Anda di halaman 1dari 18

PENDAHULUAN

Pembangunan dan perkembangan perekonomian pada umumnya dan khususnya di bidang perindustrian dan perdagangan nasional telah menghasilkan berbagai variasi barang dan atau jasa yang dikonsumsi. Transportasi merupakan sarana yang sangat penting dan strategis dalam memperlancar roda pembangunan dan perekonomian. Pentingnya transportasi tersebut tercermin pada semakin

meningkatnya kebutuhan akan jasa angkutan bagi mobilitas orang serta barang dari dan seluruh pelosok tanah air, bahkan sampai merambah keluar negeri. Disamping itu transportasi juga berperan sebagai penunjang, pendorong, dan penggerak bagi pertumbuhan daerah dalam hal upaya peningkatan dan pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya. Perkembangan jaman, kemajuan teknologi, serta mobilitas yang tinggi adalah suatu hal yang tidak dapat dipungkiri lagi. Dalam era globalisasi segala sesuatunya dituntut serba cepat dan tepat, hal tersebut didasari dengan semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat sesuai dengan tuntutan dari perkembangan zaman dan kemajuan teknologi. Mobilisasi yang semakin tinggi ini yang menyebabkan masyarakat memerlukan jasa transportasi yang sesuai dengan kebutuhan yaitu jasajasa transportasi yang tentunya dapat memberikan pelayanan yang baik sesuai dengan karakteristiik atau ciri-ciri pelayanan yang baik, aman, nyaman dan tentunya dengan biaya yang terjangkau oleh daya beli masyarakat. Menyadari betapa besar dan pentingnya peranan transportasi maka sudah seharusnyalah transportasi ditata dalam suatu sistem tersendiri, sehingga tersedianya transportasi mampu menjawab dan memenuhi tingkat kebutuhan masyarakat akan pelayanan yang baik, aman, nyaman dan tentunya dengan biaya yang terjangkau oleh daya beli masyarakat. Lalu Lintas dan Angkutan Jalan mempunyai peran strategis dalam mendukung pembangunan dan integrasi nasional sebagai bagian dari upaya memajukan kesejahteraan umum sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Penjelasan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 menyebutkan, sebagai bagian dari sistem transportasi nasional, Lalu Lintas dan Angkutan Jalan

harus dikembangkan potensi dan perannya untuk mewujudkan keamanan, kesejahteraan, ketertiban berlalu lintas dan Angkutan Jalan dalam rangka mendukung pembangunan ekonomi dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, otonomi daerah, serta akuntabilitas penyelenggaraan negara. Keharusan ini jugalah yang merupakan suatu bentuk pelayanan yang baik, hal ini juga merupakan salah satu bentuk keseimbangan antara hak dan kewajiban bagi pelaku usaha dan konsumen. Apabila pelaku usaha ingin mendapatkan keuntungan yang besar dengan jumlah konsumen yang besar pula maka mau tidak mau, pelaku usaha harus mampu memberikan pelayanan yang baik yang sesuai dengan mutu standar yaitu baik, aman, nyaman, dan tentunya dapat terjangkau oleh daya beli seluruh lapisan masyarakat. Kewajiban memberikan pelayanan yang baik sesuai dengan mutu standar tidak saja menjadi tanggung jawab pelaku usaha, sebaliknya konsumen jika ingin mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan standar harus juga memberikan kontribusi yang layak. Dengan demikian keseimbangan akan kepentingan antara pelaku usaha dan konsumen akan dengan mudah dicapai dan terpenuhi sehingga terwujudnya hubungan yang saling menguntungkan.

PEMBAHASAN
A. PENGANGKUTAN PADA UMUMNYA Transportasi merupakan sarana yang penting dan strategis dalam

