melakukan investigasi terhadap hal lain yang sejenis dengan korupsi berdasarkan undang-undang. - Melakukan pencegahan korupsi dengan menganalisa cara kerja dan prosedur dari lembaga-lembaga publik untuk mengidentifikasi kelemahan administrasi yang ada di lembaga tersebut yang dapat menimbulkan peluang melakukan korupsi dan mal praktek kemudian melaporkan hal tersebut kepada kepala lembaga badan yang bersangkutan sehingga sistem dapat diperbaiki dan pencegahan korupsi dapat dilakukan.

3.1.4.1. Hubungan dengan Pemerintah Meskipun CPIB dikatakan sebagai suatu organisasi yang bebas, namun bukan berarti tidak ada campur tangan pemerintah dalam menjalankan aktivitasnya. Salah satu bentuk campur tangan yang dilakukan oleh pemerintah adalah dalam hal kepemimpinan CPIB. Berdasarkan PCA, presiden memiliki wewenang untuk menunjuk direktur atau pemimpin tertinggi dari CPIB. Selain itu presiden juga berhak menunjuk deputi direktur serta asisten direktur dan investigator istimewa yang menurut presiden layak untuk menempati jabatan tersebut. Yang harus digarisbawahi adalah walaupun presiden memiliki kewenangan untuk menunjuk orang-orang yang nantinya akan menduduki jabatan penting di CPIB namun presiden tidak mempunyai hak untuk ikut campur dalam hal pemberantasan korupsi. Dalam hal pemberantasan korupsi, tidak ada seorang atau satu badanpun yang berhak mengendalikan biro ini. Kendali presiden hanya terbatas pada penunjukan orang-orang yang

menempati jabatan di yang telah disebutkan di atas. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga CPIB agar tetap dapat berjalan searah dengan pemerintah. Investigator yang ditunjuk oleh presiden ini memiliki sertifikat penunjukan atau semacam kartu garansi yang digunakan oleh penegak hukum lokal untuk melakukan tugasnya. Kartu garansi ini berupa kekuasaan untuk melakukan investigasi berupa: Kekuasaan untuk menahan seseorang yang dicurigai sebagai koruptor tanpa membawa surat perintah penahanan (berdasarkan pasal 15 PCA) Kekuasaan melakukan penyidikan (berdasarkan pasal 17 PCA) Kekuasaan untuk mencari, yaitu kekuasaan untuk memasuki segala tempat dengan kekerasan apabila dibutuhkan untuk mencari tersangka pelaku korupsi 3.1.3.2. Mekanisme Kerja Untuk memperjelas mengenai bagaimana mekanisme kerja dari CPIB maka penulis mengambil contoh kasusu korupsi yang berhasil diselesaikan oleh CPIB khususnya korupsi yang dilakukan Departemen Bea Cukai yang meluas pada tahun 1950-an. Korupsi dalam departemen ini dapat berbentuk adanya uang pelicin demi pelayanan yang cepat, perijinan untuk memasukkan barang-barang ilegal, penyelundupan barang kena pajak untuk bisa masuk ke Singapura dengan membayar pajak yang lebih sedikit daripada yang seharusnya atau bahkan tidak membayar pajak sama sekali. Yang lebih mengherankan adalah, tidak semua korupsi menyangkut barang impor. Pembuat minuman keras yang ilegal, penyelenggaraan rumah-rumah candu dan warung-earung kopi yang menjual minuman keras tanpa ijin, bersedia membayar agar dilindungi dari petugas bea cukai. Tindak korupsi ini tidak hanya dilakukan oleh pejabat tingkat tinggi tapi juga pejabat tingkat menengah dan tingkat rendah. Kerugian yang diakibatkan oleh korupsi ini mencapai jutaan dolar Singapura. Untuk memberantas korupsi yang terjadi di departemen ini, CPIB yang memiliki kekuasaan yang luar biasa, memberlakukan beberapa undang-undang pemberantasan korupsi yang keras pada tahun 1960, misalnya: memberi kekuasaan penuntut umum untuk memerintahkan penyidikan oleh perwiraperwira senior terhadap setiap bank, saham, pembelian, rekening pengeluaran, deposito dan menuntut orang untuk memberitahukan atau menunjuk dokumen yang diminta memberi wewenang penuntut umum yang sama untuk memeriksa catatan semacam itu milik istri dan anak-anak pejabat atau siapa saja yang diyakini menjadi wali atau agen, dan untuk menyalin catatan tadi memperluas kekuasaan tersebut hingga dapat meminta orang-orang untuk memberikan pernyataan dengan sumpah tentang harta benda dan uang yang dikirim keluar Singapura

