Anda di halaman 1dari 10

Irvan Ramadhani 240210100012 Kelompok 3

BAB VI PEMBAHASAN

Mikrobiologi merupakan sebuah ilmu yang mempelajari mahluk yang bersifat mikroskopis yang disebut mikroorganisme dan jasad renik. Untuk bisa mempelajari mahluk-mahluk tersebut memang diperlukan ilmu khusus tersebut. Salah satu penunjang pembelajaran mikrobiologi adalah laboratorium. Di dalam laboratorium bisa dilakukan berbagai macam percobaan untuk mempelajari mikroorganisme, contohnya seperti pengetesan jumlah mikroba dalam suatu bahan, melakukan inkubasi mikroorganisme, mempelajari media pertumbuhan dan sebagainya. Untuk menunjang pembelajaran di laboratorium diperlukan peralatan laboratorium yang memadai serta keterampilan penggunaannya. Maka hal inilah yang dibahas dalam pertemuan kedua ini. Setelah diamati ternyata pada umumnya alat-alat pada laboratorium mikrobiologi pangan tidak jauh berbeda dengan laboratorium kimia. Alat-alat itu diantaranya: Labu Erlenmeyer Umumnya erlenmeyer digunakan untuk melakukan analisis volumetri suatu zat cair, namun dalam praktikum mikrobiologi pangan, erlenmeyer digunakan untuk melakukan pengenceran sampel. Dan juga digunakan untuk mentritasi dan membuat media. Cawan Petri Cawan ini digunakkan untuk membiakkan mikroorganisme dari sampel yang diteliti dengan meletakkannya di atas media yang telah dituangkan. Desainny yang khusus menuntut kita untuk membuka dan menutupnya dengan cara tertentu untuk meminimalisir kontaminasi dari luar. Selama bekerja dengan petridish dalam praktikum mikrobiologi pangan, jangan lupa untuk melalukannya di dekat bunsen setelah

membuka dan menutup untuk mensterilisasi kontaminan yang ada di sekitar bibir cawan. Alat ini digunakan sebagai wadah untuk penyelidikan tropi dan juga untuk mengkultur bakteri, khamir, spora, atau biji-bijian. Beacker Glass Penggunaan beaker glass dalam praktikum mikrobiologi pangan adalah untuk melarutkan media yang biasanya berupa serbuk agar. Dan juga untuk mereaksikan suatu zat. Tabung Reaksi Dalam praktikum mikrobiologi pangan tabung reaksi digunakan untuk pengenceran sample serta untuk mereksikan zat. Untuk mencegah terjadinya kontaminasi dari luar terutama udara, tabung reaksi biasa disumbat dengan kapas yang dibuat sedemikian rupa sehingga mudah untuk dibuka dan ditutup berulang kali. Gelas Ukur Dalam praktikum mikrobiologi pangan, gelas ukur digunakan untuk mengambil cairan sampel atau cairan yang digunakan untuk melakukan pengenceran secara akurat. Dan juga dipegunakan untuk mengukur bahan yang berbentuk cairan. Untuk yang pekat dan berwarna dilihat lengkungan paling atas, dan yang tidak berwarna dilihat lengkungan paling bawah. OSE Alat ini digunakan untuk isolasi mikroba yang akan diletakkan pada media untuk diteliti atau dihitung jumlahnya. Dan mengambil mikroba untuk dipindahkan dari satu media ke media lain. Bunsen Bunsen adalah pembakar berbahan bakar spirtus bersuhu sekitar 400C. Dalam praktikum mikrobiologi pangan bunsen dinyalakan selama praktikum berlangsung untuk menjaga kesterilan tempat dan alat yang sedang digunakan. Kesterilan adalah faktor yang sangat penting pada praktikum ini. Spatula

