Anda di halaman 1dari 13

OKTOBER 2011

BAB 7
MANAJEMEN PRODUKSI
SITI AISAH 26211797 1EB05

MANAJEMEN PRODUKSI
1. Perkembangan Manajemen Produksi
Manajemen produksi berkembang pesat karena adanya factor :

Adanya pembagian kerja (division of labour) dan spesialisasi

Agar produksi efektif dan efisien, produsen hendaknya menggunakan metode ilmiah dan azas-azas manajemen. Pembagian kerja memungkinkan dicapainya tingkat dan kualitas produksi yang lebih baik bila disertai dengan pengolahan yang baik.dan akan mengurangi biaya produksi sehingga dapat tercapainya tingkat produksi yang lebih tinggi.

Revolusi Industri

Revolusi Industri merupakan suatu peristiwa penggantian tenaga manusia dengan tenaga mesin. Revolusi itu merupakan perubahan dan pembaharuan radikal dan cepat dibidang perdagangan, industri, dan tekhnik di Eropa.

Dampaknya pengusaha besar dapat meningkatkan perdagangannya,sedangkan pengusaha kecil dengan peralatan kerja yang masih kuno,menjadi terdesak. Perkembangan revolusi industri terlihat pada : 1. Bertambahnya penggunaan mesin 2. efisiensi produksi batu bara, besi, dan baja, 3. Pembangunan jalan kereta api,alat transportasi, dan komunikasi. 4. meluasnya system perbankan dan perkreditan. Industialisasi ini meningkatkan pengolahan hasil produksi, sehingga

membutuhkan kegiatan pemasaran.

Perkembangan alat dan tekhnologi yang mencakup penggunaan computer

Sehingga pada banyak hal manajer produsi mengintegrasikan tekhnologi canggih kedalam bisnisnya.

Perkembangan ilmu dan metode kerja yang mencakup metode ilmiah,

hubungan antar manusia, dan model keputusan. Penggunaan metode ilmiah dalam mengkaji pekerjaan memungkinkan

ditemukannya metode kerja terbaik dengan pendekatan sebagai berikut :


Softskill: Manajemen Produksi Page 2

1. Pengamatan (observasi) atas metode kerja yang berlaku 2. Pengamatan terhadap metode kerja melalui pengukuran dan analisis ilmiah 3. pelatihan pekerja dengan metode baru 4. pemanfaatan umpan balik dalam pengelolaa atas proses kerja.

2. Pengertian Manajemen Produksi


Pengertian manajemen produksi tidak terlepas dari pengertian manajemen itu sendiri. Dalam manajemen didapati kegiatan atua usaha yang dilakukan untuk mencapai tujuan dengan menggunakan atau mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan orang lain. Dalam pengertian ini terdapat 3 (tiga) unsur penting yaitu : a. Adanya orang yang lebih dari satu b. Adanya tujuan yang ingin dicapai c. Adanaya orang yang bertanggun-jawab terhadaap pencapaian tujuan.

Seringkali kita tahu bahwa pengertian manajemen dikaitkan dengan pengertian organisasi. Sedangkan organiasi adalah alat untuk mencapai tujuan dalam manajemen atau alat manajemen dalam mencapai tujuannya.

Manajemen

produksi

adalah

merupakan

kegiatan

untuk

mengatur

dan

mengkoordinasikan penggunaan sumber-sumber daya berupa sumber daya manusia, sumber daya alat, dan sumber daya dana serta bahan secara efektif dan efisien, untuk menciptakan dan menambah kegunaan (utility) suatu barang atau jasa. Banyak upaya yang dilakukan dalam manajemen produksi terkait dengan tujuan untuk meningkatkan produktivitas. Dalam peningkatan produktivitas

didapatkan dua masalah penting yaitu : 1. Produktivitas akan meningkt jika terdapt pernbaikan kondisi kerja 2. Beberapa peningkatan produktivitas tidak dapat membantu organisasi secara keseluruhn, karena hasilnya terkait dengan perbaikan pada bidang tertentu, sedangkan bidang lainnya tidak terpengaruh.