CPIB berhak memeriksa segala catatan yang berhubungan dengan kekayaan dan aset masyarakatnya (msalnya pemilikan rumah, mobil, dan barang modal lainnya) Selain tindakan pemberantasan, CPIB juga melakukan tindak pencegahan korupsi dengan cara: memberikan imbalan berupa uang, surat pujian dan masa depan kenaikan pangkat yang lebih baik kepada pejabat yang menolak korupsi dan melaporkan klien yang mencoba melakukan tindak penyuapan tersebut memberikan tidak hanya hukuman pidana tapi juga hukuman administratif seseorang yang melanggar aturan yang berlaku bagi

memberikan hukuman penjara dan denda bukan hanya bagi mereka yang melakukan korupsi tapi juga bagi pengawas mereka mengurangi peluang untuk melakukan korupsi di tempat kerja, misalnya memeriksa dan mencatat uang tunai serta barang-barang pribadi yang dibawa pegawai sebelum menjalankan tugas mereka, adanya pemeriksaan yang mendadak dan pengawasan yang ketat mencari informasi dari masyarakat dengan cara mengadakan dengar pendapat dengan masyarakat Berkat adanya usaha pemberantasan korupsi ini, maka pada tahun 1981, Departemen Bea dan Cukai Singapura berhasil mengurangi tindak korupsi sampai hampir 80 %. 3.1.4. Struktur Organisasi
Untuk dapat menjalankan tugasnya dengan baik maka CPIB membutuhkan adanya struktur yang dapat mendukung kerjanya. Unit administrasi

Bertanggung jawab untuk menyuport proses investigasi termasuk registry, keuangan dan masalah personal. Unit pencegahan dan review Bertugas menganalisis prosedur kerja dari lembaga pemerintah untuk mengidentifikasi kelemahan administrative yang bisa menimbulkan korupsi. Unit sistem informasi dan komputerisasi Membawahi proyek komputerisasi dan membangun sistem aplikasi untuk mengatur keefektifan divisi operasi. Unit proyek dan perencanaan Membawahi segala staf yang bekrja untuk membuat perencanaan proyek, operasi dan kebijakan.

3.1.5. Faktor yang Memengaruhi Pemberantasan Korupsi di Singapura Selain adanya struktur yang baik, keberhasilan pemberantasan korupsi di Singapura juga didukung oleh beberapa faktor berikut:

Adanya political will yang tinggi dari pemerintah Singapura untuk memberantas korupsi

Political will ini terutama ditunjukkan oleh Lee Kuan Yew, Perdana Mentri Singapura melalui pidatonya yang terkenal pada tahun 1979 dan Minister for Home Affairs, Ong Pang Boon sebagaimana yang dikatakannya di depan Legislative Assembly. Political will yang besar ini kemudian ditunjukkan melalui pembentukan CPIB. Kuatnya hukum terutama peraturan mengenai anti korupsi Berbagai peraturan ini mengatur mengenai: 1. memperkuat fungsi pengadilan 2. memperkuat para investigator dengan berbagai kekuasaan yang dapat mendukung pelaksanaan tugasnya 3. memberi kekuasaan pada para prosecutor public untuk mendapatkan informasi dari berbagai pihak 4. memberi pengertian pada masyarakat mengenai tugas dan fungsi CPIB sehingga masyarakat dapat memberi dukungan terhadap tugas dan fungsi dari lembaga ini Adanya hukuman yang berat bagi para koruptor Seseorang yang terbukti melakukan korupsi dapat dikenai hukuman hingga $100,000 atau hukuman penjara selama 5 tahun. Apabila koruptor tersebut berasal dari sektor publik yang artinya ia akan merugikan Negara dengan korupsinya maka hukuman bisa dinaikkan hingga 7 tahun Adanya pendidikan anti-korupsi Pemerintah Singapura menyadari bahwa sikap anti-korupsi harus ditanamkan semenjak dini. Oleh sebab itu CPIB sebagai lembaga pemberantas korupsi melakukan Learning Journey Briefing bagi siswa-siswi sekolah menengah pertama di Singapura. Adanya analisis mengenai metode kerja Sebagaimana telah disampaikan di atas, CPIB memiliki wewenang untuk menganalisis metode kerja dan prosedur suatu lemabaga untuk meminimalkan tingkat korupsi. Adanya deklarasi asset dan investasi