Digunakkan untuk mengambil bahan yang akan ditimbang. Biasanya berupa padatan. Objek Glass + Preparat Objek Glass berupa kaca tipis berbentuk persegi panjang digunakkan untuk meletakkan objek yang akan dilihat dengan

menggunakan mikroskop. Dengan meletakkannya pada object glass akan lebih mudah melihat objek yang diteliti. Sedangkan preparat adalah kaca yang lebih tipis daripada object glass, digunakan untuk menutupi objek sehingga objek akan tetap pada tempatnya. Batang Pengaduk Untuk mengaduk saat mengencerkan media atau membuat sampel lainnya. Pipet Tetes Pipet tetes digunakkan untuk mengambil cairan dalam jumlah yang sedikit. Bulb Pipet Alat bantu yang digunakkan bersama volum pipet. Alat ini digunakan untuk mengambil atau menaruh zat cair. Dengan menggunakan filler memudahkan mengambil atau menaruh cairan karena kecepatan dan ketepatan banyaknya cairan dapat kita atur sesuai dengan kebutuhan. Volume Pipet Unutk mengukur volume cairan yang akan diambil untuk percobaan. Rak Tabung Reaksi Digunakan untuk menyimpan tabung reaksi setelah dibersihkan. Biasanya dalam penyimpanannya tabung reaksi disimpan terbalik supaya tidak ada lagi sisa air yang memungkinkan untuk berkembangnya mikroorganisme. Labu Ukur Digunakan untuk pencampuran dan pembuatan cider. Kertas Buram

Dipakai untuk membukus alat saat disterilisasi atau saat proses inkubasi dengan alat. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mencegah masuknya kontaminan dari luar, terutama udara. Autoklaf Alat yang biasa digunakan untuk melakukan sterilisasi basah. Dengan menggunakan autoklaf sterilisasi dilakukan selama 15 menit pada suhu 121C. Inkubator Alat untuk menginkubasi mikroorganisme yang sedang diteliti. Sebelum melakukan percobaan dengan alat-alat tersebut, hal yang harus dilakukan adalah proses sterilisasi. Sterilisasi adalah suatu proses untuk membunuh semua jasad renik yang ada, sehingga jika ditumbuhkan di dalam suatu medium tidak ada lagi jasad renik yang dapat berkembang biak. Sterilisasi harus dapat membunuh jasad renik yang paling tahan panas yaitu spora bakteri (Fardiaz, 1992). Sterilisasai adalah tahap awal yang penting dari proses pengujian mikrobiologi. Sterilisasi adalah suatu proses penghancuran secara lengkap semua mikroba hidup dan spora-sporanya. Ada 5 metode umum sterilisasi yaitu : Sterilisasi uap (panas lembap) Sterilisasi panas kering Sterilisasi dengan penyaringan Sterilisasi gas Sterilisasi dengan radiasi Metode yang paling umum digunakan untuk sterilisasi alat dan bahan pengujian mikrobiologi adalah metode sterilisasi uap (panas lembap) dan metode sterilisasi panas kering. A. Sterilisasi Uap Sterilisasi uap dilakukan dengan autoklaf menggunakan uap air dalam tekanan sebagai pensterilnya. Bila ada kelembapan (uap air) bakteri akan terkoagulasi dan dirusak pada temperature yang lebih rendah dibandingkan bila tidak ada kelembapan. Mekanisme penghancuran bakteri oleh uap air panas

adalah karena terjadinya denaturasi dan koagulasi beberapa protein esensial dari organism tersebut.: Prinsip cara kerja autoklaf Autoklaf adalah alat untuk memsterilkan berbagai macam alat & bahan yang menggunakan tekanan 15 psi (2 atm) dan suhu 1210C. Untuk cara kerja penggunaan autoklaf telah disampaikan di depan. Suhu dan tekanan tinggi yang diberikan kepada alat dan media yang disterilisasi memberikan kekuatan yang lebih besar untuk membunuh sel dibanding dengan udara panas. Biasanya untuk mesterilkan media digunakan suhu 1210C dan tekanan 15 lb/in2 (SI = 103,4 Kpa) selama 15 menit. Alasan digunakan suhu 1210C atau 249,8 0F adalah karena air mendidih pada suhu tersebut jika digunakan tekanan 15 psi. Untuk tekanan 0 psi pada ketinggian di permukaan laut (sea level) air mendidih pada suhu 1000C, sedangkan untuk autoklaf yang diletakkan di ketinggian sama, menggunakan tekanan 15 psi maka air akan memdididh pada suhu 1210C. Ingat kejadian ini hanya berlaku untuk sea level, jika dilaboratorium terletak pada ketinggian tertentu, maka pengaturan tekanan perlu disetting ulang. Misalnya autoklaf diletakkan pada ketinggian 2700 kaki dpl, maka tekanan dinaikkan menjadi 20 psi supaya tercapai suhu 1210C untuk mendidihkan air. Semua bentuk kehidupan akan mati jika dididihkan pada suhu 1210C dan tekanan 15 psi selama 15 menit. Pada saat sumber panas dinyalakan, air dalam autoklaf lama kelamaan akan mendidih dan uap air yang terbentuk mendesak udara yang mengisi autoklaf. Setelah semua udara dalam autoklaf diganti dengan uap air, katup uap/udara ditutup sehingga tekanan udara dalam autoklaf naik. Pada saat tercapai tekanan dan suhu yang sesuai, maka proses sterilisasi dimulai dan timer mulai menghitung waktu mundur. Setelah proses sterilisasi selesai, sumber panas dimatikan dan tekanan dibiarkan turun perlahan hingga mencapai 0 psi. Autoklaf tidak boleh dibuka sebelum tekanan mencapai 0 psi. Untuk mendeteksi bahwa autoklaf bekerja dengan sempurna dapat digunakan mikroba pengguji yang bersifat termofilik dan memiliki endospora