Softskill: Manajemen Produksi

Page 3

3. Pengertian Produksi
Secara umum produksi diartikan sebaghai sutu kegiatan ataytau proses yang mentransformasikan masukan (input) menjadi keluaran (output). Dalam pengertian umum inilah skeang berkembang istilah industri, seperti industri m,anufaktur, industri pengolahan hasil-hasil pertanian atau agro industri, industri pengolahan hasil-hasil pertambangan, industri pariwisata, industri jasa dan keuangan, industri jasa perdagangan dan industri angkutan. Pengrtian produksi dlam ekonomi mengacu pada kegiatan yang berhubungan dengan usaha penciptaan dan penambahan atau utilitas suatu barang dan jasa. Penambahan atau penciptaan kegunaan atau utilitas karena bentuk dan tempat ini membutuhkan factor-faktor produksi.

4. Proses Produksi
Proses produksi dapat ditinjau dari 2 segi yaitu : 1. Kelangsungan Hidup yang terdiri dari : a. Produksi secara terus menerus ( Continous Production) produksi terus menerus dilakukan proses untuk mengubah bentuk barang-barang. Dalam proses produksi ini wawalaupun terjadi perubahan model, susunan dan fungsi alat-alat mesin yang dipakai tidaklah berubah. Misalnya pengger-gajian kayu megnubah balok menjadi papan, karet menjadi ban ataupun dalam proses perakitan mobil, walaupun terjadi perubahan bentuk tapu tidak mengubah susungan fungsi alat-alat mesin. Proses produksi ini menghasilkan produk yang standar (masssal). b. Produksi yang terputus-putus (Intermitten Production) proses produksi tidak terus menerus atau operasi seringklai terhenti guna mengubah alat-alat, pengaturan kembali alat-alat, dan penyesuaian yang terus menerus diadakan sesuai dengan tuntutan produk yang akan dihasilkan. Proses produksi ini dilakukan berdasarkan pesanan yang sesuai dengan keperluan pemesan. 2. Teknik a. Proses ekstraktif : suatu proses pengambilan langsung dari alan seperti kayu, perikanan dan pertambangan.
Softskill: Manajemen Produksi Page 4

b. Proses Analistis : proses pemisahan bahan-bahan, seperti minyak mentah menjadi minyak bersih. c. Proses pengubahan : proses perubahan bentuk, seperti alat-alat rumah tangga. d. Proses sintesis : proses encamput dengan uinsur-unsur lain, seperti bahan-bahan kimia. Pengambilan Keputusan dalam manajemen produksi meliputi : a. Pengambilan keputusan atas peristiwa yang pasti (certainty) b. Pengambilan keputusan atas peristiwa yang mengandung resiko c. Pengambilan keputuasan atas peristiwa yang tidak pasti (un-certainty) d. Pengambilan keputusan atas peristiwa yang timbul karena pertentangan dengan keadaan.

Bidang Produksi mempunyai 5 (lima ) tanggung-jawab utama yaitu : 1. Proses keuputsan-keptusan dlam kategori ini menentukan proses fifik atau fasilitas yang dipakai untuk memproduksi barang atau jasa. Keputusan mencakup jenis peralatan dan teknolohi, arus proses, tata letak (lay out) perltan, dan keseluruhan fisik pabrik atau fasilitas jasa pelayanan. 2. Kapasitas Keputusan dimaksudkan untuk menentukan bearnya kapasitas yang tepat dan penyediaan pada waktu yang tepat. Kapasitas jangka panjang ditentukan oleh besarnya fasilitas fisik yang dibangun. Dalam jangka pendek kapasitas kadang-kadang diperbesar dgn mengadakan sub-kontrak kepada pihak luar atau penambahan regu (shift) ekstra atau menyewa ruangan/peralatan tambahan. 3. Persediaan menajer persediaan membuat keputusan-keputusan dalam bisang prosuksi, menyangkut apa yang dipesan, berapa banyak pemesanan serta kapan pemesanan dilakukan. 4. Tenaga kerja Dalam amnajemen prosuksi , penentuan dan pengelolaan tenaga kerja atau sumber daya manusia menempati posisi yang sangat penting. Proses produksi yang menggapap kegiatan untuk menghasilkan produk, baik berupa barang atau jasa, Keputusan tentang tenaga kerja mencakup seleksi penggajian, pelatihan, penempatan, peyeliaan atau supervise. 5. Mutu/Kualitas ditandai dengan penekanan tanggung-jawab yang lebih besar terhadap mutu atau kualitas barang atau jasa yang dihasilkan. Mutu merupakan
Softskill: Manajemen Produksi Page 5

tanggung-jawab produksi yang penting dan harus didukung oleh organisasi secara keseluruhan.