memperlancar roda pembangunan dan perekonomian, memperkuat persatuan dan kesatuan serta mempengaruhi semua aspek kehidupan bangsa dan negara. Pentingnya transportasi tersebut terlihat pada semakin meningkatnya kebutuhan akan jasa angkutan bagi mobilitas orang serta barang dari dan keseluruh pelosok tanah air. Selain itu transportasi juga berperan sebagai penunjang, pendorong, dan penggerak bagi pertumbuhan daerah yang berpotensi, sebagai upaya peningkatan pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya. Peranan transportasi yang penting harus ditata dalam suatu sistem yang terpadu sehingga mampu mewujudkan tersedianya jasa transportasi yang sesuai dengan tingkat kebutuhan pelayanan yang tentunya aman, nyaman, tertib, lancar, sepat, teratur dan tentunya dengan biaya yang terjangkau oleh masyarakat. Menurut Purwosutjipto, Pengangkutan mempunyai peranan yang sifatnya mutlak dalam dunia perdagangan, sebab tanpa pengangkutan perusahaan tidak mungkin dapat berjalan. Barang yang dihasilkan oleh produsen atau pabrik dapat sampai di tangan pedagang dan seterusnya ke konsumen hanya dengan jalan pengangkutan. Pengangkutan mempunyai fungsi memindahkan barang atau orang dari suatu tempat ke tempat yang lain dengan maksud untuk meningkatkan daya guna dan nilai Meningkatnya daya guna dan nilai dari suatu barang merupakan tujuan dari pengangkutan, apabila suatu barang tidak meningkat daya guna dan nilainya maka tidak perlu ada pengangkutan. Pengangkutan adalah proses kegiatan memuat barang atau penumpang ke dalam angkutan, membawa barang atau penumpang dari tempat permuatan ke

tempat tujuan, dan menurunkan barang atau penumpang dari alat angkutan ketempat yang ditentukan. Dari pengertian diatas dapat diketahui aspek pengangkutan yaitu: 1. Pelaku pengangkutan 2. Alat pengangkutan 3. Barang atau penumpang 4. Perbuatan pengangkutan 5. Fungsi pengangkutan yaitu menambah nilai guna muatan yang diangkut 6. Tujuan pengangkutan yaitu mengantar muatan sampai tujuan dengan selamat.

Definisi pengangkutan menurut Purwosutjipto, Pengangkutan adalah perjanjian timbal balik antara pengangkut dengan pengirim, di mana pengangkut mengikatkan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan barang dan/atau orang dari suatu tempat ke tempat tujuan tertentu dengan selamat, sedangkan pengirim mengikatkan diri untuk membayar uang angkutan. Terdapat empat asas pokok yang mendasari perjanjian pengangkutan, yaitu: 1. Asas konsensual, yaitu perjanjian cukup dengan adanya kehendak para pihak, perjanjian pengangkutan mensyaratkan perjanjian pengangkutan tidak harus tertulis. 2. Asas koordinasi, dalam perjanjian pengangkutan kedudukan para pihak adalah sejajar.

3. Asas campuran, perjanjian pengangkutan merupakan perjanjian dari tiga jenis perjanjian yaitu pemberian kuasa dari pengirim ke pengangkut, penyimpanan barang dari pengirim ke pengangkut, dan melakukan pekerjaan pengangkutan yang diberikan pengirim kepada pengangkut. 4. Asas tidak ada hak retensi, dalam perjanjian pengangkutan penggunaan hak retensi tidak di benarkan. Dalam perjanjian pengangkutan, kedudukan para pihak yaitu antara pengangkut dan pengirim adalah sama tinggi. Hubungan kerja di dalam perjanjian pengangkutan antara pengangkut dan pengirim tidak secara terus menerus, tetapi sifatnya hanya berkala, ketika seorang pengirim membutuhkan pengangkut untuk mengangkut barang. Perjanjian pengangkutan mengandung tiga prinsip tanggung jawab, yaitu: 1. Prinsip tanggung jawab berdasarkan kesalahan, menurut prinsip ini setiap pengangkut yang melakukan kesalahan dalam penyelenggaraan pengangkutan harus bertanggung jawab membayar ganti kerugian yang timbul akibat dari kesalahannya itu. Pihak yang menderita kerugian harus membuktikan kesalahan pengangkut itu. Beban pembuktian ada pada pihak yang dirugikan, bukan pada pengangkut. Prinsip ini adalah yang umum berlaku seperti yang diatur dalam pasal 1365 KUHPerdata tentang perbuatan melawan hukum. 2. Prinsip tanggung jawab berdasarkan praduga, menurut prinsip ini pengangkut dianggap selalu bertanggung jawab atas setiap kerugian yang timbul dari pengangkutan yang diselenggarakannya. Tetapi jika pengangkut dapat membuktikan bahwa ia tidak bersalah, maka ia dibebaskan dari kewajiban membayar ganti kerugian. Beban pembuktian ada pada pihak pengangkut bukan pada pihak yang dirugikan. Pihak yang dirugikan cukup menunjukkan adanyakerugian yang diderita dalam pengangkutan yang dilakukan oleh pengangkut. 3. Prinsip tanggung jawab mutlak, menurut prinsip ini pengangkut harus bertanggung jawab membayar ganti kerugian terhadap setiap kerugian yang