yaitu Bacillus stearothermophillus, lazimnya mikroba ini tersedia secara komersial dalam bentuk spore strip. Kertas spore strip ini dimasukkan dalam autoklaf dan disterilkan. Setelah proses sterilisai lalu ditumbuhkan pada media. Jika media tetap bening maka menunjukkan autoklaf telah bekerja dengan baik. B. Sterilisasi Panas Kering Sterilisasi panas kering biasanya dilakukan dengan menggunakan oven pensteril. Karena panas kering kurang efektif untuk membunuh mikroba dibandingkan dengan uap air panas maka metode ini memerlukan temperature yang lebih tinggi dan waktu yang lebih panjang. Sterilisasi panas kering biasanya ditetapkan pada temperature 160-170oC dengan waktu 1-2 jam. Sterilisasi panas kering umumnya digunakan untuk senyawa-senyawa yang tidak efektif untuk disterilkan dengan uap air panas, karena sifatnya yang tidak dapat ditembus atau tidak tahan dengan uap air. Senyawa-senyawa tersebut meliputi minyak lemak, gliserin (berbagai jenis minyak), dan serbuk yang tidak stabil dengan uap air. Metode ini juga efektif untuk mensterilkan alat-alat gelas dan bedah. Karena suhunya sterilisasi yang tinggi sterilisasi panas kering tidak dapat digunakan untuk alat-alat gelas yang membutuhkan keakuratan (contoh:alat ukur) dan penutup karet atau plastik. C. Sterilisasi dengan penyaringan Sterilisasi dengan penyaringan dilakukan untuk mensterilisasi cairan yang mudah rusak jika terkena panas atu mudah menguap (volatile). Cairan yang disterilisasi dilewatkan ke suatu saringan (ditekan dengan gaya sentrifugasi atau pompa vakum) yang berpori dengan diameter yang cukup kecil untuk menyaring bakteri. Virus tidak akan tersaring dengan metode ini. D. Sterilisasi gas Sterilisasi gas digunakan dalam pemaparan gas atau uap untuk membunuh mikroorganisme dan sporanya. Meskipun gas dengan cepat berpenetrasi ke dalam pori dan serbuk padat. Sterilisasi adalah fenomena permukaan dan

mikroorganisme yang terkristal akan dibunuh. Sterilisasi gas biasanya digunakan untuk bahan yang tidak bisa difiltrasi, tidak tahan panas dan tidak tahan radiasi atau cahaya.