5. Pengambilan Keputusan Dalam Manajemen Produksi


Disini pengambilan keputusan berkaitan erat dengan jangka waktu perencanaan. Perencanaan dalam keberadaannya dipecah menjadi perencanaan jangka panjang, jangka menengah, dan jangka pendek. Perencanaan jangka panjang berhubungan dengan hal strategis sehingga pengambilan keputusannya merupakan tanggung jawab pimpinan puncak. Perencanaan jangka panjang mencakup penyusunan kebijakan seperti lokasi fasilitas dan pengembangannya, penentuan kapasitas, pengembangan produk baru, penelitian dan pengembangannya, dan investasi. Selain perencanaan jangka panjang ada perencanaan jangka menengah.

Perencanaan tersebut, dimulai setelah perencaan jangka panjang dan berhorizon waktu sekitar 3 sampai dengan 24 bulan. Perencanaan jangka menengah merupakan tugas manajer operasi yang akan membuat keputusan taktis seperti perencanaan penjualan, anggran produksi, tenaga kerja, dan tingkat persediaan. Berbeda dengan perencanaan jangka menengah, perencanaan jangka pendek berhorizon waktu tidak lebih dari 3 bulan. Perencaan ini, tanggung jawab personel operasi yang bekerja dengan supervisor untuk menjabarkan perencanaan di atasnya dimana keputusannya mencakup penugasan kerja, penjadwalan, pembebanan, dan pengiriman. Sebenarnya pengambilan keputusan selalu ada dalam setiap tahapan operasi perusahaan. Jadi dimana ada operasi perusahaan disitu ada pengambilan keputusan.

6. Ruang Lingkup Manajemen Produksi


Perencanaan sistem produksi Sistem pengendalian produksi Pengendalian proses produksi Pengendalian bahan baku Sistem informasi produksi

Perencanaan produksi Perencanaan lokasi produksi Perencanaan letak fasilitas

Struktur organisasi Produksi atas dasar pesanan

Pengendalian tenaga kerja Produksi untuk persediaan

Softskill: Manajemen Produksi

Page 6

produksi Perencanaan lingkungan kerja Perencanaan standar produksi Pengendalian biaya produksi Pengendalian kualitas pemeliharaan

MANAJEMEN PRODUKSI Dalam melakukan kegiatan produksi ada berbagai faktor yang harus dikelola yang sering disebut sebagai faktor faktor produksi yaitu : Material atau bahan Mesin atau peralatan Manusia atau karyawan Modal atau uang Manajemen yang akan memfungsionalisasikan keempat faktor yang lain. Dengan demikian manajemen operasi berkaitan dengan pengelolaan faktor faktor produksi sedemikian rupa sehingga keluaran (output) yang dihasilkan sesuai dengan permintaan konsumen baik kualitas, harga maupun waktu penyampaiannya. Sekilas telah disebutkan dari uraian di atas bahwa manajemen produksi operasi bertanggung jawab atas dihasilkannya keluaran (output) baik yang berupa produk maupun jasa yang sesuai dengan permintaan dan kebutuhan konsumen dengan kualitas yang baik dan harga yang terjangkau serta disampaikan tepat pada waktunya. Bertitik tolak dari tanggung jawab ini maka ukuran kinerja suatu sistem operasi dapat diukur dari : 1. Ongkos Produksi Bila dikaitkan dengan tujuan suatu sistem usaha, maka ukuran kinerja sering diukur dengan keuntungan yang dapat dicapai, namun seperti diuraikan diatas bahwa sistem produksi hanyalah salah satu dari sub sistem yang ada dalam suatu sistem usaha, sehingga untuk mengukur seberapa besar kontribusi sistem operasi di dalam pencapaian keuntungan bukanlah hal yang mudah. Oleh sebab itu untuk mengukur kinerja sistem produksi diambil ukuran waktu operasi tertentu (biasanya dalam waktu satu tahun)