timbul dari pengangkutan yang diselenggarakannya tanpa keharusan pembuktian ada tidaknya kesalahan pengangkut. Pengangkut tidak

dimungkinkan membebaskan diri dari tanggung jawab dengan alasan apapun yang menimbulkan kerugian itu. Prinsip ini tidak mengenal beban pembuktian tentang kesalahan. Unsur kesalahan tidak relevan. Dalam suatu pengangkutan bila undang-undang tidak menentukan syarat atau hal yang dikehendaki para pihak maka para pihak dapat mengikuti kebiasaan yang telah berlaku atau menentukan sendiri kesepakatan bersama, tentunya hal tersebut harus mengacu pada keadilan. Tujuan pengangkutan adalah terpenuhinya kewajiban dan hak-hak para pihak yang terlibat dalam pengangkutan. Kewajiban dari pengangkut adalah menyelenggarakan pengangkutan dan berhak menerima biaya pengangkutan. Sedangkan kewajiban pengirim atau penumpang adalah membayar biaya

pengangkutan dan berhak atas pelayanan pengangkutan yang wajar.

B. PENGANGKUTAN DARAT Pengangkutan terutama yang melalui jalan raya atau yang biasa disebut dengan pengangkutan darat sebelumnya diatur didalam Undang-Undang No 14 tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, namun semenjak tahun 2009 telah diganti dengan Undang-Undang Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, disebutkan: Angkutan adalah perpindahan orang dan/atau barang dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan Kendaraan di Ruang Lalu Lintas Jalan. Pengangkutan yang dilakukan di ruang lalu lintas jalan menggunakan kendaraan, dimana kendaraan adalah suatu sarana angkut di jalan yang terdiri atas kendaraan bermotor dan kendaraan tidak bermotor. Pengertian mengenai kendaran bermotor maupun kendaraan tidak bermotor terdapat dalam ketentuan Pasal 1 angka

8 dan angka 9 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Pasal 1 angka 8 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan menyebutkan: Kendaraan Bermotor adalah setiap kendaraan yang digerakkan oleh peralatan mekanik berupa mesin selain Kendaraan yang berjalan di atas rel. Pasal 1 angka 9 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan menyebutkan: Kendaraan Tidak Bermotor adalah setiap Kendaraan yang digerakkan oleh tenaga manusia dan/atau hewan. Pengaturan mengenai Kendaraan Bermotor lanjut terdapat dalam Pasal 47 ayat (2) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, didalam pasal tersebut disebutkan bahwa: Kendaraan Bermotor dikelompokkan berdasarkan jenis: a. sepeda motor; b. mobil penumpang; c. mobil bus; d. mobil barang; dan e. kendaraan khusus.

Menurut Pasal 1 angka 21 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang dimaksud dengan perusahaan angkutan umum adalah: Perusahaan Angkutan Umum adalah badan hukum yang menyediakan jasa angkutan orang dan/atau barang dengan Kendaraan Bermotor Umum. Kendaraan bermotor umum seperti yang terdapat dalam ketentuan Pasal 1 angka 10 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, adalah:

Kendaraan Bermotor Umum adalah setiap Kendaraan yang digunakan untuk angkutan barang dan/atau orang dengan dipungut bayaran. Pasal 1 angka 22 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, mengatur pengertian mengenai pengguna jasa dalam pengangkutan di jalan raya, yang dimaksud dengan pengguna jasa adalah: Pengguna Jasa adalah perseorangan atau badan hukum yang menggunakan jasa Perusahaan Angkutan Umum. Pasal 2 Undang-Undang Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan memuat beberapa asas pengangkutan darat, yang dijabarkan lebih lanjut didalam penjelasan yaitu: a. Asas transparan adalah keterbukaan dalam penyelenggaraan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan kepada masyarakat luas dalam memperoleh informasi yang benar, jelas, dan jujur sehingga masyarakat mempunyai kesempatan berpartisipasi bagi pengembangan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.; b. Asas akuntabel adalah penyelenggaraan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang dapat dipertanggungjawabkan; c. Asas berkelanjutan adalah penjaminan kualitas fungsi lingkungan melalui pengaturan persyaratan teknis laik kendaraan dan rencana umum