Setiap aparat publik harus memberitahukan, saat dia diangkat dan setiap tahunnya, mengenai daftar kekayaan dan investasi yang dimilikinya termasuk jumlah tanggungan yang dimilikinya. Nantinya apabila aparat tersebut mendapatkan kekayaan lebih dari yag seharusnya bisa didapat dari gaji yang diterimanya maka dia akan dintanyai mengenai bagaimana cara ia mendapatkan kekayaannya tersebut. Larangan menerima hadiah Aparat publik tidak diperbolehkan untuk menerima segala bentuk hadiah dalam bentuk uang ataupun bentuk lainnya dari orang yang memiliki kepentingan terhadap pekerjaan aparat tersebut karena dikhawatirkan akan terjadi penyuapan. Menurut PCA, segala sesuatu yang dimaksud dengan penyuapan adalah: Uang atau hadiah, pinjaman, bayaran, penghargaan, jabatan, barang berharga, barang atau bunga dari suatu barang dengan berbagai definisi yang dapat dipindahkan ataupun tidak dapat dipindahkan Kantor, jabatan atau perjanjian kerja Pembayaran, pembebasan hutang, likuidasi hutang, obligasi atau pinjaman apapun baik seluruh ataupun sebagian Jasa-jasa lainnya, keuntungan dengan berbagai definisi, termasuk perlindungan dari berbagai hukuman yang menggunakan kekuasaan ofisial Berbagai aksi atau gratifikasi yang terkait dengan berbagai hal yang telah disebutkan sebelumnya Adanya dukungan yang kuat dari seluruh lapisan masyarakat. Mereka menyuarakan pemberantasan korupsi secara berkesinambungan, mendorong pemerintah untuk membangun negara yang bersih dari segala macam bentuk penyelewengan uang negara. Masyarakat berpartisipasi mengamati dan melaporkan jika ada indikasi penyelewengan yang dilakukan oleh para pejabat negara.