Softskill: Manajemen Produksi

Page 7

Ongkos produksi ini meliputi semua biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produk / jasa ketangan konsumen. Dengan ongkos produksi yang murah diharapkan bahwa produk / jasa dapat dipasarkan dengan harga yang dapat dijangkau oleh konsumen 2. Kualitas Produk / Jasa. Kenyataan menunjukan bahwa konsumen tidak hanya memilih produk/jasa yang harganya murah namun juga produk/jasa yang berkualitas, oleh sebab itu baik buruknya suatu sistem produksi juga diukur dari kualitas produk/jasa yang dihasilkan. Ukuran kualitas produk yang dimaksudkan disini tentunya yang disesuaikan dengan selera konsumen bukan ukuran kualitas secara teknologi semata 3. Tingkat Pelayanan Bagi konsumen untuk menilai baik buruknya suatu sistem produksi / operasi lebih dinilai dari pelayanan yang dapat diberikan oleh system produksi kepada konsumen itu sendiri. Berbicara mengenai tingkat pelayanan (service level) merupakan ukuran yang tidak mudah untuk diukur, sebab banyak dipengaruhi oleh faktor faktor kualitatif, walaupun demikian beberapa ukuran obyektif yang sering digunakan antara lain : Ketersediaan (availability) dan kemudahan untuk mendapatkan produk / jasa. Kecepatan pelayanan baik yang berkaitan dengan waktu pengiriman (delivery time) maupun waktu pemrosesan (processing time) Agar dapat dicapai kinerja sistem operasi diatas maka seorang manajer produksi / operasi dituntut untuk mempunyai sedikitnya dua kompetensi, yaitu Kompetensi Teknikal yaitu kompetensi yang berkaitan dengan pemahaman atas teknologi proses produksi dan pengetahuan atas jenis jenis pekerjaan yang harus dikelola. Tanpa memiliki kompetensi teknikal ini maka seorang manajer produksi / operasi tidak akan mengerti apa yang sebenarnya harus diperbuat Kompetensi Manajerial yaitu kompetensi yang berkaitan dengan pengetahuan yang berkaitan dengan pengelolaan sumber sumber daya (faktor faktor produksi) serta kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain. Kompetensi ini sangat diperlukan mengingat penguasaan pengelolaan atas
Softskill: Manajemen Produksi Page 8

faktor - faktor produksi serta menjalin koordinasi dan kerjasama dengan fungsi fungsi lain yang ada didalam suatu unit usaha merupakan keharusan yang tak dapat dihindarkan.

7. Fungsi dan Sistem Produksi dan Operasi


Fungsi produksi dan operasi Secara umum fungsi produksi terkait dengan pertanggung-jawaban dalam pengolahan dan pengubahan masukan (input) menjadi keluaran (output) berupa barang atau jasa yang akan memberikan pendapatan bagi perusahaan. Ada 4 fungsi penting dalam produksi dan operasi adalah : 1. Proses pengolahan, merupakan metode atau teknik yang diigunakan untuk pengolahan masukan. 2. Jasa-jasa penunjang, merupakan saran berupa pengornisasian yang diperlukan untuk penetapan teknik dan metode yang akan dijalankan sehingga porses pengolahan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. 3. Perencanaan , merupakan penetapan ketrkaitan dan pengorganisaisn dari kegiatan produksi dan operasi yang akan dilakukan dalam suatu dasar waktu atau periode tertentu. 4. Pengendalian atau pengawasan, merupakan fungsi untuk menjamin

terlamksananya kegiatan yang sesuai rencana, sehingga maksud dan tujuan penggunaan dan pengolahan masukan dapat dilaksanakan.

Sistem Produksi dan Operasi Suatu sistem produksi dan operasi adalah suatu ketrkaitan unsure-unsur yang berbeda secara terpadu, menyatu, dan menyeluruh dlam mentransformasikan masukan menjadi keluaran.

Softskill: Manajemen Produksi

Page 9

Dalam gambar di atas terlihat bahwa masukanmsukan dikonversi menjadi keluaran berupa barang atau jasa dengan menggunakan teknolohi pengolahan tertentu. Informasi umpan balik dipergunakan untuk mengendalikan teknologi proses atau masukan. Kegiatan ini merupakan tanggung jawab manajer produksi dan operasi, untuk menggunakan informasi umpan balik secara kontinyu dengan menyesuaikan bauran dan teknolohi yang dibutuhkan untuk memperoleh keluaran yang diinginkan.