pembangunan serta pengembangan Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan; d. Asas partisipatif adalah pengaturan peran serta masyarakat dalam proses penyusunan kebijakan, pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan,

penanganan kecelakaan, dan pelaporan atas peristiwa yang terkait dengan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan; e. Asas bermanfaat adalah semua kegiatan penyelenggaraan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang dapat memberikan nilai tambah sebesar-besarnya dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat;

f. Asas efisien dan efektif adalah pelayanan dalam penyelenggaraan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang dilakukan oleh setiap pembina pada jenjang pemerintahan secara berdaya guna dan berhasil guna; g. Asas seimbang adalah penyelenggaraan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang harus dilaksanakan atas dasar keseimbangan antara sarana dan prasarana serta pemenuhan hak dan kewajiban Pengguna Jasa dan penyelenggara; h. Asas terpadu adalah penyelenggaraan pelayanan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang dilakukan dengan mengutamakan dan tanggung keserasian jawab dan

kesalingbergantungan pembina;

kewenangan

antarinstansi

i. Asas mandiri adalah upaya penyelenggaraan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan melalui pengembangan dan pemberdayaan sumber daya nasional. Pengangkutan selain bertujuan untuk memuat barang atau penumpang, membawa barang atau penumpang dari tempat permuatan ke tempat tujuan, dan menurunkan barang atau penumpang dari alat angkutan ketempat yang ditentukan, juga memiliki tujuan yang lebih besar, yaitu seperti tujuan pengangkutan yang termuat dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan: Lalu Lintas dan Angkutan Jalan diselenggarakan dengan tujuan: a. terwujudnya pelayanan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang aman, selamat, tertib, lancar, dan terpadu dengan moda angkutan lain untuk mendorong perekonomian nasional, memajukan kesejahteraan umum, memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa, serta mampu menjunjung tinggi martabat bangsa; b. terwujudnya etika berlalu lintas dan budaya bangsa; dan c. terwujudnya penegakan hukum dan kepastian hukum bagi masyarakat.

Prinsip-Prinsip Pengangkutan

Tanggung

Jawab

Pengangkut

dalam

Hukum

Dari perikatan yang dilakukan oleh pengangkut dan pengirim barang, timbul suatu hukum yang saling mengikat antara para pihak yang terkait dalam perikatan tersebut. Adapun hukum yang mengikat tersebut adalah berupa hak dan kewajiban. Dan pada makalah ini, kami menitikberatkan pada pembahasan tentang tanggung jawab yang berkenaan dengan pengangkut atas barang angkutannya.

Kewajiban-kewajiban pengangkut pada umumnya antara lain adalah : 1. Mengangkut penumpang atau barang-barang ke tempat tujuan yang telah ditentukan. 2. .Menjaga keselamatan, keamanan penumpang, bagasi barang dengan sebaik-baiknya. 3. Memberi tiket untuk pengangkutan penumpang dan tiket bagasi. 4. Menjamin pengangkutan tepat pada waktunya. 5. Mentaati ketentuan-ketentuan yang berlaku. Dari bahasan diatas, dapat dipahami tentang adanya unsur tanggung jawab pengangkut atas sesuatu yang diangkutnya tersebut. Dalam KUHD,

pertanggungjawaban pengankut diatur dalam pasal 468. Pada ayat (1), dinyatakan bahwa pengangkut wajib menjamin keselamatan barang dari saat diterimanya hingga saat diserahkannya. Pada ayat (2) dijelaskan tentang penggantirugian atas barang dan ketentuannya, dan pada ayat (3), bahwa pengangkut bertanggung jawab atas apa yang dilakukan oleh awaknya dan atas alat-alat yang digunakannya dalam pengangkutan. Oleh karena dalam ayat (2) disebutkan tidak dapat dicegah maupun dihindarkan secara layak, maka harus dipertimbangkan apakah kerugian-kerugian yang diderita tadi dapat dicegah atau dihindarkan atau tidak, menurut daya kemampuan si pengangkut. Dan adanya perkataan secara layak, maka pertanggungjawaban si pengangkut tergantung pada keadaan dan/atau kejadian yang tidak dapat dipastikan