3.2. Indonesia 3.2.1. Gambaran Umum dan Sejarah Pemberantasan Korupsi di Indonesia Pemberantasan korupsi di Indonesia memiliki perjalanan yang pajang, sejak dibentuknya Lembaga Pemberantasan Korupsi di Era Soekarno (PARAN - Panitia Retooling Aparatur Negara) di awal tahun 1960-an hingga kini dengan kehadiran Komisi Pemberantasan Korupsi. Banyak cerita kegagalan disamping keberhasilannya. PARAN di tahap awal memiliki tugas mencatat kekayaan pejabat, akan tetapi kandas ditengah jalan akibat perilaku birokrat yang sembunyi dibalik presiden. Tahun 1963 PARAN diaktifkan kembali dengan Operasi Budhi yang dipimpin AH Nasution dan Wirjono Prodjodikusumo misalnya berhasil menyelamatkan uang negara sebesar 11 milyar rupiah. Sebuah jumlah yang tidak kecil di waktu itu. Banyak kendala yang dialami lembaga pemberantasan korupsi di samping lemahnya komitmen politik Indonesia. PARAN mengalami kegagalan karena berlindung dibawah kekuasaan Presiden, sementara Operasi Budhi dibubarkan oleh Presiden Soekarno karena mengganggu kewibawaan presiden. Sedangkan di era Soeharto lembaga pemberantasan korupsi berrnama OPSTIB. Namun OPSTIB mengalami kegagalan yang disebabkan oleh banyaknya campur tangan militer. Banyak kalangan militer yang menduduki kursi empuk dalam pemerintahan. Pada UU Nomor 28 Tahun 1999, yang dikeluarkan oleh BJ Habiebie, tentang Penyelenggaraan Negara yang bersih dan bebas dari KKN berikut pembentukan berbagai komisi atau badan baru seperti KPKPN, KPPU atau lembaga Ombudsman. Sedangkan di masa pemerintahan Gus Dur, lembaga pemberantasan korupsi dibentuk dengan nama Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (TGPTPK). Badan ini dibentuk dengan Keppres di masa Jaksa Agung Marzuki Darusman dan dipimpin Hakim Agung Andi Andojo. Sayangnya di tengah semangat menggebu-gebu untuk memberantas korupsi dari anggota tim, melalui suatu judicial review Mahkamah Agung, TGPTPK akhirnya dibubarkan. Kemudian di era Megawati, lahir sebuah lembaga pemberantasan korupsi yang bernama Komisi Pemberantas Tindak Pidana Korupsi (KPTPK) atau lebih sering disebut Komisi Pemberantas Korupsi (KPK). 3.2.2. Lembaga Pemberantasan Korupsi di Indonesia Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPTPK) atau yang lebih dikenal dengan sebutan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK_ merupakan komisi yang dibentuk di Indonesia pada tahun 2003, atau pada masa pemerintahan Megawati. Komisi ini dibentuk untuk mengatasi, menanggulangi dan memberantas korupsi di Indonesia Komisi ini didirikan berdasarkan pada Undang Undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2002 mengenai Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dilengkapi dengan berbagai tugas dan wewenang yang sangat luas dan kuat. Pada tahun 2002 Pemerintah dan DPR memberi tugas dan wewenang KPK luas sekali. Pada pasal 43 UU No. 31 tahun 1999 menyebutkan bahwa tugas dan wewenang KPK adalah melakukan koordinasi dan supervise, termasuk melakukan penyelidikan dan penyidikan, dan penuntutan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku Hal tersebut dapat menggambarkan bahwa selama ini pemberantasan korupsi

memang dirasakan kurang efektif dan memiliki dampak yang cukup signifikan. Oleh karena itu kehadiran KPK amat dibutuhkan. Tugas KPK secara rinci dicantumkan dalam pasal 6 No. 30/2002, yaitu: a. Koordinasi dengan instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi. b. Supervise terhadap instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi. c. Melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi d. Melakukan tindakan-tindakan pencegahan tindak pidana korupsi. e. Melakukan monitor terhadap penyelenggaraan pmerintah. Sedangkan wewenang yang diberikan kepada KPK adalah: a. Dalam melaksanakan tugas suoervisi, KPK berwenang melakukan pengawasan, penelitian atau penelaahan terhadap instansi yang melaksanakan tugas dan wewenangnya yang berkaitan dengan pemberantasan tindak pidana korupsi, dan instansi yang dalam melaksanakan pelayanan public. b. Dalam melaksanakan wewenang tersebut maka KPK juga berwenng mengambil alih penyidikan atau penuntutan terhadap pelaku tindak pidana korupsi yang sedang dilakukan oleh kepolisian atau kejaksaan. c. Dalam hl KPK mengambil alih penyidikan dan penuntunan, kepolisisn atau kejaksaan wajib menyerahkan tersangka dan seluruh berkas perkara beserta alat bukti dan dokumen lain yang diperlukan dalam waktu paling lama 14 hari kerja, terhitung sejak tanggal diterimanya permintaan Komisi Pemberantasan Korupsi. d. Penyerahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan dengan membuat dan menandatangani berita acara penyerahjan sehingga segala tugas dan kewenangan dan kepolisian atau kejaksaan pada saat penyerahan tersebut beralih kepada Komisi Pemberantasan Korupsi. 3.2.3.1. Hubungan dengan Pemerintah Walaupun Komisi Pemberantasan Korupsi di Indonesia bersifat independent, tetapi bukan berarti tidak ada campur tangan pemerintah dalam menjalankan tugas dan wewenangnya. Campur tangan pemerintah tersebut adalah mengawasi berjalannya segala aktifitas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Peran pemerintah bisa kita lihat dalam kasus perseteruan antara KPK dan kepolisisan yang terjadi. KPK dan kepolisian merupakan lembaga yang mempunyai tugas dan wewenang masing-masing yang sudah tercantum dalam Undang-Undang. Walaupun memang KPK dan kepolisisan berjalan dalam koridor masing-masing, tetapi, masyarakat tentu saja mencium adanya perseteruan dari kedua lembaga tersebut. Mereka sibuk untuk menjatuhkan nama baik satu sama lain dan saling menunjukan siapa yang paling berkuasa. Sehingga kepentingan negara jadu dinomorduakan. Oleh karena itu, perlu adanya peran pemerintah sebagai penengah dalam masalah tersebut sehingga perselisihan yang dianggap saling menjatuhkan lembaga bisa terselesaikan dengan kekuasaan pemerintah tersebut.