8. Lokasi dan Lay Out Pabrik


Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Pemilihan Lokasi Pabrik 1. Lingkungan masyarakat 2. Sumber alam 3. Tenaga kerja 4. Transportasi 5. Pembangkit tenaga listrik 6. Tanah untuk ekspansi

Metode Pemilihan Lokasi Pabrik 1. Metode kuantitatif : adalah menilai secara kuantitatif baik buruknya suatu daerah untuk pabrik sehubungan dengan faktor-faktor yang terdapat didaerah tersebut, sehingga perusahaan dapat membandingkan keadaan daerah satu dengan daerah lain. 2. Metode kualitatif : adalah konsep biaya tetap dan biaya variabel dari lokasi yang berbeda dapat menciptakan

Softskill: Manajemen Produksi

Page 10

hubungan antara biaya dan volume produksi yang berlaku bagi masing-masing lokasi. 3. Metode transportasi : adalah suatu alat untuk memecahkan masalah yang menyangkut pengiriman barang, dari suatu tempat ke tempat yang lain.

Tujuan

transportasi

adalah

dari mana dan berapa

jumlah

yang harus

didistribusikan pada masing-masing lokasi, sehingga biaya distribusi minimum.

Perencanaan Layout adalah perencanaan dari kombinasi yang optimal antara fasilitas produksi serta semua peralatan dan fasilitas terlaksananya proses produksi.

Tujuan Pelaksanaan Layout adalah untuk mendapatkan kombinasi yang paling optimal antara fasilitas-fasiltas produksi.

Layout Diperlukan Dalam Perusahaan Karena : 1. Adanya perubahan desain produk 2. Adanya produk baru 3. adanya perubahan volume permintaan 4. Lingkungan kerja yang tidak memuaskan 5. Fasilitas produksi yang ketinggalan jaman 6. Penghematan biaya 7. Adanya kecelakaan dalam proses produksi 8. Pemindahan lokasi pasar/konsentrasi terhadap pasar

Kriteria Penyusunan Layout : 1. Jarak angkut yang minimum 2. Penggunaan ruang yang efektif 3. Keselamatan barang-barang yang diangkut 4. Fleksibel 5. Kemungkinan ekspansi masa depan 6. Biaya diusahakan serendah mungkin 7. Aliran material yang baik
Softskill: Manajemen Produksi Page 11

Langkah-Langkah Perencanaan Layout : 1. Melihat perencanaan produk yang menunjukkan fungsi-fungsi dimiliki produksi tersebut 2. Menentukan perlengkapan yang akan dibutuhkan dan memilih mesin-mesinnya. 3. Analisa dan keseimbangan urutan pekerjaan, flow casting dan penyusunan diagram blok daripada layout.

Klasifikasi Perencanaan Layout 1. Adanya perubahan-perubahan kecil dari layout yang ada 2. Adanya perubahan-perubahan fasilitas produksi yang baru 3. Merubah susunan layout karena adanya perubahan fasilitas produksi 4. Pembangunan pabrik baru

Macam - Macam Layout 1. Produk layout adalah berurutan sesuai dengan jalannya proses produksi dari bahan mentah sampai menjadi barang jadi. 2. Proses layout Adalah kesamaan proses atau kesamaan pekerjaan yang mempunyai fungsi yang sama dikelompokkan dan ditempatkan dalam ruang tertentu. 3. Fixed position (layout kelompok) Adalah susunan komponen untuk proses produksi diletakkan didekat tempat proses produksi dilaksanakan. 4. Material handling Adalah ilmu untuk memindahkan, membungkus dan menyimpan bahan-bahan dalam segala bentuk.

Softskill: Manajemen Produksi

Page 12

Sumber D:\Softskill2\bahan7\93018-7-461763197235.doc Pusat pengembangan bahan ajar UMB AGUS ARIJANTO SE (pengantar bisnis) http://id.shvoong.com/business-management/management/1688030pengambilan-keputusan-dalam-manajemen-operasi/#ixzz1bUVAgsQP

Softskill: Manajemen Produksi

Page 13