E. Sterilisasi dengan radiasi Radiasi sinar gama atau partikel elektron dapat digunakan untuk mensterilkan jaringan yang telah diawetkan maupun jaringan segar. Untuk jaringan yang dikeringkan secara liofilisasi, sterilisasi radiasi dilakukan pada temperatur kamar (proses dingin) dan tidak mengubah struktur jaringan, tidak meninggalkan residu dan sangat efektif untuk membunuh mikroba dan virus sampai batas tertentu. Sterilisasi jaringan beku dilakukan pada suhu -40 derajat Celsius. Teknologi ini sangat aman untuk diaplikasikan pada jaringan biologi. Karena dalam laboratorium kesterilan sangat diperhatikan. Hal ini mencegah tumbuhnya mikroorganisme yang tidak diinginkan pada alat. Sterilisasi bisa dengan dimasukkan ke dalam oven atau menggunakan alkohol 70%. Kenapa 70%? Hal ini dikarenakan itulah dosis yang cocok. Bila alkohol yang diberikan kadarnya lebih tinggi, mikroorganisme kemungkinan mati atau malah akan membentuk semacam pelindung dan justru akan bertahan hidup. Selain itu, tempat kerja dan tangan juga harus disterilkan dengan alkohol 70% dan menyalakan bunsen. Ini jelas untuk menjaga kesterilan kerja. Simulasi dilanjutkan dengan penyiapan media. Biasanya media terdapat dalam bentuk bubuk. Media diencerkan dengan aquades sesuai petunjuk yang ada pada kemasan. Lalu dimasukan pada media yang sesuai, biasanya erlenmeyer atau tabung labu dan ditutup dengan kuat. Selanjutnya disterilisasi dengan suhu yang sesuai (tertera pada kemasan). Selain itu, disiapkan kultur bakteri yang akan diencerkan. Pengenceran dilakukan dalam beberapa tabung reaksi yang masing-masing telah berisi larutan buffer 9 ml yang semuanya ditutup oleh kapas. Hal ini untuk mencegah terkontaminasinya buffer oleh mikroorganisme dari luar. Pengenceran ini dilakukan didekat nyala bunsen untuk menjaga kesterilan. Sebanyak 1 ml sampel bakteri dimasukan. Selanjutnaya ditutup kembali oleh kapas. Lalu campuran bakteri dan buffer sejumlah 10 ml pada tabung pertama diambil 1 ml dan dimasukkan ke tabung kedua dan seterusnya. Setiap pengambilan pipet harus dalam keadaan steril. Setelah pengenceran selesai, media dimasukkan ke dalam cawan petri dan dilanjutkan dengan memasukkan sampel bakteri sebanyak 1 ml dari tabung

pengenceran yang terakhir. Cawan petri tidak boleh terlalu lama terbuka dan harus segera ditutup untuk menghindari kontaminasi dari luar. Setelah media mengeras, cawan petri dibalikkan. Hal ini dilakukan untuk mencegah uap (karena media dalam keadaan panas) jatuh kembali pada bakteri. Lalu cawan petri dibungkus dengan kertas dan siap di inkubasi.

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN Dari pelaksanaan kegiatan pengenalan alat-alat laboratorium dan simulasi pengnceran ini, dapat disimpulkan beberapa hal: 1. Alat-alat yang digunakan dalam praktikum mikrobiologi pangan harus selalu dalam keadaan steril pada saat digunakan. 2. Sterilisasi merupakan suatu proses penghancuran secara lengkap semua mikroba hidup dan spora-sporanya. 3. Terdapat 5 metode umum sterilisasi yaitu sterilisasi uap, sterilisasi panas kering, sterilisasi dengan penyaringan, sterilisasi gas dan sterilisasi dengan radiasi. 4. Prinsip penggunaan autoclave didasarkan pada mikroorganisme, termasuk spora yang tahan panas, mudah terbunuh dengan panas lembab pada tempratur sedikit di atas titik didih air. 5. Meja kerja, tangan dan media lain pun harus diusahakan sesteril mungkin saat pelaksanaan praktikum. 6. Setiap praktikan harus mengenal dan terampil menggunakan alatalat laboratorium. 7. Pengenceran merupakan hal penting yang harus dikuasai praktikan. 8. Pengenceran dilakukan dengan tujuan mengurangi jumlah

mikroorganisme sehingga mikroorganisme akan dapat dihitung. B. SARAN Diharapkan kepada para praktikan untuk selalu menjaga kebersihan di lingkungan sekitar. Baik alat dan keadaan benda yang menempel pada tubuh kita.

Daftar Pustaka

Anonim. 2006. Mengenal Media Pertumbuhan Mikroba. Rachdie.blogsome.com (diakses 19 Februari 2011) Anonim. 2006. Teknik Dasar Analisa Mikrobiologi. Rachdie.blogsome.com. (diak ses 19 Februari 2011) Anonim. 2010. Petunjuk Praktikum Mikrobiologi Dasar. www.scribd.com (diakses 19 Februari 2011) Fardiaz, Srikandi. 1992. Mikrobiologi Pangan 1. PT Gramedia: Jakarta. Hadioetomo,R.S.1993.Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek.Granedia,Jakarta Suriawiria,U.2005.Mikrobiologi Dasar.Papas Sinar Sinanti,Jakarta.