3.2.4.2. Mekanisme Kerja Contoh kasus korupsi di Indonesia Kasus penggelapan dana bailout Bank Century Bank Century merupakan hasil dari penggabungan tiga bank, yakni Bank CIC (Century Intervest Corporation) International, Bank Pikko dan Bank Danpac secara sukarela. Pada awalnya Bank CIC yang didirikan oleh Robert Tantular tidak lolos uji kelayakan dan kepatutan oleh Bank Indonesia. Hal ini dikarenakan banyak permasalahan yang dialami oleh Bank CIC, mulai dari modal CIC yang amblas hingga minus 83,06 % hingga CIC kekekurangan modal hingga Rp 2,67 Triliun. Oleh karena itu Bank Indonesia menyarankan merger untuk mengatasi masalah-masalah tersebut sehingga pada tahun 2004 Bank Pikko dan Bank Danpac melebur ke Bank CIC. Setelah menjadi sebuah kesatuan yang menjadi PT Bank Century Tbk, Bank Century memiliki 25 kantor cabang, 31 kantor cabang pembantu, 7 kantor kas, dan 9 ATM. Sebenarnya banyak pihak yang kesulitan mengetahui latar belakang dari kasus Bank Century tersebut. Kesulitan dalam mengetahui asal mula kasus ini disebabkan koordinasi tim penelusuran dana Century yang buruk. Tim tersebut bernama Mutual Legal Assistance (MLA) Bank Century yang terdiri dari Depkum HAM, Departemen Keuangan, Kepolisian, Kejaksan, Bank Indonesia, dan Departemen Luar Negeri. Tim MLA belum bisa berkoordinasi dengan baik terkait dengan kasus Bank Century. Masing-masing pihak masih menyembunyikan rahasia. Namun, secara kronologis, kasus ini memang dimulai pada tahun 1989 oleh Robert Tantular yang mendirikan Bank CIC hingga Bank tersebut menjadi Bank Century pada tahun 2004. Permasalahan pada Bank Century terus muncul. Dimulai tahun 2008, Bank Century mengalami kesulitan liquiditas karena beberapa nasabah besar Bank Century menarik dananya. Salah satunya ialah Boedi Sampoerna yang akan menarik dananya dari Bank Century sebesar Rp 2 Trilyun, sedangkan dana yang ada di Bank tidak mencapai angka tersebut. Kemudian keadaan ini dioerparah pada tanggal 17 November Delta Sekuritas yang dimiliki Robert Tantular mulai tak sanggup untuk membayar kewajiban atas produk discretionary fund yang dijual Bank Century. Pada 20 November 2008, BI melalui Rapat Dewan Gubernur menetapkan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik. Keputusan itu kemudian disampaikan kepada Menteri Keuangan Sri Mulyani selaku Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Dengan berbagai pertimbangan dan hasil rapat dari KSSK yang dihadiri oleh Sri Mulyani beserta Gubernur BI, menyatakan bahwa Bank Century merupakan bank gagal dan menerima aliran dana penanganan Bank Century melalui Lembaga Penjamib Simpanan (LPS). Penyuntikan dana awal dari LPS ke Bank Century adalah sebesar Rp 632 miliar untuk menambah modal sehingga dapat menaikkan CAR menjadi 8%. Enam hari setelah dana tersebut dicairkan, kemudian LPS menyuntikan dana kembali sebesar Rp 2,776 triliun pada Bank Century untuk menambah CAR menjadi 10%. Karena meman permasalahan Bank Century tak kunjung selesai, Bank Century mulai meghadapi tuntutan ribuan investor Antaboga atas penggelapan dana investasi senilai Rp 1,38 triliun yang mengalir ke Robert Tantular. Kemudian, LPS meyuntikan dana kembali seesar Rp 2,2 Triliun untuk memenuhi tingkat kesehatan bank, dan pada akhir Desember 2008, Bank Century mencatat kerugian