terlebih dahulu. Sehingga pertanggungjawabannya merupakan pertanggungjawaban secara relatif. Berbeda dengan ayat (3), yang merupakan suatu pertanggungjawaban secara mutlak. Dan si pengangkut harus menyelidiki kemampuan pekerjanya dan alat yang akan digunakannya. Dan apabila terjadi pencurian barang sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 469 KUHD, maka pengangkut hanya bertanggung jawab kalau ia diberitahu akan sifat dan harga barang sebelum diserahkan atau pada waktu diserahkan. Hal ini bertujuan agar pengangkut dapat mengetahui berat-ringan resiko yang dibebankan kepadanya. Ketentuan pada pasal 469 KUHD ini dikuatkan oleh pasal 470, dimana ditentukan bahwa pengangkut tidak bertanggung jawab apabila ia diberi keterangan yang tidak benar tentang sifat dan harga barang yang bersangkutan. Berkaitan dengan tanggungjawabnya, sebagaimana yang telah disebutkan dalam pasal 468 KUHD, maka dalam pasal 470 KUHD si pengangkut tidak dibenarkan untuk mengadakan perjanjian untuk mengurangi atau menghapuskan tanggung jawabnya. Dalam pasal ini juga ditekankan bahwa pengangkut dapat diberi keringanan berkenaan dengan besarnya resiko yang menjadi bebannya. Sungguhpun pengangkut dapat mengurangi pertanggungjawabannya, namun perjanjian semacam itu tidak dapat berlaku, bila ternyata kerugian tersebut terjadi atas kelalaian pengangkut atau bawahan-bawahannya, sebagaimana yang telah ditentukan dalam pasal 471 KUHD. Dari bahasan diatas, tentu ada acuan dasar pertanggungjawaban pengangkut terhadap sesuatu yang diangkut olehnya. Maka berikut ini akan dikaji tentang prinsipprinsip dalam pertanggungjawaban pengangkut dalam hukum Transportasi.

Dalam hukum pengangkutan dikenal adanya lima prinsip tanggung jawab pengangkut yaitu:

1) Tanggung

Jawab

Praduga

Bersalah

(Presumtion

of

Liability)

Menurut prinsip ini, ditekankan bahwa selalu bertanggung jawab atas setiap kerugian yang timbul pada pengangkutan yang diselenggarakannya, tetapi jika pengangkut dapat membuktikan bahwa dia tidak bersalah, maka dia dibebaskan dari tanggung jawab membayar ganti rugi kerugian itu. 2) Tanggung Jawab atas Dasar Kesalahan (Based on Fault or Negligence) Dalam prinsip ini jelas bahwa setiap pengangkut harus bertanggung jawab atas kesalahannya dalam penyelenggaraan pengangkutan dan harus mengganti rugi dan pihak yang dirugikan wajib membuktikan kesalahan pengangkut. Beban pembuktian ini diberikan kepada pihak yang dirugikan dan bukan pada pengangkut. Hal ini diatur dalam pasal 1365 KUHPer tentang perbuatan melawan hukum (illegal act) sebagai aturan umum dan aturan khususnya diatur dalam undang-undang tentang masing-masung pengangkutan.

Dalam KUHD, prinsip ini juga dianut, tepatnya pada pasal 468 ayat (2). Pada pengangkutan di darat yang menggunakan rel kereta api, tanggung jawab ini ditentukan dalam pasal 28 UU nomor 23 tahun 2007 tentang Perkeretaapian. Pada pengangkutan di darat yang melalui jalan umum dengan kendaraan bermotor, tanggung jawab ini di tentukan dalam pasal 28, pasal 29, pasal 31 dan pasal 45 UU nomor 14 tahun 1992 tentang Lalu lintas dan Angkutan Jalan. Pada pengangkutan di laut dengan menggunakan kapal, tanggung jawab ini di tentukan dalam pasal 86 UU nomor 21 tahun 1992 tentang Pelayaran. Dan berkaitan dengan angkutan udara, prinsip ini dapat ditemukan dalam pasal 43-45 Peraturan Pemerintah nomor 40 tahun 1995 tentang pengangkutan udara.10 3) Tanggung Jawab Pengangkut Mutlak (Absolut Liability)