sebesar Rp 7,8 Triliun. Bank Century ini memang tampak mendapat perlakuan istimewa dari Bank Indonesia dan masih tetap diberikan kucuran dana sebesar Rp 1,55 triliun pada tanggal 3 Februari 2009. Padahal Bank Century terbukti lumpuh. Pada Bulan Juni 2009 Bank Century mencairkan dana yang telah diselewengkan Robert sebesar Rp 180 miliar pada Budi Sampoerna. Namun, dibantah oleh Budi yang merasa tidak menerima sedikit pun uang dari Bank Century. Atas pernyataan itu LPS mengucurkan dana lagi kepada Bank Century sebesar Rp 630 miliar untuk menutupi CAR. Dengan dana yang terus disuntikan kepada Bank Century masih belum bisa menangani masalah yang ada pada bank ini. Sedangkan total dana yang dikucurkan kepada Bank Century sebesar Rp 6,762 triliun. Sebuah angka yang tidak sedikit, dan sampai sekarang belum ada yang bisa membuktikan mengalirnya dana tersebut. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih terus menangani masalah kasus korupsi Bank Century yang tak kunjung berakhir ini. Kewenangannya sebagai badan penyidik, KPK berhak untuk menyidik siapapun untuk diperiksa. Dalam kasus Bank Century ini, KPK menyidik pejabat besar, yakni Sri Mulyani yang masih menjabat Menteri Keuangan Republik Indonesia dan Boediono mantan Gubernur Bank Indonesia yang menurut pejabat KSSK nyatakan bahwa merekalah yang menekan dana suntikan untuk Bank Century. 3.2.5.3. Struktur Organisasi Mengusut kasus-kasus korupsi yang sudah menjadi darah daging bangsa ini. Dengan kasus-kasus korupsi yang telah berhasil diungkap, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah mendapat kepercayaan yang tinggi dari masyarakat untuk menangani masalah tindak pidana korupsi. Sebagai lembaga independen, lembaga yang jauh dari intervensi pihak manapun, KPK harus bertahan dari tekanan-tekanan manapun. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pemberantasan korupsi di Indonesia, salah satunya ialah kelebihan KPK yang dimiliki. Undang-undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi atau yang dikenal dengan KPK melegitimasi organ yang satu ini sebagai super body full polisinil dan full prosecuting. Undang-undang ini memberi kewenangan kepada KPK untuk melakukan tugas-tugas kepolisian pada umumnya. Penyelidikan, penyidikan bahkan penuntutan. Penangkapan, penahanan, menyita, telah melekat sebagai tugas utama untuk organ yang satu ini. Tugas-tugas intelejen pun dimilikinya, bagaikan tugas operasi intelejen di medan pertempuran layaknya pasukan green beret di negeri Paman Sam. Di dalam pasal 12 Undang-undang Nomor 30 Tahun 2002 huruf (a) yang berbunyi dalam melaksanakan tugas penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan sebagaimana dalam pasal 6 huruf (c ) komisi pemberantasan korupsi berwenang melakukan penyadapan dan merekam pembicaraan. Pasal ini merupakan kunci segala-galanya bagi KPK untuk melakukan tugas intelejen. Payung hukum dalam pasal ini sudah cukup bagi KPK untuk melakukan pendeteksian orang secara cepat. Sehingga KPK dapat mengetahui dan melacak serta merekam pembicaraan seseorang yang dikategorikan sebagai bukti permulaan. KPK dengan alat bantu teknologi dibenarkan oleh pasal ini untuk melakukan pelacakan atas deal- deal yang berbau korupsi di negeri ini.