Pada prinsip ini, titik beratnya adalah pada penyebab bukan kesalahannya. Menurut prinsip ini, pengangkut harus bertanggung jawab atas setiap kerugian yang timbul dalam pengangkutan yang diselenggarakan tanpa keharusan pembuktian ada tdaknya kesalahan pengangkut. Prinsip ini tidak mengenal beban pembuktian, unsur kesalahan tak perlu dipersoalkan. Pengangkut tidak mungkin bebas dari tanggung jawab dengan alasan apapun yang menimbulkan kerugian itu.prinsip ini dapat dapat dirumuskan dengan kalimat: pengangkut bertanggung

jawab atas setiap kerugian yang timbul karena peristiwa apapun dalam penyelenggaraan pengangkutan ini. Dalam peraturan perundang-undangan mengenai pengangkutan, ternyata prinsip tanggung jawab mutlak tidak diatur, mungkin karena alasan bahwa pengangkut yang berusaha dibidang jasa angkutan tidak perlu di bebani dengan resiko yang terlalu berat. Akan tetapi tidak berarti bahwa pihak-pihak tidak boleh menggunakan prinsip ini dalam perjanjian pengangkutan. Para pihak boleh saja menjanjikan penggunaan prinsip ini untuk kepentingan praktis penyelesaian tanggung jawab, berdasarkan asas kebebasan berkontrak. Jika prinsip ini digunakan maka dalam perjanjian pengangkutan harus dinyatakan dengan tegas, misalnya pada dokumen pengangkutan. 4) Pembatasan tanggung jawab pengangkut (limitation of liability)

Bila jumlah ganti rugi sebagaimana yang ditentukan oleh pasal 468 KUHD itu tidak dibatasi, maka ada kemungkinan pengangkut akan menderita rugi dan jatuh pailit. Menghindari hal ini,, maka undang-undang memberikan batasan tentang ganti rugi. Jadi, pembatasan ganti rugi dapat dilakukan oleh pengangkut sendiri dengan cara mengadakan klausula dalam perjanjian pengangkutan, konosemen atau charter party, dan oleh pembentuk undang-undang 5) Presumtion of non Liability Dalam prinsip ini, pengangkut dianggap tidak memiliki tanggung jawab. Dalam hal ini, bukan berarti pengangkut membebaskan diri dari tanggung jawabnya ataupun dinyatakan bebas tanggungan atas benda yang diangkutnya, tetapi terdapat pengecualian-pengecualian dalam mempertanggungjawabkan suatu kejadian atas benda dalam angkutan.

C. ASURANSI Asuransi dan Pertanggungan berasal dari bahasa Belanda yaitu Verzekering dan assurantie. Dalam bahasa Inggris disebut Insurance. Menurut Undang-Undang No.2 Tahun 1992 Pasal 1 :

Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak Penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan. Pengertian Asuransi Menurut Pasal 246 KUHD Suatu perjanjian dimana seorang penanggung dengan menikmati suatu premi mengikatkan dirinya kepada tertanggung untuk membebaskannya dari kerugian kerena kehilangan, kerusakan atau ketiadaan keuntungan yang diharapkan, yang akan dideritanya karena kejadian yang tidak pasti. Unsur-unsur asuransi menurut Pasal 246 KUHD : 1. Ada dua pihak yang terkait dalam asuransi, yaitu penanggung dan tertanggung. 2. Adanya peralihan risiko dari tertanggung kepada penanggung. 3. Adanya premi yang harus dibayar tertanggung kepada penanggung 4. Adanya unsur peristiwa yang tidak pasti (evenement), peristiwa ini tidak diketahui sebelumnya dan tidak diharapkan terjadinya. 5. Adanya unsur ganti rugi apabila terjadi peristiwa yang tidak pasti. Pada hakekatnya asuransi adalah suatu perjanjian antara nasabah asuransi (tertanggung) dengan perusahaan asuransi (penanggung) mengenai pengalihan resiko dari nasabah kepada perusahaan asuransi. Resiko yang dialihkan meliputi: kemungkinan kerugian material yang dapat dinilai dengan uang yang dialami nasabah, sebagai akibat terjadinya suatu peristiwa yang