BAB 4 PENUTUP 4.1. Simpulan


e-readiness adalah ukuran kemampuan sebuah negara dalam memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan internet sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi, sosial, dan SDM-nya. e-readiness juga merupakan indikator yang menunjukkan tingkat kesiapan sebuah komunitas dalam berpartisipasi di dunia berjejaring. Pengukuran dengan cara menilai dari enam komponen yang pembobotannya mulai dari 10% hingga 25%, yaitu: Connectivity and Technology Infrastructure (20%), Business environment (15%), Social and Cultural Environment (15%), Legal Environment (10%), Government policy and vision (15%), Consumer and Business Adoption (25%). Indeks ini dikeluarkan oleh Economist Intelligence Unit yang bekerja sama dengan IBM Institute for Business Value. Semakin besar nilai e-readiness, berarti kesiapan dan kemampuan TIK semakin baik.

Bagaimana cara e-readiness bekerja mengurangi tingkat korupsi? Semakin tinggi angka e-readiness, menunjukkan masyarakat semakin melek teknologi dalam melakukan kegiatan bisnis menggunakan TIK/internet, semakin transparan juga para pejabat publik mengelola uang negara. Contohnya kemampuan pemerintah membuat layanan dan masyarakat memanfaatkan e-procurement pengadaan barang dan jasa pada Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE), www.pengadaannasional-bappenas.go.id. Layanan ini melelang pengadaan barang dan jasa dari berbagai provinsi dan kabupaten di seluruh wilayah Indonesia. Pelelangan dilakukan secara terbuka melalui internet dan siapapun yang memenuhi syarat dapat mengikuti lelang, sehingga dapat menciptakan persaingan sehat antar peserta lelang dan mengurangi terjadinya proses lelang yang tidak jujur. Angka e-readiness yang tinggi dapat berarti makin banyak pengguna internet sehingga masyarakat dan peserta lelang dapat mengawasi kewajaran harga barang/jasa yang ditawarkan/dilelang oleh sebuah kantor pemerintah. Misalkan untuk menilai kewajaran sebuah kapal mewah Lagoon 500 yang saat ini sedang dikritik oleh sebagian masyarakat, dapat dicari dari Google harga jual kapal tersebut dari situs agen penjual/pembuatnya. Lalu dihitung selisih harga, apakah wajar nilai pengadaan yang dibebankan ke anggaran negara oleh instansi yang melakukan pengadaan barang dimaksud. Barang-barang yang dibeli/impor untuk kantor pemerintah harga seharusnya lebih murah dibanding pembelinya masyarakat umum karena beberepa jenis pajak kemungkinan mendapat fasilitas pembebasan pajak. Masyarakat dapat berpartisipasi mencegah korupsi dengan cara mengawasi pengadaan barang/jasa yang harganya tidak wajar. Informasi harga barang/jasa yang disetujui pada suatu lelang pengadaan barang, kemudian dibandingkan dengan harga pasaran barang dengan spesifikasi sama, waktu transaksi yang sama pula. Jika selisih harga sangat besar dapat diduga ada indikasi penggelembungan harga/korupsi.

Daftar Pustaka http://bbsdlp.litbang.deptan.go.id/index.php? option=com_fireboard&func=view&catid=17&id=263&Itemid=152 http://polhukam.kompasiana.com/2010/04/01/bagaimanakah-definisi-korupsi-di-indonesia/ http://generasibersih.0fees.net/?p=16 http://hariansib.com/?p=2262 http://indonesian.cri.cn/201/2010/03/12/1s108655.htm http://www.kedai-kebebasan.org/opini/article.php?id=236 http://antikorupsi.org/indo/content/view/1089/6/