mungkin/belum pasti akan terjadi (Uncertainty of Occurrence & Uncertainty of Loss). Misalnya : 1. Resiko terbakarnya bangunan dan/atau Harta Benda di dalamnya sebagai akibat sambaran petir, kelalaian manusia, arus pendek. 2. Resiko kerusakan mobil karena kecelakaan lalu lintas, kehilangan karena pencurian. 3. Meninggal atau cedera akibat kecelakaan, sakit. 4. Banjir, Angin topan, badai, Gempa bumi, Tsunami Setiap asuransi pasti bermanfaat, yang secara umum manfaatnya adalah : 1. Memberikan jaminan perlindungan dari risiko-risiko kerugian yang diderita satu pihak. 2. Meningkatkan efisiensi, karena tidak perlu secara khusus mengadakan pengamanan dan pengawasan untuk memberikan perlindungan yang memakan banyak tenaga, waktu dan biaya. 3. Transfer Resiko; Dengan membayar premi yang relatif kecil, seseorang atau perusahaan dapat memindahkan ketidakpastian atas hidup dan harta bendanya (resiko) ke perusahaan asuransi 4. Pemerataan biaya, yaitu cukup hanya dengan mengeluarkan biaya yang jumlahnya tertentu dan tidak perlu mengganti/membayar sendiri kerugian yang timbul yang jumlahnya tidak tentu dan tidak pasti. 5. Dasar bagi pihak bank untuk memberikan kredit karena bank memerlukan jaminan perlindungan atas agunan yang diberikan oleh peminjam uang. 6. Sebagai tabungan, karena jumlah yang dibayar kepada pihak asuransi akan dikembalikan dalam jumlah yang lebih besar. Hal ini khusus berlaku untuk asuransi jiwa. 7. Menutup Loss of Earning Power seseorang atau badan usaha

Dalam pengangkutan darat, terdapat beberapa jenis asuransi, yaitu: - Cover "A" Jaminan yang diberikan adalah :

- Kebakaran - Banjir - Terguling atau tergelincirnya alat angkut - Tabrakannya alat angkut atau barang yang diangkut dengan benda lain - Tenggelamnya Ferry saat dilakukan penyebrangan.

- Cover "B" Jaminan yang diberikan adalah semua risiko selama pengangkutan darat berlangsung. Selain itu terdapat pula peraturan atau Undang-Undang yang mengatur tentang Asuransi kecelakaan lalu lintas jalan (UU No 34 tahun 1964) dimana dalam pasal 2 UU tersebut berbunyi: Pengusaha/pemilik alat angkutan lalu lintas jalan diharuskan memberi sumbangan wajib setiap tahun untuk menutup akibat keuangan karena kecelakaan lalu lintas jalan kepada korban/ahli waris yang bersangkutan, jumlah sumbangan wajib tersebut ditentukan berdasarkan peraturan pemerintah Jadi dalam pasal tersebut diatur mengenai asuransi kecelakaan lalu lintas, dimana para pemilik kendaraan atau alat angkut lalu lintas dikenai biaya untuk membiayai korban kecelakaan lalu lintas.

KESIMPULAN
Pengangkutan adalah proses kegiatan memuat barang atau penumpang ke dalam angkutan, membawa barang atau penumpang dari tempat permuatan ke tempat tujuan, dan menurunkan barang atau penumpang dari alat angkutan ketempat yang ditentukan. Terdapat empat asas pokok yang mendasari perjanjian pengangkutan, yaitu: 1. Asas konsensual, yaitu perjanjian cukup dengan adanya kehendak para pihak, perjanjian pengangkutan mensyaratkan perjanjian pengangkutan tidak harus tertulis. 2. Asas koordinasi, dalam perjanjian pengangkutan kedudukan para pihak adalah sejajar. 3. Asas campuran, perjanjian pengangkutan merupakan perjanjian dari tiga jenis perjanjian yaitu pemberian kuasa dari pengirim ke pengangkut, penyimpanan barang dari pengirim ke pengangkut, dan melakukan pekerjaan pengangkutan yang diberikan pengirim kepada pengangkut. 4. Asas tidak ada hak retensi, dalam perjanjian pengangkutan penggunaan hak retensi tidak di benarkan. Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak Penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.

Dalam pengangkutan darat, terdapat peraturan atau Undang-Undang yang mengatur tentang Asuransi kecelakaan lalu lintas jalan (UU No 34 tahun 1964) dimana dalam pasal 2 UU tersebut berbunyi: Pengusaha/pemilik alat angkutan lalu lintas jalan diharuskan memberi sumbangan wajib setiap tahun untuk menutup akibat keuangan karena kecelakaan lalu lintas jalan kepada korban/ahli waris yang bersangkutan, jumlah sumbangan wajib tersebut ditentukan berdasarkan peraturan pemerintah Jadi dalam pasal tersebut diatur mengenai asuransi kecelakaan lalu lintas, dimana para pemilik kendaraan atau alat angkut lalu lintas dikenai biaya untuk membiayai korban kecelakaan lalu lintas.